Thanks banget buat kalian yang selalu setia mendukung fic yang nyata-nyata ga mungkin ini ya ^^

Bahkan sampai di fave…

Aih senangnya!

Yup, cekidot2


Snow Memories 5

Ini masih dalam masa lalunya Shiro lho!

.

.

.

.

"Shiro, ayo pulang!" Yuki memanggil adiknya yang tengah asyik bermain di taman ilalang belakang rumah mereka.

"Tidak mau! Aku masih mau main!" Balas sang adik dari dalam semak.

"Shiro…~" Panggil Yuki gemas.

"Bweeek! Yuki-nee jelek!"

Yuki menyusul Toushiro dan mengangkat tubuh mungil itu.

"Nah, ketemu kau Shiro-chan!"

"Ikh!" Toushiro kelihatan kesal. Ia menggembungkan pipinya.

"Ada apa, Shiro-chan?"

"Jangan panggil aku Shiro-chan, Bakayuki!"

"Hei, berani ya!"

Yuki melempar Toushiro ke udara.

"Waaaa… tinggi!" Pekik Toushiro senang.

"Hehehe…"

Yuki menangkap adiknya tepat sebelum ia jatuh ketanah.

"Ayo kita pulang, Toushiro."

Toushiro mengangguk.

.

.

.

.

"Aku pulang!" Kata mereka bersamaan.

"Selamat datang!" Balas sebuah suara dari dalam

"Ibu!" Toushiro turun dari gendongan Yuki.

Sang ibu tersenyum dan menggendongnya.

"Bagaimana mainnya, Shiro? Senang?"

Toushiro tersenyum manja.

"Iya! Tadi Yuki-nee melemparku tinggi- tinggi!"

Rin mendelik pada Yuki.

Yuki hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil bergumam.

"Maaf…."

"Ya sudahlah. Hari ini ayah kalian pulang. Cepat mandi sana."

""Eh, ayah akan pulang?" Yuki nampak kaget.

Toushiro bertepuk tangan.

"Iya."

"Hore!"

.

.

.

.

Sore hari~

"Hai semuanya, apa kabar?" Kata Kei dari pintu.

"Ayah!" Toushiro dan Yuki bergegas menyongsong ayah mereka.

"Hehehe… kalian nampak sehat ya."

Kei menggendong Toushiro dan beranjak ke dalam. Yuki mengikuti dari belakang.

"Aku pulang." Sapa Kei pada Rin. Rin tersenyum.

"Selamat datang."

Kei mengecup kening Rin sejenak.

Laki-laki itu lantas duduk di kursi ruang makan. Toushiro duduk dipangkuannya.

"Bagaimana pekerjaanmu?" Rin melontarkan pertanyaan yang sudah sering ia katakan sembari meletakkan segelas teh panas di hadapan suaminya.

"Terimakasih."

Kei meminum sedikit teh buatan istrinya dan kemudian melanjutkan.

"Seperti biasa. Menjadi fukutaichou itu memang lumayan repot."

Mereka berbincang- bincang sejenak.

Sesekali, terdengar tawa Toushiro dan Yuki saat ayah mereka menceritakan pengalamannya selama bekerja.

"Huahmmmm…" Toushiro menguap lebar. Ia terlihat mengantuk.

Kei tersenyum sambil memandang wajah putera pertamanya itu.

"Toushiro ngantuk?" Tanyanya.

Toushiro mengangguk.

"Yuki, ajak adikmu tidur, ya." Kata Kei.

"Baik ayah." Yuki mengambil Toushiro dari pangkuan ayahnya.

"Ayo Shiro. Kita tidur."

Yuki menuntun adiknya menuju kamar mandi. Baru kemudian kekamar mereka yang terletak disudut ruangan.

Dari korden kamarnya yang terbuka sedikit, Yuki memandang ayahnya yang tengah bercakap-cakap dengan ibunya.

Ayahnya tampan.

Mata biru lautnya nampak serasi dengan warna rambutnya yang silver.

Meskipun masih kecil, Yuki telah tahu banyak tentang ayahnya.

Dulu, ayahnya adalah seorang bangsawan.

Putera pertama keluarga Shiryuu.

Tapi, ayahnya membuang semua gelar dan kehormatan yang ia miliki demi wanita yang dicintainya.

Hitsugaya Rin.

Ibunya.

Seorang gadis dari keluarga yang biasa saja.

Yuki balik menatap ibunya.

Ibunya cantik.

Rambutnya hitam panjang sepunggung.

Ia memiliki warna mata yang sama dengan Toushiro dan Yuki.

Hijau emerald.

Sesekali ibunya terbatuk- batuk kecil

Yuki menghela nafas.

Ibunya memang sakit-sakitan.

Paru-paru yang berlubang serta jantung yang lemah.

Kurang apalagi?

Yuki mengubah posisinya dan menatap adiknya yang tengah tertidur pulas.

Toushiro.

Gabungan antar sikap tegas ibunya dan kehebatan sang ayah.

Yuki tersenyum.

"Kami-sama. Terimakasih atas segalanya." Doa Yuki kecil.

Iapun tertidur disamping adiknya.


~Krad Hikari vi Titania~

Present

Snow Memories 5

" A Day to Remember"

(I hate everyone)

Disclaimer : Tite Kubo donk!

Semuanya begitu damai sampai hari itu tiba...

.

.

.

"Groaaarrrr!" Seekor hollow mengamuk dan menghancurkan beberapa bangunan di Soul Society.

"Cepat! Sebar pasukan kearah yang berbeda!" Perintah Isshin pada semua bawahannya.

"Baik!"

Seluruh pasukan battalion 10 menyebar.

Bersatu melawan hollow yang ukurannya dua kali lipat tubuh mereka.

Hujan turun dengan deras.

Kei mengeluarkan shikainya.

"Senkai! Kurouzu!"

Pusaran air berwarna hitam pekat keluar dan menyerang hollow itu. Membuatnya terjatuh.

"Bagus, Kei!" Kata Isshin.

"Terimakasih, Kurosaki-taichou!"

Sejenak terlihat mereka telah menang.

Hollow itu tergeletak tak berdaya.

Tapi...

"Ukh..." Kei mencengkram dadanya.

"Kei?" Isshin mendekati fukutaichounya itu.

"Men...jauh... Taichou..kkkhh..."

"A...apa..."

"MENJAUH...!" Teriak Kei.

Kei mengambil zanpakutounya. Tubuhnya bergerak tanpa perintah otaknya sendiri.

"Senkai, Kurouzu!" Ia menyerang Isshin.

"Apa yang kau lakukan Kei!" Isshin bergerak menjauh.

Ia kemudian menyadari.

Sebuah benda mirip sulur menancap dipunggung Kei. Benda itu tersambung dengan tubuh hollow yang tergeletak ditanah.

"Taichou, awas!" Kei menyerangnya lagi.

Lautan hitam itu berusaha menenggelamkan Isshin.

Membenamkannya kedalam kegelapan tanpa dasar.

"Cih, sial!" Isshin berusaha menghindar.

Para pasukan yang lain hanya bisa diam. Mereka tahu kalau mereka ikut campur dalam pertarungan itu mereka sendiri pasti akan mati.

Kei berusaha mengambil alih tubuhnya kembali. Tapi tetap gagal. Sulur itu menancap makin dalam. Kesadarannya hilang perlahan.

"Ta...ta...ichou! Bbbunuh a...ku...!"

Kei berkata sambil menyerang Isshin untuk yang kesekian kali.

"Jangan bodoh, Kei!" Bentak Isshin.

"Ku...ku...mohon... a... aku... tidak bisa... men..nahannnya ... lag..gii. Akh...!"

"Kei!"

Kei mengangkat wajahnya. Pandangannya nyalang. Ia tertawa terbahak-bahak.

"Gyahahahaha...!"

Ia pun mulai menyerang seluruh pasukan battalion 10.

"Gya!"

"Uakh!"

"Taichouuuu..."

"Akhh.."

Isshin menutup matanya. Digenggamnya Engetsu miliknya erat.

"Maaf, Kei..."

"Getsuga Tenshou!"

.

.

.

"Srassshhhh.."

Hujan turun dengan derasnya.

Membuat warga Saitenshi memilih untuk berlindung didalam rumah mereka yang hangat dan nyaman.

"Ibu, hujan hari ini deras sekali, ya. " Kata Yuki sembari menatap titik-titik air pada jendela.

Ibunya yang tengah menyulam hanya mengangguk kecil, pandangannya terarah pada kamar Toushiro yang terbuka. Nampak Toushiro tidur dengan nyenyaknya.

Yuki memegang dadanya. Entah mengapa perasaannya jadi tidak enak.

Hujan kali ini begitu aneh.

Semuanya jadi terlalu gelap.

Ia bahkan tak bisa melihat pohon Persik di sebelah jalan.

"Tok tok tok."

Tiba-tiba pintu rumah mereka diketuk.

Rin bangkit dan berjalan menuju pintu.

Yuki hanya memperhatikan dari samping jendela.

"Permisi."

Sebuah suara menyapa dari balik pintu.

"Iya, sebentar."

"Cklek."

Didepan pintu, Nampak Isshin dan beberapa pasukannya. Mereka basah kuyup.

"Ah, Kurosaki taichou. Silahkan masuk." Rin membungkuk ketika mengetahui bahwa tamu yang datang adalah mantan atasannya dulu.

"Hahaha... tidak usah sungkan begitu."

Rin bangkit dan menatap Isshin. Tubuh Isshin penuh luka.

"Emmm... sebenarnya ada apa ya, Kurosaki-taichou?"

Wajah Isshin mendadak murung.

"Maaf..."

"Eh?"

Pasukan dibelakangnya membuka jalan.

Nampak sesosok tubuh tak bergerak dalam tandu.

"Kei, terkena serangan hollow aneh saat bertugas. Aku terpaksa membunuhnya. Maafkan aku..." Isshin bersujud dihadapan Rin.

Begitu pula seluruh pasukannya.

"Kami tak bisa menolong Hitsugaya-fukutaichou. Maafkan kami!"

Rin terbelalak. Tubuhnya merosot ke lantai begitu tahu suaminya telah tewas.

Yuki melangkahkan kaki kecilnya menuju jasad sang ayah.

Diguncangnya tubuh ayahnya yang sudah dingin dan mengeras.

"Ayah, bangun dong. Katanya besok kita mau jalan-jalan. Katanya mau beliin Yuki kimono baru. Ayah... ayah..."

Perasaan Isshin semakin trenyuh melihat pemandangan itu.

Ia menunduk semakin dalam..

"Ayah... ayah..."Airmata Yuki menetes.

Satu-persatu membasahi wajah pucat ayahya.

"Ayaaaaahhhhhh...!"

Yuki menangis.

Teriakannya menarik perhatian sebagian warga Saitenshi yang belum tidur.

Rin sendiri menangis sesenggukan didepan pintu.

Isshin merasa semakin bersalah.

Ia mendongakkan kepalanya dan menyadari sesuatu.

Seorang anak laki-laki berambut putih terdiam membeku dipintu kamarnya. Pandang matanya terarah pada kakaknya yang tengah menangis meraung-raung.

Ia tidak menangis.

Hanya terdiam.

Membeku bagai patung kaca.

Hujan semakin deras.

Seakan ikut berduka atas perginya seorang yang sangat berharga...

.

.

.

Beberapa tahun kemudian.

"Toushiro... kau dimana?" Yuki berteriak memanggil adiknya.

"He...eh.." Balas Toushiro malas dari belakang rumah mereka.

" Hei, sedang apa kau disini. Shiro? Kenapa tidak bermain dengan yang lain?"

Toushiro memandang kakaknya dengan pandangan aneh.

"Apa menurut kakak mereka mau bermain denganku?" Tanyanya sinis.

Yuki mengerutkan alis.

Ia melupakan sesuatu.

Semenjak ayah mereka meninggal, semuanya berubah.

Orang-orang yang dulu menaruh hormat pada mereka berbalik menjauhi mereka.

Setiap kali mereka berpapasan dengan orang-orang didesa, orang-orang itu akan menunjuk-nunjuk kearah mereka sambil berbisik-bisik.

"Hii.. anak monster.. hush hush..."

Para orangtua pun melarang anak-anak mereka untuk bergaul dengan Yuki dan Toushiro.

Yuki sendiri bertanya-tanya.

Kenapa?

Apa karena ayah mereka yang 'bangsawan' sudah tidak ada?

Apa karena rambut putih mereka?

Atau karena mata emerald mereka?

Apa yang salah?

Apa karena mereka berbeda?

Sudahlah.

Lebih baik berpura-pura tuli bukan?

Yuki termenung.

Sebenarnya da hal yang ingin ia katakan pada ...

Seakan bisa membaca pikiran Yuki, Toushiro membuka suara.

"Ada apa Yuki-nee?"

"Eh?"

"Yuki-nee mau bilang sesuatu kan?"

"Enggg... Itu..."

"Tentang keberangkatan Yuki-nee ke akademi?"

Yuki tersentak.

"Benarkan?" Lanjut Toushiro tanpa menatap wajah kakaknya.

Yuki menunduk. Ia memang sangat ingin pergi ke akademi. Ia ingin jadi shinigami yang hebat seperti ayahnya.

Tapi.

Dia takut kalau harus meninggalkan ibunya dan Toushiro. Penyakit ibunya semakin parah, tapi ia tetap memaksakan diri bekerja.

Toushiro juga sama.

Ia tak mempunyai seorang pun teman.

Salahkah kalau Yuki merasa gelisah?

"Tidak apa, Yuki-nee pergi saja. Biar aku yang menjaga ibu."

"Mana mungkin, Toushiro." Desah Yuki pelan.

"Heh, Yuki-nee meremehkan aku?"

"Bukan begitu."

"Kalau begitu satu tahun."

"Eh?"

Toushiro mengarahkan kelingkingnya pada Yuki.

"Yuki-nee harus sudah lulus dari akademi setelah satu tahun. Selama itu akulah yang akan menjaga ibu. Setelah itu, Yuki-nee harus jadi shinigami yang hebat seperti ayah. Janji?" Ucapnya panjang lebar.

Yuki tersenyum tipis. Dikaitkannya jarinya sendiri pada kelingking Toushiro.

"Ya, aku janji."

Mereka berdua tersenyum. Yuki mengacak-acak rambut Toushiro.

"Apaan sih!"

"Hehe..."

.

.

.

.

Akhirnya Yuki berangkat ke akademi.

Toushiro memandang tubuh langsing kakaknya dari ejauhan.

"Hati-hati, Onee-san."


~Krad Hikari vi Titania~


Selama di akademi.

Yuki belajar dengan tekun.

Tak pernah sehari pun ia menyia-nyiakan waktunya.

Belajar dan berlatih.

Itulah yang ia lakukan setiap hari.

Dan hasilnya, 1 tahun kemudian dia telah lulus dengan nilai terbaik.

Gotei 13 telah merekrutnya sebagai anggota pasukan batalion 6.

Kursi ketiga.

"Selamat datang di batalion 6, Hitsugaya." Sapa Kuchiki Ginrei padanya.

"Terimakasih, Kuchiki taichou." Yuki membungkuk pada kapten barunya.

Yuki memperhatikan sekelilingnya.

Nampak seorang pemuda berambut hitam menatapnya tajam.

Kuchiki Byakuya.

Yuki menunduk.

Ia merasa segan untuk bertatapan dengan cucu taichou, sekaligus orang yang berada dikedudukan yang sama dengannya itu.

Orang-orang didalam ruangan itu membuatnya tegang.

Tapi kemudian, sesuatu membuatnya tersenyum.

Beberapa hari lagi...

Ia akan pulang.


~Krad Hikari vi Titania~

"Ibu, aku pulang!" Toushiro memasuki rumahnya sambil menenteng sebuah bungkusan plastik.

"Uhuk...uhuk...ya..." Balas ibunya dari dalam. Toushiro menghampiri ibunya.

"Ibu tidak apa-apa?" Ia mengusap-usap punggung ibunya. Sang ibu hanya tersenyum kecil.

"Iya, ibu tidak apa-apa kok."

"Aku membeli taiyaki untuk ibu. Makanlah." Toushiro memberikan bungkusan itu pada ibunya.

"Kau sudah makan?" Tanya Rin pada anaknya yang tengah menuang air ke dalam gelas.

Toushiro menggeleng.

"Nanti saja.

Rin membuka bungkusan itu. Nampak dua potong taiyaki yang masih hangat. Diambilnya satu dan diserahkan pada Toushiro.

"Ibu tidak mau makan sebelum kau makan, Toushiro."

Toushiro menerima taiyaki itu dan menatap ibunya.

"Terimakasih."

"Selamat makan."

Mereka melahap makanannya dalam diam.

"Kapan ya, kakakmu akan pulang?"

Toushiro hanya menggeleng.

"Aku tidak tahu."

Toushiro mengenang kembali semua tentang kakaknya.

Seperti apa dia sekarang?

Apa dia telah lulus dari akademi?

Apa dia telah menjadi shinigami yang hebat seperti ayah mereka?

Jujur, dia agak takut ketika kakaknya pergi.

Ia selalu bergantung pada kakaknya.

Hanya satu hal yang teringat jelas tentang kakaknya.

Kakaknya selalu melindunginya.

Tak peduli apapun yang terjadi, Yuki lebih memilih keselamatan Toushiro daripada dirinya sendiri.

Yuki lebih memilih melukai dirinya sendiri daripada membiarkan Toushiro terluka.

Begitulah kakaknya.

Toushiro tersenyum tipis.

"Ada apa Toushiro?"

"Tidak apa-apa, ibu."

~Krad Hikari vi Titania~

Yuki berjalan pelan. Bibir mungilnya bersiul-siul.

Sesekali, angin sepoi meniup-niup rambutnya yang dibiarkan terurai.

Ia terus berjalan. Menyusuri kembali jalannya pulang kerumah.

Kembali ke Saitenshi untuk mengunjungi ibu dan adiknya. Ia sangat berterimakasih pada kaptennya, Kuchiki Ginrei yang bersedia memberinya cuti selama tiga hari.

Ia tersenyum-senyum sendiri.

"Lalalala..."

.

.

.

.

Hari mulai gelap. Toushiro mempercepat langkahnya.

Tadi, ia pergi untuk membeli obat ibunya. Namun sialnya, semua toko tutup. Terpaksa ia pergi ke distrik lain.

Dikejauhan, nampak rumah yang telah ia tempati selama bertahun-tahun. Rumah sederhana yang penuh dengan bunga lily.

Rumahnya nampak gelap.

Hatinya semakin cemas.

"AKHHHHHHHHHHHHH!"

"Ibu..."

Toushiro mendengar jeritan ibunya. Dilemparkannya bungkusan obat itu dan didobraknya pintu rumah.

"Ib..."

Toushiro terbelalak.

Ibunya tergeletak berlumuran darah disudut ruangan.

Tubuhnya penuh luka.

Sementara itu, tiga orang lelaki nampak sedang mencoba kabur dari jendela.

Toushiro tak berkata apa-apa.

Pandangannya gelap.

Yuki menatap rumahnya dari kejauhan. Rumahnya masih sama seperti dulu.

Perasaan rindu menyeruak dalam hatinya.

Tapi ada yang ganjil.

Kenapa rumahnya nampak begitu gelap?

Apa ibunya lupa menyalakan lampu?

Tidak mungkin.

Yuki makin tidak tenang sewaktu merasakan 'sesuatu' yang begitu dingin dari dalam rumahnya.

Aneh.

Pintu rumahnya terbuka.

"Ibu... Toushiro..."

"Sreshhh.." Ia merasa menginjak sesuatu.

Sesuatu yang basah dan lengket.

"Darah."

Kakinya menyentuh sesuatu yang berat, 3 buah mayat yang nampak mengenaskan. Tubuh mereka tercabik-cabik dengan sadisnya.

Ia meraba-raba dalam gelap. Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara.

"Hu...nghh...huk..huk.."

"Shi..Shiro..?" Yuki menemukan Toushiro terduduk disudut. Wajahnya nampak ketakutan.

"Yu…Yuki-nee…" Toushiro memandang kakaknya dengan pandangan memelas.

"A..apa yang terjadi, Shiro?" Yuki mencengkram pundak adik satu-satunya itu. Saat itulah ia sadar.

Kedua tangan Toushiro penuh darah.

Toushiro memegang kepalanya.

"A..a aku tidak tahu… Tiba-tiba saja…"

Yuki mulai mengerti keadaan saat itu.

Adiknyalah yang telah membunuh orang-orang itu.

Tiba-tiba, dari arah pintu tedengar jeritan.

"Kyaaaa! Pembunuhannnnn!"

Yuki terkejut. Tapi terlanjur sudah, tetangganya itu telah berlari keluar. Sebentar lagi orang-orang akan berkumpul disini.

Ditariknya Toushiro menuju lemari baju tua disana. Ia mendorong Toushiro masuk ke dalamnya.

"Yu..Yuki-nee.."

Yuki memandang adiknya itu kasihan. Ia tak tahu apa yang terjadi. Kenapa ibunya tergeletak tak bernyawa dan kenapa adiknya membunuh orang-orang itu. Tapi satu hal yang ia tahu.

Toushiro tidak boleh tertangkap.

Ia menatap Toushiro lekat-lekat dan mulai berbicara.

"Dengar Toushiro. Apa pun yang terjadi, jangan keluar dari dalam sini. Kau mengerti kan? Biar kakak yang mengurus semuanya. Kau tidak boleh keluar. Ingat itu baik-baik, Shiro."

Toushiro menggenggam tangan kakaknya.

"Jangan pergi."

Yuki balas menggenggam tangan adiknya.

"Tenanglah. Aku pasti kembali."

Ia menutup pintu lemari itu tepat saat beberapa orang yang membawa obor mendatangi rumah mereka.

"Itu dia pembunuhnya!" Jerit tetangga yang tadi memergokinya sambil menunjuk ke arah Yuki.

Yuki hanya tersenyum licik. Berakting dengan sukses sebagai seorang pembunuh berdarah dingin.

"Benar. Kau mau apa?"

"Tangkap dia!" Perintah seorang pria bertampang sangar.

Beberapa orang menangkapnya.

Yuki tidak melawan.

Salah seorang dari mereka merebut zanpakutounya.

Kedua tangannya diikat dengan tali.

"Kita bawa dia ke Alun-alun desa!" Seru pria tadi.

Orang-orang itu menyeret Yuki.

Toushiro memandang takut-takut dari celah dilemari itu.

TBC


Apa kabar readers tercinta?

Wah, sudah lama sekali mii ga ngapdet fic ini yah…

Hehehehe

Oya, Isshin itu dulunya taichou divisi apa?

Mii ga tau.

Jadinya pinjem dulu deh pake di divisi 10 XDDD

Review please?


: Meshi-chan: he? Masa sih? Hehehe mii Cuma ngambil nama seven sins nya aja kok ^^

Sisanya imagine mii sendiri ^^

Thx reviewnya ya all ^^