Disclaimer: Bleach disini bukan pemutih pakaian.

Tapi manga karyanya Tite Kubo lho!


Snow Memories 6

"Cuit…Cuit…"

Toushiro terbangun.

Langit nampak gelap.

Mendung.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu.

"Yu…Yuki-nee?"

Ia segera keluar dari dalam lemari pakaian itu.

Dilihatnya ceceran darah masih membekas dimana-mana.

Ternyata semua itu bukan mimpi.

Toushiro menutup hidungnya.

Ia ingin muntah.

Beberapa langkah kaki mendekat. Ia segera bersembunyi dibalik pintu.

Samar-samar ia mendengar percakapan orang-orang itu.

"Hei, kau dengar tidak. Katanya, si Yuki bakal dihukum penggal lho!"

"Masa?"

"Iya, aku dengar dia bakal dihukum di alun-alun desa."

"Wah, seru tuh. Kesana yuk!"

Mereka pergi.

Toushiro terbelalak.

"Hukum …. Penggal…?"

Hujan turun dengan deras.

Langit bertambah gelap.

Ia teringat kejadian bertahun-tahun yang lalu.

Hari ayah mereka meninggal.

Keadaannya persis seperti hari ini.

Hujan.

Gelap.

Kematian.

Ia menggigit bibirnya.

"Tidak akan."

Ia berlari dengan kencang.

Menembus derasnya hujan.

Tak peduli berapa kali ia terjatuh karena terantuk batu adas.

Kakinya yang berdarah tak dihiraukannya.

"Cih, apa-apaan ini. Kenapa Yuki-nee harus menerima hukuman atas perbuatan yang kulakukan? Tenanglah, Yuki-nee. Takkan kubiarkan siapapun melukaimu!"


"Hitsugaya Yuki, kau tahu kenapa kau berada disini?" Tanya kepala desa pada gadis itu. Gadis yang kedua tangannya diikat tali. Rantai terkalung dilehernya.

"Aku telah membunuh. Karena itu aku harus dihukum."

"Itu benar, dan apa kau tahu apa hukumanmu?"

"Aku tahu, hukuman yang layak bagi seorang pembunuh sepertiku hanyalah hukuman mati."

"Ya, dan kau akan dihukum gantung."

"Aku mengerti."

Gadis itu dibawa ke alun-alun desa, semua orang memandangnya dengan jijik. Anak-anak melempar batu kearahnya tapi ia tak peduli. Yang terpikirkan olehnya hanya satu hal.

"Apabila Toushiro selamat, itu sudah cukup."

Ia tersenyum miris. Tubuhnya mulai terluka terkena lemparan batu. Kulitnya robek, darah mengalir perlahan. Sakit dan perih mulai menjalar, tapi apa pedulinya?

Ia naik ke atas panggung, tali di kedua tangannya dilepas. Ia bersiap menghadapi kematian yang sebentar lagi akan menjemputnya.

Tiba-tiba, sebuah teriakan yang cukup keras mengangetkan semua orang.

"LEPASKAN KAKAKKU!"

"Apa, siapa itu yang berani mengganggu proses pengadilan?" Si kepala desa bertanya-tanya.

"Toushiro, apa yang kau lakukan. Pergi dari sini!" Pekik gadis itu.

Toushiro berusaha naik ke atas panggung itu. Beberapa orang penjaga berusaha menghalang-halanginya. Tapi anak itu akhirnya berhasil naik ke atas panggung.

"Tenanglah Yuki-nee, aku akan menyela..." Kata-kata anak itu terputus.

Sebuah pedang telah menembus dadanya. Merobek jantungnya. Tubuh kecil itu terjatuh, darah mengalir deras dari luka itu.

"Itulah hukuman karena telah menentang kami. Dasar anak sial!"

Yuki terduduk shock. Ia menatap wajah adiknya itu. Satu-satunya yang hal berharga yang dimilikinya.

"Heh, maaf aku jadi merepotkanmu, Yuki-nee..."

"Jangan bicara lagi! Kau akan kutolong tenanglah!"

"Sudah tidak mungkin." Toushiro tersenyum untuk terakhir kalinya pada Yuki.

"Maaf... ya, Onee-san…." Nafasnya terputus.

Nyawa itu telah hilang.

Mati, tak bergerak lagi.

Yuki menatap tangannya yang penuh darah adiknya. Adik satu-satunya.

Pandangannya nanar.

Tubuhnya terguncang.

BENCI!BENCI!BENCI!

AKU BENCI SEMUA ORANG!

"AAAAAAA!"

Ia merebut zanpakutounya dari penjaga.

"Hei apa yang kau lakukan! Penjaga, tangkap anak ini!"

Terlambat. Karena Yuki telah menebasnya. Memotong lengan kanan laki-laki itu.

"Ahhhk! Sakitttt!Apa yang kau lakukan?" Laki- laki itu menjerit kesakitan karena lengan kanannya telah lenyap.

"Diam kau! Mahluk brengsek! Kau yang dengan seenaknya mencabut nyawa orang hanya demi kepuasanmu sendiri, tahu apa tentang rasa sakit, hah!"

Gadis itu melanjutkan kebrutalannya. Memotong-motong laki-laki itu dengan sadis. Darah mengalir deras. Laki- laki itu sudah meregang nyawa.

Orang-orang mulai panik. Sebuah kejadian tak terduga terjadi di hadapan mereka. Yuki menatap mereka dengan kebencian yang tak terhingga.

"APA KALIAN PIKIR AKU AKAN MELEPASKAN KALIAN?"

Satu-persatu ia membunuh semua orang. Tak peduli orang tua, ataupun anak-anak. Ia benci mereka semua!

Lautan darah menggenang. Yuki tak menyisakan sebuah nyawapun. Ia terduduk lunglai disamping mayat adiknya.

"Toushiro...Toushiro..."

"Hari itu, iblis tersenyum padaku..."

(Yuki POV)

"Toushiro... Toushiro... bangunlah! Kumohon! Toushiro!" Isakku.

Tuhan tidak adil!

Kenapa Toushiro harus mati secepat ini? Hanya ia satu-satunya yang kumiliki...

Kenapa?

"AAAAAAAA!"

Aku hanya bisa menangis. Airmataku menetes. Satu persatu membasahi wajahmu, orang yang paling berarti bagiku.

Semua telah lenyap.

Keberadaanmu, dan artiku untuk tetap hidup.

Tiba-tiba, kurasakan reiatsu yang tak biasa.

Reiatsu yang mengerikan.

Aku kaget dan mendongak untuk melihat apa yang telah terjadi.

Saat itulah sebuah siluet muncul.

Sayap hitam bagai gagak,

Mata merah bagai darah,

Iblis!

Mahluk itu mendekatiku dan memperhatikan wajahmu,

"Kasihan, meninggal sekecil ini." Gumamnya. Ia menatapku,

"Kau kakaknya bukan?"

Aku hanya mengangguk kecil. Hujan yang turun menyembunyikan airmataku.

"Apakah kau ingin ia hidup kembali?"

Aku terkejut. Hidup kembali? Toushiro bisa hidup kembali? Bagaimana mungkin?

"A... apa? Tidak mungkin. Toushiro sudah mati, ia tak mungkin hidup lagi..."

"Kenapa tidak? Aku bisa melakukannya, lho! Yah, tapi semua itu harus ada imbalannya."

"Imbalan?"

Ia mendekatiku, membelai wajahku, menghapus airmataku.

"Aku bisa menghidupkan kembali adikmu, tapi semua itu harus dibayar dengan bayaran yang setimpal."

"Apa yang kau inginkan?Akan kuberikan apapun asalkan kau bisa menghidupkan Toushiro kembali!"

Iblis itu tersenyum. Memperlihatkan taringnya yang berkilat.

"Kau tahu, aku ini serakah. Aku selalu menginginkan imbalan yang 'lebih' itulah yang menurutku 'setimpal'"

"A...apa? Kalau nyawa, aku bersedia!"

"Bukan, kau telah memberikan terlalu banyak 'nyawa' untukku." Katanya sembari menunjuk ke arah mayat-mayat itu. Mayat seluruh penduduk desa yang kubunuh.

"Aku menginginkan yang lain…." Lanjutnya.

"Apa?"

"Bergabunglah dengan kami."

Aku terpana. Tak mampu berkata apa-apa. Mata ruby nya menatap kristal hijau turquoiseku. Ia mendekatkan wajahnya dan berbisik.

"Aku menyukaimu. Gadis yang begitu rapuh... gadis malang yang tak punya harapan. Selalu memendam derita sendirian. Tapi kau bisa menghunuskan pedangmu untuk orang yang paling berarti bagimu. Aku suka itu. Kaulah Venus yang selama ini kucari."

"A... a...a..."

"Belum terlambat lho, kalau kau menyetujuinya. Aku masih bisa membangkitkan adikmu karena ia belum mencapai alam baka."

Kalau Tuhan tak mengabulkan keinginanku, apakah sekarang aku harus mempercayai Iblis ini?

Aku menatap wajahmu. Matamu yang sewarna denganku nampak buram. Tak ada cahaya kehidupan lagi disana.

Apakah aku harus mempercayakan nyawamu pada iblis ini?

Apakah dengan begini kau kan bahagia?

Apakah kau takkan marah?

Apakah kau tak akan sedih?

Apabila mengetahui betapa hinanya kakakmu ini?

MAAF, MAAF, MAAF!

"Aku setuju."

Iblis itu tersenyum senang.

"Baiklah kalau begitu kita sepakat bukan?"

"Ya, apakah aku harus ikut denganmu?"

"Itu pun kalau kau mau."

"Kau akan menepati janjimu bukan?"

"Tentu. Kami kaum iblis selalu menepati janji. "

Ia mendekatimu. Entah bagaimana caranya, tangannya bisa masuk ke dalam tubuhmu. Menembus dadamu. Menarik sesuatu dari dalamnya.

Dan kau bernapas! Denyut jantungmu terasa! Kau benar- benar hidup kembali!

"Apa kubilang. Apakah dengan begini kau puas?"

"Ya, aku puas."

"Tapi kuberitahu satu hal. Meskipun aku menghidupkannya kembali, aku tak bisa mengembalikan ingatannya seperti waktu ia hidup dulu."

"Tak apa. Lagipula aku tak ingin ia mengingat kejadian ini. Tapi aku masih punya satu permintaan lagi."

"Apa?"

"Buat ia ingat satu hal saja."

"Apa itu?"

"Namanya, Toushiro Hitsugaya."

Ia tersenyum licik.

"Aku mengerti."

"Terimakasih."

Maafkan aku Toushiro...

"Shisen ni Ochiru Yukihime..."

"….Deleted Memoriem..."

Aku menghapus ingatan semua orang tentang desa bernama Saigotenshi.

(Toushiro POV)

Aku membuka kedua mataku. Dimana ini?

"Lihat nenek, ia bangun." Suara seorang gadis kecil menyentak telingaku.

"Ah, benar. Apa kau baik-baik saja?"

"Ya, dimana ini?"

"Ini rumahku. Tadi kami menemukanmu tertidur di teras." Gadis kecil itu menyahut.

"Darimana asalmu? Mana orangtuamu?" Tanya si nenek.

"Aku…. tidak ingat." Hanya itu jawabanku. Karena aku benar-benar tidak ingat apa pun juga.

Hanya satu hal yang kuingat.

"Namaku, Toushiro Hitsugaya."


"Ti… tidak…." Yuki mencengkram kepalanya.

"Greed brengsek…. Sudah kubilang… jangan…"

Tiba-tiba dadanya terasa sesak.

Sesuatu seakan mencabik-cabik jantungnya.

"AKHHHH!"

"Sudah waktunya, hei?"

"Tidak! Tidak! Aku tidak mau!"

"Aku tidak peduli, gadis bodoh. Sudah cukup lama aku menunggu saat ini."

"TIDAKKK!" Yuki meronta-ronta. Tangannya mencengkram kerah kimononya.

"Lihatlah kelangit, gadis bodoh."

Yuki mendongak.

Ia terbelalak.

Purnama.

"Gyahahahahahahaha! Sudah waktunya aku keluar!"

"ARGHHHHH!"

Tubuh Yuki mulai bermetamorfosis.

Mata Green Turquoise nya telah berubah menjadi semerah darah.

Taring mencuat dari kedua sisi mulutnya.

"GYAAAA!"

Sepasang sayap hitam tumbuh di punggungnya. Merobek kulitnya.

"Saatnya keluar."

"AAAAAA!"

.

.

.

.

Gadis itu menyeringai.

Ia telah berubah sepenuhnya.

"Nomor 8, Hatred. Telah datang."

Ia terbang ke angkasa. Tersembunyi dalam pekatnya malam.

"Nah, mulai darimana ya?"

Tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.

"HANCURKAN SAJA SEMUANYA!"

Ia mengangkat tangannya. Lubang mulai bermunculan dilangit, dan saat itulah, beratus-ratus sosok mengerikan keluar. Dengan sayap mereka yang bagai kelelawar, mereka mulai menyerang Soul Society.

"BUNUH SEMUANYA! BUNUH! BUNUH! BUNUH! GYAHAHAHAHA!"

.

.

.

.

Gotei 13 panik. Tiba-tiba mereka merasakan reiatsu yang begitu mengerikan. Reiatsu yang tidak hanya besar, tapi juga sangat gelap. Kupu-kupu neraka segera disebar, member itahukan kepada seluruh anggota Gotei 13.

Perang telah dimulai.

.

.

.

.

Greed menatap langit yang tiba-tiba dipenuhi mahluk-mahluk aneh.

"Sudah dimulai ya…."

Ia menoleh pada sosok kecil yang masih terlelap itu.

"Cepatlah bangun, bodoh."

.

.

.

.

"Apa-apaan ini?" Tanya Renji. Ia tengah berusaha menghalau mahluk-mahluk yang terus mencoba membunuhnya.

"Mereka bukan hollow!" Kata Kira sembari menebas seekor mahluk itu dengan zanpakutounya.

"Mereka ini apa sih!" Jerit Hisagi.

Para taichou dan fukutaichou lain juga tak kalah sibuknya. Mereka berusaha menghancurkan mahluk-mahluk itu dengan zanpakutou masing-masing.

Ichigo dan Rukia berusaha membantu.

"Mahluk-mahluk ini keluar dari lubang-lubang itu." Kata Rukia diantara pertarungannya.

"Mereka bukan hollow, tapi pasti ada yang mengontrol mereka!" Balas Ichigo.

Ia menyadari adanya reiatsu lain. Reiatsu yang lebih besar.

"Rukia, tolong kau urus yang disini!"

"Hei, kau mau kemana Ichigo!"

Ichigo tidak menjawab. Ia bershunpo menuju tempat itu.

.

.

.

.

Hatred bersiul-siul. Ia sangat menikmati jeritan demi jeritan yang dikeluarkan oleh para shinigami itu.

"Shinigami bodoh. Mereka itu iblis. Mereka takkan pernah habis, tahu."

"Getsuga Tenshou!"

Sebuah serangan hampir mengenai kepalanya. Ia menoleh untuk melihat siapa orang yang menyerangnya.

Ia melihat seorang pemuda dengan rambut oranye terang dan berpakaian shinigami berdiri beberapa meter dari tempatnya.

"Kau, kan. Dalang dari semua ini?" Tanya pemuda itu sembari mengacungkan zanpakutounya pada Hatred.

Hatred menyeringai.

"Memangnya kenapa? Kau ingin membunuhku, bocah?"

"Tentu saja! HEAHHH!" Ichigo berusaha menyerang Hatred lagi.

Hatred segera menghindar.

"Hoooo… hebat. Aku ingin tahu, siapa namamu, bocah?"

Ichigo menatapnya tajam.

"Ichigo. Namaku Ichigo Kurosaki."

Yuki dalam diri Hatred bereaksi.

"Kuro…saki…. Kurosaki…. Orang yang…. Membunuh ayah…. Kurosaki…."

Hatred menyeringai lebar.

"Wah, rupanya gadis itu membencimu. Bagus, karena…"

Hatred menarik zanpakutounya.

"…ITU AKAN MENJADI KEKUATAN UNTUKKU! GYAHAHAHAAHA!"

Ia membalas serangan Ichigo tadi.

"Erghh… Siapa gadis ini? Kekuatannya luar biasa…" Batin Ichigo sambil berusaha menahan serangan Hatred.

"Gyahahahahahaha! Sekarang bocah, akan kutunjukkan kekuatanku yang sebenarnya padamu!"

Hatred menjauh dan menggenggam erat zanpakutounya.

"Apa…?"

"Shisen ni Ochiru, Yukihime…."

Salju mendadak turun.

"Apa ini…." Ichigo menadahkan tangannya. Salju itu meleleh di telapak tangannya. Gadis itu tetap memejamkan matanya dan tak bergerak.

"Cih, dia meremehkanku rupanya."

Ichigo menyerang gadis itu lagi.

"GETSUGA TENSHOU!"

Gadis itu membuka matanya.

"Yukihime, Wasureru (Forget)…."

Serangan Ichigo mendadak lenyap. Sama sekali tak bersisa.

Ia terbelalak.

"Apa-apaan ini…. Seranganku, menghilang?"

Hatred menatapnya.

"Bodoh. Yukihime, Omoidasu (Remember)."

"GYAAAA!" Tiba-tiba sekujur tubuh Ichigo dipenuhi luka. Bersamaan dengan bangkitnya semua ingatannya tentang luka-luka itu.

"GYAAAAAAAA!" Ia terus berteriak. Rasa sakit yang pernah dialaminya dulu bangkit lagi. Otaknya seakan dipaksa untuk kembali mengingat semua itu.

"Rupanya, kau terlalu sering bertarung ya, bocah."

Ichigo bangkit sembari bertumpu pada zanpakutounya.

"Apa-apaan ini…. Aku bahkan belum mengeluarkan Bankai…"

Gadis itu mendekatinya.

"Perkenalkan. Namaku Hatred dan…. Oyasuminasai (Good night), bocah…."

"Hyaku Asa Tsuyu!" (Seratus embun pagi)

Ribuan titik air menerjang Ichigo. Bagaikan ribuan jarum yang siap menusuk tubuhnya.

"Daiguren Hyorinmaru!"

Tiba-tiba, sebuah dinding es tercipta diantara Ichigo dan Hatred. Melindungi Ichigo dari serangan mematikan itu.

Hatred terkejut.

"Apa…."

Ichigo dan Hatred menoleh bersamaan.

Sesosok shinigami dengan haori taichou nampak menggenggam zanpakutounya dengan sigap.

"Akulah lawanmu, Onee-san…."

TBC


Fufufufu!

Akhirnya chapter 6!

hem, mengenai Venus yang dibilang Greed, itu adalah perumpamaan.

Karena, ada cerita Yunani kuno yang menyebutkan tentang hubungan terlarang antara Demos(iblis) dan Dewi Venus ^^

XDD


Oya, Mii sebenernya nggak mau bikin Ichigo keliatan lemah, lho~

Karena kekuatan zanpakutou Yuki itu sendiri adalah ingatan.

Jadi, karena Ichigo kebanyakan lukanya ya, wajar==

Lain lagi ceritanya kalo dia bertarung sama shinigami lain, yang ga pernah luka (memangnya ada?)

Nah, berikut adalah rincian tentang zanpakutou Yuki, Yukihime ^^


Nama: Yukihime
Release:Shisen ni Ochiru, Yukihime (Gugurlah, Yukihime)
Warna rambut: Biru metalik (what the?)
Master: Hitsugaya Yuki
Power (shikai): 'Forget' and 'Remember'

Bankai: Princess of Memories, Yukihime.

Power: Jikkai(10 perintah) dan Forget& Remember tentunya ^^

Yaitu 10 perintah yang berhubungan dengan elemennya sendiri, es. salah satunya Hyaku Asa Tsuyu (Seratus embun pagi)

Yuki jarang menggunakan Bankai karena pada dasarnya kekuatan shikainya sudah cukup untuk melukai lawan (dengan membangkitkan kenangan akan luka lawan itu)

Kekuatan Yukihime itu nyata, bukan dalam bentuk ilusi seperti Aizen ^^

Dalam bentuk manusia, Yukihime selalu mengenakan kimono pendek (kaya Nemu) warna hijau muda..

Kemampuan Yukihime adalah
"Forget dan "Remember"

Forget digunakan untuk membuat lawan lupa akan apa yang akan dia lakukan. dapat juga untuk menghilangkan efek serangan lawan karena sifat 'lupa' tersebut.
sehingga Yuki takkan pernah terluka saat pertarungan.

Remember: adalah kekuatan Yukihime untuk 'mengingatkan' kembali sesuatu atau seseorang.
(Seperti di SM chapter 2 ketika Yuki membuat tubuh Hitsugaya terluka hanya dengan mengingat setiap pertarungannya.)
dengan begitu, Yuki dapat melukai lawan tanpa harus bertarung.
Cukup dengan 'mengingatkan' luka lama lawannya

Mengenai "Jikkai" akan Mii jelasin di chapter berikutnya ^^

Yukihime suka berada dekat dengan Hyourinmaru dan Sode no Shirayuki.
Ia bahkan memanggil SnS dg sebutan 'nee-san'
Kenapa?
Alasannya Klise!
Kalo dideket mereka kan adem!XDDDD
Yg dibenci: Ryujin Jakka
Ga usah dibilanginpun pasti tw kenpa kan?
PANESSS!
Yukihime pernah pingsan waktu deket sama Ryujin Jakka selam 10 menit sampai akhirnya Hyourinmaru dan Sode no Shirayuki mengambil inisiatif membawanya ke ruangan dg suhu minus 20 derajat.


Hohohoh

Review please?

Chapter berikutnya mungkin bakal jadi chapter terakhir ^^