Special thanks for :

Chousamori Aozora, Scarlett Yukarin, Thia2rh, Ka Hime Shiseiten, Chiho Nanoyuki, Aichiruchan, tharo muri chan, Sakura chaNoRuffie-chan, Kurousa Hime, Violet7orange, Deidei Rinnepero, Haruchi Nigiyama, Vipris, Dhevitry Haruno, Fun-Ny Chan D'JiNcHuUri-Q, Azu-chan, Shiori Yoshimitsu, Uchiha Yuki-chan, Delasachi luphL, Reborn


"Aku berubah karena kau."

"Jadi…"

"…aku lha yang seharusnya mengucapkan terima kasih kepadamu."

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Warning : OOC, AU, minim deskrip, misstypo?

Genre : Romance/Friendship/Family

Pairing : SasoSaku, slight SasuSaku

.

.

MY BUTLER SUCKS!


LAST CHAPTER : FINALLY

"PEIN!" teriakan itu menggema di jalan raya. Banyak yang datang hanya sekedar untuk melihat siapa yang terkena kecelakaan naas tersebut. Tepat di tengah kericuhan itu, suara sirine ambulance membubarkannya. Dengan segera, turun dua perawat yang langsung mengangkat tubuh laki-laki berambut oranye dan berpiercing itu ke atas tandu dan memasukkannya ke dalam mobil ambulance.

Sasori—laki-laki berambut merah dan berwajah baby face itu tentu saja terlihat sangat khawatir. Dia tak pernah menyangka sedari tadi, bahwa bosnya akan mengalami hal ini. Diam-diam perasaan bersalah menghantui pikirannya, "Sasori-kun, aku akan ikut untuk mengantar taichou!" seru laki-laki berambut pirang dan berwajah imut yang tak lain bernama Deidara. Sasori sedikit tersentak dari lamunannya.

"A-Aku juga ikut," pinta Sasori dan langsung menggerakkan kakinya. Namun dengan cepat, Deidara langsung menahan tubuh partnernya, "Tidak usah!"

Tentu saja Sasori kaget atas penolakan yang dilakukan partner yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu, "Sasori-kun masih punya urusan yang belum diselesaikan kan?" Deidara berkata mantap, "Daripada nanti Sasori-kun berantem lagi dengan taichou, lebih baik sekarang Sasori-kun selesaikan saja! Aku akan menjaga taichou dengan baik." Ujar Deidara tegas.

"Urusan apa maksudmu? Aku tidak mengerti," tanya balik Sasori. Memang benar dia tidak mengerti, urusan apa? Dia sendiri tidak tahu. Saat Sasori menatap bola mata berwarna biru langit di depannya, dia langsung teringat dengan kata-kata terakhir taichou-nya itu…

"Dasar, kalau begitu terus ya perasaanmu tidak akan pernah sampai padanya. Sama saja kau menyiksa dirimu sendiri. Ternyata kau memang masih anak kecil, Sasori. Nah, sekarang lebih baik kau—"

"Pasti waktu itu taichou ingin mengatakan agar kau segera menyatakan perasaanmu pada majikanmu itu," Deidara menatap tajam mata hazel milik partnernya tersebut, "karena itu sekarang pergilah, Sasori-kun!"

Sasori mengernyitkan alisnya mengerti. Tanpa basa basi lagi, dengan cepat Sasori membalikkan tubuhnya dan berlari berlawanan arah dari ambulance. Pikirannya cuma satu yaitu menyatakan semuanya, perasaannya kepada gadis itu. Gadis yang selalu dia kerjai, namun pada akhirnya kini menjadi gadis yang selalu ada di pikirannya. Setelah menyatakan semuanya, dia berjanji akan pergi jika memang itu yang diinginkan sang gadis. Setidaknya cukup tiga kata yang dia lontarkan, maka selesai sudah.

"Tunggu aku, Haruno Sakura…"

#

"Jadi, apa jawabanmu?" tanya Sasuke lagi untuk ke sekian kalinya. Dia sedikit menekuk wajahnya. Wajar saja kesal, setiap dia bertanya pasti Haruno Sakura selalu bisa membelokkannya ke hal lain.

Gadis berambut soft pink itu menelan ludah, "E… etto…" Sakura menggaruk kecil pipinya, "Ah iya Sasuke, empat hari lagi kaasan akan pulang dan—"

Sasuke kembali memakai tatapan tajam dengan mata onyx andalannya. Melihat itu, Sakura langsung terdiam dan menunduk. Jujur saja, kadang tatapan maut Sasuke bisa sangat menakutkan. Sakura memainkan dua jarinya dan menggerakkan bola matanya ke kanan dan kiri, "Err, maaf."

"Lupakan, lebih baik jawab saja," Sasuke menghela nafas, "jadi… bagaimana?" Sakura mengangkat wajahnya dan menatap wajah mantan pacarnya yang dingin itu. Yeah, gadis beriris hijau emerald itu pun pasti tahu bahwa laki-laki di depannya sudah sangat tidak sabar.

"Aku…" kata-kata Sakura kembali tercekat. Ah, gadis tsundere itu sangat tidak menyukai keadaan ini. Rasanya dia yang berstatus anak keluarga kaya raya itu jatuh dan berstatus rakyat jelata—oke, itu lebay, "…ngg bagaimana ya,"

"Oh ayolah," Sasuke kembali menekan kata-katanya. Dia paling tidak suka dibuat menunggu sia-sia seperti ini, "saat sebelumnya aku menyatakan perasaanku padamu, kau bisa langsung menjawab dalam waktu dua menit," sindir pria berambut raven biru donker itu. Mendengarnya, membuat Sakura kembali tercekat.

Anak Haruno tunggal itu menarik nafasnya dalam-dalam. Sebenarnya, jujur saja dia sudah memikirkan jawaban atas pernyataan ini. Hanya saja, dia bingung bagaimana mengucapkannya. Tapi sekarang, sepertinya sudah tidak apa—mengingat Sasuke yang sedari tadi memaksanya, "Sasuke…" mendengar nada serius keluar dari bibir tipis Sakura, membuat si bungsu Uchiha itu menolehkan kepalanya, "maaf, aku…"

"Tidak bisa menjadi kekasihmu."

Sasuke terlihat sedikit membelalakkan matanya. Namun itu juga tak lama, dia kembali dalam wajah stoicnya. Dia hanya berkedut kecil, "Hn, jadi aku ditolak?" tanyanya lagi seolah meminta keyakinan Sakura. Gadis itu terdiam sebelum akhirnya mengangguk mantap. Sasuke menaikkan sebelah alisnya, "kenapa?"

Sakura memperhatikan saat mantan pacarnya itu menopangkan dagunya dan kembali menatapnya dengan tatapan menuntut seperti biasa, "Tidak, mungkin… hanya ingin saja," jawab Sakura asal. Yeah, gengsi gadis itu masih terlalu besar untuk mengatakan alasan yang sebenarnya.

"Bohong," Sasuke menatap jengah Sakura yang selalu tidak bisa berbohong di depannya, "kau pasti punya alasan, apa kau masih tidak bisa memaafkanku?" tanya Sasuke seraya kembali mengerutkan keningnya, "ataukah… butler merah itu?" lanjut Sasuke sekenanya dan membuat gadis berambut soft pink itu sedikit terkesiap.

"Bu-Butler? Sasori maksudmu?" tanya balik Sakura tanpa mendapatkan jawaban balik dari Sasuke yang masih menatapnya dingin, "Tentu saja tidak! Dia itu sangat menyebalkan, asal kau tahu!"

"Tapi matamu tidak berkata seperti itu," oke, kata-kata Sasuke yang satu ini benar-benar menusuk dada Sakura, "bagaimana kalau kau jujur saja padaku, Haruno Sakura?" tanya Sasuke lagi dengan seringainya yang tipis dan selalu bisa membuat para penggemarnya jatuh pingsan saking tergila-gilanya pada seringai itu.

Dan wajah Sakura mulai memerah.

.

#

.

"Sakura!" Sasori segera membuka pintu rumah majikannya itu, dia mencari majikan sekaligus babu yang selama ini dikerjainya habis-habisan. Tapi nihil, rumah besar itu masih tetap kosong.

Dengan harapan yang membesar di hatinya, laki-laki bermata hazel itu masih tetap mencari di setiap sudut rumah besar bertingkat yang ditempatinya. Mulutnya tak berhenti meneriakkan nama seseorang yang dicarinya. Gadis berambut soft pink, beriris hijau emerald yang indah. Sasori merindukannya. Merindukan senyum lembut dari gadis itu—semuanya. Tapi usahanya tetap tidak membuahkan hasil, Sakura tidak ditemukan di manapun.

"Cih, ke mana sih kepala permen karet itu," ujar Sasori kesal setengah mati. Dia mengacak-acak rambut merahnya frustasi, "tahu begini, harusnya tadi aku benar-benar melarangnya menemui pantat ayam sialan itu," gusarnya lagi. Sasori menghela nafas panjang.

Baru saja Sasori akan melangkah masuk ke dalam lagi, dia mendengar suara langkah seseorang. Terdengar juga suara engahan dari seseorang yang sepertinya kelelahan tersebut. Siapa? Begitu tanya Sasori dalam hati. Ada yang baru datang ke rumah majikan tersayangnya ini. Dalam gerakan yang seperti slow motion, Sasori membalikkan tubuhnya. Bola mata hazelnya membulat begitu melihat siapa yang baru datang itu.

"Butler sialan?" gadis itu bertanya dengan lugunya, "Ah rupanya aku keduluan olehmu, padahal tadinya aku ingin bersantai-santai selama kau tidak ada," celetuknya seraya menggembungkan pipinya. Lucu, begitulah.

Sasori tidak menjawab. Dalam diam dan ekspresi yang sulit diartikan, laki-laki berambut merah itu berjalan mendekati Sakura yang masih berdiri di sisi pintu depan dengan wajah kebingungan. Sasori baru berhenti ketika dia sudah berdiri tepat di depan Sakura. Mata hazel itu menatap mata hijau emerald di depannya dalam dalam. Berusaha masuk ke dalamnya dan menemukan pusat. Dalam waktu sekitar lima menit sudah mereka berdiri berhadapan seperti itu. Sakura yang mulai risih akan membuka mulutnya, tapi keburu disergah pertanyaan oleh Sasori.

"Ke mana saja kau?" tanya Sasori dengan nada sarkastik membuat Sakura sedikit tertegun. Apa lagi sekarang? Apa butlernya ini mau mengajaknya berantem lagi? "Hei! Jawab pertanyaanku, kau ke mana saja dengan pantat ayam sialan itu?" tanya Sasori lagi dengan nada membentak.

Tentu saja Sakura tidak suka dengan bentakan tiba-tiba seperti itu, langsung saja dia menjawab, "Apa urusanmu hah? Kau hanya butler, ingat itu!" bentak Sakura balik. Melihat itu, Sasori menggertakan giginya kesal.

"Tinggal jawab saja, apa susahnya sih? Dasar pinkie!"

"Suka-suka aku dong mau jawab apa nggak, reddish sialan!"

"Diam saja kau, kepala permen karet!"

"Kau yang diam, butler sialan!"

Ugh, seperti bayangan yang sudah diduga sebelumnya. Dua pasangan ini malah saling perang deathglare. Entah siapa yang akan menang, karena dua-duanya sama-sama kuat dan tidak ada yang mau mengalah. Rasanya kalau diperhatikan jauh lebih mendalam, seperti ada saluran listrik yang keluar dari mata mereka dan sedikit menimbulkan percikan percikan api. Bahkan bukan tidak mungkin Sasori melupakan tujuan awalnya mencari Sakura.

"Huh sudahlah! Aku capek. Aku mau istirahat dulu, minggir!" gerutu Sakura dan segera mendorong tubuh kekar pria di hadapannya, "Sasori… minggir!" dan kali ini Sakura mengeluarkan tenaga dalamnya untuk mendorong Sasori yang tidak juga memberinya jalan. Tapi percuma, Sasori hanya berhasil dibuat mundur satu langkah, selebihnya Sakura langsung kelelahan lagi mengingat tadi dia baru saja berlari. Ck, benar-benar. Kenyataan bahwa laki-laki jauh lebih kuat dari perempuan memang tidak bisa dibantah.

Dengan kesal, Sakura menengadah menatap wajah Sasori yang sedikit lebih tinggi darinya. Sakura mendengus kesal, "Apa sih maumu? Menyebalkan!" ketus Sakura kesal dan melipat tangannya di depan dadanya. Dan Sasori masih tetap diam di pendiriannya.

Sakura tidak tahu, sesungguhnya sekarang tengah terjadi perdebatan sengit di dalam hati Sasori. Antara ingin menyatakannya dan tidak. Antara bohong dan jujur. Memilih manapun, Sasori yakin tidak akan ada yang menguntungkannya. Karena sepintar-pintarnya manusia menyembunyikan bangkai, suatu hari nanti pasti akan tercium juga. Ah, persis dengan keadaannya sekarang.

"Hei," akhirnya Sasori mengeluarkan suaranya lagi setelah sekian lama terdiam, "ada yang ingin kukatakan padamu," ucap Sasori dan seketika wajahnya berubah jadi gugup. Tentu saja hal ini membuat Sakura lagi-lagi kebingungan.

"Sebelumnya, saat pertama kali kita bertemu, menurutmu aku ini orangnya seperti apa?" tanya Sasori agak berputar-putar. Sakura mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya 'emang-kenapa-sih?', dan bukan tidak mungkin Sasori menyadari perubahan mimik Sakura itu, "Sudahlah, jawab saja kenapa sih?"

"Jujur?" tanya Sakura yang dijawab anggukan cepat Sasori, "Kalau begitu, kesan pertamaku melihatmu adalah bahwa kau itu menyebalkan, jelek, sok tahu, sok bisa, sok ganteng, sok imut, dan sebagainya…" jawab Sakura lancar tanpa beban. Sepertinya dia tidak menyadari kerutan-kerutan samar mulai muncul di wajah Sasori yang tersenyum bahaya.

"Hooo begitu?" Sasori menyeringai kesal, dia mengacak-acak rambut soft pink Sakura. Tentu saja gadis itu langsung mendelik, "Yah, tapi memang wajar sih," lanjut Sasori seraya menatap wajah polos Sakura. Keduanya bertatapan, terutama Sakura yang menatap dengan tatapan, 'apa-sih?-aku-tidak-mengerti'.

Sasori menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya berkata, "Sakura, aku ini pencuri," laki-laki itu sedikit menegang melihat Sakura yang terbelalak, "dan memang benar, tujuan awalku masuk ke rumah ini adalah mencuri hartamu, lalu kabur menghilang tanpa jejak setelah melakukannya," Sasori melirik ke arah lain, kemana saja asal tidak menatap mata hijau emerald yang menusuk di depannya, "maaf ya,"

Awalnya Sakura ingin meledak dan memarahi butlernya habis-habisan—persis yang ditakutkan Sasori. Laki-laki berambut hazel itu menutup matanya takut-takut. Terserahlah Sakura akan melakukan apapun padanya kali ini, entah ditonjok, dihajar habis-habisan, diikat, atau mungkin Sakura akan menelpon polisi untuk menangkapnya? Yang jelas, kali ini Sasori sudah bertekad dalam hatinya untuk tidak kabur dan bersedia menerima hukumannya.

BHUAG

Sungguh masih agak di luar perkiraan Sasori. Sakura hanya menonjok tepat di wajahnya, membuat tadi reflek kepala Sasori bergerak miring ke kanan—efek tonjokan Sakura. Rasa sakit memaksa Sasori untuk membuka matanya dan menggerakkan tangannya—menyentuh sedikit darah yang keluar dari sudut bibirnya. Pria baby face itu masih menunduk—takut menghadapi majikannya. Satu hal yang membuat laki-laki bermata hazel yang indah itu kaget hanyalah suara tawa Sakura setelah beberapa saat menonjoknya.

"Hahahahahahaha!" dengan ragu, Sasori mengangkat wajah tampannya yang mulai sedikit membiru. "Aaaah, akhirnya aku bisa juga menonjokmu butler sialan," gumam Sakura dengan senyumnya yang menyeringai. Jelas sekali terlihat, bahwa dia sangat puas akan hal ini.

Sasori masih ragu akan bertanya sampai akhirnya dia membuka bibir tipisnya, "Setelah ini… kau akan melakukan apa?" tanyanya dengan nada dingin. Sasori memalingkan wajah, masih tidak berniat menatap gadis di depannya. Jujur saja, Sasori ingin sekali balik mengerjai gadis itu habis-habisan kalau dia bisa. Tapi yah, setidaknya dia masih tahu diri.

"Hmm… menurutmu hukuman apa yang pantas untuk orang yang berniat mencuri di rumahku ya?" sindir Sakura dengan gaya tengil ala putri raja membuat Sasori berkali-kali mendecih melihatnya. Sebenarnya gadis ini niat nggak sih menghukum dia? Oh, atau jangan-jangan gadis itu menganggap pengakuan dia hanyalah lelucon belaka.

Sasori sedikit menggertakan giginya menyadari hal itu, "Sakura, kau pikir ini lucu? Aku serius tahu!" Sasori mendelik kesal, "Tidakkah kau mengerti?"

"Kau pikir aku tidak serius?" Sakura bertanya balik dan kali ini membuat mulut Sasori terkunci rapat, "Aku juga marah begitu mengetahui kau adalah pencuri selama ini, tidakkah kau sadar bahwa kau sudah mengkhianati kepercayaan ibuku?" Sakura lagi-lagi bertanya dengan sarkastik. Ah iya Haruno Mila, rasanya Sasori ingin memukul kepalanya sendiri.

"Maaf…" kali ini ungkapan maaf yang benar-benar tulus dari hati Sasori pun keluar, "Aku benar-benar menyesal, apa yang harus kulakukan untuk menebusnya?" tanya Sasori. Kali ini Sakura tidak bisa tertawa lagi, wajah serius Sasori seolah menghilangkan niatnya untuk mengerjai laki-laki itu habis-habisan dalam sekejap.

Sekarang gantian Sakura, kini terjadi juga perdebatan dalam hatinya. Ingin menghukum Sasori, tapi dia juga tidak mau berpisah dengan butler sialannya itu. Dan bukan hanya itu, bayangan kenang-kenangan kebersamaan mereka—walau sebagian besar menyebalkan—berputar di otaknya. Sasori memang menyebalkan, selalu mengerjainya, menjadikannya babu, membuat posisinya yang berkuasa jatuh begitu saja dengan gampangnya seolah membalikkan telapak tangan. Tapi Sakura menyayanginya, ya dia tidak bisa membantah itu.

"Begini saja," kata-kata Sakura yang memecah keheningan rasanya ikut memecahkan jantung Sasori juga saking tegangnya. Laki-laki itu menatap Sakura dengan keringat dingin, dia benar-benar terjebak di antara pergolakan batin untuk mengetahui hukumannya, "mulai sekarang dan selamanya, teruslah menjadi butlerku sampai mati,"

Sasori membelalakkan matanya tidak percaya. Dia berusaha mencari kebohongan pada mata hijau emerald di depannya, namun nihil, "Kau bercanda?" tanya Sasori sedikit kaget, "Aku ini pencuri tahu dan—"

Kata-kata Sasori rasanya bagai tercekat di tenggorokan saat Sakura memeluknya. Sangat erat. Sakura menyandarkan kepalanya di leher Sasori, "Sudah cukup, aku tidak bisa memberimu hukuman lebih dari ini," entah hanya perasaan laki-laki berambut merah itu saja atau bukan, tapi dia merasa kemeja putih yang dia kenakan mulai terasa basah. Sakura… menangis?

"He-Hei, jangan menangis! Ada ap—"

"Aku suka Sasori," ucapan Sakura yang memotongnya membuat Sasori merasa membeku, "suka, suka, suka, aku suka Sasori…" dan cengkeraman Sakura pada kemeja Sasori pun makin kuat—tak bisa dipungkiri kalau baju putih Sasori itu akan kusut.

Laki-laki yang berambut merah dan tinggi tegap itu hanya tersenyum kecil dan mendengus seraya menggerakkan tangannya untuk mengusap-usap kepala Sakura. Dalam hatinya dia tertawa kecil, bisa-bisanya pengakuannya didahului oleh Sakura. Setelah cukup lama mengusap-ngusap, kini Sasori membalas pelukan gadis itu. Cukup lama mereka berpelukan hingga Sasori berbisik, "Aku… juga suka Sakura…" dan laki-laki yang memiliki mata hazel itu pun semakin mempererat pelukannya.

Sasori bahkan bisa mendengar Sakura yang mulai reda isakannya. Tapi dia langsung segera teringat dengan Pein. Tanpa sadar, Sasori segera berdiri dari pelukannya, "Ah iya, Pein!" Sasori menatap wajah Sakura yang kebingungan, "Dia bosku yang bodoh, tadi baru saja dia kecelakaan, aku harus melihat keadaannya," jelas laki-laki itu panik sambil tetap menatap mata hijau emerald Sakura yang sedikit masih berkaca-kaca.

Sakura mengangguk mengerti dan segera menyeka air matanya. Dalam hitungan detik, gadis berambut soft pink itu sudah menarik tangan Sasori keluar rumah, "Ayo!"

.

#

.

#

.

#

.

#

.

"KAMI MOHON IZINNYA, MILA-SAMA!"

Haruno Mila seharusnya hari ini sedang beristirahat di rumah setelah dinas ke luar kota yang memakan waktu seminggu. Yeah, bisa dipastikan tubuhnya pegal dimana-mana. Tapi sama sekali tidak sesuai harapan, saat ini Mila malah harus duduk di atas sofa, mengamati dua—oh bukan, empat orang. Mereka semua tengah bersujud di depannya seolah memohon suatu permohonan yang sangat penting. Mila yang memang berhati lembut itu hanya bisa sweatdrop melihatnya.

Oke tunggu, kenapa bisa sampai empat orang? Dua di antaranya memang bisa dikenal adalah butlernya dan anak kandung Mila itu sendiri. Sedangkan dua lainnya, ada yang bisa menebak?

"Be-Begini ya sayang, ibu sih tidak keberatan tapi—" Mila berbicara pada Sakura yang merupakan anaknya itu dan mengelus rambut soft pink yang lembut itu, "—setahu ibu, kau kan tidak suka keramaian. Jadi, benarkah tidak apa?" tanyanya lagi berusaha meyakinkan anaknya.

"Iya bu," Sakura tersenyum manis sekali. Diam-diam Mila bersyukur karena sudah lama tidak melihat anaknya tersenyum seperti ini. Sakura benar-benar sudah berubah rupanya, "lagipula mereka semua baik-baik dan aku yang akan menghajar mereka jika berani macam-macam," jelas Sakura seraya mengepalkan tangannya hingga terdengar bunyi 'kretak'. Membuat tiga laki-laki di belakangnya bergidik ngeri.

Mila menghela nafas panjang dan tersenyum. Kalau anaknya bisa tersenyum bahagia seperti ini, "Baiklah," kini Mila berbalik dan menghampiri ketiga laki-laki yang masih duduk bersimpuh di bawahnya, "nama kalian Sasori, Pein, dan Deidara kan? Kalian boleh tinggal di sini kalau mau," dan senyum Mila pun serasa menjadi surga bagi para mantan pencuri Konoha itu.

"A-ARIGATO GOZAIMASU!" dan ketiga pria itu pun kembali membungkukkan tubuh mereka.

Mila tersenyum simpul melihat itu, hingga akhirnya dia mengucapkan permisi untuk kembali ke kamarnya dan istirahat. Kini mereka semua kembali berhadapan dengan Sakura. Gadis itu bertugas membagi kerjaan mereka semua. Memang, walaupun mereka tinggal gratis di kediaman Haruno yang mewah, tetap saja harus bekerja dengan bayaran. Yah, namanya juga kehidupan—tidak ada yang namanya 'gratis' bukan?

Kini terlihat, Sakura, Sasori, Deidara, dan Pein tengah duduk melingkar di tengah ruangan. Pein juga masih memakai perban di kepala, tangannya digips, dan kakinya pun masih sedikit pincang. Lukanya cukup parah memang, tapi Pein yang—kata Sasori—memang bodoh dan keras kepala akhirnya memaksa secepatnya dikeluarkan dari rumah sakit. Sakura terlihat menulis-nulis sesuatu di atas kertas hingga kemudian dia mengumumkannya.

"Hemm, setelah berdiskusi dengan Sasori, aku memutuskan kalau Deidara bekerja sebagai pembantu. Bersih-bersih, memasak, dan sebagainya. Bisa?" tanya sakura. Deidara tersenyum senang hingga kemudian dia mengangguk cepat. Sasori tersenyum tipis melihatnya.

"Nah, sesuai bidangmu bukan?" Sasori menyahut dan mengedipkan sebelah matanya pada partnernya yang berambut pirang itu, "Bagaimana kalau sekarang kau menyiapkan makan malam, Dei-chan?" goda Sasori—yang entah kenapa membuat Sakura dan Pein bergidik ngeri.

"Terima kasih, Sasori-kun," dan berikutnya adalah adegan live Deidara mencium pipi Sasori yang tentunya membuat Sakura juga Pein cengo sesaat. Sasori hanya tertawa menanggapinya sementara Deidara langsung berlari kecil menuju dapur—markas barunya.

"Lalu Pein," Sakura terlihat bersungut-sungut, "berhubung kau masih belum sembuh benar, kau boleh istirahat dulu. Tapi setelah itu kau bekerja sebagai sopir dan urusan-urusan luar rumah sekaligus penjagaan kuserahkan padamu," Sakura tersenyum riang seraya menunjuk Pein.

"Wah, kau memang baik Sakura-chan~" Pein berjalan dengan tertatih-tatih mendekati Sakura. Namun sebelum laki-laki berpiercing itu berhasil mencium pipinya, dia sudah keburu dijitak keras oleh Sasori yang menatapnya dengan deathglare.

Sasori menatap Pein dengan tatapan membunuh, "Lebih baik kau tidur saja di kamarmu, pain," bisiknya tajam membuat Pein langsung bergidik ngeri dan lagi-lagi dia harus berlari tertatih-tatih untuk menuju kamarnya. Hingga kini tinggal Sasori dan Sakura yang berdiri di tengah ruangan.

Sasori menggeleng kepalanya, "Dasar taichou yang satu itu, tidak kapok-kapok," gerutunya seraya mendengus. Sakura tertawa kecil di sampingya. Mendengar itu, Sasori langsung menolehkan kepalanya. Mengamati majikannya dengan seringainya yang sangat khas untuk baby face miliknya.

"Jadi, apa tugasku?" tanya Sasori dengan senyumnya. Sakura mendengus dan tertawa kecil, dia membuang kertas yang dipegangnya.

Sakura menarik dasi Sasori yang panjang hingga laki-laki berambut merah yang tersenyum itu hanya menurut dan membiarkan dirinya ditarik mendekat, "Tugasmu?" bisik Sakura mengulang pertanyaan Sasori. Gadis itu mendekatkan kepalanya pada kepala Sasori yang dia tarik mendekat hingga hidung mereka bersentuhan dan dapat merasakan nafas masing-masing, "Tetaplah menjadi butler pribadiku, Sasori…"

Sasori terkekeh mendengar kata-kata yang diucapkan gadis itu. Sebelum akhirnya dia menjawab dengan cengiran, "I will, Sakura-sama," dan detik berikutnya Sasori juga Sakura langsung menghilangkan jarak di antara mereka berdua.

Kedua insan itu berciuman. Sangat dalam, hangat, tidak saling melepaskan satu sama lain. Membagi perasaan mereka yang meledak tak tertahankan. Saling membenci, namun juga saling menyukai. Saling berwajah memerah dan panas, tapi tetap melanjutkan. Merah muda dan merah darah. Hijau emerald yang memukau dan coklat hazel yang menenangkan. Bibir ranum dan bibir tipis. Keheningan yang menghangatkan, tangan mereka saling merapatkan dan mendalamkan ciuman masing-masing. Intinya, mereka tidak akan saling melepaskan.

Dari belakang lemari, kedua partner kesayangan Sasori pun tersenyum lebar. Mensyukuri kebahagiaan yang didapatkan salah satu temannya.

Ah, kisah antara butler dan majikannya pun berakhir di sini…

.

.

.

.

.

FIN


Mind to leave your review for the last time?

Well, see you again in my next fic. Jaa nee~! xD

~ Thank you very much ~