"Tadaima," Sasuke memasuki rumah mewah klan Uchiha tersebut, dengan diikuti Naruto dibelakangnya.
Mereka berdua pulang dalam keadaan basah kuyub. Jelas ini semua adalah kesalahan Naruto yang terlalu lama menghabiskan waktu untuk merampok Sasuke di Ichiraku ramen, mungkin saja Naruto akan tetap merampok isi dompet Sasuke kalau saja Sasuke tidak menariknya secara paksa dan mengakibatkan mereka harus pulang dengan hujan-hujanan.
"Sepi, kemana yang lain?" Tanya Naruto begitu mendapati keadaan rumah itu yang begitu sepi.
"Tou-san dan kaa-san sedang keluar negri. Kalau aniki sedang mengerjakan skripsi akhirnya bersama Dei-niichan, mungkin nanti malam atau besok baru pulang," jawab Sasuke.
Naruto hanya mengangguk, kemudia mengikuti Sasuke memasuki kamarnya yang berada dilantai dua.
Setelah sampai di tempat tujuan, Naruto segera menghempaskan tubuhnya diatas ranjang empuk Sasuke, sedang empunya kamar hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan tamu tak tahu diri itu.
"Kau bisa membasahi kasurku Naruto, menyingkir dari situ dan pakai ini," Sasuke melemparkan handuk biru berlambangkan kipas khas klan Uchiha serta kaus putih polos dengan beberapa garis hitam, dan celana jeans pendek yang pernah tidak sengaja Naruto tinggalkan dirumahnya.
Sasuke sendiri menggambil beberapa baju ganti dan segera memasuki kamar mandinya.
Begitu keluar dia sudah mendapati Naruto sudah berganti pakaian yang duduk manis melihat keluar jendelanya yang terbuka.
"Kau melihat apa Dobe?" Sasuke berjalan mendekati Naruto. Naruto yang menyadari kehadiran Sasuke segera mengalihkan perhatiannya dari jendela kepada Sasuke.
"Sepertinya hujannya akan lama Teme, bagaimana ini, kaa-san pasti mencariku." Tanya Naruto khawatir.
"Nanti kalau tidak berhenti juga, aku antar kau kerumah,"
"Benarkah? Kau memang Teme yang baik." Naruto menyunggingkan senyum lebarnya.
"Aku tidak merasa senang kalau kau puji begitu," ketus Sasuke.
Sasuke bermaksud akan mengajak Naruto bermain PS kesukaan kekasihnya itu, sampai dia ingat pada taruhannya dengan Neji dan Shikamaru. Mengingat kalau dia sudah tertinggal satu langkah oleh Shikamaru. Mana ada dalam sejarah seorang Uchiha kalah.
'Sepertinya kalau pakai cara si jenius itu tidak ada buruknya juga' batin Sasuke. Kemudia diamulai merapatkan tubuhnya dengan Naruto yang masih memasang senyum dua belas jarinya.
"Tapi itu tidak gratis loh Dobe,"
"Heh? Maksudmu apa Teme?" Tanya Naruto tidak mengerti apa yang dimaksud Sasuke.
"Begini, err kau tahu sendirikan kalau kita sudah berpacaran sekitar setahun?" Naruto mengangguk membenarkan.
"Jadi?" Tanya Naruto
"Ehm, sekarang aku ingin meminta hak ku sebagai pacarmu Dobe,"
"Hak mu?"
"Iya, hak ku Dobe,"
"Bagaimana caranya?" Tanya Naruto menggaruk kepala belakangnya tidak mengerti. 'Perasaanku kok tiba-tiba gak enak?' batinnya
"Gampang, tinggal pejamkan saja matamu," jawab Sasuke
"Begini?" Naruto mulai menutup rapat kedua matanya.
"Ya, begitu. Jangan kau buka sampai aku menyuruhmu membukanya." Terang Sasuke. "Atau aku akan melakukan sesuatu yang akan membuatmu menyesal karena sudah melanggar perintahku itu," lanjutnya. Cukup untuk membuat Naruto menelan ludah ketakutan. Naruto menganggukkan kepalanya pertanda dia mengerti.
Sasuke sudah siap sekarang. Dia sudah menggambil ancang-ancang akan mencium Naruto. Wajahnya sudah semakin dekat dengan Naruto, tinggal beberapa senti lagi dan dia berhasil. Yah berhasil. Tapi Tuhan berkehendak lain. Telepon rumahnya berdering cukup kencang dari lantai dasar. Membuatnya mengumpat berbagai cacian sumpah serapah karena bunyi berisik itu berhasil telak menggagalkan aksinya mengeksekusi bibir Naruto.
'Shit!' batin Sasuke. Kemudian dia turun dari tempat tidurnya. Berniat menjumpai benda berisik yang maih berdering itu.
Dengan tergesa-gesa dia turun agar bunyi bising itu berhenti. Setelah terangkat, baru saja dia akan memaki si penelpon pengganggu kesenangannya, tapi sang penelpon segera memotongnya terlebih dahulu.
"Sasuke, bisa kau angkat jemuranku? Sekarang sedang hujan deras, aku tidak bisa pulang. Bye otouto." Tuuuuuuut- teleponpun terputus.
Dapat dilihat dengan jelas muncul tanda tiga perempatan di dahi sang Uchiha bungsu. Sial, acara bersejarahnya seumur hidupnya harus berhenti oleh jemuran. JEMURAN eh? Hal konyol macam apa itu.
'Shikamaru's plan, FAILED' batin bocah emo itu
~xXx~
Setelah selesai berkutik dengan jemuran anikinya, Sasuke memutuskan untuk kembali kekamarnya, menemui Naruto. Sepanjang jalan menuju kamarnya, tak henti-hentinya Sasuke mengutuki jemuran brengsek anikinya yang membuat semua rencananya gagal.
'Harus cari cara baru,' batin Sasuke,
Kamarnya hening?
Awalnya Sasuke cukup bingung, tumben sekali si bodoh itu tidak membuat keributan dikamarnya? atau jangan-jangan-
BRAK
Suara detuman pintu yang beradu keras dengan dinding kokoh tak bisa dielakkan lagi. Sasuke sang pelaku pembantingan pintu itu sama sekali tidak peduli dengan keadaan pintu kamarnya yang jauh dari kata 'sehat' sekarang. Satu-satu hal yang dipedulikannya ialah melihat keadaan Dobenya.
Dan pada akhirnya Sasuke menyesal telah mengkhawatirkan mahluk kuning hyperaktif itu. Satu-satunya mahluk yang bisa membuat seorang Sasuke panik ternyata sedang tidur. Hanya TERTIDUR dan seorang Sasuke mengkhawatirkannya. Sungguh mahluk yang beruntung.
Tapi tunggu dulu, Naruto tertidur dalam posisi duduk. Mahluk kuning itu memang ahli dalam berbuat yang tidak masuk akal. Heran kenapa manusia sempurna seperti Sasuke bisa mencintainya, dengan tulus pula.
Sasuke berjalan mendekati Dobenya yang tertidur dengan kepala bersandar pada sandaran kepala ranjangnya. Kalau diteliti, ternyata posisi Naruto sama seperti posisi sebelum Sasuke meninggalkannya hanya karena jemuran brengsek anikinya.
Sasuke beringsut naik keatas ranjang dan duduk tepat dihadapan Naruto, lalu memandangi wajah mulus berkulit tan kekasih hyperaktifnya itu. Wajahnya mulus, bahkan melebihi para fansgirlnya disekolah, yang sibuk memakai berbagai macam merek kosmetik untuk memoles wajah mereka. Tuhan memang tidak adil, bagimana bisa bocah hyperaktif penggila sepak bola ini bisa memiliki kulit sehalus ini. Padahal diluar sana banyak gadis yang bersedia melakukan apapun agar bisa memiliki kulit seperti ini.
Sasuke mengusap pelan tiga garis seperti kumis di kedua pipi naruto. Garis-garis yang akan terlihat jelas kalau naruto sedang tersenyum. Karena kehujanan rambut pirang Naruto yang biasanya tegak seperti durian sekarang menjadi lemas menutupi dahinya.
'Manis,' batin Sasuke begitu melihat keadaan rambut kekasihnya. Dia menyimpulkan akan mencegah Naruto menggunakan gel rambut mulai dari sekarang. Dia lebih suka penampilan Naruto yang ini.
Sasuke menyingkirkan beberapa rambut-rambut halus yang mencoba menutupi mata naruto. Sasuke tersenyum kecil melihat polos wajah naruto disaat tidur.
'Kau lebih manis kalau tenang begini. Tapi aku lebih suka kau yang ribut'
'Sepertinya menciumnya diam-diam seperti cara si Hyuuga tidak ada salahnya kalau dicoba,' pikir Sasuke begitu kembali teringat dengan niatnya mengajak Naruto kerumahnya. Apalagi kalau bukan mencium Dobenya tersebut.
Sasuke mulai mendekatkan wajahnya pada si pirang, mengeleminasi sedikit demi sedikit jarak diantara mereka. Sekarang Sasuke dapat merasakan nafas Naruto yang terengah-engah menyapu sebagian wajahnya, sepertinya Naruto sedang mimpi buruk sekarang. Tapi ini berarti tinggal sedikit lagi dan dia berhasil. Ya, sedikit lagi sampai...
BRAAAK BUG !
"Auuugh"
"TIDAK JANGAN RAMEN KU!" teriak Naruto histeris. Nafasnya masih terengah-engah seperti orang yang habis berlari. Keringat dingin juga mulai menetes dipelipisnya. Berkeringat diruang ber-AC eh?
Naruto masih sibuk mengatur nafasnya sampai matanya menangkap onyx yang sekarang terduduk dilantai kamar sebelah ranjangnya.
"A-apa yang kau lakukan disitu Teme?" Tanya Naruto heran. Dilihat dari raut wajahnya, dia tahu sekali kalau Sasuke sedang kesal sekarang.
"Kau mendorongku Dobe!" jawab Sasuke kesal. Bagaimana tidak kesal? Tinggal sedikit lagi dan dia akan berhasil menyentuk bibir merah muda Naruto, tapi mahluk kuning itu malah mendorongnya kuat hingga jatuh terduduk disebelah ranjang.
"Ahh! Benarkah? Maaf Teme. Aku tidak sengaja. Aku mimpi buruk," jawab Naruto dengan memasang wajah bersalah karena sudah membuat Sasuke kesal.
Awalnya Sasuke memang mau memarahi Dobenya itu. Tapi bagaimana bisa kalau Naruto masih saja memasang wajah yang menyiratkan rasa bersalah yang mendalam seperti sekarang. Dia memang pandai dalam hal membelokkan emosi Sasuke.
"Memangnya kau mimpi apa baka Dobe?" Tanya Sasuke, setelah memutuskan untuk meredam emosinya. Seperti yang dilakukannya setiap Naruto mulai memasang tampang tak berdosa itu.
"Aku bermimpi kalau mahluk hijau beralis tebal itu membawa lari ramen gratis berporsi jumbo milikku saat aku sedang di Ichiraku ramen, lalu set-,"
"Kau kenapa bisa tertidur sambil duduk begitu?" belum sempat Naruto menjelaskan kronologis mimpi buruknya, Sasuke langsung memotong pembicaraannya. Karena dia tahu pasti cerita Naruto akan menyita banyak waktu untuk mendengarkannya, apalagi yang berhubungan dengan ramen.
"Ahh, ohh itu. Itu karena kau menyuruhku untuk jangan membuka mata sampai kau menyuruhku membukannya. Karena kau lama sekali menyuruhku, tiba-tiba saja aku sudah tertidur dan bermimpi buruk," keluh Naruto. Sasuke hanya mendengus kesal mendengar jawaban Naruto.
"Oiyaa, jadi apa aku sudah memberikan hakmu padamu Teme?" Tanya Naruto polos. Tak menyadari perubahan warna diraut wajah Sasuke.
"Sudahlah, lupakan." Sasuke bersiap meninggalkan Naruto dengan dalih kekamar mandi. Dia tidak mau Naruto melihatnya dengan keadaan wajah memerah seperti ini. Tapi terlambat.
"Teme, wajahmu merah, kenapa?" Tanya Naruto penasaran.
"Sudah lupakan."
"Teme mau kemana?" Tanya Naruto penasaran begitu melihat Sasuke yang akan beranjak pergi.
"Mandi,"
"Dingin-dingin begini?"
"Aku tidak jorok sepertimu Dobe,"
~xXx~
"Dobe, sudah malam. Sebaiknya kau ku antar pulang sekarang,"
Setelah selesai dengan mandinya Sasuke kembali ke kamarnya. Tapi Naruto sudah tidak berada di dalam kamarnya lagi.
"Kemana si bodoh itu?" Sasuke mulai turun kelantai dasar. Mungkin saja Naruto sedang nonton TV diruang keluarganya. Tapi begitu sampai diruang keluarga, Naruto juga tidak ada disana. Sasuke kembali melangkahkan kakinya kedapur, mungkin saja Naruto lapar dan mencuri makanan dikulkasnya. Si kuning itukan memang rakus dalam hal makanan, heran mengapa tubuhnya tidak gemuk-gemuk seperti Chouji teman sekelas mereka. Malah semakin lama semakin bagus, tidak gemuk tapi juga tidak kurus. Badannya proposional, tentu saja menggoda iman para seme disekolahnya. Termasuk dia tentunya.
Dan lagi-lagi Naruto tidak ada didapur. Hal ini sedikit membuat Sasuke khawatir.
Sasuke mulai mencari keseluruh ruangan dirumah megahnya. Cukup lelah juga mengingat kalau rumah keluarga Uchiha yang jauh dari kata sederhana ini.
Lima belas menit mencari dan dia tidak menemukan keberadaan Naruto sama sekali. Sasuke mengacak rambutnya pelan, si pirang itu memang paling bisa membuat Sasuke menjadi kacau seperti sekarang. Sasuke mencoba berpikir keras kira-kira dimana keberadaan pirang kesayangannya itu sekarang sampai dia ingat dimana kemungkinan besar si pirang itu berada sekarang.
"Disitu!"
~xXx~
"Sudah ku duga kau disini,"
"Eeh, te-Teme!"
Sasuke berjalan mendekati Naruto yang masih terduduk diam diatas atap rumahnya. Setelah mencari hampir disetiap sudut rumah, akhirnya Sasuke menemukan pemuda kuning kesayangannya itu diatap rumahnya, duduk sambil menatap ke arah langit. Entah apa yang dilihat Naruto disana.
Sasuke mendudukkan diri disebelah Naruto. Mengikuti Naruto yang sedang menatap langit malam. Entah hanya perasaan Sasuke, atau memang malam ini bintanya lebih banyak dari pada malam-malam sebelumnya.
"Sedang apa kau?" Tanya Sasuke begitu selesai mendudukan diri disebelah Naruto.
"Melihat bintang, perasaanku saja atau malam ini bintangnya benar-benar banyak?" Naruto menunjuk langit malam yang dipenuhi benda angkasa berkelap-kelip diatasnya. Senyumnya semakin melebar, memperjelas tiga garis di kedua pipinya. Bocah kuning itu memang suka sekali melihat bintang,dan Sasuke tahu itu.
"Aku juga merasa begitu,"
"Hey, kau lihat. Bintang jatuh. Cepat buat permohonan Teme!" teriak Naruto begitu melihat kilatan cahaya yang bergerak capat kearah bumi yang terlihat jelas dari tempat mereka duduk sekarang.
Naruto langsung menepukan kedua tangannya. Lalu meletakkannya dihadapan wajahnya, memejamkan matanya lalu mulai memohon didalam hatinya.
Sasuke yang melihat kelakuan kekanak-kanakan Naruto hanya mendengus geli. 'Aku seperti menjalin hubungan dengan anak TK' batinnya. Sasuke heran, kenapa Naruto masih bisa percaya dengan rumor 'bintang jatuh' di usianya yang bukan anak-anak lagi. Bahkan Sasuke ketika anak-anakpun tidak percaya dengan rumor tak berlogika itu.
Tapi walaupun begitu, tetap saja Sasuke ikut memohon seperti Naruto. Setelah memasang posisi memohon seperti yang Naruto lakukan, Sasuke memejamkan matanya, dan mulai momohon walaupun ia tahu itu merupakan hal bodoh yang tak seharusnya dia lakukan. Mengingat dirinya seorang Uchiha.
"Sudah Teme?" Tanya Naruto yang ternyata sudah siap memohon dari tadi.
Sasuke membuka matanya dan melihat Naruto tersenyum manis kepadanya. Membuatnya benar-benar harus menahan diri untuk tidak menyerang si pirang sekarang juga.
"Hn," jawab Sasuke datar, meski sekarang tubuhnya bergejolak hebat akibat senyum maut Naruto barusan padanya.
"Kau memohon apa, Teme?"
"Rahasia,"
"Teme, ayolah. Tak akan kuberitahu pada siapapun,"
"Ini sudah malam. Ayo ku antar kau pulang," Sasuke berdiri lalu bersiap meninggalkan Naruto diatap. Melihat ekspresi memelas Naruto benar-benar bisa membuatnya hilang kendali membuatnya cepat-cepat berpikir untuk meninggalkan pemuda pirang itu sekarang.
"Teme, kau peell-hyaaaa," Naruto yang memang dari dulu dianugrahi kecerobohan yang luar biasa oleh Tuhan, terpeleset dan hampir saja jatuh dari lantai dua rumah Sasuke, kalau saja Sasuke tidak sigap menangkap pinggang Naruto dan membawanya kedalam pelukan. Naruto berhutang nyawa padanya kali ini.
Naruto memejamkan matanya kuat-kuat. Takut dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi padanya. Dia masih belum sadar kalau Sasuke sudah menyelamatkannya. Sasuke yang melihat ekpresi ketakutan Naruto tertawa geli.
'Bahkan disaat ketakutanpun dia manis'
Didekatkannya wajahnya kewajah Naruto, lalu menyeringai kecil. Dari jarak sedekat ini Sasuke dapat merasakan wangi Naruto. Wangi favoritnya setelah wangi tomat.
'Citrus, eh?'
Tanpa sadar, Sasuke semakin mendekatkan wajahnya pada Naruto. Dekat dan terus mendekat sampai akhirnya bibirnya menyentuh sesuatu yang lembut. Yah, sesuatu yang lembut dan basah dari Naruto. Bibirnya.
Naruto yang baru saja sadar dengan sentuhan asing dibibirnya, langsung melebarkan kedua matanya. Butuh beberapa saat baginya untuk menyadari kalau Sasuke sedang menciumnya. YAH SASUKE UCHIHA SEDANG MENCIUMNYA!
Meskipun sadar, Naruto sama sekali tak mengelak atau mencoba melawan. Tubuh dan otaknya sedang tidak singkron saat ini. Karena sekarang dia berada di ketinggian atau karena pesona Uchiha muda itu? Entahlah. Yang dia tahu hanya satuhal. Dia menikmatinya dan kembali memejamkan matanya.
Sasuke mulai menarik diri dari bibir Naruto, dan mendapati pemuda pirang itu masih memejamkan matanya. Menikmatinya eh?
Sekali lagi Sasuke tersenyum kecil. Belum sampai lima menit dan permintaanya langsung terkabul dengan begitu mulusnya. Sepertinya pandangannya tentang rumor bintang jatuh itu berubah mulai dari sekarang.
"Dobe, sudah selesai. Buka matamu."
"Eeehh, ap-apa yang kau lakukan Teme? Gyaaa,ke-kenapa kau men-menciumku?" Tanya Naruto gelagapan. Tapi Sasuke hanya mengumbar senyumnya. Senyum yang tidak pernah ditunjukkannya pada siapapun selain Naruto.
"Wajahmu yang memintanya," jawab Sasuke asal.
"Ma-mana mungkin. Teme kau MESUM,"
"Apa ini cara berterimakasihmu pada orang yang sudah menyelamatkanmu Dobe?"
"Ehh, te-terimakasih Teme. Tapi aku masih marah padamu."
"Hn?" Sasuke menautkan alisnya, " Siapa bilang dengan terimakasih saja cukup Dobe?"
"Apaaa-hmmp" belum sempat Naruto menganalisa maksud perkataan Sasuke barusan padanya. Sasuke kembali mengklaim bibirnya kali ini. Naruto hanya bisa melebarkan matanya.
Mencoba untuk berontak? Ide buruk. Dia sedang berada di ketinggian yang sangat ditakutinya. Tentu saja tidak Narut tidak mau mati muda hanya karena mencoba berontak dari ciuman Sasuke dan terjatuh dari atap rumah mewah itu. Mengingat lokasi mereka yang masih diatas atap rumah Sasuke. Pasrah, mungkin hanya itu yang bisa dilakukannya. Sebelum dia ikut memejamkan matanya seperti Sasuke.
Entah karena kebodohannya atau karena terbuai ciuman dari Sasuke. Naruto tidak sadar kalau kali ini Sasuke sudah siap dengan ponsel berkamera belasan megapixelnya. Siap kapan saja untuk menangkap gambar mereka berdua.
JEPRET!
FIN-
OMAKE
"TEMEEEEE!"
"Kau ini berisik sekali. Ini masih pagi Dobe,"
"TERNYATA KAU SUDAH MEMANFAATKAN KEPOLOSANKU SEENAKNYA. APA MAKSUDNYA DENGAN INI" Naruto melemparkan beberapa helai kertas photo pada Sasuke.
Sasuke hanya memandanginya dengan tatapan 'apa-maksudmu-Dobe' pada Naruto sebelum mengalihkan perhatiannya pada kertas yang baru saja dilempar Naruto padanya yang sekarang berserakan dimeja belajarnya.
'OH SHIT!' runtuk Sasuke dalam hati. Bagaimana bisa foto-fotonya berciuman dengan naruto dengan latar belakang ratusan bintang beberapa hari lalu diatas atap rumahnya sekarang ada pada Naruto. Seingatnya dia baru saja akan mencetak foto-foto itu itu sepulang sekolah nanti jadi foto itu harusnya masih tersimpan rapi di salah satu folder di ponselnya. Harusnya foto itu belum tercetak sekarang.
"dari mana kau dapatkan ini?" tanyanya langsung pada Naruto.
"Semua murid sudah mempunya gambar ini sekarang. Pasti kau pelakunya. Kau memanfaatkan kepolosanku untuk meraup uang dengan memperjual belikan foto-foto ini. Ayo mengaku!"
"Untuk apa aku melakukannya? Aku sudah kaya tanpa harus menperjual belikan foto-foto ini,"
Naruto membatu. Benar juga. Untuk apa Sasuke melakukannya, diakan sudah kaya raya dengan marga Uchiha yang disandangnya.
Sasuke mencoba menganalisa siapa pelaku dari ini semua. Sampai otaknya memunculkan satu orang pelaku yang berkemungkinan besar melakukan ini semua pada mareka.
Sasuke dengan sigap segera mengeluarkan ponselnya, lalu mencari nama kontak pelaku yang tersimpan manis di ponselnya.
'Tidak salah lagi. Hanya dia yang meminjam ponselku beberapa hari yang lalu. Arrgh, sial. Pasti dia'
Tuuut..tuuut..tuuuutt..ckleek!
"Ya Sasuke-kun? Oh ya sebelumnya terimakasih Sasuke-kun. Berkat kau dan Naruto, 'bisnis'ku laris manis dipasaran. Katakan pada Naruto, sebagai tanda terimakasihku, aku mentraktir kalian di Ichiraku Ramen besok sore. Bye."
Tuuuuuuut, telpon terputus. Menyisakan Sasuke dan Naruto diruang kelas yang masih sepi pagi itu.
Sasuke baru akan mencoba menjelaskan semua pada Naruto, sampai Neji muncul dari pintu kelas yang terbuka
"Dobe, ini semua tidak seperti yang kau bayangkan. Aku hanya-"
"Sasuke. Aku tidak tahu harus bilang apa padamu. Kau hebat. Bahkan kau berhasil mengabadikan momen itu dengan Naruto. Kau yang menang taruhannya, bye" seperti kedatangannya yang sangat cepat dan tidak tepat. Nejipun menghilang dengan cepat dan tidak tepat. Meninggalkan Sasuke dengan Naruto yang benar-benar terbakar Emosi sekarang. Ciumannya dijadikan barang taruhan.
"TEMEEEE!"
Beberapa jam kemudian, Sasuke ditemukan sekarat dirumah sakit Konoha. Dengan tulang hidung dan beberapa tulang rusuk yang patah. Tsunade yang melihat keadaanya hanya bisa mengelus dada, tanda prihatin.
.
.
.
Arghhh, lega. Akhirnya satu file sasunaru yang udah tersimpan baik-baik di kompi selama 2 bulan penuh lepas juga. Hehe. Penyakit gak pede-an ku bikin bertumpuk-tumpuk fic yang ku ketik cuman tersimpan rapat-rapat gitu aja di kompi-,-". Ada yang punya ide buat nangani problem aku yang itu?
Bagaimana dengan yang ini? Memuaskan?
Oiya, ini balesan Review buat yang gak log ini. Yang log in aku bales dari PM aja ya.
Ryu The Blitzz
Makasih. Ini udah apdet asap kan? Hehe
Namikaze Sakura
Terlambat. Bibir Naru udah gak perawan deluan. Salahkan dia atas semua ini*nunjuk2 sasukecap*
Simsim a.k.a sizunT kaga login
Salam kenal simsim senpai~
Haha, bener. kebanyakan fic sasunaru pasti narunya mesuum.
Tapi aku lebih suka sasu yang gak terlalu agresif. Kalo agresif kesannya OOC banget. *padahal sasu di fic sendiri OOC luar biasa*
Michisan
Penasarannya udah terjawabkan?
Sasunaruisthebestz
makasih. ini udah update chapter duanyaa~
micon
makasih. ini sudah update kilat kaan?
.
.
yeeei. selesai.
Tell me at the feedback about this fic okay:)
Mind to REVIEW fic abal-abal ini?
.
Salam penuh cinta
Cho-chan.
