A/N : Hallo hallo… Aku balik lagi nihh. Masih pada inget aku 'kan? XD ~ Emm, makasih banyak atas kritik dan saranya di chap sebelumnya. Setelah dipikir-pikir aku lebih memilih lagunya Avril Lavigne. Di chapter ini gak ada kontes nyanyi atau semacamnya tapi aku mau bikin Draco duet sama Hermione nyanyiin lagunya Avril Lavigne. Penasaran? Maaf gak bisa bales review kalian L cz waktuku gak banyak *sok sibuk* *plaak* hehehe. Segini dulu dehh basa-basinya yaa. Silahkan baca J
Disclaimer: HP belongs to J.K Rowling, but this fic is mine ^_^
I Will Be belongs to Avril Lavigne.
Pairing(s): DracoxHermione, FredxAngelina.
Warning: OOC, crack dikit (?), kissing, typo, alur kecepetan, kalo gak suka pair ini don't flame oke?
Enjoy this fic *
ooO0Ooo
Rahasia dibalik Rahasia
~~Chapter 2~~
ooO0Ooo
'Ini tidak mungkin. Tidak, tidak, tidak!', batin Hermione mengelak. "Fred?" desis Hermione tertahan.
Merasa dipanggil, Fred melepaskan ciumanya dengan gadis di depannya. Ia hanya melirik ke sumber suara yang tadi memanggilnya. Tak ada sebersit ekspresi terkejut dari raut wajah Fred. Ia malah menarik ujung bibirnya membentuk senyuman tanpa rasa bersalah.
"Hai, Hermione," sapa Fred.
"Hai juga, Fred. Umm... Angelina,?" Hermione tercengang melihat gadis yang berada disebelah Fred.
"Oh, hai Granger," sapa Angelina setengah tersenyum.
Belum sempat Hermione berkata lagi, Fred sudah angkat bicara terlebih dahulu.
"Well, kau sudah lihat apa yang aku lakukan. Sepertinya aku tak perlu menjelaskan lagi. Mione, kau 'kan pintar, jadi pasti kau tahu."
Perlahan Fred mendekati Hermione dan berbisik di telinga Hermione supaya tidak didengar oleh Angelina.
"Aku mencintaimu. Tapi, kau tak membalas cintaku. Semoga Draco bisa membuatmu tersenyum."
Fred tersenyum tipis lalu mencium pipi Hermione selama beberapa detik. Dan kali ini, Hermione-lah yang angkat bicara terlebih dulu.
"Oke, selamat bersenang-senang, Fred. Bye," kata Hermione seraya beranjak meninggalkan Fred dan Angelina.
Hermione menutup pintu ruangan itu dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi berdebam yang cukup keras.
Jika kalian mengira bahwa saat ini Hermione sedang marah, kesal, kecewa, benci, ingin menangis, atau apa-lah namanya. Kalian salah besar! Karena, asal kalian tahu, sekarang Hermione terlihat lebih fresh daripada dua minggu belakangan ini.
Hermione melangkahkan kakinya menuju aula besar dengan riang. Sesekali err... mungkin lebih tepatnya seringkali ia tersenyum sendiri tanpa alasan yang jelas. Hermione juga belum mau menceritakan alasan keceriaanya kepada sahabat-sahabatnya.
Akhirnya Hermione sampai di depan aula besar, tempat dimana akan menjadi tempat paling ramai untuk malam ini. Awalnya ia ragu untuk memasuki aula besar namun setelah beberapa menit hanya berdiam diri seperti patung, ia pun membulatkan tekadnya yaitu berjalan memasuki aula tanpa mempedulikan komentar orang yang melihatnya. Hermione memantapkan langkahnya.
Dan, ya! Hermione berhasil. Sekarang ia sudah berada di tengah aula besar. Ia mengedarkan pandanganya ke sekeliling dan juga menuntun kakinya untuk mencari keberadaan para sahabatnya diantara kerumunan orang banyak.
Hermione terus mencari. Namun tetap saja hasilnya nihil. Ia bahkan sempat putus asa. Tapi, bukan Hermione Granger kalau putus asa begitu saja. Ia sejenak menunda kegiatanya itu karena sebentar lagi Prof. Dumbledore akan memulai pesta dengan memberi penyambutan terlebih dahulu.
"Selamat malam anak-anak," Prof. Dumbledore memberi salam.
"Malam, Profesor," jawab murid Hogwarts dengan penuh semangat.
"Malam yang menyenangkan, bukan? Err... Baiklah anak-anak, ini saatnya pemilihan ketua murid yang baru," seru kepala sekolah sihir Hogwarts-Dumbledore tanpa basa-basi.
Sebelum melanjutkan perkataanya, Dumbledore tampak membicarakan sesuatu dengan .
Di menit berikutnya, Dumbledore telah memutuskan sesuatu, karena yang terlihat ia mengangguk-anggukan kepalanya seperti paham dengan apa yang ia bicarakan dengan McGonagall.
Dumbledore menghela napas sejenak, "Setelah kami putuskan, yang menjadi ketua murid putra adalah Draco Malfoy dari asrama Slytherin."
"Untuk Mr. Draco Malfoy, kami persilahkan anda agar maju kedepan."
Draco yang mendengarnya hanya tersenyum kecut. Ia berpikir bahwa ini semua tidak penting. Namun, hampir seluruh anak asrama Slytherin mengucapkan kata 'selamat' kepada Draco. Ia tidak menanggapinya.
Dengan malas Draco berjalan kearah Dumbledore. Namun, ia tetap berjalan dengan angkuhnya sembari menyunggingkan senyum kemenangan.
Tentu saja senyum Draco Malfoy mampu menghipnotis semua fans-girlnya. Nyatanya memang ia menang dari Harry Potter, the-boy-who-lived. Dari dulu Draco berambisi untuk mengalahkanya. Dan lihat saja, Draco sudah berhasil. Ia-lah yang menjadi ketua murid putra, bukan Harry Potter.
Sekarang, Draco berdiri dihadapan Dumbledore menanti sang ketua murid putri yang entah siapa. Siapa dia tak begitu penting untuk Draco.
"Dan untuk ketua murid putri, kami memilih Hermione Granger dari asrama Gryffindor," lanjut Dumbledore.
"Miss Granger, silahkan berdiri di sebelah Mr. Malfoy," perintah Prof. Dumbledore.
Hermione mengangguk mantap. Ron, Harry, Ginny, George dan Fred yang tiba-tiba ada di belakang Hermione pun memberi selamat. Hermione terlonjak kaget mendengar ucapan selamat dari mereka. Tak hanya mereka, ada beberapa anak lainya yang memberi selamat. Ia membalas ucapan mereka dengan senyuman.
Kemudian Hermione berjalan mendekati Draco. Ia menuruti perintah Prof. Dumbledore tadi, berdiri disamping kiri Draco Malfoy-sang ketua murid putra sekaligus sang pangeran Slytherin yang selalu menyombongkan darah murni miliknya.
"Selamat untuk kalian berdua yang telah terpilih menjadi ketua murid Hogwarts. Semoga kalian dapat bekerja sama dengan baik," kata Prof. McGonagall sambil memasangkan lencana ketua murid. Lalu menjabat tangan Hermione dan Draco secara bergantian. Hermione tersenyum sedangkan Draco, entahlah. Kelihatanya ia juga tersenyum tetapi sedikit terpaksa.
"Oh ya, maukah kalian menyanyi untuk kita semua?," tanya McGonagall penuh harap.
"Maaf Prof, tapi aku tidak bisa menyanyi," jawab Draco dan Hermione bersamaan. McGonagall menggeleng-gelengkan kepalanya.
Tak ada jawaban dari McGonagall malah yang terdengar suara alunan musik menggema di aula besar yang megah itu. Hermione bingung, apa yang harus dilakukanya sekarang. Yah, mau tak mau, bisa tidak bisa, Draco maupun Hermione harus menyanyi.
Setiap orang pasti bisa menyanyi, hanya saja terdapat perbedaan warna suara. Hermione juga bisa menyanyi tetapi ia tidak yakin dengan suara yang dimilikinya. Ketakutan melanda dirinya.
'Bagaimana jika tidak sedikit orang yang mencemoohku?'
Hermione panik. Ia tidak pernah menyanyi dihadapan orang banyak seperti saat ini. Apalagi semua mata memandangnya. Jantung Hermione berdetak tak menentu. Tak disangka-sangka, Draco memegang erat tangan Hermione, tujuanya agar Hermione tidak tegang dan gugup.
Hermione menatap Draco sejenak sebelum mulai menyanyikan bait demi bait sebuah lagu.
Hermione :
There's nothing I could say to you.
Nothing I could ever do to make you see.
What you mean to me.
Draco :
All the pain, the tears I cried.
Still you never said goodbye and now I know.
How far you'd go.
Hermione :
I know I let you down.
But it's not like that now.
This time I'll never let you go.
Draco dan Hermione saling menatap. Draco masih menggenggam tangan Hermione dengan lembut.
Draco & Hermione :
I will be, all that you want.
And get my self together.
Coz you keep me from falling apart.
All my life, I'll be with you forever.
To get you through the day.
And make everything okay.
Draco :
I thought that I had everything.
I didn't know
what life could bring.
But now I see, honestly.
Hermione :
You're the one thing I got right.
The only one I let inside.
Now I can breathe, coz you're here with me.
Hermione mengalungkan tanganya ke leher Draco. Draco membalasnya dengan memeluk pinggang Hermione. Mereka sangat romantis layaknya sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Mungkin mereka menganggap bahwa dunia milik berdua.
Draco :
And if I let you down.
I'll turn it all around.
Coz I will never let you go.
Draco & Hermione :
I will be, all that you want.
And get my self together.
Coz you keep me from falling apart.
All my life, I'll be with you forever.
To get you through the day.
And make everything okay, yeah... Everything okay.
Tak lama kemudian, alunan musik yang tadinya menggema sampai pelosok aula, berhenti perlahan disertai dengan suara tepuk tangan.
Hermione mengerjapkan matanya berkali-kali seakan ia tersadar dari mimpi indahnya bersama Draco-pria yang masih dicintainya. Ia juga mecubit pipinya. "Aww," pekik Hermione sembari mengusap pipinya yang tadi ia cubit sendiri.
Setelah benar-benar sadar, sontak wajah Hermione menjadi merah melihat Draco tepat didepanya.
"Ini bukan mimpi," ucap Hemione tanpa mengeluarkan suara.
Draco yang sedari tadi memperhatikanya pun menjadi bingung dengan tingkah aneh Hermione.
"Granger, kau ke... Hey, tunggu!"
Draco mengejar Hermione yang berlari entah kemana. Draco yang penasaran dengan tingkah aneh Hermione, akhirnya memutuskan untuk mengikutinya.
Di sepanjang lorong koridor yang sepi, terdengar derap langkah seseorang yang berlari seperti ada yang mengejarnya, itu membuatnya harus menghindar supaya tidak tertangkap oleh siapapun.
Ternyata, ia adalah Hermione Granger. Ia terus berlari. Tidak terlintas suatu tempat dimana ia harus berhenti dan meluapkan semua perasaanya. Yang terpenting sekarang, ia harus terus berlari sampai menemukan tempat yang tak satupun orang dapat melihatnya.
Langkah kakinya terhenti ketika ia sudah mendudukan dirinya di sebuah bangku panjang. Hermione tak peduli dimana ia sekarang. Ia hanya ingin menangis sepuasnya sampai ia merasa lega.
Hermione sendiri tidak tahu mengapa ia menangis. Harusnya ia senang, bukan? Karena keinginanya menjadi ketua murid sudah tercapai.
Ya, ia memang merasa senang dan bangga, namun disisi lain air matanya tak dapat dibendung lagi. Apakah ini yang dinamakan air mata kebahagiaan?
Maybe 'yes', maybe 'no'. Sebisa mungkin ia berusaha menjadi tegar. Tapi apa daya, jika sudah berhadapan dengan pria yang bernama Draco, atau lebih tepatnya Draco Malfoy. Hermione tidak bisa menahan luapan emosinya. Itulah yang membawanya ke tempat ini.
Beribu-ribu pertanyaan terlintas di benaknya. Lagi-lagi Hermione teringat kejadian dua bulan yang lalu.
'Bodoh! Kau benar-benar bodoh, Hemione,' rutuknya dalam hati.
Setelah ini, pasti Hermione akan menutupi wajahnya kalau-kalau bertemu dengan Draco. Atau bahkan ia akan menghina Draco lebih parah dari biasanya. Itu semua ia lakukan agar Draco tidak mengetahui perasaanya yang sebenarnya.
Tiba-tiba tangisan Hermione terhenti ketika mendengar langkah kaki seseorang yang berjalan semakin dekat kearahnya.
'Sepertinya seorang pria,' batin Hermione mengira-ngira.
Orang yang Hermione sangka adalah seorang pria pun berdeham keras sebelum memulai pembicaraan. "Granger, apa yang kau lakukan disini?"
Hermione tidak bergerak sedikitpun. "Bukan urusanmu, Malfoy," sahutnya ketus.
"Kau mengenaliku,?" tanya pria yang diketahui bermarga Malfoy itu dengan sedikit rasa penasaran.
"Kenapa? Memangnya salah,?" tanya Hermione tak kalah penasaran.
"Tidak."
"Kalau ada masalah, setidaknya kau bisa menceritakan kepadaku," usul Draco.
"Tak ada yang ingin aku ceritakan kepadamu."
"Baiklah, itu hak-mu. Granger, bolehkah aku duduk disampingmu?"
"Hn." Hermione menggeser tubuhnya supaya Draco bisa duduk disebelahnya.
"Ternyata kau begitu ceroboh," ujar Draco seraya menatap gadis disebelahnya.
Hermione memutar bola matanya. "Maksudmu?"
"Kau tidak sadar kita ada dimana?"
"Di Hogwarts pastinya," tukas Hermione.
"Hahahaha..."
"Tak ada yang perlu ditertawakan!"
"Oke oke. Kau benar. Tetapi, lebih tepatnya kita berada dibawah mistletoe," sahutnya datar.
Hermione membelalakan mata seperti mengatakan 'Apa? Kau tidak bergurau kan?'
"Kau bisa lihat sendiri," kata Draco santai.
Hermione mendongakan kepalanya untuk membuktikan ucapan Draco. Dan... "Oh, God," desahnya.
"Apakah aku benar?"
"Ya, kau benar sekali, Malfoy. Puas?" Hermione menaikan sebelah alisnya dan memberi penekanan pada akhir kata.
"Tidak."
"Lalu apa yang kau inginkan?"
"Emm... Aku menginginkanmu, Granger," pintanya dengan tatapan serius.
"Tch, kau sakit,?" Hermione mendecih seraya menyentuh kening Draco dengan punggung tanganya.
"Apa-apaan kau! Aku baik-baik saja!"
Hermione menurunkan tanganya dari kening Draco sembari memajukan bibirnya beberapa senti. "Ya sudah."
Melihat keadaan Hermione saat saat ini, Draco menyunggingkan senyum mautnya.
"Hey... Asal kau tahu, aku tidak akan terpikat oleh senyum maut-mu itu. Kau mengerti?"
"Kau yakin, Granger?" Draco mendekatkan wajahnya kearah gadis yang tadi memajukan bibirnya. Ia menyeringai.
Hermione menelan ludah. Wajahnya juga merah seperti tomat.
"M-ma-mau a-apa k-ka-kau?"
"Hahahaha... Santai saja. Aku ingin seperti ini."
"Menjauh-lah dariku! Kalau ada yang melihat bagaimana? Bisa panjang urusanya."
"Kenapa begitu?"
"Kau kan milik Pansy."
Draco menghela napas. "It's all over."
"Why?"
"Sudahlah. Jangan kau tanyakan lagi," bisik Draco di telinga Hermione.
Hermione menjadi bergidik. Deru napasnya tak menentu.
Draco menatap lekat-lekat gadis didepanya. Kemudian, ia memperkecil jarak diantara mereka.
Jarak mereka cukup dekat...
Semakin dekat...
Lebih dekat...
Sangat dekat...
Bahkan sekarang jarak mereka hanya satu senti.
Hermione menutup matanya tak berani menatap Draco. Dan tiga detik setelahnya, Hermione merasa ada sesuatu yang menempel dibibirnya. Rasanya seperti benda yang sangat lunak. Karena penasaran, Hermione pun membuka matanya perlahan. Betapa terkejutnya ia, ternyata benda lunak itu adalah bibir Draco.
Saking terkejutnya, Hermione tanpa sadar membuka mulutnya. Karena keteledoranya, Draco memanfaatkan kesempatan itu. Ia lebih memperdalam ciumanya.
Tanpa mereka sadari, empat pasang mata sedang memperhatikan gerak-gerik mereka.
.TBC.
A/N again : Gimana? gaje, jelek, ancur n alur kecepetan yaa? Kalo bener, aku cuma bisa minta maaf. Maka dari itu, aku sangat sangat membutuhkan review kalian. Tolong kritik dan saranya yaa.. Jangan flame dongg L plissss….
