Disclaimer : Naruto punya'e Masashi, Cuma ceritanya yang ini punya saya.
Summary : Sakura seorang cewek 18 tahun yang mencari kost-kostan. Tapi malangnya dia terpaksa mendapat kost-kostan khusus cowok. "Aku akan menunggumu sampai kau mengambilnya. Jika kau tak makan, aku pun juga!" "Bun… buntut ayam… kau jahat sekali," "Kau cengeng sekali, Sakura!"
R&R ya…
W A R N I N G : Karena saya belum kuliah, jadi apabila ada kesalahan yang berhubungan dengan kuliah, saya mohon maaf. Anggap saja ini universitas saya. Jadi saya yang nentuin peraturannya gimana..XP…*digetok*
Nah lo tuh! Sasuke sebel banget sama Sakura, begitu pula sebaliknya. Sasuke OOC. Tapi saya akan coba mendekatkan pada watak aslinya. Makasih yang udah review. Tetep review ya? **dipukul pake wajan**
Silakan baca^^
SASUSAKU (again)
AU
Friendship/Romace
Bei : uchiHAruno sasusaku
Gara-Gara Kost
"Ayo cepat kesini!" peritah Itachi ketika melihat Sakura. Sakura mendekat dengan setengah berlari. Ia kemudian ikut berbaris.
"Hmm… Siapa namamu?" Tanya Itachi pada orang di depannya. Hm, perlu diketahui barisan itu berjumlah 12 orang, membentuk barisan 3 berbanjar, sementara Sakura sendiri berada paling pojok belakang kiri. Orang di depan Itachi pun menjawab pelan. Sementara Itachi masih menanyai semua orang di barisan depan, Sakura memperhatikan keadaan sekelilingnya. Lapangan di Universitas itu luas sekali. Ia dapat melihat hal yang mengasyikkan dari tempatnya berdiri sekarang. Mulai dari beberapa mahasiswa baru seperti dirinya yang sedang bersama seniornya entah untuk apa. Sakura mengalihkan pandangannya ke arah kiri… eh! Tiba-tiba Sakura menangkap sesosok orang dengan ciri-ciri yang sangat khas. Rambut ayam yang mencuat. Bibir sakura mengerucut melihat orang itu dari jauh sedang memperhatikan penjelasan dari seniornya. Pria rambut ayam itu terlihat setinggi telunjuknya jika ia meluruskan tangannya ke depan dan menegakkan telunjuknya. Yah, pria itu masih terlihat jelas. Oke, sedang apa pria itu? Masih memperhatikan penjelasan senior dengan tangan kedua-duanya berada di dalam saku celana jeans panjangnya. Hm… terlihat beberapa cewek di belakangnya tersenyum-senyum melihatnya. Salah satu yang paling menonjol mungkin si cewek berambut merah dan berkacamata itu. Ia terlihat paling bersemangat berdiri di belakang rambut ayam itu. Lihatlah, dia tersenyum seperti orang gila! Sakura menatapnya sinis. Hah.. apa sih yang dipikirkan gadis-gadis itu? Memperhatikan si rambut ayam sampai segitunya. Apanya yang bagus!! Kau lihat, rambutnya yang mencuat itu mungkin bisa dijadikan sasaran tendangan atau mungkin sebuah tonjokan!
-
-
-
"Hei!!!" sebuah suara mengagetkannya. Sakura menoleh dan…
"Hah!" Sakura kaget setengah mati. Tiba-tiba seniornya, Itachi sudah berdiri di hadapannya menatapnya. Pipi Sakura bersemu merah.
"I… Iya…?" Sakura gugup sekali melihat orang yang dikaguminya itu sekarang berdiri di depannya.
"Namamu siapa?"
"Na… nama saya Haruno Sakura,"
"Ya. Apa kesalahanmu?" Tanya Itachi lagi.
"Saya tidak membawa ubi matangnya, Kak!" jawab Sakura menunduk.
"Kenapa tidak membawa?"
"BUk.. bukan begitu. Saya sudah membawanya. Hanya saja… tadi terjatuh sehingga rusak…" jawab Sakura jujur. Sakura mendengar Itachi menghela nafas panjang kemudian kembali ke depan barisan.
"Oke, kalian semua berdiri di sini dulu!" kata Itachi kemudiaan pergi meninggalkan barisan Sakura dan teman-temannya. Sakura menunduk kemudian melihat kembali ke arah pria rambut ayam dan teman-temannya berada. Sakura terkejut dan mencari-cari dimana pria itu berada. Eh! Tunggu! Kalian jangan menyangka aku menyukainya! Jangan berfikir seperti itu! Aku hanya ingin melihat wajahnya saya, untuk memastikan bahwa ia memang menyebalkan! Dan aku sudah bertekad akan membalas semua ejekan dan perbuatan yang ia lakukan kepadaku. Kalian tahu istilah 'Pembalasan lebih kejam'? sakura tetap tidak menemukan sosok itu, ia kemudian menoleh ke arah depan barisan lagi, melihat teman-teman di depannya. Kemudian menunduk. Hufft! Cuaca sudah mulai terik.
"Kepanasan? Lapar?"
"Ya… panas sekali! Aku juga lapar!" jawab Sakura masih menunduk. Ia lalu mengusap dahinya dengan punggung tangannya untuk menghilangkan peluh.
"Hei! Kalau diusap seperti itu aku yakin akan bertambah lebar!" suara itu berkata lagi. Dan sekarang Sakura sadar betapa bodohnya ia menjawab pertanyaan orang tanpa mengetahui sang penanya. Dan ia sekarang tau siapa yang telah bertanya kepadanya. Sakura menoleh cepat ke arah dirinya, dimana suara itu berasal. Bagus! Sekarang terlihat wajah menyebalkan itu dengan rambut yang masih sama mirip buntut ayam itu tersenyum penuh kemenangan.
"Hai?" katanya santai ketika melihat wajah terkejut Sakura.
"Heh! Ngapain kamu kesini? Minggir minggir! Bikin sepet aja!" teriak Sakura marah. Ia tidak mempedulikan semua orang di barisannya menoleh kepadanya.
"Hei? Aku kan cuma menyapamu, Jidat! Kenapa begitu sinisnya padaku?" kata rambut ayam itu kembali.
"Hah! Minggir gak?!" kata Sakura mengancam. Ia mulai melangkahkan kakinya maju ke arah orang itu, tangannya ia ulurkan ke depan untuk menangkap orang menyebalkan itu. Orang itu mengelak.
"Kalau kau keluar barisan, aku akan laporkan ke senior!" ancam orang itu.
"Aku juga akan laporkan kalau kamu yang memulai!"
"Jidat! Aku malas debat! Mau makan?" tawar orang itu sambil mengulurkan ubinya. Sakura mengerutkan keningnya.
"Ogah! Paling isinya racun doang! Udah jangan ganggu aku! Awas, entar kalau aku bisa nangkep kamu! Aku akan memukul rambut ayammu!" ancam Sakura. Orang itu tersenyum sinis.
"Aku yakin kau tak kan berani! Oh ya! Satu lagi! Akan kubuat kau menyesal karena telah mencubit pipiku, Jidat lebar! Selamat berlapar-lapar!" orang itu pun berlalu pergi. Sakura menatapnya sebal.
"Uh… awas! Akan kubuat kau menyesal telah mengatakan semua padaku. Rambut ayam bodoh otak udang geblek dodol bego nyebelin jelek bu-" sakura menoleh cepat. Seseorang terlihat menggoyangkan rambut panjangnya pelan.
"Gaara!" ucapnya kaget ketika melihat orang yang berdiri di samping kanannya ternyata seorang Gaara. Dan… betapa bodonya ia melupakan Gaara hanya demi orang berambut ayam sial itu!
"Hn? Bagaimana kau bisa tahu namaku?" katanya bingung tapi tetap tenang. Nah, sekarang Sakura lah yang harus berfikir untuk mendapatkan jawaban atas tindakannya menyebut nama Gaara.
"A… eng…. Aku tahu dari temenku… eh dia tau kamu. Tapi aku gak tahu dia taunya darimana. Yang jelas tadi dia memberitahuku siapa kamu!" jawab Sakura gugup sambil menyipitkan matanya dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Terlihat Gaara mengangguk pelan. Entah karena percaya atau malas bertanya lebih lanjut.
"Siapa namamu?" Tanya Gaara pelan.
"Sakura. Haruno Sakura," kata Sakura kemudian menyambut uluran tangan Gaara. Terasa dingin.
"Hm, Aku panggil Haruno saja. Bagaimana?" tanyanya pelan. Wajahnya sangat tenang. Sakura mengagguk kemudian tersenyum.
"Eh, aku rasa senior sudah datang!" kata Gaara cepat kemudian membenahi posisi barisnya. Terlihat Itachi berjalan pelan menuju tempat mereka berbaris.
"Apa kalian sudah lapar?" tanyanya kepada semua yang baris di depannya. Seruan berupa jawaban 'ya' segera terdengar. Itachi mengangguk pelan.
"Baiklah, kalian boleh istirahat dan makan. Kalian bisa makan 3 buah ubi yang disuruh bawa tempo hari. Kalian ambil dulu di dalam ruangan sementara kalian kemudian kembali lagi ke sini dibawah pohon itu!" katanya sambil menunjuk ke sebuah pohon besar di tepi lapangan. Segera setelah Itachi pergi meninggalkan barisan terlihat ke sebelas temannya segera menuju ke ruangan sementara mereka yang terletak agak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Sakura berdiri termenung. Uh, ubi? Ini semua gara-gara cowok sialan itu! Sekarang aku harus menahan lapar karena tidak mempunyai makanan lagi! Hmm… kantin… kantin…! Sakura menoleh ke berbagai arah dan menemukan kantin. Aha! Ah? Tutup? Sial!
Sakura dengan lesu pergi ke bawah pohon yang ditunjuk Itachi, kemudian bersandar pada batangnya yang besar dan menyembunyikan wajahnya dengan lututnya yang ditekuk. Gara-gara cowok ayam itu! Ia harus kelaparan sekarang. Ini sudah tengah hari… dan ia kelaparan. Sakura menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Hei? Bukan itu! Tapi… hm.. dia memang sedang menahan tangis. Menangis bukan hanya karena sedih, kan? Sakura sedang menahan perasaan marahnya kepada cowok ayam itu. Rasa marahnya teramat sangat sehingga ia harus menahannya, meskipun rasanya ingin segera melampiaskannya, tapi yang keluar adalah sebuah tangisan. Itu tidak adil. Sementara cowok ayam yang menyebabkan semua ini terjadi terlihat makmur sekali, masak iya dia harus menanggung lapar hanya karena disebabkan perbuatan cowok ayam itu.
"Hei?" sebuah suara mengagetkannya. Ia mendongak. Gaara! Gaara kemudian duduk di sampingnya ikut bersandar di bawah pohon besar itu.
"Matamu berkaca-kaca. Ada apa?" tanyanya tenang. Sakura menggeleng cepat kemudian membuang muka untuk mengapus air matanya yang akan menetes keluar.
"Kau tidak membawa ubi nya?" tanyanya pelan. Sakura mengangguk pelan.
"Kalau begitu, ayo makan bersamaku!" kata Gaara memegang lengan Sakura. Sakura menoleh. Gaara tersenyum padanya. Ia pikir, ini senyum yang langka dari seorang Gaara. Dengan segera Gaara membuka kotak bekalnya kemudian menyodorkannya kepada Sakura.
"Kau bisa pilih sendiri mana yang kau suka!"
Sakura mengamati kotak itu kemudian Gaara. Perlahan ia tersenyum.
"Terimakasih. Tapi… kau tidak akan mungkin bisa kenyang, Gaara! Aku yakin! Maafkan aku," katanya kemudian menunduk.
"Hei! Makan 3 sekaligus pun aku juga tak akan merasa kenyang sepertinya. Jadi, apa bedanya? Kau boleh mengambilnya!" katanya lagi. Sakura merasa tak yakin.
"Aku akan menunggumu sampai kau mengambilnya. Jika kau tak makan, aku pun juga!" lanjutnya. Sakura terdiam beberapa saat, ia pun mulai mengambil salah satu ubi milik Gaara.
"Pilihan bagus. Ubi yang berwarna merah keunguan itu memang manis, Haruno," katanya lagi. Sakura tersenyum. Gaara pun mengambil salah satu ubinya. Sambil mengupas kulitnya yang tipis, mereka melanjutkan ngobrolnya.
***
"Terimakasih, Gaara," kata Sakura sambil tersenyum manis. Gaara mengangguk.
"Sama-sama, Haruno. Kau tak mau makan lagi?" katanya kepada Sakura. Sakura menggeleng.
"Tidak terimakasih," katanya kembali tersenyum. Mereka berdua akhirnya berpandangan. Deg
Deg deg deg !
-
Matanya serasa tajam,
-
Deg Deg Deg
-
Menusuk…
-
Deg Deg Deg
-
Tapi indah…
Sakura merasakan jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Bukan hanya itu saja. Perlahan wajahnya memanas. Rasanya seperti ada sesuatu yang…
Tak bisa diungkapkan.
Mereka berpandangan cukup lama ketika tiba-tiba seseorang mengagetkan Sakura.
"Tenten?" Tanya Sakura kaget. Tenten tertawa kecil.
"He, kamu dihukum, ya?" tanyanya menggoda. Sakura mengangguk. Tenten tersenyum kemudian ikut mengambil duduk di sebelah Sakura.
"Kalau begitu, sampai jumpa, Haruno!" kata Gaara kemudian segera beranjak berdiri. Ia tersenyum pada Tenten yang juga langsung membalas 'senyum pamitnya'. Setelah itu Gaara melangkahkan kaki menjauh, melewati beberapa teman yang terkena hukuman. Entahlah, mau kemana…
"Hei, kenapa senyum sendiri? Dia ganteng ya?" goda Tenten sambil menyentuh bahu Sakura dengan bahunya sendiri, sehingga Sakura bergoyang hampir jatuh dan menoleh.
"Iya… Eh! Bukan… eh aku… eh?" Sakura terlihat bingung. Tenten tersenyum kemudian memainkan rambut panjang Sakura yang ada di sampingnya.
"Jadi, kau dihukum karena apa?"
"Aku tidak membawa ubi,"
"Benarkah? Bukankah kemarin kau membelinya bersamaku dan Ino? Masak lupa membawa? Bagaimana sih?" Tanya Tenten sedikit tak percaya. Soalnya yang dia tahu, seharusnya Sakura tidak akan lupa. Sakura kan mempunyai daya ingat yang tinggi. Sakura menggeleng cepat.
"Tentu saja aku tak lupa membawanya. Cuma gara-gara rambut ayam, ubiku jadi jatuh semua! Aku tak bisa makan dengan ubi yang seperti itu!" katanya mendengus kesal. Tenten mengerutkan keningnya.
"Ubimu pecah? Hahahaha! Rambut ayam itu siapa sih?" tanyanya kepada Sakura.
"Hm… kalau bertemu dia lagi aku akan membalasnya! Rambut ayam itu orang yang- hei! Itu orangnya!" tuding Sakura kepada sesosok pria berambut ayam yang dibecinya setengah mati mendekat. Tenten memincingkan matanya.
"Hei? Itu kan Sasuke! Uchiha Sasuke!" ucapnya keras. Sehingga orang yang disebut namanya mendekat.
"Eh? Kau kenal dengan buntut ayam itu, Tenten?" Tanya Sakura sambil menuding orang yang disebutkan Tenten bernama Sasuke.
"Tentu saja! Dia kan teman sekelasku semasa SMA. Mana mungkin aku lupa! Dia juga teman SMPnya Naruto!" kata Tenten bersemangat. Tangannya mengayun untuk mengundang Sasuke mendekat. Sakura membuang muka.
"Sasuke! Kau kuliah disini juga?" Tanya Tenten bersemangat.
"Hn," jawab Sasuke.
"Kau lihat? Dia adalah orang yang amat sangat ngirit bicara! Bisanya cuma 'Hn' saja!" kata Tenten sambil menoleh kearah Sakura yang masih membuang muka.
"Hah! Itu sih fitnah! Orang cerewet kayak dia dibilang ngirit! Dia pasti cuma pura-pura!" kata Sakura sambil tetap membuang muka. Nada suara mengejek. Sasuke kini berjongkok di depan Sakura dan Tenten, tapi posisinya persis di depan Sakura yang masih membuang muka.
"Hm. Jidat! Kau ini menyebalkan sekali!" katanya lagi. Sakura menoleh sebal.
"Tuuh kan! Kau dengar sendiri! Dia itu memang cerewet! Kau dengar barusan dia berkata apa? Bahkan kau sendiri belum pernah mendengar yang lebih panjang daripada itu!" kata Sakura menoleh pada Tenten sambil menunjuk muka Sasuke tepat di depan hidungnya, sehingga pria itu harus menjauhkan wajahnya dari tangan gadis itu. Tenten tersenyum.
"Hahaha… ya kalau itu kau Tanya saja pada Sasuke sendiri!" kata Tenten tersenyum.
"Tenten! Siapa sebenarnya nama gadis berdahi lebar ini? Hm… Jidat?" Tanya Sasuke sambil memegang erat pergelangan tangan Sakura yang digunakan untuk menuding wajahnya.
"Namaku Haruno Sakura! Kau harus ingat itu! Jangan panggil aku jidat, Buntut!" teriak Sakura marah. Sasuke tersenyum sinis.
"Tapi kau kan lebih cocok dipanggil jidat!" kata Sasuke enteng. Sakura menggeram marah.
"Lepaskan tanganku, Buntut!" perintahnya. Sasuke bukannya menurut malah semakin mempererat pegangannya, membuat Sakura meringis kesakitan. Sakura menggoyang-goyangkan tangannya untuk lepas dari genggaman cowok sial itu.
"Buntut!!! Lepasin gak? Ten, tolong aku! Sa.. SaKITT!" Sakura agak menjerit ketika Sasuke tetap menggengam erat tangannya dan sekarang malah mempererat pegangannya.
"Sudahlah Sasuke!" kata Tenten mulai membantu Sakura melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Sasuke.
"Tenten. Biarkan aku melakukannya. Dia tidak sopan. Salah siapa menuding muka orang seenaknya!" kata Sasuke tersenyum. Sasuke semakin mempererat pegangannya sehingga Sakura mulai mengaduh dan mencoba melepaskan tangannya dengan tangan yang satunya lagi. Tapi sulit sekali. Malah terasa semakin sakit karena genggaman tangan Sasuke semakin bertambah erat jika Sakura semakin melawan. Sakura akhirnya menunduk pasrah, terlihat bulir-bulir air di sudut matanya yang hampir jatuh. Sasuke terkejut.
"Bun… buntut ayam… kau jahat sekali," katanya sambil menggigit bibir bawahnya, hal yang selalu dilakukannya untuk menahan air matanya.
"Kau cengeng sekali, Sakura!" kata Sasuke pelan, perlahan genggaman tangan di pergelangan tangan Sakura mulai melonggar, bahkan ia sendiri juga tak sadar baru saja memanggil nama gadis di depannya dengan sopan. Sakura merasakan lega. Tapi tetap saja genggaman itu erat sekali.
Sakura kembali menunduk, bulir-bulir air bisa dihapus dengan tangan satunya. Ia mendekati Sasuke. Ia menunduk lagi dan mendekatkan wajahnya ke tangan Sasuke.
"Kau mau apa, Jidat?" Tanya Sasuke.
-
-
-
"HEI! AKH!!! SAKIT!!!"
-
-
-
"Sekarang siapa yang kalah? Kau atau aku, Buntut?" jawab Sakura setelah menggigit tangan Sasuke keras.
"Setidaknya aku tidak menangis," kata Sasuke sesudah melepaskan pergelangan tangan Sakura dan mengibas-kibaskan tangannya. Sakura melihat kembali pergelangan tangannya yang memerah karena genggaman erat seorang buntut, telapak tangannya menjadi dingin. Sedangkan Sasuke hanya mengusap tangan yang terkena gigitan Sakura. Diamatinya lagi ada bekas gigi disana, bekas itu berwarna merah. Sasuke terus mengusap tangannya itu dengan tangan satunya.
"Kalian ini! Bertengkar saja!" kata Tenten sambil menggeleng aneh. Kedua insan yang dimaksudkan Tenten hanya berpandangan.
Dan…
Terdengarlah sebutan-sebutan yang sudah tak asing lagi. Seruan 'buntut' dan 'jidat' kini bersahut-sahutan.
"Heh heh! Baris woy!" kata Tenten langsung berdiri ketika melihat senior-senior sudah berada di tengah lapangan. Segera saja ketiga orang itu berlari ke tempat senior berdiri. Sumpek sekali. Semuanya berlarian sekarang.
"Oke! Semuanya hari ini ospek hari pertama sudah selesai dilaksanakan. Kalian tidak lupa tugas untuk besok, kan?" kata orang yang berambut pirang dikuncir seperti Ino. Segera saja setelah semua pengumuman selesai di katakan oleh senior-senior mereka, segera mereka bubar dari barisan dan bersiap pulang.
***
"Yah, begitulah Ino. Ternyata orang itu kuliah di tempat yang sama denganku, dengan kita!" kata Sakura ketika sampai di kost Ino. Begitulah. Setiap hari menjelang kuliah dan pulang dari universitas atau ada keperluan lain Sakura selalu mampir ke tempat Ino untuk berganti kostum. Jika berangkat ia bertujuan untuk berganti menjadi Haruno Sakura, akan tetapi jika akan pulang dia akan berubah menjadi Shiro.
"Hah? Kebetulan sekali!" kata Ino tak percaya.
"Dan kau tahu apa yang dia lakukan padaku seharian ini? Ia membuat aku semakin berniat membunuhnya. Aku dihukum karena dia, aku kesakitan karena dia, aku selalu diejeknya. AYAAAAM!" Sakura berucap agak keras untuk mengurangi beban pikirannya sekarang. Tenten yang baru saja mandi tersenyum.
"Hahaha! Kau ini hebat, Sakura!" katanya nyambung.
"Apanya?"
"Kau berhasil mengubah cowok es itu menjadi berubah sekarang!" kata Tenten kemudian duduk di sebelah mereka berdua di ruang nonton tv.
"Ku rasa kau ngawur! Cih cuih! Aku benci sama Sasuke! Apaan tuh, namanya aneh, orangnya aneh, apalagi rambutnya!" kata Sakura mendengus kesal. Kedua sahabatnya tertawa.
"Jangan seperti itu! Dia itu menjadi rebutan wanita se-SMA ku dulu. Bahkan aku juga sempat nge-fans ama dia! Dia dan kakaknya si Uchiha Itachi itu yang menjadi pangeran semasa SMA! Pangeran Uchiha. Hehehe! Kau tahu? Mereka berdua sama-sama ganteng, cool, tajir, pinter, tapi betah aja tuh ngejomblo! Padahal mereka bisa aja milih cewek sesukanya termasuk cewek tercantik di sekolah yaitu A-"
"Aruno Sakura!" putus Sakura sebelum Tenten melanjutkan kalimatnya.
"Bukan! A-"
"Amanaka Ino!" kata Ino tak mau kalah. Tenten mendengus kesal.
"Hei! Biarkanlah aku melanjutkan kalimatku! Eh, Sakura emang kamu mau sama Sasuke?" Tanya Tenten pelan. Bagaimanapun juga ia tahu kalau Sakura benci setengah mati pada orang itu. Sakura menggeleng cepat.
"Dodol! Tentu saja bukan dia! Tapi abangnya!" kata Sakura bersemangat.
FIlladelfia : Kepanjangan yah? Maaf, lagi semangat ngetik… XP.. Makasih untuk semua yang udah review dan ngasih saran saya…. Salam…^^
Halcalilove12
Halo juga Halcalilove12. Haduh, jangan panggil saya senpai. Saya mah author amatiran ini… XD. Bukan… Orang yang berkuncir itu bukan Temari. Tapu salah satu anggota Akatsuki yang selalu ngomong "Seni adalah Ledakan". Nah, hayo tuh…XD
The owl
Wah, banyak yang bilang mirip sinetron. Tapi jujur saya gak tahu! XD. Saya gak suka nonton sinetron… XD. Makasih reviewnya ya… ^^ Review lagi *ditendang The owl*
Cumanyasar
OKE… XD.. Lah… Sasuke nyebelin yah…XD. Itu sih udah dari sononya… *dijotos Sasu*… Gak begitu nyebelin kok…. XD… Hahaha… Itachi emang bikin nafsu (apaan seeh?) *ditimpuk Itachi*
Nana~chan
Hahahaha… Aku gak bisa…*pundung*
Kalau itu kayaknya terlalu berat plus saya kurang berani. Gimana kalau entar saya udah dewasa… XD? *Di lemparin cobek Nana-chan*
Shiho K ga login
Hahahaha… XD
Iya, Kak, saya ngerti…. (^_^)b
Disini gak terlalu kejam kok… Malah baik ^^
Makasih yah, Kak… Atas bantuannya… XD
YU
OKE dah…
Tapi ada Karinnya entar. Tapi gak aku deket-deketin ama Sasu… Kesenengan Karin dong!!! Hyahahahaha *evil laugh*
Makasih reviewnya yo! Woeh, idemu banyak banget' e! Keren… XD
Sakura Haruno 1995
Yah entar deh, liat aja ntar bisa begono apa tidak XD.
Ini lagi sebel-sebelnya habisnya… ^^
Makasih udah ngreview cerita saya… ^^
Cumanumpanglewat
Hahaha… XD
Saya juga….^^
Oke saya LANJUTKAN juga… XD
Makasih uda review cerita saya…
Eh, betewe, kamu yang add FB q itu bukan? Yang nagih Musim Cinta di Konoha 2 chap itu ataw bukan… Maaf kalau salah… XD Saya juga manusia….XD
OKE. MAKASIH BUAT SEMUANYA….
BUAT SEMANGATNYA, REVIEWNYA, DUKUNGANNYA,….XD
