Disclaimer : Naruto punya'e Masashi, Cuma ceritanya yang ini punya saya.

Summary : Sakura seorang cewek 18 tahun yang mencari kost-kostan. Tapi malangnya dia terpaksa mendapat kost-kostan khusus cowok. "Tidak ada apa-apa! Ya sudah!" katanya santai. Sasuke menatap kakaknya sebentar kemudian pergi. Sakura mengamati dua bersaudara itu bingung. Mereka ini kenapa sih?

R&R ya…

W A R N I N G : Karena saya belum kuliah, jadi apabila ada kesalahan yang berhubungan dengan kuliah, saya mohon maaf. Anggap saja ini universitas saya. Jadi saya yang nentuin peraturannya gimana..XP…*digetok*


Gara-Gara Kost

Chap 4 : Itachi & Sasuke

Ospek Hari kedua

Hari ini Sakura dkk disuruh untuk membuat buku yang isinya tanda tangan semua senior. Bagaimanapun caranya, dan apapun yang diinginkan seniornya, mereka harus mendapatkan tanda tangan dan dikumpulkan sore harinya. Jadi waktunya hanya setengah hari saja. Dan kita lihat, sekarang Sakura sedang berkumpul bersama Tenten dan Ino yang sengaja janjian berkumpul di bawah pohon.

"Hei, bagaimana mungkin kita dapat meminta tanda tangan semua senior di sini. jumlah mereka banyak sekali!" kata Ino mulai putus asa. Tenten mengangguk.

"Hm… kalau begitu kenapa tidak cepat saja? Daripada cuma mengeluh lebih baik segera dikerjakan!" kata Sakura langsung berlari ketika melihat salah seorang seniornya lewat di depan mereka.

"Kak!" panggilnya langsung menuju ke arah senior itu. Cowok, rambut kuningnya disisir kebelakang. Dan yah, lumayan cakep sih! Orang itu menoleh.

"Sa… saya mau minta tanda tangannya," ucapnya gugup karena tatapan orang itu sungguh tajam.

"Minta? Memang kamu siapa?" Tanya orang itu sinis. Sakura menghela nafas. Aduh… Mulai yang seperti ini.

"Sa… saya mahasiswa baru dan disuruh untuk mengumpulkan tanda tangan dari para senior!" katanya berani. Orang itu terseyum.

"Kalau begitu, siapa namaku?" Tanya orang itu. Sakura menarik nafas. Siapa? Lah kok malah Tanya saya???!!!

"Eng… eng… na-nama—"

"Woy, Hidan!" teriakan seseorang mengagetkan mereka berdua. Sakura menoleh. Tampak seseorang dikuncir seperti Ino yang dari kemarin ia benci datang ke arahnya. Sakura seperti mendapat berkah. Berkat orang yang selalu membuatnya sebal ternyata juga bisa membawa berkah juga.

"Nama kakak itu Kak Hidan!" jawab Sakura cepat. Hidan mendengus kesal.

"Hah, gara-gara si aneh itu! Ya sudah sini!" perintahnya cepat dan segera di sambut teriakan senang dari Sakura. Tanpa mempedulikan si rambut pirang berkuncir itu Sakura langsung berbalik pergi sambil tersenyum puas.

"Oke! Sekarang tambah lagi!" katanya sambil tersenyum puas. Sakura segera menuju ke bawah pohon, dan ia kaget ketika mendapati Ino dan Tenten sudah tak ada di sana. Ia mengusap wajahnya dan berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya kesal. Ia kemudian menuju ke bawah pohon. Setelah itu ia duduk bersandar di sana!

"Hm! Rasanya kok ada yang terlewatkan, ya?" gumamnya pelan. Ia mengamati keadaan sekeliling kemudian mengamati buku kumpulan tanda tangannya. Kemudian mengamati keadaan sekeliling, dan kembali lagi ke buku catatannya.

"Bodong! Kenapa bisa lupa??? Tadi kesempatan ketemu kuncir kuda itu aku malah pergi, bukannya minta tanda tangan sekalian ! ah, bodong bodong bodong!!!" sakura berkata pada dirinya sendiri kemudian segera berdiri untuk menyusul senior rambut pirang itu. Tapi ketika melihat serombongan mahasiswa baru sepertinya menyerbu orang itu, dan melihat bagaimana orang itu seenaknya memberi syarat pada sang peminta, Sakura mengurungkan niatnya. Mungkin tidak jadi saja. Ia kembali duduk.

"He! Katanya langsung dikerjakan! Lha kamu malah santai!" kata Ino sambil menepuk pundak Sakura. Sakura menengadah.

"Uh. Kau lihat! Aku benci sekali padanya! Masak iya aku harus minta tanda tangan padanya?! Emang kamu udah?"

"Jaaahh. Ya udah dong. Kalau punya dia aku udah. Cuma kurang beberapa saja yang belum," kata Ino membanggakan dirinya. Sakura mengamati buku tanda tangan Ino, dan AHA! Tanda tangan rambut kuda itu gampang sekali. Tinggal menarik garis, membuat lengkungan, membuat garis zig zag dan TARA!!! Sakura mengamatinya tersenyum sambil menganalisis bentuknya seksama.

"Pinjem No!" kata Sakura langsung mengambil buku milik Ino. Ino mengangguk. "Yo'i! sekalian titip ya, aku mau ke kamar mandi!" katanya langsung berlalu. Dari gayanya sudah bisa ditebak kalau ia lagi kebelet.

"Hehehe! Berhasil! Tinggal nyontek saja!" katanya senang. Ia mulai meniru tanda tangan yang diketahui bernama Deidara itu.

"Hei, meniru tanda tangan ya?"

"Hm? Iya! Soalnya aku tidak yakin dia akan memberiku tanda tangan. Kau lihat saja, dia sangat sibuk. Dan aku tidak mau kalau dia memberi syarat yang berat kalau ak--- Haaaaa?!" Sakura menjerit kaget ketika melihat senior favoritnya berada di sampingnya ikut duduk.

"A…aku… ha…hanya ber…canda…! Eh? Aku… buk…a….—"

"Sudahlah! Aku mengamatimu dari tadi! Yah, aku tahu dia sedikit menyebalkan. Hei? Kau kreatif juga! Bahkan aku sendiri juga belum pernah melakukannya," katanya sambil tersenyum. Sakura merasakan wajahnya memanas.

"Buk… bukan. Eh? Iya! Aku… maksudku aku hanya…! Aku berjanji akan menghapusnya dan meminta asli darinya!" kata Sakura cepat. Itachi masih tersenyum.

"Lebih baik tidak usah. Toh, dia tidak akan meneliti tanda tangan semua mahasiswa disini didapat asli dari senior atau tidak. Kau sudah selesai menirunya? Kalau begitu giliranku menandatangani bukumu!" katanya tersenyum. Kali ini cuma senyum tipis, setelah itu wajahnya serius. Ia mulai menandatangani buku milik Sakura. Sakura merasakan wajahnya memanas lagi.

"Hm!" suara seseorang mengagetkan mereka berdua. Sekarang di hadapan mereka berdiri seorang Sasuke yang menyodorkan bukunya pada sang kakak. Itachi tersenyum.

"Sasuke! Kemarikan bukumu!" katanya kemudian mengambil buku milik Sasuke. Sakura mengerutkan keningnya. Sasuke terlihat ketus sekali pada kakaknya!

"Nih!" kata Itachi sambil mengembalikan buku Sasuke. Sasuke merebut buku itu dan bersiap pergi.

"Hei! Kau akan pulang ke rumah hari ini, Sasuke?" teriak kakaknya, Itachi kepada adiknya. Sasuke menghentikan langkahnya dan berbalik.

"Memangnya kenapa jika aku pulang?" sasuke berkata ketus. Itachi tersenyum simpul.

"Tidak ada apa-apa! Ya sudah!" katanya santai. Sasuke menatap kakaknya sebentar kemudian pergi. Sakura mengamati dua bersaudara itu bingung. Mereka ini kenapa sih?

***

Sakura mendengus kesal.

"Uh, Ino jahat.! Katanya mau pulang bareng aku! Kenapa dia malah ninggalin aku sendiri sih!!!" Sakura berkata kesal ketika melihat jam tangannya sudah menunjukan jam lima sore. Sakura hari ini tidak membawa motornya karena dia sudah janjian dengan Ino untuk pergi ke mall setelah ospek hari ini. Nah, itulah yang membuat Sakura marah pada Ino. Sudah lama sekali ia menanti, malahan ia lihat motor Ino sama sekali tidak ada di tempat parkir. Oke! Sakura tidak bisa menghubungi Ino. Sakura tidak jadi ke mall! Uh, Sakura berjanji akan mencubit keras-keras pipi Ino jika bertemu dengannya lagi. Sakura menghentak-hentakkan kakinya kesal. Ia kemudian berjalan ke depan Universitasnya, di pinggir jalan raya. Hari sudah petang, ditambah mendung. Jalanan mulai tampak lenggang oleh karena mendung yang begitu tebal.

Sakura menghembuskan nafasnya kemudian merapatkan jaketnya. Ia masih setia menunggu Ino. Paling tidak untuk memberinya 'hadiah' juga.

"Hei!" sebuah suara mengagetkannya. Sakura menoleh. Kak Itachi menaiki motor disebelahnya sambil tersenyum.

"Kenapa belum pulang?" tanyanya perhatian. Sakura tersenyum tipis.

"Aku menunggu temanku. Tapi sepertinya dia sudah meninggalkan aku!" jawab Sakura menunduk.

"Kalau begitu, ayo pulang bersamaku. Daripada kau nanti kehujanan! Ayo cepat naik!" kata Itachi padanya. Sakura masih berdiri terpaku menimbang-nimbang.

"Tak usah ragu! Aku hanya tak ingin kau basah, Haruno Sakura. Hm. Benar namamu itu? Aku sama sekali tak berniat jahat! Ayo!" ucapnya lagi. Sakura langsung mengiyakan setelah melihat langit yang semakin lama semakin berwarna hitam. Sebentar lagi pasti turun hujan.

Sakura masih membonceng kakak dari orang yang menyebalkan sedunia, yakni si buntut ayam. Sakura sendiri berfikir. Mengapa bisa dua bersaudara tapi berkepribadian berbeda jauh. Yang satu baik hati, tidak sombong, cool. Yang satu! Ah, malas nyebutin!

"Hei, kau tinggal dimana?" Tanya Itachi pada Sakura yang melamun.

"Oh, eh! aku sekarang mau ke tempat kost sahabatku dulu!" kata Sakura cepat.

"Hmmm.. Tapi kau tinggal dimana, Sakura?"

"Oh…eh maaf. Aku tinggal di daerah Suna aslinya. Akan tetapi karena jauh aku tinggal disini bersama nenek!" jawab Sakura berbohong. Itachi mengangguk.

"Lalu kenapa tidak langsung pulang ke rumah nenek dulu? Ini sudah malam Sakura. Besok masih ospek kan?"

"Eng… aku ada urusan sebentar," jawabnya. Sakura menunduk lalu mengamati jalanan yang semakin lenggang. Langit hari ini benar-benar gelap. Udaranya sangat dingin.

"Em… Kak Itachi, bolehkan aku bertanya sesuatu?" Tanya Sakura hati-hati. Itachi tak menjawab untuk beberapa saat.

"Tentu,"

"Em… Maaf, tapi, Sasuke itu adiknya kakak kan? Kenapa sikapnya seperti itu kepada kakak? Eng… aku cuma bingung saja. Maaf kalau lancang, kakak tidak menjawab juga tak apa-apa!" kata Sakura cepat. Beberapa lamanya Itachi diam saja.

"Kenapa kau ingin tahu?" katanya singkat setelah lama berdiam.

"Aku… aku hanya… Maafkan aku kalau begitu! Anggap saja aku tak pernah bertanya seperti itu. Maafkan aku!"

"Bukan begitu! Eh, maaf! Aku tidak memarahimu kok! Aku cuma… em… kalau itu ceritanya panjang sekali! Aku sendiri juga bingung dengannya. Dia itu… Entahlah! Sepertinya marah padaku karena ayah selalu berbicara tentang aku di depannya atau di depan ibu, malah di depan semuanya ketika berkumpul. Ayah selalu mengandalkan aku dalam berbagai hal. Kata ibu, Sasuke iri padaku karena perlakuan ayah yang terkesan tidak adil. Aku tahu posisi Sasuke yang ingin dipandang juga. Maka dari itu ia selalu ingin menyamai dan melebihi aku. Tapi aku senang, dia termotivasi. Dan… begitulah!" ceritanya panjang lebar. Sakura menunduk.

"Hmmm… eh? kakak tinggal di daerah mana sih?"

"Hmm. Aku tinggal di daerah Oto. Satu jam jika dari Universitas. Hei, habis lewat sini lewat mana, Sakura?"

"Lewat ke kiri, nanti ada kost yang pertama. Eng… kalau boleh Tanya lagi… Sasuke tinggal di rumah atau kost?"

"Hm… dia tinggal di rumah. Sepertinya dia itu tak mau bertemu denganku! Sepertinya sih… hehehe! Atau mungkin dia memang sedang mencari kost, kau tahu? Dia tidak mau kalah denganku. Aku bisa hidup mandiri di kost sedang dia masih tinggal di rumah, yah, meski resikonya harus bangun pagi supaya tidak terlambat. Dia terlihat marah ketika aku menyinggung tentang dirinya dan urusannya. Mungkin itu sih, soalnya dia sangat tertutup, bahkan dengan keluarga sendiri. Eh, kau bertanya terus tentang dia, kenapa? Suka?" Itachi mulai menggoda. Sakura menggeleng cepat.

"Bukan! Aku cuma penasaran saja. Soalnya dia itu ketus sekali!"

"Hm! Kalian sepertinya sudah sangat kenal! Eh, gerimis! Sakura kita akan ngebut, kau pegangan yang erat ya?" kata Itachi cepat. Sakura mendongak. Memang gerimis! Sebelum Sakura merapatkan duduknya, Itachi sudah mulai mempercepat laju motornya sehingga Sakura berteriak ketakutan. Untung Sakura bisa meraih pinggang Itachi dan berpegangan erat. Itachi menambah kecepatannya. Sakura mempererat pegangannya. Malah, sepertinya bukan seperti berpegangan, tapi tepatnya memeluk dari belakang. Itachi merasakan kepala gadis itu tenggelam dalam punggungnya.

***

"Sudah sampai, Sakura!" kata Itachi. Sakura mulai mengangkat kepalanya. Dia ketakutan sekali.

"Hei! Kau tak apa kan? Kau terlihat ketakutan?" Itachi mengamati gadis di depannya itu seksama. Terlihat nafasnya tak beraturan dan ekspresi wajahnya terlihat jelas ketakutan. Sakura menggeleng cepat.

"A… aku tak apa… Aku hanya sedikit takut ngebut… eng… Eh, iya, terimakasih ka! Kakak mau sekalian mampir juga? Hari masih gerimis!" kata Sakura sambil mengamati keadaan sekeliling. Beruntung Sakura dan Itachi sekarang berhenti di bawah pohon, sehingga bisa sedikit berlindung. Itachi menggeleng.

"Sepertinya tidak, Sakura! Aku harus pergi untuk mempersiapkan ospek besok! Kau benar tak apa kan?"

"Iya! Oh, kalau begitu terimakasih banyak, Kak! Hati-hati!" ucap Sakura. Itachi mengangguk kemudian segera meninggalkan tempat itu. Sakura langsung menyeberang jalan untuk sampai di kost Ino. Ia tersenyum-senyum tak waras.

***

Sakura langsung memakai wig yang dilemparkan Tenten setelah Sakura sendiri selesai berganti baju.

"Jadi Ino belum pulang?" katanya tak percaya.

"Belum!!! Yah, lah kalian ini bagaimana sih? Janjiannya kok seperti itu?" Tanya Tenten kembali.

"Hei! Ino tuh ingkar janji! Masak aku nunggu lama sekali! Dia malah tidak ada!"

Sakura kembali merapikan pakaiannya. Setelah tak beberapa lama ia mendengar suara motor Ino. Sakura segera bangkit. Ia melongok keluar pintu dan mendapati Ino sedang basah kuyup di sana yang segera berlari.

"Ino? Hei? Sampai basah kuyup seperti itu!" Tanya Sakura. Ino melotot padanya.

"Aku yang udah nunggu kamu di sana, malah aku pulang bareng kak Itachi karena kamu gak ada, Ino!"

"Sakura! Tadi tuh banku bocor! Jadi aku sempetin dulu buat nambal ban! Tadinya aku sudah ketemu dan suruh Naruto buat ngasih tau kamu karena hpku mati! Supaya kamu langsung nyusul ke bengkel! Lah gimana sih Naruto itu? Aku dah nunggu kamu di bengkel sampai ngakar, kamu gak datang-datang. ya udah! Aku mutusin pulang, eh, malah kehujanan. Sial!" katanya panjang lebar. Sakura menahan tawanya. Sungguh sial nasib sahabatnya. Tapi ini salahnya juga sih. Eh! yang terutama ya salah Naruto juga!

"Maaf kalau begitu, Ino! Ini salah Naruto. Dia sama sekali gak ngasih tau akau! Aku malahan gak ketemu dia! Tapi sebagai sahabat yang baik, aku gak akan marahin dia kok! Janji deh! Kasihan dia kan, mungkin dia ada sesuatu," kata Sakura tersenyum semanis-manis-manisnya..

***

"NARUUUTOOOOOO!!!! BERANINYA KAU MEMBUATKU MENUNGGU SELAMA ITUUUUU!!!!" semprot Sakura ketika melihat Naruto duduk riang sambil memainkan air dalam kolam. Naruto mengamati Sakura sambil berteriak ketakutan seakan baru mengingat sesuatu.

"Ammm… ampun, Sakura! Ampun… Pe… peace!!!!" jawabnya sambil menutupi kepalanya dengan tangannya. Sakura tersenyum kecut. Ia menjadi tidak tega melihat Naruto yang ketakutan. Akhirnya ia menyimpan tenaganya daripada digunakannya untuk memukul Naruto.

Bagaimanapun juga Naruto pasti punya sesuatu sehingga kelupaan memberitahu Sakura. Lagipula Sakura merasa berhutang budi pada Naruto yang selama ini menyelamatkannya dan menyembunyikannya dari semua pria di kost itu. Bagaimanapun juga Naruto tidak ember pada siapapun.

Bagaimana kalau Naruto ember? Sakura takut itu terjadi. Ia belum mendapat kost yang ia inginkan. Kalaupun ada, itu tidak senyaman, sebersih yang ia inginkan. Lagipula menyenangkan tinggal bersama cowok ganteng. Tetapi Sakura tetap tak mau identitasnya ketahuan. Karena ia yakin, ia tak akan melihat Itachi yang selesai mandi… XD atau paling tidak melihat Sai tersenyum, atau melihat wajah cool Gaara, bukannya melihat wajah rambut ayam yang diam-diam membayanginya.

Tapi Sakura takut… takut jika identitas sebenarnya ketahuan. Apa yang akan mereka katakan? Apalagi ketiga pria yang ia sukai. Apakah mereka akan berkata kalau Sakura adalah cewek tak punya malu yang seenaknya tinggal di kost pria? Tidak mau! Dia bukan seperti itu. Ataukah cewek murahan? JELAS TIDAK!! Sakura hanya terpaksa tinggal di situ sementara. Sementara sampai saat ini…

-

-

-

"Terimakasih, Naruto!" kata Sakura sambil tersenyum manis, membuat sahabatnya itu kebingungan kemudian mencoba mencerna kata-kata Sakura. Tapi tak berhasil…

Ospek hari ke tiga…

Sepertinya ini hari tersial untuk Sakura. Seharian penuh dia dikerjai oleh buntut ayam itu. Ospek kali ini dilakukan menurut jurusan masing-masing, tidak seperti sebelumnya yang masih umum. Dan seperti yang Sakura tahu dan dia menyesal telah mengetahuinya karena ternyata orang yang dibencinya itu adalah satu jurusan dengannya. Dan Huh! Menyebalkan sekali.

Sakura melangkahkan kakinya menuju bangku yang masih kosong. Tapi tiba-tiba ia hampir tersandung. Ia terkejut sekali. Ia menoleh ke arah orang yang tersenyum mengejek dan seperti biasa itu adalah si buntut! Sakura melotot.

"Buntut! Apa yang kau lakukan padaku? Aku bisa jatuh tau!" kata Sakura galak. Sasuke hanya menatapnya.

"Kalau kau jatuh… aku akan tertawa!"

"Geblek! Tidak waras, menyebalkan! Dodol!" sakura langsung menuju ke belakang. Sasuke mengikutinya. Sakura menoleh cepat.

"Kenapa mengikutiku, buntut!"

"Ge-er! Aku mau duduk di situ!" tunjuk Sasuke ke arah kursi yang kosong. Sakura kembali membalikkan tubuhnya kesal dan berjalan ke arah kursi yang sudah diincarnya. Dan nyatanya itu tepat berada di depan Sasuke. Tiba-tiba Sakura menemukan ide. Disobeknya kertas dari buku dan membentuknya menjadi gumpalan lewat telapak tangan. Hehehe… ayam! Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu! Dan lihatlah, gadis berambut pink ini tersenyum licik dan mulai menghitung dalam hati.

Satu…

Dua…

Ti… Ga!

Secepat kilat Sakura membalik wajahnya dan melemparkan kertas yang dipegangnya ke arah si buntut. Tapi di luar dugaannya meleset sangat meleset. Sasarannya berubah menjadi… Lee?

Dan sekarang nampaklah si alis tebal itu mengerutkan keningnya tak mengerti. Sementara Sakura dalam perasaan was-was dan malu, Uchiha yang pindah ke samping Lee atau diagonal dari Sakura tertawa kecil.

"Le…Lee? Ma- maafkan a..aku! aku ti..dak senga…ja!!!" kata Sakura meringis ketakutan. Dari pandangannya terlihat Lee masih mengamatinya tak mengerti. Alis tebalnya terangkat ke atas.

"Aa… Kau terlihat bodoh, Haruno Jidat!" Sasuke mengejek Sakura sambil tersenyum geli. Sakura mengamati Sasuke dari sudut matanya. Menyebalkan sekali orang itu!

"Haruno…? Darimana kau tahu namaku?" Tanya Lee masih diam terpaku dari tempatnya. Dari caranya berbicara, bisa dibayangkan matanya masih terpaku lekat pada Sakura, tubuhnya masih diam hanya bibirnya saja yang bergerak untuk mengucapkan kata itu. Sakura meringis lagi. Bodoh! Lain kali hati-hati kalau menyebut nama orang! Baka!!!

"Eng… anu… ak…aku men… mencari tahu dari teman-temanku! Eh… iya! Mencari tahu!" kata Sakura cepat.

"Bohong tuh!" Sahut Sasuke menggoda. Sakura memberikan death glare padanya. Cukup membuat Sasuke diam menatapnya.

"Haruno…. Kauuuuuu!!! KAU TERNYATA MENYUKAIKU YA???? SAMPAI MENCARI TAHU NAMAKU PADA ORANG LAIN!!!!" teriak Lee bersemangat sambil berdiri dari duduknya. Sakura mangap.

"A…Apa? Buk… bukan begitu! Kau salah! Aku… aku hany-"

"Kau bahkan malu-malu mengungkapkan perasaanmu padaku, Haruno… Kau… Kau…" Lee mulai melebay. Sasuke tersenyum mengejek pada Sakura. Sakura yang tidak tahan langsung melemparkan tasnya pada Sasuke.

"Rasakan! AYAM!!!" teriak Sakura marah sambil menatap Sasuke garang. Sasuke masih bisa mengelak, malah menangkap tas itu dengan satu tangan mudah sekali.

"Jadi… Bagaimana Sakura? Kau benar-benar menyukaiku, kan?" teriak Lee bersemangat sambil meatap Sakura penuh harap.

"Buk… bukan maaf aku—"

"Dia memang menyukaimu, Lee! Kemarin dia mengatakannya padaku!" sasuke berkata cepat membuat Sakura kaget bukan kepalang. Lee berteriak senang sambil mendengungkan kata-kata kemenangan apalah itu. Semua orang menatap ke arahnya aneh tak terkecuali Gaara yang rupanya mengamati semua itu dari tadi. Gaara duduk di pojok depan, cukup jauh untuk melihat semua itu dengan detail, tapi sangat dekat untuk mengetahui bagaimana perasaannya sekarang.

"BUKAN!!! AKU TIDAK…. AKU BUKAN!!! KAU SALAH!!!!" kata Sakura sambil menuding Lee membuat cowok itu berdiam terpaku. Lee kemudian menunduk.

"Haruno… Kau… Kau… KAU INI PEMALU SEKALI!!!!" katanya mulai kembali bersemangat. Sakura menepuk dahinya keras kemudian berdiri menghampiri Sasuke. Sasuke yang merasa 'terancam' langsung berdiri dan berlari menghindari Sakura. Sekarang, mereka kembali ke masa-masa kecil dulu! Berlarian tak tentu arah. Bedanya, yang di belakang ini bukanlah orang yang akan berteriak "Kau pasti kena" atau "Kau akan Tertangkap" melainkan "MATI KAU AYAM!!!".

Gaara tersenyum melihat kelakuan Haruno. Sementara Sakura terus berlari berusaha menangkap Sasuke, Lee mulai nangis lebay dan menggumamkan kata "Kembalilah sayang!".. sakura berhenti menangkap Sasuke karena terlalu lelah. Setelah melemparkan ejekan yang selalu terbalaskan oleh Sasuke dia duduk di bangkunya dan menutup mukanya sendiri dengan telapak tangannya. Sasuke tersenyum penuh kemenangan mendekat. Semua cewek yang melihat adegan itu semakin tergila-gila padanya.

"JIDAT MALANG!" kata Sasuke kemudian menepuk bahu Sakura dan duduk di tempatnya sendiri, diagonal dari Sakura. Sakura menoleh cepat dengan marah.

"AWAS KAU BUNTUT!!!"

***


NEXT CHAP :

SASUKE NGEKOST?!


Filladelfia : Yah… yah…

Maaf kalau membosankan dan sama sekali belum menyinggung tentang kostnya Sakura. Next Chap! Janji dah… XD

Untuk semua yang sudah me-review cerita saya saya ucapkan banyak terima kasih…^^

Terimakasih atas reviewnya, yang berarti anda bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan ulasan, saran bahkan kritik untuk saya. Saya senang sekali. Terimakasih…^^

Nih buat yang review tapi gak login…^^.. Nyang laen melalui PM…

Akira_Kirasawa

Hehehe… Yah, sabar buk! ^^ itu Cuma sebagai pelengkap kok…XD

Makasih udah review yah…^^

ayu-chan181

Hahaha…XD. Pake wig emang risih…(padahal belum pernah…XP)

Sasuke? Yah, jawaban ada di chapter 4. Mau tunggu en baca plus review kan? Ditendang Hehehe… Peace… Bercanda kok…XD

cumanyasar

Jiaaah, kata siapa Itachi ada kerutannya? Hmmm… Iya sih, dikit… XD *dipeluk Itachi (maunya!XD). Jiiaah… Sasuke ama Itachi ganteng mana hayoooo… XD. Makasih udah setia review cerita saya… XD

Nana~chan

Iyah… Aku juga ngiri ama dia… Kapan lagi coba satu kost sama Uchiha bersaudara… XD

Cumanumpanglewat

Hahaha… Iya dong… ke-PD-an, dilemparin panic… Makasih udah setia review cerita gaje saya… Huahahaha… XP

Cake-

Hahaha… (saya kok kebanyakan ketawa yah?!) Iya dong… Itachinya wae ganteng kok… Kesempatan emas… XD. Makasih udah review yah… XD