Disclaimer : Sumpah…! Naruto bukan punya saya, tapi akang saya! **dipelototin Masashi**.

Summary : Sakura seorang cewek 18 tahun yang mencari kost-kostan. Tapi malangnya dia terpaksa mendapat kost-kostan khusus cowok.

Dan… R&R ya… XD

W A R N I N G : Karena saya belum kuliah, jadi apabila ada kesalahan yang berhubungan dengan kuliah, saya mohon maaf. Anggap saja ini universitas saya. Jadi saya yang nentuin peraturannya gimana..XP. **digebuk**

Don't Like, Don't Read! ^^

Gara-Gara Kost

Chap 12

Shiro mengerucutkan bibirnya ketika membonceng Sasuke. Sasuke yang meliriknya dari spion hanya nyengir. Sesekali Sasuke melihat Sakura menggerak-gerakkan bibirnya sedang memarahi walaupun suaranya tidak kentara. Kadang kala diselingi lidahnya terjulur ke arah Sasuke, membuat Sasuke yang meliriknya memutar bola matanya.

"Sudah?" tanya Sasuke bosan kepada Shiro. Ia sengaja memelankan motornya agar bisa mendengar suara Shiro dengan jelas.

"Apanya?" jawab Shiro ketus kemudian menggembungkan pipinya. Sasuke hanya bisa menjulurkan sedikit lidahnya meski Shiro tak melihat. Shiro melipat tangannya di depan dada setelah Sasuke melepaskan cengkeramannya.

"Mau kemana?" tanya Shiro setelah lama hening, mereka belum juga sampai ke tujuan.

"Kuburan!" jawab Sasuke santai. Shiro membelalakkan matanya,"Hah? Ma-mau apa kesana?" tanyanya bingung. Sasuke memutar bola matanya. Menurutnya, kadang gadis di belakangnya ini mudah dibohongi.

"Bodoh! Kau pikir dari tadi aku mengajakmu kemana, sih! Membeli kado, kan? Pikir sendiri aku mau kemana?" ucap Sasuke sedikit ketus membuat Shiro kembali menggembungkan pipinya. Perjalanan terasa begitu lambat, itu karena Sasuke memang tidak ngebut. Lagipula dia tidak membawa helm. Takutnya kalau ada sesuatu. Walaupun begitu, alasannya bukanlah itu.

Shiro yang bosan memandang sesuatu yang membuatnya terus-terusan cemberut. Kepala ayam itu ada di depan wajahnya. Rambut Sasuke yang tidak beraturan dihempas angin kadang menerpa wajahnya. Itu karena tanpa sadar mereka begitu dekat, setelah Sasuke memaksa Shiro dengan melingkarkan tangan di pinggangnya sebelum ini. Awalnya Shiro biasa saja terkena belaian rambut Sasuke, tapi lama-kelamaan rambut itu semakin mengganas. Bukan belaian melainkan sabetan. Mungkin karena Sasuke menambah kecepatannya, membuat rambut itu dengan kurang ajarnya mencolok mata Shiro. Shiro menggeram. Dengan tangannya, ia menekan rambut Sasuke membuat Sasuke tersentak pelan. Sasuke menjauhkan kepalanya dari tangan Sakura. "Kau kenapa, sih?" tanyanya risih. Shiro alias Sakura mendelik. "Salahkan buntutmu itu yang seenak udelmu masuk ke mataku, Buntut!"

Sasuke Lagi-Lagi kembali memutar bola matanya. Rupanya gadis dibelakangnya ini ngambek. Dan setelah itu, ia membiarkan Shiro memainkan rambut pantat ayam kebanggaannya tanpa bertanya lagi, meskipun dari depan, kita bisa melihat perempatan jalan yang muncul di dahinya.

KONOHA MALL. Mall terbesar, termegah dan terlengkap di kota ini. Kedua orang yang semenjak tadi ngambek, tepatnya si cowok jadi-jadian yang ngambek, serta Sasuke uchiha yang sibuk mengobrak-abrik belakang kepalanya cuek, untuk mengembalikan rambut kesayangannya ke bentuk semula berjalan masuk. Tiba-tiba Sasuke berhenti, membuat Shiro dibelakangnya menabrak punggungnya. Dan sebelum Shiro yang hari ini sensitif itu marah besar, Sasuke langsung bertanya,"Kau mau jadi cewek atau cowok dulu?" membuat Shiro langsung menjawab 'cewek' dengan ketus. Tanpa mempedulikan Shiro yang ngambek, seenaknya Sasuke menyeret Shiro ke lantai dua, membuat beberapa orang yang sedang memperhatikan sekitar mengerutkan dahinya melihat genggaman Sasuke kepada Shiro yang tampak 'lebih', sehingga mereka berasumsi seperti Lee, menganggap Sasuke itu homo.

"Satu syarat untukmu, Jidat. Aku yang berhak memilihkan baju ini untukmu, karena aku yang membelikan. Oke? Kalau kau tak mau, maaf saja. Tak ada kesempatan untuk bertemu Gaara!" keputusan Sasuke membuat Sakura menghentakkan kakinya kesal.

"Apa? Aku tidak mau memakai ini! Kau pikir aku apaan? Ogaaaaahhhh! Ini terlalu MINI tahu?" teriak Shiro di dekat telinga Sasuke yang menyodorkan baju hasil pilihannya kepada Shiro. Shiro yang memang sudah curiga sangat terkejut melihat baju yang disodorkan Sasuke. Rok mini di ataaaaas lutut, dengan baju atasan yang sangat ketat, mini.

"Kau ini mesum sekali, sih!" bentak Shiro masih tidak terima. Sasuke yang memang berniat mengerjai Shiro hanya diam saja. Ia tetap menyodorkan baju itu pada Shiro yang mencak-mencak. Shiro melihat jam di layar Hpnya. Jam 2 siang. Ia janji ketemu Gaara jam 4 di taman yang lumayan jauh dari kost, padahal ia belum bersiap-siap. Jadi, ia hanya ingin semuanya berjalan cepat, paling tidak jam 3 kegiatan membosankan ini selesai.

"Aku tidak mau ini!" ucapnya sambil mendorong tubuh Sasuke menjauh. Sasuke menggeram pelan, namun menurut. "Aku pilih sekali lagi, kau tolak, aku akan menahanmu sampai jam 7 malam!" ucap Sasuke tajam. Sakura menjulurkan lidahnya dan memalingkan wajahnya.

Akhirnya Sakura keluar juga dari ruang ganti menggunakan baju yang dipilihkan Sasuke untuknya, yang menurutnya masih mending daripada yang tadi, meskipun masih bisa dibilang mini, membuat Shiro yang sekarang menjadi Sakura merengut. Ia memakai rok pendek dengan kaos biasa yang lumayan ketat. Dan untuk bagian sepatu, salahkan Sasuke yang memaksa Sakura merogoh dompetnya sendiri karena dia kesal Sakura tidak mau memakai pilihannya. Dan setelah itu, mereka berdua segera mencari barang-barang untuk kado ulang tahun pernikahan orang tua Sasuke.

Sepanjang perjalanan, sambil melihat-lihat, pasangan itu sibuk memerhatikan sekelilingnya masing-masing, sibuk mencari barang yang pantas untuk dihadiahkan kepada orang tua Sasuke.

"HE! Menurutmu pantas tidak kalau aku membelikan mereka baju?" Tanya Sasuke kepada Sakura. Sakura tidak menjawab.

"Hei!"

"Eh? Oh.. iya. Apa, apa?" Ucap Sakura gelagapan sambil memandang Sasuke gugup. Sasuke menyeringai sebentar. "Kau ini kenapa, Jidat?"

"Tidak apa-apa," jawab Sakura lesu. Sasuke mengerutkan dahinya. Ia memandang Sakura yang sedang melihat ke suatu arah kemudian memalingkan wajahnya dengan kesal kemudian lesu. Sasuke mengurutkan pandangan Sakura barusan dan mendapati dua cewek sedang menatap mereka berdua. Cewek itu mulai terkikik ketika mengetahui Sasuke sedang memandang mereka. Sasuke menghela nafas bosan. Samar-samar ia bisa mendengar kedua gadis itu berbicara walau keadaan ramai banyak orang berlalu lalang.

"Menurutku mereka bukan pacar!" kata cewek pertama sambil menyikut perut cewek kedua.

"Aduh! Sakit tahu! Ehm… menurutmu kakak adik?" tanyanya sambil menoleh kepada cewek pertama.

"Entahlah! Kalau misalnya pacar sih…. Kasihan cowoknya, ya? Kau lihat cowok seganteng, sekeren dia, pacaran dengan gadis yang seperti itu. Yang jauh lebih jelek daripada aku. Dan kau lihat itu," cewek kedua mulai menuding Sakura. Sasuke segera mengalihkan pandangannya. Ketika dirasanya cewek itu mulai berbisik, ia kembali menoleh kepada mereka.

"Kenapa?" cewek pertama mengerutkan keningnya.

"Alaaa…. Ukuran 'itu'nya. Lagipula badannya kurang begini," cewek kedua mulai memperagakan tangannya membentuk body gitar. Kedua cewek itu terkekeh lagi. Sasuke kembali mengerutkan keningnya. Apa mungkin Sakura marah gara-gara kedua cewek itu?

"Sak- eh? kemana dia?" sasuke bingung ketika mendapati gadis yang seharusnya berada di dekatnya menghilang entah kemana. Dia kemudian celingukan mencari gadis itu.

"SAKURA!" teriaknya ketika mendapati Sakura sedang berjalan tergesa menjauhinya. Sasuke segera mengejar Sakura. Diraihnya bahu cewek itu.

"Kau ini kenapa, sih?" tanyanya. Sasuke terkejut ketika mendapati mata Sakura yang berkaca-kaca. Rupanya suasana hati Sakura memang sedang tidak baik, dan Sasuke menyadarinya. Ia segera mendudukkan Sakura di salah satu bangku.

"Hei, tenanglah," ucap Sasuke sambil menepuk kepala Sakura beberapa kali. Sakura menunduk. Ia sendiri bingung. Tambah bingung lagi ketika mengetahui Sasuke hari ini kenapa aneh sekali, lebih memperhatikannya mungkin. Tanpa ia sadari, Sasuke dari tadi sibuk memikirkan sesuatu.

"Saku… sudah jam 3. kau janji mau bertemu Gaara, kan?" Tanya Sasuke sambil tersenyum. Sakura mendongak mengamati wajah Sasuke yang tulus. Ia sedikit tak percaya.

"Sa… Suke?"

"Kalau begitu ayo!" Sasuke berdiri kemudian memalingkan wajahnya menolak memandang Sakura dan langsung memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Sakura terdiam. Ia masih berlum berdiri dari tempatnya duduk sekarang, ia mengalihkan pandangannya ke arah pengunjung lain. Melihat aktivitas mereka yang berlalu lalang. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia kesini kan seharusnya menemani Sasuke membelikan kado untuk orang tuanya. Padahal dari tadi Sasuke sudah mau baik dengannya, apalagi sekarang mengingat Sasuke malah menyuruhnya menemui Gaara. Sakura menjadi merasa bersalah. Sasuke bahkan membelikannya baju yang… yah, begitulah. Tapi kali ini ia benar-benar membelikannya tanpa syarat, tanpa embel-embel hutang dan lain sebagainya. Sakura menjadi tak enak kepada Sasuke.

"Errr… Sasuke… kau membeli kado?" Tanya Sakura gugup sambil menggaruk bagian pipinya. Sasuke menoleh sebentar.

"Tidak usah. Biar aku sendiri saja nanti. Aku antar kau sampai ke tempat Gaara," katanya sambil memandang lurus ke arah depan. Ekspresinya benar-benar datar.

"Hei!" Sasuke terkejut ketika tiba-tiba Sakura menarik tangannya. Ia menurut saja. Dan tak lama, ia pun tersenyum. Ia merasa, keadaan Sakura akan segera membaik.

Mereka berhenti di tempat mug yang sangat bagus. Sakura masih menggenggam tangan Sasuke dengan tangan kirinya sambil tangan kanannya memegang dagunya, berfikir.

"Eh, aku rasa otakmu di sini, bukan di dagumu!" kata Sasuke sambil menunjuk kepala Sakura. Sakura mendelik sebentar.

"Tapi kan kalau berfikir tidak harus seperti itu. Yang penting otaknya tetap bekerja. Tidak sepertimu, yang otaknya macet, seret," kata Sakura sambil mengedarkan pandangannya berkeliling.

"Oh ya?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Sakura tidak mengindahkannya melainkan menyeret Sasuke ke arah lain, kemudian mendadak berhenti. Ia melepaskan pegangan Sasuke dan menoleh kepada cowok itu sambil tersenyum sumringah.

"Hei, bukankah ini lucu sekaliiiii?" tanyanya meminta pendapat sambil menunjuk sebuah mug yang ada gambar kartunnya. Sasuke sweatdropp sesaat.

"Eh, iya," jawabnya asal kemudian mengerutkan keningnya. Sakura benar-benar membuatnya bingung. Yah, di saat secepat itu, ia bisa berubah drastis. Sakura melanjutkan perjalanannya melihat-lihat rak itu, sedangkan Sasuke mengikutinya dari belakang sambil melipat kedua tangannya di depan dada.

"Sasuke… menurutmu… ini bagaimana? Dulu aku juga pernah membelikan yang seperti ini loh untuk orang tuaku… bagus kaaan? Tapi… akan kuberitahu satu hal. Mereka tidak akan menilai bagus atau tidaknya, mahal atau murahnya hadiah yang kau berikan. Mereka merasa senang karena kau masih peduli, Sasuke," ucap Sakura sambil tersenyum. Sebentar Sasuke ikut tersenyum. Tapi ketika melihat Sakura memandangnya, ia mendadak memalingkan wajahnya.

"Kenapa kau?" tanyanya berusaha menutupi kegugupannya.

"Eng… Kau cakep," kata Sakura sambil tersenyum. "Eh? engga! Maksudku kau ini bai- eh, bukan. Kau ini eng… eng… menyebalkan!" ucap Sakura tergagap. Ia tak menyangka bakal bicara seperti itu. Sasuke mengerutkan keningnya. Ia juga benar-benar bingung. Tapi di balik itu semua, ia merasa senang.

"Dasar jidat!" ucap Sasuke sambil menyeringai. Sakura langsung merengut.

"Buntut jelek!" balasnya sambil menggembungkan kedua pipinya.

"Jidat jelek!"

"Buntut Geblek!"

"Kau yang geblek!"

"Plagiat!"

"Aneh!"

"Menyebalkan!"

"Tak berbeda denganmu!"

"Uuuuhhh! BUNTUT jelek, pantat ayam, sok cool, sok keren, sok cakep menyebalkan!" ucap Sakura sambil menghentak-hentakkan kakinya. Sasuke lagi-lagi dibuat memutar bola matanya melihat tingkah Sakura itu.

"Jidat jelek, jidat lebar, rambut aneh, childish, cerewet, tukang ngambek, mengesalkan!" balas Sasuke sambil menyeringai menyebalkan. Sakura melotot.

"Ya sudah ini! Bayar sana!" ucapnya sambil menyerahkan mug pilihannya kepada Sasuke yang menerimanya dengan cengiran kemenangan.

Sasuke mendengus kesal ketika melihat Sakura yang berjalan riang di depannya. Tampak ia beribu kali lebih baik daripada sebelumnya. Yeah, seharusnya Sasuke senang, kan? Hei, kenapa kau ini, Sasuke? Kau ini aneh sekali.

Sasuke berjalan di belakang Sakura. Ia melihat gadis yang sekarang ini periang. Moodnya berubah 180 derajat daripada sebelumnya. Sasuke mendengus kesal. Ia memang seharusnya senang karena Sakura sudah baikan. Tapi, yang membuatnya benci adalah ketika mengetahui kalau yang membuat Sakura senang adalah Gaara. Gaaralah yang membuatnya seperti itu, bukan dia. Sasuke merasakan giginya bergemeletuk. Mungkin sekarang ia mulai berfikir, ia tidak seharusnya menaruh hati pada gadis di depannya jika tak ingin sakit hati.

Oke, kartu AS terbuka. Uchiha Sasuke, musuh Haruno Sakura yang suka menggoda, menjahili, mempermainkan gadis itu, sekarang terjebak dalam perasaannya sendiri. Ia jatuh cinta.

"Ayo cepat, buntut jelek!" perintah Sakura seenaknya. Sasuke menggerutu. Dengan cepat, ia menjitak kepala gadis di depannya sampai Sakura mengerucutkan bibirnya, membuat Sasuke merasa geli.

"Kalau kau menyebutku buntut jelek, aku tak akan mengantarkan-"

"Engga! Sasuke baik. Sasuke keren!" Sakura memotong perkataan Sasuke. Namun setelahnya ia segera berakting seperti orang muntah. Sasuke kemudian menuruti janjinya, meskipun ia sendiri masih setengah-setengah… tak rela. Tapi, kalau ia sendiri mengingkarinya, gadis di belakangnya ini akan tambah ngambek, tak mau lagi bicara dengannya. Wah, itu pasti akan sulit.

Sasuke merasakan ada yang memukul punggungnya pelan. Seketika ia menoleh sebentar sambil tetap mengendarai. "Hn?"

"CEPETAN tahu! Sudah jam 4 lebih 10 meniiiitttt!" rengek Sakura sambil mencengkeram kaos Sasuke membuat cowok itu sedikit memasang tampang ngeri, sebab cengkeraman gadis di belakangnya itu sangat kuat.

"Iya, sabar! Bentar lagi nyampai. Taman kota, kan? Seperti katamu tadi?" balas Sasuke kesal. Sakura mengangguk kemudian memberikan yel-yel gaje yang membuat Sasuke sweatdrop seketika.

"Ayo Sasuke! Es-a-es-u-ka-e! Ayo! A-ye-o! cepet-Ce-pe-t-!"

"Berisik tahu!" ucap Sasuke tak ketinggalan lagi-lagi perempatan jalan nangkring di dahinya. Sakura segera mengatupkan mulutnya. Hal itu lagi-lagi membuat Sasuke sangat-sangat tak habis pikir dengan gadis itu. ia baru tahu, gadis ini sangat mudah berubah-ubah.

"Kamu disini! Aku akan menyusul Gaara. Kasihan, kan, dia sudah menunggu lama. Gara-gara kau nih, buntut jelek!" kata Sakura sambil menunjuk sebuah bangku. Dari sini ia bisa melihat Gaara yang rupanya sudah mulai datang. Sasuke menggeram. Walau begitu, ia tetap menurut. Ketika Sakura pergi, entah kenapa benda bulat menyala ada di samping kepalanya. Yah, bisa dibilang, benda bulat macam bohlam itu berisi ide licik.

"Eng… Ga…. Gaara… Eng… Sel… selamat sore…. Ma… Maaf, aku terlambat. So… soalnya aku…. Aku ada-"

"Haruno. Tidak apa-apa," ucap Gaara pelan. Sakura agak terkejut. Gaara terlihat lemas sekali. Wajahnya seperti kecapaian. Ia seperti bersedih?

"Eh, Gaara kamu kenapa?" tanya Sakura bingung. Yang ditanya diam saja, kemudian menggeleng. Sakura mendudukan dirinya di dekat Gaara mengamati Gaara yang menunduk. Mereka terdiam.

"Uh, sialan!" Sasuke mengumpat ketika semak-semak menghalangi dirinya untuk mendekat. Ia meringis sebentar ketika duri-duri menggores tangannya. Ia sedang mengendap-endap, mengintai Sakura.

"Sial, kalau dari sini, tidak terlihat," ucapnya mendekati sasaran, beberapa meter di belakang Sakura dan Gaara. Sasuke terus maju, ia berniat mendengar pembicaraan mereka. Sekarang, dia menjadi agak nista.

Tiba-tiba.

SREEEK. BRUKK!

Sakura dan Gaara menoleh ke arah asal, ke arah Sasuke yang terjatuh telungkup dengan tidak elit dan etis. Bayangkan dia sedang jatuh nyungsep di antara semak-semak. Dan sialnya, kaosnya sobek, gara-gara tergores duri.

"Bun… eh- Sasuke?" Sakura beranjak berdiri dan berniat menghampiri Sasuke. Namun,

"Ehm. Tidak apa-apa. Aku hanya… kau tahu kan? Terkadang kambing memang nakal, seenaknya saja lari waktu ku kejar," jawab Sasuke asal. Sakura mengerutkan keningnya.

"Kam… Kambing? Memangnya ada? Kau jangan berbohong, bun- eh Sasuke!" tanya Sakura marah. Sasuke menepuk dahinya. Seharusnya dia ngomong kucing, itu lebih masuk akal. Bukannya kambing, di taman kota terawat seperti ini?

"Ad… ada kok! Tadi satu, kecil, lucu lagi!" jawabnya aneh. Sakura memonyongkan bibirnya. Ia tahu tipu Sasuke. Gaara hanya mengamati mereka tanpa bicara apa pun.

"Lucumu gedhe itu! Bilang saja kalau mau mengintip?" ucap Sakura tepat di depan wajah Sasuke membuat Sasuke was-was hujan local.

"Enak aja! Sok banget jadi orang. PDmu gedhe itu!" balas Sasuke sengit.

"Huuh! Dasar bun—"

"Haruno," ucap Gaara memutus perkataan Sakura. Sakura menoleh. "Ya?"

"Ehm… sebenarnya… aku menyuruhmu datang ke sini… karena… " Gaara terlihat ragu-ragu mengucapkan sesuatu. Sakura semakin penasaran. Dan Sasuke yang masih disana ikut penasaran juga walaupun wajahnya dibuat secuek mungkin.

"Ada apa, Gaara? Katakan saja tidak apa-apa?" kata Sakura tidak sabaran. Ia melihat Gaara dengan tatapan antusias. Sedangkan Gaara terlihat sesekali menelan ludahnya dan mengalihkan pandangannya dari Sakura.

"Aku… aku mau mengucapkan selamat tinggal," kata Gaara tegas. Sakura membelalakkan matanya. Sedangkan Sasuke mengerutkan keningnya tidak percaya.

"Aku… aku disuruh ayahku untuk pergi ke Kota Ame untuk tinggal disana meneruskan salah satu perusahaannya disana. Dan juga… dan juga aku telah dijodohkannya dengan wanita pilihannya dan… dan…" sepertinya Gaara tidak sanggup lagi meneruskan perkataannya. Ia memberanikan diri menatap Sakura yang ternyata masih terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya.

"Ka- kau… kau bercanda, kan, Gaara?" Tanya sakura meminta kepastian, berharap cowok berambut merah itu menjawab 'Ya'.

Akan tetapi sayang. Bukan yang ia harapkan yang ada, malah, Gaara menggeleng dengan tegas. Sebelum Sakura sempat mengucapkan sesuatu lagi, Gaara tiba-tiba menyatukan tangannya dengan tangan Sasuke menjadi sebuah genggaman. Sasuke terkejut dengan apa yang dilakukan Gaara.

"Sasuke… tolong jaga Sakura," kata Gaara. "Aku tahu kau sangat menyayanginya. Aku tahu kau sebenarny-"

"Ehm!" Sasuke berdehem ketika itu. Ia melirik ke arah Sakura. Tapi ternyata Sakura tak merespon apapun, tatapannya kosong. Sasuke menjadi begitu iba pada gadis itu.

"Dan… Sakura… selamat… tinggal…" ucap Gaara lirih kemudian segera berbalik dan berlalu pergi. Meninggalkan Sasuke dan Sakura yang menatap punggung cowok itu. Sasuke melirik Sakura. Tangan mereka masih bertautan. Sakura masih menatap kosong punggung Gaara tanpa berkata apa-apa. Perlahan, air matanya turun dari matanya.

"Uh… awas! Akan kubuat kau menyesal telah mengatakan semua padaku. Rambut ayam bodoh otak udang geblek dodol bego nyebelin jelek bu-" sakura menoleh cepat. Seseorang terlihat menggoyangkan rambut panjangnya pelan.

"Gaara!" ucapnya kaget ketika melihat orang yang berdiri di samping kanannya ternyata seorang Gaara. Dan… betapa bodohnya ia melupakan Gaara hanya demi orang berambut ayam sial itu!

"Hn? Bagaimana kau bisa tahu namaku?" katanya bingung tapi tetap tenang. Nah, sekarang Sakura lah yang harus berfikir untuk mendapatkan jawaban atas tindakannya menyebut nama Gaara.

"Siapa namamu?" Tanya Gaara pelan.

"Sakura. Haruno Sakura," kata Sakura kemudian menyambut uluran tangan Gaara. Terasa dingin.

"Hm, Aku panggil Haruno saja. Bagaimana?" tanyanya pelan. Wajahnya sangat tenang. Sakura mengagguk kemudian tersenyum.

"Hei?" sebuah suara mengagetkannya. Ia mendongak. Gaara! Gaara kemudian duduk di sampingnya ikut bersandar di bawah pohon besar itu.

"Kalau begitu, ayo makan bersamaku!" kata Gaara memegang lengan Sakura. Sakura menoleh. Gaara tersenyum padanya.

"Hei! Makan 3 sekaligus pun aku juga tak akan merasa kenyang sepertinya. Jadi, apa bedanya? Kau boleh mengambilnya!" katanya lagi. Sakura merasa tak yakin.

"Aku akan menunggumu sampai kau mengambilnya. Jika kau tak makan, aku pun juga!" lanjutnya. Sakura terdiam beberapa saat, ia pun mulai mengambil salah satu ubi milik Gaara.

"Pilihan bagus. Ubi yang berwarna merah keunguan itu memang manis, Haruno," katanya lagi. Sakura tersenyum. Gaara pun mengambil salah satu ubinya. Sambil mengupas kulitnya yang tipis, mereka melanjutkan ngobrolnya.

"Selamat pagi Gaara!" ucap Sakura semangat ketika melihat Gaara duduk di depannya. Gaara tersenyum dan mengangguk kemudian melepaskan tasnya dan berjalan ke tempat Sakura duduk.

"Kau semangat sekali, Haruno," katanya sambil mengetuk-ketukan kepalan tangan kanannya di meja, sementara tangan kirinya berada di dalam saku celananya. Sakura tersenyum.

"Sakura. Uh. Kau ada acara?" tanya Gaara ketika mereka semua pulang. Sakura menggeleng.

"Kalau begitu. Em.. maukah kau nanti ke… Café Konoha? Eng… Untuk… Untuk membahas tugas Kakashi tadi," Ucap Gaara cepat.

"Pesan minum atau apa dulu sana. Maaf aku belum memesankannya. Takut kalau kau tidak suka," kata Gaara memecah keheningan. Sakura mengangkat wajahnya melihat Gaara yang menatapnya. Sakura tersenyum kecil.

Gaara…. Gaara…. Gaara…. Gaara…. Gaara…. Gaara….

Semua tentang Gaara… Gaara….

Perlahan lutut Sakura mulai bergetar. Ia hampir saja jatuh terduduk kalau saja tidak ada Sasuke yang menangkapnya atau lebih tepatnya memeluknya erat.

"Jangan menangis, Sakura."

-TBC-


Uchiharuno Sasusaku : Huaaaaa…. DX

Semakin gaje, gaje, gaje… Hah, semakin lama fict ini menyerupai authornya yang gaje… DX

Maaf kalau hasilnya mengecewakan.

Tapi saya ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya kepada yang membaca maupun mereview yang bikin saya tambah semangat melanjutkan cerita ini. Terimakasih sudah mengingatkan saya lewat FB… hehehe…

Tapi mohon maaf kalau hasilnya tambah gaje dan tidak berkenan…. Maaf….


Mohon maaf yang sebesar-besarnya belum bisa membalas review satu persatu. Maafkan saya.

Maaf, soalnya ini cuma minjem lappie temen. T_T

Pokoknya saya berterimakasih yang sebesar-besarnya buat kalian semua yang sudah membaca dan mereview... Terimakasih sekali yang juga sudah menagih saya lewat FB. Terimakasih... -sujud2-.

Sekali lagi, mohon maaf...