Disclaimer : Sumpah…! Naruto bukan punya saya, tapi akang saya! **dipelototin Masashi**.

Summary : Sakura seorang cewek 18 tahun yang mencari kost-kostan. Tapi malangnya dia terpaksa mendapat kost-kostan khusus cowok.

Dan… R&R ya… XD

W A R N I N G : Karena saya belum kuliah, jadi apabila ada kesalahan yang berhubungan dengan kuliah, saya mohon maaf. Anggap saja ini universitas saya. Jadi saya yang nentuin peraturannya gimana..XP. **digebuk**

Don't Like, Don't Read! ^^

Gara-Gara Kost

Chap 13

(Last Chapter)

"Jangan menangis," ucap Sasuke sambil terus mendekap tubuh Sakura. Perlahan diberanikan tangannya untuk mengelus rambut panjang gadis itu, bermaksud menenangkan. Hatinya mencelos seketika merasakan tubuh Sakura berguncang hebat karena menangis.

"Aku mohon, jangan menangis," ulang Sasuke. Akan tetapi nyatanya gadis yang didekapnya tak merespon, malah diragukan apakah ia mendengarkan suara Sasuke. Dengan perasaan iba sekaligus bingung, Sasuke melepaskan pelukannya. Mencoba menatap wajah gadis di depannya. Kedua tangannya memegang bahu gadis itu erat.

"Saku… Jangan… Menangis, ya?" ucapnya dengan nada yang (dibuat) lembut, sehingga terdengar lucu. Sasuke mengutuk dirinya sendiri yang tak ahli dalam hal begini. Perlahan diangkatnya dagu gadis itu, sehingga membuat wajahnya terangkat dengan mata menatap Sasuke. Sasuke menelan ludahnya. Baiklah… bersikap… errr. Lembut?

Sasuke POV

Arrrrrgghh! Jujur aku paling benci keadaan seperti ini. Ah, kenapa juga si Panda itu mesti pergi! Hah, memang sih, aku jadi ada kesempatan untuk bersama Saku. Tapi… arrgh, pusing juga kan kalau dia nangis seperti ini. Ah, Gaara memang merepotkan! Sialaaaaann…

Ayolah. Ayolah berfikir. Apa sih yang biasanya dilakukan untuk menenangkan cewek nangis. Aseeeemm… aku akui, aku emang bego dalam hal begini. TAPI dalam hal lain tentu aja aku jago.

Argh, Saku pake acara nangis lagi. Asem.

Uh, oke. Sekarang gini aja.

"Sak… aku mohon sekarang kamu diam ya.. Aku tahu ini sulit buat kamu… tapi… kamu harus tahu, kalau ini bukan akhir dari semuanya. Maksudku… aku ingin kamu jangan bersedih lagi, Saku. Gaara bukan cuma cowok di dunia in-"

"Tapi itu beda! Kamu tidak tahu apa-apa, diamlah!" bentaknya padaku. Aku terhenyak. Peganganku pada bahunya mengendur.

"Aku tahu… aku mengerti, aku-"

"Kau tidak tahu!" potongnya cepat. Aku menelan ludahku. Bagus, Sakura. Kamu pinter, ya? Sudah susah payah aku menghiburmu kau malah seperti itu. cih, ayolah, diamlah Sakura! Ingin rasanya aku meremas wajahmu dan menyuruhmu diam sekarang. Tapi aku… ah ayolah… sial.

"Aku tah-"

"Heh buntut ayam! Mana mungkin kau tahu! Kau hanyalah orang yang tidak pernah jatuh cinta! Atau kamu tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan! Kehilangan orang yang aku cintai! Ha? Tahu apa kamu, buntut? Jangan sok menasehati! Aku tidak butuh itu! aku benci semuanya!" perkataan Sakura serasa menusuk. Aku terpaku. Tubuhku menegang mendengarnya. Kenapa? Apa dia… akh, aku benar-benar mati kutu. Dengan perasaan marah, sedih, kecewa, aku melepaskan cengkeraman tanganku pada bahunya. Biarlah… aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan. Sebegitu dalamkah ia mencintai Gaara sehingga ia begitu marah karena aku menyuruhnya untuk melupakan Gaara? Apa ini berarti tak ada kesempatan bagiku untuk mendapatkannya?

Aku melihat kearah wajahnya. Ia menatapku tajam dengan mata berair. Dalam waktu bersamaan aku merasakan iba sekaligus marah padanya.

Tapi aku merasa tidak mampu berkata apapun.

"Kau… ini semua gara-gara kau, tahu! Kenapa kau harus muncul di hidupku? Merenggut kebahagiaanku! Kau selalu jahat padaku! Aku benar-benar membencimu Sasu. Lalu.. kau juga. Aku benci kamu. Untuk apa kau selama ini bertingkah layaknya bos? Memangnya kenapa kalau aku tinggal di kos-kosan pria? Urusanmu, hah? Kau tak tahu apa-apa tentang aku! Apa sih maumu menyuruhku seenaknya? Bodoh! Sialan kau!" ucapnya sambil mendorongku. Aku melotot seketika. Apa maksudnya menyalahkanku seperti itu. Apa hubungannya aku dengan Gaara?

"Apa maksudmu kau menyalahkanku, hah? Apa hubungannya aku dengan Gaara, bodoh?" aku meledak.

"Ini karena kau seakan menghalangi aku dan Gaara selama ini!"

"Apa maksudmu menghalangimu? Aku tidak berbuat apapun?" bodoh sekali Sakura itu. apa maksudnya menyalahkanku.

"Sialan! Lebih baik kau diam!" ucapnya sambil mendorongku. Aku melangkah mundur.

SIAAAL…

Dengan kemarahan, tanpa sadar aku menarik lengannya yang mulai menjauh meninggalkan aku dan diluar kendali aku memegang pipinya kasar dan mencium bibirnya, melampiaskan semuanya. Aku… lepas kontrol.

PLAAK!

Aku merasakan pipiku memanas perih.

"BODOOOH!" gadis itu pergi… Sakura… pergi. Ia membalikkan badannya. Menyumpahiku dan berbalik meninggalkanku. Aku merasa… aku tidak tahu apa lagi yang harus aku lakukan. Aku mengutuk diriku. Aku benar-benar bingung. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi. Aku benar-benar bodoh melakukan itu pada Sakura. Aku menyesal…

Dengan kecepatan penuh aku mengejar gadis itu, menarik lengannya.

"Tunggu!" ucapku cepat padanya. Dia memukul tanganku dengan pisau tangannya. Cih, sakit tahu!

"Mau menghancurkan hidupku, eh?" ucapnya sarkastik. Tch, berlebihan sekali gadis ini ya ampun… aku sendiri bingung kenapa aku bisa suka sama gadis temperamental seperti dia. Merepotkan!

Aku hanya diam, hanya mampu memandanganya dengan tatapan tajam. Aku hanya ingin berbicara padanya lewat pandangan mataku. Aku harap dia mampu meresapi semua perasaanku. Aku harap… karena kenyataannya mata Sakura tidak pernah mau memandangku lagi. Dia mengacuhkanku, mengalihkan pandangannya yang nanar itu ke arah lain, asalkan bukan ke arahku. Oh, Tuhan… aku merasa bersalah sekali padanya. Kenapa tadi aku bertindak ceroboh. Ingin rasanya aku minta maaf tapi lidahku kelu. Bahkan aku merasa tak sanggup bicara apapun di depannya.

"…" Aku sama sekali tidak mampu berkata. Ampun… aku merasa bodoh. Cih… Sakura…

"Lepas, ayam!" ucapnya galak sambil menepis tanganku dari lengannya. Aku terdiam.

"Kau! Berhentilah menggangguku, SELAMANYA! Aku MUAK melihatmu!" ucapnya sambil menuding wajahku.

Aku menatapnya tajam menusuk, tapi rasanya dia sudah kebal.

"Kenapa kau menyalahkanku terus?" tanyaku. Aku tidak tahu mengapa, tetapi meskipun aku mencoba mengingkarinya, nada suaraku masih terdengar sedih dan kecewa bagiku. Tapi aku ragu Sakura mempedulikannya.

"Kenapa masih Tanya? Tentu saja karena kau selalu menggangguku!" ucapnya sinis. Matanya menatapku seolah aku mahkluk paling menjijikkan.

"Apa hubungannya dengan Gaara?" tanyaku lagi. Aku.. entah kenapa. Sulit sekali meledak untuk kedua kalinya di hadapan gadis ini. Aku merasa lemah.

"Kau menggangguku. Setiap aku ada waktu dengan Gaara, kau selalu mengacaukannya!" ucapnya sambil membuang wajahnya. Perlahan, beberapa tetes air mata manuruni pipinya. Hatiku mencelos seketika. Tapi aku lega, Sakura tidak semarah tadi. Nada bicaranya melembut. Entahlah, mungkin dia lelah berteriak membentakku.

"Aku tid-"

"Kau iya!" potongnya. Hah… aku mengobrak-abrik rambutku putus asa.

"Dan kau! K-kau… barusan… me-melakukan apa padaku, Sasukeeeee?" tangisnya pecah, kata-katanya terdengar memilukan. Akh, aku teringat apa yang aku lakukan padanya karena lepas kontrol.

"Aku benci kamuuuuu!" ucapnya sambil menangis. Ia memberikan penekanan pada setiap katanya. Aku tidak mampu bergeming. Aku memang salah, aku memang bodoh, Sakura…

"Maafkan aku, Sakura!" ucapku tanpa sadar. Aku tersentak, dan aku melihat dia sedikit terkejut walaupun tidak kentara. Ia mengangkat wajahnya.

"Terlambat!" ucapnya sambil tersenyum sinis. Aku tersenyum pahit.

"Aku menyesal…"

"Tidak berguna!" balasnya. Ia masih menatapku dengan wajah berderai air mata.

"Aku minta maaf, Sakura… aku mohon…" aku benar-benar bodoh. Entah mengapa, aku sudah memegang tangannya erat. Aku benar-benar memohon padanya. Aku… ah, semoga saja seorang Uchiha tidak lewat saat ini atau dia akan kejang-kejang begitu melihatku seperti ini. Ah, dari dulu aku memang tidak bisa jaim di depan gadis ini. Tunggu! Kenapa aku jadi terkesan tidak serius begini. Hei, Ayo serius Sasuke.

"Sudahlah, Sasuke… aku sudah lelah… mungkin semua ini telah terjadi padaku. Sudah takdirku bertemu orang sepertimu," katanya melembut. Hatiku girang seketika. Sungguh, gadis ini benar-benar cepat berubah. Di suatu waktu dia dapat marah-marah tidak karuan, dan dilain sisi, dia bisa berubah seperti itu tadi, melembut. Lihat, dia terse-

"Mungkin lebih baik aku tidak mengenalmu mulai dari sekarang. Pergilah dari kehidupanku!"

Nyum… seketika tanganku jatuh lemas terkulai di samping tubuhku. Aku menunduk.

"Selamat tinggal, Sasuke! Jangan muncul di hadapanku lagi, ya?" nadanya memang lembut, tapi rasakan maknanya… aku benar-benar… Hhh..

Dia akhirnya pergi meninggalkanku. Aku tidak tahu dia akan apa. Aku masih terpaku meresapi apa saja yang ia lakukan tadi. Apakah dia benar-benar anti terhadapku? Tak terasa langkahku kembali mengikutinya. Aku… ada sesuatu yang ingin kukatakan.

"Berhenti," suara berat yang terdengar memerintah sekaligus memohon itu meluncur dari bibirku. Dia pun berbalik, gadis itu, menatapku tajam. Lagi.

"Bukankah sudah kubi-"

"Kau ingin tahu kenapa aku selalu menyuruhmu, merusak pandanganmu, berada di sekitarmu, selalu mengganggumu?"

"Tidak perlu kau bilang! Aku tahu kau memang per-"

"Itu semua karena aku MENYUKAIMU!" ucapku setengah berteriak. Dia membelalakkan matanya tak percaya. Tangannya terangkat menutupi mulutnya yang menganga kaget itu.

"Aku… aku sudah menyukaimu dari dulu, Saku. Aku… melakukan ini semua karena aku tidak mau kau jauh dariku. Aku selalu ingin di dekatmu. Aku hanya ingin minta maaf apabila selama ini aku selalu mengganggumu. Aku berjanji… setelah ini aku tidak akan mengganggumu lagi. Aku tidak akan muncul di hadapanmu lagi. Mungkin… nanti aku akan pindah ke Univ lain. Sehingga kau tidak perlu cemas lagi karena aku. Terimakasih selama ini sudah membuatku senang berada di dekatmu. Mungkin ini yang terakhir, aku akan berusaha melupakan perasaanku padamu. Selamat tinggal," ucapku terlampau panjang. Aku tidak peduli. Aku kembali kepada diriku yang dulu, ya, dulu sebelum mengenal gadis Haruno ini. Aku akan kembali menjadi diriku yang muram dan tidak menyenangkan. Hn… aku berbalik, melangkah meninggalkan gadis yang teramat aku cintai.

Beberapa langkah… aku masih berharap ia berubah pikiran. Seperti di film-film, ia mengejarku, memelukku, dan meminta maaf. Dan… eh? Oh, ayolah… aku bukan pecinta sinetron atau apa… aku hanya mengintip sedikit saat ibuku sampai aku rasa sudah sangat jauh, ia tak mengejarku, bahkan sekedar memanggil namaku pun tidak. Ugh, aku ingin berbalik, tapi… bukankah aku terlihat lemah? Oh ayolah… bisa tolong ambilkan spion?

Grrrhh… aku memukul jok motor kesayanganku dengan kesal. Ternyata Sakura benar-benar tidak mengejarku. Dan aku… padahal aku sangat mengaharapkannya. Aku bilang ingin melupakan perasaanku padanya. Tapi aku pikir itu tak akan berhasil dari waktu-waktu ini.

Aku mengendarai motorku pelan-pelan sambil menenangkan hatiku, sembari meresapi angin senja yang mulai dingin ini. Hh… Sakura… sedang apa kau sekarang? Apa kau sudah pul- eh? Tunggu! Dia. Tadi. Berangkat. Bareng. Aku. Dan. Sekarang… Argh! Aku berbalik dan mengendarai motorku kembali menuju ke tempat gadis pink itu berada. Mataku memandang sekeliling untuk menemukannya. Tch, kemana dia? Lho? Dia benar-benar tidak ada? Sial….!

Huh. Sudah sejam aku berkeliling di tempat itu untuk mencari Sakura yang sampai detik ini tak kunjung aku temukan. Dimana dia? Tolong seseorang beritahu dia. Hah? Diculik? Jangan ngaco ah. La terus… ada pendapat lain? Jalan kaki? Emh… mungkin kalau dia cukup bodoh. Hampir 8 km, di suasana hamper malam begini? Ah, aku ragu… tapi… hmh. Lupakan. Aku mungkin harus kembali ke kost. Berharap dia sudah pulang atau bertemu di perjalanan nanti.

Aku memarkirkan motorku di garasi rumah kost ini kemudian melangkah masuk dengan gontai. Aku tidak menemukan Sakura di perjalanan tadi. Uh, dimana dia? Dimana Sakura?

Aku memasuki rumah kost dan menemukan beberapa kepala dengan rambut gaya aneh. Eh? Iya aku memang berambut model aneh tapi kan setidaknya beribu kali lebih tampan daripada mer- ah. Lupa. Ehm. Baiklah… cari Saku.

Aku masuk ke dalam ruangan mengabaikan Neji, Lee, Naruto dan Chouji yang sedang menonton tv. Aku berjalan menuju ke kamarku. Hah… saat melewati dapur pun, aku tidak menemukan Sakura-dalam wujud Shiro tentunya. Hhh…

Aku segera mengambil handukku kemudian berlalu pergi untuk mandi dan kemudian berniat mencari Sakura lagi. Ya. Aku. Harus. Mencarinya. Kubuka pintu kamarku dan aku sangat terkejut ketika mendapati Sakura disana. Ya, didepan pintu kamarku.

"Sa-sasu… ke…" ucapnya pelan, dan beberapa detik kemudian air mata mengenang di pelupuk matanya. Oh tidak. Ayolah, jangan menangis lagi, Sakura. Aku mohon.

"Kenapa?" ucapku singkat. Sial. Di saat begini, kenapa yang bisa kuucapkan hanya ini. Dengan nada dingin seperti itu, dia pasti akan marah lagi padaku. Ayolah… andai aku menjadi seorang Naruto. Aku pasti tidak akan begini, kan? Kulihat dia menunduk kemudian tersenyum paksa. Lalu menggeleng.

"Aku… Aku… hanya…"

"Katakan saja!" ucapku dengan nada tak sabar sambil tanganku memegang palang pintu. Dia menunduk semakin dalam. Wignya berwarna merah itu menutupi wajahnya dari pandanganku. Dengan tak sabar aku menarik lengannya masuk. Aku bahkan lupa kalau tadi aku mengatakan padanya kalau aku akan meninggalkannya-secara tersirat. Aku menutup pintuku segera sebelum semuanya lewat dan memergoki aku berdua dengan Shiro di kamarku.

Diam menyelimuti. Aku merasakan atmosfer dikamarku mulai tidak enak, akibat kecanggungan kami berdua. Kulihat dia mengusap air matanya dengan punggung tangannya asal-asalan.

"Apa perlumu?" ucapku dingin. Aku ingin tau apa yang akan dia lakukan. Meskipun aku juga takut kalau dia mulai menjauhiku lagi karena sikapku. Aku melihat dia mendongakkan wajahnya untuk menatapku yang ehm. Lebih tinggi dirinya.

"ka-kau… mau… pin-pindah kemana?" ucapnya pelan. Dan Oh my goat-?- aku melihat semburat merah tipis di pipinya yang menjadi mirip dengan tomat itu.

"Ke Univ Fujiyama," ucapku singkat. Dia terlihat terkejut dan Nampak ada kesedihan pada raut wajahnya dan itu membuatku merasa senang sekaligus lega. "Kenapa?" lanjutku ketika beberapa detik lalu tidak ada respon kata-kata darinya. Dia menggeleng.

"Aku… aku bertanya. Dan.. Dan… kapan… ka-kau… akan pergi?" tanyanya. Aku terdiam. Mengamati setiap garis wajahnya yang lembut dan menarik itu.

"Entahlah, besok atau beberapa hari lagi. Tenang saja aku tidak akan meng-"

"JANGAN PERGI!" jeritnya mengagetkanku. Aku terlonjak.

"A-apa?"

"Jangan… hiks… pergi," ucapnya sambil terisak.

"Hn? Kenapa? Kau merindukanku?" ucapku dengan nada yang dibuat bingung. Padahal aslinya aku sangat senang, ah, kutahan diriku untuk tidak menari balet-?-.

Dia menunduk. Haha.. aku harap dia akan mengatakan sesuatu yang baik. untukku tentu.

"I… iya. Sasuke… Maafkan aku, aku tidak bermaksud membentakmu tadi. Maaf, ya?" ucapnya lembut sambil meremas baju yang ia kenakan. Aku terdiam. Hatiku berbunga-bunga. Berhubung aku sedang jaim dihadapannya. Aku tetap menjaga wajah stoicku sambil mempertahankan bibirku yang sedari tadi minta untuk melengkung membentuk busur.

"Sasuke?" ucapnya. Aku masih terdiam. Apa yang akan ia lakukan, ya? Hah, semoga dia tidak marah karena aku diam. Dia kan temperamental.

"Hn?"

"Kau dengar tidak, sih?" ucapnya sedikit membentak. Aku mendengus kesal.

"Bisakah kau ramah sedikit, Nona?" ucapku dengan nada kesal. Dia menutup mulutnya rapat.

"Baik. jadi… Iya, aku menyesal telah berbuat itu terhadapmu, Sasuke. Maafkan aku," ucapnya sambil menatapku menyesal. Aku mengalihkan pandanganku. Hei, aktingku bagus, ya? –plak-

"Secepat itu berubah pikiran?" ucapku dengan nada yang kuusahakan amat dingin. Dia menghela nafas.

"Iya. Aku sadar, Sasuke. Maafkan aku. Tidak seharusnya aku membentakmu dengan kasar seperti itu. meski kau sangat menggangguku… tapi… tapi aku juga… juga akan kehilangan kalau kau…" semakin lama suaranya semakin pelan. Aku mendengus, kali ini menahan tawa.

"Benarkah?" ucapku meyakinkan. Oh, aktingku gagal. Aku terdengar seperti… menggoda? Ah, lupakan, kita dengar jawabannya.

"Iya, ayam," ucapnya sambil menatapku dengan bibir mengerucut. Aku tersenyum. Dia juga.

"Jadi…" ucapku dan dia bebarengan. Ugh. Kulihat dia mengalihkan pandangannya dengan wajah memerah. Aku bingung dengan gadis ini. Berubah-ubah sekali. Hn..

"Apa?" ucapku. Dia menggaruk kepalanya. Eh tidak, wignya.

"Jangan pergi. Tetaplah disini, sudah cukup aku kehilangan Gaara yang aku sayangi. Aku tidak mau kehilangan orang lain lagi yang aku sayang," ucapnya pelan dan dia langsung menutup mulutnya begitu sadar apa yang ia katakan. Hah. Baru tadi sore ia bilang membenciku dan tak ingin melihatku. Sebenarnya, dia ini bagaimana sih? Membingungkan!

"Apa?" ucapku meminta penegasan.

"Kukira kau tidak tuli!" ucapnya dengan wajah yang terlihat sisa memerah. Aku tersenyum.

"Aku juga menyayangimu, kok." Ucapku sambil tersenyum. Ah, biar. Dari dulu aku memang OOC kalau dihadapkan padanya. Aku memberanikan diriku untuk mengelus wignya sebentar dan ternyata ia tidak menolak.

"Kau tidak jadi pergi, kan?" ulangnya sambil melihatku harap-harap cemas.

"Tentu saja tidak," ucapku sambil tersenyum manis. Dan…

CUP.

Aku merasakan pipiku barusan… dan gadis pink ini berjinjit… dan sekarang efek tambahannya pipiku mulai memanas beserta jantungku yang tiba-tiba marathon begini.

"Aku menyukaimu!" ucapnya malu-malu. Aku tersenyum senang.

"Oh ya? Sejak kapan?"

"Entah. Tapi aku sadar, aku mulai bergantung padamu, Sasu-kun," ucapnya tiba-tiba yang membuat hatiku menjadi damai. Tak terasa aku langsung memeluknya dengan erat, tak ingin meninggalkannya.

"Terimakasih," ucapku sambil mengecup puncak kepala. Tidak. Wignya.

Haah… akhirnya…

"Sama-sama, buntut ayam!" katanya sambil menyeringai jahil. Aku tersenyum kecil menikmati pipinya yang tiba-tiba memerah lagi. Ah, memang, uchiha penuh pesona…

Mereka berdua tidak menyadari bahwa sedari tadi, teman-teman termasuk Itachi melihat adegan itu dengan mulut menganga. Salahkan Sasuke yang tidak menutup rapat mulutnya.

Itachi yang melihat adegan Sasushiro kejang-kejang dengan mulut berbusa, ah tidak. Abaikan. Dia membelalakkan matanya dan melongo. Sedangkan Lee masih saja menggelengkan kepalanya.

"Sasuke memang tampan. Tapi… (bergidik) dia… gay?"

Sai, Shikamaru, Naruto, Neji hanya tersenyum maklum.

"JELASKAN!" ucapkan Itachi yang tiba-tiba muncul di hadapan Sasusaku. Sasuke terkejut dan melepaskan Shiro secepatnya.

"A-apa?"

"KAU GAY KAN?" jerit Itachi OOC. Sasuke menggeleng cepat. "Maksudmu apa bodoh, aku ini normal tahu! Dia Sakura!" ucap Sasuke sambil menunjuk Shiro yang bersembunyi di belakang tubuhnya. Itachi dan semuanya mangap minus yang sudah tahu.

"Ja-jadi selama ini… " Lee membelalakkan matanya berlebihan.

OWARI


UchiHAruno Sasusaku

Argh. Maafkan saya yang gaje ini. Sudah mengupdate lama, ga mutu lagi. Mangap. Dulu sudah selesai, tapi kemudian hilang, setelah itu aku pas mau bikin lagi malah kompienya sekarat. Argh! Terus, awalnya mau bikin Sasu itu pergi ninggalin Saku lamaaaaa banget terus suatu ketika…. Jeng jeng…. Ketemu deh, tapi ntar pasti panjang banget ceritanya. Ya? Aduh, pokoknya banyak idenya tapi… banyak kendala. Hehehe. (^_^)v

Bonus. (Silakan bayangkan adegan bawah ini) wekekek.-plak-

Ini untuk menjawab pertanyaan dari kelanjutan fict yang menggantung itu*nunjuk-nunjuk atas*

Q : Apa yang akan dilakukan Lee setelah mengetahui kalau Saku selama ini tinggal di kos?

A : Dia bakalan berteriak lebay ke Saku terus nyoba meluk, nah, jangan salahkan Sasu kalau tiba-tiba alis Lee yang tebal itu miring sebelah.

Q : Apa yang akan dilakukan Itachi?

A : Dia Cuma ngangguk-ngangguk gaje. Pada dasarnya kan dia juga seneng sama Saku.

Q : Apakah tidak pernah ketahuan Tsunade atau nenek Chiyo selama di kost?

A : Tidak. Hehehe –maksa-. Pokoknya engga, Saku bisa melindungi dirinya-?- setiap Tsunade datang, dengan cara pergi ke kost Ino. Kan Tsunade mampir ke kostnya dijadwal. Sedangkan nenek Chiyo kan matanya rabun. (~,~)v

Q : Dimana Saku akan tinggal setelah itu?

A : Sasu bakalan nyariin karena dia ga mau, Sakunya itu digodain sama penghuni lain yang udah tau. Terus, dia pindah juga deh, pindah kost. Hehe –gaje-

Q : Bukanya Saku tu takut kalau ketahuan, terus dianggap cewek yang –piiiiip-

A : Nyatanya tidak. Lagipula, mereka-penghuni kost- tidak mau berakhir tragis di tangan Sasu.

Hehe, maaf gaje bener yak? Ya udah pokoknya terimakasih banyak buat semua yang sudah mereview serta membaca fict ini. Saya benar-benar senang. :D


Terimakasih kepada :

Uchiha Reiko Ichihara,

Hinamori hoho

Ini udah diupdateeee... makasih banyak yah... ya? hehehe... :D -hug-

Rizuki Akira

Ini sudah apdet. makasih sudah membaca dan mereview... :D -hug-

Pen

Siap! ;) Terimakasih banyak... -peluk-

Kenshin

Hehehe -ketawa gaje-. benarkah begitu? 8D -hidung megap2-. hehehe... makasih banyak yah! -hug-

Gaara itu dijodohin ama seseorang, tetapi maaf tidak diceritakan karena keburu selesai... Maaf yah? (bilang aja belum mikir ampe sono-plak-)

Erika-yukina

Iyaaa... terimakasih banyak yah... :D

Hihihi, ini udah updet... :D

Saskra HyunKa

lorist angela

Namikaze Sakura

Waduh... cup cup... sudah jangan menangis... ahihihi -ketawa ala bernad bear-ditonjok-. aduh, maaf yah... tapi sekrang udah happy ending... :D makasih udah mereview... -hug-

Uchiha Tsuki-chan Akatsuki

Iya... hihihihi... -ketawa kunti~dihajar-. makasih udah review... -hug-

bertharahma

Siap! Ini sudah update... hihihi... -hug- arigatou... :D

InnieEmmha SiiRadioButut

Katsuya Fujiwara

Sakura-chaNoRuffie-chan

Namichan

Ingat dong... yang di FB itu, kan? 8D

Waduh, makasih sudah mengingatkan saya yah? :D makasih imouto... -hug- :D

Pink Uchiha

ne

Iyaaahhh, hahaha... iya deh, sono gaara buat kamu. hahaha (Masashi bawa golok). errr... engga kok, mas. ne tuh! -nunjuk-nunjuk ne~ dikeroyok-

Aduh, pokoknya makasiiiiiih... -hug- :D

rizkarina

Hue? makasihh... :D

Hihihi, udah update nih... maaf kalau mengecewakan yah! Salam kenal juga... :D

Nanairo Zoacha

Farah aisitheru sasusaku

sayaka dini-chan

Huwaaaa... terimakasih ya? hahaha *ngakak gaje*. saya benar-benar makasih ada yang terhibur cerita ini-gaje-. Makasih pokoknya -hug-

Green YupiCandy Chan

Micon

HUwaaaa... ternyata aku ditunggu juga, yah! :D -peluk2-... hehehe... tapi maaf kalau hasilnya tidak sesuai harapan yah? 8D

Katsuya fujiwara ngga login
Putri Hinata Uzumaki

Dan semua reader yang sudah mereiew maupun mengikuti cerita ini dari awal. Doumo arigatou gozaimashita! :D