.: Ruu & Nyaa presents :.

.

.

A Bleach fan fiction

.

.

.

'Thanks for the love you gave'

Bleach belongs to tite kubo

Warning : AU, OOC, OC, TYPO-S dll

Chapter 3

~~0oo0~~

Bel pulang sekolah sudah dibunyikan. Siswa siswi karakura high school berhamburan keluar, saling mendahului untuk pulang ke rumah. ada yang berjalan sambil mengobrol, mungkin sembari menunggu senja menampakkan keanggunannya.

Tapi tidak untuk rukia dan kawan kawannya. Lihat saja, ketika semuanya sudah berlari pulang ke rumah, mereka masih di sana membicarakan sesuatu. Kelas memang sudah sepi, dan keempat remaja itu membuat kelas itu serasa milik mereka sendiri.Tunggu –empat?Kemana si cantik iris ungu?

"Hei kurosaki, memangnya apa lagi yang mau dibicarakan kuchiki-san?" tanya ishida membuka pembicaraan

"Hh, entahlah. si midget itu seenaknya sendiri memutuskan" jawab Ichigo malas.

"Apa ada hubungannya dengan gadis yang kemarin?" tanya Inoue

"Sepertinya begitu"

.

.

" –tidak apa-apa, kemarilah Runa-chan. Temanku semuanya baik, aku jamin tak ada satu pun yang akan menyakitimu"

Semua menoleh. Di depan pintu geser sana, Rukia tengah membujuk seseorang di balik punggungnya untuk menampakkan diri di hadapan teman temannya.

"Oi, Rukia apa yang kau lakukan?" tanya Ichigo

" –oh Ichigo ! Runa-chan, masih ingat dia?" kalau ditanya begitu si kecil juga penasaran. Pelan pelan rukia bergeser ke samping untuk mengenalkan runa, gadis yang ia dan ichigo temukan.

"Oh! Tuan shinigami yang kemarin ?" usa tabi meloncat turun dari pundak runa dan menyapa ichigo dan teman temannya

"Kyaa ! Kelincinya benar-benar bisa berbicara !" pekik inoue.

" –kalau boleh, aku lebih suka dipanggil usa tabi, nona"

"Usa tabi ya? Nama yang lucu. Hai, namaku Inoue Orihime, yang pakai kacamata itu Uryuu Ishida-" katanya sambil menunjuk ishida

"Halo" sapa ishida singkat

" –yang berbadan besar namanya sado yasutora" lanjut orihime

"Yo"

" –dan yang terakhir, Kurosaki Ichigo, shinigami yang kau temui kemarin"

"Hai" sapa ichigo tahu runa sedikit takut bertemu orang dia mencoba untuk tidak menakut nakutinya.

".. .. .. Namaku Runa. Senang bertemu kalian" kata runa sambil tersenyum manis.

"Runa ya? Kuchiki-san sudah cerita cukup banyak tentangmu. Aku turut bersedih atas kejadian yang menimpamu" inoue berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan runa, dan mengacak sayang rambutnya.

"Terima kasih" jawab runa pelan.

"Jadi.. .Kuchiki-san? Ada yang ingin kau bicarakan lagi?" tanya ishida

"Oh! Benar juga ! Jadi teman-teman, alasan kenapa aku bisa terlambat sampai jam pelajaran ke 3 adalah, aku bertemu dengan runa dan usa tabi di tempat hollow hollow itu berkumpul. Setelah pertarunganku dengan para hollow itu selesai, aku menanyakan sedikit tentang mereka. Syukurlah, ingatan usa tabi masih cukup baik, dia ingat dari mana mereka datang"

".. … ?"

" –Soul society. Mereka bilang, mereka dari soul society"

"Apa ? Apa mereka. . . shinigami ?"

" –bukan, bukan ! bukan itu yang aku maksud. Memang mereka datang sari soul society, tapi mereka hanya menggunakan tempat itu sebagai perantara. Artinya, mereka datang dari tempat lain, dan hanya singgah sebentar di soul society"

"Lalu? Apa tujuan mereka datang ke dunia manusia?"

" –maaf, usa tabi hanya ingat sampai di situ. Tapi yang membuatku jauh lebih terkejut adalah.. ."

.

.

.

"Mereka juga bilang, pernah singgah di tempat bernama Hueco Mundo"

"Hueco mundo juga ? Benarkah itu usa tabi?" tanya ichigo tak sabaran

"Hanya seperti soul society, kami sekedar karena kami tampak asing disana, hollow dan arrancar sempat beberapa kali menyerang kami, itulah sebabnya, runa trauma dan ingatannya hilang saat datang ke dunia manusia."

"Lalu, ingatanmu?" tanya ishida

"Memang sempat hilang, tapi berbeda dengan runa. Sedikit demi sedikit, aku mulai ingat kembali semuanya"

"Kenapa bisa begitu?"

.

.

.

Flashback

Hueco mundo.

"Runa ! tetap bersembunyi disana !"

"I.. . Iya"

Blarr ! Menos menos raksasa itu menyerang usa tabi yang lengah dengan cero-nya. Tapi pertahanan kelinci itu tak retak sedikitpun.

"Sial ! aku.. tak.. akan.. KALAH ! –CERO !" cahaya merah yang semula kecil, tapi sedikit demi sedikit berkembang menjadi besar. Dan terciptalah cero yang selevel dengan espada. Dalam hitungan seper-sekian-detik, kumpulan menos itu pecah berkeping-keping.

"Kau berhasil usa tabi !" teriak runa girang dari belakang sana.

".. … hh..hh..hhh" usa tabi tak bisa menjawab. Dia ambruk dengan level espada, bukan hal yang mudah semudah membalik telapak tangan.

"Usa tabi?"

" -? Usa tabi? Kau tidak apa apa?"

" Usa tabi ! hei !usa tabi !" runa berlari secepat mungkin menuju usa tabi

" –tidak, usa tabi ! hei, bertahanlah !"

" –runa, maafkan aku" jawabnya sambil terengah engah. Pandangan matanya sudah kabur, dan perlahan, ingatannya juga kabur.

"Tidak !usa tabi, jangan pergi, usa tabi ! USA TABII !"deg.. deg.. .deg. .

Degup jantungnya terdengar begitu jelas di telinga tajam usa tabi.

Dan yang terakhir ia tahu sebelum ingatannya dan juga kesadarannya hilang,

Runa berteriak.

Entah ini karena usa tabi diambang kematian atau tidak. Ia merasa di sekitarnya begitu berat, tapi juga hangat.. .

Runa.. .

.

.

.

Flashback off

~~0oo0~~

"Dan begitu tersadar, Runa sudah tergeletak lemas di sampingku dan ingatanku tidak sepenuhnya hilang –Aku benar benar merasa runa melakukan sesuatu padaku, tapi aku tak tahu apa yang ia lakukan" semua mata tertuju pada Runa. gadis kecil yang sedari tadi menggenggam tangan rukia itu tampaknya sedang melamun.

"Runa-chan?" tanya usa tabi membuyarkan lamunan runa.

" –lihat, usa tabi. Matahari senja. Cantiknya..." kata runa sambil menunjuk jendela yang di depannya. Senja terlihat jelas dari sana. Gagak gagak berkaok-kaok saling bersahutan mengantarkan kepergian matahari.

"Gawat! Sudah sore !" kata rukia panik

" –kita harus cepat pulang kalau tidak mau membuat yuzu dan Karin khawatir, rukia." Kata ichigo sambil menenteng tasnya dengan gaya khasnya.

"Lalu bagaimana dengan runa?" tanya orihime.

" Inoue-san, bawa saja dia ke apartemenmu" usul sado.

"Chad benar ! Inoue, bisakah dia tinggal di tempatmu untuk sementara?"

" Eeh ! Ichigo, tidak bisakah dia tinggal bersama kita ?" tanya rukia

"Boleh saja, asal kau punya alasan yang tepat untuk mengelabui yuzu dan Karin juga tempat tidur untuknya, rukia"

Rukia tersentak. Ichigo benar juga.

" Inoue-san, apa tidak apa apa?" tanya rukia.

"Tentu saja ! Dia bisa tinggal selama dia mau, ya kan runa-chan?" runa hanya menggenggam lebih erat tangan rukia dan bersembunyi di baik punggung rukia. Rukia menangkap tatapannya yang mengatakan 'jangan-tinggalkan-aku'

"Tidak apa apa runa-chan. Inoue-san baik kok. Besok aku akan mencari cara agar kau bisa tinggal bersamaku dan ichigo, ya?" hibur rukia sambil berjongkok menyamai tingginya. Tapi tetap saja tatapan runa mengatakan -tetap-saja-aku-tidak-mau. Tapi setelah menatap rukia yang tersenyum lembut padanya, runa akhirnya mengangguk setuju.

".. . .Baiklah"

"Bagus !anak pintar !" kata rukia sambil mengacak sayang rambut Runa.

~~0oo0~~

"Baiklah, kita berpisah di sini. sampai jumpa besok runa-chan" rukia melambaikan tangannya dan berjalan lurus bersama dengan ichigo.

"Iya, daaah" Runa balas melambai dan belok ke kanan bersama dengan orihime.

"Sampai jumpa inoue-san" pamit ishida. Sado hanya melambaikan tangannya,

"Hati hati di jalan ishida" pesan sado dan ishida berbelok ke arah yang berlawanan.

~~0oo0~~

Jalanan tempat runa dan orihime berjalan sudah sepi. Angin malam berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan dan membuat kesan menyeramkan apalagi ditambah ranting ranting yang saling bergesekan dan suara burung hantu yang saling bersahutan.

Tapi runa tidak takut. Gadis kecil itu tidak takut sama sekali.

"Runa-chan, dingin tidak?" tanya orihime yang menggandeng erat tangan mungilnya. Runa tersenyum dan menggeleng.

Kuchiki nee-san baik sekali.

"Jangan takut ya, sebentar lagi kita sampai kok"

"Runa tidak takut, hime-nee, karena runa punya teman sekarang" orihime runa sudah bisa sedikit terbuka dengannya, -sekaligus kaget karena dia dipanggil hime-nee.

Usa tabi melirik runa dan terkekeh kecil. Runa benar benar polos.

"Runa… ."

"!" tap! Usa tabi menghentikan langkahnya seketika dan menoleh ke belakang.

"Ada apa usa tabi?" tanya runa

" –tidak.. Tidak ada apa-apa jalan lagi" katanya dan kambali berjalan di samping runa.

.

.

Itu tadi Cuma perasaanku saja atau memang.. .. . ada yang memanggil Runa?

~~0oo0~~

Kediaman kurosaki

"Kami pulang !"

"Rukia-nee ! Ichi-nii ! selamat datang, kenapa baru pulang sekarang ?" sambut yuzu dengan nada khawatir. Dia sudah tidak memakai celemek, artinya kemungkinan dia sedang belajar atau menonton tv.

"Maaf membuatmu khawatir yuzu, ada urusan sebentar di kelas, jadi pulang terlambat" jawab rukia.

"Oh, begitu. Makan malamlah dulu, sudah kusiapkan di atas meja"

"Karin dan ayah mana?" tanya ichigo

"Karin ada di kamar, kalau ayah sedang pergi ke tempat urahara-san. Baru saja dia pergi"

Mendengar jawaban yuzu, Ichigo dan rukia berpandangan.

Tumben. Memangnya ada apa ya?

"Oh! Ayah juga titip pesan, kalau ichi-nii sudah kembali, disuruh menyusul ke tempat urahara-san"

"Bagaimana dengan rukia?"

"Entahlah. Ayah hanya bilang tentang ichi-nii."

"Oh" jawab ichigo singkat.

"Eeh, makan malamnya?" tanya yuzu yang kage melihat ichigo segera naik ke kamarnya.

"Ya, ya, ya. Aku akan makan setelah ganti baju" kata ichigo sambil menuju kamarnya.

Ichigo segera masuk dan menyalakan lampu kamarnya.

"Hei, ichigo" panggil rukia dari belakng ichigo

"Hn?" jawab ichigo tanpa melihat rukia

".. ... . Ah, tidak. Tidak jadi"

"? Dasar midget aneh"

Ichigo sudah bersiap melindungi kepalanya kalau-kalau rukia akan memukulnya. Tapi tidak, sepertinya rukia tidak mendengar ichigo.

"Hoi, rukia?"

Tidak ada jawaban. Si iris ungu terus menatap lantai kamar ichigo.

"Rukia ? Hoi, rukia !" ctik! Ichigo menjentikkan jarinya berkali kali di depan muka rukia.

Pyarr ! sketika lamunan rukia pecah seperti gelas kaca yang dijatuhkan dari meja.

"Oh.. eh, ichigo. ada apa?"

"Hah? Harusnya aku yang bertanya begitu, ada apa denganmu midget?"

"Tidak. Tidak ada apa apa" jawab rukia pelan kemudian membuka klosetnya dan masuk ke dalam.

" ?" ichigo hanya bisa mengerutkan alis melihat sikap rukia.

"Hh. Ya sudahlah" desah ichigo kemudian melanjutkan ganti bajunya.

~~0oo0~~

Setelah makan malam

"Yuzu!" panggil ichigo dari teras

"Ya ichi-nii?" jawab yuzu.

"Aku pergi dulu ke tempat urahara-san. Kau dan karin tidur saja duluan"

"Un" jawab yuzu sambil mengangguk

"Bagaimana dengan rukia-nee?" tanyanya sekali lagi

"Dia di kamarku. Sudah ya" pamit ichigo agak sedikit terburu buru,

Yang benar saja ! sudah malam begini, kenapa masih saja memanggilku, hah?

Setelah merapatkan jaket birunya, langkah ichigo pun terbawa menuju tempat urahara-san.

~~0oo0~~

Kediaman Urahara

"Oh! Kurosaki-san !" panggil ururu di depan toko urahara. Kebetulan dia seda !ng membawakan teh untuk urahara, isshin, dan yoruichi.

"Ururu?"

"Mm.. manajer sudah menunggumu, silahkan ke sini" kata ururu dengan gaya khasnya dan menyuruh ichigo untuk mengikutinya.

Sreekkk

"Oh, ichigo-kun ~~! Kau sudah sampai rupanya~!" sambut urahara sambil mengibaskan kipas kecilnya.

"Hn. Ada apa kau me-" wussshh ! tiba tiba saja ishhin meloncat dengan gaya super-daddy-nya

"ICCHHIIIGGGOOOO~~!"

Hhhhh.. ..

Tap. Ichigo melangkah santai selangkah ke kanan dan menghindari pelukan maut ayahnya. Dan isshin pun sukses mendarat di tembok dengan gaya-yang-sungguh-tak-enak-dilihat-

"Ada apa kau memanggilku urahara-san?" tanya ichigo malas.

"Duduklah dulu ichigo-kun"

"Waw. Refleksmu masih saja bagus ya ichigo?" puji yoruichi yang sweatdrop melihat isshin masih dengan posisi tidak enak seperti itu.

"Terima kasih yoruichi-san"

"Baiklah ichigo, kita langsung saja. Lagipula sepertinya kau benar benar lelah." Urahara menyeruput tehnya sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya.

" –Ichigo, aku ingin kau memiliki buku ini" kata urahara sambil menyerahkan sebuah buku yang bersampul merah marun.

"Hah ? Buku apa ini, urahara-san?" tanyanya sambil menerima buku itu

"Itu buku cerita tentang legenda Kerajaan Hoshina" jawab yoruichi

" ?" ichigo hanya bisa mengerutkan kening mendngar jawaban itu

"Ceritanya terlalu panjang kalau untuk diceritakan, bacalah di rumah. Ayahmu akan memberitahumu sesuatu setelah kau membaca legenda itu" perintah yoruichi

"Aku tak mengerti maksud kalian, tapi baiklah" jawab ichigo sambil beranjak meninggalkan tempatnya.

"Ichigo, bagaimana dengan ayahmu?"

"Oh. Benar juga. Hampir saja lupa." jawab ichigo yang disambut sweatdrop oleh yoruichi dan urahara

.

.

.

.

~~0oo0~~

"Kami pulang" salam ichigo dan isshin bersamaan saat memasuki rumahnya

Tidak ada jawaban. Tidak aneh, yuzu dan karin pasti sudah terlalu letih dan tertidur di kamarnya.

"Selamat malam ichigo" kata isshin pada anak laki laki satu satunya yang sedang beranjak menuju kamarnya

"Hn" Jawab ichigo tanpa menoleh pada ayahnya.

Ichigo's P.O.V

Dasar urahara-san ! kenapa memanggilku malam malam hanya untuk menyerahkan buku ini, sih? Haah... .. .

Ng? Kenapa.. .lampu kamarku masih menyala? Apa rukia masih belum tidur?

Kubuka pintu kamarku perlahan, menimbulkan suara berdecit yang lumayan mengganggu telinga.

"Rukia?" panggilku pelan. Takut mengganggu kalau kalau memang rukia sudah tidur.

Tidak ada jawaban.

Yang terdengar hanya suara dengkuran pelan.

Oh, pantas saja... ..

Dasar midget, bagaimana bisa dia tertidur di atas meja belajarku ?

Setelah kuletakkan buku bersampul merah itu, aku menjulurkan tanganku untuk membangunkan rukia. Tapi begitu kulihat wajahnya yang tertidur, aku jadi tak sampai hati untuk mebangunkannya.

Nyenyak sekali.. .

Kugaruk tengkukku. Bingung. Apa yang harus kulakukan? Tak mungkin aku membiarkan dia tidur di sini semalaman kan?

Ah, sudahlah lebih baik dia tidur di klosetnya. Kugeser pintu klosetnya lalu menggendong rukia bridal style.

Haah, aku tak tahu dia seringan ini.

Perlahan aku membaringkan rukia di futonnya.

Dan ketika kulihat wajah damainya, aku baru menyadarinya.

Aku telah terjebak pesonanya.

Kami-sama.. . perasaan ini. . . perasaan apa ini? Rasanya degup jantungku selalu berbeda bila berada di dekatnya, dan kenapa.. . rasanya selalu ingin kulindungi iris ungu ini, dia memang terlihat kuat, tapi entah kenapa jauh di dasar hatiku, aku ingin sekali melindunginya. Seperti dia adalah gelas kaca yang mudah pecah kapan saja. Tch, dan aroma lavendernya, seperti aromatherapy tersendiri untukku.. .

Kami-sama.. .

Apa mungkin, aku telah jatuh cinta padanya?

Aku tersentak.

HAH ! Apa yang telah aku pikirkan ? Tidak, seorang kurosaki ichigo tidak akan melankolis hanya karena cinta.

"Cih" Kugaruk tengkukku dan kulihat wajah damai rukia sekali lagi. Pikiranku tiba tiba buram. Kudekatkan wajahku padanya, sebisa mungkin menahan nafasku agar tak membangunkannya dan.. .

Cup!

Kukira satu kecupan di kening tak akan membangunkannya.

"Selamat malam rukia"

Dan akhirnya kugeser pintu klosetnya.

End Of Ichigo's P.O.V

~~0oo0~~

Ichigo kurosaki, kelihatannya Kami-sama akan membantu perjalanan cintamu.

Lihatlah, ternyata si iris ungu, Kuchiki rukia, sempat membuka matanya setelah kau mengecup keningnya.

Bukan apa apa. Dia hanya ingin memastikan, apa wajahnya benar benar semerah tomat sekarang atau itu hanya perasaan saja.

~~0oo0~~

Author's Corner~

Nyaa : "Minna-saan~ Konnichiwa ! (/^w^)/ Hari ini yang muncul di auhtor's corner hanya saya saja. Berhubung si Ruu tidak saya izinkan untuk menulis cerita romantis (Karena dia selalu panas dingin ketika menulis bagian romance *dasar masih hijau*) jadilah saya yang melanjutkan cerita ini untuk sementara. :D

Minna-san, karena hari ini saya (maksudku kami) update 3 chapter sekaligus, balasan review-nya ada di chapter ke. . . ? Oh iya ! Ke 5 !

Chapter ke 5 itu FULL AU, alias isi buku cerita legenda kerajaan hoshina. Boleh saja tidak dibaca, tapi saya tidak jamin kalau di chapter selanjutnya anda akan kebingungan (Hoalah).

Silahkan skip ke chapter berikuutnya ~

Sign,

Ruu's Virtual Assistant.

Nyaa Kohaku