.: Ruu & Nyaa presents :.

.

.

A Bleach fan fiction

.

.

.

'Thanks for the love you gave'

Bleach belongs to tite kubo

Warning : AU, OOC, OC, Typo, dll

Chapter 4

Pagi hari yang sejuk. Embun pagi masih menetes dari pucuk daun daun yang hijau. Burung pipit saling bersahutan mengiringi datangnya matahari. Langit terilhat biru jernih. Tidak aneh semua orang jadi bersemangat menjalani pagi ini.

Pagi hari yang cukup dingin. Tapi tak meyurutkan semangat seorang gadis cilik yang kini tengah membantu teman barunya memasak. Teman baru, sekaligus kakak baru.

" –telurnya dikocok sampai rata, ya runa-chan. Hati hati jangan sampai tumpah" kata orihime membantu gadis itu –runa.

"I..Iya." jawabnya sambil terus mengocok telur itu dengan hati hati agar tidak tumpah. Orihime yang melihatnya hanya bisa tersenyum. Gadis ini jauh berbeda dari yang kemarin. Saat pertama kali bertemu, runa benar benar gadis yang pemalu. Bicaranya irit, dan terus menunduk. Tapi setelah orihime memberinya piyama, dia tidak lagi bersikap seperti orang asing. Pukul setengah enam pagi dia sudah bangun lebih dulu dari orihime, lalu dengan tangan kecilnya dia membuka gorden dan jendela kamar orihime. Lalu dengan santainya dia loncat ke kasur orihime dan membangunkannya. Orihime berteriak karena terkejut. Tapi begitu tahu yang membangunkannya adalah runa, mereka malah tertawa bersama.

Daan.. di sinilah mereka sekarang. Dapur orihime. Rupanya si kecil berinisiatif membantu orihime memasak, walau dia tahu dia sama sekali buta soal masak-memasak.

"Cukup, runa-chan. Selanjutnya biar aku yang menggorengnya" kata orihime. Runa lalu meloncat turun dari kursi tingginya yang disediakan orihime lalu berlari ke luar dapur.

"Usa tabi, usa tabi !" teriak runa memanggil kelinci sahabatnya itu

" –hah? Usa tabii?" runa mengedarkan pandangannya di sekitarnya. Seingatnya usa tabi tadi di sini?

"Usa-chan?" lalu runa berlari keluar kamar orihime dan mendapati usa tabi duduk di beranda. Menatap langit biru yang jernih.

"Usa tabi? Kenapa kau tidak menjawab panggilanku?"

"Oh! R.. runa. M.. maaf, aku sedang melamun" jawab usa tabi.

"Ooh~ Jangan melamun dong usa-chan. Kau tahu tidak? Hari ini aku bisa membuat omelet lho!" teriak runa girang sampai sampai terdengar oleh orihime yang ada di dapur.

"Che, paling-paling kau yang mengocok telurnya dan orihime yang menggoreng telurnya kan? Itu sih tidak bisa dibilang membuat omelet runa" ejek usa tabi

"Tapi kalau seandainya aku tidak mengocoknya, omelet itu pasti tidak akan jadi" kata runa tidak mau kalah.

"Yah, kau benar juga. Tapi jika seandainya kocokan telurmu itu tidak digoreng, omelet itu juga pasti tidak akan jadi" tantang usa tabi.

"Aah, usa tabi ! aku kan sudah berusaha!" rengek runa. Kakinya dihentakkan dan bibirnya mengerucut.

"Hihihi, Iya-iya. Kalau kau memang berusaha, sana bantu orihime-san ! jangan seenaknya ditinggal !"

" –dasar kelinci pemalas" ejek runa sambil berlari meninggalkan usa tabi. Telinga usa tabi langsung tegak mendengar si kecil mengejeknya

" –A..Apa ? katakan sekali lagi runa !" teriak usa tabi marah.

" –tidak, tidak. Aku tidak mengatakan apa ap- KYAAAA !" teriak runa. Dia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena keburu dikejar oleh usa tabi.

"Kembali kau kesini, kecil !" teriak usa tabi sambil mengejar runa.

"Tidak ! Kau akan menggigitku !" kejar kejaran itu terus berlangsung hingga orihime sudah selesai menyiapkan sarapan.

" –kalian berdua, hentikan dulu. Ayo kita sarapan"

"Hh..hh.. iya hime-nee."

"Oh, runa ! tunggu dulu di situ, oke?" tanpa mendengar jawaban runa, orihime langsung melesat masuk ke dalam kamar dan mengambil beberapa helai pakaian.

"Ini ! Pakailah ! mandi dan ganti baju ini ya !"

"Ini punya siapa hime-nee?" tanya runa dan menerima baju itu.

"Punyaku waktu aku masih kecil dulu. Sudah, sana. Mandi dulu. Kutunggu kamu di ruang makan ya, runa." Kata orihime sambil mendorong runa masuk ke kamar mandi.

" –aku ikut!" kata usa tabi dan meloncat ke pundak runa.

~~0oo0~~

Kediaman Kurosaki

"Ichi-nii, ohayo~" sapa yuzu di pagi yang cerah itu.

"Hn, ohayo yuzu" sapa balik ichigo sambil menarik kursi meja makan.

"Ichi-nii, rukia-nee baru saja berangkat" kata karin yang tiba tiba muncul dari ruang depan.

"Benarkah?" tanya ichigo tak percaya. Terang saja, seingatnya, dia dan rukia bangun bersamaan. Sementara rukia mandi, ichigo tengah membaca buku yang diberikan urahara kemarin.

"Hn, dia bilang ada urusan. Jadi dia berangkat duluan"

"Oh"

Dan makan pagi hari itu dilewati dalam diam. Tentu saja, yuzu paling tidak suka kalau ada yang berbicara selagi makan. Daripada kena omelan yuzu, lebih baik menurut saja kan? Apalagi tidak ada bahan pembicaraan.

"Terima kasih makanannya yuzu. Aku berangkat dulu" pamit ichigo.

"Hati hati ichi-nii"

"Hn" jawab ichigo lalu mulai melangkah keluar rumah.

Tapi tak jauh dari sana, sepasang mata tajam tengah memperhatikannya. Matanya berkilat tajam menandakan penglihatannya tak boleh diremehkan.

.

.

Unknown's P.O.V

Jadi itu, ichigo kurosaki.. . substitute shinigami yang dibicarakan.. . heh.

Nampaknya dia memang kuat.

Kita lihat saja nanti. Bersiaplah, kurosaki ichigo.

End Of Unknown's P.O.V

~~0oo0~~

Tak jauh dari taman bermain karakura, seorang wanita berambut blonde tengah berjalan santai di tepi danau. Sepasang mata besarnya dengan santainya mengawasi gerak gerik lincah gadis cilik di sampingnya. Sesekali dia nyeletuk polos, seperti halnya anak anak kecil lainnya.

"Hime-nee, Hime-nee, Apa masih jauh?"

"Tidak. Sebentar lagi juga sampai."

" –eh hime-nee. Umm.. apa sekolah itu –asyik?" tanyanya polos.

"Yah, cukup mengasyikkan. Kau akan bertemu banyak teman disana" jawabnya.

".. .. .Runa ingin cepat cepat ingatan runa kembali, supaya bisa bertemu teman teman lama Runa" Mendengar kata ingatan, Usa tabi tersentak. Tapi runa tidak menyadarinya. Pikirannya kembali melayang pada kejadian kemarin malam. Ketika runa dan orihime sudah tertidur.

Aku harus bergegas.. ..

"Runa-chan!" teriak seseorang memanggil nama runa dari belakang.

"Oh! Kuchiki-nee-san!" runa langsung melesat menuju rukia dan memeluknya.

BRUK !

"Ohayo gozaimasu Runa-chan"

"Ohayo gozaimasu Kuchiki-nee-san~"

"Ohayo inoue"

"Ohayo kuchiki-san"

"Kuchiki-nee-san, coba dengar, hari ini aku bisa membuat omelet lho!" teriak runa bangga.

"Sungguh?" tanya rukia tidak percaya. Sebenarnya dia tahu, pasti yang menggoreng orihime. Tapi demi menyenangkan runa, yah.. . apa salahnya sih?

" –apanya yang membuat telur? Kau hanya mengocoknya" celetuk usa tabi. Lagi lagi berniat menggoda runa.

" –biarin. Dari pada kau? Hanya melamun di ambang beranda?" dan sekali lagi, kejar kejaran ala runa-usa tabi dimulai lagi. Rukia dan orihime yang melihatnya hanya tersenyum maklum. Setidaknya runa sudah mulai terbiasa di kota ini.

"Umm kuchiki-san?"

"Ya inoue?"

" –kau benar benar ingin membawa runa ke tempat kurosaki?"

" –yap"

" aku boleh tahu kenapa?"

". . . Itu karena.. . "

Flashback saat Usa tabi dan Runa bertemu Rukia

"Hng.. . Usa Tabi" bisik rukia memanggil usa tabi.

"?" Usa tabi menoleh.

"Kenapa Runa terus melihat anak itu?" tanya rukia. Dia sadar sedari tadi yang dia ajak bicara hanya usa tabi, dan runa nampak melamun –lebih tepatnya melihat seorang anak kecil yang tengah digandeng oleh ayah dan ibunya.

"Oh.. . Dia sepertinya merindukan Ayah dan Ibunya"

" ! "

"Kemarin malam dia mengigau saat tidur. Dia menangis memanggil Ayah dan Ibunya. Ironisnya, dia lupa wajah Ayah dan Ibunya.. . jadi semakin Runa mengingatnya, semakin kerinduannya membuncah di dadanya dan dia.. . . hanya bisa menatap seperti itu pada anak anak yang digandeng ayah dan ibunya" kata usa tabi melirik runa. Runa masih melamun melihat anak itu.

Serasa ada yang menggelitik hati rukia ketika mendengar penuturan usa tabi.

Dan barulah rukia sadar.

Dia mirip dengan rukia.

Dia terlahir di rukongai tanpa tahu siapa ayah dan ibunya.

Tapi tak lama kemudian, dia bertemu Renji, Nii-sama, dan teman temannya yang lain.

Sementara Runa? Dia tak tahu apa apa dan tiba tiba saja sudah harus mengembara mencari ingatannya.

.

.

~~0oo0~~

" –jadi itu sebabnya kau ingin selau ada di sampingnya?" tanya orihime setelah mendengar penjelasan rukia

" Begitulah"

Sementara mereka melanjutkan perjalanannya menuju Karakura High School, runa dan usa tabi tiba tiba berlari menghadang mereka.

" Hime-nee, kuchiki-nee, Runa boleh tidak kalau tidak ikut kalian ke sekolah? Runa ingin bermain di danau sana" tunjuk runa pada sebuah danau yang terletak tak jauh dari tempat mereka.

"Danau?"

"Iya, yang disana ! ada anak anak bermain di sana, aku ingin tahu apa mereka kenal padaku"

".. .bagaimana inoue?"

"Umm.. .terserah kuchiki-san saja"

"Baiklah Runa. Jangan lama lama, setelah itu langsung temui kami di KHS. Usa tabi, kau tahu jalannya kan?" tanya rukia pada usa tabi yang meloncat ke pundak runa. Usa tabi hanya mengangguk. Begitu mendapat persetujuan, si kecil langsung melesat ke danau.

Sementara Inoue dan rukia melanjutkan perjalanan mereka.

~~0oo0~~

Karakura High School

KHS GEMPAR ! KHS GEMPAR ! Semua anak dimana mana tengah berbisik bisik satu sama lain. Rukia dan inoue yang lewat hanya bisa mengernyitkan dahi, bingung.

"Kelihatannya ramai sekali. Ada apa ya kuchiki-san?"

"Oh, paling paling si jeruk itu berbuat sesuatu lagi. Hih. Akan kucekik dia ! dia pasti meninggalkan tubunya dan menjadi shinigami seenaknya !"

"sepertinya bukan itu deh kuchiki-san"

"Hah? Lalu apa inoue kalau bukan si jeruk?" tanya rukia.

"I.. .Itu.. .Itu.. ." tunjuk inoue pada sesosok pria berambut jingga yang tengah bersandar di dinding kelas dan dengan tangan kanan dia memegang buku sementara tangan kirinya dimasukkan ke dalam saku celananya. Matanya tertuju serius pada buku bersampul merah marun yang dipegangnya. Sesekali dia mengeluarkan tangan kirinya untuk membalik halaman.

Jadi ini yang membuat KHS gempar ? hanya begini saja, sudah membuat KHS gempar?

Eits. Jangan salah dulu. Ada dua hal yang membuat KHS gempar.

Satu, Seorang Kurosaki Ichigo membaca buku di depan kelas ? DI DEPAN KELAS ?

Kedua, Sejak kapan Ichigo mengenakan KACAMATA ?

Pantas kaum hawa yang lewat sempat mengira ada murid baru di Karakura High School.

Wah, idola baru nih.

~~0oo0~~

Rukia's P.O.V

". . .J. .jeruk?" panggilku. Hanya untuk memastikan, dia ichigo atau jangan jangan arrancar yang menjelma menjadi ichigo.

" –midget ? oh, Inoue. Ohayo" sapa ichigo.

"O-ohayo kurosaki-kun" balas inoue.

Aku ternganga. Lebih tepatnya mungkin.. . apa namanya ? Terpesona?

Duuh, kami-sama.. . kenapa.. kenapa.. . jantungku rasanya ingin keluar? Oh t-tidak. Tidak, ayolah rukiaa! Jangan ingat ingat kejadian tadi malam !

"Hoi, midget !" Plak! Dia memukul pelan puncak kepalaku dengan buku yang dibawanya.

"? Jeruk? Kau.. apa yang kau lakukan, hah?"

"Memangnya kau tidak lihat? Tentu saja membaca" jawabnya ketus.

" –bukan, maksudku, kenapa kau –"

"Membaca buku ini? Urahara san menyuruhku" potongnya.

Kami-sama.. . ini Cuma perasaanku saja, atau ketika ichigo melepas kacamatanya dengan sebelah tangannya, waktu terasa berjalan begitu lambat, apalagi ketika dia mengibas-ngibaskan rambutnya yang jingga menawan itu. Dia terlihat.. .ah, apa namanya? Keren? Cool?

"L.. .lalu?" tanyaku tergagap

" –kenapa kau pakai kacamata kurosaki-kun?" tanya inoue mewakili diriku.

" –hah? Ini? Oh, ini hanya kacamata baca. Semalaman aku membacanya, mataku sakit sekarang. Makanya aku pakai kacamata" terangnya sambil melipat kacamatanya dan memasukkannya kembali ke sakunya.

"Bel sudah mau bunyi, ayo masuk" kataku. Ichigo menguap dulu sebelum akhirnya mengikutiku dan inoue-san masuk ke dalam kelas.

~~0oo0~~

(Time Skip)

Bel pulang sudah berdentang. Sekali lagi semua anak anak bergegas berhamburan keluar. Saling berlomba menuju rumah masing masing. Hari sudah sore, mereka tak mau membuang waktuTapi tidak untuk Rukia.

Si cantik iris ungu itu malah pamit pada ichigo untuk pergi ke suatu tempat dulu, dan menyuruh ichigo untuk pulang terlebih dahulu. Belum sempat ichigo bertanya, rukia sudah melesat keluar kelas duluan.

"Ck. Dasar midget"

Kediaman Kurosaki

"Aku pulang. ." salam ichigo malas malasan.

"Ichi-nii, selamat datang !" jawab yuzu. tangannya memegang pengocok telur dan pipinya sedikit belepotan tepung. Mungkin sedang membuat kue.

"Ayah mana?"

"Ada tuh, di klinik. Baru saja ada pasien" jawab yuzu. ichigo langsung menuju kliniknya.

" –ah, ichi-nii ! jangan diganggu dulu, pasiennya penting. Ichi-nii tunggu saja sebentar lagi, ya?"

"Oh, begitu. Baiklah. Kabari aku kalau ayah sudah selesai ya yuzu. aku di kamar" pesan ichigo. Yuzu hanya mengangguk. Ichigo langsung menaiki tangga menuju kamarnya.

Ichigo's P.O.V

Hoaaahhm.. . capeknya. Sudah berapa lama ya sejak aku terakhir kali membaca legenda seperti itu? Argh, benar benar pusing. Dasar urahara-san.

Kurebahkan tubuhku di ranjangku sambil menatap langit langit kamarku.

Aku baru ingat, buku itu belum sepenuhnya selesai kubaca. Akhirnya aku mengambil tasku, menarik keluar buku bersampul merah marun itu dan membacanya sambil tiduran di ranjang.

~~0oo0~~

Author's Corner~

Ruu : Author's corner kali ini tidak banyak, hanya untuk memberitahukan para readers, kalau isi buku Legenda kerajaan Hoshina itu ada di chapter selanjutnya. Chapter 5 itu Full AU (asisten udah bilang kan?) Silahkan membaca ~ \(^ w ^)/