Lalu, melintaslah seseorang berawakan emo di hadapan mereka. Mereka semua terperangah, tak terkecuali Sakura. Sasuke bertambah keren sekarang. Rambut raven-nya yang berwarna biru dongker itu, menutupi wajahnya dengan sempurna. Mata onyx dan senyuman tipisnya, sudah dapat membuat para gadis pingsan di tempat.
"Sakura..." ujar Sasuke pelan namun masih dapat didengar oleh Sakura. Sakura pun sadar dari lamunannya lalu menatap ke arah sasuke.
"Ada apa?" tanya Sakura yang terkesan ketus dan sekenanya.
"Aku..."
.
.
Last Chance
Naruto Masashi Kishimoto-sensei
Pairing: BingungXGaje *plak*
Enjoy...:D
.
.
Chapter 2
"Ada apa?" tanya Sakura ketus.
"Ingin bicara padamu..." bisik Sasuke di telinga kiri Sakura. Sakura hanya tersipu malu diperlakukan begitu.
Siapa yang tidak terpesona akan ketampanannya?
Siapa yang tidak terperangah dengan kekerenannya?
Hanya gadis atau pun manusia abnormal saja, yang mungkin berkata tidak.
Sebenci apa pun seseorang padanya, pasti akan terperangah juga.
Itu yang dirasakan Sakura saat ini.
Namun, segera ditepisnya jauh-jauh pikiran itu,
Lalu ia pun kembali ke alam sadarnya.
"Bicara saja disini, Uchiha!" ujar Sakura tanpa ekspresi.
Sasuke yang mendengar nada bicara Sakura berubah pun langsung angkat bicara.
"Ini penting, Sakura..." jawabnya dingin.
"Jangan panggil nama kecilku dengan bibir dingin milikmu itu, Uchiha!" bentak Sakura. Ia pun segera mengatur emosinya. Sasuke hanya memandangnya dingin dan tajam, lalu pergi meninggalkan mereka bertiga yang masih terdiam.
'Dia itu kenapa, sih..?' batin Sakura bingung.
"Sakura.. Si Sasuke itu-" ujar Ino.
"Diam! Baiklah, aku ke kelas dulu. Bye~" Sakura langsung mengejar Sasuke yang menuju ke kelas. Ia pun melihat kepala mencuat Sasuke yang bergerak ke arah kelas-lebay-.
"Uchiha!" panggil Sakura lebih tepatnya teriak.
"Hn?" Ya.. Seperti biasa... Selalu irit kata...
"Apa maksudmu 'Hn', hah? 'Hn'-mu itu bisa berarti apa pun, tahu tidak!" bentak Sakura kesal karena Sasuke tak sedikitpun menoleh ke arahnya.
"Jadi, kau mau apa, hah?" tanya Sasuke balik.
"Huh! Apa maksudmu tadi, Uchiha?" tanya Sakura balik(lagi).
"Aku hanya bilang, aku ingin bicara denganmu... Mengerti? Jika kau mengerti, cepat kau nanti temui aku sepulang sekolah di atap sekolah," jawab Sasuke dengan nada dingin lalu masuk ke kelas. Sakura bertambah kesal karenanya.
'Aku... Benci kau!' teriak Sakura di dalam hatinya. Ia pun masuk ke kelas, tak lama seorang guru pun masuk ke kelas tersebut dan memulai pelajaran.
~SKIP TIME~
Tak lama setelah pelajaran hari itu usai, Sasuke langsung pergi ke atap sekolah. Ia bermaksud untuk menanyakan keadaannya.
Keadaan orang yang telah seorang diri karena kehendak keluarganya.
Keadaan orang yang telah ia tinggalkan lebih dari 10 tahun tersebut.
Dan ia juga ingin minta penjelasan.
Mengapa setiap ada dirinya, Sakura selalu menghindar?
Sakura selalu memusuhinya?
Selalu saja ada bayangan dendam, benci, amarah, dan kesepian disana...
Memang harus ia akui, keluarganya memang salah.
Namun, apa salahnya?
Ia tidak melakukan apapun, bukan?
Sasuke pun sampai di atap sekolah. Ia pun menatap ke arah langit yang biru dan bertanya pada dirinya sendiri.
'Kami-sama.. Apa yang terjadi padanya? Kenapa? Setiap ku didekatnya, selalu ada tatapan benci dan amarah di matanya...' batin Sasuke. Tak lama kemudian...
BRAKK!
Suara pintu dibanting. Keluarlah Sakura yang rambutnya sedikit berantakan.
'Mungkin habis berlari...' batin Sasuke menebak.
"Uchiha..." gumam Sakura. Sasuke pun mendekat ke arah Sakura. Ia membelai rambut Sakura yang berwarna soft pink itu dengan lembut.
"Mau apa kau?" bentak Sakura marah. Namun, kenyataan di hatinya justru berbalik. Ia merasa bahagia.
Ia merasa tidak kesepian lagi.
Secuil senyum pun terlukis indah di bibir Sakura.
"Hanya merapikan rambutmu. Rambutmu berantakan..." ujar Sasuke lalu memberantakan rambut Sakura kembali.
"Dasarrr!" teriak Sakura.
"Langsung ke inti saja, mau apa kau bertemu denganku?" tanya Sakura.
"Ok... Sabar... Aku hanya ingin tanya, apa kabarmu sejak aku tidak ada di Konoha, huh..?" tanya Sasuke balik.
"Oh, baik, kok, Uchiha..." jawabnya datar. Namun, yang ia rasakan pedih.
Juga sakit.
Ia pedih dan sakit.
Menahan rasa rindunya dan menanggung dendamnya pada lelaki itu.
"Jangan panggil aku dengan marga-ku, Sakura..." jawab Sasuke dengan tatapan mata yang tajam. Sakura hanya mendecih kesal.
"Mau apa kau?" tanya Sakura seolah tidak peduli.
"Hanya ingin bertanya, bagaimana kabarmu... Baiklah, sampai jumpa..." jawab Sasuke dingin lalu membalikkan badannya dan berjalan melewati Sakura.
'Dasar!' batin Sakura. Ia pun pergi ke arah pintu.
Saat Sakura sampai di depan sekolah, ia melihat dua orang yang sedang bertengkar disana.
"T-tapi... Ayo, kita kembali!"
"Tidak! A-aku ti-tidak m-mau!"
"Kenapa?" Sakura menguping pembicaraan tersebut. Terdengar seorang laki-laki dan perempuan yang sedang bertengkar.
"K-karena aku... Sudah s-suka sa-sama orang lain..." jawaban kali ini terdengar lesu dari sang perempuan. Sakura pun melihat ke arah mereka berdua.
"Astaga!" teriak Sakura. Namun, sesegera mungkin ia menutup mulutnya. Ia sangat terkejut.
Dilihatnya seorang laki-laki berparas tampan sedang bertengkar dengan gadis berparas boneka.
Hinata dan... Sasuke?
Apa hubungannya mereka?
Apa yang sebenarnya terjadi..?
"S-Sasuke..." gumam Sakura.
"Maaf..." Hinata menangis lalu pergi meninggalkan Sasuke yang geram seraya mengepalkan tangan kirinya.
"SIAL! Kenapa, Hinata..? kenapa?" teriak Sasuke kesal.
Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka?
Atau kah mungkin...
'Ah, tidak! Tidak mungkin kalau...' batin Sakura.
"Hinata... Kembalilah padaku..." lirih Sasuke yang terdengar pilu.
Sakura sangat terkejut.
Ia tak menyangka.
Apa yang sebenarnya terjadi.
Sekarang sudah jelas, kalau Sasuke adalah...
Mantannya HINATA!
'Tapi... Nggak mungkin banget, kan..? dia kan, udah suka sama Naruto...' Sakura memukul kepalanya untuk berpikir. Lalu, Sasuke pun pergi dari tempat itu. Sakura ikut meninggalkan tempat itu dengan berjalan kaki seraya terus memikirkan tentang kejadian itu.
~SKIP TIME~
Hinata terus berlari... Ia terus berlari hingga sampai di taman kota... Tempat pertama ia bertemu dengannya... Dan tempat terakhir, ia berkencan dengan mantannya.
Ia pun terduduk di salah satu bangku kayu panjang yang ada disana.
Ia tertunduk seraya menangis.
Yang ada di pikirannya sekarang...
Kenapa dia kembali?
Di saat ia sudah menyukai orang lain?
Ya, orang lain...
Ia sadar... Dan mengerti...
Bahwa ia menyukai sekaligus sangat mencintai dia...
Dia yang selalu berada di dekatnya...
Dia yang selalu menyejukkan hatinya...
Dan dia yang selalu ada di saat apapun dengannya...
"Naruto..." lirih Hinata seraya menangis. Ya, Naruto. Dialah, Naruto...
Laki-laki bodoh yang ceria itu, telah mengisi penuh hatinya...
Hingga tiada lagi bayangan Sasuke di hatinya...
Hinata pun menangis dalam sore yang terik di taman kota sendiri...
"Sakura-chan~!" panggil seseorang. Merasa namanya dipanggil, Sakura pun menoleh ke arah orang tersebut. Dilihatnya seseorang dengan rambut jabrik kuning ceria menghampirinya.
"Hi, Naruto..." jawab Sakura sekenanya. Ia pun mengingat kejadian tadi, namun buru-buru ia hentikan kegiatan berpikir di otaknya yang lebar selebar jidatnya itu.
"Oi, Sakura... Jalan, yuk!" ajak Naruto dengan cengiran khas-nya.
"Ini udah jalan, lagi..." jawab Sakura cuek.
"Huh! Maksudku, kita ke taman kota..." Naruto mengerucutkan bibirnya kesal.
"Ok, deh... Tapi jangan lama-lama, ya..." jawab Sakura. Naruto pun tersenyum lebar dan langsung menggandeng tangan Sakura. Mereka pun pergi ke taman kota.
Sesampainya di taman kota, Naruto melihat sekilas seorang gadis kecil berambut indigo yang sedang menangis. Tapi... Siapa lagi yang punya rambut begitu?
Siapa lagi yang menangis sesendu itu?
Siapa lagi juga, yang mempunyai mata itu?
Jawabannya hanya satu... Hinata!
"Sakura! Sebentar, ya..." ujar Naruto lalu pergi menghampiri Hinata. Sakura hanya mengangguk lalu sibuk memilih-milih cokelat yang dijual di salah satu stand yang ada di dekat air mancur.
"Hinata..." ujar Naruto. Hinata celingukan lalu mendongak ke atas. Dilihatnya dia datang menghampirinya. Seakan tersihir, Hinata tersipu malu.
"A-ada apa..?" tanya Hinata seraya menghapus air matanya.
"Hn? Justru aku yang harusnya tanya..." jawab Naruto. Ia pun mengambil sapu tangannya dan mengusap mata Hinata yang sembab karena kebanyakan menangis. Hinata yang diperlakukan begitu hanya kembali tersipu malu.
"Katakan padaku... Jika kau ada masalah... Jangan simpan sendiri... " ujar Naruto lalu memeluk Hinata. Hinata pun langsung menangis keras sesenggukkan.
"Kalau kau ingin menangis... Menangislah sepuasmu..." ujar Naruto seraya mengusap punggung Hinata.
"Naruto..." gumam Hinata.
~To Be Continued~
.
.
Gimana? Widih... Cuapek banget, nih nulisnya... Saya ngisi pas ada waktu senggang... Jadi maaf kalo banyak salahnya... Ok, balas review dulu... Humbt... Dilanjutin apa di biarin aja, nih...? ato di del aja? minta sarannya, Minna...~
Kazuma B'Tomat: Eh, Hi juga, Kazuma-san! Wah, makasih banget ya... Udah mau review... Iya.. Makasih saran dan kritiknya, ya... Review lagi, ya...?
AnGeL Yumi Yunna HikaRin: Huh! Adek~! *puih* *plak* makasih, ya... Emang kakak suka ngadat, nehh... Review lagi, ya...?
Nadya Tsurunna Hi-chan: Halooo, dek~! Wuih... Makasih... Padahal menurut saya, fic saya ini gaje minta ampun deh... Nggak, lah... Bakatku lebih buanyakk dari Ken... HUH! Jangan gitu dong! Saya suka buanget SasuSaku! :) ok, deh.. di chap. Ini, Hinata udah muncul, kan...? ini udah update... Review lagi, ya...?
Widih... saya sampai terharu... Masih ada yang mau review fic saya yang gaje+abal saya ini... Pokoknya, makasih banget, ya, buat yang udah review... review kalian semua amat sangat berarti... Ok, skali lagi saya ucapkan...
R
E
V
I
E
W,
Please..?
.
.
Candy~
