Mereka melihat sosok seorang gadis yang terkulai lemas dengan mulut berlumur darah di pinggir danau.
"SAKURAAAA!"
.
.
~Last Chance~
Naruto by Masashi Kishimoto
Enjoy~
.
.
Chapter 4
Mereka pun segera pergi menuju ke tempat dimana Sakura berada.
"Sakura..." lirih Sasuke.
"Ayo kita bawa dia ke rumah sakit!" pekik Naruto yang sangat memekakan telinga.
Mereka lalu pergi menuju ke Konoha Hospital.
"Sakura! Bertahanlahhh!" lirih Naruto sedih saat mendorong Sakura ke UGD dengan kereta tidur-Author tidak tahu namanya apa...-. sasuke hanya termenung dalam diam seraya melihat ke arah Sakura.
Sebenarnya apa yang terjadi pada Sakura?
Selang beberapa lama, keluarlah seorang dokter perempuan berambut pirang kepang dua.
"Apa kalian keluarganya?" tanya Tsunade, dokter tersebut.
"Kami temannya..." jawab Naruto lesu seraya berharap akan kesembuhan Sakura.
"Baiklah, aku ingin bicara dengan kalian berdua... Ayo masuk," ujar Tsunade seraya berjalan masuk ke ruangan tempat Sakura berada.
"Hmmm... Apakah akhir-akhir ini, Sakura bekerja terlalu keras?" tanya Tsunade.
"I-iya... Akhir-akhir ini, ia kelihatan lesu..." jawab Naruto.
"Maaf, bisa kukatakan..." ujar Tsunade dengan wajah lesu.
"Sakura mengidap penyakit kanker darah,"
DEG!
Kedua pemuda tersebut terkejut, namun Naruto hanya bisa menggeleng lesu.
"Aku... Tau... Kalau Sakura..." lirih Naruto seraya menundukkan kepalanya.
"Apa?" tanya Sasuke. Naruto pun menggandeng tangannya, lalu mengajaknya pergi ke sebelah tempat tidur Sakura.
"Ada ap-"
"Aku... Sebenarnya sudah tahu semuanya... Penyakitnya... Deritanya... Aku tahu semua. Tetapi, ia adalah sosok yang tegar, harus kuakui itu," ujar Naruto dengan nada sedih seraya menggenggam tangan Sakura.
"Waktu itu..."
"Sakura-chan~!"
"Ada apa, Naruto?" tanya Sakura seraya menoleh ke arah pemuda berambut pirang dibelakangnya.
"Ada yang ingin kubicarakan. Penting," jawab Naruto.
"Sebaiknya, kau lupakan saja Sasuke..."
DEG!
"Eh?" tanya Sakura bingung dengan semburat tipis di pipinya.
"Kan, masih ada pemuda lain yang peduli denganmu... Termasuk aku..." lirih Naruto. Sakura tampak bingung.
"Aku... Suka padamu, Sakura..." Sejenak, semburat merah tipis menghias pipi nan putih milik Sakura. Tetapi, sejenak, ia menundukkan kepalanya. Lalu bergumam lirih.
"Maaf, Naruto... Aku..." gumamnya lirih.
"AKU TIDAK BISA MELUPAKANNYA!" teriak Sakura lalu menangis sejadi-jadinya.
"Dan... Maaf, aku hanya menganggapmu sebagai sahabat... Sahabat terdekatku..." sambung Sakura. Naruto hanya mengangguk paham, lalu membantu Sakura berdiri.
"Tak apa, Sakura-chan. Yang penting, aku telah mengutarakan perasaanku. Daripada dipendam, kan?" ujar Naruto kembali ceria. Mereka pun tertawa lepas, lalu pergi menuju ke matahari terbenam.
.
.
"Ia... Tak bisa melupakanmu..."lirih Naruto.
"Hn, apa untungnya bagi-"
"Kau benar Sasuke... Apa untungnya bagi Sakura? Ia menunggu, menahan dan menyembunyikan kesedihan yang mendalam.. sendirian," lirih Naruto.
Perlahan, tangan Sakura bergerak pelan, tanda Sakura telah sadar dari lelapnya.
"Sakura..." ujar Naruto. Sakura hanya dapat tersenyum lirih. Ya, tersenyum lirih, sedih.
"Syukurlah kau tidak apa-apa..." sambung Naruto. Makhluk pantat ayam a.k.a Sasuke hanya terdiam. Lalu pergi meninggalkan ruangan. Sakura hanya mengangguk lemas. Tanpa sengaja, ia menyanyi. Menyanyi dan memainkan nada-nada yang tersimpan di hatinya dengan perasaan.
Tak bisakah kau?
Sedikit saja dengar aku..?
Dengar simfoniku...
Simfoni hanya untukmu...
Naruto terkejut dengan perbuatan Sakura. Naruto mengerti perasaan Sakura. Memang, kalau lagi stress, Sakura sering bernyanyi seraya menitihkan air matanya.
Telah ku nyanyikan,
Alunan-alunan senduku...
Telah ku bisikkan,
Cerita-cerita gelapku...
Kali ini, Nada Sakura agak bergetar. Naruto memandang ke arah Sakura dengan tatapan iba. Tanpa sengaja, Sasuke yang kebetulan masuk, mendengar suara Sakura seraya melihat ke arahnya yang sedang terkulai lemas menitihkan air matanya.
Telah ku abaikan,
Mimpi-mimpi dan ambisiku...
Tapi mengapa,
Ku tak kan bisa...
Sakura terhenti saat melihat Sasuke yang terus memandanginya. Ia pun melanjutkan nyanyiannya.
Sentuh... Hati... Mu...
Beriringan dengan habisnya lagu yang dinyanyikan Sakura, Sakura pun kembali tak sadarkan diri. Naruto yang panik pun segera memanggil dokter atau pun suster secepatnya ke kamar Sakura. Sasuke yang cemas pun segera berjalan ke samping Sakura dan memegang lengan tangannya, memeriksa apakah denyut nadi Sakura masih berdetak atau tidak. Sasuke hanya merasakan detakan lemah, sepertinya nyawa Sakura akan...
"Sakura..." lirih Sasuke seraya menahan air matanya. What? Sasuke menangis? Oh, hell!
Sasuke pun langsung menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. Ia pun mempersilahkan para dokter dan suster yang datang ke kamar Sakura untuk memeriksa keadaan Sakura yang sepertinya sedang kritis.
Sang dokter pun dengan cekatan memeriksa denyut nadi Sakura, dibantu para suster. Ia pun menghela nafas panjang, yang membuat Naruto dan Sasuke tidak mengerti.
"Ada apa, Dok?" tanya Naruto.
"Sepertinya..." Naruto dan Sasuke penasaran dengan perkataan sang dokter yang selalu menggantung.
"Nyawanya... Tak dapat tertolong lagi..."
DEG!
.
.
Naruto dan Sasuke sangat syok saat itu. Terutama Naruto. Mereka tak menyangka, lagu yang mereka dengar tadi, adalah suara terakhir yang mereka dengar dari Sakura Haruno. Atau mungkin lebih tepatnya, rintihan hati terakhirnya sebelum ia pergi ke alam fana.
"Ap-apa? Apakah tidak bisa-"
"Tidak bisa, Naruto. Ia... Kehabisan banyak darah. Lagi pula, otot jantungnya sepertinya tertarik dan terjadi kontraksi yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari yang seharusnya..." Sang dokter pun melanjutkan penjelasannya. Sasuke dan Naruto mendengar seraya sesekali menatap ke arah Sakura yang sudah tidak bernyawa.
"Lalu, mungkin... Apakah mungkin, ia seorang... Masochist?" mendengar pertanyaan dari sang dokter, keduanya terkejut.
Sakura...
Seorang Masochist?
'Sakura... Kenapa ia tak pernah bilang...' batin Naruto tidak percaya.
"Buktinya, Ia memiliki banyak sekali sayatan silet di tangannya, yang sepertinya sedikit lagi akan memutuskan urat nadinya..." lanjut Tsunade, sang dokter.
"Ta-tapi...-" Sasuke menghentikan perbuatan Naruto.
"Tidak Naruto... Ini yang terbaik..."
"Apa maksudmu, teme? Apa kau mau bilang, kalau kau senang melihat Sakura-chan mati, huh?" tanya Naruto sarkatis.
"Tidak! Berpikirlah dewasa, dobe! Jika kau terus menangisinya-"
"Kau yang menyebabkannya seperti ini!" teriak Naruto memutuskan omongan Sasuke.
"Kau... Karena menunggumu, ia menyimpan deritanya sendiri... Aku tak menyangka... Ia masochist," lirih Naruto.
"Padahal, aku telah yakin, menjadi sahabat Sakura yang terbaik! Aku telah memperhatikannya dengan seluruh hidupku! Tapi..." suara Naruto tiba-tiba merendah.
"Ternyata... Aku adalah sahabat yang payah..." gumam Naruto. Sasuke pun memeluk sahabatnya itu.
"Aku yakin Sakura bahagia disana, dobe... Kau jangan menangisinya terus... Ia akan ikut sedih disana..." gumam Sasuke ke telinga sahabatnya.
"Ya... Aku tahu..." Mereka pun melepaskan pelukannya lalu menatap nanar ke arah Sakura.
"Ayo... Kita kuburkan Sakura-chan dengan layak..." ajak Naruto.
Sasuke POV
Dobe, kau mungkin tersiksa sekarang. Tetapi, aku lebih tersiksa darimu. Hatiku sakit. coba kau bayangkan, sakit sekali rasanya, melihat orang yang kau sayangi, mati di hadapanmu, karena dirimu, bukan?
Andai saja...
Aku punya kesempatan terakhir, Sakura.
Tolong, jangan tinggalkan aku...
Aku... Telah belajar untuk mencintaimu sepenuh hatiku, Sakura...
Aku pun mencium bibirnya yang kini telah dingin karena ditinggal sang arwah. Ciuman pengantarnya ke alam fana. Lalu, datanglah cahaya di atas Sakura. Aku amat terkejut saat itu. Sang cahaya pun berbicara padaku.
"Hai, Sasuke-kun..."
"Sakura!" gumamku terkejut.
"Kenapa... Kau meninggalkanku... Kenapa saat itu..."
Suaranya, sangat miris di telingaku.
"Aku...-" Jujur, aku sangat gugup saat itu. Maklumlah, apa kau tidak takut, jika ada sebuah cahaya yang datang padamu lalu berbicara dengan nada yang sangat mengiris hati. Oh god!
"Sasuke-kun..." panggilnya. Aku hanya mendongak sebentar, lalu terasa di bibirku, ia menciumku! Aku sangat bingung harus berbuat apa. Ia pun melepaskan ciumannya, dan seketika aku merasa ia menggumamkan kata selamat jalan dan lenyap begitu saja dari penglihatanku. Aku mengucek-ucek mataku, berharap tadi itu adalah mimpi. Ternyata bukan. Aku pun melirik ke arah Sakura, dan...
Apa ini? Sakura diselimuti asap-asap hitam dari kegelapan. Aku heran melihatnya. Oh Kami-sama... Cobaan apa lagi ini?
Asap itu pun membumbung tinggi, lalu sepertinya, kulihat sepasang sayap devil dari asap kegelapan itu. Dan, yang lebih membuatku terkejut, Sakura hidup kembali! Namun, kali ini...
"Hai, Sasuke-kun..." katanya dingin. Aku mencerna setiap perkataannya.
"Aku kembali..." sambungnya. Aku tak kuasa menahan tangis.
"Kenapa? Apa kau kecewa..?" tanyanya dengan nada sarkastik.
"Damn it!" gumamku kecil. Cukup sudah!
"Apa kau kecewa, huh? Sudah kuduga..." sambungnya.
"Kau kecewa... Karena aku hidup kembali, kan?"
Andai saja,
Aku masih punya,
Kesempatan kedua...
Pasti akan...
Kuhapuskan lukamu... Menjagamu... Memberimu...
Segenap cinta...
ToBeContinued
.
.
Huwee! Apa ini! *megangin script lalu dibantingin ke lantai* fic gaje gini masih mau di publish juga? Oh my oh god! Ya sudah, dari pada sibuk ngurusin saya yang sedang stress sekarang, lebih baik kalian *nunjuk ke arah para main char*, bales review readers sekalian! *deathglare dilancarkan! #plak# *
To 4ntk4-ch4n:
Sakura: alo 4ntk4-ch4n! Xixixixi~, di chapter ini, udah ketahuan, kan, aku sakit apa?
Author*Cuma sedikit nongol doang*: makasih banget 4ntk4-ch4n, buat supportnya, jadi aku semangat update! *hwaaaa*
Sakura and Naruto: *sweatdrop* Author aneh...
Naruto: Thanks reviewnya, 4ntk4-ch4n! RnR, lagi, ya..? #puppies eyes no jutsu#
To Sky Pea-chan:
Naruto: wah! Ada pereview baru lagi, dattebayo!
Sakura: Iya! Thanks udah baca, ya, Pea-chan! Ini udah update.
Sasuke *nongol*: thanks udah di fave, Pea-chan, fic gaje milik otak Author yang sarap ini... *bungkuk*
Sakura dan Naruto: RnR lagi, ya! *semangat '45*
To Nadya Tsurunna Hi-chan:
Hinata: eh, ha-halo, Nadya-chan... memang di chapter ini, khusus buat anggota team 7, yaitu Sasuke, Naruto dan Sakura... Jadi, aku tidak ikut... salahkan Author jika ada yang salah...
Naruto: bener, tuh! *megangin dagu seraya manggut-manggut kayak orang Cina nagih utang*
Sakura: ok, thanks reviewnya, yaa! RnR, nyo?
To Blue Sakuchan:
Sasuke: kon'nichiwa, Saku-chan...
Sakura: Ola! Oia, Misaki itu Kaa-san ku... *nangis sesenggukan sambil megang foto Kaa-san* tapi, kata Author yang bodo ini, itu hanya OC... sebenernya, dia gak tau nama Kaa-sanku yang aslinya...*jitakin kepala Author yang masih bodo*
Naruto: Iya, nih... Sakura punya penyakit parah disini... Di chapter ini udah ketahuan, kan?
Sakura: #ngangguk-ngangguk gaje#
Sasuke: Oh ya, Saku-chan? Great... Great... Siap-siap saja di chapter depan kau harus tanggung jawab karena telah memberikan si Author sarap ini *nunjuk ke Author* ide yang super duper ultra crazy idea! *death glare*
Naruto: *sweatdrop* hegh? Sasuke OOC banget! *shok*
Sakura: Apa-apaan kau ini Sasuke! Beraninya kau memberikan death glaremu itu ke 'kembaran'ku! *bales death glare*
Sasuke:*giggle eyes* Ok, deh... arigatou, Saku-chan... Review lagi, ya?
Ok, thanks banget buat yang udah review... Fhe senenggggg bener! Terharu malah! Masih ada yang mau review fic gaje punya Fhe ini...
maaf banget, ya... lama gak updatenya... soalnya, Fhe lagi sibuk ngurusin akun FFn Fhe satu lagi nih... Lagi pula, sekarang juga jarang buka laptop lagi dirumah... Karena kebaik- hanya luarnya saja-an dari Ibu saya. skali lagi, gomen ne... m(_ _)m
Oia, sekalian promosi, saya sudah buat fic baru lagi, yaitu IF LOVE IS LONELY, adopted by If Love Is Lonely-Taein. Two-shots pertama saya. Jadi, saya minta sekali lagi reviewnya, minna... *R: buk! promosi jangan kemareeee...*
Oceee... Silahkan klik kalimat dangan balon orange di bawah tanda tangan artis*geplaked* a.k.a saya, Fhe... ok ^-^
.
.
Sign,
Fhe~ ^-^
