lonelyclover, Shadow Shirayuki, Putri Luna : yup, doain ntar chapter-chapter depan bisa lebih lancar updatenya, ya ^^
acchan lawliet : ho'oh, tapi author masih ngrasa kurang imbang nih, Sai-nya sadis bgt,hehe
Lady Spain : onegai itu artinya...etto...eum...*buka-buka kamus* T_T
Andromeda no Rei , ayyuki, Nara Aiko : yup, EYD author emang parah,and author akan usahain ngilangin notesnya di tengah crita, arigatou ^^
ryuva, Shadow Shirayuki : makacih buat fav-nya, kyaaa *peluk-peluk*
zoroute, ayyuki : le-lemon...? *author gak nglanjutin ngetik gara-gara mimisan parah*
Arigatou for the reviews dan sarannya, minna-san ^^
Dengan semangat '45 author akan melanjutkan fic SaiSaku ini. Hidup masa muda!
Disclaimer: Masashi Kishimoto, sudah jelas author cuma numpang T_T
Warning : OOC, miss typo, garing, semi-AU, gaya bahasa gak konsisten, maybe no humor in this chapter *ditabok bolak-balik*
Please Enjoy...
Kantin belum ramai pagi ini. Hanya beberapa murid yang memilih untuk mengobrol di kantin daripada di ruang kelas. Di salah satu pojokan kantin tampak dua orang gadis sedang asyik bercakap-cakap. Salah satunya sedang mengaduk-aduk jus strawberry-nya tanpa minat.
"Wow, aku tidak menyangka ibumu akan bertindak sejauh itu. Aku juga tidak menyangka kalau si Uchiha Sai itu yang dijodohkan denganmu. Dan kenapa kau baru mengatakannya padaku, Sakura?" Ino mencubit pelan bahu Sakura.
Sakura menghela napas panjang dengan pasrah, "Itu belum seberapa, Ino. Dari pertama kami bertemu, Sai sudah menunjukkan gelagat tidak suka padaku. Kalau tidak karena perjodohan itu adalah permintaan mendiang ibuku, sudah kutendang orang itu jauh-jauh." Sakura mendengus kuda.
"Nee? Memangnya apa yang dia lakukan padamu?"
"Pertama kali bertemu dia sudah berani menghina salah satu bagian tubuhku."Sakura menunjuk jidatnya. "Minggu kemarin di kelas dia sudah mempermalukanku. Dan week end kemarin kami berkencan, tapi ujung-ujungnya dia kabur saat aku mengajaknya naik roller coaster." Sakura mengakhiri curhatnya dengan memasang wajah cemberut. Ino cekikikan mendengar interaksi pasangan baru yang payah itu. Bibir Sakura tambah maju.
"Kalian ini seperti anak kecil saja." Ino geleng-geleng kepala. "Tapi Sakura, apa kau yakin kau mau meneruskan perjodohan ini? Bagaimana kalau sepuluh tahun nanti tiba-tiba muncul penyesalan dalam hatimu. Bagaimana kalau nanti...kau tiba-tiba ingin memiliki kesempatan untuk memilih pendamping hidupmu sendiri, yang mencintaimu dan kaucintai, Sakura?" tanya gadis berambut pirang itu lembut. Ditatapnya Sakura yang sedang mencerna kata-katanya. Tapi Sakura hanya kembali menunduk dan menekuri minumannya.
"Ano...apa kau mencintainya?" tanya Ino hati-hati.
Pertanyaan Ino membuat Sakura tertawa geli, "Bagaimana aku bisa jatuh cinta pada pemuda menyebalkan seperti dia, Ino-chan?"
"Kalau begitu, apa yang kau harapkan dari pernikahan kalian nanti, Sakura?" tanya Ino prihatin. Sungguh Ino tidak bermaksud menakut-nakuti Sakura, tapi dia hanya ingin sahabatnya itu memikirkan ulang keputusannya karena keputusannya itu menyangkut masa depannya.
Sakura kembali terdiam mendengar pertanyaan Ino. Gadis itu hanya mengangkat bahunya dan akhirnya meminum jus strawberry-nya yang telah ia aduk-aduk tidak jelas selama beberapa menit terakhir. "Aku tidak tahu. Tapi mungkin...nanti secara ajaib cinta akan muncul dengan sendirinya, Ino. Doakan saja ya?" kata Sakura berusaha ceria, walau dalam hati dia meragukan kata-katanya sendiri.
Ino hanya tersenyum sambil mengangguk. Bagaimanapun dia hanya menginginkan yang terbaik untuk sahabatnya.
.
.
.
Semilir angin membelai rambut Sakura perlahan. Matanya memandang keluar jendela kelas yang terbuka tanpa berkedip. Orochimaru sedang mendengarkan Ipodnya setelah memberi murid-muridnya bahan diskusi. Sementara murid-murid yang lain sedang asyik mendiskusikan cara membedakan jenis kelamin nyamuk Anopeles (?), Sakura malah sibuk menghabiskan waktu yang diberikan oleh gurunya dengan melamun sendiri. Percakapannya dengan Ino mengingatkannya dengan percakapannya dengan Sai saat mereka berkencan Sabtu kemarin.
Saat itu Sakura boleh saja kelihatan begitu yakin ketika berdebat dengan Sai, tapi sebenarnya dia juga menyimpan keraguan yang sama. Di dalam hati kecilnya, dia sebenarnya takut kalau pernikahan mereka hanya akan mengantarkan mereka kepada masa depan tanpa kebahagiaan. Bagaimanapun, Sakura hanya gadis sekolah berusia delapan belas tahun. Sedewasa apapun sikap yang dia tunjukkan, tetap ada secuil keinginan di sudut hatinya bahwa dia akan bertemu dengan pangerannya sendiri. Bukan sesosok albino berlidah tajam seperti Sai.
'Hidup gue adalah milik gue, gak boleh ada yang ikut campur dan seenaknya nentuin apa yang harus gue lakukan, termasuk masalah dengan siapa gue hidup nantinya.'
Mungkin bagi sebagian orang kata-kata itu terdengar terlalu pedas karena ditujukan kepada seorang gadis, tapi Sakura mengerti kalau Sai hanya ingin jujur di depannya saat itu. Dengan menyetujui perjodohannya dengan Sai, Sakura telah memenuhi keinginan terbesar orang yang paling dicintainya, yaitu ibunya. Tapi di saat yang sama dia juga telah mengorbankan kebebasan Sai. Itu bisa dihitung egois juga, kan?
Ketika pikiran Sakura terus mengalir dan tidak tahu akan bermuara di mana, sepasang mata gelap milik Sai diam-diam mengamatinya dari sudut yang berseberangan dengan tempat Sakura duduk. Pemuda itu mencoba mencari jawaban dari rasa penasarannya sejak beberapa malam yang lalu. Tapi apa yang membuatnya penasaran? Dan kenapa harus gadis ini yang menjadi sumber rasa penasarannya?
Tiba-tiba Sakura mengalihkan pandangannya dari jendela dan menangkap tatapan sang pemilik mata onyx. Sakura mencoba tersenyum, tapi wajah sang Uchiha tetap dingin tanpa membalas senyum manis sang gadis.
'It's not gonna be easy, Sakura...' pikir Sakura dalam hati.
Sai memutuskan kontak mata dengan Sakura bertepatan dengan selesainya waktu diskusi. "Waktu habis, dan kembali ke tempat duduk kalian masing-masing!" suara serak Orochimaru mulai mendominasi ruang kelas. Guru berwajah setipe dengan Severus Snape itu mulai berkeliling kelas untuk memeriksa pekerjaan murid-muridnya. Lalu memilih berhenti tepat di depan meja Sakura.
"Haruno, apa kesimpulanmu dari diskusi tentang teori-teori asal-usul protein yang baru kau lakukan dengan teman-temanmu?" tunjuk Orochimaru tiba-tiba. Wajah Sakura langsung pias mendengar pertanyaan yang ditujukan kepadanya, terlebih lagi saat dia melihat wajah ular senseinya. "Eum..ano..." mulut Sakura menggumamkan jawaban tidak jelas. Tangannya membuka-buka buku literatur dengan gugup mencoba mencari jawaban. Gawat...
Orochimaru secara aneh terlihat puas, rupanya dia baru saja mendapat mangsa baru. "Uchiha, karena lidah nona Haruno sedang dimakan kucing, gantikan dia menjawab pertanyaanku tadi!"
Sai sedikit terkejut karena Orochimaru tiba-tiba menunjuknya. Tapi untunglah otak Uchihanya bekerja dengan cepat. "Secara umum belum ada teori yang menjelaskan tentang asal-usul protein dengan memuaskan, sensei. Perubahan satu asam amino di dalam struktur protein akan mengubah protein menjadi tidak berguna. Sangat mustahil struktur rumit seperti protein muncul secara serta-merta." jawab Sai dengan tenang. Pemuda itu bahkan tersenyum palsu seperti biasa.
Orochimaru tersenyum senang. Guru berambut indah itu (?) bertepuk tangan atas jawaban Sai. "Luar biasa Uchiha." senyum di wajah Orochimaru belum hilang.
"Jawabanmu membuktikan kalau KAU BENAR-BENAR TIDAK MENARUH PERHATIAN SEDIKITPUN PADA PELAJARANKU, KAU JUGA HARUNO!" suara Orochimaru menggelegar bagai petir di siang bolong.
Kelas XII-A langsung berubah horor dan para murid langsung kaku seperti mayat. Bahkan Hinata berpikir dua kali untuk pingsan mendengar bentakan Orochimaru.
"Anak-anak, apa judul diskusi kali ini? JAWAB!"
"Wabah global (?) dan pemanasan global, sensei." suara koor murid-murid terdengar takut-takut.
Orochimaru menyeringai dengan penuh kemenangan. "Rapikan dan bersihkan perpustakaan sekolah setelah pulang sekolah dan jangan pulang sampai lantainya mengkilat!" perintah Orochimaru setengah membentak. Binar-binar kebahagiaan terpancar jelas dari wajah sadis bin psycho-nya.
"Dan dilarang mangkir! Salah satu dari kalian mangkir, maka satu judul makalah setebal empat ratus halaman sudah menunggu untuk kalian kerjakan!" ancamnya.
Kedua orang 'terpidana' yang sebelumnya merasa nyawanya di ujung tanduk itu menghembuskan napas lega mendengar hukuman yang diberikan. Walaupun perpustakaan Utakata Gakuen terhitung besar, tapi hukuman itu jauh lebih ringan dari pada yang mereka bayangkan.
Sakura menoleh ke arah Kiba, "Sorry ya, Kib, gue bakal agak telat ke tempat kerja hari ini." begitu kira-kira gerak bibir Sakura. Kiba mengangguk maklum dan tersenyum. Kalau cuma membersihkan perpustakaan, butuh waktu berapa lama sih?
.
.
.
Buku-buku berserakan terlempar jauh dari rak-raknya. Hanya satu-dua yang masih berdiri tegak. Sakura memungut salah satu buku itu dan melihat bekas gigitan di salah satu sisinya. Kursi-kursi perpustakaan sudah tergeser jauh dari formasinya semula. Dan ada beberapa rak yang roboh walaupun cuma satu-dua. Sai melirik ke bawah, ada pecahan kaca berserakan di dekat kakinya. What the-?
"Kalian urutkan lagi buku-buku ini dengan katalogisasi yang benar, rapikan lagi rak-rak dan kursi-kursi yang berantakan dan sekalian saja kalian bersihkan lantai dan jendela perpustakaan yang berdebu." jelas Orochimaru sambil menepuk-nepuk bahu kedua muridnya yang masih bengong di tempat.
"Apa ini?" tanya Sai yang pertama kali tersadar dari bengongnya.
"Perpustakaan."
"Maksudku, apa yang terjadi dengan perpustakaannya, sensei?" tanya Sai lebih lanjut.
Orochimaru berdehem sejenak. "Manda. Laboratorium sedang dibersihkan, jadi kandangnya aku titipkan di perpustakaan. Sepertinya, waktu bangun tidur dia tidak melihatku, jadi dia 'sedikit' mengamuk." jelas Orochimaru.
"Manda ?" tanya Sai lagi.
"A-Anaconda raksasa kesayangan sensei." jawab Sakura tergagap. Secara refleks kedua tangan Sakura memeluk kedua bahunya sendiri saat membayangkan Manda.
"Nah, murid-muridku, nikmatilah hukuman kalian." kata Orochimaru sambil meng-kiss bye Sakura dan Sai dengan ceria, lalu pergi meninggalkan keduanya.
Sakura mengedarkan pandangannya ke seluruh perpustakaan yang menyerupai bekas medan perang itu. "Mulai dari mana?" tanyanya memelas. Sai tersenyum, lalu menggeleng.
.
.
.
Sekolah sudah mulai sepi dari kegiatan ekstrakurikuler. Pelataran dan ruang-ruang club yang menjadi pusat kegiatan siswa mulai sepi. Para murid dan guru hanya satu dua yang tinggal, tapi tidak lama karena mereka pun akhirnya harus pulang juga. Pukul enam sore hampir lewat, Sakura terpaksa menelpon Kiba dan mengatakan padanya kalau dia terpaksa tidak bisa bekerja hari ini.
Sai sudah dari tadi merasa pegal karena melakukan kerja sosial akibat mengabaikan pelajaran Orochimaru sensei. Hal yang sama terjadi pada Sakura. Tubuhnya sudah minta protes untuk diistirahatkan, tapi perpustakaan bekas tempat bermain Manda itu belum beres-beres juga. Kerja sebagai maid di cafe Blossom tidak ada apa-apanya dengan ini.
Setelah membersihkan lantai dan pecahan-pecahan kaca, mengembalikan rak dan kursi-kursi ke posisi semula, mereka masih harus menyusun buku-buku yang banyak itu dengan katalogisasi yang sesuai. Sakura merasa ditipu mentah-mentah oleh Orochimaru. Tidak mungkin sensei killer dan maniak ular itu memberikan tugas yang mudah. Too good to be true.
Sakura memandang 'korban' Orochimaru yang satunya. Sai sedang mengembalikan buku-buku ke raknya semula. Tuan muda Uchiha yang satu ini sepertinya tidak terbiasa kerja berat. Sakura menyandarkan dagunya pada gagang sapu yang ia pegang, tanpa sadar matanya terus menatap pemuda itu berlama-lama. Senyum mengembang di bibirnya, 'Gue baru nyadar kalau Sai itu...'
"Gue tau gue cakep, tapi mending lo bantuin gue biar hukuman kita cepet selesai deh."kata Sai memotong lamunan Sakura.
Sakura merengut. Bisa tidak sih, si putih ini bersikap manis? "Iya iya, gue juga lagi kerja."sungut Sakura sambil kembali menyapu lantai. Keheningan kembali terjadi di antara keduanya.
"Elo ngelamunin apa tadi di jam biologi?" tanya Sakura lagi. Rupanya dia bosan juga hanya bekerja tanpa bercakap-cakap.
Tangan Sai berhenti memasukkan buku ke rak. "Gue gak ngelamun."jawab Sai datar.
"Bohong."
"Terserah, tapi gue gak kaya elo yang suka ngeliatin pager di luar jendela."
"Terus tadi elo ngapain kalau gak ngelamun?"
"Bukan urusan elo."
Sakura menggembungkan pipinya. Sia-sia saja usahanya membangun percakapan dengan makhluk yang satu ini. Diambilnya buku yang terserak di lantai dan langsung berderap meninggalkan Sai menuju rak lain.
Sai lega karena akhirnya suasana tenang kembali. Sepertinya Sakura malas berbicara lagi dengannya. Tidak ada suara selain suara langkahnya di lorong-lorong rak. Untuk beberapa lama hanya ada suara buku-buku yang ditata. Sai mulai asyik sendiri dengan pekerjaannya, sampai ...
"Sai, to-tolongin gue.."suara Sakura terdengar takut dan agak gemetar. Sai menoleh ke arah sumber suara. Karena tidak melihat Sakura, dia akhirnya melangkah ke beberapa rak di depannya. Mata Sai membulat, "Elo ngapain di sana, baka?"
Di ujung paling atas sebuah rak, terlihat Sakura yang sedang berpegangan kuat-kuat pada salah satu sisi rak dengan lutut gemetar. Matanya dipejamkannya erat-erat. Sementara tangga yang ia gunakan untuk naik telah bergeser beberapa meter jauhnya.
Sai menggelengkan kepalanya. "Lo bisa lebih bodoh lagi gak?" tanya Sai ketus. Tapi diambilnya juga tangga itu untuk menolong Sakura. Lutut Sakura semakin gemetar dan tangannya semakin berkeringat, "Sai...cepetan ambil-KYAAAA!"
"Sakura!"teriak Sai.
Tubuh Sakura yang limbung meluncur ke lantai. Sai langsung membuang tangga yang dia pegang dan berlari ke arah Sakura jatuh. Di saat yang tepat tangannya mengangkap tubuh Sakura. Tapi sayangnya mereka berdua tetap terjatuh di lantai yang sama sekali tidak empuk.
Sakura segera melepaskan pelukan Sai dan bangkit duduk, tapi Sai masih berbaring di lantai. Wajahnya menunjukkan ekspresi kesakitan. Sebelah tangannya memegangi bahu kanannya.
"Sai...? Elo kenapa?"tanya Sakura setengah khawatir setengah ketakutan.
Sai berusaha bangkit dari posisinya. Diliriknya bahu kanannya sambil ditekannya sedikit, Sai langsung meringis. "Anter gue ke infirmary, kayanya bahu gue keseleo."
Sakura mengangguk dan segera membantu Sai berdiri. Mereka berdua segera keluar dari perpustakaan setengah jadi itu. Sakura berharap infirmary yang terletak di ujung koridor sekolah masih dibuka. Kalau tidak, mereka harus ke rumah sakit terdekat untuk mencari pertolongan pertama.
Sakura menarik napas lega saat melihat lampu infirmary masih menyala. Dibukanya pintu infirmary yang setengah terbuka itu. Di dalam infirmary, sesosok wanita berambut hitam legam panjang tampak sedang memulaskan eye shadow dengan hati-hati. Mendengar ada yang membuka pintu, wanita itu menoleh.
Err...apa saya tadi bilang wanita?
.
.
.
Perasaan tidak enak menjalar di hati Sai saat melihat Orochimaru yang sedang berdandan. Perasaannya lebih tidak enak lagi saat melihat desk name plate yang bertuliskan : Orochimaru, kepala infirmary.
"Tugas kalian sudah selesai?" tanyanya sambil melanjutkan memulaskan eye –shadow ungu di sekitar matanya.
"Belum, sensei. Sai mengalami cedera saat kami sedang membersihkan perpustakaan. Sepertinya bahu kanannya terkilir." jelas Sakura. Dengan ogah-ogahan sensei nyentrik itu menghampiri kedua anak didiknya. Tangannya mengelus dagunya yang mulus tanpa janggut, lalu ditekannya bahu kanan Sai dengan dengan telunjuknya.
"Aww!"seru Sai.
Orochimaru mengangguk, "Sepertinya betulan."
Sai melotot, memangnya dia mau repot-repot membohongi guru aneh ini di sekolah malam-malam? Ketidakyakinan Sai terhadap kredibilitas Orochimaru semakin meningkat.
"Sakura, bantu aku mengkompres bahu Sai dengan kompres hangat, setelah itu kau perban ya. Kau bisa melakukannya di sebelah sana." tunjuk Orochimaru pada sebuah tempat tidur kecil. Sakura mengangguk patuh.
"Tapi Anda belum melakukan satu prosedur pemeriksaan pun, sensei."protes Sai.
"Tadi kan sudah." Orochimaru mengangkat jari telunjuknya. Apa sekarang jari telunjuk menggantikan fungsi stetoskop?
Muka Sai semakin kusut. "Sebagai pasien, saya menuntut untuk diperlakukan sama seperti pasien lainnya, sensei." kata Sai sok diplomatis. Pasien yang mana, Sai? Pasiennya Orochimaru kan diperlakukan sama semua, maksudnya semuanya diperlakukan seperti Sai.
"Kalau tidak, saya akan laporkan ke kepala sekolah bahwa infirmary ini tidak dijalankan sebagaimana mestinya." lanjut Sai dengan percaya diri.
"Ada perlu apa kau ingin bertemu dengan kepala sekolah?" tanya sebuah suara dari ambang pintu. Ketiga orang itu menoleh. Seraut wajah penuh piercing muncul dan memasuki infirmary. Orochimaru dan Sakura langsung membungkuk hormat pada pria yang juga berambut orange itu.
"Selamat malam, Yahiko-sama."
"Hn. Ada apa malam-malam kalian masih di sini?" tanya pria yang ternyata bernama Yahiko.
"Hanya seorang murid yang mengalami kecelakaan kecil saat melaksanakan hukuman disiplin, Yahiko-sama." elak Orochimaru.
Yahiko mengangguk, "Kalau begitu untung kau masih disini, Orochimaru-san. Tidak salah aku sebagai wakil ketua yayasan pendidikan (?) Utakata menunjukmu secara langsung sebagai kepala infirmary di sini. Kau memang orang yang penuh dedikasi." Yahiko dengan gaya yang resmi menepuk-nepuk bahu Orochimaru.
Sai yang akan mengadukan tuntutannya kepada Kepala Sekolah, mendadak kehilangan moodnya.
Bukan. Bukan karena nyali Sai ciut akan menghadapi Orochimaru, tapi Sai mengurungkan niatnya karena melihat wakil ketua yayasan sekolahnya ber-piercing parah disekujur wajah, ralat, tubuhnya itu.
Guru biologi maniak Anaconda raksasa merangkap kepala infirmary yang asal diagnosa, wakil ketua yayasan yang seluruh tubuhnya di-piercing, lalu selanjutnya apa? Ketua Yayasan sekolah yang hobby meniup gelembung?
Sai menepuk dahinya. Sebenarnya Mikoto memindahkannya ke sekolah macam apa sih?
.
.
.
Dengan tidak bertanggung jawab, Orochimaru menyerahkan Sai ke tangan Sakura. Sementara dia sendiri dan Yahiko-sama akan melakukan pembicaraan yang penting menyangkut masa depan sekolah. Setidaknya Sai merasa lebih aman ditangan Sakura yang masih normal dibanding senseinya itu.
"Gomen."kata itu meluncur dari bibir Sakura ketika selesai membalut bahu Sai.
"Hn."
"Gomen."
"Lo udah bilang tadi."
Sakura menggeleng, matanya tetap terpaku pada lantai di bawah tempat tidur yang mereka duduki. "Yang terakhir buat kebebasan elo."
Dahi Sai mengernyit tidak mengerti.
"Gue gak mikir panjang kalau keputusan gue akan bikin elo kehilangan kebebasan. Yang kepikiran cuma pesan terakhir ibu."
Sai tersenyum, dia mulai mengerti sekarang apa yang gadis itu bicarakan. Sebenarnya secara pribadi dia tidak pernah membenci Sakura. Kebetulan saja mereka ditempatkan pada pihak yang berlawanan. Sakura hanyalah gadis yang tepat di tempat yang salah.
"Harusnya elo berpikir dulu sebelum 'memenjarakan' diri elo sendiri. Dan orang lain." sahut Sai datar. "Hidup sebagai seorang Uchiha penuh dengan tuntutan. Artinya : bisa-bisa elo kehilangan privilege untuk hidup sesuai keinginan elo sendiri. Elo udah siap?"
"Jadi itu pendapat elo tentang Uchiha, keluarga elo sendiri?"tanya Sakura mengabaikan pertanyaan Sai.
"Yah..kurang lebih. Tapi gue akan pastiin kalau hal itu gak akan terjadi sama gue."
"Gue gak mau elo terus-terusan salah paham. Kalau kita bisa melewati ini semua dengan berdamai, gue yakin kita bisa berteman baik." lanjut Sakura sambil tersenyum. Tangannya terulur pada Sai, "Gimana kalau kita gencatan senjata?" tawarnya.
Sai memandang tangan Sakura yang seharusnya dia sambut, "Kalau kita gencatan senjata elo bakal ngelepasin gue?" tanyanya sangsi.
Sakura menggigit bibirnya, lalu menggeleng. Sai tersenyum, "Then forget it, miss cherry blossom."
Dingin. Itu yang Sakura rasakan saat tangan dan niat baiknya tidak disambut. Otaknya buntu memikirkan dengan cara apa lagi dia bisa membujuk Sai. Sang Uchiha bahkan tidak memberinya kesempatan untuk mengenal dirinya.
Kesunyian merayap di antara keduanya. Mereka tenggelam dalam lamunannya masing-masing dan malas untuk berdebat. Lebih tepatnya Sakura yang menyerah untuk berdebat.
Tiba-tiba ada sesuatu yang menggelitik dan menekan lembut kepala Sai. Semakin lama bobot gadis yang duduk di sebelahnya itu semakin bertumpu kepadanya. Tubuh Sai mendadak beku.
Perlahan-lahan Sai memutar kepala ke arah Sakura. Sepasang mata yang biasanya memamerkan bola matanya yang hijau, kini terpejam. Anak-anak rambutnya menutupi dahinya dengan berantakan. Dan dari jarak sedekat ini, Sai bisa mencium samar sampo yang Sakura pakai. Wangi strawberry.
"Hei...Sakura.."
Sakura bergeming. Rupanya miss cherry blossom terlalu lelah akibat bangun subuh dan kerja rodi menjadi petugas perpustakaan dadakan. Tapi itu bukan alasan untuk menjadikan kepala Sai sebagai bantal, kan? Iya kan, Sai?
'Shit!'umpat Sai dalam hati, entah untuk apa. Mungkin untuk jantungnya yang tiba-tiba berdetak lebih kencang, atau mungkin untuk posisinya yang 'tidak menguntungkan', atau untuk wajahnya yang tiba-tiba memanas. Who knows?
Sai semakin kuat meremas udara yang ada di tangannya. Kenapa tiba-tiba bernapas jadi susah begini? Pasti ini gara-gara hormon sialan yang dikatakan Deidara. Pasti hormon itu juga yang membuat wajah Sakura jadi memiliki gravitasi, sehingga wajah Sai makin lama makin dekat...makin dekat...makin de...
JEDUK!
"Itai!"seru Sakura terlonjak bangun. Sai tersenyum puas. Rupanya dia membenturkan kepalanya sendiri ke kepala Sakura sebelum...yah...you-know-what terjadi.
"Elo ngapain sih sampe mukul gue segala?"semprot Sakura.
"Elo tuh ngilerin baju gue."
"Gue gak pernah ngiler."
"Orang gila juga gak pernah ada yang ngaku kalo mereka gila."
Dan seterusnya...dan seterusnya...dan seterusnya...
Mereka terus bertengkar sampai-sampai tidak menyadari ada empat pasang mata yang dari tadi memperhatikan mereka melalui jendela infirmary.
"Baka." komentar pria berambut panjang digerai.
"Gak bisa manfaatin kesempatan." komentar pria ber-piercing.
"Payah, un." komentar si pirang.
"Hn." komentar si poni belah tengah.
"Hhhhh..." empat orang itu menarik napas panjang. Ternyata usaha mereka mengintip dari jendela selama setengah jam terakhir sia-sia belaka. Keempatnya memandang skeptis ke arah romeo-juliet gagal itu. Benar-benar tidak ada romantis-romantisnya.
.
.
.
"Jadi lo kenal sama Orochimaru dan Yahiko-sama, Baka Aniki?" tanya Sai di dalam mobil saat perjalanan pulang.
"Orochimaru tuh senior gue di Iwa, dia baru lulus dua taon kemaren. Yahiko-san sih sepupunya Deidara, masih terhitung temen gue juga." jelas Itachi.
Sai mengangguk, 'Harusnya gue tau kalo semua orang aneh di Konoha dan Iwa tuh kenalannya Itachi semua.'
"Ano, Itachi-san...maaf sudah merepotkan Itachi-san dengan mengantarku pulang. Bahu Sai juga cedera gara-gara aku...gomen..." kata Sakura di jok penumpang.
"Tidak apa-apa, Saku-chan. Nantinya kau juga akan pulang ke rumah kami." jawab Itachi tenang.
"Eh?"
Itachi tersenyum, "Nanti kau juga tau. Nah, kita sudah sampai, Saku-chan."
Mobil memasuki halaman rumah Sakura. Ternyata Jiraiya belum tidur, atau mungkin dia lupa mematikan lampu. Sakura mengeluh dalam hati, kakeknya itu benar-benar tidak tahu cara menghemat energi.
"Tadaima..."
Tidak ada jawaban. Dengan menahan kantuk dan lelah, Sakura melangkah ke lantai atas ke kamarnya. Tubuhnya ingin segera mencicipi tempat tidurnya yang empuk dan hangat. Bisa dipastikan saat tubuhnya menyentuh sprei, dia pasti akan langsung tertidur.
Langkah kaki Sakura terhenti di ambang pintu. Di dalam kamarnya, Jiraiya sedang memasukkan baju-baju Sakura dengan paksa ke sebuah koper ukuran kecil.
"Apa yang kakek lakukan? Kakek mengusirku?" Sakura dengan panik memasukkan kembali baju-bajunya ke lemari.
"Kita akan menginap untuk sementara di kediaman Uchiha." Jiraiya kembali memasukkan baju-baju Sakura ke dalam koper.
"Apa? Untuk apa? Siapa yang bilang? Kenapa tidak bilang dulu padaku?" Sakura menjauhkan kopernya dari Jiraiya.
"Ini undangan dari Mikoto. Dia ingin kau lebih akrab dengan anggota keluarga Uchiha yang lainnya. Tidak lama, kok. Hanya dua minggu." Jiraiya merebut kembali kopernya dari tangan Sakura.
"Apa? Tidak! Aku tidak mau pergi. Kalau aku pergi kakek kan akan sendirian."
"Karena itu kakek ikut."
Sakura menggeleng kuat-kuat, "Bukan itu inti masalahnya, kek. Selama ini selalu kita yang mendekat kepada mereka. Seharusnya Uchiha juga melakukan hal yang sama." katanya sambil berkacak pinggang.
"Itulah yang sedang mereka lakukan sekarang, Saku-chan."
Lagi-lagi Sakura menggelengkan kepala, "Kakek tahu tidak, Sai tidak menghendakiku untuk menjadi istrinya. Aku sudah mencoba untuk berkencan, berbicara, bahkan memukul mukanya. Oke, yang terakhir itu keterlaluan. Tapi apapun yang kulakukan, semua selalu dimentahkannya. Kalau aku tinggal di tempatnya, apa yang tersisa dari diriku,kek?" Sakura setengah menjerit saat mengatakan hal ini. Sebenarnya dia malas menbicarakan hubungannya dengan Sai. Orang yang mengetahui ceritanya pasti akan men-judge Sakura tidak punya harga diri. Dia lalu terduduk di tepi ranjang dengan lemas.
Kakeknya terdiam sejenak mendengar perkataan Sakura. Dirangkulnya cucu semata wayangnya itu dan diusapnya bahu Sakura dengan sayang.
"Gomen ne, Saku-chan. Kakek tidak menyangka kau akan setertekan ini. Kakek tidak akan memaksamu lagi." Jiraiya tersenyum, diacaknya rambut Sakura yang sudah berantakan itu. "Sekarang kau istirahatlah. Sepertinya kau lelah sekali hari ini." Sakura tersenyum lemah. Istirahat adalah hal yang paling dibutuhkannya saat ini.
Kamar itu akhirnya menjadi sepi, walaupun agak berantakan gara-gara baju-baju Sakura masih berceceran di sekitar koper. Mata Sakura menerawang langit-langit kamarnya. Benaknya berusaha melepaskan semua yang telah terjadi hari ini. Perlahan-lahan sepasang mata lelah itu mulai terbuai kantuk dan akhirnya kegelapan datang menghampiri. Tenang dan damai. Hanya ada suara gemericik air dari pancuran bambu di depan kamarnya.
'Tunggu dulu, rumah gue kan kan gak ada kolamnya.'
Mata Sakura terbeliak kaget. Sebuah ruangan asing dengan nuansa tradisional menyergap kesadaran gadis yang baru bangun itu.
"Tidak mungkin!" seru Sakura sambil menyibak selimut dan meloncat ke arah pintu. Dengan kasar tangan Sakura membuka pintu geser. Sebuah kolam dengan pancuran bambu terhampar dengan indah di hadapan Sakura, tapi gadis itu tidak peduli. Matanya bergerak liar ke segala penjuru arah, dan akhirnya berhenti tepat di ornamen yang melekat di pintu geser ruangan di sebelah kamarnya : ornamen berbentuk kipas, lambang Uchiha.
~To Be Continued~
Deidara : datar, un. *ngasah pedang totsuka*
Itachi : membosankan *nyiapin C4*
Author : ...
Deidara : elo kenapa, un?
Author : semua yang kulakukan sia-sia...aku serahkan fic ini pada kalian berdua... *melambaikan tangan dengan putus asa pada Itachi n Deidara*
Itachi : mohon review ( dan kesabarannya), ya, minna *membungkuk hormat*
