# acchan lawliet : chapter 3 kemaren author pengen munculin moment SaiSaku berdua aja. Di chap ini ItaDei balik kok ^^

# Andromeda no Rei : kalau Manda ada di perpus nanti author tergoda bikin pair OroManda loh * author dibelit Manda*

# Putri Luna, ayyuki, ryuva : author bingung mau bikin romance/humor-nya biar imbang,hwaaaa! T_T

# zoroute : yup, yahiko=pein, author sengaja pake nama yahiko biar lepas dari image mesum, tp ujung-ujungnya tetep mesum jg *dipiercing pein*

# Thia Shirayuki : bantuin ngetik donx... *dilempar klompen sama Thia*, be-becanda kok... (-_-)'

Minna-san, arigatou gozaimasu! Seneng deh punya reviewers setia ^^

I'll try to update A.S.A.P, wish me luck

Disclaimer : Naruto adalah masterpiece Masashi Kishimoto

I Heart You punya SM*SH

Grell Sutcliff punya say- #PLAK# ahem, punya Yana Toboso

Warning : banyak! Garing, OOC, Miss typo, EYD berantakan, author gak berpengalaman (?)

Tapi mohon dibaca sampe selesai ya...hiksu...

Hope you'll like it...

Pagi-pagi perang death glare sudah terjadi di kediaman Uchiha. Sakura vs Jiraiya. Sebenarnya adu melotot itu cuma terjadi searah, karena faktanya Jiraiya hanya melihat ke arah Sakura sambil meringis takut-takut. Gadis delapan belas tahun yang sedang marah itu kelihatan benar-benar menakutkan dengan piyama putih kotak-kotak birunya. Piyama putih kotak-kotak biru? Sakura yang baru menyadari hal ini langsung melihat bajunya.

"Siapa yang mengganti bajuku?" tanyanya panik. Pikiran aneh dan curiga memenuhi kepalanya.

"Tentu saja pelayan, Saku-chan."

"Oh." sahut Sakura lega. "Tapi Kakek belum menjawab pertanyaanku, kenapa kita ada di sini? Bukankah tadi malam kita sudah sepakat, Kek?" nada suara Sakura meninggi kembali.

"Hm...bagaimana ya, Mikoto benar-benar ingin kita tinggal di sini. Jadi tadi malam dia menjemput kita. Karena dia sudah repot-repot datang, ya kakek iyakan saja. Ahaha..." Jiraiya tertawa gugup.

"Jangan berlindung di balik nama Mikoto-san, Kek. Yang memindahkanku ke sini-"

"Kakekmu benar, Sakura." sebuah suara berwibawa milik seorang wanita menghentikan kata-kata Sakura. Jiraiya hampir menangis bahagia, Mikoto datang di saat yang tepat untuk menyelamatkannya dari terkaman cucunya sendiri.

Mikoto tersenyum lembut, "Aku sangat ingin kau dan kakekmu tinggal untuk sementara waktu di tempat kami agar kedua keluarga bisa lebih akrab. Dua tahun lagi kan kau dan Sai akan menikah. Keramah-tamahan semacam ini kami rasa wajar."

Sakura menggaris bawahi kata-kata 'dua tahun' yang diucapkan Mikoto. Hell yeah, dua tahun itu masih lama, bibi. Dan selama dua tahun itu mungkin Sakura dan Sai lebih tepat dikatakan akan saling bunuh dari pada mengakrabkan diri.

Mikoto mengusap punggung Sakura, "Putriku..." panggilnya lembut. Pandangan matanya bahkan lebih lembut lagi. Sakura terpaku mendengar panggilan Mikoto untuknya. Sejenak pikirannya melayang di saat Satsuki masih hidup dan suka membelai atau mengusap pipi dan kepalanya.

Sakura memaksakan sebuah senyum untuk Mikoto, "Maaf bibi, saya sangat menghargai undangan anda, tapi saya akan tetap tinggal di rumah saya. Terima kasih." Sakura membungkuk hormat. Dirinya hampir menampar pipinya sendiri saat melihat raut kecewa pada wajah Mikoto.

.

.

.

Jiraiya masih berusaha membujuk Sakura agar mempertimbangkan kembali keputusannya. Jawabannya : gadis itu hanya menggeleng sambil sesekali mendeath-glare kakeknya dan memasang tampang seperti orang sakit perut. Hanya di ruang makan dia menampilkan wajah ramahnya, karena di sana ada para Uchiha. Jiraiya cuma bisa mengurut dada menghadapi sifat keras hati cucunya yang diwariskan Tsunade itu.

"Aku akan langsung pulang ke rumah setelah pulang sekolah nanti. Kalau kakek masih ingin tinggal di sini, terserah kakek. Tapi jangan tunggu aku." katanya ketus setelah sarapan selesai. Wajahnya tetap menunjukkan ekspresi marah walau dalam hati dia kasihan pada kakeknya, semata-mata untuk memberi pelajaran kakeknya agar tidak seenaknya lagi.

"Jangan begitu dong, Saku-chan. Pulang sekolah nanti kau dijemput saja ya? Ya? Ya?." bujuk Jiraiya sambil memeluk kusen pintu, berusaha tampak seimut mungkin agar dikasihani Sakura.

"Tidak mau, aku akan pulang sendiri, titik." Sakura segera berlari ke arah mobil yang sudah menunggunya untuk mengantarnya ke sekolah.

Ancaman Sakura tidak main-main. Begitu bel pulang sekolah berdentang (?), dia segera mengambil ancang-ancang untuk kabur. Gayanya sudah mirip maling salah lokasi gara-gara celingak-celinguk tidak jelas. Mata hijaunya menyapu kerumunan murid-murid dan beberapa orang penjemput yang berada di depan gerbang Utakata Gakuen, memastikan kalau butler Uchiha tidak ada yang menjemputnya.

Dengan langkah cepat-cepat Sakura bergegas meninggalkan gerbang sekolah menuju halte bus. Sejauh ini keadaan aman. Bagus.

"Haruno-san!"

Yang dipanggil beku ditempat. 'Butler Uchiha.' batin Sakura. Sakura melangkah lebih cepat dari sebelumnya, tapi dia merasa si pengejar juga mempercepat langkahnya.

"Haruno-san! Tunggu!" seru si pengejar. Dengan gesit Sakura menghindari orang-orang yang hampir ditabraknya. Kepalanya tetap fokus ke depan tanpa menoleh sedikitpun.

"Haruno-san, aku mohon, berhentilah!"

Berhenti? No way! Sekarang Sakura malah berlari dan masuk ke bus yang berhenti di halte. Si pengejar itu terbengong-bengong di pinggir halte saat bus melaju kencang membawa Sakura pergi.

"Padahal aku cuma ingin mengajaknya kencan..." keluh si pengejar berambut nanas.

.

.

.

Satu dua blok lagi Sakura akan sampai ke rumahnya tercinta. Tidak ada Uchiha, tidak ada Sai, tidak ada...kakeknya. Mood Sakura yang sudah bagus langsung rusak mengingat kakeknya lebih memilih tinggal di kediaman tradisional nan mewah itu. "Huh, mewah apanya? Pintu aja dari kertas, apa yang bisa dibanggain?" sungut Sakura.

Setelah menghabiskan waktunya bersungut-sungut di jalan, akhirnya Sakura menginjakkan kakinya di halaman rumahnya. Ah, home sweet home.

"Selamat sore, Nona Haruno." seorang butler wanita, err, pria feminin berambut panjang diekor kuda memberi hormat kepada Sakura begitu Sakura membuka pintu. Kacamata bulat bertengger di hidungnya, dan dari suaranya, Sakura menangkap aksen Inggris yang lumayan kental. Ralat, mukanya memang muka Inggris.

"Siapa kau?" tanya Sakura curiga.

"Saya butler yang ditugaskan tuan Uchiha Fugaku untuk mengurus rumah Anda selama Anda tinggal di kediaman Uchiha, nama saya-"

"Kau apakan rumahku?" jerit Sakura. Kepalanya men-scan secara kilat rumah yang baru dia tinggalkan kurang dari dua puluh empat jam yang lalu. Si butler ikut-ikutan memperhatikan sekelilingnya. Sepertinya tidak ada yang salah. Rumah Sakura sudah tertata rapi dan bersih, barang-barang yang bertebaran tidak pada tempatnya sudah dibereskan. Bahkan boxer bermotif kodok Jiraiya sudah dia cuci. Pakai mesin cuci tentunya...

"Kembalikan rumahku seperti semula!" tangan Sakura teracung naik turun ke wajah si butler yang sedang bingung. Raut muka Sakura mendadak garang.

"Ta-tapi, Nona-"

"Sekaraaaang!" teriak Sakura dengan frustasi. Dan mulailah rekonstruksi ulang rumah ala Sakura. Diseretnya butler yang malang itu ke sana kemari.

"Rumahku harus kembali seperti sebelum kau menginjakkan kaki di sini. Tidak! Letakkan remotenya disitu! Aduh, gordennya harusnya diikat!" seru Sakura galak.

"Apa yang kau lakukan? Sofanya harusnya miring! Baju kotornya letakkan di wastafel!" kalimat-kalimat yang pastinya diakhiri dengan tanda seru itu terus keluar dari bibir mungil Sakura. Si butler merasa kagum sekaligus mengutuk daya ingat Sakura yang mendadak tajam kalau menyangkut urusan rumah. Apa sih maunya gadis ini? Well, sebenarnya Sakura hanya merasa tidak puas dengan sikap Uchiha karena telah seenaknya mengatur rumahnya yang notebene adalah daerah kekuasaannya. Ditambah dengan kakeknya yang malah lepas tangan begitu saja kalau menyangkut keluarga kaya itu, Sakura semakin naik pitam.

Napas si butler ngos-ngosan gara-gara disuruh menata rumah sambil maraton oleh gadis ingusan berambut pink aneh. Setiap setengah menit sekali pasti terdengar teriakan melengking yang menyuruhnya : 'letakkan ini!' dan 'angkat yang itu!'. Hampir sesorean itu mereka berputar-putar di dalam rumah.

Akhirnya kegiatan tidak jelas itu selesai. Sakura berkacak pinggang di tengah ruang tamu yang sudah kembali seperti kondisi sebelum ia tinggalkan, alias berantakan. Sebuah senyum puas terbentuk di bibirnya.

"It's perfect! Sekarang, ayo kita bereskan rumah!" kata Sakura dengan manisnya.

"Eeeeh?"

.

.

.

Alunan musik klasik mengiringi Sakura yang sedang mengorek-ngorek (?) rumus-rumus matematika. Kelopak matanya semakin lama semakin berat dan dengan keras kepala minta diistirahatkan. Sakura bukan gadis pemalas, jadi kenapa malam ini dia begitu sulit membangun mood belajarnya? Salah sendiri belajar pakai musik klasik tengah malam begini...

Rumus-rumus yang dikerjakannya seakan-akan ditulis dengan huruf Mesir kuno, dikali, dibagi, diintegral, diapa-apakan tetap saja kusut seperti sarang burung (?). Akhirnya Sakura malah benar-benar menggambar sarang burung lengkap dengan burungnya. Pandangannya tidak fokus sementara tangannya mencoret-coret buku yang seharusnya dia gunakan untuk belajar.

Bosan dan kesepian. Dua kata itu kini berkeliaran di kepala Sakura. Tidak ada orang lain di rumah selain Sakura dan si butler yang kini sudah tertelungkup kelelahan di ruang tamu di lantai bawah. Jadi apa gunanya dia pulang kalau akhirnya harus sendirian? Tidak ada kakeknya, tidak ada ibunya... Tanpa keluarganya, ini sama saja bukan di rumah. Desau angin terdengar melewati jendela yang masih terbuka, semakin menambah kesan sunyi pada rumah mungil yang minim aktivitas itu. Seakan mengingatkan betapa berbeda rumahnya ketika Satsuki hidup dulu. Sakura merasakan tusukan rasa sakit di dadanya saat mengenang wanita yang paling dia sayangi.

Bibir Sakura bergetar, kedua tangannya meremas celana piyamanya. Pandangannya menjadi buram dan perlahan-lahan air matanya berjatuhan tanpa penghalang. Untuk beberapa lama Sakura membiarkan tangisnya pecah. Dan akhirnya, seperti butler yang kini terkapar di lantai bawah, Sakurapun tertelungkup di atas meja belajarnya. Lelah dan kalah.

.

.

.

Bel pintu berbunyi untuk ketujuh kalinya, tapi tidak ada tanda-tanda tuan rumah akan membukakan pintu. Putus asa, Sai mengetuk-ngetuk pintu depan keluarga Haruno itu dengan keras. Ampun deh, kemana sih semua orang? Karena tidak ada yang membukakan pintu juga, Sai mencoba memutar gagang pintunya. Terbuka!

"Dasar ceroboh! Kalau yang masuk maling gimana?" omelnya entah pada siapa.

Baru kali ini Sai masuk ke rumah Sakura, dan dia juga baru menyadari betapa cerobohnya calon istrinya. 'Gue gak akan nyerahin kunci rumah ke dia kalo jadi nikah nanti.' What? Kalau nikah nanti? Pemuda itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Mikir apa sih dia tadi?

Tiba-tiba telinganya menangkap dengkuran halus di ruang tamu bergaya modern itu. Bulu kuduknya berdiri. "Hantu?" Suara dengkuran semakin lama semakin keras sampai tidak pantas disebut dengkuran halus lagi. Sai melongokkan kepalanya ke balik sofa putih yang lumayan lebar, dan hampir melempar vas bunga yang dengan manis bertengger di meja karena menemukan butlernya tidur sambil mangap.

"Grell Sutcliff!" bentaknya.

"KYAAA!" jerit Grell. Sai secara refleks menutup telinganya. "Oh, Tuan Muda. Anda sudah pulang, okaeri..."

"Bangun dan cuci mukamu! Di sini bukan kediaman Uchiha, jangan mengatakan hal aneh." muka Sai langsung berubah datar. Biasa, jaga image di hadapan anak buah.

"Oh, eh, iya. Kalau begitu Tuan Muda sedang apa di sini? Ini kan sudah-" mata Grell melirik jam tangannya, mukanya yang masih bau bantal seketika pucat "-tengah malam."

"Dimana Nona Haruno?" tanya Sai.

"Di kamarnya, sepertinya dia sudah tidur, Tuan."

Sai mengangguk, "Kalau begitu aku akan ke atas. Kau jaga di sini." Sai mengeluarkan death glare terbaiknya. "Dan saat aku bilang jaga, artinya : kau-harus-benar-benar-jaga-rumah!" Grell cuma bisa meringis pasrah.

Tidak perlu navigator ulung untuk menemukan yang mana kamar Sakura. Di lantai dua hanya ada dua kamar dan kamar sakura terletak hanya sepuluh langkah dari ujung tangga. Sai menghela napas panjang ketika melihat kamar Sakura yang tidak tertutup, memperlihatkan pemiliknya yang sedang tertidur tertelungkup di meja belajarnya. Sai masuk ke kamar mungil bernuansa pink dan peach (?) itu, nuansa khas seorang gadis. 'Cih, apa dia tidak sakit mata melihat dekorasi yang mencolok begini setiap hari?' celanya. Tunggu saat kau melihat kamar Naruto, Sai.

Sebuah buku matematika setebal muka Deidara terbuka di atas meja yang ditiduri (?) Sakura. Sebuah gambar yang setelah diidentifikasi dengan susah payah oleh Sai sebagai sarang burung dan penghuninya, menghiasi buku matematika tersebut. Ditambah dengan tulisan 'i love you, i miss you' yang bertebaran di mana-mana.

Sai menyeringai sinis, 'Ternyata seorang Haruno Sakura sama aja sama cewek lainnya, tukang mimpi dan gan-' cemoohan terakhir Sai mendadak berhenti saat melihat versi lengkap tulisan di tepi bawah buku itu : 'i love you, i miss you, mom.'

Kali ini mau tidak mau Sai merasa miris pada gadis yang sedang tidur di hadapannya, 'Gimana rasanya memiliki rasa rindu yang gak akan pernah tersampaikan, Sakura?' tanyanya, kali ini dengan rasa kasihan. Hampir saja Sai melupakan tujuannya kalau tidak mendengar jam dinding di lantai satu berdentang satu kali. Dengan terpaksa Sai harus membangunkan gadis itu. Sambil berlutut, diguncangnya pelan bahu Sakura.

"Sakura.."

"Hmmmm?" mata Sakura masih belum melek.

"Sakura bangun..."

"Hmm? Kenapa ada Yuki no Onna di sini ? Pasti gue sedang mimpi buruk..." gumam Sakura. Sai merengut.

"Jangan ngigau, Baka. Bangun!" tanpa ampun Sai menarik pipi Sakura sampai melar.

"Aduuuuh, lepasin gue! Iya, iya, gue udah bangun." pinta Sakura sambil meringis sakit. Diusapnya pipinya yang baru dicubit Sai.

"Ayo pulang." kata Sai datar sambil tetap berlutut. Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya, mendengar kata-kata Sai barusan matanya mendadak segar. Apa dia tidak salah dengar tadi? Ini beneran Sai, kan, bukan Yuki no Onna? Soalnya Sakura menganggap bahkan Yuki no Onna pun bisa bersikap lebih manis dibanding Sai.

"Gue gak bisa..." kata Sakura ragu-ragu.

"Gue nggak menerima jawaban tidak." Kata Sai lagi sambil tersenyum.

Sepertinya Sakura pernah mendengar kalimat itu, tapi dimana ya?

Gadis itu tertunduk. Sebenarnya dia ingin menerima ajakan Sai, tapi malu dan takut kalau-kalau Sai akan mengejeknya lagi.

"Kenapa lo repot-repot ke sini buat ngebujuk gue buat balik ke rumah lo?"

"Ibu gue dari sore gak brenti-brenti nanyain elo ke gue. Dia nyuruh gue jemput lo, gak tau deh kenapa dia nggak nyuruh butler atau Itachi aja. Sampai tengah malem tadi dia gak brenti ngungkit-ngungkit permintaannya itu. Akhirnya daripada gue pusing mending gue turutin aja kemauannya." jelas Sai panjang dan lebar. "Ayo balik, kakek lo khawatir, tau." lanjutnya lagi. Kali ini Sakura mengangkat wajahnya, tapi masih belum menjawab ajakan Sai.

"Gue capek berlutut, miss cherry blossom. Jawab aja iya, susah amat?" sungut Sai dengan tidak ikhlas.

Sakura tertawa renyah, "Suruh siapa berlutut?" ejek Sakura, tapi tak lama kemudian, diapun mengangguk, "Gue ikut lo."

Sakura segera menyambar jaketnya. Dia tidak perlu berkemas, toh baju-bajunya sudah diangkut saat dia 'diculik' di malam sebelumnya. Mereka berdua bergegas menuruni tangga. Grell memilih ikut majikan aslinya pulang daripada tinggal di rumah Sakura. Bisa-bisa kalau dia tetap tinggal disana Sakura akan menyuruhnya kerja rodi yang sia-sia seperti sore tadi.

Angin malam menyambut mereka ketika menjejakkan kaki di luar rumah. Sai yang bahunya masih terkilir memilih duduk di samping Sakura waktu naik ke mobil. Selama beberapa lama mereka hanya saling mendiamkan, terutama Sakura. Daripada memulai percakapan yang ujung-ujungnya membuat mereka adu urat saraf, lebih baik Sakura diam. Lagipula dia sudah mengantuk, ini kan sudah lewat jam tidurnya. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada jendela mobil. Kegelapan dan lampu mobil yang berselisih jalan dengan mobil mereka seperti nina bobo yang menghipnotisnya ke alam mimpi.

Sai menoleh dan memperhatikan gadis yang duduk di sebelahnya mencoba tidur dalam posisi yang tidak nyaman. "Mattaku..." keluh Sai. Ditariknya bahu Sakura ke arahnya. Sakura mengerutkan kening saat Sai menyandarkan kepala Sakura ke bahu Sai.

"Lo bisa sakit leher kalau tidur kaya gitu." jelas Sai tanpa diminta. Pemuda itu hanya menatap lurus ke depan dengan ekspresi datar. Sebaliknya, Sakura yang kepalanya masih ditahan oleh tangan Sai masih mengerjapkan mata tidak percaya. Dia mencoba untuk bersikap kasual dengan posisi tidurnya yang baru, tapi tetap saja merasa gugup. Pipinya bersemu merah saat tangan Sai yang semula berada di kepalanya bergeser turun dan memeluk pinggangnya. Kalau niat Sai melakukan ini semua agar Sakura bisa tidur dengan nyaman, maka dia gagal. Karena gadis itu malah kehilangan rasa kantuknya dan jantungnya berdebar keras seperti habis lomba lari. Tapi entah kenapa, dalam hati Sakura terselip rasa bahagia yang membuat bibirnya tersenyum.

.

.

.

"Apa? Apa yang kuraaaang, un?" Deidara berteriak dengan dramatis pada langit-langit kamar Itachi.

"Lo bisa diem gak? Brisik, tau." Itachi mengorek-ngorek kupingnya gara-gara teriakan lebay Deidara. Tapi tetap, dengan gaya cool khas Uchiha.

"Hhhh, padahal mereka udah sedekat ini! Sedekat ini, un!" Deidara menyodorkan mukanya ke muka Itachi sampai jarak muka mereka hanya dua centi. Itachi gelagapan.

"Oi! Lo kira-kira dong, Dei! Rekonstruksi ulang jangan nyosor ke muka gue. Kalo ada yang liat bisa-bisa mereka panggil penghulu gara-gara gue dikira berbuat aneh ama elo." Itachi sewot. Didorongnya muka Deidara jauh-jauh.

Deidara cuek. Dia malah memainkan boneka tanah liat yang bentuknya mirip Sai dan Sakura. "Kalau cowok normal, pasti kesempatan itu uda diserobot, un." katanya sambil menempelkan bibir boneka Sai ke bibir boneka Sakura. "Tapi emang otouto elo tuh kayanya gak pernah belajar matematika! Gak tau teori peluang, un!" kali ini Deidara menusuk-nusuk boneka Sai dengan jarum yang entah didapatnya dari mana. Oh...ternyata mereka sedang membicarakan peristiwa di infirmary kemarin.

Kata-kata Deidara membuat Itachi berpaling dari buku yang dibacanya, dahinya berkerut, "Elo bener. Kayanya dia masih nahan diri gitu. Kalau gitu kita perlu ngasih 'pendorong' biar dia gak ragu-ragu lagi." Itachi mengelus-elus punggung tangan kirinya, persis om-om genit yang baru melihat gadis cantik.

"Maksud lo, semacam katalisator gitu, un? Biar Sai ngerasa cemburu dan terancam, trus bertindak out of his shell? Menurut elo, siapa yang bisa kita jadiin kandidat, un?" tanya Deidara serius. Kali ini dia berjalan memutari kamar Itachi, boneka Sai dan Sakura sudah dari tadi dilemparnya ke luar jendela dan mendarat entah dimana.

"Kita gak bisa ngambil kandidat dari Utakata Gakuen atau orang lain, terlalu beresiko. Kemungkinan buat kita ngendaliin biar dia gak jatuh cinta sama Sakura atau sebaliknya terlalu kecil." jelas Itachi.

Deidara mengangguk serius. Jarang-jarang Itachi melihat Deidara serius di luar hal selain yang disebutnya 'Art is a bang!'.

"Gak ada pilihan lain, un. Harus kita yang bertindak." kata Deidara sambil menyeringai penuh dosa (?).

.

.

.

Kakek yang berada di depan Sakura sekarang ini berhasil membuat Sakura terkagum-kagum. Umurnya hampir sama dengan usia kakeknya, tapi rambutnya masih biru (?) mengkilat dan kulit wajahnya masih mulus. Apakah semua Uchiha rata-rata awet muda dan berwajah mulus sampai tua seperti kakek Madara? Sakura mengerutkan dahi saat teringat Itachi. Sepertinya tidak...

Bicara tentang Madara, baru kali ini Sakura melihat sosoknya dari dekat. Selama ini yang Sakura ketahui tentangnya hanya seputar reputasinya sebagai salah satu pendiri klan Uchiha. Dan selain tentang satu fakta yang sangat penting itu, Sakura benar-benar buta terhadap siapa kakek calon suaminya. Sakura tidak punya kesempatan untuk menanyakannya kepada Sai karena setiap salah satu dari mereka buka mulut, hampir dipastikan akan berakhir dengan pertengkaran. Selama Sakura menginap di kediaman Uchiha pun dia belum pernah bertemu dengan Madara karena Madara tinggal di bangunan utama yang terpisah dari Uchiha lainnya.

Tapi disinilah Sakura sekarang. Duduk di atas tatami di dalam perpustakaan keluarga Uchiha, di hadapan sang Madara pada hari Sabtu jam lima pagi. Dari ekor matanya Sakura memperhatikan Sai yang duduk tanpa bergerak.

"Ahem." Madara berdehem untuk memulai pidatonya. "Haruno Sakura."

"I-iya, kek, eh, Uchiha Madara-sama." jawab Sakura gugup.

"Baru secara resmi kita berdua bertemu. Aku minta maaf karena baru kali ini aku bisa mengucapkan selamat datang kepadamu. Apakah kau betah di sini?" tanya Madara.

Sakura membungkuk sopan, "Semuanya benar-benar memperlakukan saya dengan baik, Uchiha Madara-sama, tidak ada alasan bagi saya untuk tidak betah."

Madara mengangguk, "Syukurlah. Begini, Sakura, Sai, aku memanggil kalian untuk mengatakan hal penting. Aku akan membuatnya singkat saja. Secara pribadi, aku tidak keberatan dengan rencana Mikoto dan Fugaku yang akan menikahkan kalian. Tapi tentu saja, aku tidak bisa membiarkan calon cucu menantuku ini tidak mengenal secara mendalam tentang Uchiha. Pendamping hidup cucuku juga perlu mengetahui bagaimana seorang Uchiha sejati bersikap. Karena itu aku sudah menyusun program agar nona Haruno tidak terkejut setelah menikah dengan Sai." Madara berhenti sejenak karena tampaknya Sakura terlalu tegang dengan hal yang disampaikannya.

Madara tersenyum, "Jangan takut, Sakura. Pelajaran yang kau terima tidak sulit." Madara mengambil gulungan kertas dan kacamata baca dari lengan kimono birunya. "Hanya beberapa pelajaran tentang seni dan sejarah." kata Madara sambil memakai kacamatanya. "Kau...tidak keberatan dengan keputusanku ini, kan?" tanya Madara.

Sakura menggeleng gugup, postur dan aura Uchiha Madara benar-benar mengintimidasinya. Sakura berani bertaruh, Manda pasti tidak akan berani mengamuk di perpustakaan kalau Madara yang jadi librarian.

Madara tersenyum puas, "Bagus. Sebagai permulaan, kau akan belajar tentang seni. Aku sudah memiliki tutor yang sesuai untukmu. Masuklah, Deidara!"

Sudut bibir Sai berkedut, 'Jangan bilang Deidara yang itu.'

.

.

.

"Kenapa gue harus ikut?" tanya Sai pada Itachi yang sedang menyeret lengan bajunya ke ruang kesenian. Hari itu mereka akan langsung menjalankan program Madara untuk Sakura, belajar tentang seni dari sang 'master of art' : Deidara.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sai menyangsikan insting kakeknya yang terkenal tajam. Sepertinya Madara belum tahu tentang Deidara yang pernah meledakkan tempat parkir Universitas Iwa untuk membuktikan kedahsyatan 'seni'-nya.

"Kakek bilang elo harus mencatat setiap perkembangan Sakura. Jadi jangan banyak protes."

"Dan elo kenapa juga harus ikutan?" tanya Sai curiga.

"Gue diminta buat jagain elo."

"Trus kenapa bukan elo aja yang nyatet perkembangannya Sakura?"

'Bener juga.' pikir Itachi. "Cerewet lo, Sai." Itachi mendengus sebal karena tidak bisa menjawab protes Sai.

"Seni itu banyak macamnya, un." prolog kotbah Deidara sempat ditangkap telinga Sai saat dia baru masuk ruang kesenian.

Sakura manggut-manggut. "Ada seni suara, seni rupa, seni ledakan (?) dan seni bela diri, un." lanjut Deidara ngaco.

"Tapi untuk permulaan, kita akan mempelajari tentang Shamisen, un." lanjutnya lagi. Sakura masih iya-iya saja dengan keputusan Deidara yang tidak diketahui dasar pertimbangannya.

"Sekarang ambil shamisennya, murid mudaku." sabda Deidara.

Dengan patuh Sakura segera berdiri dan mengambil salah satu alat musik terdekat yang berjajar di atas panggung Noh.

"Itu Shakuhachi, un." Sakura langsung meletakkannya kembali dan mengambil alat musik lain di sebelahnya.

"Yang itu Koto, un."

...

"Kalau yang itu Taiko, un."

...

"Itu ukulele, un." Deidara mulai putus asa, sementara muridnya hanya cengar-cengir sambil menggaruk belakang kepalanya.

'Tidak bisa mengidentifikasi alat musik.' catat Sai pada buku laporannya.

Akhirnya Deidara sendiri yang mengambil shamisen dan memberikannya pada Sakura agar mereka bisa segera melanjutkan pelajaran.

Mereka berdua duduk berhadapan. "Sekarang aku akan mengajarimu bermain shamisen, un. Begini caranya." Deidara mencontohkan memetik shamisen dengan bachizuke sementara Sakura memperhatikan dan menirukan. Tapi bachizuke yang Sakura pegang selalu terlepas. Seumur-umur, Sakura tidak pernah memegang alat musik. Satu-satunya alat musik yang pernah dia pegang hanyalah gayung untuk karaoke di kamar mandi.

"Susah, Deidara-sensei." keluh Sakura.

Deidara memindahkan posisinya ke belakang Sakura, diraihnya tangan mungil Sakura dan dituntunnya untuk memegang leher shamisen dan memetik alat musik itu dengan benar. Deidara melirik Sai, muka si pucat Uchiha itu masih datar-datar saja. Ok. Saatnya untuk lebih serius.

"Saku-chaaaan. Kalau pinggangmu kaku seperti itu, kau tidak akan bisa memainkan shamisen dengan baik, un." seru Deidara dengan nada dimanja-manjakan. Tangan Deidara yang menganggur mulai merambati pinggang Sakura.

Dahi dua Uchiha itu berkedut.

Sementara Sakura masih konsentrasi pada posisi tangannya pada senar, tidak sadar dengan jari-jari Deidara yang bergentayangan di pinggangnya.

"Kau harus lebih rileks, Saku-chan," kali ini wajah Deidara semakin mendekat ke wajah Sakura. Seringaian Deidara semakin lebar. Pipi hampir bertemu pipi, dan...

JLEB!

Sebuah shakuhachi sukses menohok hidung pemuda blonde itu gara-gara tangan Uchiha mengacungkannya ke muka Deidara. Tapi bukan Uchiha yang diharapkannya.

Deidara mendeath-glare Itachi, 'Itachi dodol! Padahal rencana gue hampir berhasil, un!' batin Deidara.

'Soalnya elo terlalu ekstrim, baka! Dasar mesum!' batin Itachi sambil tetap mengacungkan shakuhachinya.

'Kalau gak gini Sai gak bakal cemburu, un!'

'Alesan! Elo aja yang suka grepe-grepe!'

Perang bahasa kalbu itu akan terus berlangsung kalau tidak karena deheman Sai.

"Should we continue?" tanya Sai bosan.

Proyek Katalisator ItaDei:

Ronde 1 : Deidara vs Sai

Skor : 0-1

Pemenang : Itachi (?)

.

.

.

Setelah insiden shakuhachi itu Deidara mogok mengajar. Jadilah mereka melanjutkan ke pelajaran selanjutnya : seni bela diri (?).

Sakura merapikan hakama hitamnya. Untuk kali ini dia merasa lebih percaya diri dibanding dengan pelajaran tentang seni musik tadi. Kalau untuk urusan meninju atau membanting, sepertinya Sakura punya stamina yang cukup besar. Sakura menyeringai saat melirik Sai yang berdiri tidak jauh darinya.

Dojo yang didominasi warna putih itu sangat luas dan bisa menampung lebih dari limapuluh orang untuk sekali latihan (?), tapi siang ini di dalamnya hanya terisi empat orang. Para aikido-ka dadakan itu pun melakukan ritsurei (hormat dengan posisi berdiri) kepada Itachi yang diberi wewenang sebagai sensei oleh Madara.

"Sebagai permulaan, lari keliling dojo tiga putaran untuk Deidara, keliling dua puluh putaran untuk Sai, dan ,err, dua putaran untuk Sakura!" perintah Itachi.

"Baka sensei, kenapa gue yang paling banyak larinya?" protes Sai.

Itachi geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan Sai, "Karena gue senseinya." jawabnya tenang. "Lagian apa elo tega ngliat Sakura lari-lari keliling dojo yang luas ini dua puluh putaran? Jadi jatah lari dia gue kasih ke elo."

Mata Sai melotot, kalau ini film ninja-ninjaan pasti Sharingannya sudah muncul.

"Kalau protes lagi gue aduin ke kakek." kata itachi sambil berkacak pinggang.

Sai menunjuk bahu kanannya, "Terkilir. Lo inget gak?"

"Ini lari, bukan koprol. Cepetan!" seru Itachi.

'Fine, ini lebih baik daripada gue nanti jadi objek bantingan Sakura.' sungut Sai dalam hati.

Dengan muka cemberut, Sai berlari mengelilingi dojo yang naudzubillah luasnya itu bersama Sakura dan Deidara. Alhasil saat dua murid Itachi yang lain selesai pemanasan, dia masih juga lari-lari.

"Baiklah murid-muridku, hari ini kita akan mempelajari salah satu jutsu aikido, yaitu kaiten undo. Perhatikan baik-baik ya, Sakura. Aku dan Deidara akan memperagakannya." kata Itachi kepada Sakura. Tampak Sai sebagai figuran sedang berlari-lari kecil di backgrond.

Deidara maju sampai berhadapan dengan Itachi. "Elo jadi uke, Dei."

"Berarti elo seme-nya, un?"

BLETAK!

Itachi tidak bisa menahan tangannya untuk tidak memukul Deidara. "Uke itu dalam aikido artinya penyerang. Makanya jangan kebanyakan baca fanfic!" jelas Itachi.

Sakura dan Deidara hanya ber-'ooh' panjang.

Tanpa buang waktu lagi Deidara segera mengambil posisi. Sepasang mata azure-nya mencari-cari celah yang luput dari perhatian Itachi. Lalu dengan kecepatan yang tidak disangka-sangka, Deidara maju dan melemparkan bogem mentahnya ke wajah sang sensei. Tapi dengan gerakan semulus belut (?) Itachi menggeser tubuhnya dan berhasil menangkap tangan Deidara. Lelaki bermata onyx itu memutar tangan sekaligus tubuh lawannya dengan memanfaatkan daya dorong dari pukulan Deidara, mengakibatkan Deidara terpelanting dan akhirnya jatuh berdebam di atas tatami. Very smooth.

Pendar-pendar kekaguman terlihat dari kedua mata Sakura, "Itachi-sensei hebat!"

Yang dipuji keasyikan berpose seperti pahlawan kesiangan yang habis menangkap maling jemuran, sampai-sampai lupa menyampaikan esensi dari demonstrasinya barusan.

'Tukang pamer.' cibir Sai sambil tetap lari-lari santai.

"Sekarang kau praktekkan denganku, Sakura. Aku akan jadi uke dan kau sebagai nage."

"Tapi, sensei. Apakah tidak apa-apa?" Sakura terlihat ragu-ragu.

"Tidak apa-apa, Sakura. Aku akan pelan-pelan." kata Itachi sambil memamerkan senyum mautnya. Si miss cherry blossom mengangguk. Lalu mengambil ancang-ancang untuk menerima serangan Itachi. Itachi berencana menggunakan kesempatan ini untuk membuat Sai cemburu. Caranya, saat Sakura menangkap tangannya, Itachilah yang akan membanting pelan Sakura, karena Sakura pasti tidak akan kuat membanting tubuhnya yang jauh lebih besar. Dan saat itu, Itachi akan menahan tubuh Sakura yang akan jatuh sehingga tercipta adegan romantis ala film-film China. Memikirkan rencaranya yang brilian membuat Itachi menyeringai rubah.

Saatnya menjalankan rencana. Itachi sengaja melambatkan gerakannya saat menyerang. Sakura yang menganggap ini sebagai serangan serius memasang kuda-kuda dengan kuat-kuat. Walaupun begitu, kakinya agak gemetar karena gugup. Pukulan Itachi hampir mengenai sisi kanan wajahnya, tapi dengan gesit Sakura menghindar dan menangkap tangan Itachi. Kalau saja Sakura lebih memperhatikan detail saat demonstrasi tadi, pasti dia akan memanfaatkan daya dorong pukulan Itachi untuk membantingnya. Tapi Sakura malah mengangkat tubuh senseinya sekuat tenaga. Itachi panik, sebelum dia sempat bereaksi, muridnya itu sudah berteriak, "SHANNAROOOO!"

Berikutnya Itachi sudah terkapar di lantai.

Proyek Katalisator ItaDei:

Ronde 2 : Itachi vs Sai

Skor : 0-1

Pemenang : Sakura (?)

.

.

.

Dengan seorang sensei yang mogok mengajar dan satu sensei lagi yang encok karena bantingan Sakura, otomatis kegiatan hari itu beralih ke aktivitas yang lebih aman. Masih tetap menjalankan program Madara untuk Sakura, tapi dengan kegiatan yang bisa dilakukan tanpa seorang sensei : mempelajari sejarah klan Uchiha.

Jadi akhirnya mereka semua memutuskan untuk pindah ke ruang bersantai, satu-satunya ruangan yang bernuansa modern di antara ruangan-ruangan yang mempertahankan nuansa tradisional di kediaman Uchiha.

Sakura sedang bersila di atas karpet mewah bermotif kirin emas, dan tenggelam dalam tumpukan buku-buku tebal. Sai memilih duduk agak jauh dan mempelajari sejarah keluarga Haruno. Madara berpendapat tidak adil jika hanya Sakura yang mempelajari sejarah Uchiha, hal sebaliknya juga harus dilakukan oleh Sai. Berbeda dengan Uchiha yang memiliki literatur lengkap untuk urusan sejarah klan mereka, sejarah keluarga Haruno cukup diringkas dalam dua buah album foto. Sai cekikikan saat melihat foto Sakura balita mengompol di celana.

Itachi yang pinggangnya sedang dirawat oleh Deidara dengan balsem CounterYahiko, tengkurap di sofa beludru raksasa yang lebih mirip kasur daripada sofa.

Tangan Deidara mengusap-usap pinggang Itachi sementara ekor matanya memperhatikan sepasang anak manusia yang sedang bersimpuh tapi saling memunggungi. Kerutan muncul di dahi Deidara. Kalau dilihat dari gelagatnya, Sai sudah tidak begitu memusuhi Sakura, bahkan bisa dikatakan Sai sedikit tertarik pada gadis bermarga Haruno itu.

Setahu Deidara, jika seseorang menyukai orang lain, pasti akan menunjukkan kecemburuan walaupun sedikit.

"Gue tau apa yang lo pikirin. Kalau parameternya cemburu sih, kesimpulan dari teori Sai punya perasaan ke Sakura adalah nol. Nihil. Negative."

"Negative, un? Kenapa tiba-tiba lo jadi pesimis gitu, Chi?" tanya Deidara tidak suka.

"Gue bukan pesimis, tapi strategi kita perlu diubah. Persoalan merubah hati tuh gak gampang, Dei."

Deidara memiringkan kepalanya, kedua matanya masih memperhatikan objek pembicaraannya dengan Itachi. "Kalau merubah hati susah, berarti yang perlu kita ubah cuma kondisi yang berhubungan dengan otouto elo biar dia nerima Sakura, suka atau gak suka, un. Kan taruhannya dia jadian sama Sakura, bukan dia jatuh cinta sama Sakura, un."

"Cerdas."

Deidara menyeringai, "Elo punya rencana apa?"

Itachi mengangkat bahu, "Kita pikirin nanti, yang penting encok gue sembuh dulu." sudut mata Itachi menangkap bayangan Sakura. Dia bergidik ngeri memikirkan kekuatan yang tersimpan dalam tubuh Sakura yang mungil.

"Sai-nii saaaaaan." suara Sasuke sampai duluan ke ruang santai sebelum sosoknya yang memakai seragam sekolah Sabtu (?) menyeruak masuk.

"Nii-san, ajari aku membuat tugas kesenian dari Yuuhi-sensei." pinta Sasuke penuh harap pada Sai. Kelihatan sekali kalau bocah ini panik dengan tugasnya. Sai menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya dari album foto. "Kenapa gak minta ajarin kakek Madara?"

"Kakek sekarang sedang jogging di taman bersama Jiraiya-sama." sahut Sasuke.

Deidara dan Itachi sweatdrop. Jogging siang-siang bolong begini? Dasar kakek-kakek aneh.

"Gue sibuk. Ada tugas dari kakek Madara. Minta tolong ke Deidara gih." kata Sai cuek.

Kepala Sasuke menoleh ke arah Deidara, tetap dengan pandangan penuh harap.

"Gue juga sibuk, un. Ada skripsi." Mana Sasuke mengerti dengan yang namanya skripsi, Dei. Tapi alasan bohong Deidara tampaknya berhasil mengelabui otak polos Sasuke.

"Itachi-nii..." harapan Sasuke beralih ke Itachi.

Nii-san kesayangannya itu tersenyum. Tangannya melambai ke arah Sasuke membuat senyuman mengembang di bibir bocah Uchiha imut itu. Dia segera berlari ke arah Itachi yang masih tengkurap, tapi...

TUK!

Jari tengah dan telunjuk Itachi menyentuh lembut dahi Sasuke, "Maaf ya, Sasuke. Lain kali saja ya." kata Itachi sambil tersenyum. Yaelah Itachi, kalau mau nolak dari tadi, kek.

"Mmmmh..." Sasuke yang semula ceria berubah sedih. Sakura memutar matanya. "Ada apa sih dengan kalian? Adik kalian kan sedang kesulitan. Masa kalian membiarkan dia kebingungan seperti ini?" gadis berambut pink itu berkacak pinggang.

"Sasuke-chan, kalau kau mau, kau bisa mengerjakan tugasmu bersama onee-chan. Mau, kan?" tawar Sakura ditambah senyuman manis.

Sasuke langsung sumringah, "Mau onee-chan." pekiknya ceria sambil menghambur ke Sakura dan duduk di sebelahnya.

"Nah, Sasuke-chan, sebenarnya tugas kesenian seperti apa yang diminta sensei-mu?" tanya Sakura lembut sambil membelai kepala Sasuke.

Bocah itu memiringkan kepalanya, "Kata Yuuhi-sensei, senin nanti kami harus menampilkan sesuatu di depan kelas. Dan nilainya ditentukan dari jumlah teman-teman yang bertepuk tangan setelah tampil. Mmmh, tapi aku tidak tahu harus menampilkan apa. dan lagi aku selalu gugup kalau disuruh maju ke depan kelas..." keluh Sasuke. Wajah polosnya yang sedih membuat Sakura trenyuh.

"Mmmm, kau suka apa, Sasuke-chan?" tanya Sakura lagi.

"Tomat." jawab Sasuke polos. Sai cekikikan mendengar jawaban Sasuke.

"Maksudku hobbymu, Sasuke-chan. Kau suka melukis, bermain boneka, menyanyi, atau mungkin err, bermain shamisen?"

"Eum, aku suka menyanyi, onee-san."

Sakura menangkupkan tangannya dengan riang, "Kenapa kau tidak bernyanyi saja? Kau bisa menyanyikan lagu kesukaanmu di depan kelas seperti kau bernyanyi di kamar atau di rumah, jadi tidak perlu merasa gugup lagi, Sasuke-chan. Kau punya lagu kesukaan, kan?"

Sepasang onyx milik Sasuke berbinar, "Aku akan menyanyikan lagu kesukaanku. Onee-chan liat ya!"

Tanpa bisa dicegah Sasuke langsung berdiri dan bersiap menyanyi.

Kenapa hatiku cenat cenut tiap da kamu

Deidara mangap, Itachi mengorek kupingnya dengan kelingkingnya.

Selalu peluhku menetes tiap dekat kamu

Kenapa salah tingkah tiap kau tatap aku

Selalu diriku malu tiap kau puji aku

Sasuke berputar, menaruh tangannya di dada.

you Know me so well

Girl I need U

Girl I love U

Girl I heart U

I Know you so well

Girl I need U

Girl I love U

Girl I heart U

Sasuke mengerling ke arah Sakura, dan melakukan seabreg gaya boyband lainnya.

Tahukah kamu, ku takkan pernah lupa

Saat kau bilang, punya rasa yang sama

Ku tak menyangka

Aku bahagia, ingin kupeluk dunia

Kau izinkan aku tuk dapat rasakan cinta

Sai menutup setengah mukanya dengan bantal karena ngeri. Sasuke lanjut.

you Know me so well

Girl I need U

Girl I love U

Girl I heart U

I Know you so well

Girl I need U

Girl I love U

Girl I heart U

Inilah klimaksnya : Sasuke berputar sekali lagi, lalu kedua tangannya bersatu membentuk hati. Hasilnya? Sukses membuat Deidara, Itachi dan Sai jawsdrop berjamaah.

"O-EM-JI, adhek gue!" pekik Itachi shock.

"KYAAAA! Sasuke-chan kawaiiii!" Sakura berteriak histeris layaknya fansgirl Sasuke. Dicubit-cubitnya pipi putih mulus Sasuke dengan gemas.

"Kalau gitu nanti Sasuke-chan tampil seperti tadi saja."

"JANGAN!" teriak tiga orang yang lain dengan histeris. Sakura mengirim death glare. Sementara Sasuke cengar-cengir karena dipuji Sakura. "Kalau begitu onee-chan temani aku berlatih nanti ya." pinta Sasuke dengan imutnya.

"Kenapa harus nanti?"

"Sekarang jamnya bobo siang."

Sakura tersenyum, "Onee-chan temani ya."

Mata Sai membulat. Sasuke mengangguk senang. Sakura menggandeng tangan Sasuke dan berjalan ke arah pintu tanpa menyadari ekspresi panik Sai.

"Sakura!" panggil Sai.

"Iya?"

"Lo belum selesai baca bukunya."

Sakura menepuk dahinya, "Ah, iya. Biar gue bawa aja bukunya."

Dahi Sai berkerut. "Elo harus belajar di sini."

"Kata siapa? Kan yang penting gue bisa hafal, gak peduli bacanya dimana." kilah Sakura. "Jadi gue bisa nemenin Sasuke bobo. Iya kan, Sayang?"

What? Sayang? Kerutan di dahi Sai bertambah.

"Sasuke, lo bisa tidur sendiri kan? Elo udah gede." kata Sai yang tiba-tiba kesal.

"Mau bobo sama onee-chan." jawaban Sasuke membuat ubun-ubun Sai berasap. Sementara itu Sakura mengambil buku-bukunya kemudian kembali menggandeng tangan Sasuke dan beranjak dari ruang bersantai itu.

"Gue ikut." todong Sai. Direbutnya tangan Sasuke dari genggaman Sakura kemudian setengah diseretnya Sasuke yang cemberut menuju kamarnya.

Sakura mengikuti dari belakang, 'Dasar cowok aneh. Marah gak jelas secara tiba-tiba.'

"Si Sai kenapa, Chi? Kalau elo yang ditemenin bobo Sakura, gue paham kalau Sai sewot kaya tadi, un."

Bohlam lampu muncul di kepala Itachi setelah mendengar kata-kata Deidara. Kalau begitu, kemungkinan Sai punya perasaan ke Sakura berarti ada, tidak nol, positive.

"Positive, Dei!" Itachi jingkrak-jingkrak sambil menggenggam tangan Deidara.

Muka Deidara langsung horor, "Si-siapa yang hamil, un?"

~To Be Continued~

Sai : kenapa ficnya tambah ancur? #nuding-nuding author yang lagi maen boneka#

Sasuke : gu-gue dibuat joget-joget...

Itachi : gue juga shock...

Deidara : gue dipegang-pegang Itachi, un!

Sai : Tangkap!

Author : KYAAA! #ngelempar boneka, kabur#

.

.

.

#A/N#: gomenasai, minna-san, author gak tahu banyak tentang alat musik tradisional jepang and aikido. Author uda googling tapi sepertinya masih banyak banget kekurangan. Mohon dimaklumi ya ^^'

And maap banget kalau garing, atau ada joke yang maksa.

Last, please reviewnya ya. Arigatou gozaimasu ^^