Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Warning : OOC, miss typo, AU, gaya bahasa berubah...kayanya... dan author yang kering ide...T_T

Happy reading ^^, hope you'll like it

Satu lagi kerutan muncul di dahi Jiraiya, membuat raut wajahnya yang sudah uzur itu terlihat lebih tua lagi. Cengiran yang biasanya dia tunjukkan di depan Sakura lenyap, digantikan oleh sepasang bibir terkatup dengan tegang. Di hadapan Jiraiya, Madara duduk tenang beralaskan bantal sutera putih. Dengan kepercayaan diri tinggi dan kharisma seorang pendiri klan Uchiha, Madara mengarahkan bola mata hitam legamnya ke arah lawan dan papan permainan secara bergantian, prediksinya tidak pernah meleset.

Titik-titik keringat mulai muncul di dahi Jiraiya, dan tangannya gemetar menyentuh bidak perak di papan permainan itu, satu langkah saja meleset, tamat riwayatnya. Jiraiya menyeret bidak perak itu dua langkah ke kanan dan...bidak Jiraiya teseret oleh jemari Madara, kembali ke titik kiri bawah awal permainan karena kotak yang Jiraiya tuju ada gambar ularnya.

"Yes! Aku menang, Jiraiya-san!" Madara meninju udara kosong, mirip ketika Sasuke menang main jankenpon dengan Itachi. Bedanya, Madara tidak ada imut-imutnya sama sekali.

Papan permainan ular tangga yang tergeletak di antara Jiraiya dan Madara diam bergeming, seolah mencemooh Jiraiya yang kalah dari Madara. Dan artinya Jiraiya harus memberikan hal yang dia pertaruhkan dengan Madara sesuai dengan perjanjian mereka di awal permainan: memajukan pesta pertunangan Sai dan Sakura yang akan dilaksanakan saat mereka lulus, menjadi dua hari lagi.

Ketidakpuasan terlihat jelas di bola mata Jiraiya.

"Kau curang, kau pasti mengubah jumlah titik di dadunya. Aku tidak terima! Ayo main lagi!" Rupanya Jiraiya masih tidak sadar kalau dia sudah dititipi warisan oleh Tsunade saat wanita itu meninggal : nasib sial saat taruhan.

Madara mengibaskan tangannya dengan gemulai. Putri Konoha kalah gemulai deh.

"Itu adalah tipikal ucapan setiap pecundang saat mengetahui mereka tidak bisa mengalahkan sang pemenang. Tapi aku tidak akan mengelak. Bring it on!" jawab Madara dengan berapi-api.

Shisui, yang berdiri di pojokan ruangan tradisional nan mewah milik Uchiha Madara itu, sudah tidak mau tahu lagi apa yang mereka pertaruhkan di permainan selanjutnya. Dalam hatinya hanya ada rasa syukur dan doa. Syukur karena dia bukan Sai atau Sakura yang nasibnya ditentukan oleh guliran dadu. Dan doa agar dia tidak menjadi seperti Jiraiya atau Madara saat dirinya tua nanti.

.

.

.

Sepertinya ada yang salah dengan pemandangan di kamar ini. Kesalahannya bukan terletak pada dekorasi ruangannya yang dipenuhi dengan gambar Dora The Explorer yang memakai gaun Cinderella. Kesalahannya juga bukan terletak pada dream catcher pink buatan Itachi yang menggantung di pintu. Tapi yang salah adalah adegan Sai dan Sakura yang tidur berhadapan di atas sebuah tempat tidur mungil, dengan seorang bocah berambut gelap di tengah-tengah mereka berdua. Apakah author terlalu banyak melakukan skip time sampai ke waktu mereka menikah dan memiliki seorang anak? Tenang saja, ini masih di hari Sabtu di mana Sasuke meminta Sakura menemaninya bobo siang.

Sakura menggumamkan lagu pengantar tidur sambil mengelus pundak Sasuke. Sesekali Sakura juga menepuk pelan punggung bocah itu agar merasa nyaman dan segera terlelap. Sasuke, yang masih ingusan, begitu menikmati perhatian yang diberikan oleh pengasuh dadakannya. Apalagi kalau pengasuhnya itu masih remaja, berwajah manis, wangi, dan lemah lembut seperti Sakura.

Tiba-tiba pandangan Sakura yang semula sepenuhnya terfokus pada Sasuke, beralih kepada sosok lain yang sedang tiduran di belakang bocah itu. Tubuh Sai rebah dengan santai, salah satu lengannya menopang kepalanya sebagai pengganti bantal, sedangkan matanya dengan serius bergerak mengikuti kalimat demi kalimat yang dicetak dalam buku sejarah klan Uchiha yang seharusnya dibaca oleh Sakura.

Dalam pikiran Sakura, Sai terlihat seperti seorang suami yang sedang menemani istri dan anaknya di waktu tidur. Belum lagi Sasuke yang terlihat begitu mirip dengan Sai, membuat khayalan Sakura semakin terasa nyata. Sai sebagai ayah, Sasuke sebagai anak, dan Sakura sebagai...

Rona merah jambu merayap di kedua pipi Sakura kala memikirkan hal ini. Dan sialnya, ekspresinya itu tertangkap oleh kedua mata Sai, membuat pemuda itu sedikit mengangkat alis tanda penasaran melihat wajah Sakura yang tiba-tiba tersipu. Rona merah jambu kehilangan jambunya, alias warna pipi Sakura benar-benar merah sekarang.

Sasuke yang sedang enak-enakan menikmati belaian lembut Sakura, mengernyit tidak senang ketika melihat pengasuh barunya itu memperhatikan orang selain dirinya.

'Onii-chan rese'. Kenapa gak pergi jauh-jauh aja sih? Pake ikut tidur siang segala. Kalau gue lahir duluan udah gue tendang lo jauh-jauh.' pikir Sasuke. Hm...Author cabut kata-kata author yang bilang kalau otak Sasuke polos.

"Nee-chan...dingin..." rengek Sasuke mengabaikan fakta bahwa siang ini begitu lumayan panas. Dan tanpa ba-bi-bu lagi, dia langsung menelusupkan kepalanya ke dada Sakura yang kecil tapi nyaman (?) seraya memeluk tubuh Sakura yang lebih besar darinya. Kalau ada quiz dengan pertanyaan 'Siapa Uchiha yang paling tinggi IQ-nya?', pasti jawabannya adalah Sasuke, karena dia telah memanfaatkan wajah tanpa dosa dan usia belianya untuk mencapai 'tujuan' yang tidak mungkin dicapai oleh aniki-anikinya. Dan kalau ada lagi yang bilang kalau pikiran bocah tujuh tahun selalu polos, harus berhadapan dengan Sai.

Tubuh Sai mengalami dilema ketika melihat Sasuke membenamkan wajah di dada Sakura, antara mimisan dengan tidak elit, atau berteriak marah : 'Itu jatah GUE, kampreeet!'.

Untunglah Sai memilih pengendalian diri ala Uchiha.

"Sasuke-chaaan..." panggilnya dengan manis, tapi tangannya menarik pipi chubby Sasuke kuat-kuat hingga wajah otouto-nya itu menjauh dari dada Sakura, dengan tidak rela tentunya.

"Kalau dingin, sini gue peluk." sambung Sai. Lengan-lengannya dengan kokoh memenjarakan tubuh mungil sang otouto dalam dekapan maut.

Tapi bukan Uchiha Sasuke namanya kalau menyerah kepada Sai.

"Nggak mauuuu!" jerit Sasuke. Sejurus kemudian, gigi-geliginya sudah menancap mantap di lengan anikinya. Efek gigitan Sasuke segera terasa di tubuh Sai. Bukan. Pemuda itu tidak berubah jadi vampire atau werewolf, hanya saja wajahnya menjadi merah padam. Sai memilih tidak menjerit di depan Sakura, gengsi dong kalau dia harus menjerit norak di depan –uhuk- calon istri.

Gigi Sai gemeletuk menahan sakit di lengannya, tapi dia dengan keras kepala tetap menahan tubuh Sasuke yang mau kembali ke 'dekapan hangat' Sakura. Sementara gadis yang tidak sadar telah menjadi rebutan dua kakak beradik Uchiha itu segera melepaskan Sasuke dari pergulatan yang tidak seimbang. Tidak seimbang untuk Sai maksudnya.

"Sai, lo gak boleh sembarangan meluk Sasuke kaya gitu. Dia bisa sesak napas, tau!" bentak Sakura sambil tak lupa mendeath-glare Sai.

Sakura memeriksa keadaan Sasuke, "Kamu nggak apa-apa kan, sweetheart?"

Empat buah siku-siku muncul di dahi kanan Sai, "Sweetheart dari Hongkong. Ni bocah keturunan Lucifer lo panggil sweetheart?". Semoga Sai tidak kualat karena mengatai orang tuanya Lucifer.

Gadis bermarga Haruno itu mendesis, "Act your age, and watch your language, young man!"

Tambah empat buah siku-siku lagi yang muncul di dahi Sai karena Sakura lebih membela Sasuke, tapi Sai tidak berani membantah, karena aura Haruno Sakura terasa mirip sekali dengan aura Uchiha Mikoto ketika sedang marah.

.

.

.

Akhirnya oh akhirnya, si bocah yang sudah menggigit lengan Sai sampai berdarah itupun tertidur. Butuh waktu satu jam lebih untuk menidurkan Sasuke yang sedang ngambeg. Dan selama itu pula Sakura harus pintar-pintar menyusun playlist nina bobo yang dia nyanyikan untuk Sasuke.

Tarikan napas Sasuke terdengar lambat, pertanda dia sudah sepenuhnya terlelap. Pelan-pelan Sakura melepaskan pelukan Sasuke dari tubuhnya. Sakura sempat tersenyum melihat wajah Sasuke yang imut, tidur dengan bibir setengah terbuka yang menambah kadar keimutannya. Dengan hati-hati Sakura mengambil bukunya yang ia letakkan di meja belajar, lalu berjalan berjingkat keluar kamar diikuti oleh Sai. Kemudian Sakura menutup pintu dengan ekstra pelan agar Sasuke tidak terbangun.

"Fiuh...akhirnya Sasuke tidur juga. Otuto lo susah juga ya, disuruh tidur." kata Sakura saat mereka menjauhi kamar Sasuke.

"Salah sendiri mau diajak nemenin tidur." cibir Sai. Tangannya mengusap-usap lengannya yang memiliki bekas gigitan Sasuke, 'Semoga Sasuke gak ketularan rabiesnya Itachi.'

"Lo sendiri ngapain ikut-ikutan?"

"Kalau gue gak ikutan nanti dia malah main, gak tidur-tidur akhirnya." jawab Sai berbohong dengan santai sambil memainkan buku yang ada di tangannya.

Alis Sakura bertaut, 'Kayanya alasannya bukan gitu deh.'

"Tapi Sasuke lucu, imut banget. Gue mau punya otouto kaya dia."

Mata Sai melebar, "Ati-ati dengan permintaan lo."

Sakura tertawa renyah, "Gue gak bakalan punya adhek, lagi. Kan orang tua gue udah gak ada semua."

Sai tersenyum mendengar kata-kata Sakura. Gadis itu boleh saja mengatakan kenyataan tentang dirinya dengan begitu ringan, tapi dalam hati Sai tahu bahwa Sakura sebenarnya sangat merindukan ibunya.

"Dulu, lo selucu itu nggak?" tanya Sakura lagi.

"Gue lebih lucu, lebih ganteng, lebih berbakat, lebih anggun (?), lebih-"

"STOP!" potong Sakura. "Gue gak nyangka lo narsis banget."

Sai angkat bahu, "Salah lo sendiri nanya sama gue."

Sakura menjulurkan lidah, "Tukang bohong. Pasti elo udah nyebelin dari lahir."

"Yang nyebelin dari lahir tuh elo. Buktinya, lo udah bikin gue phobia perpustakaan." tangkis Sai dengan kalem.

Langkah Sakura terhenti. Sebelah tangannya yang tidak memegang buku berkacak pinggang dan wajahnya cemberut mendengar kata-kata Sai barusan.

"Kalau gue bikin elo phobia perpustakaan, lo udah bikin gue phobia hari Sabtu. Lebih parah mana?"

Sai ikut-ikutan menghentikan langkahnya, "Kok bisa?"

Sakura menarik napas panjang, "Elo udah bikin kacau kencan pertama kita. Konoha Land, remember?"

Sai tertawa mendengar jawaban Sakura yang tidak mau kalah. Gadis itu semakin cemberut melihat pemuda itu menertawainya. Tiba-tiba sebuah ide iseng melintas di kepala Sai, membuatnya berbalik dan mendekati gadis itu. Tapi ketika jarak mereka tinggal satu langkah lagi, Sai tidak juga menghentikan langkahnya. Terpaksa Sakura mundur hingga punggungnya menyentuh tembok. Saat dirinya dan Sai hanya dipisahkan oleh buku tebal berjudul sejarah Konoha yang dipegang Sakura, baru Sai berhenti.

Pemuda itu menatap Sakura dengan geli, tidak menyadari bahwa detak jantung Sakura berdetak lebih cepat dari biasanya karena dekatnya jarak mereka. Senyum Sai hilang ketika matanya menatap poni Sakura yang menutupi dahinya. Sedikit rasa puas muncul di hati Sai karena berhasil membuat gadis itu menunduk. Sai menggeser pandangannya lebih ke bawah, ke pipi pink gadis itu. Dan entah kenapa, Sai menikmati pemandangan yang ada di hadapannya.

Serta-merta Sai menjatuhkan buku yang dipegangnya, membuat Sakura menengadah dan memandangnya dengan tatapan terkejut. Merasa belum cukup, Sai menarik buku tebal dalam dekapan Sakura, lalu menjatuhkannya ke lantai, membuat buku itu bernasib sama dengan bukunya. Sekarang tidak ada penghalang di antara mereka, dan Sai mengambil kesempatan itu dengan mempersempit jarak di antara mereka. Kedua telapak tangannya menempel di dinding, memerangkap, menutup jalan keluar bagi Sakura yang gugup.

Sai lalu merendahkan kepalanya hingga bibirnya sejajar dengan telinga Sakura, "Should i make a redemption?" bisiknya. Sakura merasa yakin bahwa sekarang wajahnya pasti sudah semerah tomat kesukaan Sasuke. Telapak tangannya yang terkepal di kedua sisi tubuhnya terasa dingin, dan tubuhnya gemetar. Jantung yang Sakura kira tidak bisa berdetak lebih cepat lagi, memukul rongga dadanya saat Sai semakin mendekatkan tubuhnya dan meletakkan sebelah tangannya di pinggang gadis itu. Langkah blunder untuk Sai, karena saat Sai menatap sepasang mata hijau Sakura, dia tidak ingin berhenti. Jemari Sai membelai pipi Sakura, turun hingga ujung ibu jari Sai menyentuh bibir bawah gadis itu, menggodanya agar bibir itu terbuka.

Udara bagaikan berhenti mengalir dari paru-paru ketika bibir Sai menyentuh bibir Sakura. Dan Sai merasakan desakan posesifitas yang tiba-tiba atas Sakura, membuat pemuda itu merengkuh sang gadis ke dalam pelukannya. Sai mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha menahan kedua lengannya agar tidak memeluk Sakura lebih erat lagi, berbanding terbalik dengan hatinya yang ingin sepenuhnya memiliki Sakura saat gadis itu membalas ciumannya. Seolah belum cukup, Sai merasa menginginkan Sakura seutuhnya, dan menciumnya dengan cara yang lebih egois lagi ketika jemari mungil Sakura meremas kemeja depannya.

Sakura merasa tidak pasti saat meremas kemeja Sai, apakah untuk menjauhkan pemuda itu, ataukah untuk membawanya semakin dekat dengannya. Tapi yang sebenarnya terjadi, Sakura ingin tahu apakah pemuda ini juga merasakan perasaan yang meledak-ledak sama sepertinya, ataukah ciumannya hanya untuk keisengan semata. Dan ketika akhirnya Sakura bisa meluruskan jemarinya yang gemetar di dada Sai, dentuman kencang dari jantung pemuda itulah yang menjawab pertanyaannya.

.

.

.

"Kuso!" umpat Sai. Kata itu sudah beberapa kali meluncur dari mulutnya sesorean ini. Kamarnya terasa sempit, sesempit dadanya yang frustasi mengingat peristiwa siang tadi. Bagaimana bisa dia mencium Haruno Sakura? Bagaimana bisa dia melibatkan perasaannya dalam ciumannya? Tidak akan ada masalah kalau Sai hanya iseng mencium nona besar Haruno itu.

Tapi, yang jadi masalah adalah ciuman itu malah membuat Sai menyadari masalah besar yang harus dihadapinya, yaitu dia telah jatuh hati kepada Sakura. Seandainya Itachi atau Deidara tahu perasaan Sai sekarang, mau ditaruh dimana mukanya? Sai ingat dengan jelas kalau dia pernah berkata tidak akan menerima perjodohan bodoh ini dan Deidara boleh mengambil lukisannya kalau dia menjilat ludah sendiri. Sekarang Sai seolah bisa melihat Deidara dan Itachi berdiri di hadapannya dan melempar kata-kata yang pernah ia ucapkan ke wajahnya.

Sai tidak ambil peduli dengan taruhan konyol antara dia dan baka anikinya yang bersekutu dengan Deidara, tapi yang membuat Sai waspada adalah Haruno Sakura, karena gadis itu telah membuatnya bersikap out of character walaupun hanya sesaat. Yeah, sesaat yang sangat berpengaruh padanya.

Suara ketukan di pintu yang disandari Sai membuyarkan kontemplasi tanpa ujung di kepala pemuda itu.

"Maafkan saya telah mengganggu istirahat anda, Tuan Muda. Madara-sama ingin membicarakan sesuatu dengan anda."

Pintu tergeser, menampakkan maid yang sedang menunduk hormat di depan pintu kamar Sai.

"Katakan aku akan segera hadir beberapa saat lagi."

Maid itu mengangguk lalu undur diri.

Sai menghela napas panjang. Udara sore yang segar dan pemandangan di sekitar kolam yang dilihatnya di depan kamar seolah memberi otaknya oksigen.

Perang tidak resminya dengan keluarga Uchiha sudah terlanjur dia deklarasikan. Suka atau tidak, dia akan tetap pada keputusannya semula. Bayangan Sakura dengan pipinya yang merona melintas di kepala Sai. Sekarang yang harus dia lakukan adalah membeli es sebanyak-banyaknya, karena Sai berniat akan membekukan hati gadis itu terhadapnya.

.

.

.

Perkiraan Sai bahwa Madara akan berbicara empat mata dengannya ternyata meleset. Sudah ada Fugaku dan Mikoto di ruang keluarga bangunan utama. Itachi dan –Sai setengah tidak percaya saat melihatnya- Deidara duduk bersama Jiraiya yang sedang berbincang dengan Madara. Dan seorang lagi, gadis yang tidak ingin Sai temui saat ini, Haruno Sakura.

Sai berdiri dengan kaku di ambang pintu, tidak membalas senyum Sakura. Dia malah menunjukkan wajah paling datar yang dia punya. Tatapan dingin Sai berhasil membuat Sakura menarik kembali senyum yang mengembang di bibirnya. Sebagai gantinya, Sakura memasang wajah bingung lalu menunduk, bertanya-tanya apa yang salah dengan dirinya.

Beberapa pasang mata yang ada di ruangan itu segera terpusat pada Sai. Seolah ada yang mengkomando, mereka segera menghentikan pembicaraan dan kegiatan masing-masing. Melihat mereka langsung diam begitu melihat dirinya, Sai jadi mulai berpikir bahwa ini pasti berkaitan dengan perjodohannya.

Seperti biasa, Madara mengawali semuanya dengan basa-basi standar. Tidak ada yang berani menginterupsi karena bisa-bisa Madara akan memberi ceramah selama tujuh puluh dua jam non-stop tentang etika.

Haruno Sakura semakin menguatkan remasan di jemarinya yang saling bertaut mendengar ceramah Madara. Terus terang ia merasa seratus persen tidak nyaman mendengar kakek tua itu bicara panjang lebar, ditambah lagi, Sai yang duduk di sebelahnya seolah telah menjelma menjadi patung, kaku dari ujung kaki ke ujung kepala. Konsentrasi Sakura terbelah dua, antara membuat resume pidato Madara atau memikirkan pemuda yang ada di sampingnya. Jelas konsentrasi Sakura lebih terfokus kepada Sai karena pidato Madara terdengar samar. Barulah setelah Madara menyebutkan kata 'pertunangan' dan 'dua hari lagi', Sakura tersadar dari lamumannya.

"Ano...maaf...bisa tolong diulangi lagi?" Itachi dan Deidara hampir keselek ludah mendengar permintaan Sakura. Madara diminta mengulang pidatonya?

"Masalah pertunangan itu...tolong diulangi..." pinta Sakura malu-malu.

Sebelum Madara berkata apa-apa, Jiraiya sudah menjawabnya untuk Sakura, "Kami berencana untuk memajukan pesta pertunangan kalian menjadi dua hari lagi."

"Tapi kenapa?"

'Karena kakek kalah taruhan.' batin Jiraiya. Tentu saja dia tidak mengutarakan alasan sebenarnya pada Sakura. Bisa-bisa Sakura mencabuti rambut putih Jiraiya sampai botak kalau gadis itu tahu.

"Kami hanya ingin memastikan bahwa tidak akan ada yang 'mengganggu' kalian. Masa SMU adalah masa yang rawan, selalu saja akan ada gadis atau pemuda yang nantinya ingin mendekati. Dengan bertunangan, tidak akan ada yang berpikiran macam-macam. Dan kami bisa tenang." jelas Jiraiya dengan lancar.

Bisakah ini menjadi lebih tidak masuk akal lagi? Mungkin begitu kira-kira isi pikiran Sakura ketika menutup wajahnya dengan kedua tangannya setelah mendengar penjelasan Jiraiya. Rasanya Sakura ingin tenggelam dalam tidur panjang karena semua kejadian dalam hidupnya selama dua minggu ini begitu melelahkan.

Sebuah gerakan dari Sai membuat Sakura menoleh. Pemuda itu kini berdiri tegak, lalu membungkuk pada Madara dan Jiraiya. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Sai berbalik dan meninggalkan ruang keluarga itu. Kata orang diam itu tanda setuju, tapi melihat gelagat Sai, Sakura tidak yakin dia menyetujui keputusan kedua kakek mereka.

Sakura mengikuti langkah Sai dengan ekor matanya. Sakura bahkan mengacuhkan instruksi Madara yang menyuruh Deidara menjadi pimpinan event organizer untuk pesta pertunangan mereka.

Tanpa bisa dicegah, Sakura setengah berlari mengikuti Sai, hanya untuk berhenti di ambang pintu. Bola matanya menatap punggung Sai yang berlalu di lorong ruangan yang sepi itu.

.

.

.

"Sai!"

Tidak mungkin Sai tidak mendengar panggilan Sakura yang cukup keras itu, terlebih lagi lorong sekolah sedang sepi, tapi nyatanya Sai pura-pura tidak dengar dan tetap melanjutkan membaca novel berjudul 'Kutukan Siluman Ular' yang dipinjami oleh Orochimaru-sensei. Melihat Sai yang keras kepala, Sakura berderap menghampirinya yang sedang bersandar santai di dinding, dan menyentak buku laknat di tangannya.

Semenjak sabtu kemarin sikap Sai sangat dingin kepada Sakura, bahkan lebih dingin dari awal mereka berkenalan. Berbagai pertanyaan berseliweran di kepala gadis bermarga Haruno itu. Apakah sikapnya yang dingin itu dikarenakan Sai tegang akan bertunangan dengan dia? Apakah Sai tidak setuju dengan keputusan kakek-kakek mereka? Apakah dia…menyesali ciuman itu? Rasa kesal Sakura terakumulasi di ubun-ubun dan siap untuk meledak kapan saja. Dan rupanya dia memilih untuk meledak hari ini.

"Jawab kalau gue panggil!" bentak Sakura. Sai masih bergeming, tidak memandang Sakura bahkan ketika gadis itu berteriak di depannya.

"Gue gak punya kewajiban buat ngejawab. Suka-suka gue mau ngapain."

Sakura menghela napas, "Lo kenapa?" tanyanya lirih. Seberkas kekhawatiran berkelebat di mata Sakura.

Bola mata Sai bergeser ke wajah gadis itu, "Bukan urusan lo."

"Urusan gue! Sikap lo aneh sejak…." Sakura menelan ludah, "Sejak…."

Kali ini Sai benar-benar menghadapkan tubuh dan perhatiannya kepada Sakura, lalu di luar perkiraan Sakura, memegang kedua bahu gadis itu dan berbisik lirih di telinganya, "Jangan pernah nanya keadaan gue lagi. Lo gak kenal siapa gue. Dari awal kita cuma orang asing." Sai meremas pelan bahu Sakura, "Just stay away from me."

Sakura masih terpaku ketika Sai mengambil bukunya dan masuk ke kelas. Matanya berkedip beberapa kali untuk menahan air mata yang terancam tumpah, lalu menarik napas panjang untuk menguatkan hatinya yang patah.

.

.

.

"Gue capek, Chiiii!" rengek Deidara. "Elo sih enak, un. Bagian lo cuma seksi konsumsi, cicip sana sini, un. Gue yang harus kalang kabut ngurusin spot light sampe letak vas bunga di meja sampe gak tidur selama hampir dua hari, masa sekarang gak boleh tidur juga, un. Gue kan bukan Uchiha, gak hadir juga gak apa-apa kan?"

Sakura menghela napas panjang mendengar keluhan Deidara di telepon yang digenggam Itachi. Sakura tidak habis pikir, kenapa Itachi yang cool, calm, and confident ini bisa berteman dengan Deidara yang hiperaktif. Memang sih, Sakura mengakui kalau Deidara adalah pria yang tampan dan berbakat (?). Tapi kalau sudah keluar kolokannya, Deidara bisa mengalahkan emak-emak yang sedang PMS.

"O…tidak bisa…" Itachi meniru gaya Sule, "Lo kan pimpinan EO-nya. Harus tanggung jawab dan tetep in charge di hari H-nya dong. Kredibilitas lo sedang dipertaruhkan sekarang. Lo mau ciuman sama sandal jepit bekas kakinya kakek Madara? Nggak kan? Kalau gitu lo harus dateng. Ngerti? Pinteeeer." tanpa belas kasihan Itachi mematikan ponselnya.

"Ada apa dengan Deidara-senpai, Itachi-san?" tanya Sakura pada Itachi. Malam ini mereka sedang berada dalam limousine yang meluncur ke salah satu hotel bintang enam milik Fugaku. Sakura dan Itachi berangkat belakangan karena Mikoto yang perfeksionis memiliki banyak permintaan yang bermacam-macam kepada make-up artist yang datang ke kediaman Uchiha. Ada saja yang membuat Mikoto tidak puas ketika mengawasi proses make over Sakura.

"Dia mau tidur karena lelah dengan tetek bengek pesta pertunanganmu dengan Sai. Dan dia memintaku agar ayah memberikannya akses untuk tidur di salah satu kamar hotelnya. Tapi akhirnya dia mau juga bertahan sebentar setelah kubujuk."

"Hm...aku sudah banyak menyusahkan kalian semua. Maafkan..." kata Sakura. Sebenarnya Sakura ingin membungkuk hormat pada Itachi, tapi Sakura takut mahkota berlian berbentuk setengah bola yang nangkring di kepalanya nanti copot. Sakura tidak yakin uang jajannya selama satu dekade sanggup mengganti berlian sebanyak itu.

"Sudah. Itu bukan salahmu. Aku senang terlibat dalam pesta ini. Lagipula aku kok yang merekomendasikan Deidara pada kakek. Begitu-begitu dia bisa diandalkan lho." 'Kalau tidak kumat sarapnya.' tambah Itachi dalam hati.

Sakura mengangguk dan tersenyum. Dalam hati dia bersyukur akan memiliki kakak ipar sebaik, sepengertian dan seganteng Itachi.

"Kau merasa gugup? Inikan pertunangan pertamamu." Memangnya Sakura mau tunangan berapa kali, Chi? Yah, jangan salahkan Itachi kalau agak ngaco, salahkan guru di sekolah kepribadiannya dulu yang membuat Itachi memiliki kepribadian yang antik.

"Tidak apa-apa, Itachi-san. Aku...hanya khawatir..."

"Khawatir pestanya atau Sai?" tanya Itachi sambil tersenyum menggoda Sakura.

Sakura menunduk, tapi menengadah lagi gara-gara keberatan mahkota, "Aku merasa Sai-kun bersikap aneh akhir-akhir ini. Entahlah, tapi sepertinya Sai-kun semakin jauh dariku."

"Kau...benar-benar suka pada otouto-ku, ya?" pertanyaan Itachi membuat warna pipi Sakura berubah menyala.

"Bu-bukan, maksudku...aku tidak-"

"Nee, Sai hebat, bisa membuat cewek semanis dirimu jatuh hati." goda Itachi.

Sakura mendesah kalah, "Aku takut perasaanku hanya bertepuk sebelah tangan."

Itachi menggeleng, "Bukan itu yang ingin kudengar, Saku-chan. Wanita jaman sekarang berbeda dengan wanita jaman dulu. Kekuatan, optimisme dan inisiatif adalah hal yang kalian miliki. Kalau Sai tidak suka padamu sekarang, mungkin nanti dia bisa menyukaimu. Pelan-pelan saja. Tunjukkan bahwa kau adalah wanita yang terbaik untuknya. Dalam hitungan kurang dari setengah jam kalian akan bertunangan dan itu adalah point of no return bagi kalian." Itachi berhenti sejenak, 'Kayanya point of no return-nya itu pas upacara pernikahan, deh.' "Ah, whateverlah." ucap Itachi sekenanya. "Yang penting jangan menyerah, Saku-chan!"

Bagaimanapun ngaconya kata-kata Itachi, Sakura yang sudah kesengsem oleh kharisma yang memancar kuat dari kakak iparnya, mengangguk dengan semangat.

Tapi saat mobil melaju dengan pasti, tetap saja ada rasa ketidakpastian dalam diri Sakura.

'Point of no return...artinya Sai terpaksa nerima gue sebagai tunangannya. Is that what i want?'

Pertanyaan itu masih menghantuinya sampai Sakura tiba di hotel.

.

.

.

Itachi benar saat mengatakan bahwa Deidara benar-benar bisa diandalkan. Buktinya Deidara bisa menyulap ballroom hotel yang modern dan mewah menjadi taman para peri dari negeri antah berantah. Sebuah gerbang yang terbuat dari kumpulan semak Geranium (untuk mengusir nyamuk) dan sulur strawberry (just in case ada yang ngidam), menyambut para tamu undangan. Pahatan es berbentuk berbagai macam peri dan putri duyung yang berada di beberapa titik, tampak semakin cantik dikelilingi oleh bunga-bunga berwarna lembut. Belum lagi penyanyi solo kenamaan dari Iwa yang memanjakan telinga para tamu undangan dengan melantunkan lagu-lagu klasik. Madara manggut-manggut melihat hasil kerja Deidara. Walaupun dia tahu bahwa Deidara melakukan semuanya dengan setengah hati karena Madara menolak tema 'backpackers' Deidara untuk pesta ini. Dasar bocah aneh.

Sakura ternganga melihat keindahan di depannya. Gadis itu berdiri dan memandang sekelilingnya. Sepertinya Deidara telah sukses mencabut sebagian Neverland dan memindahkannya ke dalam ballroom hotel ini. Sakura berdecak kagum. Sejenak dia melupakan Sai dan keruwetan pikirannya akibat ulah pemuda itu. Namun pikirannya kembali terbebani ketika melihat Sai dan Mikoto mendekatinya.

"Putriku..." sapa Mikoto. Wanita itu langsung memeluk Sakura.

"Apa kubilang? Kau terlihat cantik sekali dengan dandanan ini." Mikoto tersenyum puas ketika memandangi Sakura yang menyeringai kaku, 'Tapi leherku kram, bibi. Kraaaam!' jerit batin Sakura.

"Ayo kita duduk, acaranya hampir mulai." Mikoto menyerahkan tangan Sakura kepada Sai.

Raut wajah Sai tetap datar, walaupun saat dia berjalan mengantar Sakura, tanpa sadar pemuda itu membelai tangan Sakura dengan ibu jarinya, membuat Sakura melupakan kram lehernya dan menoleh cepat kepada pemuda itu. Tapi Sai segera menyadari kebodohan yang dilakukannya. Dilepaskannya tangan Sakura dan dia berjalan meninggalkannya selangkah di belakang.

Jiraiya bersama anggota keluarga Uchiha ditambah additional player alias Deidara telah menunggu dan duduk di meja makan. Sai memilih duduk berjauhan dengan Sakura untuk menghindari dirinya bertindak spontan lagi. Tak lama kemudian, terdengar master of ceremony alias MC yang bernama Sora membawakan sambutan untuk membuka acara. Pria berambut berkilau itu sesekali melemparkan lelucon untuk membuat tamu undangan yang rata-rata orang penting dan wartawan itu tidak bosan. Sekali lagi Madara memuji Deidara karena memilih MC yang tepat. Lelucon yang dilemparkannya adalah lelucon-lelucon cerdas, cocok dengan selera Madara.

Deidara tidak ambil pusing dengan pendapat Madara lagi. Seumur-umur baru pertama kali ini dia jadi pimpinan EO untuk acara pertunangan dan itu sudah membuatnya hampir tepar karena harus mengurus semuanya mendadak. Deidara ngantuk, capek, dan ngiri dengan patung es putri tidur yang –tentunya- sedang tidur dengan posisi tengkurap, tapi tetap kelihatan cantik (?). 'Dasar penerima gaji buta.' umpat Deidara pada patung es yang tidak bersalah itu. Pemuda yang pernah menyabet juara balita paling ganteng se-Iwa itu hampir tidak kuat menahan kelopak matanya. Sepasang mata azure-nya sudah minta ditutup, kalau perlu untuk selamanya. #PLAK#

Deidara sudah tidak bisa konsentrasi saat Sai maju ke podium untuk memberikan sambutan atas pertunangannya. Tubuh Deidara limbung ke kanan dan kiri mirip kapal laut yang berlayar ke pulau Rote. Telinganya sayup-sayup mendengar pidato Sai. Mendengar pidato saat tubuh segar bugar saja bisa bikin ngantuk, apalagi saat badan letih lesu lelah begini. Alhasil pidato Sai seperti lagu nina bobo buat Deidara.

"Saya ucapkan terima kasih atas kesediaan anda semua..." suara Sai semakin lemah di telinga Deidara.

'Hm...di kiri ada Itachi, di kanan ada Sakura, un.'

"...atas kesediaan anda semua menghadiri pesta pertunangan ini."

'Gue tidur di pundak Sakura aja ah. Kayanya empuk, un...'

"Namun sebenarnya, saya berdiri di sini untuk mewakili..."

Deidara limbung ke kanan, berharap mendarat di pelukan Sakura. Tapi tangan Sakura mendorongnya dengan agak keras.

"...aniki saya. Dialah yang sebenarnya akan bertunangan dengan..."

Deidara malah mendarat di atas bahu bidang Itachi, dengan senyum penuh kedamaian.

"...Tsuchi No Deidara."

Spotlight jatuh menyorot Deidara yang kepalanya terkulai di pundak Itachi. Seluruh pasang mata yang ada di ballroom itu sontak tertuju pada romeo dan gnomeo yang terlihat mesra itu. Seakan ada ribuan volt petir yang menyambar Itachi, tubuhnya kini terbujur kaku di kursi. Dengan susah payah Itachi menggerakkan kedua tangannya untuk mengklarifikasi fitnah terkejam itu, tapi dekapan lengan Deidara yang sedang dibuai mimpi membuatnya semakin sesak napas.

"Musang lucuuuu..." igau Deidara dalam tidurnya.

Sasuke menarik-narik gaun Sakura, "Nee-chan, nanti aku panggil Deidara-nii, apa Deidara-nee?" tanyanya bingung.

.

.

.

Deidara merasa tubuhnya bercahaya dan terasa begitu ringan. Pelan-pelan dia membuka kedua kelopak matanya dan menemukan dirinya sedang memeluk sebuah musang raksasa sebesar panda (?) di atas rerumputan berbau harum.

"Ohayo." sapa musang itu.

Deidara berkedip, menatap musang itu, lalu berkedip lagi. 'Ada musang bisa ngomong, un.'

Rupanya musang itu tidak suka dipelototin oleh pemuda blonde seperti Deidara, maka musang itu pun memberikan tamparan sayang (?) ke muka bengong pemuda itu.

SLAP!

"Musang siaaaal!"

Yang diteriaki malah ngacir dan berlari ke atas bukit. Deidara mengejar musang itu dengan berteriak-teriak marah hingga tidak sadar dirinya sudah di atas bukit. Musang raksasa itu tidak tampak, malah sekarang Deidara berada di sebuah taman dengan orang-orang yang duduk dengan khidmat mengikuti upacara pernikahan.

"Ada yang nikah, un? Di sini?" gumam Deidara. 'Tunggu dulu. Gue kaya kenal sama mempelai laki-lakinya, un.'

Deidara memicingkan matanya untuk mendapat gambaran lebih jelas si mempelai lelaki. 'Heeee? Itu, kan si Itachi, un!' batin Deidara terkejut.

"Oi, Chi! Lo kawin gak bilang-bilang gue dulu, un. Tega lo, ya!" teriak Deidara sambil berjalan ke altar. Tapi tampaknya tidak ada yang mendengar Deidara, semuanya tetap mengikuti upacara dengan serius.

"Apakah anda, Uchiha Itachi, menerima Tsuchi No Deidara sebagai istri anda?" tanya pendeta.

Langkah Deidara terhenti, 'Gak salah denger gue?'

"Saya bersedia."

"Dan apakah anda, Tsuchi No Deidara, menerima Uchiha Itachi sebagai suami anda?" tanya pendeta lagi. Deidara melihat Sai yang berdiri di samping mempelai wanita, sedang menodongkan revolvernya. Mempelai wanita bergaun putih itu menoleh takut-takut pada Itachi, membuat Deidara mengenali wanita itu sebagai...

"Itu kan gueee!" teriak Deidara. "Woy! Brentiiii!"

Deidara berlari sambil berteriak histeris sampai tidak menyadari batu gunung jatuh dari langit dan menimpanya.

BLETAK!

Mata Deidara sepenuhnya terbuka akibat tinju Itachi. Napasnya terengah-engah karena mimpi yang dialaminya. 'Fiuh, syukur deh cuma mimpi serem, un. Kalau gue beneran kawin ama Itachi, apa kata emak gue, un?' pikir Deidara lega. Tapi beberapa saat kemudian Deidara mulai merasa aneh dengan keadaan ballroom yang hening.

Seorang wanita yang duduk di meja sebelah mencolek pundak Deidara. "Se-selamat ya...atas pertunanganmu dengan Itachi."

Ucapan wanita itu seolah menyalakan tombol on-off para tamu undangan yang terdiam. Serentak mereka bertepuk tangan sambil beberapa dari mereka mengucapkan selamat.

Wajah Deidara pias.

It is a nightmare come true.

"TIDAAAK!"

.

.

.

Akibat ulah Sai yang seenaknya berkata di atas podium bahwa Itachi dan Deidara bertunangan, pihak Uchiha sibuk mengadakan klarifikasi mengenai berita hoax tersebut. Shisui terlihat mondar-mandir sambil berbicara di telepon dan menjelaskan bahwa Sai mengatakan hal seperti itu karena Sai kebanyakan minum air putih sehingga mempengaruhi cara kerja otaknya.

Penjelasan Shisui terhenti karena mendengar pintu ruangan untuk menyidang Sai, terbanting ketika dibuka. Dari dalamnya terlihat pemuda berwajah pucat berjalan keluar dengan langkah lebar. Wajahnya yang biasanya datar dan tenang kali ini merah padam, seolah memendam kemarahan yang bergejolak dalam dirinya.

Tangan Sai terkepal. Kalau orang tuanya mau menyegel ruang melukisnya, that's fine. Kalau mereka mau menahan uang sakunya, no problem. Kalau orang tuanya mau menahan semua fasilitas yang diberikan kepadanya, it's ok. Sai tidak peduli. Semuanya toh bukan miliknya sendiri. Tapi yang dia inginkan hanyalah kebebasannya kembali ke tangannya.

Sesosok gadis berambut pink berdiri di tengah rute yang ditempuh Sai untuk kembali ke kamar tidurnya. Tatapan gadis itu terlihat ragu-ragu, antara maju atau tidak. Tapi kemudian dia melangkahkan kakinya mendekati pemuda itu.

"Gue mau bicara sama elo. Please." pinta Sakura lirih.

Sakura benar-benar tidak suka melihat ekspresi wajah pemuda di hadapannya ini. Begitu datar, begitu tak terbaca, membuatnya merasa mengambang, terombang-ambing tanpa kepastian.

Sai berjalan melewati Sakura, "Ikut gue."

~Masih bersambung~

Chibi : Kyaaa! Saya bikin adegan kisu! Ternyata saya tidak selugu yang saya kira. I shall repent!

By the way, saya update lama sekali. Gomen. Saya juga tidak tahu apakah chapter ini cukup bagus apa tidak. Terus terang saya nggak puas. Banyak hal yang mengambang, terutama masalah plot sama joke-nya. Hm...

Sakura : Chibi-san payah.

Chibi : T,T

Sakura : Ya sudahlah. Mohon reviewnya ya, minna.

Chibi : Hai'. Mohon review dan comment+saran ya, minna-san. Arigatou ^^

Special thanks to :

Cyrax

Zoroute

Andromeda No Rei

Thia Shirayuki

Ryuva

Ayyuki

Lady Spain

Acchan Lawliet

Putri Luna

Mugiwara 'Yukii' UzumakiSakura

Ryuuta

GoodNight

Putri Kecil Kuw