Part ~6~
Seoul, Korea Selatan
Siwon POV
Jalanan sedikit macet sehingga aku datang agak terlambat ke lokasi pemotretan di Myeongdong. Aku tidak begitu tahu mengapa pemotretan kali ini dilakukan di oulet SPAO, yang perlu aku lakukan hanyalah bekerja secara profesional. Aku segera memasuki lift menuju lantai tiga, sudah ada Yoona yang akan menjadi pasanganku seperti biasa di sana. Pemotretannya berlangsung lebih lama dari yang kubayangkan sehingga aku harus bergerak cepat jika tidak ingin terlambat ke acara show hari ini.
Setelah berpamitan pada seluruh staff, aku segera meninggalkan tempat itu menuju lantai dasar. Tapi suara Yoona menghentikanku di depan pintu lift yang terbuka. "Oppa, bisakah aku ikut bersamamu ke show itu?" Kami memang akan sepanggung bersama nantinya, jadi aku mengangguk.
Begitu pintu lift terbuka di lantai dasar, ada beberapa orang yang menunggu di depan lift yang akan naik ke atas, aku membiarkan Yoona keluar terlebih dahulu. Tanpa sengaja aku menyenggol seseorang yang akan masuk ke dalam lift hingga ponsel yang dipegangnya terjatuh ke lantai. "Cheosonghamnida." Kataku. Dia menunduk memungut ponselnya yang terjatuh di dekat kakinya. Aku benar-benar tidak sengaja menyenggolnya tadi.
"Gwencanayo!" Katanya sambil tersenyum. Pandangan kami saling bertemu. Baik aku dan dia sama-sama terkejut.
"Siwon-ssi?" Matanya bulatnya seketika melebar.
Ghassany POV
Astaga. Aku tak pernah menyangka ini bisa terjadi. Lagi. Pernahkah aku berkata bahwa aku tak percaya kebetulan? Aku hanya percaya keajaiban dan takdir.
Ini bukanlah sebuah kebetulan, tapi sebuah keajaiban.
Sudah dua hari aku berada di Seoul. Akhirnya aku memutuskan mengambil cuti dan mengunjungi Auntie Mira di sini. Meski aku pernah berkata bahwa aku tidak menyesal berpisah dengan pacarku tapi bagaimanapun aku merasa sakit hati padanya. Dan meninggalkan Jakarta menjadi pilihanku untuk melupakan sakit hatiku, berusaha melarikan diri dari kenyataan sebentar. Bodoh bukan? Tapi aku tak peduli.
Aku bisa bersenang-senang di sini bersama Auntie Mira meski itu hanya untuk beberapa saat.
Hari ini Auntie mengajakku berbelanja di Myeongdong, kami berencana mengunjungi outlet SPAO. Dan di sinilah keajaiban, atau takdir—atau apalah namanya mempertemukan kami kembali.
"Apa kabar?" Tanya Siwon menggunakan bahasa Inggris. Sejauh ini kami memang lebih nyaman berbicara dalam bahasa Inggris. Kami harus menggunakan bahasa apa lagi selain bahasa itu? Aku tak begitu pandai berbahasa Korea. Dia tak bisa sama sekali berbahasa Indonesia.
"Baik. Kau bagaimana? Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini!" Ujarku.
"Aku juga baik. Sejak kapan kau ada di Seoul?" Tanyanya. Pasti dia tidak menyangka aku bisa ada di Seoul.
"Sudah dua hari aku di sini!" jawabku.
"Oppa!" Kami berdua menoleh ke arah suara itu. Gadis cantik itu pasti temannya, atau pacarnya? Akh, apa peduliku. Gadis itu menunggu di depan pintu utama. Mereka sepertinya akan pergi bersama.
"Sepertinya aku harus pergi. Bisakah aku meminta nomor ponselmu?" Dia segera merogoh ponsel di sakunya dan menyodorkannya padaku. Aku menerima ponsel itu lalu mengetikkan beberapa digit nomor.
"Aku akan menghubungimu nanti. Sampai jumpa!"
Dia pun melangkah pergi menemui temannya tadi. Aku masih bisa mendengar gadis itu bertanya tentang siapa aku dengan nada yang agak kesal.
Yoona POV
Aku selalu merasa senang jika jadwalku adalah untuk pemotretan SPAO, karena itu berarti aku akan bertemu dengan Siwon oppa. Meskipun kami selalu bertemu di kantor manager, atau berada dalam satu acara music, tapi pemotretan SPAO selalu berbeda. Kami selalu tampil berpasangan. Berdua. Menyenangkan jika mendengar komentar semua orang bahwa kami adalah pasangan yang serasi.
Semua orang berkata kami serasi. Kami seharusnya layak bersama sebagai sepasang kekasih bukan hanya di catalog-katalog SPAO tapi juga di dunia nyata. Tapi sedikitpun dia tidak pernah melirikku.
Penilaian orang memang berbeda-beda, sebagian besar orang berkata bahwa kami serasi sebagai sepasang kekasih, tapi tidak sedikit juga yang berkata lain. Aku kadang merasa sebal pada orang yang mengatakan bahwa kami adalah saudara, hanya sepasang adik-kakak, karena kami bernaung pada perusahaan yang sama.
Siwon juga menganggap hubunga kami seperti itu. Sebagai adik-kakak! Tak bisakah dia mengubah pandangannya padaku?
Kami akan ke sebuah acara music bersama, dimana grup kami akan tampil. Kami mesti buru-buru jika dia tidak terlambat. Saking terburu-burunya dia malah menabrak seseorang yang berpapasan dengannya di depan lift. Aku menoleh ke arahnya. Aku melihatnya sedang mengobrol dengan gadis yang disenggolnya tadi, sangat akrab yang membuatku jadi panas. Aku tidak mengenali gadis itu, bukan dari kalangan artis sepertinya.
"Oppa!" Teriakku. Dia tahu bahwa kami harus buru-buru tapi dia malah sibuk berbasa-basi. Aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari mereka. Siwon menyodorkan ponselnya dan gadis itu menerimanya dengan senyum yang membuatku sangat jengkel.
"Siapa gadis itu?" tanyaku pada Siwon begitu dia sudah berada di sampingku. Dia menoleh ke belakang sekali lagi.
"Teman!" Katanya. Tersenyum.
Aku merengut kesal.
Beberapa hari kemudian
Ghassany tampak excited menyusuri setiap sudut ruangan yang dipenuhi dengan teddy bear, boneka kesukaannya. Yup, Ghassany dan Auntie Mira kali ini mengunjungi Museum Teddy Bear di Namsam Tower. Sudah dua jam Ghassany mengelilingi tempat itu tapi tidak merasa bosan-bosan juga. Ghassany langsung cemberut begitu telepon untuk tantenya dari kantor masuk, itu artinya mereka harus segera pulang. Mau tidak mau Ghassany harus mengalah padahal mereka belum mengunjungi Seoul Tower. Ghassany setengah menyeret langkahnya menuju parkiran begitu ponselnya berdering. Dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Halo!" Jawabnya lesu, bagaimanapun moodnya sudah pecah karena acara jalan-jalannya berakhir lebih cepat.
"Halo, ini aku!" kata si penelepon yang membuat kening Ghassany mengerut. Untuk sepersekian detik Ghassany masih bertanya-tanya siapa orang yang sok akrab itu sampai akhirnya dia bisa mengidentifikasi si pemilik suara baritone yang sedang ditemaninya berbicara saat ini.
"Siwon-ssi?" Ghassany berseru gembira. Tidak menyangka bahwa Siwon benar-benar meneleponnya setelah pertemuan terakhir mereka di Myeongdong empat hari yang lalu. Jantungnya berdetak jauh lebih cepat lagi. Selalu begitu.
"Ya. Kau ada di mana?" Tanya Siwon tanpa basa-basi.
"Di Museum Teddy Bear. Tapi aku sudah akan pulang karena Auntie Mira harus segera ke kantornya!" Kata Ghassany dengan nada kecewa.
"Aku sudah tidak ada kegiatan sore ini dan aku ingin bertemu denganmu. Kau bisa menungguku di sana? Jika kau tidak keberatan."
"Benarkah?" Ghassany langsung bersemangat. Mengelilingi Museum Teddy Bear…. dengan Siwon? Pilihan yang tidak buruk. "Tentu. Aku akan menunggumu!"
Klik.
Telepon terputus. Ghassany yang sudah memegang gagang pintu mobil menarik tangannya kembali. Dia lalu menyuruh tantenya agar pulang lebih dulu setelah memberikan alasan. Awalnya tantenya keberatan dan ingin menemani sampai Siwon datang tapi Ghassany berusaha menyakinkan bahwa dia tidak apa-apa sendirian beberapa saat di tempat itu. Tantenya akhirnya mengalah dan meninggalkan keponakannya.
Ghassany hanya menunggu setengah jam hingga akhirnya Siwon datang. Biasanya dia tidak suka menunggu tapi kali ini rasanya dia akan menunggu selama apa pun tanpa merasa bosan sama sekali, dia menikmati jantungnya yang berdetak tidak karuan saat melihat Siwon bergerak mendekat ke arahnya dengan senyum yang tersungging di bibirnya.
Mereka mengelilingi Museum Teddy Bear sekali lagi atas permintaan Ghassany lalu berganti menikmati gemerlap kota Seoul di malam hari dari Seoul Tower. Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah Ghassany lupakan.
"Kau baru pertama kali ke sini?" Tanya Siwon. Ghassany mengangguk pelan. Mereka duduk bersebelahan di sebuah bangku.
"Ya. Tempat ini benar-benar indah. Aku dan Auntie tadi sudah akan berencana pulang dan tidak tahu apakah bisa kembali lagi ke tempat ini! Untungnya kau menelepon. Terima kasih." Ujar Ghassany tulus.
"Sama-sama. Kau menemaniku saat aku di Jakarta jadi sekarang saatnya aku yang menemanimu di sini. Kita impas!"
"Tentu! Kita impas." Ghassany berujar pelan. Terselip nada kecewa di suaranya, entah Siwon menyadarinya atau tidak. Jika mereka impas maka pertemuan mereka hanya sebatas ini saja. Hanya sekedar saling membalas budi. Bukan itu yang diinginkan Ghassany! Mereka berdua lalu terdiam, bergelut dengan pikiran masing-masing.
"Tapi aku selalu ingin bertemu denganmu!" Keheningan menjadi seperti gelembung sabun yang pecah saat Siwon menggumamkan kalimat itu tepat di telinga kanan Ghassany. Hembusan nafas Siwon terasa menggelitik tengkuknya, ikut berpengaruh pada kerja jantungnya. Ghassany langsung menoleh dan menatap tidak percaya pada orang di sebelahnya. Mereka berdua saling bertatapan. "Aku suka matamu!" Lanjut Siwon dengan senyum tersungging di bibir.
Ghassany nyaris lupa bagaimana caranya bernafas.
To Be Continue….
