Sebelumnya Author mau mengingatkan kalau di part ini (dan di part berikutnya) Author memakai dua nama untuk satu tokoh utama wanita di sini, Ghassany=Chae Rin. Terutama saat Leeteuk POV. Jadi jangan bingung ya! Hehe, happy reading.^^
Part ~7~
Ghassany meringkuk di kamar dengan selimut tebal membungkus tubuhnya. Meski sudah hampir dua minggu di Seoul, Ghassany masih agak kesulitan beradaptasi dengan temperatur udara yang cukup rendah apalagi di musim gugur seperti ini, mengingat Jakarta panasnya bukan main. Bahkan saat musim hujan pun terasa jauh lebih dingin.
Ghassany tidak akan kemana-mana hari ini karena Auntie Mira akan ke luar kota untuk urusan bisnis. Sedangkan Siwon, orang yang juga paling sering mengajaknya berkeliling kota Seoul sedang berada di Jepang untuk syuting drama terbarunya. Mereka memang menjadi lebih dekat setelah pertemuan di Namsam Tour minggu lalu. Tidak jarang mereka juga saling memberi kabar baik melalui SMS ataupun telepon jika mereka tidak sempat bertemu. Selama ini Ghassany berpikir bahwa Siwon adalah seorang artis yang nyaris tidak memiliki waktu kosong, tapi sepertinya itu salah karena Siwon selalu menemaninya dan pikiran itu –bahwa Siwon selalu punya waktu untuknya—membuat pipi Ghassany merona.
"Kamu yakin tidak mau ikut?" Tanya Auntie Mira sekali lagi, dia bersandar di pintu dengan pakaian lengkap. Bersiap untuk pergi.
"Yakin Auntie. Auntie kan mau kerja, ntar aku malah ngeganggu!"
"Maaf ya, Auntie tidak bisa menemanimu hari ini!"
"Nggak apa-apa Auntie, aku juga nggak yakin bisa kemana-mana hari ini kalau udaranya dingin banget. Auntie berangkat gih, ntar terlambat loh!"
"Ok. Hati-hati di rumah yah!" Auntie Mira menutup kembali pintu kamar Ghassany lalu melangkah keluar rumah.
Setelah tantenya pergi, Ghassany keluar kamar sambil menyeret selimutnya menuju ruang makan. Perutnya sudah keruyukan. Ada sereal dan roti di sana. Tapi Ghassany lebih memilih roti sebagai sarapannya. Setelah perutnya terisi Ghassany berpindah ke ruang tengah, meringkuk kembali di atas sofa sambil menonton acara televisi yang tidak dimengertinya. Bahasa selalu jadi persoalan.
Tak ada hal menyenangkan yang bisa dilakukannya. Dia melirik ponselnya yang diletakkan begitu saja di atas meja. Harusnya Siwon sudah kembali ke Seoul hari ini, tapi kenapa dia tidak menelepon? Ghassany mengambil ponselnya, menekan beberapa digit nomor tapi sebelum terdengar nada sambung dia sudah memutuskan hubungan itu. Dia kembali meletakkan ponselnya di atas meja dan menatapnya lama. "Dia pasti sedang sibuk" Pikir Ghassany. Bagaimana pun dia tidak ingin mengganggu aktivitas Siwon. Sudah cukup rasanya Siwon meluangkan waktunya disela-sela padatnya jadwal hanya untuk menemuinya.
Karena merasa kebosanan, Ghassany mengutak-atik ponselnya. Mengirimi Jaci email, dan mencari berita tentang Indonesia terkini. Iseng, Ghassany menuliskan kata 'Super Junior' di Google dan muncullah ribuan artikel tentang mereka. Ghassany membuka artikel itu secara acak dan menemukan foto-foto grup itu, mulai dari foto bersama hingga foto perorangan. Dia menertawai dirinya sendiri saat mendownload foto-foto itu ke ponselnya. Puas bermain internet, Ghassany berganti memainkan semua game di ponselnya, mengganti ringtone hingga mengganti wallpaper. Walpaper ponselnya kini sudah berganti menjadi foto Leeteuk yang dilihatnya sangat manis, dia berjanji akan menggantinya kembali nanti. Ghassany tertidur di sofa kemudian.
Ghassany kebingungan, saat ini dia sedang berada di atas pesawat, dia ingin bertanya tapi dia tidak menemukan seorang pun pramugari ataupun pramugara di pesawat itu, hanya ada dirinya saja dan para penumpang yang ternyata adalah para member Super Junior yang akan ke Indonesia untuk melakukan konser sekali lagi. Ghassany bisa melihat Siwon sedang tertidur dengan pulas, dan dia terlihat sangat ganteng.
Pesawat berguncang sedikit, Ghassany tidak begitu peduli, itu hal biasa jika melewati daerah dengan cuaca buruk. Tiba-tiba terdengar pemberitahuan dari pilot bahwa pesawat mengalami kerusakan dan akan melakukan pendaratan darurat. Semua penumpang yang tadinya tertidur langsung terbangun dan bangkit dari tempat duduknya. Ghassany berpikir mereka akan panik mendengar pemberitahuan itu, tapi ternyata dia salah. Mereka malah berkumpul lalu menyanyikan lagu Sorry-Sorry pada bagian reff dan menarik Ghassany ke arah pintu darurat. Tanpa pikir panjang mereka langsung mendorong Ghassany keluar.
"Akhhhrrgghhh"
Duk.
Ghassany terjatuh dari sofa tempatnya tidur tadi, jidatnya sukses mencium lantai. Jantung Ghassany berdegup sangat kencang, keringat dingin membajiri keningnya. Dia bersyukur itu hanya mimpi buruk yang sedikit ngaco. Lagu Sorry-Sorry masih menggema di ruangan, ternyata itu adalah bunyi ringtone baru ponselnya.
"Hallo" Jawab Ghassany dengan suara parau.
"Kau sakit?" Tanya orang itu tanpa basa-basi. Butuh beberapa detik hingga Ghassany sadar bahwa pemilik suara itu adalah Siwon.
Ghassany berdeham lalu segera menjawab, "Tidak. Aku baru saja bangun tidur jadi suaraku agak serak! Kau dimana?"
"Di bandara, aku baru saja sampai. Kau ada kegiatan hari ini?" tanyanya lagi.
"Tidak. Kenapa?"
"Aku ingin bertemu denganmu. Rasanya sudah lama sekali aku tidak melihatmu!" Pipi Ghassany merona mendengar perkataan Siwon, untungnya tidak ada orang yang melihat.
"Seingatku kau baru pergi dua hari! Itu tidak lama."
"Aish, menurutku itu sudah sangat lama! Aku benar-benar ingin bertemu denganmu."
"Benarkah?"
"Apakah aku terdengar bercanda? Tentu saja aku serius. Aku ingin makan Jajangmyeon, kau mau menemaniku kan? Aku akan menjemputmu di rumahmu, segera!" Siwon langsung menutup telepon tanpa persetujuan Ghassany sama sekali. Memangnya Ghassany akan menolak? Tentu tidak!
Ghassany tertegun lama sambil tetap menahan ponselnya tetap di telinga padahal telepon sudah terputus sejak tadi. Ketika kesadarannya pulih kembali Ghassany segera melepaskan diri dari selimut yang membelitnya dan berlari menuju kamar mandi. Dingin sudah bukan masalah lagi.
Siwon mengajak Ghassany ke Cheonggyecheon Stream Park setelah mereka menikmati mie hitam khas Korea Selatan yang tidak begitu disukai Ghassany. Menurutnya rasa mie itu agak aneh di lidahnya. Mereka berdua duduk bersebelahan di bangku taman sambil menikmati suasana sore hari Seoul di musim gugur. Udara sangat dingin dan bodohnya Ghassany lupa memakai kaos tangan. Dingin serasa menusuk-nusuk."Kau memanjangkan kukumu?" Tiba-tiba saja Siwon mengenggam jemari Ghassany yang membuat si pemilik jemari itu terkejut. Pertanyaan—alasan—yang aneh tapi sukses membuat jantung Ghassany langsung berdegup liar hingga nyaris membuat dadanya jebol. Dia takut Siwon bisa mendengar detakannya yang tidak normal.
Tangan Ghassany makin mendingin di genggaman Siwon. Ghassany tidak menjawab pertanyaan itu, dia berusaha menarik tangannya tapi Siwon tidak membiarkan itu terjadi, dia malah menggenggam tangan Ghassany lebih erat.
"Jangan. Tanganmu terasa dingin. Aku akan menghangatkannya!" Ghassany berhenti mencoba. Tangan Siwon memang sangat hangat, bukan hanya berefek pada tangannya tapi juga hatinya, seluruh tubuhnya. Angin yang menerpa bukanlah apa-apa.
"Apa kau tidak lelah setelah perjalanan jauh?" Siwon tahu gadis ini sedang berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia merasa lelah hari ini. Seharusnya dia langsung pulang saja tapi jika tidak bertemu Ghassany dulu dia malah tidak bisa merasa tenang. Dia tidak pernah tahu bahwa kehadiran gadis ini begitu berarti untuk membangkitkan semangatnya lagi. Siwon sudah tak bisa menyangkal bahwa dia menyukai gadis yang ada di sebelahnya ini. Siwon merebahkan kepalanya di bahu Ghassany perlahan. Bisa dirasanya bahu itu menegang. Terkejut.
"Aku lelah!" Akunya.
"Harusnya kau istirahat saja. Ayo kita pulang!" Ajak Ghassany tapi Siwon mengacuhkan. Dia mencoba berdiri tapi tangan Siwon mencekalnya. Dia terlalu nyaman pada posisinya dan tak ingin beranjak dari sana.
"Tidak. Biarkan aku begini, sebentar saja!" Bisiknya pelan. Ghassany tidak bisa berkomentar lagi, dia berusaha menikmati udara sore yang tiba-tiba menjadi lebih hangat. Penyebabnya utamanya bukan karena temperatur utara yang tiba-tiba naik tapi bersumber dari desiran-desiran aneh yang mulai mengkontaminasi perasaannya.
Mereka berdua tetap dalam posisi itu beberapa lama hingga bunyi ponsel Siwon memecah keheningan. Buih kedamaian itu menguap bersama udara dingin.
Leeteuk POV
Aku menelepon Siwon karena aku ingin memberikan syal miliknya yang dititipkan Yoona padaku. Mungkin syal itu ketinggalan di lokasi pemotretan beberapa hari lalu sebelum Siwon ke Jepang. Aku pikir Yoona itu menyukai Siwon lalu mengapa dia tidak memberikan langsung saja, Mengapa harus menitipkannya padaku? Aku bukannya tidak suka, aku hanya sedikit heran.
"Apakah aku bisa mengajak seorang teman?" Tanya Siwon di ujung telepon. Aku mengiyakan saja, lagipula aku sedang sendiri saat ini. Sejak kapan sih dia meminta izin jika ingin mengajak seseorang bergabung dengan kami. "Tentu, kau bisa mengajak siapa saja! Sebenarnya siapa yang ingin kau ajak?"
"Hyung akan tahu sendiri nantinya. Ini kejutan. Sampai jumpa di sana!" Dia ingin membuatku penasaran. Dasar!
Dia akhirnya datang setelah membuatku kebosanan menunggu. Dia datang bersama seorang gadis cantik. Setelah mereka semakin dekat aku baru sadar bahwa gadis itu adalah gadis yang sama yang pernah datang ke hotel saat kami mengadakan Super Show di Indonesia dulu. Agak sukar menyebut namanya.
"Annyeong. Maaf membuatmu menunggu hyung!" Ujar Siwon.
"Annyeonghaseyo." Gadis itu menyapa sambil membungkukkan badannya. Aku bangkit lalu melakukan hal yang sama.
"Kau masih ingat padanya kan, hyung? Dia Ghassany, kau pernah bertemu dengannya di Indonesia!"
"Ya. Aku ingat. Gadis yang sempat membuatmu uring-uringan kan?" Siwon langsung memelototiku hingga membuatku ingin tertawa. "Senang bertemu denganmu kembali, Ghas.. Maaf, agak susah menyebutkan namamu!" Aku tidak sadar mengoceh dalam bahasa Korea, tapi kali ini sepertinya dia mengerti apa yang aku katakan. Bahasa Koreanya sudah lebih baik.
"Oppa bisa memanggilku dengan Chae Rin, itu nama Koreaku." Katanya dalam bahasa Korea yang terbata-bata.
"Kau punya nama Korea? Kau tak pernah memberitahuku?" Protes Siwon padanya.
"Auntie Mira yang memberiku, sudah sangat lama, hanya sekedar alternatif saja. Benarkah aku tidak pernah memberitahumu?"
"Tidak."
"Sepertinya kau tidak kesulitan menyebutkan namaku. Jadi tidak perlu!"
"Perlu atau tidak, harusnya kau juga memberitahuku."
Kyaa..Mereka malah asyik berdebat sendiri mengenai nama Korea Chae Rin dan mengabaikanku.
"Sudah. Tak usah berdebat soal itu. Aku mengajak kalian bukan untuk diabaikan seperti ini." Potongku, mereka berdua terdiam lalu terkikik pelan. Aku segera menyodorkan paper bagyang sedari tadi kuletakkan di kursi kosong di sampingku pada Siwon "Ini punyamu. Dititipkan oleh Yoona padaku." Siwon agak keheranan melihatnya.
"Yoona? Yoona SNSD itu?" Chae Rin bertanya kegirangan.
"Kenapa?" Aku dan Siwon berkata bersamaan. "Kupikir kau mengenalinya saat kita bertemu di lantai dasar SPAO hari itu!" Lanjut Siwon.
"Benarkah itu dia? Dia terlihat berbeda. Aku tidak menyangka aku bisa bertemu dengan artis-artis yang selama ini aku lihat hanya di TV. Aku akan bertemu siapa lagi besok?"
Dia lucu. Agak cerewet dengan bahasanya yang amburadul. Tidak jarang Siwon harus membetulkan perkataannya atau menerjemahkan ke dalam bahasa Inggris apa yang tidak dia tahu artinya. Kadang dia keceplosan menggunakan bahasa Indonesia-nya juga.
"Mungkin bertemu dengan member Super Junior yang lain? Mereka akan senang jika mereka bertemu dengan kekasih Simba!" Gumamku.
"Bukan! Kami hanya teman, bukan sepasang kekasih." Chae Rin menyanggah dengan sangat bersemangat dengan wajah yang tampak merona meskipun di bawah lampu restoran yang agak remang.
"Oh ya. Sayang sekali kalau begitu. Bagaimana kalau kau menjadi pacarku saja?" Godaku.
"Hyung!" aku menoleh ke arah Siwon yang memandangku dengan sorot mata mematikan. "Sudah, jangan menggodanya terus."
"Aku bukan berbicara denganmu!" Sergahku kemudian beralih ke Chae Rin kembali. "Kau harus menonton salah satu show kami. Aku yakin kau akan langsung jatuh cinta padaku jika kau melihatku bernyanyi!" Dia tertawa pelan.
"Ide yang tidak buruk!" Serunya.
Siwon melengos kesal kemudian mengintip isi paper bag yang tadi kuberikan dan mengeluarkan syal bermotif kotak-kotak dari sana.
"Ini punyaku?" Siwon bertanya keheranan.
"Harusnya kau yang mengenali milikmu sendiri! Yoona hanya menitipkannya padaku, jadi aku tidak tahu apa-apa!"
"Tapi ini bukan milikku, hyung! Apa Yoona berkata ini milikku?" Aku memikirkan pertanyaan Siwon dan mengingat-ingat perkataan Yoona sebelumnya. Yoona memang tidak pernah berkata bahwa itu milik Siwon, dia hanya menitipkan itu pada Siwon.
"Yah, mungkin aku salah. Syal itu mungkin pemberian Yoona. Bukankah pernah kukatakan sepertinya dia menyukaimu?" Siwon kembali memelototiku karena perkataanku, kali ini dia melirik Chae Rin yang ada di sebelahnya. Gadis itu sedang menekuni makanan yang ada di depannya. Dia tampak tidak peduli. Tapi siapa yang tahu?
Tidak lama kemudian telepon gadis itu berdering dan dia segera pamit pulang.
"Boleh aku meminta nomor teleponmu?" Tanyaku pada Chae Rin sebelum dia pergi. Dia mengangguk lalu menuliskan nomor teleponnya di ponselku. Aku melirik Siwon yang tampak sebal di sebelahnya. Sesuatu telah terjadi di sini. Aku menyadarinya sejak tadi.
To Be Continue…
