Part 12

Keesokan harinya, Leeteuk mengatur pertemuan Siwon dan Ghassany disela-sela padatnya kegiatan Siwon. Leeteuk diam-diam mengajak Ghassany ke acara konser mereka.

"Apa yang kita lakukan di sini, Oppa?" Tanya Ghassany keheranan. Tiba-tiba saja Leeteuk menjemputnya dan mengajaknya ke tempat itu.

"Tunggu disini sebentar!" Kata Leeteuk lalu meninggalkan ruangan. Beberapa menit kemudian terdengar pintu dibuka.

"Oppa, Ap—" Kalimat Ghassany terpotong, matanya melebar melihat sosok yang tadi membuka pintu. Siwon. Yang sama kagetnya.

"Mana Donghae?" Tanya Siwon mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.

Tadi Leeteuk mengatakan kalau Donghae menunggunya di ruangan ini. Tapi akhirnya dia tersadar bahwa ini hanyalah akal-akalan Hyungnya begitu melihat yang ada di ruangan bukan Donghae melainkan Ghassany.

"Siwon?" Desis Ghassany pelan. Ghassany tampak kuyu, tak bersemangat dan itu menarik perhatian Siwon. Ingin sekali direngkuhnya gadis itu dan menjelaskan semua kesalahan pahaman antara mereka.

"Mana Tukie Oppa?" Ghassany menyahut lagi. Siwon mendengus kesal. Dia ingat dengan jelas bagaimana Leeteuk memeluk Ghassany di taman malam kemarin. Sesuatu yang membuatnya jadi panas. Lalu kenapa sekarang dia harus minta maaf padanya kalau Ghassany juga melakukan hal yang sama?

Siwon juga ingat perkataan Ghassany saat mereka makan siang bersama bahwa dia menyukai Leeteuk. Peristiwa kemarin itu menjadi pembenaran untuk perkataan waktu itu dan mendengar Ghassany tadi mengatakan 'Tukie Oppa' dengan lemah lembut (terdengar seperti itu di telinga Siwon) membuatnya jadi terbakar. Padahal kenyataannya Ghassany sudah kehabisan tenaga dan semangat bahkan untuk mengeluarkan suara.

"Kenapa kau tidak datang kemarin?" Tanya Ghassany lagi. Berusaha memulai percakapan. Semua harus diselesaikan sekarang. Leeteuk melakukan ini untuknya, agar semua ini segera selesai. "Aku menunggumu!"

"Seperti yang kau tahu. Aku di rumah sakit!" Jawab Siwon sarkatis. Dada Ghassany berdenyut perih mendengarnya.

"Kenapa kau tidak menghubungiku? Aku menunggumu"

"Aku kehilangan ponselku. Harusnya kau pulang saja, aku tak pernah memintamu menungguku!" Siwon menyesal dengan kata-katanya karena mata Ghassany mulai berkaca-kaca.

"Aku memang bodoh, harusnya aku tidak menunggumu saja!" Kata Ghassany lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan. Siwon hanya terpaku, Dia tak bisa bergerak, walau itu hanya untuk sekedar meneriakkan kata maaf.

"GHASSANY." Terdengar teriakan Leeteuk kemudian disusul suara pintu dibuka dengar keras hingga menabrak dinding.

Buk

Satu pukulan telak mengenai wajah Siwon. Dia tak melawan. Siwon meringis pelan dan memegangi pipinya. Darah mengucur di ujung bibirnya. "Kau bodoh" Teriak Leeteuk. Siwon tahu ini memang salahnya, tidak mungkin Leeteuk kelepasan seperti itu kalau memang itu bukan salahnya, kecuali kalau dia juga membela kekasihnya. Siwon akhirnya balas memukul juga.

"Kau membela kekasihmu Hyung?" Teriaknya. Leeteuk cuma tertawa pelan mendengar teriakan Siwon.

"Kau bodoh. Dia hanya ingin bilang dia akan pulang ke Indonesia. Dia hanya ingin pamit!" Kata Leeteuk lalu meninggalkan ruangan meninggalkan Siwon yang berdiri terpaku di tempatnya.

"Dia ingin mengatakn dia… mencintaimu!" Suara Leeteuk teredam oleh suara pintu yang tertutup.

Udara tetap dingin meski matahari bersinar cerah. Ghassany memeluk Auntie Mira lama. Perpisahan memang selalu menyakitkan.

"Chae Rin?" panggil seseoarang dari belakang. Ghassany melepaskan pelukan dari Bibinya.

"Oh, Oppa, kau datang? Aku tahu kau sangat sibuk, harusnya kau tak usah repot-repot!"

"Jangan khawatir, aku tidak ada jadwal hari ini!"

"Gomawo, sudah berbaik hati padaku selama ini. Aku tidak akan melupakanmu!"

"Kau memang tidak boleh melupakanku!" Mereka berdua tertawa. Leeteuk langsung menarik Ghassany ke dalam pelukannya. "Gomawo." Bisik Ghassany sekali lagi.

Ingin sekali rasanya Ghassany bertanya tentang Siwon, dia ingin sekali menitipkan banyak pesan untuk Siwon, Tapi kalimat itu ditelannya lagi. Siwon sekarang ada di Taiwan dan Ghassany sudah bosan berharap. Sudah, dia tidak ingin menangis lagi.

Ghassany melirik pintu keberangkatan. Beberapa orang mengantri disana sambil menunjukkan tiket mereka.

"Hmm, sepertinya aku harus pergi!" Katanya berat.

"Ya, hati-hati" jawab Leeteuk dan Auntie Mira bersamaan. Ghasaany berbalik lalu melangkah menarik kopernya yang besar dengan sangat berat.

"Kau akan pergi tanpa pamit padaku?"

Ghassany impuls menoleh mendengar suara itu. Suara baritone yang sangat dikenalnya.

"Siwon" Ucapnya setengah tak percaya bahwa pria itu benar-benar ada di hadapannya sekarang. Ghassany terpaku ditempatnya, tak bergerak. Siwon menarik tubuh gadis yang ada di hadapannya itu ke dalam pelukan hangat. Ghassany mengira dirinya bermimpi tapi itu nyata. Lengan kokoh itu nyata. Pelukan hangat itu nyata. "Maaf untuk semuanya" Bisikan itu nyata. Siwon membisikinya lirih.

"Bukankah kau sedang di Taiwan?" Pertanyaan bodoh itu malah keluar dari bibir Ghassany. Dia merutuki dirinya sendiri. Bukan itu yang seharusnya dia katakan.

"Aku ingin menemuimu, makanya aku ada disini!"

Ghassany langsung menghambur ke pelukan Siwon lagi. Memeluknya erat seakan tak ingin melepaskannya.

"Aku minta maaf untuk semuanya, aku tidak bermaksud untuk—"

"Aku sudah memaafkanmu." Ghassany berbisik lirih.

Siwon melepaskan pelukannya, dan menatap mata Ghassany yang indah. Mata yang mengikatnya sejak awal. "Kalau begitu, ayo kita pulang!" Siwon meraih koper yang tergeletak di dekat Ghassany, berniat segera membawanya pergi dan keluar dari situ tapi si pemilik menahan. Siwon menatap Ghassany dengan sebelah alis terangkat naik.

"Ada apa?" tanyanya. Jika Ghassany sudah memaafkannya, harusnya gadis itu tak menolak untuk tetap tinggal.

"Aku harus pergi, aku tidak bisa terus berada di sini! Aku juga harus menjalani hidupku!"

"Disini. Apakah salah kau menjalaninya disini. Denganku?" Ghassany hanya menggeleng mendengar pertanyaan Siwon. Ini adalah pilihannya. Dia ingin kembali pada hidupnya sebelum semua ini dimulai.

Hidup dimana Super Junior hanyalah sebatas idola. Saat Siwon hanya bisa dilihatnya di layar kaca. Bukan, hidup dengan dikejar wartawan sepanjang hari yang terkadang terasa mengekang karena dia harus bersembunyi di dalam rumah. Bukan mendapat umpatan dari fans-fans yang tidak setuju dengan berita yang semakin hari semakin berkembang ketidakjelasannya. Jika berita itu makanan, maka rasanya akan membuat eneg karena kebanyakan bumbu disana-sini. Terlalu berlebihan. Sungguh, dia rindu kehidupannya yang dulu.

"Aku mencintaimu. Tinggal disini, bersamaku!" Kalimat itu akhirnya terucap, jauh lebih mudah dari yang Siwon bayangkan.

Air mata Ghassany perlahan menggumpal di sudut mata. Ini adalah sebuah perpisahan, mungkin ditoleransi jika dia menangis. Ghassany melirik pintu keberangkatan lalu menatap pria yang ada di depannya. Pria yang baru saja mengatakan mencintainya. Rasa bahagia dan sedih bercampur jadi satu, mencipta sesuatu yang bergejolak dalam dirinya tapi dia bisa melisankannya, rasa itu terasa sangat rumit untuk diurai menjadi untaian kata.

Ghassany berjinjit sedikit, lalu mendaratkan bibirnya di bibir Siwon sekilas.

"Aku juga mencintaimu!" ujar Ghassany pelan.

Jika bukan karena Ghassany sudah berbalik pergi, Siwon pasti sudah menarik Ghassany ke dalam pelukannya dan mencium gadis itu lebih lama. Tapi toh akhirnya Siwon hanya menatap punggung gadis itu sampai menghilang dari titik pandangnya, berbaur dengan puluhan orang yang ada disana.

"Kita bertemu karena sebuah keajaiban. Jika keajaiban itu masih milik kita, maka kita pasti akan bertemu kembali. Membayar hutang yang diikrarkan oleh hati kita"

Jakarta, setahun kemudian

Ghassany Pov

Aku membuka-buka artikel di internet dan aku menemukan berita yang sudah sangat lama. Dibuat tepat setahun lalu. Berita mengenai kedatangan Super Junior untuk Super Shownya di Indonesia. Itu berarti ini adalah hari pertama aku dan Siwon bertemu, harusnya kami merayakan satu tahun pertemuan kami saat ini.

Tiba-tiba saja air mataku menetes tanpa aba-aba. Aku bohong jika aku tidak merindukannya. Aku benar-benar merindukannya. Aku mengusap air mataku sambil berusaha tersenyum.

Aku merasa sangat sentimentil hari ini jadi kututup situs itu dan beralih membuka emailku. Sebuah pesan masuk di sana. Diterima sejam yang lalu. Jantungku mengentak tidak peduli dan darahku berdesir hangat di sepanjang pembuluhku saat aku membaca pengirimnya. Hanya ada sebaris tulisan dalam hangul, aku membekap mulutku sendiri dengan tangan. Air mataku kembali menggenang, sekuat apapun aku berusaha menahannya, air mata itu tetap mengalir deras. Pandanganku kabur saat aku membacanya.

마음다해사랑하는너를(nae maeum dahae saranghaneun neoreul)

Aku mencintaimu sepenuh hatiku

Dan keajaiban itu kembali berjingkat-jingkat menghampiri mereka!

~The End~