Saya kembali!

Terimakasih buat Mitama 134666, Yaklin1412, Akita Need –Musicspeech, Yukari Hyuu-Kei, dan undine-yaha sudah saya balas lewat PM.

Buat yang nggak login :

DarkAngelYouichi : nama saya Hikari^^; Gomen, udah bikin kamu salah terka. Makasih udah dibilang keren. Maaf juga kalo fic chapter 1 nya pendek. Yosh, ini sudah update!

Sebelumnya saya mau minta maaf atas salah satu typo saya, nama Isabel itu yang benar Isabel Harvard bukan Havaria! Maaf sebesar-besarnya atas kesalahan saya itu m(_ _)m

Semoga saja di chapter ini sudah tiada typo lagi #ngarep#

. . .

Isabel And The Red Guitar

Chapter 2 : Alasan Isabel

By : Hikari Kou Minami

Disclaimer : Eyeshield 21 by Yuusuke Murata & Riichiro Inagaki

Isabel Harvard dan OC lainnya milik saya seorang!

Rating : Teen

Genre : Romance, Tragedy

Warning : Please, look at the beginning of this fic.

Message : I hope all of you like this

Don't like don't read

=XXX=

"Karena…"

Isabel masih menggantungkan kalimatnya. Dari nada suaranya yang terdengar ragu-ragu, tersirat bahwa Isabel juga ragu-ragu untuk mengatakan alasannya yang sebenarnya dan tentu membuat Akaba yang sudah sedia telinga kanan dan kiri itu cemberut kesal.

"Karena apa?" kata Akaba sedikit kesal. Isabel meliriknya sebentar.

"Karena... gitar itu selalu dapat menyenangkan hatiku. Ia selalu ada untukku. Saat senang, sedih, suka, benci, kesal, marah, semua selalu kulampiaskan dengan memainkan gitarku yang selalu ada di sampingku," ucap Isabel dengan tersenyum. "Gitar merahku itu adalah benda paling berharga bagiku. Aku sangat mencintai gitarku ini," kata Isabel sambil berdiri dan berjalan ke arah sang gitar merah yang terlihat kembar dengan gitar milik Akaba.

"Sejak kapan kau mencintai gitarmu itu?" tanya Akaba sambil sedikit membenarkan posisi kacamata birunya. Isabel sudah meraih sang gitar dan lalu menoleh ke arah pemuda berambut merah itu. Mata hitamnya sedikit terkejut. Ia kemudian tersenyum lebar.

"Sejak aku masih SD!" jawabnya semangat. Suara pianonya kini melakukan crescendo hingga menjadi sedikit forte. Akaba sedikit tertegun mendengar perubahan dinamik suara sang gadis berambut merah itu.

"Dan kenapa kau begitu tertarik dengan gitarmu itu?" tanya Akaba lagi.

"Karena.." suara Isabel kembali menjadi piano. "Karena saat pertama kali melihat gitar merah ini, entah kenapa aku menjadi tertarik!" ucap Isabel dengan nada suara yang kini berubah total menjadi forte. Kini ia dengan eratnya memeluk-meluk sang gitar kesayangan sambil tersenyum lebar. Akaba menaikkan satu alisnya tak percaya melihat tingkah gadis itu. Perubahan dinamika suaranya dan ekspresinya membuatnya tak habis pikir dengan alasan sang gadis tertarik dengan gitar itu.

"Apa ini yang namanya 'jatuh cinta pada pandangan pertama' ya?" ucapnya dengan senyum lebar dan mata yang berbinar sambil masih tetap memeluk bodi sang gitar merah.

"Puh!" sela Akaba sambil hampir tertawa. Tingkah gadis itu telah menggelitik dirinya untuk tertawa, meski ia tahu, ia tak boleh tertawa. Sontak, Isabel menghentikan senyum lebarnya. Mata hitam onyxnya berubah menjadi kesal. Sepertinya ia sedikit menyesal mengatakan hal itu kepada lelaki pemerhati ritme itu.

"Hei, sudah kuperingatkan kalau jangan tertawa!" bentak Isabel suaranya kini sudah mulai menanjak. Crescendo lagi hingga menjadi Fortissimo.

"Habis, alasanmu tertarik itu yang membuatku tertawa! Tingkahmu tadi yang memeluk gitarmu juga! Serta perubahan ritmemu tadi juga! Kau terlihat berbeda dari yang pertama kukira," ucap Akaba dengan sedikit tertawa. Isabel sedikit menaikkan alisnya, heran.

"Berbeda? Lalu saat pertama kali kau melihatku, apa yang kau pikirkan tentang diriku?" tanya Isabel heran. Kini suaranya melembut sedikit.

"Ku pikir kau itu gadis yang sedikit galak. Tapi ternyata, perubahan ekspresimu tadi membuatku berpikir bahwa kau hanya gadis biasa, sama seperti gadis lain. Kau malah terlihat cukup polos tadi," jawab Akaba dengan sedikit tertawa kecil.

Isabel tak percaya dengan penuturan Akaba. Polos? Dia? Tak mungkin! Pikirnya. "Jangan bercanda kau! Aku tidak polos! Dan hentikan tawamu!" bentak Isabel lagi. Ia sudah tak memeluk gitarnya. Kini ia tengah memegang neck gitar merah itu dan mendirikan sang gitar di depan kakinya.

"Baiklah, baiklah," ucap Akaba sambil mengangkat tangannya dan menunjukkan kedua telapak tangannya seakan menahan amarah sang gadis yang meluap agar tak keluar dan tumpah hingga menimbulkan suara distorsi kasar nan galak hingga menyebabkan telinganya harus mendengar ambience yang berulang terus akibat suara distorsi itu yang pasti menyuruhnya untuk jangan tertawa, jangan tertawa dan jangan tertawa.

"Aku menyesal mengatakannya padamu! Pokoknya ja-"

"ISABEEEL!"

Sebuah suara yang memotong ucapan Isabel terdengar memekik keras bagai menggunakan megaphone atau toa. Sontak, Isabel dan Akaba berpaling ke arah pintu "Record Room" yang terbuka dan menampilkan sesosok pemuda berambut kuning pirang sedang berdiri dan membuka pintu yang tertutup sedikit. Di belakangnya terlihat seorang gadis berambut merah sedikit ke arah pink berdiri dengan balutan t-shirt panjang berwarna kuning dan rompi berwarna pink. Di samping gadis itu, sesosok pria berambut hitam pendek dengan kaus hitam pendek pula tengah berdiri.

"Eh?" ucap lelaki berambut kuning tadi dengan raut wajah heran. Ia memandang kedua insan di dalam "Record Room" itu bergantian. "Kalian sedang bertengkar atau membicarakan sesuatu?" tanyanya kemudian. Ia tahu, beberapa menit yang lalu, Isabel sempat mengamuk kepada Akaba. Dan dari isi pertanyaannya tadi, bisa dibilang bahwa lelaki berambut pirang ini adalah Watt.

"Watt, bisakah kau memelankan suaramu? Suara fortississimomu itu sanggup membuat nenek-nenek tuli di luar sana sanggup mendengar suara falsmu itu!" bentak Isabel kemudian.

"Sorry, Isabel, aku sedang kegirangan sekarang!" ucap Watt kemudian. Isabel sedikit menaikkan alisnya bingung. "Oh, ya, kalian sudah akrab ya? Kelihatannya sudah saling berbicara satu sama lain nih," kata Watt dengan sedikit tersenyum.

"Akrab? Impossible!" bentak Isabel mendengar ucapan sang sahabat. "Akrab darimananya?" tambahnya lagi.

Sementara Akaba hanya mengeluh dalam hati. 'Akrab? Susah kali akrab dengan gadis galak ini!' keluhnya.

"Hai, bel!" gadis berambut merah pink itu datang menyela Watt.

"Felica, kau datang juga ya?" ucap Isabel menyebutkan nama gadis tadi. Sementara Felica hanya tersenyum lembut.

"Oh, ya, Akaba, ini adalah Felica Scarlette, manager band kita," ucap Watt mengenalkan gadis bernama Felica tadi.

"Salam kenal," kata Felica sambil tersenyum lembut kepada Akaba.

'Ritme gadis ini sangat berbeda dengan gadis galak itu,' batin Akaba sedikit membandingkan Felica –gadis ini– dengan Isabel –gadis galak itu–.

"Watt, dia siapa?" tanya Isabel sambil menunjuk ke arah sang pemuda berambut hitam tadi. Watt lalu menoleh sejenak.

"Oh, dia, iya dia! Dia ini yang membuatku girang dan senang tadi!" ucap Watt kembali dengan nada fortississimonya. Dan sekali lagi pula membuat Isabel musti menutup telinganya.

"Iya, iya, dia itu siapa?" tanya Isabel masih dengan menutup telinganya.

"Dia ini Kevin Lowrence, orang yang secara tak sengaja kutemui bersama Felica di toko music tadi. Tadi ia tengah memilih bass yang bagus, terus kami mengajaknya ngobrol dan menawarinya ikut menjadi personel band kita dan dia mau," kata Watt mengenalkan sekaligus menceritakan perkenalan mereka serta alasan ia gembira hari ini. Sementara lelaki bernama Kevin itu hanya mengangguk pelan.

"Oh, hai, salam kenal, selamat datang di band kami," sapa Isabel kemudian.

"Hai!" sapa Akaba kemudian.

"Hai juga," salam balik lelaki berambut hitam itu.

"Nah, dengan begini lengkaplah sudah band kita, The Blood!" pekik Watt tanpa menurunkan dinamik suaranya. "Aku sebagai Drummer sekaligus Leader, Felica sebagai manager merangkap sebagain additional player keyboardist, kalau diperlukan, Kevin sebagai bassist, Akaba sebagai gitaris utama dan gitaris melodis dan Isabel sebagai vocalist dan gitaris rhythm!" kata Watt menuturkan nama serta posisi masing – masing personel.

"Lalu, siapa Song Writernya?" tanya Kevin kemudian. Sejenak mereka terdiam. Mereka saling berpandangan satu sama lain. Tapi tak ada satupun raut wajah mereka yang mengatakan "Aku saja yang menjadi Song Writernya!".

"Bel, kau saja yang menulis lagu! Seperti lagumu yang kau ciptakan waktu itu dan baru saja kita mainkan tadi!" usul Watt kepada gadis itu. Sontak, Isabel menggeleng cepat.

"Nggak! Aku nggak mau, Watt! Aku masih terima kau jadikan vocalist, tapi aku kurang terima kau jadikan penulis lagu juga!" teriak Isabel tak mau. Sepertinya ia sungguh-sungguh tak mau.

"Kumohon, bel!" pinta Watt lagi dengan mengatupka kedua tangannya.

"Nggak!" bentak Isabel lagi.

"Fuh.. Isabel, bagaimana kalau untuk sementara kau dulu yang menjadi Song Writer? Kami pasti akan membantumu jika kau sedang tak ada ide," kata Akaba kepada Isabel yang masih terlihat marah.

"Iya! Akaba benar! Kami pasti akan membantu!" ucap Watt kemudian disusul dengan anggukan kecil Felica dan Kevin. Melihat ia kalah jumlah, Isabel pun hanya bisa pasrah. Dengan suara berat dan terdengar seperti suara bass untuk pria, Isabel mengucapkan kata,"Baiklah.."

Semua langsung bersorak senang, minus Kevin dan Isabel. Isabel lalu melirik ke arah sang gitaris. Tatapan membunuh tersirat di mata hitam onyxnya. "Dasar cari muka!" sindir Isabel dengan tajam. Akaba yang melihatnya hanya tersenyum penuh kemenangan. Ia berhasil mengalahkan sang gadis galak ini!

"Nah, karena semua posisi dan personel sudah lengkap, waktunya melakukan debut!" ucap Watt kemudian.

"Tapi sebelum resmi menjadi band, kita harus mengirimkan CD Demo lagu band kita ke salah satu perusahaan rekaman, agar kita bisa debut secara live di hadapan penonton dan dapat mengeksiskan band kita," usul Kevin kemudian. Sepertinya jika sudah menyangkut masalah band, ia akan cerewet.

"Iya, ya, tunggu! Lagu kita apa?" tanya Watt tiba-tiba. Kontan semua terdiam. Mereka belum pernah melakukan jam session sebelumnya. Lalu lagu apa yang akan menjadi lagu demo mereka?

Tiba-tiba, Watt memukul kepalan tangannya ke telapak tangan. Sepertinya ia mempunyai ide. "Hei, bel! Kau ingat lagu yang kita nyanyikan tadi? Dengan iringan gitarmu dan tabuhan drumku?" kata Watt kepada Isabel.

"I.. iya sih, memang ke- ah! Kau mau menjadikan itu sebagai lagu demo ya?" tebak Isabel seolah tahu apa yang tengah dipikirkan sahabatnya itu. Dan dengan wajah tanpa dosa, Watt tersenyum lebar kepada Isabel dan mengangguk kecil pertanda setuju.

"Kau ini, lagu itu... sedikit jelek! Nggak cocok ah! Yang lain!" tolak Isabel lagi. Entah, ia tak ingin lagu ciptaannya didengar banyak orang, jadi lagu demo lagi.

"Kau punya lagu lain, bel?" tanya Felica kemudian. Isabel memandang gadis itu sekilas dan lalu menggeleng pelan. Gadis berambut merah itu kehabisan ide.

"Ayolah, bel! Kita tak bunya lagu lain! Lagu itu saja!" harap Watt kemudian.

"Tapi, Watt, aku-"

"Fuu... Isabel, lagu yang tadi kumainkan sudah cukup bagus. Percampuran ritmenya juga cukup bagus. Melodi-melodinya enak didengar. Perubahan dinamik suaranya juga, aku suka. Apalagi liriknya, sangat menyentuh, kau membuat dengan penuh penghayatan," tutur Akaba memotong perkataan gadis itu.

'Apa-apaan lelaki ini!' batin Isabel kesal dalam hati. Sepertinya ia ingin sekali menimpuk kepala sang gitaris berambut merah itu dengan gitar-gitar yang ada disana—minus gitarnya, pastinya.

"Yeah, lebih baik lagu yang dikatakan lelaki bernama Akaba ini saja," ujar Kevin menanggapi ucapan Akaba. Sepertinya ia sudah ingin sekali menyelesaikan permasalahan lagu demo itu.

Isabel lalu memandang keempat orang itu yang kini justru berbalik memandangnya. Watt, dengan tampang memelas dan mengharap. Felica, dengan tampang yang sangat berharap kepada Isabel. Kevin, dengan tatapan sedikit datar dan sedikit menusuk. Serta Akaba, dengan tatapan tajam nan lurus. Isabel sedikit kesal dengan lelaki itu.

"Baiklah, kalau kalian memang begitu berharap padaku," dengan nada berat dan pasrah, Isabel akhirnya mau mengizinkan lagu ciptaannya itu dijadikan demo. Semua langsung bersorak senang. Watt jejeritan dengan suara fortississimonya, Felica tertawa senang, Kevin hanya tersenyum tipis, Akaba juga hanya tersenyum sambil melirik ke arah Isabel. Sementara yang dilirik balik meliriknya kesal dengan lirikan yang jika dibaca dasar-cari-muka-kau-!

"Lalu, kapan kita melakukan jam session? Rekaman?" tanya Watt setelah puas jejeritan ria.

"Karena hari ini sudah cukup sore dan sepertinya ada yang belum siap, bagaimana kalau besok pagi kita kumpul kembali disini? Bagaimana?" tawar Felica kemudian. Ia memang pengatur jadwal yang bagus.

"Baiklah, pukul 08.00 kita kumpul disini, oke?" kata Watt memutuskan.

"Baiklah," jawab Akaba. Kevin hanya mengangguk kecil. Dan Isabel hanya cemberut. Ia sangat sebal hari ini.

"Isabel, jangan lupa siapkan lagumu!" kata Watt mengingatkan.

"Iya, iya!" jawab Isabel sekenanya. Sepertinya tugas Isabel tambah berat. Ia harus menyiapkan chord untuk bass *bass pake chord nggak? Saya nggak tahu!* dan sheet piano untuk keyboard. Sementara lirik dan chord gitar sudah siap di tangannya. Huruf E, C#m, F#m dan B[1] tertera di bagian atas kertas itu. Isabel benar-benar sudah memikirkan kunci gitarnya.

Tapi, kini ia tak memainkannya. Melainkan lelaki berambut dan bermata merah itulah yang akan memainkannya. Menggantikan posisinya di bagian gitaris. Menggeser dirinya hingga ia mendapatkan posisi vocalist dan gitar rhythm.

"Without Word"[2] tertulis di atas kertas itu. Ia memandang kertas itu sebentar. "Isabel, kami pulang dulu ya!" salam Felica sambil turun ke bawah. Isabel tak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya. Ia melirik lelaki berkacamata biru itu dengan raut wajah kesal.

"Tanpa kata... kau merebut POSISIKU!" katanya kemudian. Ia sangat sebal dan kesal. Si gitaris baru itu telah merebut posisinya!

=XXX=

"Gadis itu tinggal disini?" tanya Akaba –yang tentu tak mendengar raungan keras gadis itu– kepada Watt yang masih berdiri di depan pintu depan gedung itu.

"Begitulah, sejak ia kembali dari Washington, ia memilih tinggal di tempat ini sendiri, padahal baru 15 tahun," tutur Watt kemudian. Akaba sedikit tak percaya mendengar ucapan lelaki itu. Gadis itu berumur 15 tahun?

"Kau sendiri?" tanya Akaba lagi. Ia tak percaya jika lelaki itu sama umurnya dengan Isabel.

"Aku 17 tahun, aku lebih tua 2 tahun darinya," kata Watt kemudian. "Felica 17 tahun dan Kevin tadi waktu berkenalan denganku umurnya 19 tahun. Kau sendiri?" jawab dan tanya Watt kepada Akaba.

"Ah, aku, aku baru 16 tahun, sehari yang lalu," jawab Akaba.

"Wah, berarti kau baru saja ulang tahun nih, happy birthday ya!" kata Watt menyalami Akaba.

"Terimakasih," jawab Akaba kemudian. "Kalau begitu, aku pamit dulu," ucap Akaba sambil menenteng kotak gitarnya dan mulai beranjak melangkah.

"Ya!" jawab Watt dengan suaranya yang masih belum melakukan decrescendo sama sekali. Akaba hanya membalas dengan senyum tipis. Ia lalu berjalan pulang menuju rumahnya di Los Angeles.

=XXX=

Los Angeles, 07.30 a.m, September 23rd, 2008

Suara petikan alternatif picking terdengar dari jendela sebuah gedung yang cukup tua di salah satu jalan di Los Angeles. Seorang gadis berambut merah dengan t-shirt merah dan jaket hitam tengah memetik dawai-dawai gitarnya di dekat jendela. Memetik kunci E, C#m, F#m dan B dengan modulation yang rapi. Bibirnya yang merah alami tengah menyenandungkan lirik dan bait dari lagu ciptaannya itu dengan suara yang lirih.

Saat ia selesai memetik kunci B, seorang lelaki berambut merah, yang telah menjadi mimpi buruknya sejak kemarin, datang dari arah pintu. Isabel memandang lelaki itu kesal.

"Pagi!" salam Akaba kepada Isabel yang berada di dalam. Isabel tak menjawab salamnya. Ia masih membenci lelaki itu.

"Fuu.. kau masih membenciku, nona Isabel?" tanya Akaba kemudian sambil melepas kacamatanya. Isabel tetap tak menjawab apa yang ditanyakan oleh Akaba. Ia memilih bungkam.

"Ayolah, lagumu benar-benar bagus, Isabel! Lirikmu itu juga sangat menyentuh. Berisi tentang seseorang yang ditinggalkan oleh orang yang dicintainya hingga ia bahkan tak sanggup mengeluarkan sepatah katapun, benar kan?" kata Akaba sedikit menjelaskan maksud lagu yang ditulis oleh Isabel. Mata hitam Isabel membulat sejenak. Ia tertegun, gitaris yang baru saja memainkan lagunya kemarin sudah mengerti isi lagu buatannya.

"Kalo iya, kenapa?" ucap Isabel ketus.

"Fuu.. Sepertinya ritmemu hari ini sedang buruk," komentar Akaba. Isabel melirik lelaki itu kesal. 'Kau bicara tentang ritme terus, lebih baik kau saja yang menjadi gitaris ritme, bukan aku!' hati kecil Isabel mulai berteriak kencang.

"Ini semua gara-gara kau, ritmeku jadi buruk!" kata Isabel ketus lagi. "Daripada bicara ritme terus, kau lebih baik jadi gitaris ritme saja! Biar aku yang jadi gitaris me-"

KRUUYUUUK

Sebuah suara bervolume sedang tengah meraung keras. Suara itu memotong perkataan Isabel. Dan suara aneh itu bukan berasal dari sang lelaki berambut merah. Lelaki itu malah senyam-senyum tidak jelas sambil menggelengkan kepalanya.

Sedangkan sang sumber suara, merah padam mukanya kini semerah rambut panjangnya yang ia miliki. Ia memang belum sarapan tadi. Baru bangun pukul 06.30 tadi, alias satu jam yang lalu. Dan entah kenapa, setelah mandi ia langsung menyambar sang gitar merah kesayangannya dan mulai memetik dawai-dawainya dengan lembut.

Akaba lalu meraih beberapa kantung plastik yang ia bawa. Ia kemudian mengaduk-aduk isi di dalam kantung itu dan voila! Sebungkus roti tawar keluar dari kantung itu. Ia lalu mengaduk lagi dan kini setoples selai coklat keluar dari kantung itu. Ia kemudian menaruh kantungnya ke sofa dan berjalan menuju meja kecil di dekat jendela.

Isabel duduk kembali ke bangkunya yang berada di samping meja kecil itu. Wajahnya masih menunjukkan rasa malu. Akaba lalu menaruh roti tawar di meja dengan keadaan terbuka dan toples selai dalam keadaan terbuka pula. Ia lalu mengambil satu potong roti dan mengolesnya dengan selai.

"Kau tak mau makan?" tanyanya kepada Isabel. Isabel masih diam saja. Mungkin rasa gengsinya sedikit mengalahkan konser keroncong di dalam perutnya. Tapi, konser keroncong itu semakin lama semakin mengeras. Temponya pun berubah menjadi cepat. Konser keroncong itu semakin meriah.

Isabel pun menyerah. Ia tak kuat mendengar konser keroncong gila-gilaan itu. Apalagi melihat Akaba yang seenak gitarnya[?] makan dengan lahap di depannya. Ia akhirnya meraih satu potong roti itu dan mengolesnya dengan selai. Akaba yang melihatnya hanya menyimpan senyum. Isabel pun memakannya dengan semangat. Konser keroncong di dasar perutnya pun sepertinya sudah mencapai Coda.

"Nah, begitu. Kalau lapar jangan dipaksakan!" kata Akaba sambil beranjak dari kursi dan berjalan ke arah sang kotak gitar. Isabel hanya cemberut melihat lelaki itu, meski dalam hatinya ia malu sangat dengan tingkah perut nakalnya tadi.

Isabel sudah selesai makan sementara Akaba sedang menghafal kunci gitarnya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang 15 menit. Watt dan yang lain belum datang.

"Hei, Isabel!" panggil Akaba. Isabel memandangnya sejenak. Ia lalu berjalan ke arah sang gitaris.

"Ada apa?" tanya Isabel kemudian.

"Ini kuncinya diulang?" tanya Akaba sambil menunjuk ke arah kertas yang menuliskan kunci gitar.

"Mana sih?" kata Isabel sambil meraih kertas dari Akaba. Akaba lalu menunjuk ke salah satu tulisan di bawah tulisan lirik di kunci B.

"Oh, ini, ya, memang itu diulang. Terus nanti interludnya kau harus`melakukan alternatif picking dan nanti sedikit tunning di antara bridge ini, meski nanti bridgenya sedikit sama seperti reffrain, oh ya, reffrainnya nanti juga diulang," tutur Isabel menjelaskan bagaimana Akaba memainkan gitarnya. Akaba pun hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Isabel. Ia sudah bisa membayangkannya. Dan sejenak pula, ia sudah merasa dirinya sudah akrab -kembali- dengan Isabel.

"Hoo.. Kalian sudah latihan rupanya," ucap seseorang dibalik pintu.

"Watt?" kata Isabel menyebut nama sang sahabat. "5 menit lagi kalian terlambat," tambahnya kesal.

"Sorry, bel, macet di jalan tadi, terus chord dan sheet buat Kevin dan Felica sudah siap kan?" tanya Watt kemudian.

"Sudah. Di atas meja itu. Sekarang kalian harus bisa memainkan nada-nada yang tertulis disitu dan pukul 09.00 kita coba menyatukan seluruh instrumen kita!" ucap Isabel dengan nada final.

"Kau juga harus menyiapkan suaramu," kata Akaba menambahkan. Isabel meliriknya tajam.

"Aku sudah menyiapkannya sejak kemarin," tukas Isabel ketus. Ia lalu berbalik ke kursinya tadi.

'Fuuh.. Ketus lagi,' batin Akaba.

Mereka lalu masing-masing terlarut dalam permainan instrumen mereka sendiri. Berbagai petikan bass dan gitar, dentingan keyboard, pukulan drum dan senandung lirih terdengar bersahut-sahutan. Yang nantinya akan dipadukan dalam suatu komposisi menarik dengan tingkat keharmonisan yang bagus. Dan komposisi itu berupa melodi yang membentuk sebuah lagu.

=XXX=

Los Angeles, 09.00 a.m, September 23rd, 2008

"Yak semua, selesai! Kita mulai rekaman kita yang pertama!" ajak Watt menghentikan segala aktivitas dan irama – irama nada yang teralun di dalam ruangan itu.

"Persiapkan diri kalian di posisi masing – masing!" perintah Watt. Watt berada di belakang set drumnya. Kevin memegang bassnya di sisi kanan. Felica berada di depan Kevin. Akaba berada di sisi kiri, berseberangan dengan Kevin. Sementara Isabel berada di depan, memegang gitarnya di bagian rhythm.

"Oke! Kita mulai!" ucap Watt yang lalu memukul-mukulkan kedua stik drumnya ke atas. Pada pukulan ketiga, Akaba lalu memulai memetik kunci E dengan alternatif picking—intro, sementara Felica juga ikut mendentingkan keyboardnya, berusaha menyelaraskan dengan si gitar. Untuk sekarang Isabel tak menyanyi. Ia akan rekaman sendiri setelah rekaman irama ini selesai.

Setelah kunci B sudah selesai dipetik, Watt lalu memukul drumnya, Kevin memetik bassnya dan Isabel memetik gitarnya, sementara Akaba mengulang bagian tadi.

Proses rekaman itu berlangsung dan memakan waktu kurang lebih 4 menit 10 detik, dengan akhiran kunci B dipetik oleh Akaba. Coda yang sama dengan intro.

"Fuah! Akhirnya selesai juga! Kita coba dengarkan hasilnya!" ucap Watt dengan semangat 45. Ia lalu mencoba mendengar dari kaset rekaman selama 4 menit 10 detik.

"Wah! Keren! Tinggal ditambah vokalnya Isabel, lengkaplah sudah!" kata Watt kemudian. Semua tersenyum lega mendengar itu. "Isabel, setelah ini kau rekaman!" ucap Watt lagi.

"Iya, iya, aku tahu," jawab Isabel sekenanya. Mereka lalu ke ruang rekaman khusus vokal. Watt memasukkan kasetnya dan mencoba menghubungkan ke headphone di antara dia dan Isabel yang berada di dalam sekat kaca. Isabel lalu memakai headphone itu. Watt pun mulai memutar lagu tadi. Isabel pun lalu menyanyikan lirik pertama lagu itu begitu intro dimainkan. Isabel begitu penuh penghayatan dalam menyanyikan lagu itu. Lagu ciptaannya sendiri. Akaba sendiri merasa, Isabel sudah benar-benar memasukkan ritme lagu itu kepada dirinya. Hingga lagu itu terasa 'bernyawa'.

Rekaman selesai. Watt langsung berdiri dan bertepuk tangan ria. "Bravo! Bravo! Bel, penghayatanmu tadi begitu terasa! Kau hebat!" puji Watt kepada Isabel. Sementara yang lain hanya tersenyum melihat Isabel. Rekaman untuk demo sukses!

"Sekarang tinggal kita burn ke dalam CD dan kita kirim ke perusahaan yang mau menawari kita," ujar Kevin kepada mereka semua. Mereka mengangguk senang. 'Akhirnya, mimpiku terwujud,' batin Isabel senang. Ia tersenyum sendiri melihat kaset itu. Akaba meliriknya dan menyimpan senyum pada gadis itu.

"Semoga saja setelah kita kirim, kita dapat diterima oleh perusahaan itu," doa Felica mengakhiri jam session itu. Mereka lalu mengangguk semangat.

"Semoga saja," gumam Isabel pelan. Sementara Akaba meliriknya dengan mata merahnya tanpa mengucapkan sepatah kata. Tanpa sebuah kata.

Tinggal burn ke CD dan kirim ke perusahaan rekaman! Jika diterima, debut The Blood sebagai band indie akan dimulai!

To Be Continued

[1] Itu saya ambil di internet dari lagu yang berjudul Without Word milik Park Shin Hye (saya disclaimerin sekalian)

[2]Judul lagunya. Idem diatas.

Author's Note :

Hip, hip, hurray!

Yey, akhirnya saya bisa update fic ini juga ^^

Terimakasih buat yang sudah meripyu fic ini. Untuk chapter ini mungkin akan terasa unsur musiknya. Romancenya mungkin beberapa chapter lagi (kalo nggak chap 4, mungkin, tergantung dengan kemampuan otak saya yang membuat sih*plak!*), nggak lama kok^^

Yosh, kalau nggak tahu istilah – istilah di atas, silakan tanyakan saja kepada saya di review ^^ (meski saya juga masih amatiran sih *plak!-skali lagi-*)

Saran, kritik, anonymous dan flame (ada dan jelas alesannya) diterima!

Jaa, matta ne!