Saia !
Makasih buat undine-yaha sudah saya balas lewat PM.
Buat DarkAngelYouichi : Ini udah update. Gomen, telat. Makasih doanya. Tapi saya sakit lagi hari ini^^a, musim penyakitan.
Semoga saja di chapter ini sudah tiada typo dan kesalahan istilah lagi #ngarep#
Chapter ini akan sedikit bahasa musiknya, jadi saya harap anda tetap menikmati fic ini^^.
. . .
Isabel And The Red Guitar
Chapter 5 : Kencan
By : Hikari Kou Minami
Disclaimer : Eyeshield 21 by Yuusuke Murata & Riichiro Inagaki
Isabel Harvard dan OC lainnya milik saya seorang!
Rating : Teen
Genre : Romance, Tragedy
Warning : AU story, GaJe (so pasti!), abal, misstypo (maybe), time and place set yang membingungkan dan terkesan nggak mungkin, OOC (maybe), nggak ada hubungannya sama sekali dengan American Football, alur cerita yang aneh bin ajib, khayalan tingkat tinggi, dan hal – hal nista yang biasa dibuat oleh author newbie di setiap fandom.
And last, if you don't like this fic, don't read and review even flame at me!
Please, click on 'Back' button if you don't want to continue this fan fiction, I don't forbid you
Disclaimer Song : Still/As Ever (Before) by ANJELL
Message : I hope all of you like this
Don't like don't read
=XXX=
Lifestream Playpark, 08.00, December 31th, 2008
Ramai. Begitulah keadaan taman bermain itu. Menjelang akhir tahun, banyak pengunjung mendatangi tempat ini. Mulai dari anak-anak, remaja dan juga orang dewasa. Sepertinya mereka mau melewatkan malam pergantian tahun di tempat itu, berhubung taman bermain itu akan buka hingga larut malam khusus untuk momen setahun sekali itu.
Dari sudut gerbang taman bermain itu, terlihat seorang pemuda berambut merah sedang berdiri sambil melihat jam tangannya dan pintu gerbang taman bermain itu bergantian. Entah sudah keberapa kali ia melakukan hal itu di tempat yang sama. Sepertinya ia tengah menanti seseorang.
Hingga tibalah seorang gadis berambut merah gelap dengan balutan busana 'kurang cewek'. Jaket jeans biru, tank top merah, celana jeans dengan ikatan belt hitam plus sebuah sepatu boots merah. Oh, waw! Tak punyakah ia sepotong dress?
Lelaki tadi lalu menghela nafas sesaat. Lega, mungkin. Gadis itukah? Lelaki tadi kemudian berjalan ke arah gadis yang celingukan tidak jelas tadi, yang bisa dipastikan juga tengah mencari seseorang.
"Isabel!" panggil lelaki itu kemudian sambil tetap berjalan. Gadis tadi mendongak. Memutar kepalanya ke segala arah. Mencari sumber suara tadi, mungkin. Mungkin karena dipanggil, dengan namanya, mungkin. Gadis itu lalu menoleh ke arah pemuda tadi. Gadis itu kemudian menghela nafas juga. Lega, mungkin juga.
Lelaki itu lalu berdiri di depan gadis tadi. "Sudah berapa lama kau menunggu disini, Akaba?" tanya gadis itu, kita panggil saja dia Isabel.
"Sekitar 15 menitan." jawab lelaki itu, kita panggil juga dia Akaba saja.
"Terus, bagaimana kencannya? Kau sudah mendapatkan tiket masuk?" tanya Isabel kemudian.
"Tenang saja," lelaki itu berkata sambil meraih saku jaketnya. Dua buah kertas bertuliskan "Ticket" keluar dari sana. "Aku sudah membelinya," kata lelaki itu lagi.
"Oke, sekarang kita masuk!" kata gadis itu sambil berjalan ke arah pintu masuk taman bermain itu. Akaba hanya mengikuti gadis itu dari belakang.
=XXX=
"Kita kemana dulu nih?" tanya Isabel sesaat setelah mereka memasuki gerbang taman bermain itu. Akaba lalu melihat-lihat ke beberapa penjuru tempat. Sebuah wahana seru tertangkap oleh pupil merahnya.
"Bagaimana kalau ke wahana "Ghost Haunted" disana? Kayaknya seru!" usul Akaba kemudian sambil menunjuk ke arah sebuah bangunan dengan sebuah pintu masuk berbentuk tengkorak. Muka Isabel tiba-tiba sedikit memucat. Mata hitamnya sedikit membulat. Akaba yang menyadari perubahan mimik gadis itu, lalu bertanya, "Kenapa kau? Sakit? Atau kau..." Akaba tiba-tiba menyeringai kecil. "... takut ya?"
Sontak, Isabel menoleh ke lelaki itu yang tengah senyum-senyum nggak jelas. "Si..siapa yang takut?" bantahnya kemudian dengan suara yang dilantangkan. Wajah pucatnya menjadi sedikit kesal. "Buat apa takut? Toh, itu kan hanya hantu buatan!" tambahnya lagi.
"Baiklah, kita kesana! Aku nggak nanggung kalau nanti kau teriak-teriak ketakutan," kata Akaba sambil melangkah menuju wahana tersebut.
"Siapa juga yang mau teriak?" bentak Isabel sambil mengikuti langkah kaki Akaba perlahan. Meski berkata begitu, wajahnya tak begitu bisa menipu.
"Oh, ya? Kita buktikan saja nanti," kata Akaba lagi dengan sedikit nyengir. Isabel hanya bisa memandang lelaki itu kesal. Tapi raut wajah kesalnya tercampur dengan siratan kepucatan. Bisa dibilang, ia tak akan bisa berbohong lagi setelah memasuki wahana menakutkan itu.
Mereka pun memasuki pintu masuk wahana itu. Raut wajah Isabel makin pucat. Akaba yang mengetahuinya hanya menyimpan senyum kecil. Gadis itu memang berbohong.
"Hei, wajahmu itu sedari tadi pucat terus, kenapa? Takut?" ejek Akaba di sela pertanyaannya. Mereka kini sudah berada di dalam rumah hantu itu.
"Apa? Takut? Sudah kubilang aku tidak ta—KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"
Gadis itu dengan sangat cepat memeluk lengan kiri Akaba yang berada di sampingnya. Sangat erat. Akaba kontan terkejut. Ia lalu menoleh ke samping kanannya. Sesosok monster seperti Hulk yang –mungkin bagi Isabel– cukup menyeramkan, terlihat.
Akaba mengehela nafas sejenak. 'Ini toh penyebabnya,' pikirnya kemudian. "Sudahlah, Tuan Hulk, cepat menyingkir dari sini. Gadis ini sudah ketakutan. Kau mau aku mentackle-mu, mumpung aku dulunya adalah mantan pemain amefuto jadi aku bisa mentacklemu. Nah, kau pilih yang mana?" kata Akaba sambil tersenyum lebar. Tuan Hulk itu lalu segera menghindar. Sayang nyawa, mungkin.
Akaba lalu melihat Isabel yang tengah meringkuk di lengannya. Ia merasa belum pernah melihat wajah gadis ini saat seperti itu. Ia tersenyum geli melihatnya.
"Hei, bukankah kau bilang hantu disini hanya buatan? Kau bilang, kau tidak takut? Sampai kapan kau mau memeluk lenganku?" tanya Akaba kemudian.
"Berisik! Cepat kau usir tuh hantu!" teriak Isabel lagi.
"Fuh...dia sudah pergi,"
"Sungguh?"
"Hahaha! Ternyata kau memang takut. Kalau memang takut, lebih baik kau dari tadi jujur. Suara teriakanmu tadi hampir menyamai suara milik Watt, hehehe," kata Akaba sambil tertawa geli.
"Diam kau!" bentak Isabel kemudian. Wajahnya sudah sangat kesal.
"Fuu.. lalu," Akaba membenarkan letak kacamatanya. "Sampai kapan kau mau merangkul lenganku?"
Kontan wajah Isabel memerah bagai kepiting rebus. Ia segera melepaskan pelukannya. "Ma..maaf, aku kan tidak tahu kalau itu lenganmu. Disini kan gelap," ujarnya kemudian. Ia lalu memukul-mukul kepalanya kecil seperti sedang menyalahkan diri sendiri. 'Kenapa aku bisa memeluk lengannya sih? Bodoh! Isabel bodoh!' rutuk Isabel dalam hati.
"Fuh.. ya sudah, lebih baik cepat kita keluar dari tempat ini. Sebelum membuat ritmemu menjadi lebih bu—"
"KYAAAAAAAAA!"
Isabel berteriak untuk kedua kalinya dengan memeluk lengan Akaba-lagi-. Kini giliran vampire yang lebih jelek dari yang ada di film, muncul. Akaba menghela nafas panjang lagi. Ia lalu dengan pelan dan tenang berjalan melewati vampire itu. Pelan, agar Isabel bisa mengikuti langkah kakinya. Gadis itu tengah meringkuk takut di lengannya. Memeluk lengannya dengan sangat erat, seolah tak ingin dilepaskan.
'Aku tak menyangka, gadis galak ini ternyata penakut juga. Wajahnya saat ketakutan lucu juga,' batinnya kemudian sambil melirik ke arah wajah Isabel yang ketakutan. Meski gelap, ia sedikit tahu wajah Isabel saat itu.
Sejenak Akaba merasa ada yang sedikit tidak beres dengan jantungnya lagi. Ia merasa distorsi aneh mengusik jantungnya. Distorsi yang muncul di setiap ia berada di dekat gadis berambut merah darah itu. Ia merasa ada sesuatu pada dirinya, meski ia belum yakin apa itu. Distorsi yang membuatnya merasa sedikit canggung, bingung namun nyaman.
"Hei, Isabel, sampai kapan kau mau memeluk lenganku?" tanya Akaba yang merasa sedikit risih jika harus dipeluk-peluk lengannya.
"Sampai kita keluar dari tempat laknat ini!" teriaknya masih dengan mata tertutup.
"Ini sudah diluar, Isabel," kata Akaba lagi. "Buka matamu!"
Isabel lalu membuka kedua matanya. Secercah cahaya menusuk mata hitamnya. Ia lalu mengerjap-kerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan cahaya yang berada di sekitarnya kini. Bayangan lelaki berambut merah dengan kacamata biru terlihat di matanya. Ia lalu melihat ke sekelilingnya. Penjual balon, es krim, wahana roller coaster, komidi putar dan lainnya, beberapa anak bersama keluarganya.
"Kita...sudah keluar..?" tanya Isabel heran.
"Dari tadi. Sekarang, kumohon, lepaskan pelukanmu di lenganku!" pinta Akaba kemudian. Isabel yang tak menghiraukan ucapan Akaba, melihat ke arah wahana berjudul "Roller Coaster" yang berada beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Hei, Akaba! Kita kesana!" teriaknya sambil menarik lengan Akaba yang memang belum ia lepaskan.
"He-hei!" kata Akaba terkejut karena ditarik-tarik oleh gadis itu. Isabel tak peduli dengan itu. Baginya, roller coaster-lah tujuannya. Mereka pun sudah berada di barisan antrian wahana itu. Isabel melepaskan rangkulannya.
"Hei, kenapa kau tarik-tarik aku seperti tadi?" tanya Akaba kesal.
"Memangnya nggak boleh? Kali ini aku nggak akan takut! Tenang saja!" kata Isabel kemudian sambil tersenyum penuh kemenangan. Akaba mengernyitkan dahi. 'Tidak takut? Jangan-jangan dia...'
"YAAAA!"
Mungkin kini Akaba harus menyiapkan penutup telinga untuknya. Tentu saja, suara pekikan mirip Suzuna itu adalah pekikan histeria dari sang gadis vokalis THE BLOOD itu. Mata gadis itu tengah berbinar-binar senang dan bibirnya menyunggingkan senyum. Mungkin kali ini ia sangat menikmati permainan sport jantung itu.
Kali ini wajah lain lagi yang ditemukan oleh Akaba pada Isabel. Wajah kepuasan Isabel. Satu wajah lagi yang belum pernah dilihat olehnya. Ia tersenyum tipis melihat gadis itu. Ia lalu menikmati permainan itu, meski diiringi oleh suara-suara teriakan histeria nan gaje dari para penumpang lain.
"Fuu.. melodi histeria yang monoton," komentarnya saat sebelum mencapai garis finish permainan itu.
"Kau tak menikmatinya?" tanya Isabel dengan senyum di wajahnya. Senyum kepuasan.
"Kau menyukai roller coaster ini?" tanya Akaba kemudian.
"Sangat! Makasih sudah mengajakku kesini! Aku nggak nyesel!" kata Isabel dengan senyum lebar ke arah Akaba. Tiba-tiba, semburat merah terlukis di wajah lelaki itu. Akaba lalu segera memalingkan mukanya.
"Hei, kau kenapa? Ayo turun!" ucap Isabel sambil membuka pengaman duduknya.
"Ah..emm..i..iya.." jawab lelaki itu gagap sambil juga membuka pengaman duduknya juga. Mereka pun turun dari roller coaster itu.
"Hei! Ada penjual es krim! Kita kesana yuk! Aku mau es krim!" kata Isabel dengan nada sepolos-polosnya sesaat setelah melihat seorang penjual es krim yang berada beberapa meter dari wahana tadi. Akaba memandang gadis itu kaget.
Gadis itu kini seperti anak kecil di hadapannya. Padahal ia pikir gadis itu sangat anggun. 'Fuh, memang gadis berumur 15 tahun,' batin Akaba kemudian sambil menggelengkan kepalanya. Mereka lalu membeli 2 buah es krim.
"Hei, ayo kesana! Kau itu kenapa sih? Jangan-jangan kau...takut naik roller coaster tadi ya?" kata Isabel sambil menyeringai kecil dan menjilati es krim.
"Tidak. Hanya kaget dengan perubahan ritme-mu sejak dari Ghost Haunted ke Roller Coaster," jawab lelaki itu dengan tenang.
"Hei, sejak bertemu, aku bingung, kenapa kau selalu mengatakan ritme-ritme. Sebenarnya, menurutmu, ritme itu apa? Aku bingung," tanya Isabel dengan ekspresi muka bertanya-tanya.
"Oh, itu. Fuu.. ritme disini adalah keadaan hati dan kepribadian seseorang." jawab Akaba dengan senyum tipis.
"Keadaan hati?" gumam Isabel mengernyit, semakin bingung.
"Misalnya saja dirimu tadi. Saat kita masuk ke Ghost Haunted tadi, kau pucat pasi ketakutan. Aku tahu, saat itu pasti ritmemu sedang buruk. Ada sedikit not melenceng dalam melodi perasaanmu saat itu. Tapi, setelah kau menaiki Roller Coaster, ritmemu membaik. Tak ada satupun not ataupun tanda nada lain yang melenceng. Semua terletak sesuai dengan ritme kepribadianmu," jelas Akaba panjang lebar.
"Kalau masalah ritme kepribadian?" tanya Isabel lagi, yang mungkin sudah mulai mengikuti alur pikiran sang gitaris itu.
"Itu adalah partitur beberapa not yang membentuk melodi jiwamu. Membentuk kepribadianmu. Singkatnya, itu adalah karaktermu yang sebenarnya." terang Akaba lagi.
"Wow, sepertinya kau cocok jadi Psikolog deh," sindir Isabel kemudian.
"Jika saja seluruh pasienku tahu tentang melodi dan not," balas Akaba kalem.
"Hei, aku jadi tertarik dengan ritme-ritme itu. Boleh ku tahu nanti cara melihat ritme seseorang?" tanya Isabel dengan sedikit antusias.
"Kau tinggal amati orang tersebut dan perhatikan apa yang ia rasakan dan karakter aslinya terus..."
Mereka lalu tenggelam dalam pembicaraan tentang ritme-ritme melodi jiwa itu. Meski bukan psikolog, sepertinya Akaba memang punya bakat untuk itu. Dan mungkin, pasiennya adalah para arranger dan komposer, karena hanya mereka yang cukup mengerti apa yang tengah lelaki itu katakan nantinya.
=XXX=
Lifestream Playpark, 16.00, December 31th, 2008
Hari semakin menjelang sore. Jam-jam terhitung mundur, menunggu pergantian tahun untuk delapan jam ke depan. Sang surya sudah semakin condong di ufuk barat, menampilkan semburat-semburat berwarna merah dan orange yang cukup mendominasi langit di ufuk barat. Namun, taman bermain ini justru semakin ramai akan orang.
Kedua personil THE BLOOD itu juga sudah menikmati delapan jam terakhir di dalam taman bermain itu dengan menaiki berbagai macam wahana di sana dan mungkin sekilas mengobrol. Kini setidaknya, ada satu wahana yang belum mereka coba. Ferrish Wheel. Wahana yang –katanya– cukup romantis. Benarkah? Jangan tanyakan saya!
Mereka lalu menaiki salah satu gondola kincir angin itu. Mungkin, ini adalah hidangan terakhir untuk kencan mereka. Desertkah? Mungkin, kita lihat saja.
"Waaah... indahnya pemandangan dari sini..." gumam Isabel dari balik jendela gondola. Ia kini tengah melihat-lihat pemandangan di bawah sementara sang gondola semakin naik menuju puncak dengan perlahan. Akaba hanya duduk sambil memandang gadis itu. "Iya kan, Hayato?" tanya gadis itu lagi tanpa melepaskan pandangan ke luar jendela.
" 'Hayato'..?" kata Akaba tertegun mendengar kata itu. Gadis itu lalu menoleh. Ia lalu memiringkan kepalanya. Kerutan kecil terbentuk di dahinya.
"Iya. Hayato. Bukankah, kau bilang, kalau kita sudah akrab, aku boleh memanggilmu dengan 'Hayato', bukan?" kata Isabel berusaha membangkitkan nyawa ingatan Akaba yang mungkin sedikit nyungsep entah di bagian otaknya yang mana.
Lelaki itu lalu berusaha mengingat lagi. Ia berusaha menarik kembali ingatan yang nyungsep itu agar keluar dari pe-nyungsepan-nya. *bahasa apaan nih?*
Ia pun ingat kembali saat ia pertama berbicara dengan gadis berambut merah itu. Pertemuan yang membicarakan tentang obsesi tentang gitar. Pertemuan yang mendekatkan mereka, eh? Saya salahkah?
"Oh, yang waktu itu ya. Sorry, aku lupa," kata Akaba sambil menepuk dahinya. Ingatannya udah nggak nyungsep.
"Kau itu, baru beberapa bulan saja sudah lupa, ingatanmu payah, Hayato!" ejek Isabel sambil melipat tangan di dada.
"Makasih ya, buat hari ini, Hayato!" ucap gadis itu sambil tersenyum manis. Sangat manis, untuk Akaba. "Hari ini aku sangat senang! Kecuali untuk Ghost Haunted-nya, jangan ajak aku kesana lagi," katanya sedikit merinding.
"Fuu.. baiklah. Tak apa. Lain kali aku justru ingin mengajakmu ke suatu tempat yang jauh dari sini." kata Akaba sambil memandang tepat ke bola mata Isabel.
"Hah? Kemana? Washington? Kanada?" tanya Isabel dengan sangat antusias. Akaba menggelengkan kepalanya. Salahkah?
"Yang lebih jauh. Tempat asalku. Tempat lahirku." jelas Akaba lagi.
"Jepang?" tanya Isabel meyakinkan.
"Tepatnya di Budokan. Tempat yang paling sangat diidamkan oleh para penyanyi di Jepang. Mereka berharap, mereka bisa menggelar konser disana." jelas Akaba lagi.
"Waw, sehebat itukah?" tanya Isabel lagi. Akaba mengangguk perlahan.
"Jadi ingin konser disana deh," ujar Isabel dengan mata berbinar-binar. Sepertinya ia ingin sekali kesana.
"Tentu kita akan konser disana! Dengan ribuan fans yang akan datang menonton kita!" ucap Akaba dengan semangat. "Itu mimpiku!"
"Baiklah, aku juga jadi ingin kesana. Kemana tadi...Budokan? Iya, kita pasti akan ke Budokan!" pekik Isabel senang. Akaba tersenyum geli melihatnya. Sungguh nyaman melihat gadis itu tertawa senang.
DRAAK!
"Eh?" gumam Isabel heran dengan sedikit goncangan yang mengguncangnya tadi.
"Kami mohon maaf kepada seluruh penumpang Ferrish Wheel. Terjadi kesalahan teknis pada sistem pengendalian Ferrish Wheel. Kepada seluruh penumpang, tidak usah panik. Teknisi kami akan segera memperbaikinya untuk beberapa menit ke depan. Terima kasih."
Suara operator pengendali wahana itu terdengar di setiap speaker di setiap gondola. Ada yang khawatir, sedikit panik tapi ada pula yang berusaha tenang. Isabel sedikit was-was, berhubung mereka berada di tingkat kedua tertinggi, hampir mau turun.
"Aduh, gimana nih, kalau nggak bisa turun?" gumam Isabel khawatir. Wajahnya menampilkan ketakutan level sedang.
"Tenang saja. Kau cukup duduk saja disitu. Teknisi taman bermain ini cukup ahli." kata Akaba menenangkan.
"Bisa saja mereka gagal kan?" kata Isabel pesimis.
"Tak akan." kata Akaba dengan nada mutlak. Mereka pun terdiam. Diam sambil menunggu sang teknisi memperbaiki beberapa komponen mesin kincir angin itu yang mungkin nyasar di suatu tempat.
'Mungkin ini saatnya,' batin Akaba kemudian.
"Isabel.." panggil Akaba pelan. Cukup pelan dari luar, tapi masih sanggup gadis itu dengar.
"Ada apa, Hayato?" tanya Isabel balik. Sesaat Akaba mau melanjutkan perkataannya, sepertinya ada yang menyumbat tenggorokkannya. Kata-kata itu seperti tertahan disana. Tercekat, mungkin.
"Sebenarnya sejak dari beberapa bulan yang lalu, aku selalu berpikir seperti ini.." Akaba memotong perkataannya. Membuat Isabel penasaran.
"Berpikir apa?" tanya gadis itu kemudian.
"Aku merasakan ada sebuah distorsi aneh di jantungku setiap aku berada di dekat dengan seorang gadis, tapi tak tahu apa arti distorsi itu dan mau menepisnya," jelasnya lagi.
"Hei, mungkin kau sedang jatuh cinta!" pekik Isabel riang.
"Cinta?" gumam Akaba bingung. Itukah nama distorsi yang selalu mengguncang jantungnya itu?
"Iya! Kau sedang mencintai gadis itu dan berusaha untuk membuang perasaan itu alias menepisnya, kan?" tebak Isabel kemudian. Akaba mungkin sedikit tertohok mendengar tebakan Isabel yang mungkin benar.
Aku tak berpikir itu cinta
Aku katakan pada diriku itu bukanlah cinta
Aku menipu diriku, tapi hatiku tetap memanggil namamu
"Iya. Sepertinya gadis itu selalu saja kutepis dari pikiranku. Tapi, karena sering bertemu, gadis itu jadi selalu membayangi pikiranku," kata lelaki itu lagi.
Aku ambil satu langkah ke arahmu
Menepismu satu langkah
Setiap waktu, kau tumbuh di hatiku
"Ya sudah. Lebih baik jujur pada perasaanmu dan nyatakan saja, Hayato!" pekik Isabel riang.
"Tapi aku takut. Apa dia mau menerimaku atau tidak, karena awalnya ia sangat membenciku," kata Akaba lagi. "Aku mungkin sudah sangat mencintainya sekarang,"
Aku harus sangat mencintaimu
Harus sangat menunggumu
Walaupun sangat terluka
Sepertinya hatiku tak dapat membiarkanmu pergi
"Haah, kalau kau memang mencintainya, katakan saja! Untuk apa takut! Kau kan tulus, aku yakin dia mau menerimamu Hayato!" kata Isabel dengan nada sangat yakin.
"Sungguh dia mau?" tanya Akaba kemudian.
"Iya, aku sangat yakin itu, Hayatooo," kata Isabel lagi.
"Sungguh kau yakin mau menerimaku?"
"Tenang. Aku pasti akan men— eh?" Isabel terkejut dengan ucapan Akaba tadi. "Me..menerima? Maksudmu, gadis itu..."
Aku pikir harus ada satu cinta
Aku tak berpikir hatiku akan berubah cinta yang telah kujaga untukmu
Sekarang dapat kukatakan padamu
"Iya. Gadis itu kau, Isabel." kata Akaba sambil tersenyum lembut.
Wajah Isabel memerah sesaat. Ia masih bingung sepertinya. "Kau, aku bercanda kan? Nggak mung—"
"Itu benar Isabel. Aku mencintaimu." kata Akaba kemudian sambil berdiri. 'Akhirnya kata itu keluar juga,' pikir Akaba lega.
Aku mencintaimu
Isabel masih terbengong di tempat duduknya. Ia sedikit bingung. "Tu..tunggu, bisa kau jelaskan? Maksudmu kalau gadis yang kau cintai itu adalah aku dan—"
"Intinya, setiap aku bersamamu, aku selalu merasakan deg-degan kecil di jantungku. Aku pikir itu memanglah cinta, tapi kutepis habis-habisan, selain tak yakin jika kau akan menerimaku karena kau membenci diriku yang telah merebut posisi gitaris itu," Akaba mencoba menjelaskan. Isabel mencoba mengerti sedikit.
"Terus, akhirnya aku sadar, aku memang sangat mencintaimu, Isabel," kata Akaba lagi sambil tersenyum lembut. "Jadi, kau tadi bilang "gadis itu" akan menerimanya, jadi gimana?" kata Akaba dengan tampang kalem meski hati harap-harap cemas dan was-was setengah hidup.
Isabel lalu termenung sesaat. Memang sih, lelaki ini sangat menyebalkan baginya. Tapi, kebersamaan beberapa hari itu, juga membuat perasaan nyaman bersarang di hatinya saat ia bersama lelaki itu.
Isabel pun mendongakkan kepalanya dan ikut berdiri. Menghadap lelaki yang kini dalam kondisi was-was level tinggi.
"Maaf, Hayato, aku tidak bisa..." kata gadis itu dengan tampang meminta maaf. Akaba menatapnya tak percaya. Perasaan ini ditolak? Perkiraannya tepat, eh?
"Aku memang tidak bisa menerima perasaanmu itu kepadaku karena aku juga mempunyainya," lanjut Isabel lagi sambil tersenyum.
"Kau mempunyainya? Tunggu, jadi.." wajah Akaba bersemangat mendengar itu.
"Aku akan menerimanya jika kau menerima punyaku juga," kata Isabel lagi sambil tersenyum. Wajah lelaki itu kini bersinar cerah. Perasaan was-was level 4-nya sepertinya sudah menghilang. Digantikan dengan perasaan senang yang membuncah di benaknya.
DRAAAK!
"Haya—"
GREB!
Akaba segera meraih bahu gadis itu agar keseimbangan gadis itu tetap terjaga. Terang saja, mereka kan sedang berdiri. Wajah kedua orang itu cukup dekat dan membuat wajah mereka sedikit memerah.
"Kami minta maaf atas keterlambatan perbaikan ahli teknisi kami. Sekarang, Ferrish Wheel dapat berfungsi seperti sedia kala. Silakan menikmati kembali."
Suara sang operator kembali menggema. Kincir angin itupun kembali berputar perlahan untuk membawa penumpang naik ataupun turun.
Kembali ke kedua orang tadi. Kini mereka masih berpegangan. Hingga mereka pun lalu duduk kembali dengan muka memerah seperti senja yang kini menaungi mereka.
"Jadi...kita resmi pacaran nih..?" tanya Isabel takut-takut-malu.
"Ya. Kita juga harus memberitahukan mereka masalah ini." kata Akaba tenang meski agak malu.
"Mereka?" tanya Isabel bingung.
"Watt, Felica dan Kevin. Kita akan mengatakannya nanti," jawab Akaba lagi.
"Semoga mereka nggak kaget-kaget amat," harap Isabel.
"Setelah ini, kita pulang. Aku akan mengantarmu," kata Akaba saat gondola milik mereka hampir berada di bawah.
"Terima kasih, Hayato,"
=XXX=
At Rooftop of Isabel's House, 21.00, December 31th 2008.
Beberapa makanan tersedia di sebuah atap gedung tua tak lupa dengan minumannya. Terlihat dua orang gadis tengah menata makanannya, sementara tiga lelaki lain mengusung beberapa peralatan musik, seperti drum, bass, keyboard dan gitar.
"Yak, semuanya sudah beres!" kata Watt senang. "Pesta perayaan tahun baru yang bagus!"
"Yeeei!" pekik Felica dan Isabel senang. Sementara Kevin dan Akaba hanya tersenyum kalem.
"Agendanya gimana?" tanya Akaba kemudian.
"Nanti kita makan-makan disini sambil nyanyiin lagu kita secara akustik. Terus pas detik-detik menjelang tahun baru, kita nyalain kembang apinya!" kata Felica dengan sangat riang.
"Baiklah. Sebelumnya, ada yang ingin kukatakan," kata Akaba sambil membenarkan kacamatanya.
"Katakan saja!" kata Watt kemudian.
"Sebenarnya aku..." kata lelaki itu sambil berjalan ke arah Isabel. Gadis itu menatapnya ragu.
"Aku dan Isabel resmi pacaran." lanjutnya sambil merangkul bahu Isabel. Isabel sedikit kaget dengan aksi Akaba itu.
"APA?" pekik Watt dan Felica bebarengan, sementara Kevin hanya menoleh ke arah kedua orang itu. "Kalian...pacaran..?" tanya mereka heran.
"Begitulah," kata lelaki itu lagi sambil nyengir. Sementara Isabel hanya diam membisu.
"Cieh! Bel, ternyata kau suka sama dia toh!" goda Watt.
"Diam kau Watt!" bentak Isabel.
"Oke. Jadi, pesta kali ini sebagai perayaan tahun baru dan hari jadinya Akaba sama Isabel!" kata Felica kemudian.
"Yey! Mari kita rayakan!" ucap Watt sambil mengambil sebuah kembang api.
"Ampun dah, dia.." gumam Isabel sedikit sweatdrop.
"Biarkan saja," ujar Akaba pelan. Isabel menoleh ke arahnya dan tersenyum.
Mereka pun lalu menikmati pesta mereka. Makan dan memainkan lagu mereka. Lagu mereka yang telah sukses di pasar musik Amerika. Dengan iringan melodi-melodi yang menghitung menit tiap menit menuju pergantian tahun. Terlarut dalam euforia tersendiri dalam dunia mereka.
"Lima.."
"Empat.."
"Tiga.."
"Dua.."
"Satu!"
Psssiuuuuuuu... DUAAAAR!
"HAPPY NEW YEAR 2009!"
Kembang api berwarna-warni pun mulai mewarnai langit malam Los Angeles kala itu dan juga langit seluruh dunia. Menyaksikan kejadian setahun sekali itu dengan penuh suka cita dan harapan akan dapat memulai tahun baru itu dengan lebih baik. Memulai tahun itu dengan lembaran baru yang lebih baik.
Begitu juga THE BLOOD. Mereka berharap akan dapat terus berkarya dan sukses. Dan bisa konser di luar negeri. Seperti apa yang diimpikan oleh Isabel dan Hayato, yang memimpikan bisa konser di Budokan. Tapi, apakah mereka sadar, bahwa semakin suksesnya mereka, maka akan semakin banyak orang yang akan berusaha menghancurkan mereka karena rasa ketidak sukaan dan kecemburuan terhadap mereka.
To Be Continued
Yeeeeeeeeeeei! Update chapie 5!
Fyuuh, karena writer's block yang sering menghadang saya beserta tugas dari sekolah, saya jadi telat update nih fic T_T. Gomen, minna-san. Ini bukan kemauan saya!
Entah kenapa pas buat fic ini, saya jadi bingung sendiri. Fic ini sudah cukup romance nggak? Habis saya nggak cukup jago buat bikin fic dengan tingkat romance tinggi.
Buat misstype disini, please, salahkan kakak saya yang ngeganggu saya pas saya mau ngetik fic ini! Sumpah, nyebelin! *curcol*
Okey, ketimbang banyak curcol lebih baik anda REVIEW!
