Ciaossu! Saya datang mempersembahkan chapter 6 yang ditunggu-tunggu #siapajugayangnungguin
Gomen, kalau saya telat update fic ini sebulan. Gomeeeeeeen m(_ _)m. Writer's block melanda otak saya saat saya mau mengerjakan chapter ini. Penyakit yang benar-benar sialan!
Buat Just Teen Reader -.- Hamazaki sudah saya balas lewat PM.
Dan buat :
DarkAngelYouichi : Haha. Saya juga mau jadi Isabeeeeeel~ #plak. Bagus? Makasih! Saya sempat ragu dengan chapter 5 itu. Ini dia update-nya!
i DON'T know : Hallo! Err, maybe I'll translate it into English if I have finish this fanfic. But, I still doubt with my English grammatical. Yeah, my English grammatical is bad. I hope I can translate it well. Thank for your review!
Semoga saja di chapter ini sudah tiada typo dan kesalahan istilah lagi #ngarep
Alur kecepatan jangan salahkan saya, salahkan otak saya #duar
.
.
.
. . .
Isabel And The Red Guitar
Chapter 6 : Teror
By : Hikari Kou Minami
Disclaimer : Eyeshield 21 by Yuusuke Murata & Riichiro Inagaki
Isabel Harvard dan OC lainnya milik saya seorang!
Rating : Teen
Genre : Romance, Tragedy
Warning : AU story, GaJe (so pasti!), abal, misstypo (maybe), time and place set yang membingungkan dan terkesan nggak mungkin, OOC (maybe), nggak ada hubungannya sama sekali dengan American Football, alur cerita yang aneh bin ajib, khayalan tingkat tinggi, OC bertebaran dimana-mana dan hal – hal nista yang biasa dibuat oleh author newbie di setiap fandom.
And last, if you don't like this fic, don't read and review even flame at me!
Please, click on 'Back' button if you don't want to continue this fan fiction, I don't forbid you
Message : I hope all of you like this
Don't like don't read
.
—Isabel And The Red Guitar © Hikari Kou Minami—
.
Kecemburuan dan ketidaksukaan. Kedua perasaan itu sering muncul di tiap hati manusia. Perasaan itu muncul, menumpuk hingga akhirnya membuncah keluar. Keluar dan tak terkendalikan. Dan justru berbalik mengendalikan hati para manusia. Mengendalikan hati dan membutakan segalanya.
—Isabel And The Red Guitar © Hikari Kou Minami—
Two years later...
New York, February, 14th 2010
Beberapa ribu orang terlihat mengelilingi sebuah area panggung yang terlihat mewah di depan. Panggung yang mewah dengan tatanan lampu yang apik dan meriah serta berkelap-kelip, dekorasi ruangan yang menarik dan terlihat sangat romantis karena dihiasi oleh warna pink.
Di atas panggung, terlihat beberapa pemuda yang sedang memainkan lagu yang sedikit mellow dan slow pop namun masih dapat dirasakan nuansa meriahnya. Seorang pemuda tengah menyanyikan beberapa bait lirik lagu dengan penuh penghayatan, sementara yang lain mengiringinya dengan nada yang lembut. Penonton yang mendengarnya pun mulai terlarut dan terhanyut dalam lagu itu.
Band itu mengakhiri pertunjukkannya dengan petikan lembut sang gitaris. Riuh penonton mulai menggema dari seantero panggung.
"Terima kasih semuanya!" ucap sang pemuda vokalis tadi sambil tersenyum lebar. Band itupun lalu mengundurkan diri dari panggung dan mulai berjalan menuju backstage.
"Baiklah Selanjutnya, yang kita tunggu-tunggu! Kita sambut mereka, THE BLOOD!" suara sang MC terdengar dari setiap sound di panggung itu, dilanjutkan dengan riuh teriakan dan tepuk tangan para penonton yang lebih meriah dari band sebelumnya.
.
.
.
"Cih! Band itu lagi!" decak salah seorang pemuda dari ruang wardrobe. Ia kini tengah duduk di salah satu sofa di ruangan itu. Pandangannya terlihat kesal. Sangat-sangat kesal.
"Kenapa sih, selalu band itu!" timpal pemuda berambut kuning di sampingnya, sama kesalnya. "Menyebalkan!" tambahnya.
"Yah. Band yang baru saja naik daun selama dua tahun terakhir ini itu membuatku muak! Ingin sekali aku membuat band itu jatuh!" timpal pemuda berambut merah di sudut ruangan sambil melempar sebuah botol kosong tepat di tempat sampah.
"Bagaimana kalau kita beri pelajaran saja?" tiba-tiba seorang pemuda berambut hitam berbicara, membuat kerongkongan tiap orang disana sedikit tercekat.
"Beri pelajaran? Apa maksudmu, Lex?" tanya pemuda berambut merah tadi. Alex—Lex yang tadi hanya tersenyum misterius.
"Tunggu! Kalau kau mau menghajar mereka, sebaiknya urungkan saja niatmu itu! Hal itu bisa jadi skandal yang merugikan kita!" bentak yang berambut kuning. Alex tetap tersenyum tenang.
"Bukan hal kekanak-kanakan seperti itu! Aku nggak sudi memakai cara yang mengotori tangan bersihku ini dan beresiko tinggi seperti itu!" terang Alex kemudian.
"Lalu bagaimana, Lex?" tanya pemuda yang pertama mengatakan sebal tadi.
"Teror." jawab Alex tenang dan singkat sambil menyunggingkan senyum licik.
"Teror?" kata ketiga pemuda disana, keheranan. "Maksudnya?" tanya mereka bebarengan. Alex menghela nafas penjang.
"Oke. Begini, Reno, Allen, Anthony, merunduk!" lelaki itu meyuruh ketiga pemuda itu untuk merunduk seperti sedang huddle. Mereka pun merunduk.
Mereka tetap di posisi seperti itu selama beberapa menit. Setelah beberapa menit kemudian, mereka akhirnya menegakkan badan mereka kembali. "Gimana?" tanya Alex kemudian sambil tersenyum sinis.
"Idemu gila sih, Lex, tapi…." ucapan Reno tersendat.
"…patut dicoba.." sambung Allen kemudian. Sementara Anthony hanya terdiam sambil sedikit menyunggingkan senyum. Mereka lalu tersenyum bersama. Senyum misterius dan—licik, pastinya.
"Jadi, kapan kita memulainya, Lex?" tanya Reno kemudian.
"Besok, bagaimana?" kata Alex kemudian. Ketiga orang yang lain lalu saling menatap. Dan sejenak kemudian mereka mengangguk cepat. Sang pencetus ide pun melebarkan seringaiannya.
—Isabel And The Red Guitar © Hikari Kou Minami—
New York, Agency Office, February 15th, 2010
"Konser kemarin sukses besar! Kita berhasil!" kata Watt senang. Mereka kini tengah berjalan di dalam kantor agensi mereka setelah tadi mereka keluar dari ruangan sang direktur untuk—yah—sekedar menerima penyampaian pujian dari sang direktur.
"Kita tidak boleh sombong dulu," celetuk Kevin kemudian.
"Tidak apa-apa kan," tukas Watt sambil memasang ekspresi cemburut.
"Yang penting, konser selanjutnya juga harus sesukses kemarin," kata Isabel kemudian.
"Bagaimana kalau kita rayakan kesuksesan ini?" tawar Felica kemudian.
"Fuu.. sepertinya ide yang bagus," jawab Akaba kemudian.
"Oke! Kita rayakan dimana?" seru Watt kemudian.
"Bagaimana kalau di rumah Isabel saja?" usul Felica dengan mengacungkan jari telunjuknya. Semua mata tertoleh padanya.
"Ide bagus! Gimana Isabel?" tanya Akaba kemudian sambil memandang ke arah uhukkekasihnyauhuk itu. Isabel memandangnya sejenak. Alisnya bertaut, seperti tidak setuju.
"Ke-Kenapa harus di rumahku?" tanyanya dengan nada yang naik satu oktaf dan melipat kedua tangannya. Mimiknya menampilkan ketidak setujuan.
"Oh, ayolah, Isabel-chan, ijinkan kita pesta hari ini saja. Ya, ya, ya?" pinta Akaba dengan pengakhiran yang mirip dengan sebuah judul lagu itu sambil mengatupkan kedua tangannya—memohon. Isabel pun memutar bola matanya. Ia pun menghela nafas panjang dan membuka mulutnya.
"Baiklah…" katanya pasrah. Akaba pun tersenyum girang yang mungkin terlihat out of character.
"Makasih, Isabel-chan," kata Akaba sambil mengacak rambut merah Isabel. Isabel hanya tersenyum kecut dengan sedikit semburat merah di pipinya.
"Asal jangan sampai kalian mengacak-acak rumahku saja," katanya kemudian. Keempat orang itu tertegun sesaat hingga ledak tawa menggema di antara mereka. Yah, mereka tertawa bersama. Tawa yang sangat menyenangkan dan membahagiakan bagi mereka. Namun, menyebalkan bagi beberapa orang yang menaruh cemburu pada mereka.
—Isabel And The Red Guitar © Hikari Kou Minami—
Kelima personil THE BLOOD sedang berada di kantor agensi mereka, sedang bersiap-siap. Saat sedang keluar dari pintu ruangan mereka, terlihat seorang lelaki dengan sebuah topi seorang jasa pengantar tengah berdiri dengan membawa—sebuket bunga mawar kuning yang dipadu dengan…. mawar hitam…?
"Permisi, Tuan dan Nona," salam lelaki paruh baya itu. Semua alis kelima orang di dalam ruang itu bertautan, heran.
"Ah, ya, ada apa Tuan?" tanya Felica balik.
"Ini. Ada kiriman paket bunga untuk… band The Blood…" lelaki itu membaca sebuah surat yang diselipkan pada buket bunga itu. "…ruangannya disini bukan?" tanya lelaki itu meyakinkan.
"I..iya. The Blood itu kami sendiri," kata Felica kemudian. Lelaki itu tersenyum lembut.
"Syukurlah saya tidak salah tempat. Baiklah, ini dia bunganya dan tolong tanda tangani surat sebagai bukti sudah diterimanya bunga ini," kata lelaki itu sambil menyerahkan paket bunga itu dan surat bukti beserta pulpen. Felica segera menerima bunga itu, sementara Watt dengan cepat menandatangani surat bukti itu.
Sementara ia menandatangani, ia bertanya pada sang pengantar. "Tuan, apa tuan tahu siapa yang mengirimkan paket bunga itu?" tanya Watt. Sang lelaki menggeleng pelan.
"Saya tidak begitu tahu siapa pengirimnya. Hanya saja tadi terlihat seorang pemuda dengan menggunakan topi hitam sambil menunjuk bunga mawar kuning dan hitam itu kemudian dia membayar bunga-bunga itu," jelas lelaki itu sambil memegang dagunya. "Tidak jelas seperti apa wajahnya, yang saya ketahui pasti dialah yang mengirimnya untuk Tuan dan teman-teman Tuan karena setelah lelaki itu pergi, saya disuruh untuk mengantar bunga itu kepada anda semua." tambah sang pengantar.
Watt hanya mengangguk-angguk saja. "Ini dia, Tuan. Terima kasih telah mengirimkannya," kata Watt kemudian sambil tersenyum. Sang lelaki menerima kertas itu dan pamit.
"Oh iya!" lelaki itu menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah ruangan tadi. "Tuan dan teman-teman Tuan harus hati-hati," kata lelaki itu kemudian.
"Kenapa?" tanya Isabel yang sudah keluar. Sementara yang lain hanya menautkan alis kembali. Mereka sudah bersiap pergi.
"Menurut beberapa orang, mawar kuning itu perlambang kecemburuan, bisa saja ada yang cemburu terhadap band Tuan dan Nona sekalian serta…" mendadak perkataan lelaki itu tersendat. Kelima remaja itu berdiri menunggu jawaban dari mulut lelaki itu.
"…mawar hitam itu biasanya perlambang kematian dan balas dendam.." lanjut lelaki itu. Mendadak kelima orang itu merinding. Perasaan tidak enak sejenak menjalari mereka. Keringat dingin sejenak mengalir di punggung mereka. "Jadi, Tuan dan Nona hati-hati. Itu pesan saya. Saya pamit dulu." kata lelaki itu masih dengan senyum. Ia pun melangkah pergi menjauh dari kelima orang yang masih mematung karena perkataan sang kurir bunga itu.
"I..ini…" kata Felica tertahan.
"…apa maksudnya..?" lanjut Isabel kemudian. Mereka semua saling berpandangan bingung.
"Kecemburuan… balas dendam… dan…kematian…" gumam Akaba sejenak. "Simfoni yang mengerikan," katanya lagi.
"Sepertinya ada yang tidak suka dengan kita," komentar Kevin kemudian. Mereka masih diam sambil memandang bunga-bunga mawar berwarna kuning dan hitam yang berada di pelukan Felica.
"Mu-mungkin ini hanya keisengan saja, teman-teman!" kata Watt sambil tertawa garing, ingin mengubah suasana.
"I-Iya ya, mungkin saja. Lebih baik kita segera pergi ke rumahnya Isabel saja daripada mikirin ini!" ucap Felica sambil tersenyum, mungkin mood-nya sudah berubah ceria.
"Oke! Lebih baik, bunga mawar ini kita jadikan hiasan saja!" kata Watt kemudian. Sementara, Kevin dan Isabel masih diam dan terlihat berpikir. Akaba melihat ke arah Isabel. Ia pun lalu segera merangkul bahu Isabel untuk membuat gadis itu tersadar.
"Eh? Hayato…" gumam Isabel yang terkejut dengan apa yang dilakukan Akaba.
"Ayo!" kata lelaki itu sambil memandang ke depan. Isabel hanya mengangguk saja dan ikut berjalan. Meski begitu, pikiran gadis berambut merah ini sedang melayang tentang simbolisasi bunga mawar kuning dan hitam itu. Sejenak, perasaan buruk sedikit menghinggapi dirinya.
'Sepertinya akan terjadi sesuatu,' pikir gadis itu kemudian. Isabel kini merasa sebuah firasat buruk. Firasat yang sungguh-sungguh buruk. Meski ia lebih memilih untuk diam saja sekarang. 'Ini masih berupa firasat saja,' batinnya kemudian.
'Semoga tidak terjadi sesuatu.'
—Isabel And The Red Guitar © Hikari Kou Minami—
Los Angeles, in Isabel's House
Sesampainya di rumah, Isabel masih memikirkan bunga mawar itu, meski keempat temannya sedang berpesta dan melupakan masalah paket bunga misterius itu. Ia kini duduk di kursi dekat jendela. Melamun, itu yang terlukis saat melihat wajahnya. Wajahnya sedikit cemas berkat firasat buruknya tadi. Akaba yang melihatnya, segera menghampiri gadis itu.
"Hei!" seru Akaba mengagetkan lamunan Isabel.
"Aah! Hayato, kau mengagetkanku!" ucap gadis berambut merah itu kesal. Ia lalu membuang muka kembali. Akaba hanya tersenyum dan ikut duduk di samping gadis itu.
"Masih memikirkan bunga itu?" tanya Akaba sambil meminum minumannya.
"Ya. Dan perasaanku tidak enak karenanya," jawab Isabel dengan wajah menerawang jauh. Mata onyx gadis itu terlihat khawatir, meski mungkin gadis itu juga tak tahu apa yang ia khawatirkan. Akaba melihatnya sejenak hingga kemudian membenarkan letak kacamatanya.
"Fuu… sudahlah, itu mungkin hanya keisengan belaka. Meski kuakui, ritme mereka tidak buruk juga karena telah mengirimi kita bunga," kata Akaba kemudian. Dengan cepat Isabel menoleh ke arahnya.
"Tapi, perasaanku tidak enak, Hayato!" bentak Isabel kemudian sambil bangkit dari duduknya. Mimiknya menjadi sangat cemas, takut dan sedih. Mata onyxnya memancarkan kekhawatiran yang sangat. Ia lalu terduduk kembali. "Meski aku juga tak tahu kenapa begini, hanya saja aku merasa aka nada hal buruk yang terjadi nanti," katanya lagi dengan nada sendu.
Akaba menghela nafas sejenak. Dia juga mendapat perasaan tidak enak saat melihat bunga itu. Melihat warna yang tidak begitu cocok itupun membuatnya sempat berpikir kalau ritme si pemberi bunga itu cukup buruk dan tidak mempunyai bakat mengkomposisi yang bagus.
"Fuu… tidak akan terjadi apa-apa, Isabel," kata lelaki berambut merah itu sambil membenarkan letak kacamatanya. Gadis berambut merah di sampingnya menoleh ke arahnya—heran.
"Kau yakin?" tanya si gadis meyakinkan.
"Ritmeku yang mengatakan hal itu," jawab Akaba lagi sambil mengenjreng gitarnya yang entah datang dari mana itu. Isabel tertawa kecil melihat tingkah kekasihnya itu. Sejenak, kecemasan yang melanda hatinya terhapuskan oleh lelaki berambut merah itu.
"Hei, kenapa sih kau selalu membawa gitarmu itu?" tanya Isabel kemudian. Akaba tertegun sesaat.
"Bukannya waktu itu kau pernah bertanya seperti itu?" tanya lelaki itu balik.
"Iya, tapi waktu itu kau menjawab 'Fuu.. itu karena aku mencintai gitarku ini,' dan aku tidak begitu mengerti dengan jawabanmu itu," jelas Isabel lagi. Akaba terdiam.
"Seperti alasan obsesimu terhadap gitar merahmu," kata lelaki itu tiba-tiba. Isabel tertegun sejenak.
"Ob..sesiku terhadap...gitarku...?" gumam gadis itu bingung. Akaba tersenyum melihat gadis itu.
"Begitulah, karena aku menghabiskan waktu bersama gitarku hingga kamipun tak bisa lepas," jelas pemuda itu sambil menggenjreng gitarnya. "Bahkan aku sempat memberinya nama," tambah lelaki itu.
"Siapa?" tanya Isabel ingin tahu.
"Isabel." jawab lelaki itu singkat, padat dan jelas. Kontan wajah Isabel memerah mendengar jawaban itu. Jantungnya sedikit berdebar lebih kencang.
"Hayato, jangan macam-macam!" bentak Isabel masih dengan wajah yang memerah—malu.
"Fuu.. aku tak macam-macam, gitar ini memang bernama Isabel kok, ya kan, Isabel?" kata Akaba sekaligus tanyanya kepada sang gitar[?]. Isabel hanya menghela nafas kesal.
"Gitar saja pakai dinamain, pakai nama orang lagi!" cetus Isabel kemudian.
"Fu.. agar saat aku bersama gitarku ini, aku akan selalu mengingatmu," balas Akaba kemudian. Sontak, wajah Isabel tambah memerah dari sebelumnya. Malu berat, mungkin.
"Ja-Jangan bicara macam-macam!" kilah Isabel dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus siap santap[?].
"Aku tak macam-macam, Isabel," balas lelaki itu tenang.
TING TONG!
"Ah! Ada tamu!" pekik Felica menyadari bel rumah itu berbunyi.
"Tamu?" gumam Isabel dan Akaba bebarengan. Felica pun segera menuju pintu depan bangunan itu untuk membukakan pintu pada sang tamu. Sesampainya di pintu, Felica segera membuka pintu dan terlihat... seorang kurir lagi?
"Permisi Nona, apakah ini rumah milik Nona Isabel Harvard?" tanya sang kurir sopan.
Mengerutkan dahi, Felica menjawab, "Iya, benar. Ada apa ya?"
"Begini ada kiriman paket untuk band THE BLOOD dan alamatnya ditujukan di sini," jawab kurir itu sambil menunjukkan sebuah boks sedang yang dibungkus rapi dengan sampul coklat polos.
'Kiriman paket lagi?' batin Felica heran. 'Sebenarnya ada apa sih?' batinnya lagi.
"Tolong ditandatangani dulu," kata kurir itu sambil menyerahkan kertas bukti penerimaan. Felica pun mengambil boks itu dan menandatangani kertas itu. Selesai ditandatangani, sang kurir pamit pulang. Felica pun membawa boks itu ke dalam untuk ditunjukkan kepada keempat temannya.
"Kiriman paket lagi?" tanya Watt heran. Felica mengangguk pelan.
"Kata kurir tadi ini untuk THE BLOOD," kata Felica. "Hari ini aneh," tambahnya lagi.
"Coba kita periksa!" ucap Isabel kemudian. Mereka pun membuka bungkus boks itu perlahan. Setelah membuka bungkus itu mereka lalu mencoba membuka apa yang ada di dalam boks itu. Dan mereka menemukan—
"KYAAAAAAAAAAA!"
Felica memekik melihat isi boks itu, tangannya ia gunakan untuk menutup mulutnya yang tadi berteriak. Watt memandang isi boks itu dengan wajah bingung. Kevin memandang serius isi boks itu. Akaba membelalakan mata merahnya melihat isi boks itu. Sementara Isabel, bergidik melihat isinya. Reaksi yang wajar karena isi dari boks itu adalah—
.
.
—Seekor burung merpati berwarna putih yang sayap-sayapnya ternoda oleh warna merah hasil tikaman sebuah pisau yang masih menancap di bagian badannya. Sebuah paket yang aneh dan mengerikan. Sungguh sadis sekali orang yang melakukan hal yang tak berperikehewanan itu.
"Kejam..." gumam Felica sedikit bergetar.
"Sadis.." tambah Isabel kemudian.
"Siapa yang melakukan hal sekejam ini...?" tanya Akaba yang tak mungkin mendapat jawaban.
"Apa maksudnya ini?" tanya Watt kemudian. Mereka saling memandang bingung. Sungguh, mereka bingung. Sudah tadi kiriman mawar kuning dan hitam sekarang justru bangkai burung yang dikirim. Sebenarnya, siapa pelaku pengiriman paket yang aneh dan mengerikan ini?
"Firasatku benar," gumam Isabel kemudian. "Akan ada hal lain lagi yang akan menimpa kita!" pekiknya kemudian dengan wajah gusar dan cemas. Kini semua orang disana terdiam. Tak ada satupun yang mau berkata.
—Isabel And The Red Guitar © Hikari Kou Minami—
Hari demi hari, kiriman-kiriman paket dan kiriman surat misterius—surat yang berisi nada ancaman agar membubarkan band, bahkan tak ayal ejekan pun ada di dalam surat itu—selalu datang. Hari demi hari kiriman itu semakin banyak dan semakin sering datang. Hal itu membuat kelima remaja itu gusar, marah dan—cemas. Gusar karena kiriman itu semakin banyak, marah karena kiriman itu menjelek-jelekkan mereka bahkan yang paling parah dan bukan dalam bentuk kiriman—peralatan band mereka dirusak oleh oknum tak dikenal. Dan cemas karena hal itu pasti akan mengganggu kinerja band mereka.
Dan mengenai peralatan band itu, untung yang dirusak adalah peralatan di studio rekaman mereka. Namun, yang membuat mereka kesal yang dirusak justru alat yang memiliki kualitas terbaik.
Kesal, marah, benci, sebal mulai muncul di hati mereka. Namun, mereka selalu sabar dengan ulah gila dari—mungkin—penggemar—atau justru para fans anti mereka. Tak tahulah. Mereka tak begitu mempermasalahkan itu. Yang mereka tanyakan adalah—
Apakah mereka mempunyai salah terhadap sang pengirim paket?
Kalau iya, terus apa? Apa salah mereka? Bahkan, mengenal sang pengirim paket dan surat saja tidak.
Terus apa?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di otak mereka seolah menunggu untuk dijawab. Meski jawabannya tak kunjung hinggap di otak mereka.
—Isabel And The Red Guitar © Hikari Kou Minami—
6 month later...
Los Angeles, August, 31st 2010
Agustus. Akhir musim panas. Matahari bersinar tidak terlalu menyengat. Angin dingin berhembus lembut menandakan bahwa musim gugur akan segera dimulai.
Sudah enam bulan berlalu sejak "Teror" gila yang melanda band THE BLOOD. Anehnya, sejak seminggu yang lalu tidak ada kiriman maupun surat yang mereka terima. Mungkin si pengirim mengira THE BLOOD sudah tak peduli dengan kiriman-kiriman itu atau mungkin si pengirim bingung mau mengirim apa lagi. Tak ada yang tahu. Namun kelima anak itu bersyukur tidak mendapat kiriman-kiriman aneh nan gila maupun surat-surat yang membuat darah tinggi lagi.
"Sudah Agustus ya," kata Isabel sambil memandang langit di luar jendelanya.
"Ya. Dan sebentar lagi akan September," ujar Akaba yang duduk tak jauh dari gadis itu. Isabel tertegun sesaat.
"September ya.." gumam gadis itu pelan. Akaba berjalan ke arah gadis itu.
"Ada apa?" tanya lelaki itu.
"Um. Tidak ada apa-apa kok," jawab Isabel sambil tersenyum. Akaba menaikkan alisnya.
"Oh, ya sudah kalau begitu," ucapnya sambil berjalan menuju gitar merahnya yang berada di meja di ruangan itu. Isabel hanya tersenyum.
'September kan...' batin gadis itu kemudian. 'Hari ulang tahunmu, Hayato,' pikir gadis itu dengan tersenyum. Yah, tepatnya 21 September, hari ulang tahun gitaris berambut merah itu. Dan itu berarti waktu yang ia perlukan untuk mencari hadiah tinggal tiga minggu lagi. Eh—Hadiah?
Isabel membulatkan mata hitam onyxnya. Hadiah? Ia bahkan belum memikirkannya. 'Hmmm, apa ya hadiah yang pas buat Hayato?' pikir gadis itu kemudian. Ia termenung sesaat, memikirkan hal apa yang pantas untuk diberikan kepada lelaki itu.
"Ada apa? Kok diam?" tanya Akaba kemudian. Isabel segera tersadar dari lamunannya.
"Ti-tidak kok! Tidak ada apa-apa," jawab Isabel cepat sambil tersenyum. Akaba mengernyit melihat tingkah Isabelnya itu.
'Hayato tidak boleh tahu tentang ini! Ini akan menjadi kejutan baginya!' pikir Isabel kemudian. 'Lebih baik, aku segera memikirkan hadiah apa yang tepat untuknya!' pikir Isabel lagi.
—Isabel And The Red Guitar © Hikari Kou Minami—
Isabel mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di dagunya. Rambutnya menari-nari dipermainkan oleh angin yang menerpa wajahnya yang kini menghadap jendela. Matanya memandang ke depan serius, namun pikirannya kini tengah berkutat hebat. Berkutat tentang—
"Kira-kira, hadiah yang cocok dengan Hayato, apa ya?" gadis itu mulai bergumam sambil tetap memandang ke arah angkasa yang berwarna hitam legam. Beberapa titik sinar tampak menghiasi angkasa yang gelap itu.
"Benda yang cocok dengannya apa ya?" gadis itu bergumam lagi. "Dia kan penyuka warna merah, jadi lebih baik hadiahnya ada unsur warna merahnya saja!" kata Isabel sambil berdiri. Mimik gadis itu berubah menjadi sedikit cerah, sudah ada titik terang dalam penentuan hadiah itu. Dia lalu mengukirkan senyum simpul.
"Sekarang, masalahnya adalah benda apa yang harus kuberikan padanya?" Isabel berkata kembali. Ia lalu berjalan-jalan pelan di dalam kamarnya—berputar-putar. "Dia kan suka—"
"—Gitar!" pekiknya riang. Namun, sejenak wajahnya menjadi muram kembali. "Tapi, kan, dia sudah mempunyai gitar, lalu untuk apa coba kalau kuberi," katanya kemudian.
"Apa.. kacamata ya? Dia kan sering pakai kacamata," ucap Isabel kembali. Namun, sekali lagi, ia membatalkannya dengan perkataan, "Tapi, sepertinya dia tidak terlalu freak sama kacamata,"
"Terus apa doooooong?" pekik Isabel sambil mengacak rambut merahnya—frustrasi. Lelah karena tak mendapatkan hal cocok untuk dijadikan hadiah, gadis itu lalu merebahkan diri di atas kasurnya. Ia memejamkan matanya sejenak, lelah dengan pikirannya tadi. Namun ternyata sang otak tak berhenti bekerja. Meski mata terpejam, otak gadis itu tetap bekerja keras untuk berpikir. Berpikir tentang hadiah untuk sang kekasih.
End of Normal POV
Isabel's POV
Uuuh... Sial! Apa yang harus kuberikan padanya nanti? Aku mencoba berpikir kembali. Yah, meski otakku tadi sudah cukup lelah, namun aku harus segera mendapatkan benda apa yang cocok diberikan padanya. Tapi apa?
Aku lalu membalikkan badanku ke samping. Otakku kembali bekerja.
Yang dia suka, yang kutahu hanya gitar saja—yah seperti diriku yang terobsesi dengan gitar. Tapi, sudah kukatakan tadi, aku tak mungkin memberikannya gitar kan? Untuk apa coba?
Tapi, sepertinya hadiah itu harus yang berhubungan dengan gitar. Emmm, apa ya?
CLING!
Ah!
Tiba-tiba aku terlonjak dari tidurku tadi. Tanganku menunjuk ke atas dan aku melempar sebuah senyum kesenangan. Hei, sepertinya aku tahu hadiah apa yang akan kuberikan pada lelaki itu. Kepada Hayato.
"Kalau 'benda itu' pasti cocok! Iya! Pasti cocok! Dia pasti akan senang! Akan kupilihkan warna merah untuknya!" pekikku senang sambil tersenyum lebar. Akhirnya, aku berhasil mendapatkan benda yang akan kuberikan padanya nanti! Yeeeeeey! Aku pun lalu segera mengunci jendela dan mematikan lampu kamarku. Bersiap untuk tidur. Aku akan segera memesannya besok! Aku ingin agar 'benda itu' terlihat lebih istimewa, jadi harus kupesan dulu. Uuuh, jadi nggak sabar buat besok deh!
End of Isabel's POV
—Isabel And The Red Guitar © Hikari Kou Minami—
Normal POV
Esoknya, Isabel segera menuju ke suatu toko dimana toko itu menjual 'benda' yang ia cari. Ia lalu memasuki toko bercatkan merah dengan hiasan not-not balok besar berwarna hitam di atas nama toko itu.
"Selamat datang, nona," ucap sang pegawai yang berada di depan toko sambil membungkukkan badan. "Ada yang bisa saya bantu, nona?"
"Emm, begini, aku sedang mencari..." kata Isabel sambil menutupi bagian mulut dan berbisik pelan.
"Oooh, benda itu, baiklah. Mari, saya antar ke tempatnya," ucap sang pegawai ramah sambil menuntun gadis itu untuk mengikutinya. Mereka pun menuju ke suatu tempat yang menjual 'benda itu'.
Sang pegawai lalu mengeluarkan 'benda itu' dalam jumlah cukup banyak. "Anda bisa memilih mana yang anda suka." kata pegawai itu ramah.
"Kalau bisa saya ingin memesannya, bisa?" tanya Isabel kemudian.
"Baiklah. Silakan katakan pesanan anda." jawab sang pegawai.
"Umm, saya ingin yang modelnya seperti ini.." kata Isabel sambil menunjuk ke salah satu 'benda itu'. "Saya ingin warnanya nanti merah dengan tambahan..." Isabel berhenti berucap sejenak.
"...huruf 'H' dan 'I' tertera di atasnya dengan warna glitter emas," tambah Isabel dengan pandangan yang melembut.
"Baiklah! Kami akan mengusahakannya!" jawab sang pegawai sambil tersenyum. "Dalam waktu satu minggu, kami pasti sudah menyelesaikannya!"
"Em, maaf, tapi, boleh saya ambil saat tanggal 21 nanti?" tanya Isabel ragu-ragu. Sang pegawai tertegun sejenak.
"Terserah yang anda inginkan, nona. Kami siap membantu anda." kata sang pegawai lagi. Isabel mengembangkan senyumnya.
"Sungguh? Terimakasih kalau begitu. Saya akan mengambilnya tanggal 21 nanti. Kalau begitu, saya permisi dulu, nona. Terimakasih!" kata Isabel pamit.
"Terimakasih kembali, nona!"
—Isabel And The Red Guitar © Hikari Kou Minami—
20 days later...
At 08.30, September 21st, 2010
Hari demi hari, waktu terus bergulir. Bergulir dan berputar. Surat-surat teror dan ancaman tidak lagi memenuhi kotak surat THE BLOOD. Begitu pula dengan paket-paket teror lainnya yang dulu begitu rajin mendatangi agensi band tersebut. Yah, sekitar dua bulan terakhir ini.
Hari yang ditunggu Isabel tiba. Gadis berambut merah itu kini tengah berencana untuk mengambil 'benda—yang dipesannya—itu' di toko yang ia datangi sekitar tiga minggu yang lalu. Tapi, ia akan mengambilnya nanti, sekitar pukul 5 sore. Kini gadis itu tengah berdiri di depan rumahnya, menunggu teman-temannya—minus Akaba—untuk menjemputnya.
Yah, rencananya, mereka akan belanja keperluan untuk merayakan ulang tahun ke-delapan belas gitaris band itu yang akan diadakan sore menjelang petang—karena itulah Isabel mengambil 'benda itu' pukul 5 sore—. Sudah jelas, rencana ini akan dirahasiakan dari gitaris itu. Karena ini adalah kejutan untuknya. Oleh karena itu, si lelaki berambut merah itu 'diasingkan' di kantor agensi untuk menggubah suatu lagu yang sebenarnya nada-nadanya sangat hancur dan tidak harmonis. Bayangkan jika anda menggubah suatu lagu yang tersusun oleh ... Mungkin, kini Akaba tengah berpusing-pusing ria dengan ketidakselaran ritme yang tengah ia gubah tersebut.
Sebuah mobil hitam meluncur dari sudut jalan dan berhenti tepat di depan Isabel. "Kalian ini, terlalu lama! Aku menunggu hampir satu jam!" kata Isabel kesal.
"Sorry, bel. Tadi kena macet mendadak. Sudah, ayo masuk!" jawab Watt dari balik jendela. Isabel pun segera membuka pintu belakang mobil dan masuk. Mobil itupun mulai meninggalkan kediaman Isabel.
"Jadi, rencananya gimana nih?" tanya Isabel kemudian di dalam mobil.
"Pertama, kita beli perlengkapan untuk pesta. Nanti pestanya di kantor agensi, di ruangan kosong di sudut kantor yang jarang ada orang yang tahu. Bel, kau dan Felica akan menyiapkan kue dan makanannya, sementara aku dan Kevin akan mempersiapkan ruangannya dan juga yang nanti membawa Akaba ke ruangan itu." kata Watt panjang lebar.
"Tapi, nanti sore aku mau ijin dulu sebentar keluar," seru gadis berambut merah itu pelan.
"Baiklah. Nggak apa-apa kok! Asal jam 6 kau sudah harus kembali ke kantor agensi, mengerti?" kata Watt sambil masih tetap menyetir.
"Iya, iya. Hanya sebentar kok," jawab Isabel dengan sedikit kesal. 'Yaaah, mengambil 'benda itu' tak harus memakan waktu satu jam, kan?' batin Isabel kemudian. Mobil itupun segera menuju ke pusat perbelanjaan.
[Skip waktu belanja]
Setelah sekitar satu setengah jam, mereka akhirnya selesai belanja. Mereka pun segera menuju toko kue untuk mengambil kue ulang tahun yang sudah mereka pesan jauh hari sebelumnya. Setelah mereka mengambil kue, mereka lalu menuju kantor agensi.
Di kantor agensi, mereka segera disambut sang produser yang ternyata juga ikut andil dalam rencana ini. Sang produser segera mengisyaratkan mereka untuk berjalan pelan-pelan agar orang yang tengah berpusing ria dengan kunci-kunci dan not-not kacau itu—Akaba—tidak menyadari mereka.
Mereka pun sampai di ruang kosong tersebut. Mereka segera menghias ruangan itu secepat dan serapi mungkin serta tak menimbulkan banyak suara, agar orang yang tengah berpusing ria dengan kunci-kunci dan not-not kacau itu—Akaba—tidak menyadari mereka.
Ehm, sepertinya kalimat itu sudah tertulis sebelumnya. Ah, lupakan!
Mereka melakukan semaksimal mungkin untuk membuat pesta ulang tahun sang gitaris itu menarik dan menyenangkan. Yah, pesta ulang tahun adalah pesta yang paling menyenangkan bukan?
—Isabel And The Red Guitar © Hikari Kou Minami—
At 17.00, September 21st 2010
"Akhirnya selesai juga!" pekik Watt senang. Lelaki itu memandang ruangan yang sudah ramai akan hiasan dan beberapa makanan yang sudah tertata rapi di meja di tengah ruangan itu. Balon beraneka warna, pita beraneka warna pula dan hiasan menarik lainnya.
"Watt! Suara fortissisimomu bisa menyadarkan dia, bodoh!" kata Isabel kesal sambil berkacak pinggang.
"Ma-Maaf, bel. Aku terlalu bersemangat," kata Watt meminta maaf. "Tapi, tidak sia-sia usaha kerja keras kita selama tujuh jam disini,"
"Tujuh jam? Tunggu! Ini jam berapa?" tanya Isabel mendadak.
"Jam lima sore."
"Gawat! Semuanya, aku pamit dulu keluar sebentar! Ada yang harus kuambil sebelum pesta ini dimulai!" teriak Isabel sambil mengambil tas dan jaketnya serta berlari keluar dari ruangan itu.
[SKIP SAAT ISABEL DALAM PERJALANAN KE TOKO]
Sesampainya ia di depan toko yang tiga minggu yang lalu ia datangi, ia segera masuk ke dalam toko tersebut. Terlihat seorang pegawai yang menyambutnya seperti tiga minggu yang lalu—tapi sedikit berbeda.
"Nona yang waktu itu, bukan?" tanya sang pegawai seolah meyakinkan.
"Iya! Saya ingin mengambil pesanan saya, nona," jawab Isabel sambil menyunggingkan seutas senyum simpul.
"Baiklah. Mari, saya antar ke dalam, nona." kata pegawai itu sambil berjalan mendahului gadis berambut merah itu.
Sesampainya mereka di tempat dimana 'pesanan' Isabel berada, gadis berambut merah itu segera mengatakan tujuannya kesana.
"Saya ingin mengambil pesanan saya tempo hari lalu," kata Isabel kemudian. Sang pegawai langsung mengerti maksud dari Isabel.
"Oh, 'pesanan itu'. Baiklah, akan saya ambilkan sebentar." kata sang pegawai sopan sambil berlalu ke belakang.
Semenit kemudian, sang pegawai sudah kembali ke hadapan sang gadis berambut merah itu. "Ini." kata sang pegawai sambil menyerahkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan dibhias dengan pita berwarna emas dengan aksen glitter. "Saya memasukkan 'benda itu' ke dalam kotak ini. Tidak apa-apa 'kan?" tanya sang pegawai kemudian.
Isabel masih menatap kotak itu sedikit takjub. Sedetik kemudian, iapun menjawab, "Tidak. Justru saya berterima kasih, anda sudah repot-repot menghiasnya,". Isabel tersenyum lembut, "Terlihat lebih cantik. Saya ambil ini."
"Baiklah. Anda cukup membayar 'benda itu' saja," kata sang pegawai sambil tersenyum. Isabel terhenyak sesaat.
"E—Eh? Tu—Tunggu! Kenapa hanya 'benda itu' saja?" tanya gadis dengan mata onyx yang sedikit membulat. Sang pegawai hanya tertawa kecil melihat gadis itu.
"Saya suka dengan pandangan lembut anda terhadap 'benda ini'. Seakan-akan, 'benda ini' sangat berharga dan sepertinya khusus di berikan untuk seseorang. Kotak dan pita itu, inisiatif saya saja, jadi tidak masalah," tutur sang pegawai masih dengan senyum yang mengembang dan diselingi dengan tawa kecil. Sang gadis hanya tertegun mendengar itu. Seutas senyum melengkung di bibir kecilnya.
"Yah, begitulah. 'Benda ini' memang saya hadiahkan untuk seseorang," katanya kemudian. "Tapi, benar, tidak apa-apa?" tanya gadis itu masih dengan rasa ragu.
"Tidak apa-apa, nona." jawab sang pegawai tenang.
"Terimakasih!" seru Isabel senang. Ia segera membayar 'benda itu' kemudian ber-terimakasih kembali dengan sang pegawai baik hati itu. Ia pun berlalu meninggalkan toko.
Begitu ia keluar dari toko, ia berhenti sejenak. Ia memandangi sang kotak merah dengan perasaan senang. Ia lalu memasukkan kotak itu ke dalam tasnya. "Akhirnya, aku bisa mendapatkan hadiah untuknya. Sudah nggak sabar deh, dengan pestanya nanti," gumam Isabel sendiri sambil tersenyum bahagia.
Tiba-tiba, beberapa orang pria terlihat mendatangi dirinya. Mereka berpakaian serba hitam dan berjalan mendekati dirinya. Isabel mengernyit melihat orang-orang itu. Pria-pria itu berjalan melewati dirinya. Isabel sedikit curiga pada mereka, hingga ia menyadari bahwa kecurigaannya itu—benar.
"AKH!" pekik Isabel kecil sambil membelalakkan mata. Membelalakkan mata seolah kaget—ah, bukan. Ia membelalakkan mata sedetik setelah salah seorang dari pria-pria berbaju hitam itu membekap mulutnya dengan sapu tangan, mengakibatkan gadis itu terkejut serta pingsan. Sang pria menyeringai lebar. Umpan berhasil ditangkap. Tinggal memancing sang 'ikan' keluar. Memancing dan menangkap sang 'ikan' serta—membunuh sang 'ikan'.
—Isabel And The Red Guitar © Hikari Kou Minami—
Agency Office, at 18.45, September 21st 2010
Sementara di kantor agensi, Watt dan lainnya cemas karena Isabel belum juga kembali. Sudah satu jam lebih empat puluh lima menit sejak gadis itu meninggalkan kantor agensi demi mengambil 'sesuatu', tapi gadis itu tak kunjung kembali. Pesta kejutan sudah dimulai empat puluh lima menit yang lalu.
Kronologisnya, pukul 18.00, Akaba disuruh berhenti untuk menggubah lagu nggak jelas yang sedari tadi membuatnya terpaku pusing. Setelah itu, ia diarak [?] ke ruangan yang sudah disulap jadi tempat pesta. Pintu pun terbuka dan terdengar seruan "Happy Birthday, Akaba!" yang sangat keras. Lelaki itu hanya memandang cengo' pemandangan itu. Namun, ia segera tersenyum simpul dan menyadari bahwa—Isabel tidak ada disana.
Sekarang, ia tengah berdiri dengan gelisah sambil melihat ke arah jendela. Mata merahnya memandang ke luar bangunan tinggi itu. Mimiknya menyiratkan kecemasan. Sebuah ponsel tergenggam di tangannya. Ia menghela nafas, "Kau berada dimana, Bel?" gumamnya kemudian.
"Isabel! Dimana kau sekarang?" seru Watt membahana di seluruh ruangan. Semua tak menjawab, karena mereka semua juga tak tahu dimana gadis pengobsesi gitar itu berada.
"Telepon nggak diangkat! Sms nggak dibalas!" kata Watt lagi kesal sambil memandang ponselnya. "Dimana dia?"
"Tenanglah, Watt," ucap Felica mencoba menenangkan Watt.
"Bagaimana aku bisa tenang, Fel? Sudah satu setengah jam-an lebih dia belum kembali?" pekik Watt kemudian. "Aku khawatir padanya! Tak bolehkah seorang sahabat mengkhawatirkan sahabatnya?"
"Aku tahu, kau khawatir dan aku mengerti bagaimana perasaanmu sebagai sahabat gadis itu, tapi, bisakah kau mengerti juga bahwa ada orang yang lebih—dan sangat—khawatir selain kau?" Kevin menenangkan Watt dengan melirik ke arah Akaba di dekat jendela. Watt melihat Akaba dan pandangannya pun melemah. Ia tahu, Akaba-lah yang sekarang sangat khawatir pada Isabel tapi lelaki itu bisa tenang.
"Oh, baiklah. Aku akan tenang," gumam Watt lirih.
Semenit kemudian, tiba-tiba ponsel milik Akaba berbunyi. Akaba segera melihat ID pemanggil ponselnya itu.
Isabel Harvard
"Isabel!" pekiknya kemudian, membuat Watt dan yang lain mengerubunginya mendadak. Akaba lalu segera mengangkat ponsel itu.
"Isa—"
"Selamat malam, Tuan Akaba," sebuah suara secara tiba-tiba mencekat tenggorokan lelaki berambut merah itu. Mata merahnya membelalak kaget karena orang yang bersuara bukan orang yang ditunggunya.
"Si—Siapa kau?" tanya Akaba bingung dengan dahi mengernyit. Sunguh, sebuah firasat tidak enak seolah membuncah di dadanya.
"Kufufufufu, kau tidak perlu mengetahui siapa diriku, yang perlu kau ketahui adalah..." sang suara memberi jeda sejenak. Mungkin untuk memberikan kesan misterius.
"Yang perlu kau ketahui adalah, gadis manis berambut merah yang sangat kau cintai ini ada di tangan kami," lanjut lelaki itu dengan nada kejam.
"A—Apa?" Akaba memekik dengan nada yang sangat keras. Suaranya yang biasanya sedikit nge-bass naik satu oktaf sekarang.
"Singkat kata, gadis ini kami culik," tambah sang suara—atau kita sebut penculik saja itu dengan nada meyakinkan.
"Isabel diculik?"
To Be Continued
Author's Note :
Huwaaaa! Akhirnya saya bisa update juga! Di saat FFn udah nggak error lagi juga! Kufufufufu~
Gomen, kalau saya telat update fanfic saya yang satu ini. Biasalah, anak sekolahan 'kan sibuk #ngeles *padahal gara-gara kebanyakan jalan-jalan di fandom lain* #duak #dibuang
Gomen lagi kalau alurnya sedikit dicepetin m(_ _)m. Habis words sudah mencapai 5000-an (chapter dengan words paling panjang).
Btw, maaf sekali lagi kalau teror-nya gaje sangat! Saya emang belum bakat untuk ngebuat teror-teror kayak gitu T_T
Oya oya, chapter besok adalah chapter terakhirnya lho! Sudah mau mendekati genre yang satunya lagi (baca : Tragedy). Haha, saya suka genre itu! #dilemparkesumur
Saya janji deh, saya bakal nulis seluruh pe-review fanfic ini sejak chapter pertama hingga chapter keenam karena telah menyumbangkan setitik reviewnya kepada fanfic gaje ini #lebay
Saya usahakan update chapter terakhir sedikit cepet dari biasanya ^^. Mungkin setelah UN, meski saya nggak UN. Saya kan anak kelas satu XP
Oya, lupa, chapter 6 ini saya persembahkan sebagai chapter terakhir sebelum UN. Ganbatte ya, semua anak kelas 6, 9 dan 12!
Ehem, akhir kata
REVIEW PLEASE!
