Ciaossu, minna!

Saya kembali dengan chapter terakhir dari fic ini.

Buat RenDhi Hayato Araide, Just Teen Reader -.- Hamazaki dan roronoalolu youichi sudah saya balas lewat PM.

Dan buat :

DarkAngelYouichi : Enakan pindah tempat! #duak. Hohoho, silakan dilihat di chappie ini. Te—tebakanmu tepat! Aih, saya beri hadiah tepuk tangan dari sini yah! #dibuang

Well, review udah, dan nikmatilah the last chapter of Isabel And The Red Guitar X) #emangmakanan?

.

.

.

. . .

Isabel And The Red Guitar

Last Chapter : The End Of All is Red

By : Hikari Kou Minami

Disclaimer : Eyeshield 21 by Yuusuke Murata & Riichiro Inagaki

Isabel Harvard dan OC lainnya milik saya seorang!

Rating : Teen

Genre : Romance, Tragedy

Warning : AU story, GaJe (so pasti!), abal, misstypo (maybe), time and place set yang membingungkan dan terkesan nggak mungkin, OOC (maybe), nggak ada hubungannya sama sekali dengan American Football, alur cerita yang aneh bin ajib, khayalan tingkat tinggi, OC bertebaran dimana-mana dan hal – hal nista yang biasa dibuat oleh author newbie di setiap fandom.

And last, if you don't like this fic, don't read and review even flame at me!

Please, click on 'Back' button if you don't want to continue this fan fiction, I don't forbid you

Message : I hope all of you like this

Don't like don't read

. . .

.

.

—Isabel And The Red Guitar © Hikari Kou Minami—

.

.

New York Street, September 21st 2010, At 22.00

Sepi. Sunyi. Senyap.

Begitulah suasana salah satu jalan di New York. Gelap pun tak urung mewarnai suasana malam itu. Yah, langit begitu gelap tanpa secercah cahaya bintang yang mewarnai langit. Beberapa awan komulus yang berwarna sedikit abu-abu—awan mendung—terlihat bergumul menutupi sang langit. Sangat terlihat bahwa cuaca malam itu tak bersahabat.

Tiba-tiba, terdengar sebuah suara deru mesin motor mulai membahana di jalan itu. Sebuah lampu sorot kuning terlihat bercahaya dari kejauhan. Mungkin sebuah motor. Dan—oh, benar saja. Terlihatlah, sebuah motor berwarna merah menyala sedang melaju kencang di jalanan sepi tadi.

Yah, sangat kencang dan terburu-buru. Bahkan, sang pengemudi yang mengenakan helm berwarna merah gelap itu memacu motornya dengan kecepatan melebihi batas normal untuk pengemudi biasa—200km/jam.

Mata merah sang pengemudi terlihat berkilat dari balik kaca helm. Nafasnya terlihat memburu. Dilihat dari kecepatannya pun, kelihatannya dia tengah tergesa-gesa. Mata itu masih menatap jalanan tajam, meski pikirannya sedikit tak konsentrasi dengan apa yang ada di depan. Pikirannya teralih pada perbincangan lewat media seluler beberapa jam yang lalu.

Perbincangan dengan orang yang menyekap Isabel.

Well, bisa dipastikan bahwa lelaki ini adalah Akaba. Akaba Hayato. Mata merah itu berkilat marah mengingat perbincangan itu. Perbincangan yang membuatnya harus memacu motornya melebihi batas normal.

Flash Back

"Isabel diculik?" pekik Akaba memecahkan keheningan ruangan saat itu. Membuat semua pasang mata di ruangan itu tersita pandangannya. Segera saja seluruh mata itu mengelilingi sang lelaki gitaris band itu.

"Yayaya. Dia sedang disekap oleh para bawahanku," suara itu terdengar mengejek.

"Lepaskan dia!" ucap Akaba dengan nada menggeram—marah.

"Ou, ou, ou. Tidak semudah itu, Tuan Akaba," suara itu menolak permintaan sang gitaris, dengan nada bercanda dan seolah ia sedang menawarkan jasa 'yang sulit' untuk dilakukan. "Aku akan membebaskannya jika kau menuruti satu permintaanku. Bagaimana?"

Terdengar nada licik dalam suara itu. Akaba membulatkan matanya sejenak. Sejenak, ia merasakan perasaan tak enak dengan kata 'permintaan' itu. "Apa permintaanmu?"

"Kufufufu, aku ingin agar kau datang kesini TANPA mengajak salah seorang temanmu ataupun senjata yang kau miliki. Jika tidak, nyawa gadis ini tak bisa kujamin," jawab sang suara dalam ponsel itu. Mendadak, lelaki berambut merah itu merasakan firasat buruk. Mendadak pula, suaranya tercekat dalam tenggorokannya. Ia jadi membisu.

Hening sesaat. Akaba masih memikirkan tawaran sang penelpon itu. Otaknya berpikir, apakah sang penelpon sedang merencanakan sesuatu yang—mungkin saja—membahayakan nyawanya karena ada kata 'senjata' disana.

"Oya? Jadi, gimana, Tuan Gitaris?" tanya sang penelpon yang mungkin sudah tak sabar dengan jawaban Akaba. Akaba menghela nafas sesaat, sementara teman-temannya yang ikut mendengar itu di sampingnya memandang lelaki itu was-was.

"Fuu, baiklah. Aku akan memenuhi permintaanmu," jawab lelaki itu dengan nada mantap. Semua mata disana membulat tak percaya.

"Baiklah. Kutunggu kedatanganmu segera di gudang tua di New York. Mengerti?"

"Ya."

"Baiklah. Selamat jalan, Tuan Akaba," suara itu lalu menutup penggilan via ponsel itu.

"Tu—Tunggu dulu! Apa maksudmu, Akaba? Apa kau bermaksud menyelamatkan dia sendiri? Jangan egois!" seru Watt kemudian. Ia mengguncang tubuh Akaba. Akaba masih diam. "Jika dia melakukan apapun padamu, bagaimana? Kau bisa saja terluka!"

"Jika Isabel yang terluka?" Akaba tiba-tiba berkata. Pandangan matanya menjadi tajam. "Jika aku tidak menuruti permintaannya, pasti dia akan melakukan sesuatu pada Isabel kan? Dan aku tak mau itu terjadi!" tambahnya lagi dengan suara yang naik satu oktaf. Nafas lelaki itu terlihat memburu. Semua langsung terdiam, tiada yang berani berkata.

"Baiklah, tapi jika terjadi apa-apa, katakan pada kami," Watt membuka suara. Akaba menatap lelaki itu sejenak. Ia lalu mengangguk.

"Ya. Aku pasti akan membawa gadis itu kembali. Aku janji." ucap Akaba seraya berjalan menuju ke luar pintu.

End of Flash Back

Begitulah kronologis kejadian, mengapa ia bisa mengendarai motor sebegitu—sangat—kencangnya malam-malam seperti ini. Isabel—gadis yang ia cintai—diculik dan dia harus menyelamatkannya. Apapun resikonya.

Ia kemudian memacu kembali motornya dengan kecepatan yang lebih kencang.

.

.

—Isabel And The Red Guitar © Hikari Kou Minami—

.

.

An Old Warehouse, New York, September 21st 2010, 22.30

Motor milik Akaba berhenti di depan sebuah gudang tua yang—ia yakini—digunakan sebagai tempat penyekapan sang kekasih tercinta. Ia segera turun dari motor dan melepas helm merahnya. Ia lalu berjalan menuju pintu depan gudang itu. Tiba-tiba, dari arah samping pintu, terlihat dua orang pria dengan tubuh yang cukup kekar berjalan ke arah pintu. Mereka lalu menatap lelaki berambut merah itu. Hm, berusaha menghadang lelaki itu ya?

"Kukukuku, akhirnya kau datang juga, Tuan Gitaris," kata salah satu lelaki itu.

"Kami sudah lama menunggumu lho," ucap yang satunya. Mereka menyeringai lebar.

"Menyingkir dari sana!" bentak Akaba dengan tatapan mata yang tajam. Ia benar-benar marah sekarang.

"Kalau kami tidak mau?" kata salah satu pria itu.

"Aku tidak segan-segan akan menggunakan cara kasar," jawab Akaba simple sambil mengepalkan kedua tangannya. Kedua lelaki itu saling bertatapan setelah sedetik kemudian mereka malah tertawa terbahak-bahak.

"Hahahaha! Hei, Tuan. Tak sadarkah dirimu bahwa kau telah kalah jumlah?" ucap yang pertama tadi.

"Kami dua orang sedangkan kau satu orang! Mana mungkin kau bisa membuat kami kalah! Hahahaha—"

BUAK!

"AKH!" pekik sang pria yang tertawa paling akhir tadi. Ia memegang perutnya yang tadi dipukul secara tiba-tiba oleh Akaba. Matanya pun melotot karena akibat dari serangan pukulan tadi.

SRAK! BRUK!

Tubuh lelaki itu terdorong ke belakang dan terjatuh di lantai. Membuat sebuah komposisi suara yang kurang enak didengar.

"A—Apa yang kau lakukan!" teriak lelaki yang terjatuh itu.

Akaba menyeringai kecil. "Aku sudah bilang kan, jika aku tak bisa masuk dengan cara halus maka aku akan menggunakan cara kasar,"

"Cih! Kurang ajar kau!" sang pria yang masih berdiri lalu segera menerjang ke arah Akaba dengan tangan diangkat—ingin memukul.

BUAK!

Akaba kembali melayangkan pukulannya ke arah perut lelaki itu. Pria itu lalu segera ikut terjatuh dengan cukup mudah.

"Asal kalian tahu saja, aku pernah menjadi atlit American football saat aku SMP dulu," ucap Akaba sambil meninggalkan kedua lelaki yang telah terbaring dengan mulut terbuka menahan sakit dan mata melotot. Ia lalu berjalan menuju pintu dan membuka kenop pintunya.

Gelap.

Begitulah yang ia dapat katakan ketika melihat suasana di dalam gudang itu. Gelap dan sepi. Tak ada pencahayaan sedikitpun di dalam gudang itu kecuali sinar lampu jalan di luar yang berasal dari celah-celah jendela yang terbuka. Akaba mengamati tempat itu sesaat. Kemudian, ia melangkah ke dalam gudang itu.

Ia melangkah perlahan, agar ia bisa leluasa menjelajahi tempat itu agar ia bisa menemukan dimana gadis berambut merah itu berada. Ia membuka satu persatu pintu yang ia lewati. Namun, di balik pintu-pintu itu, tiada sosok gadis itu berada. Nihil. Hanya kekosongan belaka.

Akaba menghela nafas tak lega dengan berat. Mata merahnya menatap koridor yang gelap dengan tatapan kesal. Kesal karena tak mampu menemukan Isabel dimana. Ia menendang lantai dengan kakinya—kesal.

Mimik wajahnya menampilkan raut kesal dan khawatir. Sungguh, ia khawatir dengan keadaaan gadis yang amat ia cintai itu. Ia juga takut, kalau-kalau ada sesuatu menimpa sang kekasih. Firasat buruk sekejab mulai menghantuinya.

Ia lalu melihat ke sebuah pintu yang masih tertutup. Dengan harapan tertaruh pada sang pintu, ia lalu mendobrak pintu itu dan—

BRAK!

—Mata Akaba membelalak melihat sosok yang ada di hadapannya kini. Membeku rasanya tubuh pemuda itu kini.

"Isabel!"

Terlihat sesosok gadis berambut merah dengan mata onyxnya yang melebar. Raut wajahnya terlihat kaget namun sekaligus senang. Kedua tangannya terikat di belakang kursi dengan tali. Mulutnya disumpal sebuah sapu tangan, membuatnya hanya bisa mengerang saat sang penolong datang.

"Emmmmm!" erangnya saat ia melihat pemuda itu, seakan sedang mengatakan sesuatu.

"Hoo... Ternyata, sang ksatria penyelamat sudah datang untuk menolong sang tuan putri, ya?" tiba-tiba terdengar suara seseorang yang membahana di ruangan itu. Akaba segera menoleh ke sumber suara. Terlihat, sesosok bayangan dari kegelapan datang memasuki ruangan itu. Mata merah dan onyx milik Akaba dan Isabel membelalak melihat sosok yang datang dari balik kegelapan itu.

"A—Alex?/Emmm?" seru kedua orang itu bersamaan. "Ti—Tidak mungkin? Alex, Leader band d'Dark Ray itu, kan?" seru Akaba menyebutkan identitas diri Alex.

Sosok yang bernama Alex itu tersenyum menyeringai—menyadari sosoknya telah terlihat jelas kini oleh mereka. Terlihat beberapa orang lagi memasuki ruangan itu dengan senyum menyeringai.

"Ba—Bahkan, seluruh anggota d'Dark Ray juga? Grrrr! Apa yang kau rencanakan, Alex?" geram Akaba dengan mata merah yang berkilat.

"Kukukuku, ternyata sang ikan sangat mudah untuk dipancing ya, dengan umpan seperti ini," kata Alex sambil berjalan dan melepas sapu tangan yang menyumpal mulut Isabel.

"PUAH! Hayato! Kenapa kau kemari? Ini jeba—"

"DIAM!" seru Reno dari belakang.

"Tidak apa-apa Reno. Toh, sang ikan sudah terperangkap dalam jaring milik kita. Dia takkan bisa lari lagi," kata Alex lagi.

"Lepaskan Isabel!" teriak Akaba kemudian.

"Ou, ou, ou, tidak semudah itu," tolak Alex masih dengan seringai terstempel di wajahnya. "Kan tadi sudah kubilang, kau harus melakukan apa yang kuminta dulu," kata Alex lagi.

"Cepat katakan apa maumu!" bentak Akaba lagi. Sungguh, emosi memuncak di ubun-ubunnya.

"Aku hanya ingin... Band THE BLOOD milikmu..."

"...bubar..."

DEG!

Apa? Lelaki ini meminta dirinya untuk membubarkan Band-nya sendiri? Demi seorang penggila sisir di ujung dunia sana [?], ia tidak akan pernah mau membubarkan band itu!

"Aku tidak akan membubarkan band itu. Band itu adalah cita-cita dan impianku bersama Isabel dan yang lain. Kami sudah berjanji akan pergi ke Budokan bersama band itu, jadi band itu takkan kububarkan apapun yang terjadi!" tolak Akaba tegas.

"Apapun yang terjadi ya?" ulang Alex kemudian. Ia lalu menoleh ke arah Isabel yang tengah memberinya death glare manis. Namun, death glare itu tak bertahan lama, karena—

"Bahkan jika gadis ini meninggalkan tubuhnya untuk selamanya, kau pun tak akan membubarkannya?"

—Sebuah pisau yang terlihat tajam tengah menawan leher jenjangnya yang putih. Mata onyx gadis itu membelalak, begitu pula dengan mata merah milik Akaba.

"Jangan sentuh dia dengan pisau laknat itu!" teriak Akaba kemudian. Alex menarik pisaunya kembali.

"Habis, kau tidak bisa diajak bicara baik-baik sih," ujar Alex kemudian sambil memainkan benda tajam berbahaya itu.

"Cepat putuskan pilihanmu sebelum Alex benar-benar melakukannya pada kekasihmu itu!" perintah Allen dingin. Akaba mengernyit kesal. Kedua pilihan yang ditawarkan padanya sangat tidak menguntungkan baginya. Jika dia memilih untuk menyelamatkan Isabel, maka ia harus membubarkan band, karena jika mengingkarinya bisa jadi Alex akan melakukan hal yang lebih ganas lagi. Tapi, jika ia memilih untuk tetap tidak membubarkan band, maka bisa saja Isabel akan—

—Pergi untuk selamanya.

Pilihan sulit.

Akaba lalu menghela nafas berat, seberat pilihan yang nantinya harus ia ambil. Sebuah pilihan dari dua pilihan menyebalkan—dan sialan—itu. Ia harus memilih salah satunya. Salah satu yang paling ia sayangi.

"Baiklah..." kata Akaba kemudian.

Memilih yang paling ia sayangi.

"Aku memilih..."

Serta mengorbankan yang ia sayangi pula.

"Menyelamatkan Isabel."

DEG!

Mata onyx Isabel membulat. Ia tidak percaya dengan ucapan pemuda itu. Alex menyeringai senang.

"Hayato! Apa yang kau katakan? Kau mau mengorbankan mimpi kita ya?" teriak Isabel kesal. "Ini semua—"

"Kukuku, pintar juga ya, kau memilih. Memilih kekasih sendiri ketimbang band, Tapi..." ucapan Alex tergantung. Ia menyeringai misterius.

"...sayangnya, kau harus menerima penyiksaan batin dulu." kata Alex sambil mengarahkan pisaunya ke Isabel.

CTAR!

"APA?" teriak Akaba kaget. Suara petir terdengar bersamaan dengan suara teriakan Akaba.

SRAT!

DRAK!

Sontak, Isabel segera menghindar dari tebasan pisau itu yang mengena ujung rambutnya dan membuatnya jatuh dari kursi yang terikat dengannya dan mendorong tubuhnya pula untuk mendekat ke arah Akaba.

"Hayato! Lepaskan ikatan ini! Cepat!" perintah Isabel kemudian. Akaba segera melepaskan ikatan tali yang mengikat kaki dan tangan Isabel. Setelah terbebas dari ikatan tali yang melilitnya, gadis itu segera berdiri.

"Kenapa kalian menyerang Isabel? Aku kan memilih untuk menyelamatkan gadis itu?" teriak Akaba kemudian.

"Sayangnya, kami jarang sekali menepati janji yang kami buat," kata Alex dengan nada kejam dan menakutkan sambil menunjukkan pisau itu ke arah dua orang itu.

"Hayato, kita harus lari dari mereka! Kita tidak akan menang jika kita melawan mereka! Apalagi mereka membawa benda berbahaya semacam itu! Kita bisa mati!" ujar Isabel dengan nada berbisik. Akaba mengangguk pela. Namun, sebelum mereka bisa melangkahkan kaki—

"Kalian mau kabur ya?" kata Alex dengan nada mengintimidasi. Kedua orang itu terperanjat.

"Sayangnya, kami tidak akan membiarkan itu terjadi," sambung Reno kemudian.

"Gawat.." desis Isabel kesal. Ia memandang para personil d'Dark Ray dengan tatapan kesal dan marah. Kenapa orang-orang seperti mereka bisa ada di dunia ini? Dan kenapa harus mereka berdua yang menghadapi manusia-manusia seperti mereka? Pikiran Isabel kalut dan kesal serta marah dengan manusia-manusia keji di depannya. Tapi, pikiran itupun terhentikan oleh sebuah tangan kekar yang tiba-tiba menyeret tangannya. Isabel menoleh ke sang pemilik tangan.

"Ayo, Bel! Kita lari!" ucap pemuda berambut merah itu dengan menyeret tangan Isabel. Isabel hanya mampu menyimpan senyum dan mengikuti langkah sang pemuda.

"Jangan lari kalian!" teriak Reno kemudian. Lalu, kejadian kejar mengejar di gudang tua itupun tidak terelakkan lagi dengan iringan ritme yang teratur yang didendangkan oleh sang hujan yang mengguyur daerah itu beberapa menit yang lalu.

"Cih! Kenapa dia malah balik menyerang?" kata Akaba kesal dengan masih berlari.

"Ini jebakan, Hayato! JE-BA-KAN!" kata Isabel dengan menegaskan kata 'jebakan'. "Ini hanya jebakan agar kau mau kesini, membubarkan band dan membuatmu terluka juga dengan aku sebagai sanderanya!" jelas Isabel lagi.

"Jika aku terluka, itu tidak masalah bagiku. Tapi, jika sampai kau yang terluka..." ucap Akaba terputus. "... takkan kumaafkan mereka!" lanjutnya kemudian. Isabel sedikit tercengang mendengar itu.

"Begitu pula denganku, Hayato," gumam Isabel pelan. Pelan namun Akaba masih dapat mendengarnya.

"Makanya, takkan kubiarkan itu terjadi," katanya kemudian. Isabel hanya mampu memandang wajah lelaki itu yang terlihat serius. Sekali lagi, ia menyimpan senyum.

"Yeah, kita jangan sampai terluka disini," gumam Isabel. Akaba hanya tersenyum setelah gadis itu menggumamkan itu. Mereka terus berlari hingga langkah mereka terhenti oleh beberapa orang yang mencegat mereka di depan pintu keluar.

"Kalian tidak akan bisa lari!" teriak Anthony.

"Tch!" decak Akaba kemudian. Akaba bersiap untuk menyerang mereka sementara Isabel bersembunyi di balik badan Akaba.

"Hajar dia!" perintah Anthony kepada anak-anak buahnya. Mereka pun menyerang Akaba.

"Heaaaa!" teriak salah satu pria yang mau menghajar Akaba. Akaba lalu segera mempertahankan diri dari serangan itu dengan balik meninju perut lelaki itu.

BUAK!

DRAK!

Lelaki itu tersentak ke belakang dengan memegangi perutnya, menahan sakit. Melihat itu, pria-pria lain pun ikut menghajar Akaba. Isabel segera mundur dari tempat itu. Salah satu dari mereka mengincar wajah lelaki berambut merah itu, namun Akaba bisa menghindarinya dengan baik, bahkan ia balik memukul perutnya. Ada lagi yang mengincar perutnya, tapi ia menghindar ke samping.

Isabel yang berada tak jauh hanya memandang lelaki itu getir. 'Ini semua gara-gara aku,' batinnya kesal. Melihat Isabel yang berada disitu, Anthony segera mendapat pemikiran jenius. Ia lalu segera berjalan pelan menuju Isabel dan segera—

"Ha—APH!"

—Membungkam mulut Isabel. Anthony menyeringai lebar.

"Hahaha! Aku akan membunuh gadis ini!" tawa Anthony meledak. Akaba menoleh ke arah lelaki yang tengah membungkam mulut Isabel itu. Menyadari dirinya sedang dalam bahaya, Isabel segera mengambil tindakan, yaitu—

"ARGH!" pekik lelaki itu kemudian.

—Memukul perut lelaki itu dengan sikunya alias menyikutnya. Tangan lelaki itu segera terlepas dari mulutnya dan Isabel pun berhasil bebas.

"Hei! Ingat ya, meski aku cewek, aku tidak selemah yang kau bayangkan!" teriak Isabel kemudian. Ia pun segera berjalan menuju Akaba dan menarik tangannya—bermaksud keluar dari gudang itu dan lari. Sayang, saat ia sampai di depan pintu gudang, motor milik Akaba sudah lenyap tak berbekas.

"Tch! Meski Alex dan teman-temannya yang lain sudah menyingkirkan motorku!" decak Akaba kesal.

"Lalu bagaimana kita pergi dari tempat ini? Lari?" tanya Isabel gelisah.

"Tepat sekali, Nona Isabel," kata seseorang yang berada di hadapan mereka. Ups—bukan seseorang lagi, tapi beberapa orang. Alex tengah menyeringai lebar melihat kedua orang itu kesulitan.

"Ukh!" geram Akaba dan Isabel bebarengan.

"Kalian tidak bisa lari lagi!" kata Alex seraya dengan beberapa pria yang berjalan ke arah Akaba dan Isabel dari belakang.

"Sial!" ucap Isabel kemudian.

"Semuanya, serang mereka!" perintah lelaki itu sambil menunjuk ke arah dua orang yang tengah dikepung itu.

Pria-pria itu segera berjalan dengan muka garang dan nafsu membunuh yang menguar. Akaba dan Isabel segera bersiap-siap. Isabel pun ikut berkelahi karena ia tak mau merepotkan Akaba lagi.

"Hati-hati, Isabel," ujar Akaba kemudian.

"Un!" Isabel mengangguk pelan namun mantap. Mereka pun lalu berkelahi.

Memukul pipi. Menendang perut. Menyikut perut. Adegan-adegan tersebut terus berulang, dengan nilai kemenangan oleh duo gitaris berambut merah ini. Namun, terlihat Isabel sudah kelelahan. Akaba pun berinisiatif untuk membiarkan Isabel tidak ikut berkelahi dan melindungi diri gadis itu.

Sementara di sisi lain, Alex dan Allen melihat perkelahian itu—minus Reno, yang ikut berkelahi—. Alex merasa bosan dengan perkelahian ini, karena sebenarnya yang ia incar itu adalah mental alias keadaan batin milik gitaris itu jika kehilangan orang yang paling dicintainya. Allen sendiri hanya menatap kejadian itu dengan datar.

"Allen, perkelahian ini membosankan, bisakah kau membuatnya menjadi sedikit... menarik..?" pinta Alex kemudian. Allen menoleh ke arah lelaki itu.

"Kau mau aku membuat ini lebih menarik? Sungguh?" kata Allen kemudian. Alex mengangguk dan menyeringai lebar. Allen hanya tertunduk, namun seringai tipis terukir di bibirnya.

"Baiklah, kalau itu maumu," kata Allen sambil berjalan menjauhi Alex dan menuju arena perkelahian. Terlihat kilau cahaya terang di balik tangan lelaki itu yang basah oleh air hujan. Kilau cahaya akibat tubrukan cahaya lampu malam dan permukaan mengkilap benda yang lelaki itu bawa.

Lelaki itu berjalan di belakang Akaba. Isabel melihat lelaki itu curiga. Ia pun memasang kuda-kuda kalau-kalau lelaki itu mau melakukan sesuatu. Lelaki itu berhenti berjalan dan mulai bersiap untuk—berlari?

Yah, Allen berlari ke arah belakang Akaba dengan sebuah...pisau yang tengah terjulur ke depan, siap menusuk mangsa apapun itu yang berada di depannya. Akaba tak menyadari siapapun yang kini berada di belakangnya karena ia sibuk dengan musuh-musuh di depannya. Apalagi air hujan cukup mengahalangi pandangannya. Jadi, bisa disimpulkan bahwa—

Akaba mau ditusuk!

Isabel yang juga menyadari hal itu membulatkan matanya. Ia lalu segera berlari ke belakang Akaba—mencegah hal yang mau dilakukan lelaki berambut putih itu. Namun—

JLEB!

—terlambat.

Tidak terdengar suara pukulan lagi. Tidak terdengar suara orang berteriak saat melancarkan serangan. Senyap sekejap bagaikan orkestra musik yang baru saja selesai. Hening. Hanya suara ritmis hujan turun yang terdengar bersenandung. Senandung lirih, tentunya.

Darah merah segar terlihat jatuh mengucur di benda tajam itu. Jatuh mengucur bersamaan dengan air hujan yang turun. Turun ke tanah dan menyatu dalam sebuah kesatuan unik. Sepasang mata merah terlihat terbelalak berikut juga dengan sepasang onyx yang tak jauh lebar dari sang mata merah. Si pemilik pisau tersenyum sadis di balik rambutnya yang menutupi wajahnya, sementara sang pemimpin perkelahian ini terbengong namun sedetik kemudian ia tersenyum keji.

"I—Isabel..." gumam Akaba kemudian.

Lelaki yang menghunuskan pisau itu lalu segera menarik pisau itu untuk terlepas dari 'daging' yang ia tusuk tadi. 'Daging' itupun mulai jatuh perlahan di atas aspal jalan yang basah oleh air hujan.

BRUK!

Yah. 'Daging' yang berperawakan seorang gadis cantik berambut merah gelap dengan mata bertahtakan onyx hitam yang kini membulat besar. Yah, Isabel Harvard, itulah 'daging' yang ditusuk oleh benda tajam bernama pisau tadi. Kronologisnya, ia tadi melindungi Akaba yang sedang akan ditusuk oleh Allen dengan secepat mungkin mengarahkan tangan Allen ke arah lain, namun yang ia dapat malah—

"ISABEL!"

—keterlambatan dan tusukan benda laknat itu.

"Ukkh!" erang Isabel sambil memegang perutnya yang berdarah. Akaba segera menghampirinya dan menyangga bahu gadis itu. Semua orang disana hanya mematung melihat itu semua. Yah, sebenarnya orang-orang yang berada disana—minus anggota d'Dark Ray, tidak tahu bahwa nantinya akan menjadi seperti ini.

"Isabel! Isabel! Kau tidak apa-apa?" tanya Akaba khawatir.

"Uhuk!" Isabel terbatuk dan mengeluarkan darah pada batuknya.

"A—Aku akan segera menelpon—" kata-kata Akaba menggantung saat ia menyadari bahwa gudang itu tidak dapat dijangkau oleh sinyal. Daerah tanpa sinyal. "Tch!" decaknya kemudian.

"Ugh.. A..Aku... ti..tidak.." Isabel mengambil napas sejenak.

"Kau jangan memaksakan diri Isabel!" kata Akaba kemudian.

Isabel menggeleng lemah. "A.. aku... tidak.. a.. apa.. apa.. Haya.. to.." ujar Isabel dengan senyum yang terpatri di wajah cantiknya yang terlihat lemah kini.

"Kau tertusuk! Mana mungkin kau tidak apa-apa!" bentak Akaba lagi. Bentakkan yang menyiratkan kekahawatiran.

Isabel hanya tersenyum. Ia tahu, kekasihnya itu benar-benar khawatir.

"Kau tetaplah disini! Aku akan membereskan mereka semua!" kata Akaba kemudian sambil membaringkan tubuh Isabel di tanah. Akaba pun berbalik menatap seluruh musuhnya dengan tatapan benci yang dibalas dengan tatapan horror dari sang musuh.

BUAK!

DUAK!

DAK!

DRAK!

Akaba tak henti-hentinya melancarkan pukulan di tubuh lawannya—membuat lawannya tak bisa bangkit lagi. Dia sungguh-sungguh dikuasai oleh amarah kini. Yah, siapa yang tidak marah jika kekasih yang paling dicintai ditusuk dengan keji oleh seseorang dengan menggunakan pisau? Bahkan pisaunya dicabut kembali, sakit kan?

Sementara di sisi lain, Isabel melihat ke atas langit yang berwarna hitam dan sedang menurunkan bulir-bulir air hujan. Dengan tangan bergetar, gadis itu lalu merogoh saku jas merahnya. Ia meraih sebuah kotak kecil berwarna merah dan dihias dengan pita berwarna emas dengan aksen glitter. Ia memandangi kotak kecil yang kini mulai basah oleh air hujan itu.

Di sisi lain, seluruh lawan sudah selesai dihabisi, tinggal sang bos saja. Akaba lalu segera berjalan ke arah Alex, tapi yang ia lihat, raut wajah Alex tengah—

"A—Aku...ti—tidak membunuhnya.." racau lelaki itu tak jelas. 'Hei! Ada apa dengan lelaki itu?' Pikir Akaba kemudian dengan menghentikan langkah kakinya.

—menghoror dengan tidak normalnya. Yah, kini lelaki yang menyandang otak di balik penculikan ini tengah memegang wajahnya dengan tatapan horror. Oh, apa yang tengah ia takutkan kini?

"Aku tidak membunuhnya! Aku tidak membunuhnya! AKU TIDAK MEMBUNUHNYA!" racau lelaki itu makin keras namun tidak jelas.

"Hoi, Alex! Yang kau maksud itu membunuh siapa?" tanya Akaba penasaran dengan siapa yang dibunuh Alex. Perasaan yang menusuk Isabel itu Allen dan Isabel belum mati!

"Tidak! Bukan aku! Bukan aku! BUKAN—AAAAAAAAA!" lelaki itu kini berteriak kencang seperti orang gila. Sementara Allen, sudah pergi meninggalkan TKP dengan gelar 'penusuk pelarian' kini. Kini, Akaba semakin bingung dengan ulah Alex yang bak orang gila kesasar itu. Melihat lawannya yang kini gila itu, ia lalu berbalik ke arah Isabel.

"Isabel!" teriaklelaki itu sambil memegang bahu Isabel. Isabel menoleh ke arahnya. Darah masih mengucur di perutnya. Sepertinya dia kini tengah kehabisan banyak darah.

"Hayato... ada yang mau... kuberikan... padamu," kata Isabel kemudian sambil menyerahkan kotak kecil berwarna merah tadi—yang kini basah oleh air hujan. Akaba terkejut saat tangan mungil Isabel menyodorkan kotak itu padanya.

"O...tanjoubi... ome..dettou... Hayato..-kun," kata Isabel melafalkan sebaris kalimat berbahasa Jepang itu. Mata merah Akaba terbelalak mendengar hal itu.

"Darimana..kau belajar bahasa Jepang, Bel?" tanya Akaba dengan senyum miris di wajahnya.

"Ehehe...di internet..." jawab Isabel dengan sebuah tawa kecil nan lemah di bibirnya.

"Arigatou," jawab Akaba sambil meraih kotak itu. "Apa ini?" tanya Akaba kemudian.

"Hadiah ulang tahunmu," jawab Isabel dengan senyum tipis lagi.

"Boleh kubuka?" tanya Akaba lagi.

"Buka saja!" jawab Isabel dengan nada senang. Akaba pun lalu menarik pita berwarna emas itu. Dengan pelan, simpul pita itu terbuka. Lelaki itu lalu membuka tutup kotak itu dan terlihat—

"I—Ini..." gumam Akaba terkejut.

—sebuah pick gitar kecil yang berwarna merah. Sederhana memang. Namun, pick gitar itu dihiasi dengan warna glitter emas dan yang paling membuat Akaba terkejut adalah, huruf H dan I yang terukir di atasnya dengan warna glitter emas itu.

"Untukmu, Hayato," ujar Isabel lagi. "Aku tahu, mungkin... harganya.. nggak seberapa, tapi.. hadiah ulang tahun.. yang terpikirkan olehku... hanya itu," jelas Isabel dengan napas satu duanya. Dia belum sembuh benar. Ya, mereka tidak pergi dari tempat itu. Gudang itu jauh dari kota, sekitar 3 kilometer jauh dari kota terdekat. Sungguh tempat yang paling tepat sebagai tempat penyekapan.

Akaba sendiri tenang-tenang saja, karena dia sendiri sudah mengatakan pada teman-temannya sebelum berangkat, jika ia tidak kembali pada waktu 3 jam, maka mereka harus menyusulnya dengan membawa bantuan, dokter misalnya. Akaba sudah tahu bahwa saat ia menyelamatkan Isabel, dia takkan kembali dengan keadaan sehat, dan kenyataan pun mengatakan demikian. Kini waktu sudah terlewat sekitar 5 menit untuk Watt dan yang lain untuk punya hak menyusul mereka.

"Isabel bodoh..." kata Akaba kemudian dengan wajah menunduk. Isabel sontak menoleh ke arahnya.

"Benda ini jauh lebih berharga daripada sebuah berlian di mataku!" lanjut lelaki itu dengan wajah ingin menangis, atau sudah menangis? Mengingat air hujan dan tangisan tidak ada bedanya di bawah guyuran hujan kini.

Isabel tersentak mendengar kata-kata itu. Sebuah senyumpun terukir manis di wajahnya. "Arigatou... Hayato," kata Isabel melafalkan kata terima kasih itu.

"Sepertinya nanti aku harus berbicara denganmu dengan menggunakan bahasa Jepang," ujar Akaba kemudian.

"Hei, aku kan hanya mengucapkan apa yang sering orang Jepang katakan saja. Aku belum begitu tahu dasar-dasarnya!" kata Isabel lemah dengan masih memegang perutnya yang entah kenapa makin sakit. "EKH!" erang gadis itu kemudian.

Akaba segera tersentak dan memeriksa keadaan gadis itu. "Isabel, kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir. Isabel menggeleng lemah dengan masih menahan rasa sakit itu.

"Ti—Tidak apa-apa, kok," jawabnya lemah.

"Sabar Bel, mereka pasti akan datang sebentar lagi! Tahan sebentar Bel!" pinta Akaba dengan muka khawatir tingkat akut.

"Apakah... sudah saatnya..?" gumam Isabel kemudian. Akaba terkejut.

"A—Apa maksudmu, Bel? Kau tidak akan..." Akaba menggantungkan kalimatnya.

"Mungkin... sebentar lagi ya..." gumam Isabel semakin tidak jelas.

"Jangan berkata seperti itu, Bel! Mereka pasti akan datang sebentar lagi! Sebentar lagi! Tahan dulu, Bel! Kau tidak boleh ma—"

"Merah..." ucap gadis itu tergantung.

"Eh?" Akaba menghentikan ucapannya tadi. Isabel menoleh ke arahnya.

"Merah yang mempertemukan kita... Merah yang menghubungkan kita... dan merah..." Isabel menggantungkan kalimatnya.

"... yang memisahkan kita.."

DEG!

Sejenak, jantung Akaba seakan berhenti berdetak.

"Jangan bicara seperti itu, Bel! Aku tak mau kau meninggalkanku!" teriak Akaba sambil memeluk gadis itu erat. Isabel hanya membalas pelukan itu dengan lemah dan tersenyum yang sama lemahnya dengan pelukannya. Senyum pasrah, eh?

"Tapi... aku sudah... tidak kuat lagi." ucap gadis itu dengan senandung lirih. Akaba serasa mendengarkan sebuah bunyi Dissonance dan melodi lagu Fur Elise bersamaan di pendengarannya kini.

"Kau tidak boleh pergi, Bel! Mereka pasti akan segera datang! Kau harus menahannya sebentar saja!" kata Akaba dengan mengeratkan pelukannya. Sungguh ia tak mau kehilangan gadis ini. Isabel pun meregangkan pelukannya dari pelukan Akaba. Mata onyxnya lalu menatap merahnya mata Akaba. Ia lalu memegang pipi lelaki itu dengan kedua tangannya. Air mata yang samar teralir di pipi putih gadis itu.

"Maaf, Hayato... Tapi.. aku sudah tak bisa menahannya lagi..." kata gadis itu dengan tetap berusaha tersenyum.

"Isabel! Kau harus bertahan sebentar saja! Ah, tch! Kemana saja sih mereka? Ini terlalu lama!" decak pemuda itu kesal sambil menoleh ke arah lain. Isabel menggeleng pelan.

"Sudah. Tidak usah..." gumam gadis itu kemudian.

"Tapi, Bel! Jika kau tidak kuat kau akan ma—"

Akaba merasakan sentuhan lembut di bibirnya. Lembut dan terasa lemah. Jarak tereliminasi di antaranya dan gadis itu, membuat lelaki itu hanya mampu melihat wajah sang gadis yang sedang menutup matanya. Isabel melepaskan ciumannya kemudian, sementara Akaba masih bingung dengan apa yang dilakukan gadis itu tadi.

"Hayato..." ucap gadis itu kemudian.

"... Aishiteru yo.." lanjut gadis itu dengan sebuah senyuman manis terlukis di bibirnya. Mata merah Akaba terbelalak mendengar hal itu. Sedetik kemudian, tubuh gadis itu mulai mengendur dan jatuh ke pelukan lelaki itu.

"Isabel..." panggil Akaba kemudian. Namun, jawab tak kunjung datang.

"Isabel..." panggilnya sekali lagi. Namun, sekali lagi pula, hanya sepi yang menjawab.

"Isabel!" panggilnya semakin keras. Sekali lagi, derai hujanlah yang malah menjawabnya.

Akaba lalu lepaskan pelukannya dari gadis itu. Ia melihat kedua permata onyx itu tealh tertutup.

"Isabel! Kau tidak apa-apa kan, bel?" teriak Akaba dengan suara cemas. Namun, hanya senyum aneh yang menjawabnya—senyum aneh gadis itu.

"Bel! Bangun, bel!" senyum aneh yang membawanya melepaskan ikatan jiwa dengan raga itu.

"Bel... Isa... bel...?" Akaba memandang sosok itu tak percaya. Ia tak percaya bahwa—

"ISABEEEEEEEEEEEEEEEEL!"

—sosok itu telah tertidur dengan tenang dalam tidur abadinya. Tidur abadi dimana ia tak akan bisa bangun kembali. Bahkan setelah dicium oleh sang pangeran. Ia takkan pernah membuka permata onyx itu lagi. Ia takkan pernah menyinggungkan senyum itu lagi. Ia takkan pernah menyenandungkan sebuah lagu lagi. Ia takkan pernah kembali lagi dengan sosok jiwa bersama raga. Takkan pernah.

.

.

.

Al Fine

.

.

.

Beberapa menit kemudian, terdengar riuh deru motor dan mobil mendekati gudang tua itu. Watt dan yang lainnya hanya dapat menemukan seorang pria berambut merah yang tengah memeluk seseorang berambut merah panjang sambil menangis dan meneriaki nama—mungkin—orang yang ia peluk itu di bawah rintik air hujan yang hampir akan reda. Mereka terlambat, hanya itu yang terpikirkan oleh Watt.

Akaba masih memeluk gadis itu dan meneriaki namanya untuk bangun—meski ia tahu, gadis itu takkan membuka matanya. Bernapas pun tidak bisa. Semua sia-sia. Gadis itu takkan bangun.

Setelah membujuk lelaki berambut merah itu untuk segera membawa Isabel ke rumah sakit untuk diotopsi, mereka lalu segera meluncur ke rumah sakit itu. Dengan sedikit amukan penyalahan oleh Akaba kepada teman-temannya, toh mereka semua sudah sekuat tenaga untuk bisa kesana secepat-cepatnya.

Menurut cerita dari Felica, mereka tadi terjebak macet, sementara air hujan membuat jalan licin dan mereka harus berhati-hati dalam mengendarai mobil. Selain itu, jarak bekas gudang tua itu dengan kota mereka sangat jauh. Jadi, keterlambatan itu tidak seratus persen kesalahan mereka. Mereka sudah berusaha.

Setelah sampai di rumah sakit, Isabel diotopsi dan dibawa ke kamar mayat dan akan dikuburkan besok di Los Angeles Public Graveyard pukul 10.30 setelah melakukan upacara kematian di gereja setempat. Tempat peristirahatan terakhir untuk Isabel Harvard.

And this story have been end...

.

.

.

Coda

.

.

.

Graveyard, September 21st, 2013

"Itulah saat terakhir aku melihatmu..." kata lelaki berambut merah itu kemudian sambil tetap memandang lurus ke depan. Mata merah yang tertutupi sunglasses itu terlihat sendu. Senyum tipis melengkung di bibirnya. Senyum tipis yang pahit.

"Kau tahu, setelah itu aku berhenti dari THE BLOOD dan kembali pulang ke Jepang karena ayahku pindah kembali kesana. Meski begitu, lima tahunku disana—dan juga bersamamu—tidaklah buruk," kata Akaba lagi. Akaba lalu tertunduk sesaat dan kemudian menoleh ke arah batu nisan yang dihasi bunga chrysanthemum putih di atasnya.

"Maaf, Bel, aku tak bisa memenuhi janjiku untuk membawamu ke Budokan," ucap lelaki itu sambil mengelus batu nisan itu perlahan. "Maafkan aku..." gumamnya lirih lagi.

"Bel... apakah kau... tenang disana..?" tanya Akaba kepada sang makam—yang jelas-jelas mau sampai kiamat pun takkan terjawab—itu. Akaba hanya menunggu dalam diam akan jawaban sang makam.

"Aku harap... ya," jawabnya sendiri sambil tersenyum tipis. "Karena aku pasti akan tersiksa jika kau sampai menangis disana," tambahnya lagi.

"Kau tak perlu menangis atau menyalahkan dirimu, Bel, karena melihatku bersedih. Karena sekarang, aku sudah tidak bersedih lagi akan kematianmu ini," katanya lagi.

"Aku akan baik-baik saja meski tanpamu di sisiku. Semua akan baik-baik saja,"

"Karena cinta kita akan abadi dalam ikatan benang merah yang tak akan terputus walau kita mati. Tidak akan terputus. Karena warna dari benang itu adalah merah, dan..."

"...kita dihubungkan oleh warna merah juga kan?" katanya kemudian sambil tersenyum menatap nisan di depannya. Ia pun lalu melangkah meninggalkan makam kekasihnya itu. Ia tahu, meski kekasihnya telah pergi meninggalkannya, tapi ia masih percaya bahwa cintanya dengan gadis itu tetap abadi dalam suatu ikatan benang berwarna merah. Karena merah adalah warna yang menyatukan mereka.

.

.

.

End

.

.

.

.

.

.

...Krik.

Ending macam apa pula ini? ;_; #headdesk

Minna-sama, gomen ne, kalau ending ancur nan abal kayak gini. Saya bingung harus mengakhiri cerita ini kayak apa ;_; #headbang

Apalagi adegan berantemnya, sumpah, gajeee ;A; Mana ada masalah kelainan kepribadian (Alex ketakutan sendiri itu lho) bisa keseret-seret lagi. Orz...

Ta—Tapi, akhirnya saya bisa menyelesaikan fic ini juga. Ini fic multichap pertama saya yang udah complete. Yahaaaaaaa! *tebar-tebar confeti*

Oh, ya, sebelumnya saya mau berterimakasih kepada :

Mitama 134666, Yaklin1412, Akita Need –Musicspeech, Yukari Hyuu-Kei, undine-yaha, DarkAngelYouichi, Nxkwlyac, Just Teen Reader -.- Hamazaki, i DON'T know, RenDhi Hayato Araide, dan roronoalolu youichi yang sudah mereview fic ini, baik di chapter 1, 2, 3, 4, 5, atau 6. Hontou ni arigatou gozaimashita (_ _). Maaf, kalau dalam penulisan cerita ini ada salah-salah kata, author kan juga manusia m(_ _)m.

Oya, dan buat Jillian Leonhart yang secara tidak langsung menginspirasi saya untuk membuat fic ini. Arigatou!

Nee, minna-sama, mind to review this last chapter?

REVIEW PLEASE!

Tunggu cerita saya yang berikutnya ya! XD #ditendang

Arriverdecci,

Hikari Kou Minami