Hai-hai…
Err~ mohon bantuannya lagi yach para Senpai.
Kalau ada yang salah kasih tahu (padahal enak tempe)
Yasud,daripada banyak cekcok dan bacot,
Yang dapat menimbulkan serangan jantung,impotensi,gangguan kehamilan dan janin,
Lebih baik,Tarraaaa…!
Ini dia… Eng~ing~eng~
Mungkinkah stage : 2
(Lembar Baru)
Disclaimer always and forever : Masashi Kishimoto
The Story by : Akasuna no Hataruno Teng-chan
Pukul sepuluh telah terbangun dari tidurnya. Dikerjap-kerjapkannya mata emeraldnya,hingga akhirnya ia sadar telah berada di kamarnya sendiri. Sudah diduga sebelumnya,pasti Sasuke telah membawanya pulang. Kemudian Sakura kembali mengedarkan pandangannya lagi,ditangkapnya bayangan seseorang yang ternyata Sasuke yang tengah berdiri menghadap jendela dan baru saja menyibak tirai yang membuat cahaya matahari pagi yang telah terik dapat menerobos masuk dan membuatnya terbangun.
"Pagi Sasuke…!" Sapa Sakura sambil memperlihatkan senyumannya yang (sangat) manis,namun hanya dibalas dengan tatapan heran dari Sasuke.
"Ada yang aneh denganku kah?" Tanya Sakura innocent.
"Hn,sangat aneh!"
"Apa itu? Apakah ada sisa enzimku yang mengering disekitar bibirku sehingga seperti taring?"
"Mana omelanmu untukku? Menyalahkan aku yang telah susah payah membawa badanmu yang sangat berat sampai kerumah," Tanya Sasuke sambil berjalan mendekati Sakura yang kemudian duduk di pinggiran ranjang.
"Oh…Jadi kamu lebih suka aku terus mengomelimu?," Kata Sakura sambil memelototi Sasuke dengan main-main."Yasudah…Sekarang ambilkan aku minum dan makanan! Aku lapar! Hei pembantu baka!" Timpal Sakura dengan penekanan di tiga kata terakhirnya.
"Bukan seperti itu! Dan aku bukan pembantumu!" Sergah Sasuke. "Apakah kau tak memarahiku karena telah membawamu pulang tanpa~ Kakashi?" Lanjut Sasuke dengan sangat hati-hati.
Sakura tak menjawab pertanyaan dari Sasuke,dan memilih menundukkan kepalanya.
"Sakura,jawab aku!" Sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Sakura mencoba menengadahkan kepala pink tersebut supaya mata emeraldnya dapat bertatapan dengan onyx miliknya.
"Tak ada yang perlu dijawab lagi Sasuke,semuanya sudah jelas. Cepat atau lambat aku harus bisa mencoba merelekan Kakashi,meski aku tak pernah dapat melupakannya. Sekarang mataku telah terbuka Sasuke,masih ada seseorang yang sangat peduli padaku. Dan itu kamu Sasuke. Aku tidak bisa membayangkan jika selama ini tak ada dirimu disampingku. Dan sekarang aku telah mengetahui alasan mengapa kau selalu disampingku. Kau pasti tahu alasannya kan Sasuke?" Jawab Sakura dengan panjang lebar yang dihiasi senyumannya yang getir namun terlihat begitu tulus sambil memegangi kedua tangan Sasuke yang memegangi pipinya.
Seketika itu juga Sasuke langsung merasakan lidahnya berubah menjadi kaku dan kelu untuk berbicara dan menjawab pertanyaan namun lebih terdengar sebagai pernyataan di telinga Sasuke."Ya,karena aku…aku…"
"Ya,karena kamu adalah sahabat terbaikku sampai kapanpun. Benarkan Sasuke?" Potong Sakura.
"Hn. Aku sahabatmu untuk selamanya Sakura" Jawab Sasuke kemudian memeluk Sakura dan meletakkan kepalanya di pundak Sakura.
'Sahabat? Apakah tiada lagi ruang di hatimu untukku Sakura? Apakah aku hanya sahabat di matamu? Tak lebihkah?' Batin Sasuke.
Tanpa terasa setitik airmata tumpah dari mata onyxnya,membasahi pundak putih gadis yang dicintainya. Sakura akhirnya menyadari ada sesuatu yang membasahi pundaknya,kemudian dia melepaskan pelukannya dan meraih kepala yang mirip ekor ayam itu.
"Kau~menangis?"
"Aku hanya bahagia,akhirnya kau merelakannya. Dan juga,kau telah menganggapku sahabat terbaikmu." Itulah kalimat yang terlontar dari bibirnya. Bertolak belakang dengan perasaannya yang sebenarnya.
Sakura lalu mencium kening Sasuke dengan sangat lembut. Sasuke yang merasakan perlakuan Sakura hanya mampu memejamkan matanya menikmati sensasi yang sangat aneh,namun menyenangkan baginya.
"Sasuke…Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Baka! Ya sebagai balasan semua yang telah kau berikan padaku. Maaf! Karena aku sering merepotkanmu."
" memang merepotkan," balas sasuke dengan (sok) dingin.
'Semuakah Sakura? Apa termasuk cintaku yang seluruhnya hanya ingin kuberikan untukmu? Ya,hanya satu yang tak sanggup kau balas padaku untuk selamanya,yaitu cintaku' Batin Sasuke dalam hatinya.
"Begitu ya? Jadi aku benar-benar merepotkan?" gerutu Sakura berkacak pinggang dan menggembungkan pipinya.
"Pikir sendiri! Sekarang cepat mandi,kita keluar!" diacak-acaknya rambut Sakura.
"Yeeeyy… Siap kapten!" sahut Sakura dengan cerianya,yang langsung bergegas ke kamar mandi.
Sementara itu,Sasuke yang melihat tingkah Sakura hanya tersenyum,namun hatinya sangat sulit untuk merasakan kebahagiaan.
'Maafkan aku Kakashi,telah lancang mencintai gadismu.'
Mereka berangkat tepat jam sebelas. Terlihat Sasuke mengendarai motor racing birunya,dengan membonceng Sakura yang terlihat begitu bersemangat.
Cuaca hari itu sangat bersahabat. Banyak warga Konoha tak terkecuali Sasuke dan Sakura yang tak menyia-nyiakan kesempatan untuk keluar rumah,mengingat hari-hari kemarin yang selalu diguyur hujan. Mulai dari kedai-kedai makanan hingga Taman kota yang biasanya sepi menjadi ramai kedatangan pengunjung.
Sekarang Sasuke tengah mengajak Sakura makan di kedai ramen Ichiraku. Sebenarnya Sasuke enggan mengajak Sakura ke tempat ini,mengingat dulu di tempat ini selalu digunakan sebagai tempat berkumpulnya 4 siswa dari Konoha High School,yaitu Naruto,Sasuke dan Sakura ditambah Kakashi sebagai Guru Les mereka. Ya,meskipun Kakashi hanya lebih tua dua tahun dari mereka,atau lebih jelasnya masih kakak kelas mereka saat itu,tapi Kakashi telah menjadi guru les mereka bertiga. Dan setiap usai belajar bersama,Naruto selalu merengek mengajak ke Kedai Ichiraku. Ichiraku tetap seperti yang dulu,tak ada yang berubah. Namun yang berubah adalah jumlah mereka yang hanya mereka berdua. Mengingat Naruto yang melanjutkan kuliahnya di Kumogakure,dan Kakashi yang…
"Sudah lama ya Sasuke,kita tidak berkunjung kesini. Aku rindu sekali dengan masakan Paman Teuchi." Suara Sakura membuyarkan lamunan Sasuke.
"Hn," Hanya suara yang bisa dibilang nggak jelas meluncur dari mulut Sasuke sebagai pengganti jawaban `YA`.
Begitu Sakura memasuki kedai Ichiraku,Sakura langsung mendudukan dirinya di kursi yang biasanya dulu sering dia duduki. Tak lama kemudian,terlihat paman Teuchi pemilik kedai keluar dari dapur. Terlihat dari wajahnya,Paman Teuchi terkejut karena melihat pelanggan lamanya.
"Sasuke,Sakura! Gimana kabar kalian?" Sapa Paman Teuchi ramah.
"Kabar kita baik paman. Paman sendiri?" Jawab Sakura dengan senyumannya seakan tak ada yang terjadi apapun di hari-hari kemarin.
"Syukurlah…Paman sendiri juga ! Berhubung kalian pelanggan setia Paman yang lama tidak kesini,Paman akan membuatkan ramen gratis untuk kalian berdua."
"Waaahhh….Paman baik sekali! Terima kasih ya paman. Sasuke,bilang terima kasih donk!"
"Hn,terima kasih!" Jawab Sasuke dengan singkat,padat dan nggak jelas.
Paman Teuchi hanya menanggapinya dengan gelengan kepala,karena dia telah mengetahui karakter masing-masing yang berbeda-beda. Kemudian dia melenggang kembali ke dapur untuk membuatkan ramen spesial (ramen seperti biasa,hanya saja harganya yang special) untuk Sasuke dan Sakura. Tak sampai sepuluh menit akhirnya Paman Teuchi menyelesaikan tugasnya dengan baik. Tak ada yang berbicara selama aktifitas makan berlangsung. Bahkan Sakura yang dikenal cerewetpun lebih memilih diam demi menikmati ramen gratis itu hingga sepuluh menit kedepan.
Akhirnya setelah semua selesai menandaskan ramennya,merekapun segera beranjak pergi dari Kedai,mengingat banyak juga pengunjung yang datang dan mereka berdua merasa alangkah lebih baik jika lekas pergi,karena kasihan pengunjung yang tidak mendapatkan meja kosong. Namun sebelum beranjak mereka sempat-sempatkan pergi ke dapur untuk menemui Paman Teuchi hanya sekedar berpamitan dan berterima kasih (lagi).
"Sasuke,kita mau kemana?" Tanya Sakura yang mencoba memecah keheningan karena mereka banyak berdiam sepanjang perjalanan,dan juga ingin mengakhiri rasa penasarannya karena Sakura merasa asing dengan jalan yang sedari tadi mereka tempuh.
"Nanti kau tahu," Jawab Sasuke enteng.
Sekarang mereka tengah berada diatas bukit yang berada lumayan jauh dari kota konoha,bahkan lebih dekat dari Suna. Butuh waktu satu jam untuk sampai kesana jika kau bereda di pusat kota Konoha. Dari atas sana dapat dilihat pemandangan yang menakjubkan. Diantaranya sungai yang membentang indah sebagai batas antara kota Konoha dan Suna. Dan juga bangunan-bangunan mulai dari rumah penduduk hingga kantor yang berada di Suna dapat dilihat dari sana,dan jika malam tiba,lampu-lampu penerangan yang berada di bawah sana akan terlihat seperti bintang-bintang di bawah langit. Sayangnya mereka tidak kesana pada malam hari. Nemun itu semua tak mengurangi kekaguman di dalam hati Sakura.
"Waaahhh… Indah sekali Sasuke. Darimana kau tahu tempat ini Sasuke?" Tanya Sakura masih dengan memandang takjub pemandangan di hadapannya.
"Dulu aku dan Kakashi sering kesini," Jawab Sasuke yang lebih memilih menatap langit. "Dan ada yang ingin kutunjukkan padamu," Tanpa mengijinkan Sakura bertanya `apa itu` Sasuke langsung menuju kearah pohon di belakang mereka,dan selanjutnya Sasuke menggali tanah yang dapat digali hanya dengan bantuan ranting patah saja. Kemudian diambilnya sebuah botol yang berisi kertas dari dalam tanah tersebut. Terlihat di dalamnya dua lembar kertas mengisi botol itu.
"Apa ini Sasuke?"
"Ini impianku dan Kakashi jika kita memiliki wanita yang kita cintai.. Kertas berwarna hijau ini milik Kakashi, biru milikku. Kurasa sekarang waktu yang tepat untuk membacanya," Jelas Sasuke..
Kemudian dengan peralahan Sakura mulai mengambil kertas berwarna hijau untuk dibacanya.
``Aku Kakashi. Jika kelak aku sudah dewasa aku ingin wanita yang aku cintai dapat bahagia selamanya. Melihatnya tersenyum adalah hal terindah bagiku,dan melihatnya menangis adalah hal yang dapat membunuhku.``
Setelah membaca tulisan milik Kakashi,Sakura memeluk erat kertas itu. Kembali diteteskannya air dari matanya,namun Sakura segera menghapusnya,karena dia sadar itu semua hanya akan membuat Kakashi sedih.
"Aku berjanji tak akan menangis lagi Kakashi. Aku berjanji."
"Sakura… Bersediakah kau membaca milikku?"
"Mengapa harus aku?"
"Karena memang hanya kau yang pantas."
"Baiklah…"
Dibukanya perlahan kertas berwarna biru. Dan dibacanya tulisan yang menurut Sakura lebih singkat itu.
``Aku Sasuke. Aku hanya ingin menjaganya seumur hidupku. Aku rela mati untuknya.``
Sakura hanya memandang Sasuke yang tengah menatap langit mendung diatasnya. Sasuke yang merasa dipandang akhirnya kembali menatap Sakura. Hening.
"Siapa wanita beruntung itu Sasuke?" Tanya Sakura dengan senyumannya.
"Wanita beruntung?"
"Jangan pura-pura tak mengerti kau Sasuke. Seingatku kau tak pernah menjaga seorang wanitapun di dunia ini kecuali ibumu dulu yang sekarang telah meninggal dan juga… aku," Sakura membekap mulutnya dengan tangannya karena sadar akan perkataannya.
"Hn,wanita itu kamu Sakura," Ucap Sasuke yang masih menatap lekat mata emerald Sakura.
Hening. Hanya suara angin yang terdengar. Sekarang yang ada dipikiran Sasuke adalah Sakura akan menampar dirinya dengan sekuat tenaga monster yang dimiliki Sakura karena telah lancang mencintainya.
GREB…!
Namun diluar dugaannya,Sakura malah menghambur kedalam pelukan Sasuke. Sasuke yang masih belum bisa menerima perlakuan Sakura ini hanya mampu berdiam diri.
"Maafkan aku Sasuke… Aku tak bisa membalas cintamu."
"Tak perlu kau minta maaf padaku. Aku yang telah lancang," Balas Sasuke yang kali ini membalas pelukan Sakura.
"Tidak Sasuke… Mulai sekarang aku akan belajar mencintaimu. Jangan menolak,ini keputusanku."
"Jangan memaksa dirimu Sakura. Sekarang kita pulang. Kelihatannya hujan akan turun," Ajak Sasuke yang hanya dibalas anggukan kepala sakura.
Namun saat Sasuke akan menyalakan motornya,tiba-tiba ponselnya berbunyi. Tertera nama ayah angkatnya ~Sakumo-tousan~. Terdengar Sasuke yang menjawab telepon di seberang sana dengan jawaban ``Ya`` dengan ciri khasnya.
"Ada apa Sasuke?"
"Tousan bilang aku harus cepat pulang. Kau kerumahku saja."
"Hai!"
Akhirnya setelah empat puluh lima menit,mereka tiba juga di kediaman Hatake. Sasuke langsung menyuruh Sakura duduk di ruang tamu,sedangkan Sasuke langsung menemui Tuan Sakumo di ruang kerjanya dan Tuan Haruno yang ternyata juga berada disana. Entah apa yang mereka bicarakan,mungkin masalah pekerjaan mengingat Sasuke sekarang juga mulai ikut serta dalam perusahaan yang dibangun ayah angkatnya dengan Tuan Haruno.
Saat duduk sendiri,tiba-tiba matanya tertuju pada foto di dinding. Foto Pria yang sangat dicintainya. Hatake Kakashi. Kemudian Sakura beranjak dari sofa dan menghampiri Foto Kakashi yang menggantung di dinding samping pintu ruang kerja Tuan Sakumo. Dirabanya foto itu,seolah itu adalah sosok yang sebenarnya. Saat Sakura tengah hanyut membayangkan masa lalunya dengan Kakashi,tanpa sengaja telinganya menangkap pembicaraan ketiga Pria di dalam sana.
"Ayolah Sasuke,Paman percayakan Sakura padamu. Karena Paman merasa hanya kau yang pantas di sampingnya selain almarhum Kakashi," Terdengar suara ayah Sakura memohon pada Sasuke.
"Dan lagipula kau adalah penerus perusahaan kita ini,menggantikan Kakashi sebagai ahli warisku," Timpal Tuan Sakumo.
"Maaf paman,ayah. Aku tidak bisa,aku tak ingin melihat Sakura sedih karena dia hanya mencintai Kakashi. Meskipun aku cinta padanya. Kurasa dia akan keberatan."
"Aku bersedia! Mengapa Ayah,Paman,dan kau Sasuke,harus menyembunyikan ini semua dariku? Padahal ini semua menyangkut tentang diriku. Dan Kau Sasuke! Kau pikir aku akan terima dengan keputusanmu?" Sela Sakura yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan.
"Sakura,aku hanya tak ingin mengecewakanmu sebagai sahabat,aku…"
"Hah! Mengecewakan? Kau akan lebih mengecewakanku jika kau menolakku. Paman,Ayah! Aku ingin pernikahan berlangsung secepatnya!" Pinta Sakura pada Tuan Sakumo dan Ayahnya.
"Sakura…" Gumam Sasuke tak percaya.
"Baiklah,secepatnya akan kami siapkan," Jawab Tuan Haruno.
Sementara di tempat lain…
Prrraaannngggggg…!
Terdengar suara gelas pecah dari genggaman seorang pria.
"Arrrggghhhh…! Siapa aku ini…!" Teriak seorang pria sambil menjambak rambut peraknya.
TBC
Akhirnya selese…
Maaf,mungkin apdetnya lama.
Special Thanks to : Olive meow,Hikari Uchiha Hatake,It'sMeRyuki,Awan Hitam-senpai,Devil's Kunoichi a.k.a Bunga,juga Silent reader (jika ada) yang telah rela membuang waktu untuk membaca fict abal ini. Sebuah pengakuan,saya sebenarnya ragu untuk melanjutkannya. Tapi berkat review yang sangat membangun dari anda-anda semua,saya nekat juga. Yah… lebih mending daripada menelantarkan fict.
Don't Forget for
R
E
V
I
E
W
Gak ada pajaknya kok…
*BLAM!-Dibom anak buah Mang Udin a.k.a Nurdin,gara-gara banyak berorasi-*
