Mungkinkah Stage : 3

(Kembalinya Masa Lalu)

Disclaimer always and forever © Masashi Kishimoto

The story by Akasuna no Hataruno Teng-chan

"Gin!" teriak seorang wanita yang terkejut melihat apa yang terjadi di hadapannya.

"Arrghh…!" tak ada respon yang berarti,karena yang ditanya lagi-lagi hanya mampu mencengkeram rambutnya lagi.

"Apa yang terjadi? Kau mimpi buruk lagi?" kemudian dengan cepat-cepat wanita itu mengambilkan minum untuk lelaki di hadapannya. "Ini. Minumlah!".

Hening sejenak menunggu Si Lelaki menandaskan minumnya. Setelah merasa cukup tenang,Rin,wanita tersebut kembali menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi pada lelaki berambut perak tersebut.

"Sekarang. Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi,Gin."

"Aku… aku kembali memimpikannya Rin," jawabnya dengan nafas yang tersengal-sengal. "Di dalam mimpiku,aku kembali bertemu dengan seorang gadis. Namun lagi-lagi aku tak tahu seperti apa dirinya,karena setiap dia muncul,aku selalu pada posisi membelakanginya. Tidak seperti biasanya,dia yang selalu memintaku untuk kembali. Namun kali ini dia malah menyuruhku untuk melupakannya. Dan entah mengapa,setelah aku terbangun hatiku merasa gelisah," lanjutnya.

"Sudahlah Gin… Mungkin suatu saat nanti kau akan tahu siapa kau sebenarnya. Sekarang lebih baik kau mandi," ucap Rin kemudian pergi setelah menepuk bahu Gin pelan.

"Aku harap begitu Rin. Namun yang masih terpikirkan olehku,mengapa setiap ku bermimpi dengannya,selalu berada di bawah pohon sakura?" gumam Gin.

"Sakura… Aku ingin kau memikirkannya untuk kedua kalinya," Kata Sasuke yang memecah keheningan setelah hampir setengah jam mereka berdiam diri duduk di halaman belakang,kediaman Hatake.

"Aku telah memikirkannya berkali-kali," jawab Sakura yang tetap fokus pada pekarangan bunga di depannya.

"Kau akan menyesal Sakura."

"Aku tak akan pernah menyesal," jawabnya dengan cepat.

"Jangan bodoh!"

"Aku memang bodoh!"

"Sakura,aku bukan yang terbaik untukmu. Aku tak pantas untukmu," ucap Sasuke lagi setelah menghela nafasnya.

Akhirnya Sakura menatap Sasuke yang juga tengah menatap dirinya. Diarahkannya wajahnya,tepatnya bibirnya pada bibir Sasuke,hingga tak ada jarak lagi untuk mereka berdua. Sasuke kaget perihal yang dilakukan Sakura pada dirinya,namun Sasuke tetap tak membalasnya,walaupun dia dapat merasakan bibirnya telah dilumat oleh Sakura. Akhirnya Sakura kembali menyudahi ciuman itu dan tersenyum sambil menatap Sasuke (lagi).

"Sasuke,aku tahu kau mungkin bukan yang terbaik untukku. Tapi bukan berarti kau tak pantas untukku," sembari membelai pipi Sasuke.

"Maaf," lagi-lagi Sasuke hanya mampu mengucapkan satu kata tersebut.

"Tak ada yang perlu dimaafkan,dan tak ada siapa yang harus disalahkan."

Hening. Hanya suara angin yang terdengar saat ini.

Sasuke mengambil napas dalam-dalam untuk mengucapkan suatu keputusan yang mungkin akan menjadi jalan keluarnya,"Baiklah. Aku akan membuatmu mencintaiku,Sakura"

"Terima kasih Sasuke,"

"Hn," seraya menganggukan kepala

Kemudian mereka kembali berpelukan ditengah senja.

"Paman… makan malam sudah siap. Ibu nunggu paman di luang makan," seru seorang bocah cadel bersuara cempreng yang tiba-tiba masuk kedalam kamar Gin (Kakashi).

"Iya-iya sayang,sebentar lagi paman pasti nyusul. Sai duluan saja," jawab Gin (Kakashi) sambil senyum pada bocah berambut sehitam eboni itu.

"Nggak mau! Pokoknya Sai mau baleng cama Paman Gin. Ayo…!," seraya menarik tangan Gin (Kakashi) supaya beranjak dari posisi duduknya.

"Baiklah,dasar anak nakal!" Gerutu Gin (Kakashi) dengan memencet hidung si bocah. Seperti biasa,Gin (Kakashi) langsung menjongkokkan diri di depan Sai.

"Ye…lihat ibu! Sai telbang!…."seru Sai ketika digendong pada punggung Gin yang berlarian.

"Haha! Dasar anak ibu nakal! Nggak kasihan sama Paman Gin? Ayo turun,kita makan bersama," perintah Rin.

Jika dilihat sekilas,mungkin mereka bertiga seperti keluarga kecil yang bahagia. Apalagi ditambah keberadaan Sai,malaikat kecil yang selalu menjadi kebanggaan Rin.

'Andai Dia bukan Gin. Andai kita bertiga disini seperti keluarga pada umumnya. Tapi kurasa itu mustahil' batin Rin yang tiba-tiba teringat dengan seseorang.

Sasuke tengah duduk di sofa ruang keluarga Hatake yang luas. Tak dihiraukannya hujan yang kembali mengguyur dengan derasnya dan jam raksasa yang telah menunjukkan pukul sebelas malam. Mungkin dirinya telah terbiasa tidur larut malam berkat kesetiaannya menjaga Sakura di Stasiun setiap malam pada kemarin-kemarinnya. Sesekali terlihat gerakan tangannya membalikkan halaman sebuah album foto berwarna hitam disamping pikirannya yang tengah bergelut memikirkan tentang berbagai persoalan yang tak pernah luput dari dirinya. Sebenarnya mengingat tentang hal masa lalu dan terkesan melankolist bukanlah kebiasaan Sasuke yang biasanya. Namun entah mengapa kali ini Sasuke ingin sekali membuka album foto semasa kecilnya,tepatnya sepuluh tahun yang lalu dengan keluarganya yang dulu,tepatnya saat kenangan terakhir bersama kakaknya. Uchiha Itachi.

Flashback

"Ayo kita pergi,hujan akan turun," bujuk Itachi pada Sasuke yang masih memeluk tanah berwarna kemerahan itu.

"Kita pergipun tak ada gunanya. Kita akan tetap kehujanan. Ingat kak,istana itu dua jam lagi bukan milik kita," jawab Sasuke yang terkesan tajam untuk anak berusia sepuluh tahun sepertinya.

"Sasuke… maafkan kakak,kakak janji akan selalu menjagamu. Kita tak akan pernah berpisah," seraya memeluk Sasuke dari belakang.

"Kakak… aarrgghh…! Kenapa ini terjadi pada kita! Kenapa kak! Sasuke masih pengen dimarahin ayah jika nilai Sasuke jelek,Sasuke masih ingin sentuhan tangan ibu yang memberi obat dan plester jika Sasuke jatuh. Sasuke ingin mereka kembali kak…!" dikeluarkannya seluruh emosinya seraya mengahambur kedelam pelukan Itachi dan menangis sejadi-jadinya.

"Sssttt… Sasuke,masih ada kakak disini. Mulai sekarang jadilah Sasuke yang kuat. Walau kau sedang bersedih,tetaplah menangis dalam hati. Sekarang,ayo kita pulang dan ambil baju kita. Masalah tempat tinggal,kurasa kakak tahu harus kemana," jawab Itachi menenangkan adiknya.

Di depan bangunan luas,Uchiha bersaudara tengah menginjakkan kaki. Bangunan itu adalah sebuah panti asuhan yang baru berumur sekitar tiga tahun,dibangun saat ulang tahun Itachi yang ke dua belas. Biarpun usianya saat itu masih bisa dibilang anak-anak,namun jangan tanyakan jiwa sosialnya. Hal itu terbukti dengan berdirinya Panti asuhan yang dimintanya sebagai hadiah ulang tahunnya. Dan beruntung,panti asuhan itu tidak tergolong aset yang harus disita.

"Mulai sekarang kita akan tinggal disini. Kakak harap kamu bisa mengerti Sasuke. Tapi kakak yakin kamu pasti kuat menghadapi semua. Ayo kita masuk," ajak Itachi.

"Tunggu kak!" seru Sasuke tiba-tiba menghentikan langkah Itachi.

"Ada apa?" tanya Itachi sambil mengernyitkan dahi.

"Terima kasih kak! Untuk semuanya," ucap Sasuke dengan senyuman yang tulus dan dibalas dengan anggukan kecil dari kakaknya,kemudian mereka kembali melangkahkan kaki bersama-sama masuk ke dalam panti asuhan.

Tap tap tap...

"kakak...!"

Tap tap tap...

"Kakak..." terdengar langkah kaki Sasuke yang berlari kesana kemari menyusuri setiap sudut panti asuhan memanggil-manggil kakaknya.

"Hosh! Hosh! Kakak,kau dimana? Ini masih pagi,jangan main petak umpat!" Keluh Sasuke dengan nafas tersengal-sengal.

Namun beberapa saat,terdengar langkah kaki milik Tsunade,Kepala Panti asuhan. Terlihat di belakangnya Pria jangkung paruh baya berambut perak mengikuti langkah Tsunade menuju Sasuke.

Setelah berada di hadapan Sasuke,tanpa basa-basi Tsunade langsung mengutarakan maksudnya."Sasuke,ini Tuan Hatake Sakumo,orang yang akan mengadopsimu menjadi anaknya," ucap Tsunade yang membuat dahi Sasuke mengernyit heran. Kakanya tiba-tiba menghilang di pagi-pagi begini dan tiba-tiba juga ada orang yang akan mengadopsinya. Pagi yang membingungkan.

"Maaf sebelumnya Tsunade,ini sebenarnya ada apa? Mana Itachi?" tanya Sasuke dengan tidak sopannya (manggil dengan nama langsung pada orang yang lebih tua)

"Oh maaf Sasuke,aku lupa memberikan ini padamu," diarahkannya selembar kertas yang dilipat () pada Sasuke,dan tentunya sambil menahan emosinya agar tidak meledak.

Dengan cepat Sasuke segara membuka dan membacanya.

Untuk Sasuke,

Maaf,aku harus pergi Sasuke. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan dan belum waktunya kamu tahu. Tapi aku janji akan memberi tahumu suatu saat nanti. Baik-baiklah kau disana. Yang terakhir,lakukan apapun yang kau mau jika kau anggap itu yang terbaik untukmu,seperti yang kulakukan saat ini. Kakak menyayangimu.

Suatu saat kau mengetahuinya Sasuke,Pasti!

Itachi

Diremasnya surat itu setelah dibacanya. Sesak rasanya. Masih terngiang janji Itachi yang akan selalu ada disampingnya,bersama-sama. Perasaannya campur aduk,antara kecewa,sedih,bingung dan penasaran. Ingin rasanya Sasuke menangis sejadi-jadinya seperti seminggu lalu saat pemakaman orang tuanya,namun diurungkannya keinginan itu mengingat pesan dari kakaknya agar selalu menangis dalam hati walau sesedih apapun.

"Baiklah,aku setuju menjadi anak angkatmu,Tuan Sakumo," kata Sasuke membelakangi Tsunade juga Sakumo dan langsung beranjak pergi,tanpa permisi.

Sakumo yang melihat kelakuan calon anak angkatnya itu hanya mampu menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Melihat reaksi Sakumo,Tsunade akhirnya angkat bicara,"Dia memang begitu. Beda dari anak lain seusianya,dia cenderung lebih keras kepala dan tidak suka berbasa-basi. Maklum,Uchiha."

"Ya,saya mengerti. Oleh sebab itu,saya makin tertarik padanya,Nyonya Tsunade," jawab Sakumo.

Lima menit kemudian. Sesuai janji,Sasuke telah kembali menemui Tsunade dan Sakumo dengan tas ranselnya. Dan tanpa berlama-lama lagi Sakumo mengajak Sasuke pergi meninggalkan panti asuhan dan semuanya menuju hidup yang baru.

Flashback End

Pagi itu Gin (Kakashi) telah bangun tidur. Entah mengapa hari ini dia bangun jam setengah enam pagi ,terlalu cepat satu jam dari biasanya. Ketika dia keluar kamar,didapatinya secarik memo yang tertempel antara magnet dan pintu kulkas. Dalam memo itu tertulis bahwa Rin dan Sai sedang pergi untuk lari pagi lalu pulang terlambat karena harus ke pasar. Setelah membaca memo itu,Gin (Kakashi) berjalan keluar untuk mengambil koran pagi yang tergeletak di teras.

"SATU MINGGU MENJELANG PERNIKAHAN SASUKE DAN SAKURA"

Tanpa disengaja,Gin (Kakashi) membaca judul berita utama di halaman terdepan. Dan satu lagi yang menarik perhatiannya, sebuah gambar~ tidak,tepatnya dua gambar berbeda yang disatukan. Gambar pertama yaitu seorang lelaki tampan berambut emo menggandeng seorang gadis cantik berambut pink,tak lupa tulisan kecil sebagai keterangan di bawah gambar yaitu 'Sasuke dan Sakura saat jumpa pers tadi malam'. Kemudian perhatiannya beralih pada gambar satunya lagi yaitu seorang gadis cantik yang sama dengan dirinya. Betapa kagetnya Gin (Kakashi) melihat sosok lelaki yang berpose melingkarkan tangannya pada pinggang wanita itu,dan wanita itu terlihat bergelanyut manja disampingnya,dapat terlihat jelas bahwa wajah sang Gadis lebih bahagia dengan lelaki berambut perak yang identik dengan dirinya itu. Dibacanya keterangan gambar dibawahnya ' (Mantan kekasih Sakura) dan Sakura'.

'Kakashi. Apa itu aku? Tapi,selama ini tak ada berita apapun tentang aku. Tapi,selama aku disini,baru kali ini aku mendapati koran yang halamannya lengkap. Apa Rin sengaja tak memberi tahu yang sebenarnya padaku? Mengingat dirumah ini tak ada radio,televisi,telepon rumah. Ditambah lagi Rin selalu menyuruhku memakai masker jika keluar rumah. Ah nggak mungkin,Rin nggak mungkin melakukan itu semua. Tapi,aku harus cari tahu sendiri,' batin Gin (Kakashi) dalam hati.

Dengan segera, Gin (Kakashi) bergegas menuju ke gudang,ruangan yang belum pernah ia masuki selama setahun ini. Disana terdapat berbagai benda-benda yang tak terpakai. Mulai dari boks bayi bekas,hingga tumpukan kertas. Tumpukan kertas itulah yang menjadi perhatian Gin (Kakashi). Dihampirinya tumpukan kertas itu dan ternyata sebagian besar adalah kertas koran lama~tidak! Tumpukan paling atas adalah koran yang baru terbit kemarin. Namun yang membuatnya janggal,mengapa koran yang ditaruh di gudang hanya salah satu halaman yang kebanyakan memuat berita yang sama. Yaitu seputar keluarga Hatake,keluarga Haruno,Sakura,Sasuke,Kematian Kakashi,dsb,yang membuat dada Gin (Kakashi) semakin sesak dan kepalanya menjadi pusing sendiri,apalagi saat mengingat satu nama,yaitu Sakura.

Dipejamkan matanya berharap rasa sakit itu segera hilang. Namun saat ia memejamkan mata,terdapat sekelebat bayangan seperti masa lalu yang silih berganti dengan cepatnya. Kemudian ditarik nafasnya dan dihembuskannya perlahan,lalu dibukanya kembali matanya.

Perlahan namun pasti,"Sakura. Aku akan kembali untukmu," ucapnya dengan nada penuh keyakinan.

"Gin! Gin! Kau dimana?" Teriak Rin dengan paniknya,karena tak biasanya Gin (Kakashi) menghilang,atau mungkin benar-benar hilang.

Akhirnya Rin menemukan secarik kertas yang terletak di meja kecil samping tempat tidur Gin (Kakashi). Dibacanya surat itu dengan tangan gemetar.

Rin,terima kasih untuk semuanya. Tapi sejujurnya aku merasa kecewa padamu. Tapi bukan berarti aku marah,karena aku berfikir,kamu pasti punya alasan tersendiri menutupi semua identitasku yang asli dariku Aku telah tahu semuanya,dan aku berjanji kita pasti akan bertemu lagi. Sekarang aku akan pergi ke Konoha. Kuharap kamu dapat memaafkanku karena pergi tanpa pamit dulu dan maaf lagi ,uangmu aku ambil beberapa untuk ongkos,aku berjanji akan mengembalikannya jika kita bertemu kemudian. Jaga dirimu baik-baik. Salam untuk Sai.

Hatake Kakashi

Dijatuhkannya tubuhnya ke ranjang dibelakangnya,rasanya dirinya langsung lemas seketika merasakan ini semua. Sudah diduganya,cepat atau lambat,hal ini pasti terjadi. Kakashi pasti akan pergi dari kehidupannya dan kembali pada keluarganya,ah! Tepatnya pada dirinya sendiri.

Hari ini adalah hari yang sungguh melelahkan bagi Sasuke. Bagaimana tidak,pagi-pagi Sakura telah membangunkannya padahal Sasuke sendiri baru tidur sekitar jam dua dini hari. Sakura mengajak Sasuke mencari persiapan pernikahannya. Mulai dari gaun,kue pernikahan,undangan,hingga dekorasi kamarnya untuk malam pertama nanti yang membuat Sasuke dan Sakura blushing sendiri memikirkannya. Selesai pergi mengurusi tetek bengek perlengkapan yang diperlukan,Sasuke belum bisa tenang-tenang saja. Malam harinya,sekitar pukul tujuh ia harus kuliah. Haah~ poor Sasuke!

Di remang-remang halaman Konoha University,terlihat seorang pemuda raven sedang berjalan sembari menenggelamkan tangan kanannya di dalam saku celananya. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti saat seorang memanggil namanya.

"Sasuke! Akhirnya," kata seseorang yang tiba-tiba menghampiri Sasuke

"Siapa kau!" tanya Sasuke sembari memicingkan sebelah alisnya

"Waahh~ kau sudah besar ya rupanya? Bahkan kudengar akan menikah,eh!"

"Cih! Jawab pertanyaanku! Aku tak suka basa-basi,"

"Baiklah. Aku~ Uchiha Obito,pamanmu!"

Sontak ekspresi Sasuke terlihat sangat terkejut. Dia tak pernah tahu kalau selama ini ayahnya masih mempunyai adik laki-laki yang tak pernah Sasuke ketahui.

"Kau pasti terkejut,eh? Itu belum seberapa yang perlu kamu ketahui sebenarnya. Sekarang,ayo ikut aku. Ada banyak kenyataan lagi yang harus kau tahu. Itachi. Masih ingatkah dengan kakakmu itu?," lanjut Obito

"Itachi? Dimana dia? Kau tahu tentang dia?" tanya Sasuke dengan penasaran.

"Tenanglah! Ayo ikut aku!" jawab Obito yang lansung dibalas anggukan oleh Sasuke.

Hati Sasuke terus bertanya-tanya,ada apa orang yang mengaku pamannya itu mengajak dirinya ke tempat serba putih yang diketahuinya bernama Rumah Sakit. Sebenarnya sejak dari tadi ia ingin mencecari orang itu dengan banyak pertanyaan,namun diurungkannya niat tersebut. Akhirnya,langkah mereka terhenti di depan pintu salah satu kamar VIP. Kemudian dengan perlahan,Obito membukakan pintu setelah memandang Sasuke sejenak.

"Sasuke~" terdengar suara lirih dari seorang lelaki tampan namun pucat,yang dikenal Sasuke bernama Itachi,kakaknya

"Kau~" Sasuke langsung menghambur memeluk Itachi yang kini terasa begitu lebih kecil darinya. "Apa yang sebenarnya terjadi? Aku ingin tahu semuanya! Sekarang!" timpal Sasuke.

"Kau ini,benar-benar telah kehilangan selera humormu ya? Lama tak bertemu kakak sendiri,langung saja meminta apa maumu! Dasar!" ejek Itachi.

"Ini bukan lelucon! " sergah Sasuke tak mau kalah

"Baiklah. Sebelumya maaf telah meninggalkanmu sendiri. Tapi,Hatake memeliharamu dengan baik kan?"

"Bagaimana kau tahu aku dengan keluarga Hatake?"

"Tentu! Karena aku yang telah merencanakan sebelumnya," jawab Itachi,masih dengan seringai di bibir pucatnya.

"Jelaskan semuanya sekarang!" tuntut Sasuke

"Semuanya,sepuluh tahun yang lalu. Sebenarnya aku yang merencanakannya. Tentang kau dan keluarga Hatake. Kau masih ingat bukan kematian ayah dan ibu?"

"Tentu. Mereka meninggal karena kecelakaan mobil gara-gara jantung ayah kambuh saat menyetir mobil yang ditumpanginya bersama ibu," sahut Sasuke

"Memang. Dan penyebab kambuhnya jantung ayah adalah gara-gara dia menerima telepon dari asistennya bahwa kantornya kebakaran,padahal saat itu keadaan ekonomi ayah memang mengalami penurunan. Gara-gara kabar itu,jantung ayah kambuh. Dan kamu tahu siapa dalang kebangkrutan perusahaan kita? Dia adalah Si Hatake!" papar Itachi

"Tapi,kenapa kau malah menyerahkanku pada orang yang jelas-jelas musuh kita itu? Kenapa Itachi?" sambil memegang kerah baju Itachi,Sasuke bertanya dengan nada setengah membentak. Kehilangan kesabaran.

Namun Itachi malah berseringai tak jelas yang membuat Sasuke gerah dan seakan ingin memukulnya,"Aku hanya tak ingin kau memiliki dendam sepertiku,Sasuke. Mungkin aku seperti sangat egois saat itu. Tapi,hidup dengan menyimpan dendam sangat memuakkan dibanding apapun. Dan asal kau tahu,saat ini aku sangat berharap kematianku dipercepat. Karena saat itu,aku dapat bertemu dengan ayah dan ibu dan melupakan dendam ini," papar Itachi sembari tersenyum tulus,senyum yang sangat dirindukan Sasuke.

"Kakak… Apa yang kau bicarakan?" Tanya Sasuke yang lagi-lagi dibuat bingung oleh perkataan Itachi.

"Bodoh! Kau kira aku di rumah sakit ini hanya untuk meminta suster-suster untuk melayaniku,hah! Aku ini mengidap leukemia. Yah,semoga aku divonis sebulan lagi itu bisa dipercepat," papar Itachi masih dengan konyolnya untuk ukuran orang mau mati sepertinya.

"Kau yang bodoh! Sejak kapan kau sembunyikan ini semua dariku,hah! Kau pikir aku apa?" geram Sasuke,namun terlihat jelas air yang jatuh dari matanya,lalu membalikan badannya membelakangi Itachi.

"Tuh kan! Karena aku tak ingin kau menangis lebih dari ini. Sekarang lebih baik kau pergi! Sampai jumpa di upacara pemakaman nanti,dan baik-baiklah pada keluarga barumu itu. Salam juga untuk calon adik iparku yang cantik itu,"

"Itachi…" tanpa sadar tangan Sasuke mengepal erat dan tanpa berlama-lama lagi Sasuke telah beranjak meninggalkan Itachi

"Sasuke!"panggil Obito yang sebelumya hanya menjadi penonton kedua Uchiha barusan.

"Biarkan dia pergi!" cegah Itachi

"Itachi,apakah tindakanmu ini tak berlebihan? Keinginanku kalian adalah supaya Sasuke dapat membantumu dengan mendonorkan sumsum tulang belakangnya. Tapi kau bersikap seolah kau ingin sekali cepat mati,"omel Obito

"Biarlah,aku memang menginginkannya,"

"…" Obito hanya mampu menghela napasnya mendengar perkataan Uchiha sulung itu.

Diatas sebuah bukit,dari sanalah sekarang seorang pemuda menikmati pemandangan bintang di bawah langit,yaitu lampu-lampu kota yang berpijar. Dia adalah Kakashi. Entah mengapa tiba-tiba dia ingin pergi ketempat ini. Toh kalau dia langsung kerumahnya pun mungkin Kakashi belum siap melihat reaksi keluarganya,tepatnya dia sendiri yang belum siap dengan ini semua. Kakashi kemudian mengalihkan pandangannya pada tanah di bawah pohon sakura. Dapat dilihat ada galian kecil disana dan sebuah botol tergeletak begitu saja.

'Jadi benar kau mencintainya,Sasuke' batin Kakashi.

"Ka-ka-shi~" panggil seseorang dengan nada keterkejutannya

"Sasuke,"

"Kau! Benarkah ini kau? Bagaimana bisa?"

"Ya,ini aku. Dan panjang ceritanya,"

Benar-benar diluar dugaan Kakashi. Sasuke tersa begitu benar-benar dingin dari biasanya (meskipun aslinya sudah dingin). Tepatnya Kakashi bisa merasakan tatapan aneh yang ditujukan Sasuke padanya.

"Sasuke,apa yang tejadi? Rasanya kau berbeda,"Tanya Kakashi untuk memecah sunyi sekaligus mencari arti dari ekspresi Sasuke yang serasa seperti puzzle.

"Kau pernah kehilangan seseorang yang sangat kau sayangi untuk selamanya,Kakashi? Seperti aku kehilangan ayah dan ibuku?"

"pernah. Ibuku yang belum sempat kukenal,meninggal saat melahirkanku," Jawab Kakashi dengan jujur.

"Dan apa kau pernah merasakan,orang yang telah mengambil orang yang kau sayangi adalah orang yang selama ini ada disampingmu?"

"Eh,apa maksudnya? Apa yang kau bicarakan?"

"Ayahmu. Hatake Sakumo. Adalah orang yang menghilangkan nyawa orang tuaku," papar Sasuke

Seperti ada sebuah pedang tajam yag tiba-tiba menusuk jantung Kakashi. Benar-banar tak bisa dipercaya,ayahnya yang dikenal selama ini bukanlah seorang yang bisa membunuh orang lain dengan gampangnya.

"Sebenarnya,aku ingin balas dendam. Tapi,aku berfikir jika lebih baik dendam seorang anak dibalaskan sesama anak bukan?" lanjut Sasuke.

"Apa maksudmu?" Tanya Kakashi tidak mengerti.

"Aku ingin kau merasakan orang yang kau sayangi diambil oleh orang yang selalu ada disampingmu," jawab Sasuke.

"Tinggalkan Sakura!"

TBC

Author's curcol!

Must Read!

Gomen~! Sumimasen! Maaf beribu maaf sodara sekalian...

Aku ga bermaksud nelantarin fict lama-lama kug~ Swear! aku teh cuma belom ada inspirasi duand *halah! bilang ja malezt*

uft! ne chapter yang teraneh menurutku,,*meskipun yang laen juga aneh*

teruz ceritanya jadi panjang dan berbelit-belit,padahl rencana fin di chapter 3 ini,, Huweee~! *nangis guling-guling* Mana Sai jadi anak cadel gaje lagi! Sungguh ga terima saia sebenernya. tapi aku ga bisa kalau harus wad chara buatan ndry.

Dan yag terparah adlah aku ga tau cerita selanjutnya kayag apa,,!

yauda! tapi aku benar-benar uda usaha ug~ Bener!

Oya! maaf lagi! soalnya aku selama ini cuma baca fict dengan ophline *copy-paste-baca-ga review*

Akhir kata,tolong Review ea? meskipun sodara sekalian reviewnya pedes,aku terima dengan lapang dada *mank ada yang baca!*

Rizu Hatake-Hime

Momo Saitou

Dei Hatake

dan Kaka Awan Hitam

Yang telah sudi membaca fict abal nan gaje ini.

thanks to :

Review Please...