Disclaimer©Mashashi Kishimoto
The story by Akasuna no hataruno Teng-Chan
.
.
.
Mungkinkah stage 4
(Tetesan Ini)
.
.
.
Kakashi masih terlihat membeku mendengar ucapan Sasuke. Pikirannya masih belum sadar sempurna bahwa ini bukan ilusi belaka. Sasuke yang selama ini telah ia anggap sebagai saudara sendiri tega mengatakan hal itu padanya. Sungguh mustahil. Tapi ini hidup, semua tak kan selalu seperti yang kita inginkan bukan.
"Meninggalkan Sakura? Mustahil. Bukankah kau begitu mengertinya bahwa aku tak akan pernah bisa melepaskannya."
"Justru aku terlalu mengetahuinya bahwa kebahagiaanmu adalah Sakura," sahut Sasuke. "...Yang ingin kurebut adalah kebahagaianmu, Kakashi."
Tak ada jawaban dari Kakashi. Pernyataan Uchiha bungsu ini benar-benar membuatnya kalut.
"Bukankah ini tak ada apa-apanya dibandingkan aku kehilangan orang tuaku? Lagipula, selama ini aku tak pernah meminta apapun darimu layaknya adik pada kakaknya, eh?" ucap Sasuke semakin memojokkan Kakashi.
Bugh!
Tanpa aba-aba Kakashi melayangkan pukulan keras pada Sasuke, sehingga menyebabkan cairan merah keluar dari sudut bibirnya, "Apa maksudmu, hah? Kukira segampang itu aku menyerahkan Sakura padamu?"
"Aku tahu akan begini jadinya. Jadi, aku harus melakukan tindakan yang lain," jawab Sasuke masih mengabaikan rasa perihnya.
"Apa maksudmu?"
"Ya,akan kubuat Sakura menyerahkan dirinya sendiri padaku."
Kakashi masih mencengkeram kerah kemeja milik Sasuke, seakan itu mampu membuat Sasuke menarik kembali ucapannya.
"Apa kau benar-benar sebegitu takutnya bila semua itu terjadi? Kau tak harus sebegitu khawatirya," ucap Sasuke sambil menyingkirkan tangan Kakashi. "Karena aku tak akan pernah bisa mengambil Sakura darimu."
Mendengar kalimat pesimis tersebut, Kakashi menjadi bingung, "Tch! Apa yang kau katakan? Bukankah barusan kau mengatakan dengan yakinnya ingin memiliki Sakura ?"
Sasuke hanya mampu mendengus menanggapinya. Diambilnya dua minuman kaleng dari tasnya, kemudian disodorkan salah satu minuman itu untuk Kakashi.
"Entahlah. Kurasa aku memang tak akan pernah bisa merebut hatinya darimu."
Kakashi masih memandang Sasuke dengan tatapan tak percaya sekaligus bingung apa yang sebenarnya dipikirkan oleh pemuda raven itu.
Seolah mengerti maksud tatapan dari Kakashi, "Kau pasti bertanya-tanya apa isi kepalaku saat ini," jeda sejenak lalu meneguk minumannya, "…Asal kau tahu, aku tak pernah bermaksud mengambil Sakura darimu. Semua ini terjadi diluar kehendakku. Tapi kuakui aku sangat mencintai, dan juga ingin memilikinya. Jadi…"
"Jadi…?" sahut Kakashi penasaran
"Hn. Biarlah Sakura yang menentukan. Perlu kau ketahui, yang memohon pernikahan ini adalah Sakura. Bukankah kau tahu, Sakura bukanlah orang yang akan menarik omongannya sendiri, eh!" ucap Sasuke yang disambut dengan tatapan sendu oleh Kakashi.
Jam sepuluh pagi, Kakashi baru terbangun dari tidurnya. Benar-benar payah, gara-gara semalaman ia harus menceritakan tentang dirinya selama setahun yang menghilang pada otousan-nya, Kakashi harus bangun kesiangan. Kemudian ia bergegas menuju jendela yang masih tertutup tirai. Benar-benar siang untuk ukuran bangun tidur, matahari bahkan sudah terlihat terik dan menyilaukan mata ketika tirai disibaknya.
Tanpa sengaja matanya menangkap bayangan seseorang yang di bawah sana, tepatnya halaman mansionnya. Seorang gadis manis yang selalu dirindukannya. Sakura. Tanpa menunggu detik berikutnya, Kakashi langsung melangkahkan kakinya bermaksud mendatangi sang gadis yang selalu dihatinya itu. Ingin rasanya ia kembali mendekap tubuh itu, melampiaskan kerinduannya selama ini.
"Sakura!" seru Kakashi ketika berlarian menuju halaman mansion.
Tinggal beberapa meter dari Kakashi berada, ia dapat memeluknya dan melampiaskan segala hasrat yang selama ini terpendam. Namun itu semua tak mungkin Kakashi lakukan seperti keinginannya beberapa waktu yang lalu, karena sekarang ia dapat melihat sang gadis tengah membelakanginya dan mengecup pipi seorang pemuda tampan adik angkat, sekaligus rival Kakashi. Dialah Sasuke.
Sasuke melihat Kakashi yang terpaku menyaksikan adegan romance yang membuat hatinya hancur berkeping-keping itu. Alih-alih untuk menyadarkan Kakashi,Sasuke mencoba menyapa kakashi dengan nada tanpa dosanya, "Ohayou, Kakashi."
Kali ini bukan hanya Kakashi saja yang terkesiap karena sapaan dari Sasuke, Sakura yang mendengar nama itu disebut Sasuke, seketika darah yang mengalir dalam tubuhnya serasa membeku. Ingin rasanya Sakura berlari lalu mengamburkan diri ke dalam pelukan pria yang selama ini selalu dirindukannya. Namun semua itu jelas mustahil, Sakura yang sekarang bukanlah seperti Sakura dulu yang dimiliki Kakashi setahun silam. Perlahan, Sakura membalikkan diri sembari menundukkan kepalanya mencoba menyembunyikan perasaan yang tersirat.
Keadaan menjadi hening. Tak ada kata-kata yang terucap. Bahkan untuk berkomunikasi lewat mata pun terasa sangat sulit dilakukan bagi Sakura maupun Kakashi saat ini.
"Sakura, aku akan pergi sebentar mengambil mobil. Kalian berdua silakan mengobrol."
Sasuke kemudian beranjak meninggalkan Sakura dan Kakashi. Saat Sasuke melewati Kakashi, "Milikilah apa yang seharusnya kau miliki, Kakashi," bisiknya kemudian berlalu setelah melihat senyum tipis Kakashi.
Keadaan masih saja, malah terlihat semakin tegang sejak kepergian Sasuke. Sakura masih tak bergeming, dengan kedua tangannya yang saling meremas satu sama lain. Hingga pada akhirnya Sakura dapat mendengar langkah kaki Kakashi mendekat padanya.
Greb!
Kakashi memeluk Sakura dengan eratnya, merasakan kehangatan yang selama ini selalu dirindukannya dari tubuh mungil itu, menghirup aroma wangi rambut Sakura. Tak ada pita suara yang bergetar dari salah satunya. Hanya suara detak jantung keduanyalah yang mendominasi keadaan.
'Tuhan, hentikan waktu sekarang juga,' batin Kakashi berteriak sendu, tak menginginkan Sakura lepas dari pelukannya.
Namun harapannya hanya jadi isapan jempol belaka. Detik berikutnya Sakura mulai mengeluarkan suara yang membuat Kakashi tertegun.
"Lepaskan, Kakashi!" ucapnya yang terdengar sebagai kalimat penolakan bagi Kakashi.
Tanpa menununggu Kakashi melepaskan pelukannya, Sakura langsung mendorong Kakashi menjauh darinya.
"Maafkan aku Kakashi. Aku sekarang bukanlah milikmu lagi," ucapnya terdengar getir.
"Diam kau Sakura! Apa maksudmu? Kau milikku!" dengan refleks Kakashi mencengkeram erat kedua bahu Sakura
"Aku milik Sasuke!" sergah Sakura
Mendengar ucapan yang terlontar dari Sakura, Kakashi semakin mencengkeram erat bahu Sakura sehingga membuat Sakura mengernyit menahan rasa sakit yang ditimbulkan karenanya. Dirasakannya matanya memanas saat bertatapan dengan mata onyx didepannya, ingin rasanya Sakura menangis sejadi-jadinya melepaskan rasa sakit itu, bukan sakit pada bahunya, melainkan hatinya yang masih belum bisa, mungkin tak akan bisa menerima kenyataan.
Mereka masih saja bertatapan dalam kebisuan yang melanda, dibungkam emosi masing-masing. Kemudian tangan Kakashi tergerak menyusuri lengan Sakura, hingga ia dapat menggenggam dan merasakan betapa dinginnya tangan Sakura, akan tetapi hal ini malah membuat tubuh keduanya memanas. Namun detik berikutnya Kakashi dapat merasakan suatu benda yang tersemat di jemari Sakura. Cincin pertunangan.
Tin tiiin! Tiba-tiba suara klakson mobil berbunyi menandakan bahwa Sasuke telah menanti Sakura.
Dengan terkesiap, Sakura menarik tangannya dari genggaman Kakashi kemudian pergi berlalu meninggalkan Kakashi yang masih terpaku menatap kepergian gadisnya —tepatnya mantan gadisnya—. Kakashi hanya mampu memandang tangannya yang kini telah kosong seperti fikiran dan hatinya.
'Aku merasa sebagia darimu hilang, Sakura.'
Sakura dan Sasuke kini berada di pemakaman tempat orang tua Sasuke dimakamkan. Terlihat Sasuke sedang memandangi batu nisan tersebut seolah dengan begitu ia dapat berkomunikasi dalam kediaman. Lalu tak beberapa lama Sasuke menggenggam tangan Sakura sembari menatapnya lekat-lekat. Kemudian Sasuke kembali menatap kedua batu nisan itu.
"Ayah, Ibu. Ini Sakura."
"Sa—saya Sakura, Uchiha-sama. Senang berkenalan dengan Anda," ucap Sakura agak canggung. "Saya akan berjanji untuk selalu disamping Sas— "
"Jangan pernah berjanji," sela Sasuke masih dengan pandangan lurus ke depan. "Bukankah di hatimu hanya selalu ada Kakashi," Sasuke memberikan jeda pada kalimatnya sembari mengambil nafas, "Dimana disana, di hatimu itu tak akan pernah ada aku. Sampai kapanpun aku selalu kalah dari Kaka— "
"Hentikan ucapan bodohmu itu!" bentak Sakura membuat Sasuke berpaling padanya. "Aku— aku telah mencintaimu."
"Tch! Ternyata kau yang lebih bodoh Sakura, tak bisa membedakan mana rasa cinta dan belas kasihan. Aku tak butuh itu!"
"Terserah kau mau menilai apapun tentangku. Yang jelas, bukankah kau sendiri yang berjanji membuatku cinta padamu waktu itu?"
Sasuke tak mampu membalas ucapan gadis bermata hijau cerah di sampingnya. Entah mengapa, mendengar pengakuan Sakura barusan mau tak mau Sasuke merasa bahagia, akan tetapi kebahagiaan itu terasa begitu mengganjal di hatinya.
"Bagaimana dengan Kakashi?"
"Entahlah. Aku…"
"Aku mengerti. Bagaimaapun juga kau tak akan pernah bisa melupakannya. Sampai kapanpun hatimu akan tetap terbagi."
"Maafkan aku Sasuke, aku tak bermaksud…"
"Sudahlah, jangan terus meminta maaf. Berjanjilah padaku, jangan ucapkan kata cinta untukku selagi di hatimu masih ada Kakashi."
"Tapi Sasuke, aku juga tak bisa menahan perasaan ini dari hatiku untuk tidak kuucapkan! Apa kau lupa bahwa aku adalah calon istrimu?"
Kali ini Sasuke sungguh-sungguh tak dapat berdebat lagi. Direngkuhnya Sakura menuju pelukannya, sembari mengecup puncak kepala Sakura.
"Maafkan aku. Aku tak akan pernah lagi mencegahmu untuk bersamaku."
Kakashi terlihat bimbang untuk membuka gagang pintu di depannya. Pintu yang akan mempertemukannya dengan mempelai wanita milik Sasuke, Sakura. Dengan sedikit kerguan yang hinggap padanya kini, akhirnya Kakashi membukanya. Sesaat ia nampak terpaku melihat dari pantulan cermin penampilan gadis yang ia sayangi terlihat sangat cantik nan anggun sebagai salah satu mahakarya terindah ciptaan Tuhan. Tapi sayang, dia bukanlah miliknya lagi.
Dilangkahkan kakinya menuju wanita yang hingga kini masih menguasai hatinya. Suasana begitu sepi sehingga yang terdengar hanya suara sepatu milik Kakashi yang semakin mendekat pada Sakura. Sakura yang mengetahui kedatangannya melalui pantulan cermin di hadapannya terlihat begitu terkejut. Seperti yang dilakukannya beberapa hari yang lalu saat ia bertemu dengan Kakashi, Sakura menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil meremas-remas kedua tangannya pertanda gugup.
"Jangan mendekat!" cegah Sakura pada Kakashi, alih-alih menutupi kegugupannya, "…Tolong pergilah…"
Namun Kakashi tetap tak gentar dengan niatnya. Dia tetap melangkahkan kakinya mendekati gadis pink itu, menatap sang gadis, seolah ia sedang mencari barang berharga miliknya yang telah menghilang tenggelam di dasar mata berwarna hijau itu.
"Jangan ucapkan kata itu lagi!" sahut Kakashi dengan nada setengah mendesis.
"…"
"Hanya untuk kali ini…" kata Kakashi dengan meletakkan kedua tangannya di bahu dan pipi Sakura, "…Dan aku akan benar-benar pergi—"
Kali ini dengan suara yang terdengar lebih yakin dari sebelumnya, "…Dari hidupmu."
Sakura tak mampu menanggapinya dengan reaksi apapun. Kecuali air mata yang tiba-tiba tumpah mengaliri pipinya, kemudian bermuara di dagu dan menetes jatuh menjadi tetesan tak berarti di lantai. Pemandangan yang seharusnya tak perlu terjadi, mengingat beberapa saat bahkan detik lalu gadis itu baru menyuruh Kakashi untuk pergi. Sebegitu egoiskah dirinya? Tak menginginkan pria itu pergi dengan membawa luka perih menyayat di hati karenanya. Satu pernyataan yang tepat untuk gadis ini. Kau egois Haruno.
"Hahaha…" tawanya yang terdengar hambar memecah keheningan. Tawa yang ditujukannya pada sakura, atau bahkan untuk dirinya sendiri karena tak dapat memiliki gadis ini, yang seharusnya menjadi miliknya.
Dipandangnya langit-langit ruangan itu. Terlihat jelas, Kakashi melakukannya untuk membendung air matanya. Namun usahanya hanya sia-sia. Cairan itu keluar dengan sendirinya, seolah tak ada lagi yang melarangnya untuk tumpah.
Sakura yang sebelumnya belum pernah melihat emosi Kakashi seperti saat ini, merasakan hatinya begitu sakit. 'Tuhan, maafkan aku. Kumohon, hanya kali ini saja kau begini Kakashi.'
Bulan, hati yang gemetar dalam cermin goyah
Bintang-bintang, air mata lembut dalam aliran meluap
Bukankah itu indah,
Untuk berjalan bersama di setiap tangan orang lain
Aku sangat ingin pergi,
Ke dalam pelukanmu...
Kakashi akhirnya kembali menatap Sakura, tetesan-tetesan itu terus mengalir untuk keduanya, menyiratkan betapa pedihnya cinta mereka. Kakashi merunduk menggapai wajah, tepatnya bibir ranum Sakura. Tangan kanannya yang sebelumnya memegang pundak Sakura, kini beringsut menyusuri leher jenjang Sakura yang terekspos dengan gaun pengatinnya, kemudian bertengger pada sisi belakang kepala gadis itu.
Sakura yang mengerti apa yang akan Kakashi lakukan, hanya mampu memejamkan mata menanti apa yang terjadi selanjutnya. Dan seperti dugaannya, ia dapat merasakan sesuatu yang lembut mendarat di bibir ranumnya. Sentuhan yang pelan namun cukup intens, tanpa nafsu, tanpa keinginan yang lebih. Mereka melakukannya dari dorongan hati mereka. Karena cinta. Satu kata yang bermakna abstrak, yang diagung-agungkan setiap jiwa pemilik hati.
Pria itu kini terlihat sedang mencengkeram erat jasnya. Disandarkan dirinya pada dinding di belakangnya. Ekspresinya yang dingin, sulit diartikan apa yang sedang dirasakannya kini. Yang jelas ia merasakan berjuta jarum ukuran mikro menusuk dadanya yang semakin sesak.
Uchiha Sasuke. Mempelai pria yang kini tengah berdiri lesu di dinding, tepatnya samping pintu masuk ruangan sang mempelai wanita berada. Dan dari pintu itu barusan, ia telah melihat adegan yang mengoyak hatinya.
"Haahh—" dihembuskan nafasnya, berharap rasa sesak tersebut akan hilang. Akhirnya digerakan kakinya meninggalkan tempat itu dengan langkah gontai.
Sakura masih saja terhanyut dalam ciumannya. Hingga akhirnya ia tersadar Kakashi telah menyudahinya. Kemudian Sakura tersadar. Tak seharusnya ia melakukannya dengan pria ini. Bukankah harusnya Sasuke seoranglah yang mendapat ciumannya untuk malam ini? Namun ia tak peduli lagi apa yang seharusnya terjadi. Dan untuk saat ini saja, Sakura hanya peduli pada keinginannya. Berada pada dekapan dada bidang itu.
Jantung itu,
Diadakan dalam tubuhmu…
Wajah itu,
Senyum lembut…
Pada malam-malam membingungkan,
Aku bermimpi.
Kakashi mendekap erat Sakura yang tiba-tiba menghamburkan diri padanya itu. Tak dapat ia pungkiri, sejujurnya ia sangat menginginkan gadis ini selalu pada pelukannya, menjadi miliknya. Sakura yang berada pada dekapan itupun mampu mendengar suara jantung berdentum dengan keras. Jantung Kakashi. Dan ia selalu suka nada tak beraturan itu.
Tapi waktu ternyata tak ingin berhenti. Dengan terpaksa, Kakashi melepaskan pelukan itu. Satu langkah mundur diambilnya, mulai meninggalkan gadisnya itu dengan tangan masih terkunci pada tangan sang gadis.
"Aku mencintaimu, Sakura-hime," ungkapnya dengan senyum lembut yang terukir indah, dan dipersembahknnya sebagai salah satu jejak kenangan untuk Sakura.
Sakura masih terlihat enggan melepaskan genggaman itu. Ia terlalu takut menghadapi apa yang akan terjadi jika ia benar-benar melepaskannya. Tapi dengan perlahan, ia mampu melepaskannya dengan hati yang mengganjal. Dengan senyum terakhir yang Kakashi perlihatkan, akhirnya pria itu benar-benar pergi dari dirinya, bahkan hidupnya. Dan Sakura tak menginginkannya.
Disilangkan kedua tanganya di depan dadanya, mencari sisa-sisa kehangatan yang ditinggalkan pemilik hatinya. Sakura berharap ini semua hanyalah mimpi yang akan membawanya menuju ke pembaringan pagi. Namun segera ditepisnya harapan itu. Karena gadis itu masih merasakan perasaan yang begitu nyata, yang tak dapat ia rsakan saat bermimpi. Ya, Sakura kini mengerti semuanya. Tentang perasaan Kakashi, dan juga— perasaannya.
"Aku selalu mencintaimu, Kakashi-koi."
TBC
Ya ampunn… seperti biasa aku selalu nglembur wad ngerjain fict.
Oleh sebab itu, pasti ada kesalahan yang mengganjal di dalamnya. ,err~ kesekian kalinya aku harap ada yang berniat mengoreksi segala tetek n bengeknya.,,
Truz wad dua bait di atas,,err~ kalo aku si gak mungkin wad kalimat seindah itu. jadi sebenernya kutipan diatas adalah terjemahan fantasy (Suteki da ne) tapi aku edit n ambil yg pntink aja.
Makasih wad para reviewer di chap kemarin. Mereka adalah :
Dei hatake, Rizu hatake-hime, darkblue, Momo saitou, Arisa-Yuki-Kyutsa, RachelJewelblossom.
Balasan review kalian uda aku kirim dengan agk berntakan di akun masing-masing* jtaked*
Kecuali wad (Ga ada akun):
Darkblue : hahaha… aku dapet inspirasi dari mana aja. Saat ngayal, bengong, bahkan saat di toilet juga XD *ah, Lupakan!*. kalo soal ending, aku maunya yang mengharukan, sedih-sedih gmana gtu! *dilemparin uang sma Dark*
RachelJewelblossom: Nih uda lanjut! RnR lage eak… ^^
dan tak lupa, terima kasihku kuucapkan juga untuk silent reader *jika ada* ^,^
Oya! Dan terima kasih untuk niedlichta-senpai., yang uda ngoreksi sgla kekeurangan fictku 'Never too Late'
Nih, aku copy paste amanat dari senpai-senpai :
Mari kita luangkan waktu tiga-lima menit yang kita punya untuk memberi apresiasi dan constructive critism kepada karya yang benar-benar fanfiksi. Berusahalah untuk tidak memperdulikan mereka yang berusaha merusak FNI. ;)
Teng-chan cabut! *Paw!*
