Disclaimer©Mashashi Kishimoto, 1999

The story by Akasuna no hataruno Teng-Chan, 2010

.

.

.

Mungkinkah stage 5

(Cinta yang Lain)

.

Tak ada lagi keraguan di hatinya. Semuanya memang telah berakhir. Kisah cintanya, kebersamaan, hingga impiannnya menjadikan putri Haruno sebagai nyonya Hatake, semua telah sirna dihapus satu hal bernamakan penghianatan. Tidak. Sakura bukan menghianatinya, melainkan ia bertindak sesuai rasio akal pikirannya dengan mengorbankan perasaannya. Karena setidaknya Kakashi masih yakin ada satu hal yang begitu besar yang tak akan pernah berakhir apalagi memudar. Cinta dan kasih sayang Sakura padanya, ia sangat mengerti dan memahami segala sesuatu tentang mantan gadisnya —lebih tepat disebut gadis yang seharusnya jadi miliknya.

Disiniah kini ia berada. Di bangku taman gereja tempat Sakura melepas masa lajangnya untuk dimiliki pria lain secara sakral, biasa disebut dengan pernikahan. Diambilnya sebatang benda berukuran kecil dari sakunya, kemudian ia tancapkan pada bibirnya dan menyulutnya dengan api. Kakashi merokok. Padahal sebelumnya tak sekalipun ia menikmati benda mengandung nikotin tersebut.

Ditengadahkan kepalanya memandang hamparan angkasa raya bertabur manik-manik gemerlap bernamakan bintang, sambil menghisap rokok yang kini menghasilkan kepulan asap kecil yang ia hembuskan, "Setidaknya ini lebih baik."

~oOo~

Sakura masih terdiam menatap bayangan dirinya sendiri yang bisa dibilang kacau untuk seorang pengantin wanita. Bekas aliran air mata terlihat jelas melunturkan make-up tipis di wajah cantiknya. Belum lagi gaun yang ia kenakan sedikit kusut akibat cengkeraman Sakura demi meredam emosi campur aduk yang ia rasakan menjadi satu. Ironis rasanya. Di hari semestinya membahagiakan ini –tepatnya membahagiakan orang lain, bukan dirinya-, Sakura harus merasakan kepedihan mendalam. Dimana Sakura harus melepaskan prianya yang sangat ia sayangi.

Dia benar-benar menghilang disaat Sakura menyadari perasaan yang sesungguhnya. Namun apa daya kini, dirinya telah melangkah terlalu jauh, tak mungkin untuknya kembali berjalan mundur yang hanya membawa kesesatan. Semua telah terlambat. Cintanya benar-benar usai. Melangkah maju memerankan episode baru dalam hidupnya dan melupakan sketsa kehidupan lama mungkin adalah satu-satunya pilihan terbaik. Karena dari awal belokan inilah yang dipilihnya demi mengikuti pria lain yang juga sama-sama berarti dalam hidupnya.

Tiba-tiba sebuah tangan halus menyentuh bahu Sakura, "Hinata."

Gadis yang dipanggil Hinata tersebut membalas dengan senyuman manis. Sahabat sekaligus kekasih Naruto itu kemudian membungkukkan diri menatap Sakura yang tengah duduk di kursi, lalu jemarinya tergerak menghapus aliran kecil di pipi Sakura.

"Tak pantas seorang pengantin wanita menangis saat hari pernikahannya," ujar Hinata dengan tangannya yang bergerak membenahi make-up sahabatnya itu dengan terampil.

"Nah, setidaknya sekarang lebih baik. Lihatlah dirimu. Kau sangat cantik Sakura-chan."

"Arigatou. Tapi aku tak cantik seperti yang kau katakan. Aku telah menyakiti orang yang kusayangi. Aku…"

"Kejar dia!"

"…"

"…itu akan membuatmu lebih baik," lanjut Hinata.

Sakura masih bergeming. Bingung apa yang harus ia lakukan. Mungkinkah ia harus tega menyakiti hati Sasuke demi dirinya.

"Tapi, bagaimana dengan Sasu—"

"Aku tak bicara mengenai Sasuke. Aku bicara tentangmu. Dan juga…" jeda sejenak, "…Kakashi-senpai."

Sakura membelalakkan mata emerald-nya, tak percaya akan kata-kata yang terlontar dari bibir Hinata. Hinata yang selalu peduli pada siapapun mampu berkata seperti itu.

"Hinata. Kau…"

"Jangan anggap aku tak mengerti perasaan Sasuke. Perlu kau tahu Sakura, Sasuke selalu sakit ketika bersamamu. Dan kau tahu apa sebabnya?"

"…"

"Karena kau selalu memandang kearah lain, pada Kakashi-senpai. Padahal ragamu berada dekat pada Sasuke. Kau selalu tersenyum untuk Sasuke, padahal jelas-jelas senyumanmu itu hanyalah topeng di matanya…"

"…dan semua itu lebih menyakitkan daripada melihatmu bersama Kakashi-senpai."

"…" Sakura terdiam mematung mencoba merekam se-seksama mungkin apa yang dikatakan sahabat wanitanya ini. Dia harus membuat keputusan secepat mungkin. Sebelum semuanya terlambat.

"Sakura. Semuanya telah siap. Pendeta, Sasuke dan lainnya telah menunggu," tiba-tiba seorang gadis berseru membuyarkan lamunan Sakura.

Merasa ada yang janggal dengan ekspresi Sakura, Ino —nama gadis tersebut— menghampiri Sakura setelah menatap Hinata sekilas. Tak beda jauh dengan Hinata, seketika wajah Ino langsung berubah sayu saat melihat Sakura yang seperti patung hidup. Ino menepuk lembut bahu sakura, bermaksud menyadarkan Sakura pada alam nyatanya.

"Hei Forehead, apa kau yakin dengan pernikahan ini?" tanya Ino meyakinkan Sakura.

Merasa tak ada jawaban dari sahabatnya, Ino kembali berucap, "Jangan memaksakan dirimu. Kau pantas bahagia Forehead."

~oOo~

Sasuke kini telah berdiri di altar gereja, menanti sang pengantin wanita datang untuknya. Sepuluh menit sudah ia menanti disana. Lagi-lagi ia harus menghela napas menghilangkan segala kejenuhan yang hinggap. Bisik-bisik dari para tamu undangan yang hanya berasal dari teman-teman Sasuke dan Sakura saat sekolah pun mulai mendominasi keadaan memenuhi ruang gedung.

Akhirnya sosok yang dinanti tiba juga. Sakura didampingi dua sahabatnya terlihat memasuki gedung yang sontak langsung menyita perhatian para tamu disana. Hanya satu yang ada di pikiran setiap orang yang melihat Sakura. Sempurna.

Namun tidak untuk Sasuke.

Karena Sasuke dapat melihat segala yang telah disembunyikan Sakura serapat mungkin. Saat ini Sakura tersenyum untuknya, tapi Sasuke tahu itu hanyalah kepura-puraannya. Mencoba menembus mata kelam Sasuke dengan emerald-nya, tapi lagi-lagi ia tahu bahwa dari mata indah itu, tak ada cahaya sedikitpun terpancar darinya.

Dan itu semua menyakitkan.

"Baiklah. Apakah semuanya siap?"

"Sa— saya si—"

"Tidak!" seru Sasuke sebelum Sakura menyelesaikan kata-katanya.

"…dan tak akan pernah siap," lanjut Sasuke dengan pandangan lurus kedepan.

"Sa—suke…" ucap Sakura sambil mendongak kearah Sasuke mencoba mencari kebenaran yang tak terduga.

Sedangkan Sasuke kini hanya diam dengan wajah datarnya. Tak ada sedikitpun rasa sesal dalam hatinya. Keadaan menjadi hening sejenak, seakan terjadi suatu yang buruk nantinya jika ada satu saja yang mengeluarkan suara.

"Biarkan mereka berbicara berdua. Sebaiknya kita pergi sekarang," ajak Tuan Haruno merobohkan suasana hening nan tegang kemudian langsung diikuti oleh yang lain.

~oOo~

Kakashi baru akan beranjak meninggalkan bangku taman yang sejak setengah jam lalu menjadi tempatnya menenangkan diri setelah ia kehilangan gadisnya. Dilihatnya kembali secarik tiket pesawat yang akan membawanya terbang ke Ame, tempat baginya untuk memulai kehidupan baru. Namun tiba-tiba ada tangan yang menahannya. Kakashi terlihat sedikit terkejut perihal tersebut, namun keterkejutannya belum seberapa ketika orang itu merampas paksa tiketnya lalu dengan secepat kilat dirobeknya menjadi beberapa bagian tak berarti lagi.

"Naruto!" geram Kakashi pada pemuda jabrik yang telah menjadi tersangka atas rusaknya tiket yang naas.

Namun pemuda yang kini tengah mendapat death glare dari Kakashi itu pun tak gentar seolah kebal dengan tatapan maut yang pasti dapat membuat orang awam mati ketakutan karenanya.

"Apa yang kau laku—"

"Cepat temui Sakura Kakashi!" sela Naruto pada Kakashi hingga lupa memberikan embel-embel sensei yang biasa ia ucapkan.

~oOo~

"Maaf," satu kata terlontar dari mulut Sakura.

Sasuke tetap berdiam diri, seolah tak memperhatikan gadis yang berada disisinya. Namun sebenarnya ia masih mendengar suara Sakura yang meminta maaf padanya.

Merasa tak diacuhkan, Sakura segera menarik tangan Sasuke yang tengah terbenam pada saku celananya, menggenggam tangan dingin itu.

"Ucapkan sesuatu Sasuke! Aku tak suka diacuhkan."

"Tak ada yang perlu kuucapkan."

"…"

"Bukankah kau akan bahagia bersama Kakashi, eh!"

"Apa maksudmu dengan ini semua!" sahut suara baritone yang tiba-tiba terdengar menggaung memenuhi gedung.

"Kakashi—" gumam sakura.

Terdengar langkah Kakashi menuju altar, tempat Sasuke dan Sakura berada.

"Bukankah kau hanya harus berterima kasih padaku karena telah mengembalikan gadismu, hah!" ucap Sasuke sakarstik sembari menatap tajam ke sepasang mata berbeda warna milik Kakashi.

Kakashi kembali menatap mata kelam milik Sasuke. Tatapan yang tak kalah tajamnya dengan sang Uchiha. Akan tetapi mata yang semulanya menyipit tajam itu terpejam dan berubah bentuk menyerupai bulan sabit. Ya, Kakashi tersenyum. Ekspresi yang jarang ia perlihatkan akhir-akhir ini.

"Terima kasih Sasuke…"

"…chan!" dengan tampang yang menyerupai anak kecil yang telah dibelikan permen dengan cuma-cuma, belum lagi surfiks –chan dibelakang namanya membuat Sasuke –sedikit- bergidik ngeri, padahal baru beberapa waktu yang lalu Kakashi terlihat sangat terpuruk. Akan tetapi hal itu malah membuat Sakura bersemu merah.

"Hn," jawab Sasuke dengan senyumannya yang –sangat- tipis. Bersamaan dengan itu, Sasuke melihat ada suatu benda yang terselip di saku jas milik Kakashi. Tanpa basa-basi, Sasuke mengambilnya dan berlalu membelakangi Kakashi dan Sakura sambil berkata, "Kurasa kau tak membutuhkan benda ini lagi."

"Tch! Mencoba merokok, eh!" ejek Kakashi. "Bahkan kau tak mengeluarkan pesan satupun supaya aku menjaga Sakura atau sebagainya seperti adegan-adegan di film, hah!"

Seketika Sasuke menghentikan langkahnya dan memutarkan badan menatap Kakashi, "Aku tak memberikan Sakura padamu…"

Kakashi mengernyit heran, begitupun Sakura.

"… melainkan aku hanya mengembalikannya. Jadi tak perlu kupesan padamu kau pasti akan menjaganya, karena ia pada dasarnya milikmu kan Kakashi?" lanjut Sasuke dengan banyak kosakata terucap untuk batas normalnya.

"Hei! Kalian bicara seolah-olah aku adalah benda!" protes Sakura setelah sekian waktu tadi lebih memilih membisukan diri.

Sontak protesan Sakura tersebut membuat Kakashi dan Sasuke mengalihkan perhatiannya untuk menatap Sakura dengan senyuman –lebih layak disebut seringai- terukir di bibir kedia pria tampan itu. Sakura yang dipandang dengan sedemikian rupa bersusah payah menelan ludah dan rona di pipinya, seolah-olah ia bisa mati jantungan karena seringai yang kelewat sempurna dari kedua pria itu padanya.

~oOo~

Malam semakin larut dan pekat. Hal ini dapat terbukti jika melihat jarum jam yang berdetak mendominasi keadaan telah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Dan dapat tergambarkan suasana sepi dan tenang di kediaman keluarga Hatake. Dan saat ini Sasuke tengah melewati ruang tamu yang lampunya telah padam menuju ke kamarnya untuk istirahat. Namun langkah pria berambut dan bermata sehitam malam itu terhenti ketika ia melihat seseorang yang begitu ia kenal. Hatake Sakumo, ayah angkatnya.

"Baru pulang? Kelihatannya kau sangat lelah," sambut Sakumo yang dibalas dengan anggukan Sasuke.

Kemudian pria tampan berusia setengah baya tersebut menepuk sofa disampingnya, memberi isyarat Sasuke supaya duduk disisinya. "Duduklah. Ada kalanya kelelahan tak dapat diatasi hanya dengan tidur."

Sasuke sedikit mengernyitkan dahi namun terlihat samar karena minimnya pencahayaan. Namun akhirnya Sasuke mulai tak bergeming dari posisinya untuk menuruti ajakan sang ayah angkatnya itu. Untuk waktu sejenak, Sasuke memandang sosok disampingnya. Pria yang terlihat beribawa, tampan, walau usianya sudah tidak bisa dibilang muda, tegas namun juga memiliki hati yang lembut –hingga Sasuke lupa penyebab kematian orang tuanya–. Mungkin inilah sosok Kakashi versi tuanya. Bahkan Sasuke berani menyimpulkan bahwa hanya keturunan Hatake yang mampu menyaingi pesona Uchiha.

Sasuke mungkin masih hanyut dalam pengamatannya pada Sang Hatake disampingnya kalau saja Sakumo tak bersuara, "Ini. Sedikit sake mungkin juga tak terlalu buruk."

Masih dengan kebisuan yang dibuatnya, Sasuke menerima sake dari tangan Sakumo.

"Sekarang, silahkan kau ungkapakan segalanya. Aku siap mendengar. Diam tak akan membuat semuanya lebih baik."

"…"

"Oh, baiklah. Biarlah aku yang memulainya…"

"… I pruod you, Son," ucap Sakumo tiba-tiba seraya menepuk bahu Sasuke.

"Eh!" hanya respon tak berarti yang ditunjukkan Sasuke. Namun detik berikutnya mata hitam milik Sakumo dapat melihat senyuman tipis dari anaknya ini.

"Terima kasih."

"Kukira ada kata-kata lain yang dapat kau ucapkan darimu…" dicondongkan tubuhnya pada meja di depannya untuk menuang sedikit sake pada mug keramiknya.

"... perasaanmu setelah melepas gadismu misalnya."

"Aku tak melepasnya. Karena aku hanya mengembalikannya," sanggah Sasuke untuk yang kesekian kalinya pada orang yang berbeda.

Sakumo sedikit tertegun mendengar pernyataan Sasuke. Sungguh ia tak menyangka Sasuke dapat menerima semua ini. Bertambahlah kebanggaannya pada anak angkatnya tersebut. "Jadi– apa kau baik-baik saja?"

"Hn."

"Dan kau bahagia?"

Terlihat Sasuke tengah menarik napasnya sejenak, "Setidaknya melihat ia –Sakura– tersenyum pada orang yang tepat dapat membuatku –sedikit– bahagia."

Lagi-lagi suasana menjadi hening. Hanya suara dentingan ringan antara botol sake dan mug keramik. Kini bukan hanya Sakumo saja yang menikmatinya. Malahan Sasuke telah menghabiskan satu botol minuman berakohol itu. Mungkin ia akan benar-benar mabuk kalau saja tangan Sakumo tak tergerak untuk mencegah tuangan yang ke dua puluh kalinya.

"Hentikan. Aku hanya bilang sedikit sake tidak terlalu buruk. Tapi aku tidak memintamu untuk mabuk."

Akhirnya Sasuke menghentikan kegiatannya untuk kembali meneguk sake. Dan ini membuat keadaan semakin hening. Hingga akhirnya…

"Kenapa? Semua orang yang aku sayangi harus pergi meninggalkanku. Kenapa?" ucap Sasuke mulai meracau.

"…"

"Tak salah lagi. Aku memang ditakdirkan untuk sendiri."

Ditepuknya lagi bahu Sasuke seperti beberapa saat lalu. Namun kali ini tangan Sasuke bergerak menepis tangan Sakumo.

"Jangan munafik kau Hatake!"

"Kaulah penyebab penderitaanku! Kau adalah dewa kematian dibalik tewasnya ayah dan ibu!" lanjutnya mulai memperlihatkan emosi yang sesungguhnya.

"Hei. Apa maksudmu?"

"Kaulah pembunuh orang tuaku!" tuding Sasuke.

Mendengar pernyataan Sasuke yang sangat tak terduga oleh Sakumo sontak membuat pria berambut perak itu membelalakan mata tak percaya. Kaget dan bingung menjadi satu. Namun akhirnya ekspresi tersebut hilang saat ia sadar ada sesuatu yang belum ia jelaskan pada bungsu Uchiha disampingnya. Kenyataan yang belum ia ungkapkan selama sepuluh tahun.

"Jadi kau selama ini masih salah paham seperti kakakmu, eh!" tanya Sakumo dengan sebuah senyuman.

"Apa maksudmu?"

"Hm. Jadi benar kau dan Itachi belum mengetahuinya. Baiklah. Sekarang adalah waktu yang tepat."

"…"

"Aku akan menceritakan yang sesungguhnya…" timpal Sakumo, kemudian diam sejenak memberi jeda untuk memulai penjelasannya.

"…hari itu, saat hari masih pagi. Fugaku dan Mikoto datang ke rumahku. Dan kau tahu mengapa?"

Sasuke tak merespon apapun perihal pertanyaan Sakumo padanya. Namun perhatiannya masih fokus pada penjelasan pria tersebut.

"Mereka berpesan supaya aku menjaga kalian. Itachi dan kau, Sasuke."

Tiba-tiba saja otak Sasuke menjadi sulit untuk mencerna kata-kata sederhana yang terlontar dari sosok Hatake tersebut. Butuh waktu beberapa saat hingga mulut si Uchiha mengeluarkan suara, "Jangan mengigau. Aku baru mengenalmu setelah kematian mereka. Ada hubungan apa kau dengan orang tuaku sehingga mereka begitu sangat mempercayaimu."

"Aku adalah sahabat mereka. Jelas kau belum mengenalku. Karena sebelumnya aku tak tinggal di Jepang apalagi Konoha," jawab Sakumo tanpa ada setitik dusta pun dibaliknya.

Sasuke terlihat frustasi. Pikirannya masih bergelut. Akan tetapi otak kanannya masih berfungsi sempurna karena ia masih sangat ingat ucapan Itachi bahwa Sakumo adalah pembunuh orang tuanya. "Jadi mana yang harus kupercaya, hah! Kau dan Itachi benar-benar—"

"Dan aku punya alasan kenapa Itachi mengiraku demikian. Ceritaku belum selesai Sasuke" sergah Sakumo.

"…"

"Jadi setelah mereka berpesan padaku, mereka pergi. Aku yang masih bingung dengan pesan mereka yang tiba-tiba dan terkesan seperti kata-kata perpisahan, akhirnya aku bermaksud mendatangi kantor ayahmu…"

"…namun bukannya aku menemukan kedua orang tuamu. Saat aku tiba disana keadaan kantor ayahmu telah terbakar dengan api yang semakin membesar. Aku segera menghubungi ayahmu, berharap ia masih mengangkat ponselnya. Dan ternyata kepanikanku sedikit berkurang saat kudengar masih ada jawaban di seberang sana. Akan tetapi ada satu hal yang tak aku sangka."

"Apa itu?"

"Ayahmu telah mengetahui kabar tersebut dari asistennya. Akan tetapi saat ia masih berhubungan telepon denganku, tepatnya beberapa saat setelah ia berpesan padaku untuk menjaga kalian untuk yang kedua kali, penyakit jantungnya kambuh. Dan…" Sakumo tak mampu lagi melanjutkan kata-katanya. Dibuangnya arah pandang mata onyx Hatake itu, mencoba menutupi raut mukanya yang jarang bahkan tak pernah ia perlihatkan pada orang lain.

"Jadi—"

"Ya. Karena beberapa hal tersebut. Mulai dari kedatangan orang tuamu ke rumahku, kedatanganku ke kantor ayahmu saat kebakaran, dan daftar telepon masuk terakhir sesaat sebelum kedua orang tuamu kecelakaan…"

"…belum lagi saat itu posisiku adalah saingan bisnis ayahmu. Tapi percayalah, aku tak ada niat setitikpun untuk menghancurkan perusahaan ayahmu. Bahkan jika saat itu ayahmu benar-benar bangkrut, dengan senang hati aku akan membantunya," papar Sakumo mencoba lebih meyakinkan Sasuke. Dan dua pasang mata yang sama-sama kelam tersebut bertemu, dimana salah satunya mencoba mencari kobohongan yang ada. Namun nihil.

"Jadi kebakaran dan kecelakaan itu…"

"Semua itu adalah kecelakaan murni."

Setelah mendengar selurunya dari mulut Sakumo, Sasuke sedikit merasa lega. Karena setidaknya kini ia tak membenci lagi pada orang yang salah. Namun tiba-tiba ada beberapa hal lagi yang membuat ia benar-benar kalut. Yaitu kehilangan orang-orang yang berarti bagi dirinya tiba-tiba menyeruak hati Sasuke untuk kembali merasa sesak lagi. Sakura, orang tuanya, bahkan Itachi yang kini tengah menanti maut menjemput. Semua itu benar-benar membuatnya kehilangan alasan untuk terlihat tegar. Melihat perubahan mimik Sasuke yang semula terlihat datar menjadi kacau, sontak membuat Sakumo bergerak untuk merengkuh tubuh Sasuke yang dikira kini psikologisnya –sedikit—rapuh. Dan dapat dirasakannya tubuh jangkung anak lelakinya tersebut bergetar.

"Tumpahkan semua hanya untuk sekarang. It will make you feel better, Son."

Seperti yang diduganya. Sasuke menangis. Tangisan yang dikehendaki Sasuke untuk yang terakhir kalinya. Namun ada satu hal yang baru pertama kali ia syukuri. Karena ia menangis di pelukan orang yang tepat. Pelukan seorang ayah.

~oOo~

Hari mulai terik saat jam berdetak menunjukkan pukul Sembilan pagi. Banyak kaum yang beraktifitas saat jam-jam seperti ini. Tak terkecuali Uchiha Obito, salah satu dokter di Akatsuki Hospital yang kini berada pada ruangannya. Terlihat dari raut mukanya yang kelelahan setelah menangani operasi besar untuk salah satu pasiennya. Dengan gerakan menarik tubuhnya, ia meregangkan otot-otot yang serasa kaku. Namun kemudian perhatiannya beralih pada pintu ruangan yang tiba-tiba berbunyi pertanda ada orang yang ingin menemuinya.

"Masuk."

Terlihat seorang suster berambut merah sepunggung tak lupa dengan sebuah map di pelukannya, menganggukan kepala dengan sopan sebelum berbicara pada sang dokter, "Maaf dok. Ada seseorang yang ingin menemui anda."

"Hn. Silahkan suruh dia kesini, Tayuya," jawab Obito tanpa bertanya siapa orang tersebut.

"Baik dok."

Tanpa berlama-lama lagi suster yang diketahui bernama Tayuya itu bergegas keluar dari ruangan Obito. Hingga beberapa saat kemudian pintu kembali terbuka dan seseorang masuk ke dalam ruangan dingin karena AC dengan nuansa serba putih itu.

Begitu tatapannya bertemu dengan si pembuka pintu barusan, tiba-tiba Obito membelalakan mata tak percaya pada sosok yang kini berdiri angkuh di hadapannya.

"Sasuke…"

-TBC-

Oya, soal chapter lima ini, sebenernya aku mau namatin di chap ini. tapi nggak jadi. Lihat tuh! Scene Sasuke dan Sakumonya aja uda segitu banyaknya. Kalau nggak gitu kan ga akan terungkap kalu Sakumo itu sebenernya nggak jahat, ga tega juga kan saya sama Si Om Sakumo. Lama-lama aku juga bingung, ini fict tentang KakaSaku ato Sasuke sih! *di death glare KakaSaku FC*. Trus soal sub-title kali ini kubuat "Cinta yang Lain" karena meskipun Sasuke kehilangan Sakura, ia masih mendapat cinta dari Sakumo –cinta ayah dan anak 'and no more'— Oke deh! Yang jelas chap depan ENDING-nya, dan aku kasi bocoran. Chap depan pake sudut pandang Sasuke *tuh kan Sasuke lagi*. Tapi tenang deh, ada scene pernikahan KakaSaku juga. Tak lupa juga ada kejutan-kejutan yang lainnya pula. Diantaranya beberapa "cinta yang semi di akhir musim semi" ^^b

TERIMA KASIH UNTUK SEMUANYA…

REVIEW…!

Teng-chan a.k.a Izkama cabut! , *Paw!*