Moshi-moshi minna-san! Ketemu lagi dengan saya, Yui hoshina, dalam fic gaje ini, bwahahaha… *plak*

Waduh.. HTNH dah lewat nih. Tapi, fic ini akan terus berjalan sampai tamat tanpa peduli ma aturannya, hahaha.. *digampar panitia (?) HTNH*

Sebenernya mau bales review dulu tapi.. nanti deh di bawah aja. Sekarang pengen jelasin settingnya dulu karna di chapter kemarin gak sempet. Gomenasai~.. ."

Naruhina, dkk: 17 tahun

Neji: 18 tahun

Konohamaru, dkk: 12 tahun (ntar muncul)

Setting tempat: pedesaan tapi mirip Konoha yang modern, hehe... masih ada tentang siluman, dll. (bayangin aja sendiri. *plak*)

a/n: status Neji di fic ini adalah kakak kandung Hinata dan Hanabi.

.

Happy Reading Minna-San and Here We Go! \^0^/

.

Disclaimer:

Punya papi Masashi kishimoto deh. Papi Masashi pelit! *dilempar beton*. Cerita nan gaje ini punya saya. =w=

Rate: T (pengennya rated M. *plak*)

Genre:

Mystery/Tragedy (tambahan fantasy, romance, humor, angst dan.. *reader: udaaah! Banyak banget sih?*)

Summary:

"Terserah kau sajalah, Neji. Melihat Hinata bahagia saja aku sudah cukup senang. Aku hanya bingung, apa kita harus tetap mencari ekor Kyuubi?" ujar Hiashi sedikit serius.

Warning:

AU, little OOC, abal, gajeness, fluffy (?), pemain antagonis (gomen, kalo ada yang gak suka), don't like don't read, special HTNH, dwwl (dan warning-warning lainnya).

.

.

Amaranth, Globe

By: Yui Hoshina

.

Chapter 2: Masalah yang mulai muncul

.

Sinar matahari pagi menembus sela-sela jendela kamarnya. Hembusan angin lembut membelai rambut indigonya, suara kicauan burung membangunkan sang putri dari mimpi indahnya.

Saat ia membuka matanya perlahan-lahan, terlihat pangeran impiannya disamping tempat tidurnya sedang bertopang dagu.

"Ah! Na-Naruto-kun..." betapa terkejutnya Hinata ketika Naruto tiba-tiba dikamarnya.

"Ohayo, Hinata-chan. Ternyata, wajahmu yang sedang tertidur sangat cantik. Rasanya.. aku ingin menciummu sekarang." Kata Naruto tersenyum lembut.

"HAH!"

Hinata's POV

"HAH!"

Aku terbangun dari tidurku dengan tiba-tiba karena terkejut. Ku rasakan wajahku memanas dan jantungku berdebar-debar. Ku peluk bantalku dengan sangat erat.

Mimpi. Ternyata itu hanyalah mimpi.

Haaaaahh... aku kaget sekali. Bagaimana bisa aku memimpikan Naruto-kun? Atau.. Mengapa aku memimpikannya? Apalagi didalam mimpi itu, Naruto-kun mengatakan akan menciumku.

Ugh.. jantungku berdebar-debar lagi. Wajahku memanas ditambah dengan detak jantungku yang semakin cepat. Apa yang dikatakan Nii-san tadi malam itu benar? Apakah aku benar-benar jatuh cinta pada Naruto-kun? Apakah ini yang namanya cinta? Aku benar-benar tidak tahu.

Cinta...

Sesuatu yang tidak mungkin ku dapatkan tetapi kini ku rasakan. Sesuatu yang dimiliki dan dirasakan semua orang. Aku kira.. aku tidak akan pernah merasakan yang namanya cinta, kasih sayang, maupun perasaan berdebar-debar terhadap laki-laki. Tapi tidak. Kini aku merasakannya.

Perasaan ini terasa hangat sekali, jantungku berdegup dengan kencang. Perasaan ini sedikit menyulitkanku tapi.. entah kenapa aku menyukainya. Aku hanya bisa terpuruk mengingat penyakitku yang sangat parah karena merasa tidak akan pernah merasakan betapa hangatnya rasa cinta itu.

Sudah sejak lama aku pasrah terhadap penyakitku. Penyakit yang tidak akan sembuh dengan obat biasa. Penyakit yang sedikit demi sedikit mulai menggerogoti tubuhku. Penyakit yang membuat Ayahku dan Neji-nii terlalu mengkhawatirkanku dan kebingungan mencari obat untuk kesembuhanku.

Haahh.. apa yang kupikirkan. Sebaiknya aku mulai merapikan tempat tidurku dan beranjak pergi. Aku akan ke tempat itu lagi. Entah kenapa, aku ingin ketempat itu lagi. Bertemu dengan dia lagi. Melihat senyumannya. Naruto-kun..

DEG!

"Ugh.. uhuk! Uhuk!.." ku rasakan jantungku sakit. Dadaku terasa sesak. Aku merasa penyakitku kambuh lagi.

Dengan sedikit tenaga, aku mencoba mengambil air putih dimejaku untuk meringankan rasa sakit ini. Ugh.. sedikit lagi.. sedikit..

PRAAAAAAAAAANG!

"HINATA! KAU BAIK-BAIK SAJA!"

Suara Neji-nii. Tidak! Jangan sampai Neji-nii kesini! Aku tidak ingin membuatnya khawatir lagi!

"Uhuk.. UHUK!" dadaku sakit sekali rasanya. Ku coba menutup mulutku dengan tanganku. Jangan sampai Neji mendengar suara batukku. "Uhuk! Uhuk!" sepertinya percuma. Tubuhku terasa lemas sekali. Kurasakan sesuatu cairan basah yang ada dimulutku. Saat kulihat..

"Darah!" pekikku. Gawat! Aku harus membersihkannya. Dimana? Dimana? Sapu tanganku... Dimana?

Ugh.. gawat! Tubuhku terasa lemas sekali. Aku.. harus kuat. Aku sudah lelah dengan semua ini. Aku harus bertahan. Aku...

End's POV

BRAAAKK!

"HINATA!" Neji langsung mendobrak pintu kamar Hinata bersamaan dengan Hanabi yang mengikutinya. Perasaan Neji kalut ketika ia menemukan Hinata terbaring dipinggir tempat tidurnya dengan darah yang mengalir di sudut bibirnya dan ditangannya.

"Ne-Neji-nii... Hanabi-chan.." sahut Hinata lemah. Wajahnya terlihat pucat dan lemah. Tatapan matanya terlihat kosong.

Neji bergegas menggendong Hinata dan membaringkannya kembali ke tempat tidur. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang. Ia tidak ingin terjadi apa-apa pada Hinata. Jangan sampai! Jangan sampai ia kehilangan adik yang ia sayangi.

"Kau tidak apa-apa, Hinata?" tanya Neji khawatir. Keringat dingin mulai mengalir diwajahnya menandakan ia sangat mengkhawatirkan keadaan Hinata.

"Tenang saja, Neji-nii.. aku.. tidak apa-apa.." kata Hinata lemah.

"Sudahlah, Hinata. Jangan bicara dulu. Aku akan memanggil dokter." Kata Neji. "Hanabi! Tolong ambilkan handuk kecil dan baskom berisi air hangat."

"Ha'i, Nii-san!" jawab Hanabi seraya pergi mengambil apa yang diminta Neji.

Tak berapa lama kemudian, Hanabi kembali sambil membawakan air hangat dan handuk kecil.

"Ini, Nii-san." Kata Hanabi sambil menyerahkan baskom berisi air hangat dan handuk kecil.

"Arigatou gozaimasu!" Neji pun menerimanya. "Hanabi, tolong jaga Hinata sebentar. Aku akan memanggil dokter." Pinta Neji seraya bergegas pergi. Hanabi mengangguk seraya membersihkan darah di bibir Hinata dan tangannya dengan handuk yang sudah dibasahi air hangat. Sedangkan Hinata tertidur pulas karena kelelahan dengan rasa sakit yang menyerangnya.

Tak berapa lama kemudian..

"Hinata! Dokter sudah datang!" kata Neji sambil menggandeng seorang pria berambut putih berkuncir satu dan memakai kacamata dengan tergesa-gesa.

"Hinata-nee sedang tidur. Nii-san, siapa dia?" tanya Hanabi bingung.

"Dia Dokter Kabuto. Dia akan memeriksa Hinata." Kata Neji. Hanabi mengangguk dan sedikit memberi jalan pada Kabuto walaupun perasaannya mengatakan ada hal yang aneh pada diri Kabuto.

Kabuto mendekati tempat tidur Hinata dan mulai memeriksanya. Ia terlihat serius memeriksa keadaan Hinata.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Neji was-was.

"Haaahh.. sepertinya keadaannya lebih parah dari sebelumnya. Penyakit kanker paru-parunya sudah mulai menyebar. Aku sarankan kalian cepat-cepat menemukan obatnya." Kata Kabuto dengan nada prihatin.

Neji sedikit shock, ia mulai berjalan mundur dan bersandar ditembok. Perlahan-lahan ia mulai merosot dan menutupi wajahnya.

"Hinata..." Hanabi yang merasa khawatir dengan keadaan Neji mulai mendekatinya.

"Tenang, Neji-nii. Hinata-nee pasti sembuh." Hibur Hanabi sambil menepuk-nepuk punggung kakak laki-lakinya itu. Neji mengangguk lemah dan sedikit tersenyum.

"Baiklah, sepertinya aku harus pergi sekarang. Aku hanya sarankan sekali lagi, bawakan ekor kyuubi jika ingin Hinata selamat. Lebih cepat, lebih baik." Kata Kabuto.

"Terima kasih." Ucap Neji seraya berjalan mengantarkan Kabuto.

Hanabi memandang Hinata di tempat tidurnya dan mulai mendekatinya. Ia mulai menggenggam tangan Hinata yang terasa dingin. "Hinata-nee.. cepat sembuh ya." Batin Hanabi berharap.

OooOOooO

Hari beranjak sore menampakkan sisa-sisa sinar keemasan. Hembusan angin sore melambaikan helai-helai rambut Hinata. Hinata mulai terbangun dari tidurnya dan mendapati tangannya tengah digenggam Hanabi yang tertidur.

"Aku...?" Hinata mulai melepas tangannya dari genggaman Hanabi dengan perlahan-lahan. Ia pun beranjak bangun dari tempat tidurnya dan mengambil mantelnya dan mulai pergi ke tempat itu.

Satu langkah, dua langkah, ia terus melangkahkan kakinya di padang rumput itu dan tiba di sungai kecil yang mengalir dengan lembut. Walaupun sedikit berat melangkah, tapi, itu tidak menyurutkan keinginan Hinata.

Ia mulai duduk dipinggir sungai tersebut dan mulai mencelupkan kakinya. Ikan-ikan kecil mulai mengerubungi kakinya. Hinata hanya tertawa kecil.

"Apa.. dia akan datang?" ucap Hinata menerawang.

"Apa yang kau maksud itu, aku?" sebuah suara mengagetkan Hinata. Ia mulai mencari-cari asal suara itu dan..

Kresek! Tep!

Seorang pemuda dengan jaket bertudung berwarna orange dan memakai celana hitam tiba-tiba turun dari atas pohon. Ia pun mulai menampakkan sosoknya. Seorang pemuda pirang dengan bolamata sewarna birunya lautan yang bisa dibilang lumayan tampan.

Hinata terkejut dengan kehadiran pemuda itu. "Kau... siapa kau?" tanya Hinata heran.

GUBRAKK!

"Aku tidak menyangka.. ternyata, manusia itu cepat sekali melupakan orang yang ditemuinya kemarin ya.." Ucap pemuda itu heran plus sweetdrop seraya mencoba berdiri.

"Kemarin? Jangan-jangan... Hah! Na-Naruto-kun!" ucap Hinata terkejut.

"Tentu saja. Memangnya siapa lagi?" tanya Naruto heran sambil melipat kedua tangannya..

"Go-gomenasai.. aku benar-benar tidak tau. Soalnya.. penampilanmu itu.." Hinata sedikit blushing dengan penampilan baru Naruto. Tanpa ekor maupun telinga rubah, ia terlihat sangat tampan.

"Tidak apa-apa, aku sudah menduga kejadian seperti ini." Kata Naruto seraya duduk disebelah Hinata dengan jarak yang tidak terlalu dekat.

Hinata hanya tertunduk malu. Mereka diam beberapa lama dalam keheningan. Angin sore mulai berhembus dengan lembut mengiringi keheningan yang memuncah. Angin sepoi-sepoi melambaikan rambut mereka berdua menambah keheningan yang dalam.

"Jadi... kenapa kau ada disini?" tanya Hinata memecah suasana. Naruto mengalihkan pandangannya pada Hinata.

"Sepertinya kau gadis yang beruntung ya.." kata Naruto tersenyum. Hinata heran dengan jawaban Naruto. Naruto mulai merogoh sakunya dan, "Ini.. punyamu kan?" kata Naruto sambil menyerahkan sapu tangan berwarna ungu pucat yang lembut.

Hinata terkejut, "Ba-bagaimana itu ada di padamu?" tanya Hinata bingung seraya mengambil sapu tangannya dari Naruto dengan ragu-ragu.

"Kebetulan saja aku menemukannya. Hanya saja.. ada sesuatu yang sedikit mengganjal pikiranku." Kata Naruto terlihat serius.

"Nani...?"

"Di sapu tanganmu itu, samar-samar aku mencium bau... darah. Apa.. kau sedang terluka atau sakit?" tanya Naruto.

Hinata terkejut dengan pernyataan Naruto. Ia mulai meremas sapu tangannya dan beralih ke dadanya.

"Bukan apa-apa. Aku.. Sebenarnya.. aku tidak ingin Naruto-kun tau. Aku tidak ingin dikasihani orang lain. Aku.. aku..." Hinata mulai menitikkan airmatanya. Ia tidak ingin Naruto tau bahwa ia sakit dan hanya satu obat yang dapat menyembuhkan penyakitnya. Ekor kyuubi.

"Sudahlah.. jangan menangis. Jika kau tidak ingin menceritakannya, kau cukup diam saja." Hibur Naruto yang mulai menyentuh wajah Hinata dengan lembut dan mengusapkan ibu jarinya untuk menghapus bulir-bulir air dipelupuk mata Hinata. Wajah Hinata bersemu merah. Tangan yang menyentuh wajahnya kini terasa hangat sekali.

"Arigatou gozaimasu, Naruto-kun." Ucap Hinata tersenyum lembut. Naruto menghentikan kegiatannya karena kini Hinata mulai memandangnya dengan sangat lembut, tegas dan serius.

"Ada apa?" tanya Naruto bingung.

"Sebenarnya, aku tidak ingin memberitahu Naruto soal ini karena pasti Naruto akan menjauhiku dan membenciku." Kata Hinata tertunduk lesu.

"Memangnya ada hubungannya?" tanya Naruto heran.

"Aku tidak tahu. Tapi, aku merasa Naruto-kun akan menjauhiku jika aku mengatakan hal ini." Hinata mulai meremas dadanya lagi seakan-akan rasa sakit itu mulai kambuh.

"Katakan saja. Aku ingin tahu sebenarnya." Kata Naruto dengan nada serius.

"Sebenarnya, aku mempunyai penyakit yang cukup parah dan penyakitku... hanya bisa.. disembuhkan oleh.. ekor Kyuubi."

Bagai tersambar halilintar, Naruto reflek menjauhi Hinata. "Jadi... kau akan membunuhku?" tanya Naruto dingin.

Hinata terkejut dengan perkataan Naruto, "Hah! A-apa maksudmu?"

"Kau akan membunuhku kan, Hinata." Ucap Naruto dingin.

"Membunuh? Jangan-jangan... kau itu.. Kyuubi?" ucap Hinata sedikit tercekat.

Naruto tersenyum sinis, "Memangnya kalau iya, kenapa? Apa kau akan membunuhku sekarang?" tanya Naruto lagi dengan posisi siap siaga.

"Tidak!" bantah Hinata tegas. Tanpa sadar Hinata berdiri, "Aku.. tidak akan membunuh Naruto-kun. Aku tidak mau!"

"Kenapa?"

Dengan wajah yang memerah, Hinata mulai berjalan ke arah Naruto, "Karena.. a-aku... aku... UWAAAAA!"

BRUUUKK!

Hinata tidak sengaja tersandung batu dan terjatuh tepat didepan Naruto. Sesaat ia meringis kesakitan dan saat membuka matanya, ia dihadapkan pemandangan bola mata biru laut yang terlihat indah. Entah melodi seperti apa, mereka tidak menyadari posisi mereka.

Begitupun Naruto, ia seakan terhipnotis dengan mata lavender Hinata. Keheningan yang dalam, tak ada seorangpun memecahkannya hingga.. Naruto mulai tersadar lebih dulu.

"Hinata... hm.. bisakah kau bangun dariku.." pinta Naruto pada Hinata yang ada diatasnya.

Ternyata, Hinata terjatuh tepat didepan Naruto sehingga membuat mereka sedikit kehilangan keseimbangan dan Hinata sukses mendarat diatas tubuh Naruto.

Hinata yang terkejut langsung bangun dari posisinya. "Su-summimasem, a-aku tidak sengaja!" ucap Hinata malu.

"Tidak apa-apa." kata Naruto sambil mengalihkan pandangannya. Sedikit semburat merah menghiasi wajah tampannya.

"Gomen ne Naruto-... akh!" Hinata meringis kesakitan ketika ia mencoba berdiri. Ia mulai menyentuh kakinya yang terkilir.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Naruto.

"Aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil, hehe.." Hinata berusaha positif dengan keadaannya.

"Syukurlah.. Hah!" Naruto merasa mendengar sesuatu. Ia merasakan instingnya mengatakan seseorang dalam bahaya.

"Gomen ne Hinata! Aku harus pergi sekarang. Nanti aku kembali!" Naruto mulai berlari dengan sangat cepat dan tergesa-gesa.

"Tunggu!"

Naruto mulai berlari dengan sangat cepat, perlahan-lahan ekor dan telinganya mulai muncul bersamaan dengan pakaiannya yang mulai berubah menjadi hitam. Matanya yang berwarna biru laut, perlahan-lahan berubah menjadi semerah batu ruby.

Tepat didepannya, 2 orang manusia tengah memojokkan seseorang

"Berhenti!" teriak Naruto. Dengan cepat Naruto langsung berhenti tepat di depan seseorang yang dipojokkan.

"Naruto Nii-chan!" teriak orang itu.

"Kau tidak apa-apa kan, Konohamaru." tanya Naruto pada anak kecil tau lebih tepatnya siluman serigala kecil.

"Hm, Aku tidak apa-apa!" jawab Konohamaru.

"Baiklah, cepat pergi! Biar aku yang mengurus mereka!" perintah Naruto.

"Arigatou, Nii-chan!" jawab Konohamaru seraya beranjak pergi.

"Huh.. siluman Kyuubi ya. Sepertinya kita beruntung." Kata salah satu orang itu.

"Benar! Jika kita mendapatkan ekornya, kita bisa hidup kekal, hahaha..." kata orang yang satunya lagi.

"Tapi, sayangnya, kalian kurang beruntung. HEYAAAAHH! BUGH! BUGH!" kurang dari satu menit, 2 orang itu pingsan. Naruto memang tidak ingin menyakiti manusia tetapi jika ada seseorang yang menyakiti sahabatnya, ia tidak akan segan-segan menghajar orang itu.

Dengan begini, tugas Naruto sudah selesai. Ia mulai beranjak pergi, kembali ketempat Hinata dan perlahan-lahan ia pun berubah menjadi manusia kembali.

Hinata terduduk lemas dan bersandar di pohon yang cukup rindang dekat sungai itu. Hari mulai beranjak malam, tapi, sosok yang ditunggunya tak kunjung. Ia terus menunggu, entah sampai kapan.

"Maaf membuatmu menunggu lama," tiba-tiba suara seseorang yang dinanti Hinata akhirnya datang. Naruto kini berdiri di hadapan Hinata.

"Tidak apa-apa." kata Hinata tersenyum lembut.

"Sebaiknya aku mengantarmu pulang. Hari sudah beranjak malam." Tawar Naruto.

"Tapi..."

"Bukankah kakimu sedang terkilir. Lagipula, anak perempuan sepertimu tidak boleh pulang sendirian."kata Naruto. Hinata mengangguk lemah.

Naruto mulai membelakangi Hinata dan sedikit berlutut dengan salah satu lututnya menyentuh tanah.

"Ayo, naik!" walaupun sedikit ragu, Hinata menaiki punggung Naruto. Kedua tangannya ia lingkarkan di leher Naruto. Dan Naruto sendiri, menahan kedua kaki Hinata agar gadis itu tidak jatuh.

Selama perjalanan, Naruto membuka pembicaraan.

"Hinata.." panggil Naruto.

"Ya.."

"Apa kau sudah makan? Tubuhmu ringan sekali.." ujar Naruto.

"Sudah. Mungkin karena efek penyakitku saja." Kata Hinata datar. "Ng.. boleh aku tanya sesuatu?"

"Tanyakan saja."

"Apa kau tidak apa-apa mengantarku seperti ini? Apa orangtuamu tidak khawatir?" tanya Hinata. Naruto berhenti sejenak, kemudian mulai berjalan lagi.

"Tidak. Orangtua ku sudah lama meninggal," kata Naruto. Hinata terkejut dengan penuturan Naruto.

"Kenapa?"

"Ayahku meninggal karena melindungi aku dan ibuku, aku tidak bisa mengingat dengan jelas, yang ku ingat hanyalah bau darah yang menyebar disekitarku. Dan pelukan hangat ibuku." Kata Naruto datar tanpa ekspresi.

"Gomenasai~.." Hinata merasa bersalah karena membuka luka lama Naruto.

"Tidak apa-apa, tidak usah kau pedulikan."

"Lalu.. ibu mu?"

"Ibu meninggal karena suatu penyakit yang tidak diketahui." Jawab Naruto singkat. Tanpa sadar sebulir air turun dipelupuk matanya.

"Maafkan aku..."kata Hinata lirih.

"Tidak apa-apa. Aku tidak terlalu memikirkan hal itu karena aku mempunyai teman-teman yang sangat mempedulikanku."

"Teman?"

"Ya.. sejak orang tua ku meninggal, mereka semua sudah menjadi bagian hidupku. Mengisi kekosonganku dan mengisi hari-hariku dengan penuh keceriaan. Mereka semua adalah Keluargaku."

Hinata terdiam sesaat. "Begitu ya.. aku sama sekali tidak punya teman.." kata Hinata lirih.

"Kenapa?"

"Karena penyakitku ini tidak pernah membiarkanku keluar dari rumah. Hanya beberapa kali saja aku kabur dan mencuri kesempatan untuk melihat dunia luar." Kata Hinata.

"Jadi begitu. Pantas saja kau tidak takut dengan siluman sepertiku. Kau beruntung bertemu denganku karena ada beberapa siluman yang lumayan jahat."

"Yah, aku beruntung bertemu denganmu.." kata Hinata lemah. Tangannya yang sedang terkalung di leher Naruto mulai mengendur. Tubuhnya seakan tidak kuat untuk bertahan dalam posisinya.

"Hei, bertahanlah! Kita sudah hampir sampai." Kata Naruto sambil mempererat tangan Hinata di lehernya.

"Iya.. aku.. akan bertahan.." ujar Hinata di tengah nafas yang tidak beraturan.

Karena merasa khawatir dengan keadaan Hinata, Naruto mempercepat langkahnya menuju kediaman Hyuuga.

-Kediaman Hyuuga-

"Neji! Apa kau sudah menemukan Hinata?" tanya Hiashi dengan nada khawatir. Sekarang mereka ada di halaman depan rumah.

"Tidak! Aku sama sekali tidak menemukannya dimanapun." Kata Neji sedikit putus asa.

"Maafkan aku.. hiks.. Ini salahku karena tidak menjaga Hinata-nee dengan baik.." Hanabi meratapi kesalahannya karena tidak tau kemana kakaknya pergi.

"Sudahlah, Hanabi. Ini bukan salahmu. Kita hanya lalai menjaga Hinata." Hibur Neji sambil membelai rambut coklat adik keduanya.

"Maafkan aku.. maafkan aku.. hiks.." Hanabi masih saja menyalahkan dirinya.

Tok! Tok! Tok!

Terdengar pintu gerbang kediaman Hyuuga diketuk seseorang. Dengan sigap Neji langsung membukakan pintu gerbang yang terbuat dari kayu itu.

"Siapa?" tanya Neji sambil membukakan pintu gerbang. Terdapat sosok pemuda pirang yang tengah menggendong seseorang.

"Gomenasai.. ano.. Hinata.." Naruto menunjukkan seseorang yang ada digendongnya.

"HINATA!" pekikan Neji mengagetkan semua orang yang ada dihalaman depan rumah itu.

"Neji! Apa Hinata sudah ditemukan?" tanya Hiashi seraya menemui Neji yang ada didepan pintu gerbang. Terlihat Neji tengah menggendong anak perempuan yang baru saja diturunkan oleh pemuda pirang itu.

"Ya.." jawab Neji singkat.

Hinata membuka matanya, "Neji-nii.."

"Syukurlah kau tidak apa-apa." kata Neji mensyukurinya.

"Baiklah, sepertinya tugasku sudah selesai. Aku harus pergi sekarang." Pamit Naruto sopan. Hinata seperti keberatan melihat Naruto pergi dan Neji menyadari reaksinya.

"Hei, tunggu dulu!" cegah Neji. Naruto membalikkan badannya, "Sebaiknya, kau mampir sebentar disini," tawar Neji.

"Tapi..." perkataan Naruto terpotong ketika seorang anak perempuan berambut coklat yang terlihat berumur 12 tahun menarik bajunya, yang ternyata adalah Hanabi.

Hanabi tersenyum manis, "Ayo!" Hanabi langsung menyeret Naruto masuk kerumah Hyuuga.

"Heeeeeeeeee...!" Naruto hanya bingung ketika diseret oleh Hanabi.

-Ruang tamu kediaman Hyuuga-

"Silahkan minum tehnya." Tawar Hanabi. Naruto hanya mengangguk kaku dan mulai meresapi tehnya.

Naruto sekarang berada di sebuah ruang tamu yang cukup sederhana dengan meja kayu berbentuk oval dan tempat duduk berupa bantal untuk bersimpuh.

Slruuup! Aaaaaahhh!

Setelah keadaan sedikit tenang, Hiashi membuka pembicaraan.

"Terima kasih sudah membawa Hinata pulang. Aku tidak tau bagaimana harus membalas jasamu." Kata Hiashi sedikit membungkuk.

"Sudahlah, itu bukan apa-apa," kata Naruto merendah. Keheningan mulai melanda lagi, tak ada yang ingin membuka suara hingga.. "Jika berkenan, aku ingin menanyakan suatu hal pada pada paman." ujar Naruto.

"Baiklah. Silahkan tanya apa saja." Kata Hiashi.

"Aku ingin bertanya, apakah ekor kyuubi adalah satu-satunya obat untuk Hinata?" tanya Naruto. Hiashi sedikit terkejut dengan pertanyaan Naruto.

Ia tertunduk lesu. "Sepertinya.. iya.." jawab Hiashi ragu.

"Sepertinya? Anda ragu? Apa anda tidak yakin?" tanya Naruto heran.

"Iya. sebenarnya aku sedikit ragu, aku tidak mau mengorbankan seseorang demi kesembuhan putriku. Apalagi kyuubi adalah seorang siluman." Naruto sedikit terpana dengan perkataan Hiashi tetapi ia langsung memasang wajah datar.

"Kenapa?"

"Karena kyuubi juga makhluk hidup seperti kita." Jawab Hiashi singkat.

Seperti angin musim semi yang menelusup ke relung hati Naruto, ia sedikit merasa hangat karena sedikit dihargai.

"Sebenarnya, aku merasa prihatin dengan perburuan siluman akhir-akhir ini. Aku merasa muak dengan orang-orang yang dengan seenaknya memburu siluman tanpa sebab-akibatnya. Padahal, selama ini para siluman tidak lagi mengganggu kami. Aku tidak tau apa yang menjadi penyebabnya." Ujar Hiashi dengan nada prihatin.

"Begitu ya.." sahut Naruto.

"Hinata! Tunggu dulu! Keadaanmu masih belum stabil!" terdengar deru langkah kaki mendekat ke ruang tamu dan..

"Naruto-kun!" Hinata membuka pintu geser cukup keras dan terlihat Naruto yang ada didepannya. Namun, karena masih lemah, Hinata kehilangan keseimbangan dan terjatuh tepat di depan Naruto. Naruto dengan sigap menangkap Hinata ke dalam pelukannya.

"Hinata!" Hiashi terkejut dengan kedatangan Hinata yang tiba-tiba begitupun Hanabi.

"Gomenasai~.."Neji meminta maaf pada Naruto. Naruto hanaya tersenyum memakluminya.

"Biarkan aku yang membawa Hinata ke kamarnya." Pinta Naruto pada Hiashi dan Neji. (kalo Hanabi sudah pasti mengizinkannya). Hiashi dan Neji mengangguk pasrah.

Narutopun menggendong Hinata ala bridal style dan menuju ke kamar Hinata setelah Neji menunjukkannya. Setelah memasuki kamar Hinata, Naruto mulai membaringkan Hinata di tempat tidurnya. Sesaat ia akan meninggalkan Hinata, tiba-tiba tangannya di tahan.

"Kau.. akan pergi?" tanya Hinata lemah.

"Ya. Aku tidak mungkin disini semalaman." Kata Naruto datar.

"Tapi... aku.. ingin bertemu denganmu lagi." Kata Hinata.

"Benarkah?" tanya Naruto memastikan. Hinata mengangguk. "Baiklah.. aku akan meminta izin pada ayahmu untuk membawamu pergi besok. Aku akan mambawamu melihat dunia luar." Ujar Naruto.

"Benarkah?" tanya Hinata memastikan. "Kau janji?"

"Ya. Aku janji." Bersamaan dengan itu, Hinata melepas genggaman tangannya pada Naruto.

"Boleh aku tanya sesuatu?" tanya Hinata lemah.

"Apa?" sahut Naruto datar.

"Bagaimana kau tau rumahku? Padahal aku tidak pernah mengatakannya padamu." Kata Hinata heran.

Naruto tersenyum simpul dan mulai mendekatkan wajahnya tepat ditelinga Hinata. "Kau lupa. Aku adalah siluman. Penciumanku sangat tajam melebihi anjing biasa." Bisik Naruto pelan.

Hinata mengangguk mengerti. "Pantas saja."

"Baiklah. Aku pergi dulu. Aku akan memberitahumu jika sudah mendapat izin." Kata Naruto. Hinata mengangguk. Naruto pun keluar dari kamar Hinata.

Tidak perlu waktu lama untuk mencari Hiashi, ternyata Hiashi, Neji dan Hanabi sudah ada didepan kamar Hinata a.k.a menguping pembicaraan. Naruto tentu saja kaget karena Hiashi sudah ada didepan kamar Hinata.

"Paman.."

"Kau tidak perlu meminta lagi. Aku mengizinkanmu membawa Hinata. Daripada ia hilang tanpa sepengetahuanku lagi." Kata Hiashi sedikit tersenyum jahil.

Walaupun sedikit bingung, Naruto menjawab, "Arigatou gozaimasu." Naruto sedikit lega.

Ia pun langsung menemui Hinata dan sedikit membuka pintu kamar Hinata. "Hinata.."

Hinata sedikit menengok, "Ya."

"Aku akan menjemputmu pukul 9 pagi. Jadi, kau harus siap-siap." Kata Naruto. Tersirat wajah kebahagiaan menghiasi wajah Hinata, ia tersenyum dan mengangguk pelan.

"Baiklah, aku akan mengantarmu ke pintu depan." Tawar Neji.

"Arigatou." Ucap Naruto seraya menutup pintu kamar Hinata.

Neji dan Hiashi mengantar Naruto ke pintu depan. Sedangkan Hanabi menemani Hinata.

"Baiklah, sekali lagi terima kasih atas kebaikan kalian." Ucap Naruto sesudah sampai di pintu depan.

"Sama-sama. Ng.. boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Hiashi.

"Tentu saja." Jawab Naruto.

"Siapa namamu?"

Dengan tersenyum, Naruto menjawab. "Naruto. Uzumaki Naruto."

"Naruto. Nama yang bagus. Baiklah, satu pertanyaanku lagi," sepertinya Hiashi penasaran sekali dengan orang yang ada didepannya. "Sejak kapan kau mengenal Hinata?"

"Aku baru saja mengenalnya kemarin. Baiklah, aku permisi dulu. Keluargaku pasti mengkhawatirkanku." Pamit Naruto.

Hiashi mengangguk, "Sampai jumpa." Naruto pun pergi dengan cepat.

"Ternyata Naruto baru mengenal Hinata kemarin ya. HAH! KEMARIIIIIIN!" teriak Hiashi yang baru menyadari bahwa ia baru saja menyerahkan putrinya kepada anak kemarin sore yang baru ditemui Hinata. "Huwaaaa.. Neji, bagaimana ini? Aku baru saja menyerahkan Hinata pada orang yang baru dikenalnya. Aku mengira, mereka berdua sudah lama saling kenal. Aku Ayah yang payah!" Hiashi menyesali dengan perbuatannya barusan. Neji sweetdrop melihat tingkah Hiashi yang menurutnya 'lebay'.

"Tidak apa-apa. Sepertinya dia orang baik. Kita serahkan Hinata dalam perlindungannya karena.. Hinata menyukainya..." kata Neji sedikit pelan pada kata 'menyukainya'.

"Kau bilang apa tadi?" tanya Hiashi.

"Bukan apa-apa." sahut Neji asal seraya masuk rumahnya. Hiashi mengikutinya dengan pandangan bingung.

"Sedikit lagi. Aku akan mendapatkan ekor kyuubi sedikit lagi dan aku akan menghidupkan tuan Orochimaru kembali.. hahahaha..." kata Kabuto sambil meracik obat entah apa isinya. Ia mulai menghaluskan beberapa bahan dan menjadikannya bubuk asing dan memasukkannya dalan sebuah kertas segi empat kecil.

"Dengan ini.. aku akan bisa mengendalikan Pimpinan Hyuuga itu, HA HA HA HA..."

OooOOooO

Pagi hari yang cerah, Hinata sudah bersiap-siap dengan perlengkapannya. Ia sengaja bangun pagi dan membuat bekal untuk mereka berdua. Ia mengenakan baju terusan berwarna ungu lembut dengan motif bunga sakura dibagian bawah roknya. Ia terlihat manis dengan aksesoris jepitan model bunga sakura menghiasi rambut indigonya.

"Sepertinya kau sudah bersiap-siap ya, Hinata. Kau sudah tidak sabar ya," goda Neji yang tiba-tiba saja bersandar di pintu kamar Hinata. Hinata terkejut dengan kemunculan Neji.

"Neji-nii.." wajah Hinata memerah.

"Sudahlah. Naruto sudah menunggumu di luar." Kata Neji lagi. Hinata mengangguk seraya pergi.

"Hinata benar-benar sedang jatuh cinta." Gumam Neji senang melihat ekspresi yang bahagia dari Hinata.

Perjalanan Hinata dan Naruto pun di mulai. Mereka mulai dari padang rumput tempat mereka pertama kali bertemu, memasuki hutan, dan melewati pohon-pohon yang besar. Disini, Hinata mulai ragu dan sedikit takut.

"Naruto-kun.. kita mau kemana?" tanya Hinata ragu.

"Bertemu keluargaku." Ucap Naruto tersenyum lembut.

Hinata sedikit bingung dengan kata keluarga. Apakah ia akan bertemu siluman lain seperti Naruto?

"Baiklah.. kita sudah sampai." Kata Naruto.

Mereka pun sampai di sebuah danau yang bersih dan lumayan besar. Di danau tersebut sangat sepi tapi pemandangan yang disuguhkan sangat indah dengan dikelilingi pohon-pohon yang rindang. Hinata tidak mengerti arti dari kata 'sampai'.

"Kalian semua, Ayo keluar." Panggil Naruto entah pada siapa. Setelah beberapa lama Naruto mengeluarkan kata-katanya tadi, muncullah beberapa orang yang sedikit aneh menurut Hinata. Mereka mirip Naruto waktu berwujud kyuubi.

"Naruto Nii-chan! Kemana saja tadi pagi?" tanya siluman serigala kecil yang tak lain adalah Konohamaru.

"Aku baru saja menjemput teman baru." Jawab Naruto sambil mengusap-usap kepala Konohamaru.

"Hentikan! Aku bukan anak kecil lagi." Protes Konohamaru sambil melihat orang yang dibawa Naruto. "Maksudnya dia..?" tunjuk Konohamaru pada Hinata.

"Ya." Sahut Naruto singkat.

"Naruto-kun... dia?" tanya Hinata heran sambil menunjuk Konohamaru.

"Dia Konohamaru, siluman serigala. Kau jangan takut, para siluman disini semuanya baik." Ujar Naruto. Hinata sedikit bernafas lega.

"Yo, Naruto. Kenapa kau tidak bilang-bilang kalau sudah punya pacar?" goda seorang siluman lagi. Kali ini siluman anjing beserta anjing yang sangat besar sedang santai di atas pohon.

"Kiba! Dia buka pacarku!" bantah Naruto kesal. "Dia Kiba. Siluman anjing paling menyebalkan disini. Sedangkan anjing yang disitu, namanya Akamaru" Kata Naruto memperkenalkan Kiba dengan sangat tidak ikhlas (?) yang disahuti gonggongan Akamaru.

"Kau yang paling menyebalkan disini. Benarkan, gadis manis?" tanya Kiba seraya turun sambil merangkul Hinata. Hinata blushing.

"Oi, Kiba! Jangan peluk dia sembarangan. Aku bisa dibunuh ayah dan kakaknya nanti." Cegah Naruto sambil menarik Hinata kearahnya.

"Huh? Memangnya kenapa?" tanya Kiba heran "Lagipula.. dia sedikit aneh. Baunya sedikit mirip dengan... manusia!" tebak Kiba curiga.

"Memangnya kenapa? Dia memang manusia." Kata Naruto santai sambil menarik Hinata menuju danau dan bermain dengan anak-anak siluman lainnya dan dia sendiri kembali ke tempat Kiba

"..." Kiba dan Konohamaru cengok sebentar dan...

"APAAAAAAAAA? MANUSIAAAA?" teriak Kiba dan Konohamaru serempak.

"Naruto! Apa kau gila! Kenapa kau membawa manusia kesini? Kita bisa dibunuh oleh para manusia itu!" protes Kiba kesal.

"Itu benar, Naruto Nii-chan!" tambah Konohamaru.

"Tidak apa-apa. Dia tidak berbahaya. Lagipula.. aku yakin Hinata tidak akan memberitahukan tempat ini." Kata Naruto tenang.

"Aaaaaaaargh... terserah kau sajalah. Kau memang ceroboh membawa manusia yang baru saja kau kenal ke tempat rahasia kita. Kenapa?" tanya Kiba kesal.

"Aku... hanya ingin memperlihatkan dunia luar padanya." Kata Naruto tersenyum lembut.

Kiba terdiam, "Haahh.. kalau berdebat denganmu selalu saja aku yang kalah. Terserah kau sajalah. Aku hanya bisa percaya kita akan baik-baik saja." Kata Kiba pasrah.

"Arigatou, Kiba." Ucap Naruto. "Kau mau ikut bersenang-senang?" tanya Naruto.

"Kau sedang menyindirku? Tidak, terima kasih. Aku harus selalu mengawasi tempat kita agar tidak sembarang orang memasuki tempat ini." Tolak Kiba.

"Begitu ya. Baiklah, selamat bekerja." Kata Naruto.

"Tentu saja! Sampai jumpa, Naruto!" pamit Kiba seraya menghilang seiring hembusan angin.

Setelah Kiba pergi, Naruto menyusul Hinata sambil menggandeng Konohamaru.

"Apa ini tidak apa-apa, Naruto Nii-chan? Aku khawatir." Ucap Konohamaru ragu.

"Tidak apa-apa. Sebaiknya kau juga coba bermain." Kata Naruto.

"Baiklah." Ucap Konohamaru seraya berlari ke arah danau.

"Naruto-kun!" panggil Hinata sambil melambai-lambaikan tangannya. Naruto membalas lambaian Hinata dan mulai duduk dekat danau tersebut. Hinata menghampirinya dengan pakaian yang sedikit basah. Sepertinya ia baru saja main siram-siraman dengan beberapa anak siluman.

"Kau senang?" tanya Naruto. Hinata mengangguk dengan semangat.

"Tempat ini menyenangkan! Apa besok aku boleh kesini lagi?" tanya Hinata bersemangat.

"Tentu saja. Dengan satu syarat."

"Syarat? Syarat apa?" tanya Hinata bingung.

"Kau harus merahasiakan tempat ini. Ini rahasia kita berdua." Kata Naruto mengedipkan matanya. Hinata mengangguk.

"Nee-san! Ayo kita main lagi!" ajak anak siluman rusa bernama Mougi.

"Iyaaa!" sahut Hinata seraya berlari ke arah Mougi.

"Semoga keadaan seperti akan terus berjalan." Batin Naruto berharap.

"Sepertinya Hinata sangat senang dengan kedatangan Naruto, ya." Kata Neji membuka pembicaraan di ruang tamu bersama Hiashi.

"Iya. Tapi, aku tidak menyangka bahwa Naruto itu orang yang baru dikenalnya kemarin." Kata Hiashi pundung.

"Memang tidak kelihatan. Mungkin... ini yang namanya jodoh." Kata Neji sambil meresapi teh hijaunya.

"Terserah kau sajalah, Neji. Melihat Hinata bahagia saja aku sudah cukup senang. Aku hanya bingung, apa kita harus tetap mencari ekor Kyuubi?" ujar Hiashi sedikit serius.

"Tentu saja harus. Karena itu adalah satu-satunya obat bagi putrimu." Tiba-tiba saja, Kabuto muncul di ruang tamu.

"Dokter! Sejak kapan anda disini?" tanya Hiashi bingung.

"Baru saja. Aku kesini untuk memeriksa keadaan Hinata." Kata Kabuto.

"Maaf, tapi Hinata tidak ada di rumah. Ia sedang pergi bersama Naruto." Kata Neji.

"Naruto? Siapa Naruto?" Tanya Kabuto mengernyitkan dahinya. Sepertinya ia merasa familiar dengan nama itu.

"Dia teman Hinata. Namanya Uzumaki Naruto. Memangnya ada apa?" Tanya Neji heran.

"Bukan apa-apa." Jawab Kabuto.

"Naruto? Jadi siluman kyuubi itu sedang bersama dengan putri Hyuuga? Sudah lama sekali aku tidak bertemu Naruto. Kebetulan sekali, aku bisa membunuh langsung Naruto untuk membalas kematian tuan Orochimaru gara-gara Namikaze Minato, ayahnya itu. Walaupun aku sudah membunuh Ibunya dengan racikan racunku, tetap saja itu tidak bisa membuatku puas. Ini akan mempermudah pekerjaanku." Batin Kabuto senang.

"Dokter? Kau tidak apa-apa?" tanya Hiashi.

"Tidak apa-apa. Maaf mengganggu acara kalian berdua. Aku akan pergi sekarang." Pamit Kabuto yang dijawab dengan anggukan dari Hiashi dan Neji. "Dengan begini, aku hanya perlu mengendalikan Hiashi, dan semua rencanaku akan tercapai."

"Ayah, aku sedikit curiga pada Kabuto. Apa dia benar-benar dokter? Sepertinya ia mempunyai rencana tersembunyi." tanya Neji curiga.

"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kita hanya bisa percaya padanya karena dokter yang paling hebat, Tsunade, tidak diketahui keberadaannya. Kita hanya bisa pasrah terhadap keadaan." Kata Hiashi.

"Iya."

Setiap hari, Hinata selalu pergi dengan Naruto ke tempat Danau yang di penuhi siluman itu. Kegiatan seperti itu berlangsung beberapa hari, walaupun tidak diketahui apakah penyakit Hinata kambuh lagi. Tapi, dengan adanya Naruto, hari-hari Hinata yang penuh kekosongan menjadi hari-hari yang menyenangkan dan penuh keceriaan. Hiashi, Neji dan Hanabi tentu sangat senang melihat perubahan Hinata. Ini semua berkat Naruto.

Tapi, hari-hari kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.

"Sudah waktunya. Tamatlah riwayatmu, Naruto. Hari-hari kebahagiaanmu akan berakhir sampai disini." Kata Kabuto menyeringai, melihat keceriaan terpancar di wajah putri Hyuuga itu.

Sudah lebih dari seminggu, Naruto dan Hinata pergi bersama. Mereka semakin dekat dan mungkin tidak terpisahkan hingga.. bencana itu terjadi.

Sore itu, seperti biasa Naruto mengantar Hinata pulang ke rumahnya. Biasanya, Hiashi atau Neji akan menunggu kedatangan mereka. Tapi, hari ini tidak.

"Hinata, kenapa sepi sekali? Biasanya paman Hiashi selalu menyambut kita." Tanya Naruto heran.

"Entahlah, Naruto-kun, aku tidak tau." Jawab Hinata.

Saat Naruto mulai membuka pintu gerbang, tiba-tiba, sebuah panah melesat ke arah Naruto. Dengan gesit, Naruto menghindarinya.

"Naruto-kun!" jerit Hinata khawatir.

"Apa yang sebenarnya terjadi!" teriak Naruto bingung.

Kemudian, muncullah Hiashi dan para tetuah maupun keluarga Hyuuga muncul sambil membawa senjata tajam. Dari pedang, tombak, obor, maupun busur dan panah yang baru saja ditembakkan ke arah Naruto tadi.

"Kau lumayan juga menghindari panahku, Naruto. Ah, atau perlu aku panggil 'Kyuubi'!" kata Hiashi menyeringai. Mata Naruto terbelalak.

"Ayah!" pekik Hinata.

"Cepat masuk, Hinata!" perintah Hiashi dingin.

"Tapi..."

"MASUK!" perintah Hiashi lebih keras.

Hinata terkejut mendengar ayahnya berteriak kasar pada dirinya. Entah setan apa yang memasuki ayahnya kini tetapi satu hal yang ia tahu. Orang yang ia panggil ayah sekarang, bukan lagi ayahnya yang dulu. Dengan ragu-ragu, ia memasuki rumahnya sambil menatap Naruto yang tengah menatapnya sendu dan menganggukkan saja permintaan Hiashi.

"Kini tinggal kita, Naruto. Aku sudah tertipu dengan penampilan manusiamu itu untuk mengajak Hinata keluar dari rumah. Kau pasti berencana akan membunuh kami, bukan?" kata Hiashi menyeringai. Naruto hanya diam. "AYO JAWAB!" bentak Hiashi.

"Apa aku harus menjawab pertanyaan bodoh itu?" tanya Naruto ikut-ikutan menyeringai.

"Berani sekali, kau. Sebaiknya kau buka topeng manusiamu itu, Kyuubi. Tunjukkan wujud aslimu!" perintah Hiashi.

"Baiklah, jika itu maumu." Kata Naruto. Perlahan-lahan, telinga dan ekor rubahnya muncul, pakaiannya berubah menjadi hitam dengan setelan tanpa lengan dan kerah yang sedikit besar. Matanya yang berwarna biru berubah menjadi semerah darah. Bulan purnama dibelakangnya, menambah kesan misterius pada dirinya.

"Apa itu sosok aslimu, huh? Tidak jauh beda." Ejek Hiashi.

"Terserah apa katamu, Paman Hiashi." Sahut Naruto dingin.

"Berani sekali kau memanggilku, 'Paman'. Aku tidak sudi kau memanggilku 'Paman' oleh seorang siluman rendah sepertimu!" bentak Hiashi.

Naruto terdiam, ia sedang memperhatikan orang yang sedang menjadi lawan bicaranya kini. Apakah ia Paman Hiashi yang ia kenal? Apa dia Paman Hiashi yang baik padanya? Apakah ia benar-benar Hyuuga Hiashi? Ia benar-benar tidak habis pikir, Hiashi yang selama ini baik padanya, sifatnya sudah berubah 180 derajat dan kini memusuhinya.

Naruto teringat dengan perkataan Hinata dulu, bahwa untuk melihat kejujuran seseorang, hanya bisa melihat dari matanya. Tapi masalahnya, apa yang bisa dilihat dari matanya? Tatapan mata yang terlihat seperti pembunuh, kebencian, dan...

Tunggu! Sepertinya ada sedikit keanehan dari matanya yang tanpa pupil itu. Entah kenapa, pandangannya terlihat kosong dan tidak mengenali dirinya. Hanya ada satu jawabannya.

Ia sedang dikendalikan.

Tapi, siapa? Naruto terlihat bingung. Sesaat ia sedang melamun, Hiashi mengambil kesempatan untuk menembakkan panahnya dan...

SEET! JLEB!

AAAAAAARGH!

Naruto meringis kesakitan. Ia melepaskan anak panah yang menancap di bahunya.

"Kau lengah, Kyuubi. Kali ini, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!" Hiashi kembali melancarkan serangannya dan tentu saja, kini Naruto semakin waspada.

SET! Dengan lincah Naruto menghindarinya. Tidak hanya itu, orang-orang yang bersama Hiashi juga langsung menyerang Naruto tanpa di komando. Dengan gesit, Naruto melewati mereka semua dengan melompat cepat.

"KYUUBIIIIIIIIIIII~!"

Pertarungan pun dimulai. Naruto dengan cekatan menghindari serangan mereka walaupun bahu kanannya terasa sakit akibat panah yang ditembakkan Hiashi.

"Tidak bisa! Kalau terus begini, orang-orang yang ada disini akan menjadi korban. Aku harus mundur!" batin Naruto seraya kabur.

"Jangan kabur, Kyuubi!" teriak Hiashi. Tapi terlambat, Naruto sudah hilang entah kemana.

"Kau tidak akan lari lagi dariku. Aku pasti bisa mendapatkan ekormu itu, khu khu khu.." gumam Hiashi tertawa licik.

Tep! Whuuuuuuuush~!

"Kita.. sudah sampai." Ucap seorang laki-laki.

"Jadi.. ini yang namanya, Konohagakure, Sasuke-kun." Tanya gadis berambut pink bermata emerald.

"Ya, Sakura." ucap laki-laki yang dipanggil Sasuke.

Tiba-tiba... Whuuuuuussh!

Sesosok laki-laki bertelinga rubah dan mempunyai sembilan ekor melintas di depan mereka dengan sangat cepat. Walaupun cepat, mereka masih bisa mengenali sosok tadi.

"Hah! Sasuke-kun! Bukankah itu..." Sakura terlihat terkejut dengan penampakan yang barusan melintas di depan mereka berdua.

"Iya! Tidak salah lagi. Itu... Naruto!" kata Sasuke saat Naruto melintas didepannya. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

.

.

To Be Continue

Nyaaa~.. masih bersambung para pemirsa. *plak*. Gomenasai karena saya telat banget update fic satu ini padahal HTNH dah lama banget selesai and gak bisa update tepat waktu. Sketsa aslinya lebih panjang and terpaksa saya potong atau di bagi 2 karena terlalu panjang, hiks.. T.T *lebay*

Wait, tapi tenang aja. Chapter selanjutnya akan menjadi akhir dan konflik pun di mulai, haha.. dan parahnya lagi, kenapa saya mesti dapat ide baru untuk Naruhina lagi? Inspirasinya pun dari lagu-lagu yang saya dengar. Nyaa~.. padahal saya pengen buat fic lain tapi kok tetep gak pernah saya tulis. Heran deh. *plak* digampar karena curhat mulu*

Ok! Waktunya bales review! (=/w=)/

Reiyu chan: Yup! Emang agak mirip ma Inuyasha. Tapi cuma bagian setengah silumannya doang, hehe.. arigatou atas reviewnya. ^^

Nagisa Imanda: Penyakitnya udah ketahuan kan di chapter ini? Nyehehe.. saya bener-bener gak jago nyari nama penyakit paling mematikan buat Hinata. *plak*

Ending? Hmm.. saya juga kurang ngerti. Kalo di sebut sad ending nanti bilangnya happy ending. Kalo happy ending ntar di bilang sad ending. Yah.. terserah Nagisa dan para reader yang baca aja deh. ^^ *plak* kabur dari tanggung jawab*

Youichi Hikari: Waah.. komik apa tuh? Kasi tau dong? *mata bling2*.

Hinata emang saya buat penyakitan, padahal gak ada ide buat Hinata jadi lemah atau apalah gitu. Apa perlu saya buat Hinata sakit karena racun atau semacamnya? Reader setuju? (reader: NGGAK SETUJU! *gebukin Yui rame2*). Arigatou gozaimashita karena udah di fave. Jadi terharu. *lebay*

Seichi: hehe.. dua-duanya. *plak* ini udah di update! ^^

Thunder Wind-Uchiha: Aura tragedi? Hehe.. mungkin juga. Karena itu tergantung yang baca. Tapi, kayaknya aura tragedi di chapter ini kurang (ato udah?). makasih atas reviewnya. ^^

Light-Sapphire-Chan: Nyehehe.. itu memang di sengaja bikin shock (?), biar di chapter selanjutnya, tragedinya kerasa (?). Yosha! Ini dah di update!

Aojiru Biscuit: Hmm.. emang bener sih. Saya juga udah ngerasa kurang dapet feelnya di bagian itu. Tapi, yah.. mau gimana lagi. Otak saya lagi buntu. =.= makasih atas kritikan and reviewnya. ^^

Dwi Amakusa: Weew.. di lihat dari pennamenya, jangan-jangan penggemar berat Ryu Amakusa (Detective School Q), ya? Saya juga! ^0^*plak* kok malah ngomongin DDS?*.

Hehe.. gomen ne kalo tragedinya kurang. Itu memang di sengaja biar chapter selanjutnya sedikit menegangkan (?). yup! Ini dah di update! ^^

Rhyme A. Black: Hahaha.. emang fluffy. Tapi, itu memang di sengaja biar chapter selanjutnya terasa sedikit menyedihkan (?). Yup! Ni dah di update! ^^

Magrita love Naruhina: untuk chapter pertama emang belum terasa. Tapi, siap-siap aja, akan saya buat nangis di chapter terakhir, hahahaha.. (emang bisa?)

Solid Gears: Nulis cerita mah lewat komputer, pake microsoft word 2003 n 2007 (?) *plak*. Ehem, mungkin maksudnya print layout. Saya rada kurang perhatiin masalah itu. Pokoknya langsung klik Ms. Word and langsung ngetik.

Woow! Makasih atas pujian (untuk fic) nya! ^0^

Syeren: Yup! Ayahnya Naruto emang udah ninggal. Ninggalnya karena apa? Hmm.. mungkin di chapter depan bakal terjawab, hehe.. *plak* ini dah di update n met HTNH juga (walau udah lewat). =-="

Fe-chan X Anime-lovers: Fe-chaaaaan! Makasih udah di review. ^^ padahal tempat Fe-chan kan ada di fandom Shucha, tapi makasih ya udah mampir di fandom Naruto. Ini udah di update! ^^

Ray Ichimura: Style? Kayaknya iya, hehe.. walaupun buat fic sesedih apapun harus ada humor nyempil (?). Fanart? Hoee… bukan kok. Dapet idenya waktu baca fic Tsubasa Chronicle yang so sweet banget, hehe.. ini dah di update! ^^

Dark Blizzard: Yup! Ini emang fic yang udah di rencanain. Ini dah di update! ^^

Fr34ks89: Hmm.. sebenarnya gak juga sih. Waktu di buat jadi setengah siluman, baru nyadar, 'kok mirip Inuyasha ya?' , bisa di bilang ini gak di sengaja, hehe.. mau saya buat jadi siluman seutuhnya, kok, kayaknya feelnya kurang dapet gitu. Nah, alhasil, jadilah Naruto kayak sekarang. Sebenarnya juga, sketsa awal cerita ini adalah pertarungan antara dua desa, tapi, kayaknya kurang memuaskan. =.= jadi, saya buat sedikit fantasy aja, hehe.. (pecinta anime fantasy asal cowoknya keren. *plak*)

Kalo Ayahnya Naruto, hmm.. gak kepikiran buat Minato jadi Raja Siluman kayak Ayahnya Inuyasha. Mungkin cukup jadi siluman yang paling di segani aja. ^^

Soal Hinata penyakitan, emang sih udah banyak fic tentang itu, tapi.. mau gimana lagi. Idenya cuma sampai segitu doang. T.T

Hoo~.. you can see ending? Kalo gitu, bisa tebak dong endingnya kayak gimana? ^^

Pik-pik: Nyoo~.. reviewnya sampe 2 kali. Sabar neng, nih dah di update. Gomen lama, hehe.. ^^'

Kurosaki Yume-chan: Really? Thanks for review! ^^

Untuk chapter selanjutnya, kayaknya bakalan lama, karena saya masih punya tanggung jawab dengan fic multichap lain. Tapi, udah di ketik sebagian kok. ^^

Terima kritik, saran, pujian dan flame asal ada alasan yang masuk akal. Mungkin ada sedikit bagian janggal di fanfic ini, tapi, itu akan terjawab di chapter depan, hoho.. See you again Minna-san~! \^0^/

.

Cute smile

Yui Hoshina ^^v