Yahooo Minna~! Balik lagi dengan fic Amaranth, Globe. Chapter ini bakalan lebih panjang (atau lebih pendek?) dari chapter kemarin karena niat pengen namatin dalam satu chapter ini.

Kalo nggak tamat, berarti nambah satu chapter lagi dong, hehehe… *Plak*

Seperti biasa, Naruto bukan punya saya. Saya hanya produser film (?) yang meminjam artis (?) milik Masashi Kishimoto, hehehe..

.

Warning:

AU, little OOC, abal, gajeness, OC, dwwl (dan warning-warning lainnya)

.

Amaranth, Globe

By: Yui Hoshina

Chapter 3: Kunci

.

-Kediaman Hyuuga-

"Ayah! Ayah! Cepat buka pintunya!" teriak Hinata sambil menggedor-gedorkan pintu kamarnya dari dalam.

"Tidak akan! Kau tidak boleh lagi keluar dari rumah maupun dari kamarmu sekarang! Aku tidak akan membiarkanmu berhubungan lagi dengan siluman itu. Ingat itu, Hinata!" gertak Hiashi di depan kamar Hinata.

"Ayah! Kenapa Ayah melakukan hal seperti ini? Apa salah Nee-chan?" tanya Hanabi cemas.

"Anak kecil sepertimu tidak usah ikut campur! Minggir!" gertak Hiashi sambil mendorong Hanabi sampai membentur tembok.

Brakk!

"Ayah! Apa yang kau lakukan pada Hanabi? Dia masih kecil!" protes Neji melihat perlakuan Hiashi pada Hanabi. Sedangkan Hanabi sedikit meringis kesakitan akibat benturan tubuhnya di tembok.

"Kau diam saja. Ini urusanku. Apa kau tidak mengerti apa yang kulakukan, Neji! Ini demi kesembuhan Hinata!" kata Hiashi membela diri.

"Tidak! Lebih baik aku mati daripada Naruto-kun menjadi korban. Aku tidak mau!" bantah Hinata dibalik kamarnya.

Hatinya sakit sekali melihat Hiashi sudah berubah. Lebih sakit lagi ketika mendengar ia akan membunuh Naruto. Dimana Ayahnya yang baik hati? Dimana Ayahnya yang sangat peduli terhadap sesama dan pada siluman juga? Dimana Ayahnya yang lembut? Tidak! Dia bukan Ayahnya!

Hinata hanya bisa meratapi nasibnya dan kepedihannya sekarang. Ia tak tau harus berbuat apa lagi.

"Sepertinya Kyuubi itu sudah mencuci otakmu, ya, Hinata. Apa yang dilakukan Kyuubi itu padamu?" tanya Hiashi dingin.

"Ayah benar-benar jahat! Aku benci Ayah! KEMBALIKAN AYAHKU YANG DULU~!" teriak Hinata. Hatinya menangis dan iapun menangis. Tak peduli dengan penyakit yang ada didalam tubuhnya yang semakin menggerogoti organnya. Tidak peduli bahwa nafasnya yang semakin sesak waktu ia berteriak. Tidak peduli dengan rasa sakit yang semakin menyerangnya.

"Jahat? Aku melakukan ini untukmu Hinata.. Kenapa kau juga tak mengerti?" kata Hiashi dengan nada sedikit melembut. Hinata terdiam, yang terdengar hanya isakan.

"Terserah kau saja. Besok, aku akan mencari Kyuubi bersama rombongan lain. Dan kau Hinata, tetaplah disini sampai aku membawakan obat padamu." Kata Hiashi seraya beranjak pergi.

Neji dan Hanabi tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah rencana Hiashi. Neji mulai mendekati kamar Hinata dan sedikit berbisik di depan pintunya.

"Hinata, dengarkan aku." Panggil Neji sedikit pelan. Isakan Hinata sedikit pelan begitu mendengar suara Neji.

"Ne-Neji-nii.. apa yang sebenarnya terjadi pada Ayah? Kenapa Ayah bisa seperti itu?" tanya Hinata bingung. Neji tertunduk lesu.

"Aku tidak tau pasti. Aku hanya merasa bahwa Ayah kita dikendalikan seseorang." kata Neji. Biasanya, apa yang dirasakan ganjil oleh Neji di sekitarnya selalu tepat.

"Dikendalikan? Siapa?" tanya Hinata.

"Entahlah Hinata. Aku juga tidak tau. Aku hanya merasa bahwa Ayah terlihat aneh akhir-akhir ini." Sahut Neji pasrah. "Dengar, Hinata! Masih ada waktu sebelum besok. Sebaiknya kau kabur sekarang dan cari Naruto. Sekarang Naruto sedang terluka, dia pasti membutuhkanmu." Ujar Neji.

"Terluka? Tapi, bagaimana aku bi-.."

"Aku percaya padamu. Bukankah kau sudah biasa pergi tanpa sepengetahuan kami? Kali ini, aku yakin kau bisa. Temui Naruto!" pinta Neji.

"Apakah.. Nii-san tidak membenci Naruto-kun karena dia seorang Kyuubi?" tanya Hinata was-was.

"Huh.. bagaimana aku bisa membenci seseorang yang telah membuat hari-hari adikku yang manis ini penuh keceriaan. Tanpa rasa putus asa dan terpuruk dalam gelapnya kehidupan. Tanpa sadar, dia.. sudah memberimu motivasi untuk tetap hidup sampai sekarang." Kata Neji pelan. Hinata sedikit terpana dengan perkataan Neji barusan. Ia tersenyum lembut walaupun Neji tidak melihatnya.

"Arigatou Nii-san. Aku akan mencoba." Kata Hinata sambil mengusap airmatanya.

"Baguslah. Aku akan menemui Ayah untuk melihat keadaan. Semoga berhasil!" ucap Neji seraya pergi.

"Aku akan terus mendukungmu, Hinata-nee. Semoga Nee-chan bertemu Naruto Nii-san." Dukung Hanabi.

"Arigatou ne, Hanabi-chan." Ucap Hinata.

Hanabi pun langsung menyusul Neji.

Hinata terdiam sesaat. "Sepertinya.. sudah waktunya aku membuka jalan rahasia ini lagi." Gumam Hinata sambil meraba-raba lantai, mencari sesuatu dan..

Klek!

"Berhasil! Sekarang, aku akan menemui Naruto-kun!" batin Hinata seraya menuruni lorong rahasia yang ada di bawah lantai kamarnya.

Sedangkan Neji, mengendap-endap ke ruangan Hiashi dan ternyata ada Kabuto juga disana. Ia tengah meminumkan suatu cairan yang mencurigakan pada Hiashi.

"Apa itu?" batin Neji curiga.

"Khu khu khu.. dengan begini, pimpinan Hyuuga sudah menjadi budakku sepenuhnya. Mendapat ekor kyuubi pun bukan hal yang mustahil lagi." Kata kabuto tertawa licik

Neji tersentak kaget. "Jadi begitu. Itu sebabnya Ayah jadi berubah. Kau memang licik, Kabuto!" batin Neji kesal seraya pergi dari ruangan tersebut sebelum diketahui oleh Kabuto.

.

Malam semakin larut, Hinata terus berlari, tidak peduli dengan nafasnya yang mulai berat. Dadanya terasa semakin panas tiap kali ia melangkahkan kakinya. Yang menjadi pikirannya sekarang hanyalah.. Naruto. Ia terus berlari dan..

KYAAAAAAAAAA!

BRUUUUKK!

Hinata terjatuh dan lututnya berdarah. Ia mulai menyentuh lututnya yang berdarah dan meringis kesakitan.

"Aah! Itai.." ringis Hinata. "Tidak boleh! Aku tidak boleh menyerah dengan luka seperti ini! Naruto-kun pasti lebih terluka daripada aku. Aku.. harus berjuang!" Hinata mulai berdiri sekuat tenaganya. Rasa sakit dari penyakitnya maupun karena lututnya yang berdarah tidak menyurutkan keinginannya menemui Naruto.

Ia mulai berjalan tertatih-tatih, darah yang mengalir dari lututnya mulai menetes. Sebuah cahaya menuntunnya ke arah sebuah danau yang disinari oleh cahaya bulan purnama. Pantulan dari cahaya bulan purnama di danau membuat danau itu semakin indah.

"Naruto-kun~!" teriak Hinata memanggil Naruto setelah ia sampai di danau para siluman itu. Tak lama kemudian, muncullah seseorang bertelinga anjing di depan Hinata.

"Mau apa kau kesini?" tanya Kiba sinis.

"Aku.. ingin.. bertemu Naruto-kun!" jawab Hinata disela-sela nafasnya yang berat karena kelelahan. Ia mencoba mengatur nafasnya yang terasa berat karena beban penyakit dan kakinya yang terluka.

"Apa kau belum puas menyakiti Naruto! Kini Naruto terluka parah dan kau dengan seenaknya bilang ingin bertemu dengannya! Apa kau sadar itu, Hinata!" bentak Kiba kesal. Tangannya terkepal kuat, mencoba mengendalikan amarahnya.

"Aku tau. Tapi, aku ingin bertemu dengan Naruto-kun! Aku harus mengatakan sesuatu padanya." kata Hinata tegas.

"Kau keras kepala sekali. Aku tidak akan pernah mengizinkanmu menemui Naruto! Tidak akan pernah!" kata Kiba sedikit keras.

"Tidak! Aku harus menemui Naruto-kun! Apapun yang terjadi." Kata Hinata. Sorot matanya berkaca-kaca dan terlihat tegas.

"Kau.. APA KAU MAU AKU BUNUH, HAH!" teriak Kiba marah. Ia mulai menyiapkan kuku-kukunya yang tajam untuk menyerang Hinata. Hinata tidak bergeming dari tempatnya.

"Hentikan Kiba! Kumohon, hentikan." Pinta Naruto yang tiba-tiba muncul dari belakang pohon.

"Naruto, kau tidak apa-apa?" tanya Kiba khawatir. Kuku-kukunya yang tajam, sudah kembali seperti semula.

"Naruto-ku... eh.." Hinata terkejut dengan kondisi Naruto. Bahunya terbalut dengan perban. Matanya yang terlihat bersemangat, kini terlihat sendu dan tak bertenaga.

"Kau... mau apa kesini.. Hinata?" tanya Naruto terputus-putus ditengah nafasnya yang berat.

"Aku.. ingin bertemu denganmu." Jawab Hinata.

"Bertemu? Sebaiknya kau pulang saja. Aku.. tidak membutuhkanmu sekarang." Kata Naruto dengan nada ketus.

Hinata terkejut dengan penuturan Naruto. Ia tidak menyangka, bahwa Naruto yang biasanya baik, bisa berkata sekejam itu pada dirinya.

"Kau dengar itu, Hinata. Naruto sudah tidak peduli lagi padamu. Cepatlah kau pergi sebelum aku membunuhmu!" ancam Kiba mulai menyiapkan kuku taringnya lagi.

"Kau diam saja, Kiba. Sebaiknya kau menyingkir karena ini antara aku dan Hinata." perintah Naruto.

"Tapi.." Kiba merasa keberatan.

"Ku mohon.." pinta Naruto pelan. Kiba jadi tidak tega melihat Naruto memohon seperti itu.

"Baiklah, jika itu maumu." Kata Kiba mengalah seraya menghilang meninggalkan Naruto dan Hinata.

"Dan kau, Hinata. Kenapa kau kemari? Jika Ayahmu menemukan kami disini, sudah pasti tempat ini akan menjadi lautan darah. Apa kau mengerti?" kata Naruto. Hinata tidak bergeming, airmatanya terus turun mengenangi wajahnya yang terlihat pucat.

"Cepatlah pergi. Aku.. tidak ingin kau mati sia-sia disini." Kata Naruto seraya pergi dengan langkah gontai karena bahunya masih terluka. Sepertinya, panah yang ditembakkan Hiashi adalah panah beracun yang cukup menguras tenaganya.

"Tidak!" langkah Naruto terhenti, ia pun membalikkan badannya lagi menghadap Hinata.

"Aku tidak akan pergi. Aku.. ingin bersama Naruto-kun. Lebih baik aku mati daripada tidak bisa bertemu denganmu lagi!" kata Hinata tegas. Matanya yang penuh airmata terlihat tegas membuat Naruto sedikit terpana.

"Mengapa? Mengapa kau bersikeras menemuiku? Bukankah kedatanganmu ke sini sia-sia saja. Kau tidak akan bisa merubah apa yang sudah terjadi." Kata Naruto pelan.

"Itu memang benar. Aku hanya manusia bodoh yang lemah dan tak berdaya. Aku tidak bisa apa-apa tanpa bantuan seseorang yang berada didekatku. Tapi.. aku juga ingin berguna bagi orang lain. Aku tidak mau diam saja melihat perang antara manusia dan siluman terjadi di depan mataku begitu saja. Aku tidak ingin melihat orang lain terluka lagi. Dan.. aku tidak ingin berpisah denganmu." Ujar Hinata tegas.

Whuuuuuuush~! Angin sepoi-sepoi mulai berhembus diantara mereka berdua, seperti mewakili perasaan masing-masing, keheningan diantara mereka berdua terasa mencekam.

Naruto tersenyum lembut, "Huh, Dasar gadis bodoh. Memangnya, aku mau berpisah denganmu." Pandangan mata Naruto melembut dan terlihat ramah seperti biasanya. Senyum lembut tak lepas saat Naruto memandang Hinata dengan penuh kasih sayang.

Hinata tidak bisa lagi membendung perasaannya lagi. Ia berlari ke arah Naruto dengan tertatih-tatih dan memeluknya dengan erat, menangis dalam pelukannya. Naruto pun membalas pelukan Hinata dengan sangat erat.

"Ku mohon.. jangan tinggalkan aku." Pinta Hinata ditengah isakannya.

"Ya, aku tidak akan meninggalkanmu." Kata Naruto mempererat pelukannya.

Kiba yang tadi di suruh pergi, ternyata tengah bersembunyi di semak-semak, memperhatikan kedua pasangan itu.

"Wah, baru kali ini aku melihat Naruto Nii-chan memeluk seorang gadis. Romantis sekali." Kata Konohamaru yang tiba-tiba muncul disebelah Kiba. Tentu saja ini membuat Kiba kaget.

"Konohamaru. Sejak kapan kau disini? Cepat pergi! Ini bukan tontonan anak kecil!" usir Kiba. Konohamaru hanya bisa cemberut.

Kini, Naruto dan Hinata sudah duduk dipinggir danau. Kiba langsung memasang telinga anjingnya untuk mencuri dengar a.k.a menguping.

"Jadi, Ayahmu berniat membunuhku untuk mengambil ekorku untuk obatmu?" tanya Naruto memastikan. Hinata mengangguk lemah.

"Lalu kau kesini untuk memberitahukan rencana Ayahmu yang akan menyerangku besok?" tanya Naruto lagi.

Hinata mengangguk lagi, "Maafkan aku, Naruto-kun. Aku yang salah telah membuatmu dalam bahaya, hiks.." Ujar Hinata meratapi kesalahannya.

"Sudahlah, kau tidak salah. Ayahmu juga tidak salah. Mungkin.. ini sudah takdirku." Kata Naruto pasrah.

"Maafkan aku, Naruto-kun. Mungkin.. permintaanku agak lancang, tapi, ku mohon selamatkan Ayahku. Kata Neji-nii, Ayah sedang dikendalikan seseorang. Aku mohon padamu, bebaskan Ayahku!" pinta Hinata berkaca-kaca.

"Aku tau. Kau tidak usah memikirkannya, aku pasti akan menyelamatkan Ayahmu!" kata Naruto sambil mengusap-usap kepala Hinata.

"Terima kasih.." ucap Hinata lirih.

"Oya, kenapa dengan kakimu? Kenapa sampai berdarah seperti itu?" tanya Naruto menunjuk lutut Hinata yang terluka.

"Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Pasti sebentar lagi sembuh." Kata Hinata lirih. Ia berusaha menyembunyikan rasa nyeri lututnya yang terluka cukup parah.

"Dasar bodoh! Luka seperti itu sudah cukup parah bagi manusia sepertimu. Kalau tidak segera diobati akan infeksi dan itu akan membuat penyakitmu lebih parah karena tidak segera dibersihkan. Sebaiknya, kita bersihkan lukamu terlebih dahulu." Kata Naruto seraya mengangkat Hinata ala bridal style dan menggendongnya ke arah danau.

"E-eh, Na-Naruto-kun.. apa yang kau lakukan?" tanya Hinata blushing.

"Kau diam saja. Lukamu akan segera sembuh setelah merendam kakimu yang terluka di danau siluman." Kata Naruto mulai menurunkan Hinata di pinggir Danau yang lumayan dalam, ketinggian airnya mencapai lutut. Cukup merendam lutut Hinata yang terluka.

"Akh.." Hinata meringis kesakitan. Saat lututnya terluka terkena air Danau tersebut, kakinya terasa panas seperti disiram air yang baru saja mendidih. Uap panas mencurigakan mengitari kakinya. "Na-Naruto-kun.. apa yang terjadi? Kakiku terasa direbus air mendidih. Akh.."

"Tenang saja. Ini adalah Danau pemulih. Air di danau ini bisa memulihkan luka apa saja walaupun separah apapun itu. Hanya saja..." Naruto menggantungkan kalimatnya sedangkan tangannya tengah menahan Hinata agar gadis itu tidak limbung karena menahan sakit.

"Kenapa? Apa ada efek samping dari danau ini?" tanya Hinata curiga. Sesekali ia meringis kesakitan, aneh sekali ia merasa panas saat lukanya menyentuh air danau ini. Padahal dulu, ia tidak merasakan apa-apa saat ia bermain air di danau ini.

"Tidak. Hanya saja, air di danau ini hanya bisa memulihkan luka luar saja. Tidak bisa menyembuhkan luka dalam seperti yang kau miliki." Kata Naruto lirih.

"Begitu ya... itu tidak masalah bagiku. Aku tidak peduli lagi dengan penyakitku sekarang. Yang kupedulikan hanyalah keselamatanmu. Itu saja."

"Terima kasih. Kau gadis yang baik." Puji Naruto.

"Ja-jangan memujiku seperti itu. aku ma-.. ng.. AH!" Hinata tersentak. Ia seperti mengingat suatu hal yang sangat penting. "Na-Naruto-kun.. bagaimana ini?" Hinata terlihat ketakutan.

"Ada apa?" tanya Naruto bingung.

"Se-sepertinya.. tanpa sadar.. aku telah menuntun Ayahku kemari. Darah yang mengalir di lututku pasti tercecer hingga sini. A-aku.. ma-maafkan aku, Naruto-kun. Aku ceroboh.." Hinata terlihat gemetar dengan kecerobohannya. Ia takut di benci Naruto.

"Tenang saja." Naruto mengelus kepala Hinata."Semua jejakmu bahkan darah yang mengalir di lututmu sudah hilang tanpa bekas. Aku meminta bantuan para siluman yang ahli menghilangkan jejak seseorang untuk menghilangkan jejakmu yang tersisa. Kau jangan meremehkan daya penciumanku jika hal ini terjadi." Kata Naruto menenangkan.

"Itu berarti.. kau sudah tau kedatanganku?" tanya Hinata curiga.

Naruto tersenyum usil, "Pikirkan saja sendiri."

Hinata hanya bisa sweetdrop dengan jawaban Naruto.

.

Keesokan harinya..

"Kiba! Kumpulkan semua siluman kesini! Aku akan membuat pelindung untuk mereka!" perintah Naruto.

"Baiklah!" jawab Kiba.

Tidak butuh beberapa lama, Kiba sudah mengumpulkan semua siluman. Kebanyakan siluman yang masih kecil dan masih bisa dihitung dengan jari.

"Cuma segini siluman yang ada disini, Naruto-kun? Sedikit sekali." Tanya Hinata heran.

"Ya. Sebagian telah dibunuh dan hanya tersisa sedikit." Jawab Naruto. "Baiklah, kalian berkumpul. Aku akan membuat kekkai agar kalian selamat dari bahaya." Kata Naruto. Para siluman pun berkumpul dan Naruto mulai merapalkan mantra pelindung, entah apa isinya.

Tiba-tiba, sebuah cahaya lembut seputih salju menyelimuti mereka dan membentuk suatu lingkaran pelindung yang membuat mereka tidak terlihat oleh manusia biasa.

"Dengan begini, kalian bisa selamat. Hinata, kau juga masuk dalam lingkaran itu." Perintah Naruto.

Hinata menggeleng, "Aku akan ikut Naruto-kun. Apapun yang terjadi. Aku akan selalu bersama Naruto-kun walaupun harus mati." kata Hinata. Naruto tersenyum.

"Baiklah. Kiba, tolong jaga mereka. Aku akan menarik perhatian mereka agar menjauh dari tempat ini." Pesan Naruto.

"Baiklah, Naruto. Berhati-hatilah." Pesan Kiba balik. Naruto mengangguk seraya pergi bersama Hinata. "Semoga kalian selamat…"

.

"Kyuubi~! Jangan lari kau! Kembalikan Hinata!" teriak Hiashi sambil mengejar Naruto yang lari sambil menggendong Hinata.

"Kalau kau ingin Hinata kembali. Kejar aku dulu!" balas Naruto sambil berlari semakin cepat.

Mereka pun saling kejar, Hiashi semakin gencar mengejar Kyuubi walaupun sebagian pasukannya sudah mundur karena kelelahan. Semakin lama mereka berlari, semakin banyak pasukan yang mundur karena kelelahan. Dan kini, tinggal 5 orang yang mengejar Naruto termasuk Neji.

Sudah cukup lama mereka bermain kejar-kejaran dan naas! Naruto terjebak antara yang mengejarnya dan jurang yang cukup curam. Di bawah jurang itu terdapat sungai yang mengalir deras.

"Sepertinya kau terjebak, rubah kecil." Kata Hiashi menyeringai dan sedikit kelelahan mengejar Naruto. Naruto terdiam dan menurunkan Hinata.

"Tch, sial!" gumam Naruto kesal. Diam-diam ia memungut 3 buah batu kecil di dekat kakinya dengan ekornya tanpa ketahuan.

"Sekarang, menyerahlah, Kyuubi." Kata Hiashi dingin.

"Rasanya, itu tidak mungkin, Paman Hiashi." Kata Naruto menyeringai. Dengan cepat, ia melempar 3 buah batu itu ke arah 3 orang dibelakang Hiashi.

SHIUUUT! TAK!

3 orang itu pun pingsan. Naruto memang sengaja membuat ketiga orang itu pingsan karena ini adalah masalahnya dengan keluarga Hinata.

"Dasar sial!" umpat Hiashi.

"Hentikan Ayah! Ini salah!" cegah Hinata.

"Menyingkirlah Hinata! Aku melakukan ini hanya untukmu! Kau bisa mati jika dekat-dekat siluman itu." teriak Hiashi.

"Aku tidak mau! Lebih baik aku mati daripada aku tidak bisa bertemu dengan Naruto-kun lagi! Kenapa Ayah tidak mau mengerti!" kata Hinata sambil memeluk lengan Naruto.

"Mengerti? Justru kau yang tidak mau mengerti. Ayah ingin kau sembuh. Hanya dengan ekor Kyuubi, kau bisa hidup dengan normal." Kata Hiashi melembut.

"Tidak! Walaupun aku hidup, aku tidak akan bertemu dengan Naruto-kun lagi. Itu sama saja dengan jasadku saja yang hidup tapi hatiku sudah mati. Hidupku tidak akan berarti tanpa Naruto-kun." Ujar Hinata berkaca-kaca.

"Hinata.." Naruto terkejut dengan pernyataan Hinata.

"Hati? Apa yang kau maksud dengan hati? Jangan bilang kau mencintai siluman itu, Hinata..?" Tebak Hiashi curiga.

Naruto memandang Hinata yang semakin mempererat pelukannya, "Ya. aku mencintainya, Ayah. Sangat mencintai Naruto-kun." Kata Hinata tegas. Naruto sedikit shock dengan pernyataan Hinata dan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.

"Tch.. jangan bercanda, Hinata! Mana mungkin kau mencintai siluman! Mereka berbeda dengan kita!" Kata Hiashi kesal dan tidak percaya.

"Aku tidak peduli." Jawab Hinata singkat dan yakin.

"Hinata..? Kyuubi! Kau apakan anakku! Kau pasti sudah mencuci otaknya kan!" tuduh Hiashi.

Naruto melirik tajam pada Hiashi, "Mencuci? Aku sama sekali tidak pernah mencuci otaknya. Justru kau sendiri yang terlihat sudah di cuci otaknya oleh orang lain." Balas Naruto dingin.

"Kau.. berani sekali kau menghinaku! AKU TIDAK AKAN MENGAMPUNIMU!" Hiashi langsung menyiapkan senjatanya yang berupa busur dan panah dan bersiap menembak Naruto. Naruto langsung waspada.

"Ayah! Kau gila! Di sana masih ada Hinata!" cegah Neji.

"Diam kau, Neji. Aku tidak peduli lagi. Yang penting, aku bisa mendapatkan ekor Kyuubi. Jika aku mendapatkannya, Hinata bisa selamat." Kata Hiashi datar dan bersiap menembakkan panahnya.

"HENTIKAN!" Neji langsung mendorong Hiashi. Tapi terlambat, panah sudah terlepas dan kini menuju ke arah Hinata.

"HINATA~! TIDAAAAAAAAAAK~!" teriak Neji shock.

Naruto langsung sigap melindungi Hinata dengan cara memeluknya dan menjadikan dirinya sendiri sebagai perisai dan..

JLEB!

AAAAKH~! BRUGH!

Panah itu menancap di punggung Naruto. Naruto meringis kesakitan dan jatuh terkulai.

"NARUTO-KUUUUN!" teriak Hinata shock. "K-kau tidak apa-apa?"

Naruto mencoba bangkit, "Y-ya. aku tidak apa-apa. Luka kecil seperti ini bukan masalah bagiku." Kata Naruto seraya melepas panah yang menancap di punggungnya. "Aaakh.."

"Naruto-kun…" Hinata membantu Naruto berdiri. Neji sedikit lega karena Hinata tidak terluka.

"Apa-apaan kau, Neji!" protes Hiashi seraya mendorong Neji menyingkir dari dirinya.

"Aku hanya mencegah tindakan gila Ayah." Kata Neji datar.

"Kau.."

"UGH.. UHUK!.." Naruto kembali terjatuh, darah segar mulai mengalir di mulutnya. Wajahnya terlihat pucat.

"NARUTO-KUN!" teriak Hinata khawatir sambil menopang tubuh Naruto agar tidak jatuh.

"Naruto!" teriak Neji sedikit khawatir.

"Huh, sepertinya.. efek racunnya mulai bekerja." Kata Hiashi menyeringai.

"Racun?" ucap Neji heran.

"Ya. Racun biasa tentu saja tidak akan mempan pada Kyuubi. Oleh karena itu, aku mengolesi setiap panahku dengan racun khusus untuk membunuh siluman sepertimu." Kata Hiashi tersenyum puas.

Naruto mencoba berdiri dengan bantuan Hinata, ia menatap Hiashi dengan dingin, "Darimana.. kau dapat racun seperti itu? Setahuku, tidak seorangpun yang dapat membuat racun itu." Tanya Naruto. Tubuhnya sedikit tidak bisa bergerak walaupun perlahan-lahan, tubuhnya mulai bisa digerakkan lagi berkat darah siluman ekor sembilan yang mengalir ditubuhnya.

"Kau tidak perlu tau. Yang perlu kau tau hanyalah kau akan mati di tanganku." Kata Hiashi sambil menyiapkan panahnya lagi.

"Tidak akan kubiarkan! Aku tidak akan membiarkanmu berbuat seperti ini lagi, Ayah!" kata Neji seraya merebut panah dan busur Hiashi.

"Neji! Apa yang kau lakukan!" Tanya Hiashi marah.

"Menyelamatkan keluarga kita." Ucap Neji.

"Huh, apa maksudmu tentang menyelamatkan keluarga kita? Kalau kau ingin menyelamatkan keluarga kita, seharusnya kau juga ikut memburu Kyuubi itu!" teriak Hiashi sambil menunjuk Naruto.

"Ayah.. apa ini benar-benar kau? Kemana Ayah yang dulu sangat peduli terhadap sesama, bahkan siluman sekalipun. Padahal, dulu kau sangat baik. Kau orang yang sangat kukagumi. Kau adalah orang yang tidak tega melihat seseorang menderita. Kau orang yang bijaksana. Tapi, mengapa sekarang kau tega mau membunuh seseorang. Mengapa, Ayah!" Tanya Neji sedikit keras. Tak terasa airmatanya mengalir, walaupun hanya setetes. Perasaannya terasa sakit sekali melihat Ayahnya berubah seperti sekarang.

"Kau bilang apa, Neji? Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan." Hiashi heran dengan ucapan Neji.

"Tidak mengerti? Justru aku yang tidak mengerti mengapa Ayah bisa berbuat sekejam ini. Apa Ayah lupa dengan perkataan Ayah dulu? Apa Ayah lupa dengan janji tidak akan menyakiti orang yang tidak bersalah? APA AYAH LUPA DENGAN JANJI AYAH TERHADAP IBU!" teriak Neji keras. Sungguh. Perasaannya sekarang tidak karuan. Ia ingin Ayahnya kembali. Ia tidak ingin Ayahnya menjadi orang asing di keluarganya sendiri.

Hinata juga terbawa suasana. Perasaannya sama seperti Neji sekarang. Ia tidak ingin Ayahnya menjadi orang asing di keluarganya sendiri. Naruto hanya terperangah dengan perdebatan dua orang di depannya.

Tiiing~!

Angin mulai berhembus dengan kencang, dedaunan pun terbang searah arah angin yang berhembus. Memori Hiashi mulai muncul di pikirannya saat mendengar kata kunci 'Ibu'.

8 tahun yang lalu..

"Hiashi-kun, apakah kau tau.. bahwa di dunia ini, ada sesuatu yang baik dan ada juga sesuatu yang buruk?" Tanya Yuki, Ibu dari Neji, Hinata dan Hanabi. Sedangkan mereka bertiga tengah bermain balok disamping Ayah dan Ibu mereka yang tengah menikmati angin sore di balkon rumahnya.

"Tentu saja. Itu memang selalu ada, bukan." Kata Hiashi mulai meresapi teh hijau buatan istrinya, Yuki. Hembusan angin mulai melambaikan rambut indigo panjang Yuki, matanya yang berwarna violet terlihat menerawang.

"Apa kau juga percaya, bahwa setiap makhluk hidup juga punya sisi positifnya. Termasuk siluman." Hiashi hampir tersedak dengan perkataan Yuki barusan.

"Siluman?" tanya Hiashi heran. Baru kali ini ia mendengar Yuki bicara soal siluman.

"Ya. Apa kau tidak menyadarinya? Perburuan siluman sekarang semakin brutal, dan tidak banyak aku melihat siluman kecil bersembunyi dan menangisi kepergian siluman sebagai korban. Mungkin.. itu adalah orang tua mereka." Kata Yuki lirih.

"Yah, aku juga merasa begitu. Tapi, baru kali ini aku mendengarmu membicarakan soal siluman. Apa ada sesuatu?" tanya Hiashi. Yuki tersentak kaget lalu ia mulai menunduk dan memutar-mutarkan gelas tehnya.

"Iya. Memang ada." Jawab Yuki yang masih tetap menunduk.

"Apa itu?" tanya Hiashi sedikit heran.

" Aku.. sudah bertemu dengan beberapa siluman." Kata Yuki.

"Apa! Lalu, kau diapakan oleh mereka?" tanya Hiashi kaget dan juga khawatir.

Yuki menggeleng pelan, "Aku tidak diapa-apakan oleh mereka. Justru mereka sangat baik padaku. Memang sosok mereka terlihat menakutkan tapi, hati mereka sangat baik. Mereka sangat ramah padaku dan.. tanpa sadar, aku mulai akrab dengan mereka." Kata Yuki lagi ditambah senyuman lembut menghiasi wajahnya.

"Lalu.. arti dari semuanya?" tanya Hiashi menatap istrinya dengan serius.

Yuki tersenyum lembut, "Saat aku mulai akrab dengan siluman, aku menyadari satu hal. Mereka, para siluman, ingin sekali hidup berdampingan dengan kita. Akan tetapi.. keinginan mereka tidak pernah terwujud karena para manusia seperti kita banyak memusuhinya. Dan.. ada satu hal yang kupinta darimu."

"Apa itu?" tanya Hiashi.

"Aku pinta padamu, jangan membenci maupun memendam dendam terhadap siapapun bahkan untuk siluman sekalipun. Siluman juga punya hati dan perasaan. Mereka tidak akan segan-segan membunuh seseorang jika keluarganya disakiti. Mereka sama seperti kita. Punya hak untuk hidup dan hidup tentram dan damai bersama keluarga mereka. Mereka siap mengorbankan nyawa mereka hanya untuk melindungi orang yang mereka sayangi. Apakah kita sebagai manusia tidak bisa memahami prinsip hidup mereka? Apa kita tidak bisa hidup berdampingan bersama mereka? Kita dan siluman sama derajatnya. Kita akan menjadi liar saat keluarga kita disakiti, tak peduli siapapun itu. Manusia maupun siluman itu sama saja. Yang membedakan kita dan para siluman hanyalah fisik semata." Ujar Yuki panjang lebar. Hiashi dibuat terpana dengan kata-kata Yuki yang terdengar bijak.

Ia tersenyum lembut dan mulai membelai rambut Istrinya, "Kau memang wanita yang baik. Tidak salah aku memilihmu untuk mendampingiku." Kata Hiashi. Wajah Yuki merona.

Ketiga anak Hyuuga itu mulai mendekati Ayah dan Ibu mereka.

"Apa yang kalian bicarakan? Sepertinya menarik." Kata Neji penasaran.

"Aku juga ingin tau!" seru Hanabi seraya duduk dipangkuan ibunya. Hinata malu-malu untuk mendekat.

"Kemarilah, sayang." Ajak Yuki pada Hinata. Hinata pun mendekat dan duduk disamping Ibunya.

"Lalu, apa yang kalian bicarakan?" tanya Neji lagi seraya duduk disamping Hiashi.

Yuki tersenyum, "Apa.. Ibu boleh meminta sesuatu pada kalian?" tanya Yuki pada ketiga anaknya. Ketiga anaknya menatap heran dan kemudian mengangguk.

"Tentu saja." jawab Neji.

"Ibu ingin kalian berjanji, kalian tidak akan pernah membenci maupun mempunyai dendam terhadap siapapun. Terapkan pada hati kalian untuk saling menyayangi dan memaafkan terhadap sesama dan juga terhadap siluman." Kata Yuki.

"Siluman?" ketiga anaknya menatap heran.

"Ya. Ibu hanya memohon hal ini pada kalian. Selalu pikirkan orang-orang di sekitar kalian dan kalian juga harus memiliki hati yang pemaaf, bahkan untuk siluman sekalipun. Jangan biarkan perasaan dendam maupun amarah menguasai kalian. Cobalah kalian membayangkan posisi orang-orang yang menjadi korban, contohnya siluman. Karena siluman juga sama seperti kita, punya hati dan perasaan. Kalian mengerti?" ujar Yuki lembut.

"Walaupun aku tidak terlalu mengerti. Tapi, akan kucoba." Kata Neji.

"A-aku juga. Walaupun aku juga tidak tahu seperti apa siluman itu. Aku juga akan mecobanya." Kata Hinata terbata-bata.

"Karena Neji-nii dan Hinata-nee bilang gitu. Hanabi juga ikut mencoba!" sorak Hanabi bersemangat.

"Kalian janji?" tanya Yuki memastikan.

"Kami janji!" seru ketiga anak itu.

"Terima kasih anak-anak. Bagaimana denganmu, Hiashi-kun?" tanya Yuki pada Hiashi.

Hiashi tersenyum lembut, "Ya. aku juga janji." kata Hiashi.

"Arigatou gozaimasu, minna~..." Ucap Yuki senang. Tanpa sadar ia menangis karena terharu dan bahagia karena beruntung memilik keluarga seperti sekarang.

"Ya. Itsu made mo kawaranai.." ucap Hiashi seraya memeluk keluarganya dengan erat.

=end flashback=

Tak terasa airmata mulai mengalir di pelupuk mata Hiashi, begitupun juga Neji dan Hinata. Mereka masih ingat bagaimana Ibunya meminta mereka agar tidak mempunyai rasa dendam pada siapapun termasuk pada siluman. Naruto hanya memandang mereka lirih mengingat ia juga pernah berjanji pada Ibunya.

"Ne-Neji.. apa yang sudah kulakukan..? Aku.. sudah melanggar janjiku pada Yuki. Aku.. AAAAKH!" Hiashi menjerit. Ia memegang kepalanya seperti orang kesakitan.

"Ayah!" jerit Neji seraya menghampiri Hiashi yang kesakitan.

"Maafkan Ayah, Neji. Ayah sudah melanggar janji pada Ibumu.. Ayah.. AAAAAKH!" Hiashi semakin menjerit kesakitan. Kepalanya terasa sakit seperti ditimpa batu besar berton-ton.

"Paman!" Naruto merasa khawatir dengan keadaan Hiashi. Hiashi menoleh pada Naruto disela-sela ia menahan sakit di kepalanya.

"Naruto..? Kau.. ekor.. telinga itu..?" Hiashi mencoba memfokuskan pandangannya. "Kau.. seorang siluman..?"

"Ayah, kau baru sadar?" tanya Neji heran.

"Apa maksudmu, Neji. Apa yang telah kulakukan? Kepalaku rasanya sakit sekali. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hiashi bertubi-tubi.

"Ayah benar-benar tidak ingat apa yang telah Ayah lakukan?" tanya Neji balik.

"Aku tidak tau. Aku sama sekali tidak bisa mengingat apa-apa kecuali ada seseorang yang menaruh sesuatu di minumanku dan pandanganku jadi gelap. Walaupun samar-samar, aku hanya mengingat tubuhku bergerak sendiri walaupun aku tidak mau." Ujar Hiashi.

"Cih, sepertinya efek obat itu sudah habis."

Telinga rubah Naruto bergerak, "SIAPA ITU!" teriak Naruto membuat ketiga Hyuuga itu terkejut.

DUAAARR!

Tiba-tiba saja ada ledakan di dekat Naruto dan Hinata. Ledakan itu membuat tanah bergoncang dan retak. Asap tebal mulai menyelubingi tempat itu.

"KYAAAAAA…!" Hinata berteriak. Tanpa sadar, pijakan tanah yang ia injak hancur dan ia pun terpeleset ke jurang.

"HINATAAAAAA~!" Naruto dengan sigap menahan tangan Hinata agar gadis itu tidak terjatuh dan berhasil.

"HINATA! NARUTO! KALIAN TIDAK APA-APA!" teriak Neji karena pandangannya terhalang oleh asap ledakan tadi.

"KAMI TIDAK APA-APA!" Naruto balas teriak, ia masih menahan tangan Hinata agar gadis itu tidak jatuh. Naruto mulai menarik Hinata dengan mudah dan memeluknya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Naruto memastikan.

"A-aku tidak apa-apa. Aku hanya terkejut." Ucap Hinata membalas pelukan Naruto dengan erat. Tubuhnya gemetar, sesaat ia pikir ia akan mati.

"Sudah tidak apa-apa. Aku akan selalu melindungimu." Kata Naruto mencoba menenangkan Hinata yang gemetar. Hinata mengangguk.

"Cih! Kenapa kau tidak ikut jatuh saja, Naruto!" kata seseorang seraya melempar bom lainnya ke arah Naruto dan Hinata.

DUARRRR!

KYAAAAAA~!

Naruto dengan sigap melindungi Hinata dari ledakan bom lainnya. Tanah-tanah yang kena ledakan mulai retak kembali. Situasi ini tidak menguntungkan bagi Naruto dan Hinata karena dekat jurang.

DUARRRR!

Ledakan kedua langsung membuat tanah semakin retak dan terbelah. Naruto yang melindungi Hinata mulai kehilangan keseimbangan. Tanah yang mereka pijaki mulai terbelah dan mengarah ke bawah jurang. Mereka berdua pun terjatuh. Naruto yang kehilangan keseimbangan tanpa sadar pelukannya terlepas dan membuat Hinata terperosok.

"NARUTO-KUUUUUUN~!"

"HINATAAAAAAAA~!"

.

.

To Be Continue

Yui: "Yeah~ akhirnya chapter 3 apdet juga. Mana makin panjang aja lagi. Huft..." *ngusap keringat*

Naruto: "Hinataaaaaaaa~! Apa yang udah elo lakuin pada Hinata! Balikin dia!" *guncang-guncangin Yui*

Yui: *gampar Naruto* "Berisik lo! Bukannya elo juga ikutan jatuh. Elo tolong sendiri aja." *cuek*

Naruto: "Eh! Bener juga. Tapi, kenapa gue ada disini." *bingung*

Yui: "O, ow.. jangan-jangan.. elo.. udah mati." *digampar Naruto*

Naruto: "Sialan lo! Mana mungkin gue mati. Gue kan siluman Kyuubi yang paling hebat. Nggak semudah itu gue mati, tau!"

Yui: "Ugh.. iya, iya. Mumpung elo disini, bantu gue balesin review napa." *nyerahin berkas review*

Naruto: "Dasar! Suka manfaatin orang. Dasar Author pencari bakat, eh, maksudnya korban!" *melotot*

Yui: "Terserah elu dah. Gue bales review pertama dulu, baru elo. Dari Chido Rokuro, oow.. gomen ne Chido, kayaknya chapter ini lebih pendek dari chapter kemarin. Soal SasuSaku siluman? Hmm.. ada deh. Tinggal tebak aja, siapa siluman n siapa manusia, khukhukhu.." *digeplak Naruto*

Naruto: "Tawa lo nyeremin. Selanjutnya dari Magrita loves NaruHina, gue setuju ma elo. Authornya emang jahat!" *digampar Yui* "Sialan lo! Kenapa gampar gue?"

Yui: "Balesan buat barusan, kekeke.." *devil hiruma mode: on*

Naruto: *merinding* "Ow.. gak telat kok, Grita. Elu aja yang kecepetan review sebelum pemberitahuan dari Author. Terus, hubungan gue ma Sasuke-teme dan Sakura? Ada deh. Pengen gue bongkar tapi Author dah bawa golok n pedang panjang.. ng.. apa namanya ya, kalo gak salah, Zanpakuto,buat ngancem gue. Soal MEML. Ng.. MEML apa nih?"

Yui: "Itu singkatan dari My Enemy My Love. Hmm.. chapter 8 kan dan dah update. Chapter 9 lagi proses. Sabar dulu ya. Orang sabar kan disayang Author (?)." *ditendang Naruto*

Naruto: "Narsis banget sih lo jdi orang."

Yui: "Terserah gue dong. Itu ciri khas seorang NHL. 'NARUHINA KEEP STAY COOL!'. 'BIAR NARSIS, YANG PENTING EKSIS!'." *dikepruks readers saking narsisnya*

Naruto: "Baru tau gue ada yang kayak begituan. Review selanjutnya." *nyerahin berkas review*

Yui: "Dari Youichi Hikari gak login, yup! Itu ulah Kabuto. Soalnya cuman dia yang cocok jadi peran antagonis, hehe..." *digampar Kabuto* "Huwaaa... kenapa elo ada disini?"

Kabuto: "Rahasia. Gue nggak setuju, kenapa gue selalu dapet peran antagonis sih? Di Anime maupun Fanfic sama aja. Gue protes!"

Yui: "Ow.. sorry bro! Kalo mau protes, protes ke Masashi Kishimoto aja. Jangan protes gue." *Kabuto mau ngacir ke Masahi tapi ditahan Yui* "Oi, mau kemana lo?"

Kabuto: "Kan elo sendiri nyuruh gue protes ke Masahi, makanya gue pergi."

Yui: "Nggak boleh! Mumpung elo disini, bantuin gue bales review."

Naruto: "Sabar ya, Kab. Dia emang Author pencari korban." *nepuk bahu Kabuto, digampar Yui*

Kabuto: "O-ok! Gue bantuin." *merinding terus baca review* "Dari likun.94, ini dah di apdet. Gomen lama."

Naruto: "Selanjutnya gue, Next dari Purple Tanzanite, penasaran ya? Yak! Ini dah di apdet!"

Yui: "Yup! Selanjutnya dari Nagisa Imanda, uehehe.. emang. Makin seru? Yeah~ emang itu yang gue harepin. Mau NaruHina bersatu? Hmm.. bersatu dalam artian apa nih? Hidup atau.. mati? Kekeke.." *evil smirk*

Kabuto: *bisik-bisik ke Naruto* "Orang itu nyeremin banget!"

Naruto: *bales bisik-bisik ke Kabuto* "Bener banget! Dia emang author penyiksa (?). Dasar author psikopat!"

Yui: *devil mode: on sambil ngancungin zanpakuto kearah KabuNaru* "Apa yang kalian bisikin? Mau gue cincang pake Hikarizu Hana, hah?"

KabuNaru: "Ng-nggak! Peace.. damai!" *keringat dingin*

Yui: "Review selanjutnya!" *ngelempar berkas review ke Kabuto*

Kabuto: "Ng.. dari.. reiyu chan, gak apa-apa telat asal review. Ini dah di apdet!"

Naruto: "Giliranku. Dari PinQ CloVer, ini dah di apdet!"

Yui: "Dari Knight buttercup, uhm.. konnichiwa. Hinata di racun Kabuto? Kab, tolong dijawab."

Kabuto: "NGGAAAAAAAAK! Bukan gue yang ngeracunin. Hinata emang sakit dari dulu. Apa untungnya gue ngeracunin dia. Itu nggak mungkin!" *ngamuk-ngamuk*

Yui: "Oi, sabar! Jangan ngamuk-ngamuk disini. Tuh dah dijawab. Hinata gak diracuni. Emang dia gue bikin sakit. Terus, soal SasuSaku. Hmm.. maybe yes maybe no. Siluman atau manusia? Silahkan tebak sendiri." *digeplak Naruto*

Naruto: "Demen banget lo bikin reader penasaran. Kasi tau napa."

Yui: "Sorry, Nar. Itu rahasia perusahaan (?). kalo dikasi tau, kan gak seru. Yah, sankyuu. Gak apa-apa kok. Kalo ada yang gak dimengerti, boleh nanya lagi kok. ^^"

Naruto: "Dasar! Review selanjutnya dari pik-pik, tambah seru? Yeah~ syukur deh. Gak sia-sia gue akting sampai berdarah-darah. Humm.. Sasuke-teme dan Sakura? Kagak tau deh, kenapa mereka berdua muncul. Oi, author! Kenapa mereka berdua muncul sih? Apa peran mereka?"

Yui: "Rahasia perusahaan." *digeplak Naruto*

Kabuto: "Haah.. review selanjutnya.. hmm.. gak ada namanya. Kasih kabar? Emang elo siapa?" *digampar Yui*

Yui: "Gak sopan lo sama reader. Hmm.. ini bukan Kira, ya? Ok! Ini dah diapdet!"

Naruto: "Dari Dwi93Jun Takahashi Chan, Oi, Author! Elo masih inget Dwi Amakusa?"

Yui: "Gak inget. Siapa dia?" *Digeplak Dwi* "Huee.. inget kok! Tenang aja, masih inget kok!"

Naruto: "Dasar! Hmm.. Kabuto emang biang keroknya."

Kabuto: "Sigh.. lagi-lagi gue disalahin. Kenapa nggak ada yang nyalahin authornya sih? Dia kan yang nulis cerita!" *Diinjak YuiNaru*

YuiNaru: "Berisik! Jangan main muncul sembarangan!"

Naruto: "Sorry reader, ada kesalahan teknis. Sasuke-teme dan Sakura kan memang temen gue. Siluman? Tanya Author sendiri."

Yui: "Sorry, rahasia perusahaan. Kalo mau, silahkan tebak sendiri, siapa yang siluman dan siapa yang manusia." *digeplak reader*

Kabuto: "Udah selesai? Gue boleh pergi?"

Yui: "Yup! Silahkan pergi!" *nendang Kabuto ke Antartika*

Kabuto: "Dasar author sialaaaaaaaan~! Tiing!"

Yui: "Untuk chapter depan, kayaknya bakalan makin panjang. Gue prediksiin, mungkin bakalan tamat chapter 4 atau 5. Oya, karena aku nggak tau siapa Ibunya Hinata, jadi aku pake OC bernama Yuki. Ada yang protes?

Reader: "..."

Yui: "Kok diam aja? Terserahlah. Yak! Para reader sekalin, please reviewnya, ya? Kritik, saran, pujian, flame akan diterima dengan senang hati asalkan disertai alasan yang masuk akal dan penyelesaiannya. Ayo Naruto!"

Naruto: "Yosh~!"

YuiNaru: "PLEASE REVIEEEEEW~!"

.

a/n: Itsu made mo kawaranai: sampai kapanpun tidak akan pernah berubah.

.

Cute smile

Yui Hoshina ^^v