Pengen cepet-cepet selesai nih cerita! DX

Biar bisa santai sejenak n fokus ma fic lain. Tapi.. kenapa malah tambah panjang aja nih. =.=" *sweatdrop*

Happy reading minna-san and here we go! XD

.


Disclaimer:

Om Kishi, Om Kishi, kapan Narutonya kasih ke saya? *guncang2in Kishimoto*

(Kishimoto: Oi, siapa lo! Gue gak punya Naruto tau! Itu punya abang gue, Masashi. Gue Seishi Kishimoto.)

Hah? Terus, Om Masashi kemana? *Masashi Kishimoto yang lagi sembunyi: Sialan tuh author sarap! Gue dibuntutin terus! Sampai kapanpun, Naruto gak akan gue kasih ke dia!*

Warning:

AU, lebayness, gajeness, misstypo yang lagi reunian, dwwl (dan warning-warning lainnya)

.


Amaranth, Globe

By: Yui Hoshina


.


"Hm.." Naruto tersenyum lembut. Itu membuat Sasuke heran. "Dia berbeda. Dia hanya gadis polos yang menginginkan kebebasan. Dan aku.. mengantarkan kebebasan itu."

Sasuke menyerengit heran, "Dobe, katakan padaku. Apakah kau menyukainya?"


Chapter 5: Perasaan


DEG!

"Eh?"

Naruto terkejut dengan pertanyaan Sasuke. Ia terdiam. Sedikit bingung dan tersentak akan pertanyaan Sasuke barusan. Hening sesaat sampai Naruto membuka suaranya dengan sedikit ragu.

"A-apa.. yang kau katakan barusan, Teme?" Naruto menatap Sasuke dengan pandangan heran. Pertanyaan Sasuke sama sekali tidak terbayangkan oleh Naruto. Apa alasan Sasuke menanyakan hal seperti itu?

Sasuke menatap Naruto serius, "Akan kukatakan sekali lagi. Apa kau menyukainya, Naruto? Apa kau menyukai gadis itu?" tunjuk Sasuke pada Hinata.

Naruto menoleh pada Hinata yang sedang tertidur. Entah kenapa dadanya terasa sesak. Ia memegang dadanya, merasakan apa yang ia rasakan saat bersama Hinata. Ia merasa sedikit kesulitan untuk bernafas mengingat pertanyaan yang di luar nalar pikirannya.

"A-aku... aku.." Naruto merasa lidahnya kelu. Ia bingung menjawab apa. Apa yang harus ia katakan untuk menjawab pertanyaan Sasuke? Apa?

Perang batin mulai terjadi pada dirinya. Apakah ia harus menjawab 'Iya' atau 'Tidak'? Kenapa begitu sulit menjawab pertanyaan Sasuke padahal jawabannya sangat mudah. Tinggal menjawab iya atau tidak. Apa yang terjadi pada dirinya? Kenapa ia tidak bisa menjawab?

"Naruto.. kau baik-baik saja?" Sasuke mulai merasa khawatir melihat Naruto tiba-tiba diam.

"A-aku.. aku.. tidak tau, Sasuke. Aku.. tidak tau seperti apa perasaanku pada Hinata. Aku.. tidak tau apakah aku menyukainya atau tidak. Aku.." Naruto menunduk lesu. Ia bingung. Ia bingung mendeskripsikan perasaan apa yang tumbuh di hatinya saat bersama Hinata.

Ini pertama kalinya ia ditanya soal perasaannya pada seorang gadis. Lain hal jika ia ditanya apa perasaannya pada Sakura atau gadis lainnya. Naruto pasti menjawab, 'Ya! Aku menyukainya. Karena dia adalah temanku'.

Tapi, kenapa ia merasa berat untuk menjawab status perasaannya pada Hinata? Entah kenapa Naruto merasa berat menyebut Hinata sebagai teman saja. Tapi, jika menyebut Hinata sebagai orang yang spesial? Hm.. mungkin saja. Tapi itu tidak bisa membuktikan apa-apa soal perasaannya.

Suka? Perasaan seperti apa itu..? Naruto bahkan tidak tau. Ia hanya memahami suka dalam arti sahabat. Bukan suka dalam arti spesial. Yah, sepertinya butuh waktu lama untuk mengetahui arti suka yang sesungguhnya dalam diri Naruto.

Selama ini, Naruto hanya menemani gadis itu. Mengajaknya bertemu dengan keluarganya. Melindungi gadis itu dengan mempertaruhkan nyawanya. Memeluknya saat gadis itu sedang sedih atau takut. Mengkhawatirkannya saat ia sakit dan lemah. Dan selalu ingin membuatnya tersenyum bahagia. Naruto ingin membahagiakannya.

Lalu.. apa yang ia dapat? Apa alasannya melakukan itu semua? Mengapa ia melakukan itu semua? Dan.. kenapa ia melakukan itu semua hanya untuk gadis bernama Hinata? Entahlah. Ia tidak mengerti pada dirinya sendiri. Tubuhnya seakan-akan bergerak sendiri untuk melakukan sesuatu pada Hinata agar ia tidak terluka ataupun sedih. Ia hanya menginginkan gadis itu tersenyum padanya. Apa maksud dari perlakuan khususnya pada gadis Hyuuga itu? Apakah ia merasa iba padanya? Tidak! Sama sekali tidak! Naruto hanya menginginkan gadis itu bahagia. Itu saja. Melihatnya selalu tersenyum. Yah.. mungkin itu saja. Tidak lebih.

Sasuke menghela nafas pasrah, "Haahh.. Mungkin belum saatnya kau mengenal hal seperti itu. Tapi, suatu saat nanti kau akan tau, apa yang kau rasakan pada gadis itu. Aku tidak berani menebak," kata Sasuke.

"Terima kasih, Sasuke. Mungkin aku perlu merenungi sebentar apa arti perasaanku pada Hinata," kata Naruto tersenyum getir.

Sasuke hanya menghela napas pasrah lagi, "Sudahlah. Sebaiknya kita rencanakan dulu apa yang akan kita lakukan sekarang. Seperti yang kau bilang tadi soal tugas untuk membunuhmu. Rasanya.. tugas seperti ini akan aku tolak. Mana mungkin aku akan membunuhmu. Aku tidak mau!" ujar Sasuke.

"Tidak! Jangan batalkan!" cegah Naruto tiba-tiba. Itu membuat Sasuke tersentak kaget.

"Apa? Kau gila! Aku tidak mungkin membunuhmu!" tolak Sasuke tegas.

"Bukan itu maksudku, Teme. Aku.. hanya memikirkan, bagaimana kalau kau berpura-pura menerima tugas yang kau dapatkan. Kau bisa mencari informasi di sana secara diam-diam siapa dalang dibalik semua ini. Kau mengerti?"

Sasuke sedikit tercengang dengan penjelasan Naruto, "Hn. Tumben sekali kau pintar, Dobe. Aku cukup terkejut," kata Sasuke sedikit mengejek.

"Jangan menatapku dengan pandangan mengejek, Teme! Atau aku patahkan tulang lehermu," ancam Naruto sambil memberi deathglarenya.

"Kau menantangku, Dobe?"

"Kalau iya, memangnya kenapa, Teme?"

"Haaahh.. sudah. Sudah. Baru bertemu saja langsung bertengkar. Nanti gadis ini bangun," lerai Sakura yang sejak tadi diam mendengarkan percakapan Naruto dan Sasuke.

Mereka berduapun terdiam.

"Lalu.. bagaimana sekarang?" tanya Sasuke.

"Hm.. entahlah. Apa kau akan langsung pergi ke Klan Hyuuga?" tanya Naruto balik.

"Untuk sementara ini tidak. Aku akan mempersiapkan apa saja untuk mencari informasi di sana. Bisa berbahaya jika melakukannya tanpa persiapan apa-apa. Bisa-bisa nyawa kita melayang jika bertindak gegabah," jelas Sasuke.

"Benar juga," Naruto sepertinya menyetujui pernyataan Sasuke.

"Baiklah! Aku juga akan ikut membantu. Tapi.." Sakura menggantungkan kata-katanya dan menatap tajam pada Naruto.

"Ada apa, Sakura-chan?" tanya Naruto bingung.

"Naruto, kau sedang terluka kan? Aku mencium bau darah ditubuhmu," kata Sakura curiga.

"Eh? Benar juga. Aku tidak menyadarinya. Tadi punggungku sempat terkena panah beracun. Tapi tak masalah. Berkat darah siluman rubah ekor sembilan yang mengalir di dalam tubuhku, sepertinya sekarang tidak apa-apa," kata Naruto nyengir.

"Baka! Walaupun kau mewarisi darah siluman ekor sembilan yang mempunyai daya sembuh super cepat, tapi luka tetaplah luka. Kemari. Biar aku obati!" kata Sakura sambil mencari peralatan pengobatannya.

"He? Memangnya kau bisa mengobati seseorang, Sakura-chan? Aku tidak tau bahwa kau bisa mengobati seseorang," Naruto merasa curiga karena yang ia ketahui bahwa Sakura tidak mempunyai keahlian apapun.

"Jangan remehkan aku. Dalam perjalananku selama ini, aku bertemu ahli pengobatan yang sangat hebat. Orang itu bernama Tsunade. Ia ahli pengobatan yang sangat hebat dan aku mulai belajar darinya agar suatu saat nanti jika Sasuke-kun terluka aku bisa mengobatinya," ujar Sakura bangga.

"Tsunade? Ahli pengobatan legendaris itu?" tanya Naruto tidak percaya.

"Benar sekali. Aku belajar pengobatan dengannya selama 2 tahun. Dan selama itu pula aku ikut berkelana bersama Tsunade-sama. Sebenarnya Sasuke-kun ingin berkelana sendirian tapi aku memaksanya untuk ikut. Dan kebetulan sekali tempat yang di tuju Tsunade-sama itu sama dengan tempat yang kami tuju. Dan kami pun menetap di sana untuk sementara," ujar Sakura.

"Tu-tunggu! Menetap? Maksudnya kalian menetap di sana selama 2 tahun?"

"Ya. Itu benar."

"T-tapi, itu mustahil! Teme bukanlah tipe orang yang menetap di suatu tempat dalam kurun waktu yang sangat lama. bagaimana dengan tugas kalian? Bukankah kalian selalu berpindah-pindah?" tanya Naruto bertubi-tubi.

"Ck, tenanglah sedikit, Dobe. Kau memang benar bahwa aku bukan tipe yang menetap dalam waktu lama. Tapi, ada satu alasan yang cukup kuat untuk aku menetap di sana dalam waktu yang sangat lama. Dan kau mungkin tidak akan percaya di mana kami menetap," kata Sasuke tersenyum misterius.

"Jangan membuatku penasaran, Teme! Katakan saja apa alasannya," pinta Naruto.

"Sebelum aku memberitahukan alasannya. Aku akan mengatakan nama tempat yang kami datangi dan memutuskan untuk menetap lebih lama di sana," kata Sasuke.

"Tempat apa yang kau maksud kan?" tanya Naruto penasaran.

"Nama tempat yang kami datangi itu adalah Uzushiogakure. Bisa dibilang, itu adalah desa Klan Uzumaki," kata Sasuke.

CTAARR!

Seperti tersambar petir, Naruto membatu mendengar kata 'Klan Uzumaki'. Bagaimana tidak. Itu adalah nama marganya.

"Tu-tunggu! Klan Uzumaki? Bukankah satu-satunya Uzumaki itu adalah aku? Ba-bagaimana mungkin?" Naruto bingung. Bagaimana mungkin ada klan Uzumaki selain dirinya. Ia tidak pernah mendengar hal semacam itu.

"Tenanglah, Naruto. Biarkan Sasuke-kun menjelaskan," kata Sakura.

"Sama sepertimu. Aku juga terkejut saat mengetahui desa Uzumaki itu. Dan aku menemukan hal penting tentang Bibi Kushina," kata Sasuke.

"Apa? Tentang Ibuku? Apa itu?" tanya Naruto penasaran.

"Yah, aku bertemu dengan salah satu Uzumaki yang mempunyai hubungan erat dengan ibumu. Namanya Uzumaki Kaoru. Dia adalah kakak laki-laki dari Uzumaki Kushina, Ibumu, yang tak lain adalah Pamanmu, Naruto," ujar Sasuke.

"A-apa?" Naruto terlihat shock. Ia tidak percaya bahwa dirinya masih mempunyai saudara yang masih berhubungan darah dengannya.

"Dan masih ada satu rahasia lagi yang mungkin akan membuatmu terkejut. Keluarga Uzumaki adalah seorang ommyouji yang mempunyai teknik penyegelan tingkat tinggi. Profesi mereka hampir sama denganku yang seorang pembasmi siluman. Hanya saja mereka lebih fokus dengan teknik penyegelan terhadap para siluman dibandingkan dengan teknik yang aku pakai," jelas Sasuke.

"La-lalu..?"

"Haahh.. kau tau Naruto, ada suatu hal yang ingin kusampaikan padamu soal Bibi Kushina. Tapi, aku yakin ini akan menyakitkan bagimu," kata Sasuke pelan.

"Jangan bertele-tele. Katakan saja padaku!"

"Lupakan saja. Aku tidak mau mengambil resiko jika kau mengamuk di sini. Ini akan membahayakan nyawa gadis itu," tolak Sasuke.

"Tapi.." Naruto kelihatan keberatan.

"Cukup, Dobe. Apa kau tidak ingat, terakhir kali kau terbawa emosi? Kau hampir membunuhku dan Sakura jika aku tidak membawa segel untuk menenangkanmu. Jangan lupakan hal itu!" nasehat Sasuke.

"Ba-baiklah. Aku mengerti," ucap Naruto pasrah.

"Sudah selesai percakapan kalian? Aku akan memeriksa luka Naruto terlebih dahulu," kata Sakura.

"Tidak perlu, Sakura-chan. Daripada mengobati luka kecil seperti ini, lebih baik kau periksa saja Hinata. Dia sedang sakit. Aku khawatir dengan kondisi penyakitnya," kata Naruto.

"Hm.. baiklah. Aku akan memeriksanya terlebih dahulu. Kalian berdua keluar dulu," pinta Sakura.

"Baik," jawab Naruto. Sedangkan Sasuke hanya ber 'Hn' ria. Mereka keluar dari goa dan Sakura mulai menyiapkan peralatannya.

15 menit kemudian, Sakura menghampiri Sasuke dan Naruto di luar.

"Bagaimana keadaannya?" tanya Naruto.

Sakura tertunduk lesu, "Sejauh ini ia memang tidak apa-apa. Tapi..."

"Tapi apa, Sakura-chan?"

"Penyakitnya.. sudah memasuki stadium akhir. Ia.. sudah tidak bisa ditolong lagi," kata Sakura tertunduk lesu. Ia menggigit bibir bawahnya karena merasa tidak berguna.

"Apa?" Naruto seakan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Kau bohong."

"Aku tidak bohong. Aku mengatakan hal yang sebenarnya," kata Sakura.

"Tidak! Kau pasti bohong, Sakura-chan! Hinata tidak mung-.."

"Aku minta maaf. Tapi itulah keadaannya. Ia sudah terlalu lama menderita penyakit itu. Aku.. tidak bisa menyembuhkannya," kata Sakura lirih.

"Tidak.. mungkin. Kau pasti bercanda. Jangan mempermainkanku, Sakura-chan. JANGAN MEMPERMAINKANKU! HINATA TIDAK MUNGKIN MA-.."

"Tidak apa-apa, Naruto-kun," terdengar suara lembut dalam goa yang memotong perkataan Naruto. Naruto menoleh ke arah sumber suara. Terlihat Hinata berjalan tertatih-tatih. Mungkin ia sedikit kelelahan atau efek penyakitnya yang sedikit demi sedikit melemahkan fisiknya.

"Hi-Hinata," ucap Naruto terbata-bata. Mata birunya terlihat berkaca-kaca.

"Aku tidak apa-apa. Aku sudah tau seperti apa takdirku sejak mengetahui penyakitku ini," Hinata memegang dadanya di mana letak penyakitnya berada. "Tapi aku senang bisa mengenalmu, Naruto-kun."

"Kau bicara apa? Kau pasti sembuh! Sakura-chan akan menyembuhkanmu!" kata Naruto.

"Jangan bicara hal yang mustahil, Naruto-kun. Aku tau bahwa hidupku hanya bertahan sebentar lagi. Aku tau bahwa tubuhku semakin lama semakin tidak bisa menopangku lagi. Aku tau bahwa-.."

"Urusai! Urusai! Urusai! Jangan katakan lagi! Aku tidak mau dengar!" bentak Naruto kesal. Mata birunya kini mulai memanas dan mungkin sebentar lagi akan menurunkan cairan bening dari matanya.

"Sudah cukup atas kebaikanmu selama ini, Naruto-kun. Aku senang bisa bersamamu selama sisa hidupku," ucap Hinata tersenyum lembut.

"Hentikan. Jangan mengatakan apa-apa lagi. Aku tidak mau dengar! Aku tidak mau dengar!" teriak Naruto bersikeras. Entah kenapa ia sangat membenci Hinata yang terlihat pasrah seperti itu.

"Aku.. sangat.. men-.."

GREB!

Tiba-tiba saja, Naruto memeluk Hinata dengan erat. Membenamkan wajah gadis manis itu ke dalam pelukannya.

"Na-Naruto-kun..." Hinata kaget dengan tindakan Naruto yang memeluknya tiba-tiba. Tidak lupa pula dengan semburat merah menghiasi wajah manisnya.

"Jangan bicara lagi. Aku tidak mau kau menyerah begitu saja. Kau pasti sembuh, Hinata. Kau pasti sembuh!" kata Naruto bersikeras.

"Naruto-kun.. sudah cukup. Jangan beri aku harapan palsu lagi. Kumohon.. lepaskan aku," pinta Hinata pelan.

"Tidak akan! Aku tidak akan melepaskanmu! Aku.. aku.." Naruto seperti kehabisan kata-kata. Apa yang harus ia katakan saat ini? Ia sama sekali tidak mengerti.

Hinata tersenyum lembut dalam dekapan Naruto dan melepas pelukannya menatap sang siluman rubah ekor sembilan, "Aishiteru, Naruto-kun. Hontou ni, aishiteru."

DEG!

Jantung Naruto berdebar-debar mendengar pengakuan Hinata. Wajah gadis itu terlihat pucat namun sedikit ada rona merah di pipinya, menambah kesan manis padanya.

"Hinata.." Naruto memandang sendu pada gadis di depannya.

Dengan tangan gemetar, Hinata menyentuh wajah Naruto, "Jangan bersedih. Aku lebih suka melihatmu ceria daripada wajah sedihmu. Tersenyumlah."

Naruto kembali memandang Hinata dengan tatapan lembut dan dengan ragu-ragu mulai tersenyum.

Rasa sesak di dadanya mulai menyiksa. Entah perasaan seperti apa yang masuk dalam hatinya itu. Susah sekali mendeskripsikan perasaan yang membuatnya merasa sesak sekarang. Hanya ada satu cara untuk memastikannya dan itu tidak pernah terbayang oleh Naruto sebelumnya.

Ia mulai menyentuh pipi gadis dan menatapnya lembut.

"Hinata, izinkan aku.." Naruto mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Hinata. Ia sedikit memiringkan kepalanya.

Hinata yang terkejut dengan tindakan Naruto tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sudah tidak mampu lagi melawan pesona Naruto dan itu membuatnya menutup matanya.

Sasuke dan Sakura lebih memilih membalikkan badan daripada melihat adegan yang akan membuat mereka ingin melakukannya.

Keheningan pun tercipta, hanya terdengar suara hembusan angin dan suara dedaunan yang terbang. Hinata mulai merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Ini pertama kalinya ia merasakan hal seperti ini. Tapi, ada sesuatu yang asing di indra perasanya. Sesuatu yang asin yang ia rasakan di mulutnya.

Dengan ragu-ragu, Hinata membuka matanya dan menampakan wajah Naruto yang tengah menciumnya dan... menitikkan airmata.

Ya, Naruto menangis. Mungkin hanya ini yang bisa Naruto lakukan untuk melepas peluh yang ada di dalam hatinya.

Perlahan-lahan, Naruto melepaskan ciumannya dan memandang Hinata. Mata merah Naruto terlihat sedikit sembab dan ia mulai menghapuskan jejak-jejak airmata yang keluar dari matanya.

"Na-Naruto-kun..." Hinata memandang Naruto tidak percaya. Tidak percaya bahwa Naruto menciummnya dan tidak percaya lagi bahwa Naruto menangis.

"Akhirnya.. aku sadar. Aku.. sangat menyayangimu, Hinata. Aku.. ingin kau selalu ada di sisiku. Aku tidak tau apakah rasa sayang ini pantas disebut cinta. Tapi, yang aku tau, aku.. tidak akan menyerahkanmu kepada siapapun. Aku.. akan terus melindungimu dengan taruhan nayawaku. Aku berjanji padamu," kata Naruto tegas. Hinata tersenyum lembut.

"Arigatou, Naruto-kun. Hontou ni arigatou."

"Hyaaaa~ Naruto romantis sekali. Sasuke-kun, kapan kau akan mengucapkan kata-kata romantis seperti Naruto tadi padaku?" bisik Sakura sambil memandang Sasuke dengan penuh harap. Telinga dan ekor kucingnya sudah ia sembunyikan, karena telinga dan ekornya akan bergerak seperti kucing manja jika mendengar sesuatu seperti... cinta.

"Hanya dalam mimpimu," ucap Sasuke cool. Walaupun dalam hati, ia juga iri dengan pernyataan Naruto.

Plok! Plok! Plok!

Terdengar suara tepukan seseorang di balik salah satu pohon.

Naruto, Sasuke dan Sakura langsung mengambil posisi siaga.

"Wah~ wah~ wah~, drama yang sangat mengharukan sekali. Percintaan siluman dan manusia itu memang menarik untuk diteliti, khukhukhu.." kata seseorang yang mulai muncul di balik pohon dan tersenyum sinis.

"Kau..." suara Sasuke tercekat ketika melihat siapa orang yang muncul.

"Siapa dia, Sasuke? Siapa?" tanya Naruto bingug.

"Lama tidak jumpa, Sasuke. Dan juga.. Sakura, sang siluman kucing," ucap orang itu tersenyum licik.

"Mustahil! Bagaimana kau bisa sampai di sini? Aku sama sekali tidak mencium bau tubuhmu maupun hawa kehadiranmu. Seharusnya daya penciumanku kuat. Tapi, bagaimana bisa?" Sakura terlihat shock dengan orang yang ada di depannya. Bagaimana bisa bau tubuh orang yang paling licik menurutnya sama sekali tidak tercium? Pasti ada yang salah.

"Jangan remehkan kemampuanku, Sakura. Aku membuat obat khusus untuk menyamarkankan bau tubuhku sehingga para siluman maupun hewan tidak akan merasakan kehadiranku."

"Ck, sial!" umpat Sakura.

"Sasuke, Sakura-chan, siapa dia sebenarnya? Beritahu aku!" pinta Naruto sambil melindungi Hinata dari orang yang terlihat berbahaya di depannya. Sasuke terlihat pucat antara pilihan memberitahu atau tidak. Tapi, ia harus memberitahu yang sebenarnya pada Naruto.

"Haahh... baiklah. Dengar, Naruto. Dia adalah Yakushi Kabuto. Orang.. yang telah membunuh Ibumu," kata Sasuke menatap tajam pada orang itu yang tak lain adalah Kabuto.

"APAA?" teriak Naruto tidak percaya.

Sedangkan Kabuto, hanya melancarkan senyum liciknya.

.

.

To Be Continue

Huft.. sedikit lagi mencapai klimaks. Aih~ gomen minna kalau fic ini telat udah hapir 4 bulan. Maklum, tugasku di dunia nyata tuh banyak jadi kurang sempat. *sok sibuk*

Yak! Waktunya balas review! XD

Talkshow time XD:

Naruto: "Ehem! Tes! Tes! Haloo minna, lama tak jumpa. Untuk acara balas review kali ini, Author sudah mendatangkan Sasuke, Sakura dan Hinata. Yak, pembacaan di mulai dari Baka Teme. Dozo!" *pasang tampang innocent*

Sasuke: "Awas kau, Baka Dobe. Review pertama dari Kenshin. He? So sweet? Iri? Emang lo kira gue gak iri? Oi, Author, kapan elo buat gue and Sakura kayak Naruto and gadis Hyuuga itu. Gue kan juga pengen."

Yui: "Hanya di dalam mimpimu." *cuek sambil makan chesselatos*

Sasuke: "Oh, shit!"

Sakura: "Selanjutnya dari Kim D. Meiko. Penasaran sama masa lalunya Naruto? Sebenarnya Authornya juga udah ada ide ngebuat tapi.. kayaknya gak ada di fic ini deh. Mungkin bakalan jadi sequel soalnya takut jadi tambah panjang nih cerita."

Naruto: "Review selanjutnya dari Sq. Iya tuh, di chapter kemarin masih kurang tapi.. chapter ini gimana?"

Sasuke: "He? Ngefans sama Author abal yang hobi nelantarin ficnya ini? Gak salah tuh? Terus, apa maksudnya Cuma sisa?" *deathglare ala Uchiha*

Yui: "Sewot aja lu, Sas. Hee? Mau tanda tangan and foto-foto bareng? Aih, jangan deh. Wajahku terlalu imut (?) untuk di ekspos, hehehe.." *narsis(dot)com*

All: *muntah berjamaah*

Naruto: "Tanda tangan juga gak usah deh. Tulisannya kayak cakar ayam." *dibanting pakai palu*

Hinata: "Soal MEML juga udah tamat jadi sebagian utang Author juga udah lunas. Review selanjutnya dari Yuna Claire Vessalius Kusanagi. Hehehe.. iya. Chapter kemarin kurang panjang tapi chapter ini udah berusaha dipanjangin. He? Mau reviewnya dibalas sama Neji-nii? Hm.. Neji-nii, tolong balas review ini."

Neji: *jalan ke atas panggung -?-* "Hm.. untuk pertanyaan kenapa Kabuto kenal banget sama Naruto, mungkin bisa terjawab di chapter depan." *balik lagi ke asal*

All: *sweatdrop*

Yui: "Kau datang dan pergi~ oh begitu saja~. Semua ku terima, apa adanya." *nyanyi gaje lagu D'Masiv yang 'Ruang Rindu'*

Sakura: "Ehem! Selanjutnya dari Kira Yamagami. He? Aku keren jadi kucing pink? Hohoho.. begitulah." *narsis*

Naruto: "Sakura-chan.." =.=' *sweatdrop*

Sasuke: "Selanjutnya dari Tanigawa Rizumi-chan. He? Kalau ketemu ma Sakura pengen dielus gara-gara dia jadi kucing?"

Sakura: "Kyaaa~ sepertinys peranku jadi siluman kucing di sini lumayan populer juga, hihihihi... *narsis tingkat medium -?-*

Hinata: "Selanjutnya dari The Portal Transmission-19. he? Luar binasa? Maksudnya?" *tanya dengan tampang polos*

Naruto: "Dari Ray Ichioza. Kenapa Sasuke bilang ekor gue malah jadi racun buat manusia? Hoo.. ada alasan khususnya. Silahkan baca komik 'Sweet God' jilid terakhir. Karena referensi soal rubah ekor sembilan Author dapat dari sana, hehe.."

Yui: "Soal nama pengarang komiknya juga lupa." *gubrak!*

Sakura: "Selanjutnya dari Crunk Riela-chan. Aih~ ujian kemarin nilainya kurang bagus tuh. Sempet pundung beberapa hari karena nilainya kurang memuaskan."

Yui: "Sa-ku-ra-chan, jangan buka aib sembarangan." *deathglare plus ngancungin sambit hidan*

Sakura: "O-oke. Peace, hehe.." *merinding*

Hinata: "Selanjutnya dari Magrita loves NaruHina. Yup, sekarang saya membalas review anda. Ini dah di apdet dan gomen lama, hehehe.."

Sasuke: "Review selanjutnya dari Hiruma Yuki-chan. He? 90%? Kayaknya gak sampai tuh di chapter ini. Ekor Naruto jadi obat or racun? Tergantung siapa yang memakannya a.k.a. siluman or manusia. Yak! Ini dah di apdet!"

Naruto: "Selanjutnya dari Rhyme A. Black. Hmm.. chapter kemarin kesannya romantis and gak tau di bagian mana? Aku juga gak tau." *gubrak!*

Sakura: "Dari Anzaki Ayanami. He? Aku mirip tokoh di Bistro Recipe? Tapi tuh Author malah ngebayangin aku kayak Mew ichigo di Anime/manga Tokyo Mew-Mew." =.=

Yui: "Mew Ichigo is my Character Favorite. Yeah~! XD"

Sakura: "Sok bahasa inggris lo!"

Yui: "Biarin."

Hinata: "Dari KAI. Yak! Ini dah di apdet. ^^ "

Sasuke: "Selanjutnya dari Kurosaki Yume-chan. Haahh.. lagi-lagi pakai bahasa inggris. He? Unfair? What is? This is her story, right? It's up to her how write it."

Yui: "Oi, Sasuke. Yang sopan sama reader. Ng.. I'm sorry, Yume-chan. I can't making Hinata like Kikyo, for she isn't magic. Besides, she's just a mere human. But, if you want Hinata with a bow and arrows, hmm.. maybe I'll think about it. "

Naruto: Hoeee.. Author pinter banget bahasa inggris." *kagum*

Yui: "Hehehe.. Yui gitu loh." *narsis tingkat high -?-*

Sasuke: "Jangan percaya semudah itu, Dobe. Itu Cuma hasil translate dari salah satu anggota keluarga Shuamarillys SV-03 Family. Aslinya tuh Author kagak ngerti." *buka aib*

Yui: "Rese' lu, Sas. Sekali-kali dukung gue kenapa sih." *cemberut*

Sasuke: "Hanya dalam mimpimu."

Naruto: "Selanjutnya dari Kakeru Shinichirou. Karena ada 2 review dengan nama yang sama, jadi digabungin aja. He? Nih Author punya banyak ide menarik? Ide buat jahil semua tuh!" *plak*

Sasuke: "Gue setuju. Dia punya banyak ide buat nyiksa pemainnya. Sebaiknya, jangan terlalu ngefans ma dia. Ntar tuh Author melayang karena di puji terus."

Yui: "Kalian berdua rese' banget sih. Hmm.. sepertinya Kakeru sudah bisa daftar FFN. Untuk buat fic, ya diketik biasa dari basa-basi dikit sampai cerita and penutup. Untuk publish, hmm.. caranya lumayan panjang sih. Aku PM aj ya. ^^"

Sakura: "Untuk tau arti-arti OOC, AU, dll, silahkan cari kamus fanfiction di Infantrum. Di sana lengkap kok. Kalau mau berpartisipasi dalam HFNH or HTNH, silahkan tanya Rhyme A. Black karena dia panitianya. ^^ "

Hinata: "Review terakhir dari naruhinadoo. Yak! Ini dah di lanjut. ^^

Yui: "Huft.. akhirnya selesai juga. Yak, kritik, saran, pujian (maunya), di terima. Please review, minna! XD "

.

.

Cute smile

Yui Hoshina ^^v