Disclaimer: Naruto © Kishimoto Masashi
Genre: Friendship/Romance
Rating: T
Pairing: Naruto x Sasuke (Bisa SasuNaru maupun NaruSasu)
Warning: Semi-canon, Shonen-Ai, Yaoi hints, OOC, OOC, OOC, typo(s), pengulangan kata. Don't like don't read! Feel free to leave this page if you don't feel easy to read it. I've warned you already.
A/N: Chapter ini masa lalu yang menjelaskan kenapa segel Kyuubi dalam tubuh Naruto melemah. Chapter selanjutnya baru kembali ke alur maju-mundur. Semoga nggak bingung ya!
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Aku ingin melindungimu dari dunia ini. Dari semua yang menyakiti dan meracuni pikiranmu, aku ingin melindungimu. Akan kuberikan padamu sesuatu yang paling kau inginkan selama ini.
Kebebasan.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Broken Seal of Promise
© Kionkitchee
2nd Promise: Cage of Freedom
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Dengar, ini misi pertama bagi tim tujuh setelah sekian lama. Tugasnya adalah merebut gulungan terlarang yang dicuri seorang bandit semalam. Namun, bandit itu bukanlah orang biasa. Dia seorang kriminal kelas S yang sampai saat ini masih diburu oleh Negara-negara lain karena mencuri sesuatu yang penting dan berhubungan dengan Jinchuuriki. Kalian pasti mengenalnya. Yakushi Kabuto," usai Kakashi.
Ketiga pasang mata yang mendengar hal tersebut sedikit terkejap sebelum kembali normal. Mereka sadar betul bahwa pria yang bernama Kabuto itu adalah seseorang yang sangat berbahaya. Sasuke paham hal itu dengan sangat jelas.
"Setelah berhasil menyusup dalam kediamannya, fokuskan diri untuk mencari lalu mengambil kembali gulungan Hokage pertama itu. Ada pertanyaan?"
"Kakashi-sensei, apa kita tidak perlu menangkap Kabuto?" tanya Sakura.
Sang Hatake menatap gadis itu sejenak sebelum berkata, "Biar aku yang mengurusnya."
Misi pun dimulai. Naruto, Sasuke, dan Sakura bergerak cepat memasuki kediaman Yakushi Kabuto. Setelah sekian lama, tim tujuh akhirnya menjalani misi bersama-sama. Mereka, tim tujuh yang beranggotakan tiga murid pewaris kekuatan Sannin dan seorang guru mantan ANBU.
Bagaimana dengan Sai?
Sai yang merupakan anggota tim Kakashi saat ini tengah berjuang kembali dalam ANBU Ne. Setelah segel dari Danzou musnah, pemuda itu menjadi ketua ANBU bagian Selatan Konoha. Ia lebih sering mendapat tugas dari ANBU daripada tugas biasa dari kantor pusat Hokage. Karena itu, keadaan seperti kembali seperti semula.
Kembali pada misi tingkat S, tim tujuh berhasil menemukan gulungan Hokage pertama yang diletakkan di atas sebuah meja tanpa penjagaan apapun. Masih tetap waspada, mereka mendekati benda tersebut, dan saat itulah perangkap yang disiapkan Kabuto aktif. Ratusan kunai dan shuriken menyerang mereka dengan cepatnya. Belum lagi puluhan ular berbisa yang bermunculan dari balik dinding tempat mereka berada, Kabuto tentunya sudah mempersiapkannya matang-matang.
Sasuke, mengenal baik bagaimana ular-ular peliharaan Kabuto, mulai menggerakkan segel jutsu dengan kedua tangannya. Sebelum memulai penyerangannya, ia menyuruh Naruto dan Sakura menghindar. Setelah itu, api yang diiringi petir ciptaan Sasuke memukul habis ular-ular tersebut. Naruto pun berseru pada gurunya untuk menyerahkan masalah gulungan pada mereka dan segera mengejar Kabuto yang berhasil meloloskan diri.
Setelah perangkap itu dihancurkan, mereka beristirahat sejenak untuk mengambil napas sebelum meraih gulungan tersebut. Sakura maju untuk mengambil gulungan dan memeriksanya—berjaga-jaga agar tidak tertipu dengan gulungan palsu milik sang penjahat. Beberapa saat setelah ia memeriksanya, seulas senyum merekah di bibirnya.
"Gulungan ini asli. Mission, completed!"
Naruto bersorak senang sementara Sasuke mendecak puas. Kedua pemuda itu pun saling bertukar pandang sebelum menyatukan kepalan tangan mereka untuk sebuah tanda persahabatan. Sakura yang melihatnya hanya tersenyum senang. Akhirnya, tim tujuh benar-benar tertawa bersama lagi.
"YOOSH! Kita kejar Kakashi-sensei dan membantunya menangkap Kabuto! Setelah itu, kita pulang lalu makan rameeen!" seru Naruto.
"Apa tidak sebaiknya kita menyerahkan gulungan ini pada Hokage-sama dulu?" tanya Sakura.
"Hn. Itu bisa sekalian nanti dengan orang itu," Sasuke menyahut. Sakura dan Naruto nyengir lebar mendengar tanggapan sahabat mereka. Dan tanpa membuang waktu lagi, mereka pun menyusul sang guru.
"Sakura, biar aku yang menyimpan gulungannya," ujar Naruto sambil meraih benda besar yang hampir saja dipanggul gadis berambut pink itu, "tidak akan jatuh ataupun hilang! Aku janji!" tambahnya. Gadis itu pun menyerahkan gulungan Hokage pertama pada Naruto tanpa menyadari sesuatu yang mulai terjadi.
"Kutitipkan padamu, Naruto," ucap Sakura sambil mengikatkan benda itu pada pemuda berambut pirang di depannya.
Sang Uchiha yang melihat adegan sedekat itu memalingkan wajahnya. Ia tahu bahwa Sakura kini tak lagi mencintainya tapi Naruto. Dan ia tahu bahwa Naruto masih menyukai gadis itu. Karena pemikiran itulah, ia sedikit tak tahan. Menyadari apa yang dipikirkannya, Sasuke mendecak pelan sambil mengutuki dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia berpikir aneh saat sedang dalam misi!
Fokus, Sasuke, fokus!
"Ayo pergi!" Naruto mulai berseru kembali tanpa menyadari sesuatu yang terikat dipunggungnya mulai mengeluarkan asap hitam yang mengepul tebal. Dan dengan cepat tak terduga, gulungan itu terbuka lalu membungkus tubuh Naruto.
"NARUTO!" teriak Sasuke dan Sakura sebelum terlempar oleh lembaran gulungan yang tiba-tiba terbelah menjadi beratus bagian kecil-kecil, mengirim mereka berdua pada sisi ruangan yang berseberangan.
"Brengsek! Apa-apaan ta—" kalimat Sasuke terpotong oleh pemandangan yang terjadi di hadapannya. Mata oniksnya membulat lebar, sama seperti mata hijau Sakura yang membelalak tak percaya.
Di hadapan mereka, tepat di tengah ruangan tempat mereka mengambil kembali gulungan Hokage pertama, tampak Naruto yang diselimuti aura merah darah yang mencekam. Kulit kecoklatannya mulai mengelupas, kuku-kukunya mulai memanjang dan menajam, rambut pirangnya mulai berubah warna menjadi lebih gelap, giginya pun mengeluarkan taring yang semakin bertambah seram karena dibarengi oleh warna langit teduh yang berubah menjadi merah.
"O-oi, kenapa tiba-tiba berubah menjadi Kyuubi sih…" gumam Sasuke, melangkah mundur sambil menganggukkan kepala pada Sakura agar mengikutinya melangkah mundur. "Naruto… kau bisa mendengarku?" tanyanya pada sosok merah di hadapannya.
"Sudah lama sekali kita tak bertemu ya, Uchiha Sasuke," Tiba-tiba sosok merah itu berbicara dengan suara berat yang serak.
Sasuke langsung pindah tempat ke depan Sakura sebelum menyahuti salam dari makhluk yang pernah bertarung dengannya sebelum pulang ke Konoha. Sesosok iblis berekor sembilan yang menguasai tubuh Naruto di tengah pertarungan mereka yang membuatnya kewalahan.
"Kyuubi…" desis Sasuke penuh kebencian, "kembalikan Naruto sekarang juga!" serunya.
Sang siluman rubah tertawa histeris, "Akan kuberitahu sesuatu yang menarik, Uchiha. Aku pun tak tahu kenapa aku bisa keluar semudah ini dan menguasai tubuh Naruto. Rasanya ada kekuatan yang membantuku keluar setelah gulungan ini—" ia menunjuk benda yang terikat di punggungnya "—menyelimuti tubuhnya…" jelasnya dengan seringai mengerikan.
Sang Uchiha terlihat berpikir sejenak untuk menganalisis apa yang terjadi. Tak lama, ia pun mendekat pada sang Haruno. "Sakura, kita akan menyerangnya lalu melepaskan gulungan itu darinya. Bersiaplah!" bisik perintah Sasuke pada temannya yang juga menyiapkan kunai di tangannya seperti dirinya.
Naruto yang dikuasai Kyuubi tersenyum sinis melihat ancang-ancang yang diambil dua orang itu. "Kalian bermaksud menyerangku, bocah-bocah? Tidak takut Naruto akan terkena imbasnya?" tantangnya.
"SERANG!" Dengan satu perintah dari Sasuke, Sakura menyerang sosok merah di hadapannya dengan cepat. Mereka melayangkan kunai yang mereka genggam ke arah Kyuubi lalu bergerak mengepungnya. Sasuke menghadapi Kyuubi dari depan sementara itu Sakura berusaha melepaskan gulungan Hokage pertama dari Naruto.
Dan Kyuubi pun menyeringai puas ketika senjata sang Uchiha mengenai dirinya.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Di lain tempat, Kakashi berhasil membekuk Yakushi Kabuto. Pria berambut putih kebiruan yang raut wajahnya seperti Orochimaru itu tertawa keras seperti sudah gila. Ia mengatakan sesuatu pada sang Hatake yang pastinya akan membuat gempar.
"Tujuanku mengambil gulungan itu adalah untuk membangkitkan Kyuubi, siluman rubah berekor sembilan yang terkurung dalam tubuh Uzumaki Naruto! Dan hal itu kini terwujudkan!" Kabuto pun tertawa kembali sebelum dibawa oleh pasukan ANBU yang datang membantu.
Kakashi sempat terdiam di tempat. Pikirannya mulai berkutat dengan apa yang baru saja dikatakan pria ular penerus Orochimaru itu. Masih berpikir keras, ia pun segera kembali ke tempat murid-muridnya berada.
Sesampainya di sana, Kakashi melihat Sakura sedang mengobati luka Sasuke, dan sang Uchiha yang menatap lekat Naruto yang terbaring di sebelahnya.
"Kyuubi menguasai Naruto setelah dia menyentuh gulungan Hokage pertama," Sasuke mulai bicara saat menyadari keberadaan sang guru, "bisa kau jelaskan, Kakashi?" Ia pun berpaling untuk menatap sang Hatake seakan meminta penjelasan. Sakura melakukan hal yang sama setelah selesai mengobati luka Sasuke.
Hatake Kakashi balik menatap kedua muridnya sebelum memperhatikan Naruto secara penuh.
Ternyata, misi ini gagal. Kabuto berhasil membangkitkan Kyuubi.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
_Kantor Hokage_
"Segel Kyuubi yang diciptakan Hokage keempat mulai hancur perlahan-lahan seperti kayu yang dimakan habis oleh sekumpulan rayap..." Tsunade berbicara pada Kakashi, "jika segel itu hancur seutuhnya, Naruto takkan bisa diselamatkan lagi…" tambahnya.
Sang Hatake terdiam mendengarnya. Ia tidak terkejut mendengar informasi itu. Yang membuatnya terkejut adalah sikap sang Hokage yang sangat tenang—tidak, terlampau tenang bahkan! Ada apa gerangan? Bukankah yang sedang mereka bicarakan adalah kondisi Naruto, pemuda yang disayanginya seperti putera sendiri? Ataukah jabatan Hokage yang membuatnya menahan emosinya? Tidak biasanya. Sungguh tidak biasanya. Tsunade adalah Hokage yang terkenal dengan emosinya yang suka meledak-ledak—tapi kini!
Ah, bukan itu… Kakashi mulai mengerti dengan sikap tenang itu. Tsunade bukannya tidak panik atau khawatir… wanita itu sedang menahan emosi yang bergejolak dalam hatinya. Sang Hokage sedang mencari jalan keluar untuk masalah ini.
"Kau sudah dapatkan informasi kenapa Kabuto menginginkan kebangkitan Kyuubi, Ibiki?" tanya Tsunade pada pria besar di sebelah Kakashi.
"Ya. Yakushi Kabuto bermaksud menghancurkan Negara-negara besar beserta penduduk di dalamnya," ucap Ibiki, "singkat kata, dia menginginkan terjadinya perang."
"Perang?" Tsunade seperti mendengar sebuah lelucon, "setelah Orochimaru mati dan Akatsuki musnah—bahkan Madara pun mati—kini ganti dia yang menginginkan peperangan? Bodohkah dia?" sinisnya sambil menggertakan jemari indahnya.
"Pria itu tidak hanya menginginkan peperangan… dia juga ingin mati," Ibiki melanjutkan informasi yang didapatnya, "Kabuto bermaksud mati dalam peperangan."
Otomatis, Tsunade langsung menggebrak meja kantornya. "Apa-apaan itu! Kalau mau mati lakukan saja sendiri! Tidak perlu menyusahkan orang lain dengan membangkitkan Kyuubi! BRENGSEK!" serunya.
"Tidak bisa, Hokage-sama. Kabuto tidak bisa membunuh dirinya sendiri karena dia sudah berhasil menyempurnakan ilmu terlarang Orochimaru," jelas Ibiki lagi. "Dia abadi."
Mata keemasan Tsunade membelalak, "Dia… berhasil? Kabuto menyempurnakan ilmu Orochimaru? Sulit dipercaya…" gumamnya seraya duduk kembali setelah sempat berdiri.
"Yakushi Kabuto menginginkan perang yang didasari kekuatan Kyuubi dengan maksud untuk membunuh dirinya sendiri. Hanya chakra Kyuubi yang mampu menghapuskan ilmu abadi miliknya," ucap Kakashi menimpali. "Dan kondisi Naruto sekarang me—"
"TSUNADE-SAMA! NARUTO MENGAMUK DI RUMAH SAKIT!" Tiba-tiba Shizune muncul dengan pelipis yang mengalirkan darah. Sejenak, ia mengambil napas sebelum melanjutkan, "Sekarang Sasuke sedang berusaha menahannya!"
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Naruto! Lawan Kyuubi dalam dirimu! Jangan biarkan monster itu menguasaimu!" seru Sasuke pada sosok di hadapannya.
"Percuma, Uchiha. Bocah itu tak bisa mendengarmu sekarang karena aku sudah menguasainya sepenuhnya!" Kyuubi wujud Naruto itu kembali melancarkan serangan pada Sasuke yang sepersekian detik berhasil menghindar. "LAWAN AKU, UCHIHA SASUKE!"
Sial! Apa tidak ada cara mengembalikan Naruto seperti semula?, batin Sasuke—bersiaga untuk serangan selanjutnya.
"Aku selalu membenci keluarga Uchiha! Karena itu, akan sangat menyenangkan bisa membunuh Uchiha terakhir seperti dirimu!" seru Kyuubi seraya mengumpulkan bola chakra hitam di depannya lalu melemparkannya ke arah Sasuke. Namun, gerakan pemuda raven itu sangat cepat sehingga berhasil menghindari bola tanpa menyadari ke arah mana bola tersebut terlempar setelahnya.
"SASUKE!" Sakura berteriak ketika menyadari bahwa bola chakra hitam itu mengarah pada ruangan yang berisi pasien-pasien.
"Sial!" Sasuke pun mengaktifkan bola mata merahnya: Mangekyou Sharingan. Tidak ada lima menit hingga bola tersebut berpindah ke dimensi kosong yang diciptakan sang Uchiha. Dan kejadian itu membuatnya berpikir akan suatu hal yang sepertinya nyaris terlupakan.
Semua keturunan Uchiha mampu mengendalikan Kyuubi.
Yang jadi masalahnya sekarang adalah, bagaimana caranya? Bagaimana cara mengendalikan Kyuubi dengan mata merah menyala miliknya? Bagaimana cara menolong Naruto yang dikendalikan Kyuubi?
"Aku… SANGAT MEMBENCI UCHIHA!" Kyuubi menyerukan kemarahannya dengan menembakkan berpuluh bola hitam yang serupa dengan yang pertama dilancarkannya. Kali ini tidak terfokus pada satu titik, melainkan ke berbagai arah. Kyuubi menembakkan bola chakra-nya secara membabi buta, membuat semua orang yang berada di dalam rumah sakit lari menyelamatkan diri.
"KAITEN!"
Pusaran angin berpusat pada titik di bawah lantai tiba-tiba tercipta dengan hebatnya; membuat beberapa bola chakra hitam Kyuubi musnah setelah sempat memberikan perlawanan yang sepadan.
"GETSUGA!"
Dua 'roket' angin meluncur dari luar jendela dan menabrak bola-bola hitam yang berada di hadapannya. Namun, ada satu-dua yang berhasil lolos dari serangan itu sehingga sang pengguna jurus terancam nyawanya.
"CHOU CHAKKA NO JUTSU!"
Seekor kupu-kupu raksasa menerima serangan bola yang seharusnya diterima oleh sang pengguna getsuga. Bukan kupu-kupu sungguhan melainkan kumpulan chakra yang membentuk kupu-kupu biru bersinar.
"Kagemane no jutsu!"
Selongsong bayangan menyelimuti tubuh Naruto yang dikendalikan Kyuubi sehingga pergerakan berhenti. Meski meronta sekuat apapun, jurus bayangan itu sudah mencapai tingkatan tertinggi. Dan Kyuubi pun berhenti untuk sementara.
"Hyuuga, cepat juga kau datang," ucap Sasuke sinis pada pemuda berambut coklat gelap panjang di sampingnya yang telah selesai menggunakan jurus kaiten-nya. "Kau juga, Inuzuka," tambahnya pada pemuda berambut coklat pendek berantakan yang memiliki douppleganger di sebelahnya.
"Chouji, Shikamaru, syukurlah kalian tiba pada waktunya!" syukur gadis berambut merah muda yang berdiri di belakang Sasuke. Lengan kirinya terluka karena sempat terkena bola hitam milik Kyuubi, dan kini ia sedang mengobati dirinya.
"Yah, tidak masalah…" Shikamaru berkomentar, "tapi jelaskan pada kami apa yang sebenarnya terjadi pada Naruto," lanjutnya sembari menatap sosok pemuda berpakaian piyama rumah sakit yang masih berusaha memberontak dari jurus bayangan miliknya.
"Aku juga ingin tahu…" sahut Kiba, "tidak pernah aku melihatnya seganas ini…" tambahnya. Akamaru menggonggong kecil pertanda setuju.
Sejenak, Sakura menatap Sasuke sebelum kembali pada empat pemuda yang berada di hadapan mereka. Lalu, ia membulatkan tekad untuk memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada sahabat mereka yang kini tak lagi memancarkan aura mentari. Seiring dengan berlangsungnya cerita sang Haruno, Tsunade dan kawanan lainnya pun tiba. Dan mereka mendapati sosok Naruto yang masih berusaha memberontak.
"Tsunade-sama," sapa Sakura, "maaf Anda harus mendapati keadaan seperti ini," sesalnya. Tsunade hanya menepuk pundaknya kemudian berlalu untuk menghampiri murid kesayangannya yang terlihat sangat menyedihkan. Para pengawalnya bersiaga mengawasi kalau-kalau terjadi sesuatu pada sang pemimpin.
Wanita berambut pirang dikuncir pig-tail itu berjalan perlahan mendekati Naruto. Ia pun mengangkat sebelah tangannya untuk menyentuh pipi kecoklatan milik sang pemuda. Dielusnya tiga garis tanda lahir seraya berucap lirih,
"Naruto…"
"AKU BUKAN BOCAH LEMAH ITU! GRRRR—LEPASKAN IKATAN INI!" raung Kyuubi sambil berusaha menyerang sang Hokage—namun, nihil.
Seketika, pandangan mata Tsunade berubah tajam. Ia tarik telapak tangannya dari wajah bergaris itu lalu menyentil dahi sang pemuda. Terlemparlah Kyuubi wujud Naruto ke luar rumah sakit. Sang Hokage segera menyusulnya—melompat lalu mendarat tepat di perutnya dengan pelan.
"Kyuubi, kuperintahkan kau untuk mengembalikan tubuh ini pada Naruto!" seru Tsunade. "Kalau tidak, aku akan menghajarmu sampai mati!" ancamnya.
Mendengar itu, Kyuubi pun tertawa keras. "Kalau kau lakukan itu, bocah ini akan ikut mati bersamaku! Silakan saja kalau kau ingin mencobanya!" tantangnya kemudian tertawa kembali.
Dahi Tsunade berkedut dengan kemarahan. Ia dihadapkan pada siluman yang sama sekali tak ingin dihadapinya. Namun apa daya, nyawa Naruto dipertaruhkan dalam hal ini.
"Apa maumu?" akhirnya Tsunade mencoba jalan negosiasi.
Seringai di wajah Kyuubi semakin melebar. "Bagus, ternyata kau memang berhak menyandang nama Hokage," pujinya sinis. "Bebaskan aku sepenuhnya lalu kukembalikan bocah ini padamu, Tsunade."
Semua yang mendengar kalimat tenang itu terkejut. Mereka pun menatap sang Hokage yang terlihat sama terkejutnya.
"Apa yang Kabuto janjikan padamu, Kyuubi? Sebuah Negara untuk dihancurkan atau keabadian?" tanya Tsunade tak kalah sinisnya. Ia menyesal telah memulai negosiasi sepihak ini.
Lagi-lagi Kyuubi tertawa dengan histerisnya, membuat bulu roma penduduk biasa berdiri dengan tegangnya. "Kabuto? Kecoak lemah yang tidak bisa mengurus dirinya sendiri itu?" hinanya. "JANGAN BECANDA! AKU YANG HEBAT INI TIDAK AKAN MAU BEKERJA SAMA DENGANNYA!" teriaknya sembari bangkit—melempar sang Hokage ke arah para pemuda yang dengan sigap menangkapnya.
"Aku menginginkan kebebasan yang sempurna dari segel yang diciptakan Minato dan Kushina sialan itu!" desis Kyuubi lagi. "AKAN KUHANCURKAN MEREKA BESERTA PUTERANYA INI!" raungnya seraya bersiap untuk mengumpulkan bola chakra hitam lagi di depan mulutnya.
"Bersiaplah Kalian semua!" seru Tsunade pada orang-orang yang bersiaga di belakangnya. "Kita akan menyerangnya bersamaan…" ucapnya pelan namun pasti.
"Meskipun itu akan melukai Naruto, Tsunade-sama?" cemas Sakura sembari menatap gurunya dengan warna hijau yang redup.
"Kita tak punya pilihan lain, Sakura…" lirih sang Hokage yang terdengar sangat berat melakukannya. Namun, dengan satu sentakan jari, Tsunade memerintahkan Kakashi dan Ibiki untuk menghadang Kyuubi dari belakang, Neji dan Kiba dari bagian kiri, Shikamaru dan Chouji dari bagian kanan, Shizune dan Sakura bersama dirinya dari bagian depan. Sementara itu, Sasuke bersiaga dengan mata merahnya tepat di belakang Tsunade.
Sang siluman yang melihat formasi itu tertawa mengejek. Rupanya Tsunade memakai taktik lama seperti yang dilakukan Hashirama Senjuu—Hokage pertama. Mereka memang satu keturunan. "Bagus… BUATLAH AKU SENANG, HEI, PARA CECUNGUK KONOHA!" Bersamaan dengan seruan itu, Kyuubi melancarkan serangan pada sekelilingnya; melemparkan bola-bola hitam dengan diameter yang jauh lebih besar dari yang sebelumnya.
Para pejuang melawan dengan seluruh kemampuannya. Meski terhalang oleh perbedaan kekuatan yang mereka miliki dengan sang siluman, mereka takkan menyerah. Demi menyelamatkan penduduk desa dan desa tempat kelahiran mereka… juga demi menolong seorang pemuda yang mereka sayangi. Sang sahabat yang pernah menolong mereka dari kegelapan diri sendiri.
Sang pemuda yang bercita-cita menjadi seorang Hokage, yang tak pernah menyerah meskipun di saat-saat yang diselubungi keputusasaan. Sang pemuda yang menyelimuti hawa dingin dengan aura hangatnya. Sang pemuda yang menghapuskan awan hitam dengan sinar mataharinya. Sang pemuda yang akhirnya berhasil membuktikan dirinya berharga.
Uzumaki Naruto.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Hen… ti… kan…
Neji dan Kiba terlempar oleh dahsyatnya kekuatan yang dilancarkan Kyuubi, disusul oleh Shikamaru dan Chouji yang tak mampu menahan dengan jurus pertahanannya. Shizune tampak terluka parah, begitu juga Sakura yang masih berusaha menyembuhkan luka-luka sang senior. Ibiki dan Kakashi tetap bertahan dengan kondisi yang sudah tidak memungkinkan; luka di sekujur tubuh mereka bukanlah luka dengan rasa sakit yang sebentar, namun mendekam untuk waktu yang lama.
Tsunade, satu-satunya yang masih tegak berdiri meski dengan keadaan yang tak kalah parahnya. Warna keemasan sang Hokage melirik sang Uchiha yang berdiri tertatih di sebelahnya. Darah mengucur deras dari kepala Sasuke; sama dengan cairan yang mengaliri lengan kanannya.
"Kau masih sanggup, Sasuke?" tanya Tsunade.
"Jangan meremehkanku! Siluman tengik sepertinya takkan menjatuhkanku semudah itu!" balas Sasuke marah.
"Bagus… karena yang tersisia hanyalah 'cara itu'…" ucap sang Hokage sembari membuat segel dengan kedua tangannya.
Sasuke menatap Tsunade lekat, mencoba mencari tahu apa yang dimaksud dengan 'cara itu'. Sedetik kemudian, ia menyadari apa yang akan dilakukan sang Hokage. Oleh karena itu, ia pun segera memperlihatkan Mangekyou Sharingan-nya.
Sayangnya, belum sempat Tsunade menyelesaikan segel, Kyuubi menyambarnya dengan ekor lalu melemparnya menjauhi sang Uchiha. Kelihatannya siluman itu pun menyadari apa yang akan dilakukan sang Hokage.
"Tidak akan kubiarkan kalian mengendalikanku!" Kali ini Kyuubi bergerak dengan liar sehingga Ibiki dan Kakashi nyaris terinjak kakinya yang besar kalau saja empat pemuda yang bersiaga di kiri-kanan tak menarik mereka. Dan tujuan sang siluman berekor sembilan berikutnya adalah sang Uchiha terakhir. "Saatnya menghabisimu, Uchiha!"
"Sial!" Sasuke melompat menghindari serangan Kyuubi. Ia aktifkan segel api lalu menyemburkan bola-bola menyala kemerahan untuk balas menyerang siluman itu. Setelahnya, ia aktifkan segel chidori, dan bermunculanlah percikan petir yang membaur menjadi satu di telapak tangan kirinya.
Kyuubi menyeringai dengan sangat mengerikan. Ia bawa telapak tangan kanannya yang kembali terkelupas mendekati sisi wajahnya. Perlahan tapi pasti, sebuah bola pusaran angin yang berwarna merah membentuk di atas telapak tangannya itu. "Untuk melawan jurus itu, bagaimana kalau mengadunya dengan rasengan-ku ini, Uchiha?" tantangnya. Siluman itu tahu dengan pasti bahwa sang Uchiha tidak menyukai sosok Naruto yang telah dikuasainya ini.
"Kau mau mencoba bertarung kembali seperti saat Naruto berhasil membawamu pulang, Uchiha?" sinis Kyuubi yang membentuk dirinya persis seperti Naruto dalam keadaan normal. Dan kesinisannya bertambah ketika mendapati wajah gelap Sasuke yang terlihat sekali tak menyukai apa yang diperbuatnya.
"Jangan menirunya… jangan kau menirunya… BERHENTI MEMAKAI SOSOKNYA, SILUMAN BRENGSEK!" marah Sasuke seraya menyerang Kyuubi berwujud sahabatnya itu. Sang siluman hanya tertawa bersamaan dengan dilancarkannya serangan untuk sang Uchiha.
Hen… ti… kan…
Kyuubi semakin mendekatkan rasengan merah itu pada Sasuke, dan sang Uchiha pun berbuat yang sama. Namun, ketika chidori milik Sasuke nyaris mengenai tubuh Naruto, Kyuubi dengan liciknya mengganti wajah penuh kesinisan itu dengan ekspresi polos sang Uzumaki yang kesakitan.
"Kau akan menyerangku, Sasuke?"
Seperti berada dalam ruang waktu yang berjalan sangat lambat, Sasuke seolah mendengar suara Naruto yang kecewa terhadap dirinya. Sedikit rasa bimbang dalam hatinya, chidori pun lenyap seketika… membuat taktik Kyuubi berhasil dengan sempurna.
"SASUKEE!" teriak Tsunade, dibarengi dengan Sakura yang masih menyembuhkan Shizune.
"Uchiha! Menghindarlah!" Shikamaru menimpali.
"MATILAH KAU, UCHIHAAA!" seru Kyuubi dengan penuh kemenangan; menghujamkan rasengan merah pada dada sang Uchiha.
Takkan kubiarkan kau menyakiti Sasuke, Kyuubi!
Dalam sepersekian detik, pusaran angin merah itu lenyap sebelum sempat menyentuh sang Uchiha. Selubung putih pun terlihat menutupi keberadaan Sasuke dan Kyuubi berwujud Naruto… membutakan semua yang melihat dengan sinarnya yang menyilaukan.
"B-brengsek… SIALAN KAUUU! NARUTOO!"
Hanya itu yang terdengar selama kabut putih menyelubungi dua sosok pemuda. Kemudian, yang terdengar selanjutnya adalah hening. Suasana tanpa suara dimana kabut putih perlahan menghilang, dan memperlihatkan bayangan dua orang yang berjalan keluar.
"Naruto!" seru Tsunade setelah memastikan bahwa bayangan itu adalah murid kesayangannya yang ditopang oleh Sasuke. Yang lain pun menghampiri sekuat tenaga mereka yang sayangnya sudah terkuras habis. "Naruto, kau sudah kembali? Apa kau baik-baik saja?" cemas sang Hokage sambil membantu sang Uchiha menopang sang Uzumaki.
Naruto tampak kesakitan dengan sentuhan yang ditujukan pada dirinya. Namun, ia memperlihatkan senyum kecil untuk mengurangi kecemasan wanita berambut pirang itu. "Aku merasa seperti diinjak oyabun…" balasnya ringan.
Tsunade menghela napas lega, "Kalau masih bisa berkelakar seperti itu, berarti kau tidak apa-apa," sahutnya dengan senyum yang sama. Dan terkikik pelan ketika mendapati sang Uzumaki memanyunkan bibirnya.
"Bahkan gajah pun takut padanya," timpal Sasuke yang langsung dapat jitakan kecil dari Naruto. "Apaan sih, Dobe?"
"Bukannya membelaku! Teme jelek!" sebal Naruto. Namun, setelahnya ia tertawa, dan juga membuat Sasuke tersenyum. Sang Hokage yang melihat pemandangan itu tetap tersenyum sebelum ekspresinya berubah menjadi serius. Ingin wanita itu mengatakan sesuatu, Naruto sudah keburu memotongnya.
"Hokage-sama, aku punya permintaan," ucap Naruto dengan serius yang tidak biasanya memanggil Tsunade dengan gelarnya—membuat semua yang mendengar, terutama Tsunade dan Sasuke, menatapnya dengan intensitas tanya yang besar.
"Berikan segel pada tubuhku lalu… kurung aku."
-.-.-TBC-.-.-
Kyou update! Cerita ini cuma chapter 5 atau 6. Jadi, Kyou bakal fokus buat updating fanfic ini dulu ya. ^^
Mind to review? As usual, don't waste your time for leaving me flames.
_KIONKITCHEE_
