Disclaimer: Naruto © Kishimoto Masashi

Genre: Friendship/Romance

Rating: T

Pairing: Naruto x Sasuke (Bisa SasuNaru maupun NaruSasu)

Warning: Semi-canon, Shonen-Ai, Yaoi hints, OOC, OOC, OOC, typo(s), pengulangan kata. Don't like don't read! Feel free to leave this page if you don't feel easy to read it. I've warned you already.

A/N: Kembali ke alur maju-mundur ya. Semoga nggak bingung bacanya. ^^

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Perjuangan seorang diri memang melelahkan. Tiada tempat berkeluh-kesah, tiada teman untuk berbagi. Sendiri, di tengah keramaian.

Tapi apa kau tahu, selama aku mengingatmu, aku takkan pernah sendirian. Karena itu, kuharap kau pun tak melupakanku.

Jangan lupa bahwa aku akan selalu berada di sisimu. Jangan lupakan aku.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Broken Seal of Promise

© Kionkitchee

3rd Promise: Forget Me Forget Me Not

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Ledakan yang cukup besar terdengar dari tengah-tengah hutan Konoha. Pelaku peledakan tak lain adalah pemuda keturunan Uchiha yang terakhir yang kini telah sukses menyempurnakan jutsu untuk menolong sahabatnya. Jutsu untuk menyegel siluman rubah berekor sembilan yang berdiam dalam tubuh pemuda yang sangat disayanginya.

"Kulihat semua sudah sempurna, Sasuke?" suara pemuda yang lain terdengar menyapa sang Uchiha.

Sasuke sama sekali tidak menggubrisnya. Ia tidak pernah—sama sekali belum ingin berinteraksi dengan pemuda yang merupakan 'pengganti'nya dalam tim tujuh itu. Yah, ia tidak pernah ingin digantikan sebetulnya. Ia hanya pergi meninggalkan tim yang dulu menurutnya 'kacangan' itu, dan sama sekali tidak bermaksud untuk menyisakan tempat untuk seorang pengganti. Mengerti maksudnya? Bagus.

"Ternyata kau memang membenciku ya? Sedihnya," Sai kembali menimpali dengan senyum yang sama sekali tidak menyentuh matanya. Pemuda berseragam ANBU tanpa topeng itu pun turun dari atas pohon lalu berjalan mendekati Sasuke. "Tapi sebenarnya aku tak peduli kau mau membenciku atau tidak. Bagiku, yang terpenting sekarang adalah menyelamatkan Naruto. Itu saja," tambahnya seraya berhenti tepat di depan pemuda yang berhasil ia tarik perhatiannya.

"Apa maumu?" tanya Sasuke dingin. Mata oniksnya menatap tajam batu obsidian milik Sai tanpa ada keinginan mengalah. Tidak, siapa yang akan mengalah jika orang paling berharga dalam hidupmu terancam diambil oleh orang lain? Tentunya bukan Sasuke.

Senyum di wajah Sai memudar. Rasanya ia memang sulit untuk belajar menyukai sang Uchiha meski Naruto sudah memintanya. Memang susah menyukai seseorang yang membencimu, bukan? Atau sangat susah mengubah rasa benci yang ada menjadi rasa suka? Sekali lagi, Sai tidak peduli apakah dirinya dibenci atau tidak. Ia hanya ingin Naruto kembali.

"Sudah kukatakan, Sasuke-kun," Sai kini menambahkan embel-embel –kun setelah nama sang Uchiha—sepertinya ia tak ingin lagi mencoba mengakrabkan diri dengan pemuda itu, "aku hanya ingin menyelamatkan Naruto meski itu berarti aku harus bekerja sama denganmu."

Mendengus, Sasuke menyahuti kalimat Sai yang tak kalah dingin," Dan bagaimana kau bekerja sama denganku? Hanya aku yang dapat menggunakan jurus segel ini, kalau kau belum tahu," sinisnya.

Pemuda berperawakan sama dengan sang Uchiha mengambil topeng yang tersampir di pinggangnya. Sebelum memakainya secara penuh, Sai kembali berkata, "Sampai jumpa besok di penjara, Komandan." Dan Sai pun pergi secepat kilat. Tak lama, Sasuke menyusul untuk menemui sang Hokage.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Begitu, jutsu-nya sudah sempurna," Tsunade bergumam setelah Sasuke memberikan laporannya. Mata karamelnya melirik seorang pria yang berada di samping sang Uchiha, "Kakashi, jelaskan padanya."

Sang Hatake mengangguk lalu beralih kepada muridnya yang terlihat menaikkan sebelah alis pertanda sedikit bingung. Sebelum memulai kalimatnya, Kakashi menghela napas seakan apa yang akan diutarakannya itu adalah sesuatu yang begitu berat. Benar, sesuatu yang akan dijelaskannya pasti memberikan beban pada kedua muridnya, terutama sang Uchiha.

"Ada dua kondisi yang akan kau hadapi setelah berhasil memisahkan Kyuubi dari Naruto. Pertama, kau dan Naruto akan mengalami rasa lelah yang amat sangat; dan kedua…" Kakashi memejamkan mata sejenak lalu membukanya kembali—terlihat ia begitu berat untuk mengatakannya, "… Naruto tidak akan mengingat apa-apa…"

Seperti mendengar sesuatu yang berdengung di telinga, Sasuke berharap apa yang baru saja didengarnya sama sekali bukan apa yang memang dikatakan sang Hatake. Naruto akan… apa tadi? Dia tidak akan mengingat apa-apa? Maksudnya…

"Singkat kata, Naruto akan melupakan segalanya," Tsunade memperjelas perkataan Kakashi yang ternyata hanya berupa lirihan itu, "dia tidak akan ingat siapa dirinya, bagaimana kehidupannya, teman-temannya… semuanya. Anak itu akan kehilangan seluruh memori yang dia punya selama memiliki Kyuubi. Apa itu cukup jelas?"

Kenyataan mulai menghentak jiwa Sasuke. Setelah menyelamatkan Naruto nanti, sebagai balasannya, ia akan dilupakan? Oh, apa yang lebih hebat dari dilupakan dengan cara tidak menyenangkan? Apa yang lebih buruk dari dilupakan oleh satu-satunya orang yang paling kau sayangi? Bahkan kematian lebih baik dari pada dilupakan! Dan ia—dirinya akan dilupakan oleh Naruto? Permainan neraka macam apa lagi ini?

"Sasuke, sudah terlambat jika kau ingin mundur," Kakashi berkata kembali, "satu-satunya cara untuk menyelamatkan Naruto adalah dengan mengendalikan Kyuubi dan membuatnya keluar dari tubuhnya. Selain itu, tak ada." Sebenarnya pria itu ingin kata-kata yang lebih bermakna ketimbang sekedar peringatan. Sayangnya, tidak ada yang ia keluarkan saat ini dapat membantu sang Uchiha. Bahkan tidak untuk dirinya sendiri.

Tsunade berdiri dari kursi pemimpinnya dan berjalan mendekati jendela. Ia tahu… ia mengerti bagaimana perasaan Kakashi dan Sasuke karena perasaannya pun sama. Ia tak ingin Naruto melupakan semuanya. Namun, untuk menyelamatkan jiwa pemuda yang sangat disayanginya itu hanyalah dengan menggunakan jutsu itu. Sebagai Hokage, ia tak boleh melibatkan perasaan pribadi dalam pekerjaannya. Sebagai Hokage, ia harus memprioritaskan keamanan penduduk desa. Sebagai Hokage, ia harus menyegel Kyuubi secara penuh. Dan sebagai Hokage, ia harus mengorbankan apa yang penting baginya… bagi mereka semua.

"Pikirkan tentang Naruto-kun ke depannya, Sasuke-kun," Kali ini Shizune yang berada di dekat meja Hokage mulai bicara, "dia memang tidak akan mengingat apapun, tapi dia pun takkan mengingat betapa dulu dirinya menderita karena memiliki Kyuubi. Dia takkan merasakan bahwa dulu banyak penduduk desa yang membencinya. Karena itu—"

"Semua penderitaan yang dialami Naruto justru membuatnya kuat," potong Sasuke dingin dengan mata oniks yang menusuk tajam bola milik Shizune. Kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya, menghasilkan bunyi gemeletuk tulang yang menyakitkan. "Kalau tidak, ia takkan mampu menghancurkan Akatsuki dan …"

membawaku pulang

Shizune pun diam seraya menundukkan kepala. Kedua tangannya memeluk erat seekor babi yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri. Tonton pun hanya mengeluarkan lirihan pilu a la bangsanya.

"Sasuke," Tsunade kembali membuka suara, "bagaimana pun juga, kita harus melakukannya. Kita tidak bisa mundur!" serunya dengan suara tertahan. Jemarinya mengepal di sisi tubuhnya dengan sangat keras, mungkin saja membuat kuku tajam yang dimilikinya melukai kulit tangannya.

Suara keras dinding tempat Hokage berada pun terdengar menggaung. Rupanya kepalan tangan pemuda Uchiha itu telah bersarang dengan sangat keras, mengakibatkan warna putih ternodai oleh warna merah.

"Aku sudah tahu… jangan kau katakan lagi…" lirih Sasuke pelan seraya keluar dari ruangan Hokage.

Ia butuh waktu untuk menguatkan hatinya.

-.-.-FLASHBACK-.-.-

"Sasuke," panggil Naruto di suatu siang ketika Sasuke mengunjunginya di rumah sakit Konoha akibat misi berat yang diterimanya kemarin, "lain kali bawakan aku ramen kalau menjenguk…"

Sang Uchiha menatap sang Uzumaki dengan pandangan meremehkan, "Kau terlalu fokus pada ramen sampai-sampai nyaris terbunuh dalam misi. Memalukan," ketusnya.

Naruto menggembungkan sebelah pipinya, "Tapi 'kan aku berhasil, Teme!" protesnya. "Bacchan nggak komplain apa-apa tapi kamunya malah sewot! Teme jelek!" ambeknya kemudian, membuat pemuda di sampingnya mendengus.

"Itu karena beliau sudah bebal dengan kebodohanmu, Dobe. Jangan salahkan aku kalau kau malah jadi dimanja," sahut Sasuke. Mata malamnya melihat Naruto memalingkan muka dengan kesal. Ia tahu bahwa pemuda itu mulai marah karena ia tidak mengkhawatirkannya seperti yang seharusnya.

"Sakura menjengukku dengan membawa buah-buahan, Kakashi-sensei datang bersama Iruka-sensei membawa makanan, Sai juga datang—meskipun tidak bawa apa-apa, dia menghargai kerja kerasku kemarin…" gerutu Naruto pelan.

Sasuke mendengus lagi, "Lalu? Kau mau aku memujimu seperti orang itu? Omong kosong. Minta saja padanya," ketusnya. Ia tahu Naruto mengerti siapa yang dimaksudnya dengan 'orang itu'. Dan Sasuke mulai kesal karena merasa dibandingkan dengan orang yang paling tidak disukainya.

"Kok jadi ketus begitu sih?" protes Naruto. "Aku 'kan cuma bilang kalau mereka datang menjengukku dengan baik—dan kuharap kau juga bisa seperti mereka… bukan mengejekku seperti ini…" lirihnya. Pemuda berambut pirang itu hanya ingin sang Uchiha menghargai usahanya meskipun pada akhirnya ia menjadi penghuni rumah sakit. Misinya kemarin sempat membuatnya merasa rendah—karena ia yakin Sasuke dapat melaksanakannya lebih baik darinya.

Sang Uchiha—yang tadinya kesal karena hal sepele—kini menghela napas panjang. Ia paham kalau pemuda Uzumaki itu sedang dalam masa yang tidak enak, dan seharusnya ia tidak terpancing emosi menyebalkan dalam dirinya. Sekali lagi, ia menghela napas panjang.

"Lebih baik kau cepat keluar, Dobe," ucapnya kemudian seraya berjalan menuju pintu keluar.

Naruto menjulurkan lidahnya, "Nggak perlu dikasih tahu juga aku akan keluar dari sini secepatnya, Teme!"

"Hn. Aku akan menraktirmu ramen setelah itu."

Pernyataan itu sukses membuat Naruto terdiam.

-.-.-END OF FLASHBACK-.-.-

Tak sadar, langkah kaki sang Uchiha membawanya ke depan gerbang tempat sahabatnya mendekam. Padahal ia harus menguatkan hatinya untuk melakukan jutsu itu tapi secara tak disengaja, kedua kakinya malah membawanya ke tempat yang sedang tak ingin didatanginya. Apakah hatinya berbisik ingin berjumpa dengan pemuda itu? Apakah dirinya ingin sekali menemui pemuda itu? Apakah telinganya ingin mendengar suara pemuda itu? Apakah matanya ingin melihat pemuda itu? Apakah tangannya ingin menyentuh pemuda itu? Apakah… apakah ia sungguh tak tahan untuk mendekap pemuda itu?

Kejam. Kami-Sama, semua ini terlalu kejam. Apakah karena dulu ia berlaku kejam, makanya berbalas seperti ini? Apakah karena dulu ia meninggalkannya maka ini harus terjadi? Apakah karena ia sudah terlalu lama dikutuk, maka Naruto harus menerima akibatnya? Kejam… terlalu kejam…

Tidak mungkin bisa ia melakukannya. Tidak mungkin bisa ia melakukan jutsu itu kepada Naruto, sahabatnya… orang yang paling berharga baginya. Tidak akan bisa. Ia tidak akan tahan mengetahui Naruto menghilang dari dirinya… dengan melupakannya. Ia takkan sanggup membayangkan hari-hari di mana Naruto berlaku sebagai orang asing yang tidak mengenalnya. Ia takkan sanggup bahkan untuk bernapas sekalipun…

Ia membutuhkan Naruto, Kami-Sama! Ia membutuhkan Naruto untuk mengembalikan hidupnya yang telah lama mati! Meskipun ada orang lain yang peduli padanya, tidak ada yang bisa menggantikan kepedulian Naruto terhadapnya. Pemuda itu tulus, sangat tulus dalam mengutarakan semua perasaan kepadanya. Dan ketulusan itulah yang membangkitkan semangat hidupnya. Ketulusan yang membuatnya merasa disayangi. Ketulusan yang membuatnya merasa bahwa meskipun ia terjatuh dalam jurang kegelapan, Naruto akan tetap menerimanya—bahkan menyelamatkannya dengan seluruh jiwa dan raga. Dan semua itu akan menghilang?

"Sial!"

Tapi Sasuke tahu bahwa hanya itulah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Naruto. Ia tidak boleh egois dengan memaksakan bahwa Naruto harus mengingatnya. Ia tidak boleh egois dengan mengabaikan keselamatan Naruto. Tidak. Ia harus menyelamatkan Naruto. Ia harus memisahkan Naruto dari siluman itu… karena ia yakin Naruto pun menginginkan hal yang sama.

Dan purnama akan segera tiba dalam waktu kurang dari 48 jam.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Anak itu… kuharap dia tidak melakukan hal bodoh…" ucap Kakashi sambil bersandar pada jendela ruang istirahat gedung Hokage. Di sampingnya, Iruka duduk sembari memikirkan sesuatu.

"Kuharap juga begitu, Kakashi-san…" sahut sang Umino pelan, "hanya saja, aku sedikit mengerti perasaan Sasuke-kun. Naruto dan dia memiliki ikatan yang lebih kuat dari apapun… Aku merasa ini semua terlalu berat baginya…" lirihnya.

Sang Hatake menatap pria berambut coklat itu dengan lembut, "Meskipun ikatan antara dirimu dan Naruto juga kuat, tetap saja kau lebih memikirkan orang lain… Itulah salah satu kelebihanmu, Iruka-sensei…" ujarnya.

Iruka tersenyum sendu, "Kakashi-san sendiri juga memikirkan hal yang sama bukan?" ia mengamati pemandangan di luar gedung, "baginya yang selama ini dirundung kegelapan, cahaya Naruto merupakan satu-satunya jalan keluar. Dan nantinya…" sang Umino tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Terlalu berat—bahkan untuknya…

Sebuah pelukan hangat tercipta di sore itu. Membagi kesedihan dan penyesalan yang akan datang kelak. Namun, demi satu harapan yang meyakinkan, perasaan apapun akan dikorbankan.

-.-.-FLASHBACK-.-.-

"Kau tidur?" tanya Naruto di suatu malam pada pemuda di sampingnya.

"Hn." Sasuke membalas dengan mata terpejam.

"Memangnya kalau tidur bisa membalas pertanyaan ya?" Naruto melirik sang Uchiha sambil mencibir.

"Hn."

Sang Uzumaki mengerang kesal, "Hentikan 'hn'mu itu, Teme!"

"Berisik."

Merasa tak ada guna membalas satu kata itu, Naruto membuang napas panjang. Mata birunya memandang langit malam yang menyelimutinya dan Sasuke. Mereka tengah berbaring di atas padang rumput desa Konoha, tempat mengasingkan diri dari keramaian, tempat paling nyaman untuk menyegarkan pikiran. Hanya berdua, menikmati keberadaan satu sama lain.

"Besok misi pertama setelah sekian lamanya…" gumam Naruto, "bagaimana perasaanmu, Sasuke?" Ia bertanya lagi pada pemuda berambut raven itu.

Sasuke tak langsung menjawab melainkan membuka matanya, memperlihatkan warna yang senada dengan langit malam. Bintang-bintang terpantul jelas dalam bola oniksnya, membuatnya memikirkan sesuatu yang serupa dengan apa yang diharapkannya.

"Misi pertama…" ia berucap pelan namun masih terdengar oleh Naruto, "jangan sampai terbunuh, Dobe."

"Apa itu maksudnya? Memangnya kau pikir aku akan jadi beban, huh?" kesal Naruto yang kini menatap langsung sang Uchiha; memposisikan dirinya di atas sang pemuda—yang membelalakkan matanya.

Suara angin berhembus, diiringi suara dedaunan dan semak-semak yang bergesekan membentuk nada tersendiri. Burung malam pun bernyanyi dengan suara menenangkan, tak peduli pada apa yang kegelapan hasilkan. Semua beresonansi di sekitar dua pemuda yang saling menatap dalam diam. Baik Naruto maupun Sasuke belum ada yang bergerak dari posisinya—bahkan seperti membatu sambil tetap menatap langit masing-masing yang terpantul dalam bola mata mereka. Dan seperti tidak ingin keheningan itu terpecah, mereka jadi menikmati siratan kata yang bermain di dalam 'langit' tersebut. Kata-kata yang ingin sekali mereka ungkapkan tapi sulit untuk diutarakan.

Sebelah tangan sang Uchiha mulai bergerak naik, hendak menyentuh tiga garis pada wajah kecoklatan pemuda di hadapannya. Ketika jemari itu bersentuhan dengan lapisan hangat yang ditujunya, bibir sang pemilik pun terbuka untuk menyampaikan vibrasinya.

"Aku serius. Jangan sampai mati, Naruto…"

Safir sang lawan bicara melembut bersamaan dengan jemari kecoklatan yang menumpu pada jemari putih pertama. Bibir itu pun membuka, "Kalimat yang sama kuberikan padamu, Sasuke…" lalu merekahkan seulas senyum sendu seakan mengerti apa yang akan terjadi esok hari.

Uchiha terakhir itu terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya mendengus. "Cemaskan saja dirimu sendiri," ketusnya seraya menyingkirkan tubuh yang ada di atasnya lalu berada pada posisi duduk.

Sang Uzumaki mendecak pelan, "Sudah kubilang kalau aku bukan beban tahu," gerutunya yang kembali pada posisi berbaring menatap langit.

"Hn, Dobe."

Ckk, Teme."

Dan angin kembali berhembus, mengulangi harmoni yang pernah terdengar begitu menenangkan. Bintang yang bersinar di atas sana pun seakan menjadi saksi bisu melodi ramah yang nyaman di telinga. Membuat hati sejuk dan teduh.

"Usai misi besok, temani aku ke sini lagi ya?" pinta Naruto. "Ada sesuatu yang penting yang harus kusampaikan padamu…" lanjutnya dengan lebih pelan.

"Hn."

-.-.-END OF FLASHBACK-.-.-

"Aku belum menyampaikannya…" lirih seseorang dalam gelapnya ruang yang menjadi tempat tinggalnya kini. Suara yang keluar dari tenggorokannya merupakan satu-satunya suara yang memenuhi tempat itu… karena ia hanya seorang diri, dikurung atas keinginannya sendiri. Terkadang, suara gesekan belenggu kaki membuatnya merasa bahwa ia tak sendirian. Namun, meskipun begitu, ia lebih dari tahu bahwa dirinya hanya sendiri tanpa seorang pun yang menemani. Dan hal itu membuatnya semakin lemah… semakin membenci apa yang pernah ia banggakan sebagai seorang manusia.

Sejak awal melihat sekeliling, ia membenci orang-orang yang menatapnya dengan pandangan meremehkan... yang menyembunyikan ketakutan. Ia membenci mereka yang dengan seenaknya menganggapnya sebagai monster. Ia membenci mereka yang tidak memberi kesempatan hidup dengan layak padanya. Namun, lihatlah sekarang. Segalanya berbalik 180 derajat. Kini, ia membenci dirinya sendiri. Kini, ia berharap bisa segera mati.

Takut. Ia takut mati. Ia takut pada kematian yang selalu dihadapinya setiap hari. Bukan karena mati akan membuatnya seorang diri—ia sudah terbiasa dengan itu—melainkan karena mati akan memisahkannya pada orang-orang yang ia sayangi—dan bukan mereka yang membencinya. Mati akan memisahkannya dari teman-teman yang disayanginya. Mati akan memisahkannya dari orang yang paling dikasihinya. Mati akan memisahkannya dari pemuda yang dicintainya,

… memisahkannya dari Sasuke.

"Aku belum menyampaikannya…" kalimat yang sama terucap lagi dengan lirih dari mulut sang pemuda, menandakan bahwa ia sedikit menyesal karena tak bisa mengutarakannya lebih awal. Padahal hanya mengenai hal sepele yang mungkin akan dianggap remeh oleh pemuda yang dimaksud, namun, ia ingin mengatakannya… dalam kondisi yang terbaik, bukan terburuk seperti sekarang. Pupuskah harapan itu?

Aku akan mengeluarkanmu dari sini.

Naruto tersenyum. Tidak, harapannya belum pupus. Sasuke berjanji untuk mengeluarkan Kyuubi dari dalam dirinya. Dan Sasuke… ia berjanji untuk mengeluarkannya dari tempat itu. Masih terbuka pintu harapan untuknya, dan ia percaya. Ia percaya bahwa pemuda itu akan menepati kata-katanya.

"Kali ini pasti, Sasuke," sang Kyuubi holder mulai menegaskan sesuatu dalam hatinya, "setelah keluar dari sini, aku pasti akan menyampaikan perasaanku padamu!" yakinnya.

Kemudian pemuda itu berteriak sangat keras dan terjatuh menggeliat dengan liar. Rupanya siluman rubah yang mendekam dalam tubuhnya kembali beraksi, menyakitinya dengan intensitas penderitaan yang luar biasa.

Sang Uchiha, yang masih berdiri di depan gerbang penjara, mendapati suara yang menyayat hatinya; memecah pikiran dan emosinya serta akal sehat dengan cepat. Namun, apa daya yang ia miliki? Hanya bisa mendengar teriakan itu sambil menahan sakit dalam dirinya; menyeruak keluar bagai pembuluh otak yang hendak meledak.

Saat ini, yang bisa dilakukannya hanya satu: meringankan penderitaan pemuda yang paling disayanginya… meskipun itu berarti memori akan dirinya terhapus dengan sempurna.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Malam semakin larut namun beberapa orang masih terjaga tanpa kantuk sedikit pun. Tidak seperti biasanya memikirkan permasalahan berbeda untuk masing-masing orang, kini mereka memikirkan satu hal yang sama: besok, Naruto akan menjalani upacara itu. Pemuda yang mengisi hari-hari mereka dengan semangat pantang menyerah itu akan menjalani upacara yang membuatnya kehilangan sesuatu yang lebih berharga dari sekedar harta karun berwujud.

Memori… ingatan… kenangan… Naruto akan kehilangan hal-hal tersebut. Tentu saja yang bersangkutan tidak tahu dampak itu, namun, tetap saja… rasanya ada yang menjanggal. Mulai lusa—atau besok setelah Naruto membuka matanya menjadi seorang pemuda tanpa siluman berekor sembilan, mereka akan mendapati orang lain… orang asing berwajah Naruto. Dan mereka yakin akan merasa canggung pada awalnya sebelum kembali terbiasa. Wajar saja… tapi mereka sebenarnya tidak mau. Mereka ingin tetap berlaku sama seperti sebelumnya terhadap Naruto. Sayangnya, mereka tak yakin bisa melakukannya.

Akan sulit berhadapan dengan pemuda yang biasa menyapamu dengan riang tiba-tiba berubah menjadi salam dengan kesopanan yang tinggi. Akan sulit berhadapan dengan pemuda yang biasa adalah teman bertengkarmu tiba-tiba berubah menjadi teman yang baru kenal. Akan sulit berhadapan dengan pemuda yang biasa kau anggap saudaramu tiba-tiba berubah menjadi orang yang bukan siapa-siapa. Sulit… sangat sulit… bahkan mungkin saja kau akan merasa lebih baik tidak usah mengenalnya sedari awal…

Perkara yang memusingkan, dan mereka harus menghadapinya setelah esok menjelang. Kalau semua bisa dihadapi dengan pengabaian, mereka mungkin akan melakukannya. Namun, sekali lagi, tidak bisa. Pemuda itu adalah sahabat mereka. Pemuda itu adalah keluarga mereka. Pemuda itu adalah matahari mereka. Pemuda itu adalah bagian dari hidup mereka. Untuk berlaku seakan baru bertemu dengannya… mereka sama sekali tidak pernah membayangkannya.

Kembali malam semakin larut, namun mereka sama sekali tidak merasa butuh tidur saat ini. Dibandingkan mereka, ada seseorang yang lebih membutuhkannya. Dan dengan cara apapun, mereka akan memberikannya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

_Desa Suna_

"Ini laporan misi selama seminggu," ucap seorang pengawal sambil meletakkan sebuah berkas di atas meja sang pemimpin. "Saya permisi, Kazekage-sama."

Pemuda yang dipanggil Kazekage mengangguk sembari memeriksa laporan tersebut. Saat sedang membaca, pintu ruangannya kembali terbuka, memperlihatkan dua sosok saudara kandungnya.

"Gaara, ada kabar dari Konoha. Mereka bilang besok akan mengadakan upacara untuk memisahkan Kyuubi dari tubuh Naruto," info Temari, membuat Gaara tersentak.

"Alasannya?" tanya sang pemimpin dengan curiga. Apa Konoha bermaksud membunuh Naruto?

"Segel Kyuubi dalam tubuh Naruto melemah semenjak mereka merebut gulungan yang dicuri pemuda Kabuto itu. Beberapa kali Naruto lepas kendali sehingga ia dikurung di penjara khusus yang dijaga oleh ANBU spesial bawahan Hokage. Dan Hokage sendiri meminta Uchiha Sasuke untuk melakukan jutsu yang hanya dimiliki keluarga Uchiha secara turun temurun," jelas Kankurou.

Gaara membanting berkas yang tadi dibacanya, mengagetkan kedua kakaknya. "Lalu mereka memilih untuk membunuh Naruto, begitu?" Ia tak percaya Konoha sanggup melakukan hal sekeji itu ketika berada di bawah pimpinan Tsunade.

"Menurut Shikamaru, Naruto tidak akan mati," Temari memberitahu Gaara apa yang didengarnya dari pemuda Nara yang merupakan partner kerjasamanya, "hanya saja…" Kankurou dan Gaara menatapnya seakan memintanya untuk melanjutkan, "hanya saja, Naruto akan melupakan segalanya…" lirih Temari pada akhirnya.

Kankurou tersentak mendengarnya sebelum beralih untuk melihat reaksi sang adik. Benar, Gaara terlihat lebih terkejut darinya. Wajar saja. Pemuda itu tak pernah membayangkan akan terjadi situasi seperti itu. Tentu ia lega mendengar Naruto tidak akan mati—tapi melupakan segalanya? Itu lebih buruk dari kematian itu sendiri.

"Gaara…" Temari mengerti perasaan adik bungsunya karena Naruto adalah orang yang pernah menyelamatkannya dari kematian dan sekarang merupakan sahabat yang tak tergantikan. Dan sekarang sahabat pertamanya itu akan melupakannya? Pergi meninggalkannya dan kenangan tentang mereka? Gaara lebih memilih kematian daripada harus melupakan sang Uzumaki kalau ia berada di posisinya. Namun, ia lebih dari tahu bahwa ia sendiri takkan membiarkan Naruto mati.

"Pukul berapa mereka akan melaksanakannya?" tanya sang Kazekage akhirnya sambil bersandar pada kursinya dengan lelah.

"Pukul sepuluh malam, tepat saat purnama penuh," jawab Kankurou. Gaara mengangguk. Setelahnya, kedua kakaknya pun keluar ruangan… meninggalkannya dalam kemelut hati.

-.-.-FLASHBACK-.-.-

"Kau masih mengejarnya?"

"Eh?" Naruto sedikit kaget dengan pertanyaan itu sehingga ia nyaris tersedak dalam menelan ramen favoritnya.

"Pertanyaan bodoh, aku tahu," Gaara mengurungkan niat untuk menanyakan hal itu lagi. Seharusnya ia sudah tahu jawaban yang akan diterimanya, tapi tetap saja—

"Ini tentang Sasuke?" Naruto bertanya balik setelah meneguk segelas air. Ia menatap sang Kazekage yang sedang bersamanya karena sang Hokage memintanya menemani pemuda itu selama korespondensi antara Konoha dan Suna berlangsung lalu membalas, "Walau itu kau, jawabanku tetap sama, Gaara."

Pemuda Sabaku itu meliriknya lalu menghela napas panjang tanpa terdeteksi. Ia raih segelas air di depannya sembari berkata, "Daripada membuang waktu mengejar orang itu, lebih baik kau konsentrasi untuk mencapai gelar Hokage. Itu impianmu, 'kan?"

Mendengar itu, Naruto malah nyengir kuda, "Kau mengucapkan hal yang sama seperti Ero-sennin tahu!" serunya lalu menghabiskan kuah ramennya hingga mangkuknya terlihat bersinar. "Kau tahu apa yang kukatakan untuk membalasnya? Kubilang biarpun menjadi orang terbodoh di antara yang paling bodoh, aku takkan menyerah untuk membawa Sasuke pulang!"

Gaara mengerti nada yang dilontarkan sang Uzumaki. Keyakinan untuk merebut kembali seseorang yang berharga, itulah yang ada di dalamnya. Untuk hal yang seperti itu, Gaara memang tak bisa mengalahkannya. Lalu ia pun tersenyum tipis.

"Bahkan orang paling bodoh pun bisa melakukan sesuatu," gumam sang Kazekage—yang kali ini membuat Naruto tertawa.

"Jangan jadi kembarannya, Gaara!" serunya sambil mengingat jawaban yang juga diberikan oleh gurunya yang telah tiada.

-.-.-END OF FLASHBACK-.-.-

Lalu, pagi pun datang dengan tak diinginkan, mengawali sebuah peristiwa yang akan mengubah segalanya. Sekeras apapun menolak, jawaban yang tersisa tetaplah sama. Dan waktu… waktu takkan mau menunggu lebih lama.

-.-.-TBC-.-.-

Update chapter 3! XD Semoga berkenan ya~

Mind giving me reviews? As usual, don't waste your time for leaving me flames.

_KIONKITCHEE_