Disclaimer: Naruto © Kishimoto Masashi

Genre: Friendship/Romance

Rating: T

Pairing: Naruto x Sasuke (Bisa SasuNaru maupun NaruSasu)

Warning: Semi-canon, Shonen-Ai, Yaoi hints, OOC, OOC, OOC, typo(s), pengulangan kata. Don't like don't read! Feel free to leave this page if you don't feel easy to read it. I've warned you already.

A/N: Alur tetap maju-mundur ya. Semoga nggak bingung bacanya. ^^

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Jangan menatapku seakan aku ini pembohong. Jangan melihatku seakan aku ini sampah. Jangan membicarakanku seakan aku ini tak layak ada.

Aku bukan pembohong. Aku bukan sampah. Dan aku ada di sini!

Aku bukan pelanggar janji! Akan kubuktikan itu!

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Broken Seal of Promise

© Kionkitchee

4th Promise: The Promise to Hold

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Malam ini bulan penuh. Kita akan melaksanakannya tepat pukul sepuluh. Siapkan pasukan ANBU dan tempatkan mereka pada posisi mata angin. Biarkan mereka menahan chakra Kyuubi saat siluman itu dikeluarkan nanti. Dan jangan lupa dengan barrel yang sudah dilapisi kertas mantra dari darah Uchiha. Begitu Kyuubi berhasil dikurung di dalamnya, Sasuke akan menorehkan Mangekyou Sharingan di dahinya, dan upacara pun selesai."

Sesuai dengan titah sang Hokage, seluruh pasukan yang bertugas segera melakukan tugasnya. Mereka menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan dan juga mempersiapkan diri sendiri. Mereka waspada akan Kyuubi yang lepas kendali, namun berusaha yakin bahwa semua akan berjalan lancar. Sebentar lagi, semua dimulai.

"Apa Uchiha-kun belum datang melapor, Tsunade-sama?" tanya Shizune. Sang Hokage tidak berbalik dari kegiatannya mengisi berkas yang akan disampaikannya pada rapat Kage. Kasus Naruto ini murni menjadi tanggung jawabnya apapun yang terjadi.

"Dia akan tiba nanti," gumam Tsunade, seolah meminta sang asisten untuk tak bertanya lagi. Ia tahu di mana sang Uchiha saat ini, dan ia tak berniat untuk mengganggunya sekarang. Karena, setelah ini, semua akan berubah. Dan Shizune paham maksud tersembunyi seniornya.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Hari ini purnama ya?" suara serak pemuda bermarga Uzumaki terdengar dari balik sel tempatnya mendekam. Ia bertanya pada siapapun yang mendengar. Sayang, tiada satu pun yang mendengarnya karena ia sendirian. Tak lama dari tanyanya, ia mendengar suara lain yang memasuki teritorinya. Naruto hapal suara yang berupa langkah itu lalu tersenyum. "Kau datang lagi, Sasuke?"

Sang pengunjung mendengus, "Tidak suka?"

Naruto menggeleng sembari menampakkan wajah lelahnya. "Aku senang kok!" balasnya. "Kau membawakanku ramen?" tanyanya lagi sambil nyengir. Di saat payah seperti itu pun ia tetap mencoba becanda.

Sasuke mendecak sambil melangkah mendekati jeruji segel, "Setelah keluar dari sini, aku akan menraktirmu," ucapnya, mengulangi janji yang pernah ia ucapkan tempo hari. Dan ia melihat cengiran sang Uzumaki bertambah lebar lalu mengangguk ceria. Sasuke hanya menatapnya datar… ia tahu bahwa semua takkan menjadi seperti yang diinginkannya.

"Sasuke?" panggil Naruto menyadari ada yang aneh dengan sahabatnya. Oniks yang menatapnya berbeda dengan apa yang pernah dilihatnya selama ini. Warna malam itu kini lebih terlihat… "Bersedia cerita?" tanyanya kemudian dengan bahasa sopan yang beberapa hari ini lengket di lidahnya… membuat Sasuke kesal.

"Aku tidak suka... aku tidak suka caramu berbicara, Dobe!" gusar Sasuke. "Sejak kapan kau jadi seperti itu? Memuakkan!" dan ia mulai marah. Ia tak mengenal pemuda itu. Ia tak mengenal lelaki berambut pirang di hadapannya. Ia seperti berbicara pada orang asing… yang ia tahu akan benar terjadi setelah malam ini berakhir. Sayangnya, sang Uzumaki sama sekali tidak memberinya respon yang ia inginkan.

"Maaf kalau membuatmu muak…" lirih Naruto sambil tersenyum sendu, dan seketika mendapat gebrakan keras tepat pada jeruji yang berada di depan wajahnya. Wajah Sasuke mendekat sambil menggenggam jeruji tersebut.

"Balas aku… hina aku seperti biasanya… panggil aku teme seperti yang sering kau lakukan! Tantang aku bertarung seperti dulu! Seperti kau yang dulu! DOBE!" seru Sasuke, terdengar begitu frustasi. Ia sangat marah… marah pada Naruto yang berubah, juga pada dirinya sendiri yang tak dapat melakukan apa-apa kecuali menggunakan jutsu itu. Ia marah pada segalanya yang menyebabkan hidupnya seperti itu…

"Sasuke…" Naruto menyentuh jemari putih itu dengan jemarinya yang kasar. Kini senyuman telah pudar dari wajahnya. "Aku tetaplah diriku… aku tetap Naruto yang kau kenal—dobe yang kau sebut-sebut selama ini… aku hanya sedang berbahagia—mengetahui kau berusaha keras menyempurnakan jutsu untuk memisahkan Kyuubi dari tubuhku sungguh membuatku bahagia!" Perlahan, ia kembali tersenyum. Kemudian, seraya memejamkan mata, Naruto melanjutkan kalimatnya, "Aku bahagia, Sasuke… ternyata… ternyata kau pun peduli padaku… dan perasaan itu membuncah dalam hatiku… Aku bahagia, Sasuke, sangat—sangat bahagia!" Setetes embun pun jatuh dari langit birunya… membuat sang Uchiha terdiam di tempat.

Itukah yang dipikirkan Naruto? Itukah yang ada dalam benak sang Uzumaki? Tidakkah ia tahu bahwa apa yang hendak dilakukan Sasuke justru menghancurkan segalanya? Tidakkah ia sadar bahwa perbuatannya nanti malah melenyapkan perasaan itu?

Tidak, bukan begitu. Yang sebenarnya bermain dalam pikiran pemuda berambut pirang itu adalah kenyataan bahwa sang Uchiha peduli padanya. Ia yang selama ini selalu mendapati kalimat kebencian dari Sasuke kini mendapatkan sebentuk kepedulian dari pemuda yang sama, bukankah hal itu justru membahagiakan? Mengetahui Sasuke juga menyayanginya, bagi Naruto, itu adalah keajaiban yang datang padanya.

"Aku…" Naruto melanjutkan kata-katanya, "selalu berpikir bahwa kau membenciku dari lubuk hatimu—yah, mengingat aku selalu ikut campur urusanmu sampai saat ini, tidak heran kau membenciku—dan pikiran itu semakin memperburuk diriku… Dulu, aku pun ingin membencimu—karena kau terlalu sempurna, juga karena pergi meninggalkan desa—tapi… tapi tidak bisa… Aku tidak sanggup membencimu… bahkan, daripada membenci, lebih baik aku menyukaimu… dan itulah yang sampai saat ini kurasakan…" jelasnya dengan lebih pelan. Wajahnya terpampang langsung menghadap sang Uchiha. Naruto sama sekali tidak malu mengakui apa yang selama ini tertanam di hatinya. Sasuke memang harus mengetahuinya.

"Aku—"

Pengakuan Naruto terhenti oleh gerakan tangan Sasuke yang menarik wajahnya mendekat dengan cepat. Lalu, tanpa berbasa-basi lagi, sang Uchiha menempelkan bibirnya pada bibir sang Uzumaki… mengecupnya dengan lembut di antara jeruji yang terpasang. Kecupan itu hanya berlangsung sesaat namun terasa seperti selamanya, memberikan jawaban tak terlontar dari pengakuan yang nyaris terdengar. Kepastian akan perasaan terhadap satu sama lain.

Sayangnya, momen itu tak bertahan lama karena Naruto langsung mendorong tubuh Sasuke menjauhi jeruji—mengejutkan sang Uchiha. Ketika pemuda berambut raven hendak bertanya, mata oniksnya membulat mendapati sosok di hadapannya meringkuk dan menggeliat sambil mengeluarkan rintih kesakitan. Kyuubi memulai penindasannya lagi.

"Na… Naruto…"

"Pe-pergi… kumohon p-pergi…" lalu Naruto berteriak pilu namun tampak ia berusaha menahannya mati-matian, "PERGI! JANGAN LIHAT AKU!" histerisnya, memohon sang Uchiha agar segera pergi. Ia tak ingin Sasuke melihatnya dalam keadaan tak berdaya seperti itu. Ia tak ingin Sasuke tahu betapa menderitanya ia.

Sasuke mengerti hal itu. Dan dalam sekejap, ia telah lenyap dari hadapan sang Uzumaki.

Malam nanti, ia takkan ragu lagi.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Sekelompok orang sedang berjalan di pusat keramaian Konoha. Mereka mengenakan pakaian formal yang tidak biasanya seraya melangkah pelan menuju suatu tempat. Sebenarnya, mereka enggan pergi dari rumah di saat seperti ini, apalagi mengetahui masa depan yang akan terjadi nanti. Tidak ada satu pun yang senang dengan upacara yang akan berlangsung meskipun upacara itu bisa menyelamatkan seseorang yang mereka kenal.

"Kalau boleh memilih, aku tidak ingin datang malam ini…" lirih Ino.

"Aku juga begitu," sahut Tenten pelan.

"Tapi… tidak mungkin tidak datang…" Lee menimpali dengan lemas. Semangat masa mudanya masih pergi entah ke mana setelah mendengar kondisi Naruto.

Neji menghela napas, "Kalau kau sampai se-depresi ini, bagaimana dengan Naruto, Lee?" Pemuda serba hijau di sampingnya mengangguk sambil memanyunkan bibirnya.

"Lebih baik bersikap biasa saja," Kali ini Shikamaru bicara—yang langsung mendapat dengusan kasar dari pemuda yang berjalan di sebelahnya.

"Coba lakukan itu setelah upacaranya selesai!" kasar Kiba. "Semua juga tahu kalau dia nggak bakal jadi kayak dulu! Kuso!" kesalnya.

"Bagaimana kalau mencoba percaya?" Shino menawarkan.

"Percaya apanya?" tanya Tenten.

"Percaya bahwa Naruto bisa mengubah takdir. Itu maksudnya," Neji membalas, "selama ini itulah yang terjadi, bukan? Kalau boleh jujur, dari awal aku tak percaya Naruto bisa membawa Uchiha pulang, tapi nyatanya dia berhasil," tambahnya.

Hinata mengangguk, "Iya! Aku percaya Naruto-kun akan tetap menjadi Naruto-kun!" yakinnya pada sang Inuzuka.

Chouji menepuk pundak Kiba, "Naruto itu kuat. Percayalah padanya, Kiba!"

Akhirnya, Kiba tertawa kecil, "Kalian ini, kalau mau mengatakan hal seperti itu, kalian salah orang! Coba katakan itu pada Sasuke… dia lebih membutuhkannya…"

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

Malam tiba. Bulan penuh tampak pada gelapnya lapisan langit tanpa bintang. Seakan tertawa, bulan memicingkan pandangannya pada serimbun hutan yang melindungi sosok seorang pemuda ber-yukata putih kotor yang berdiri di atas segel terbuat dari darah Uchiha. Di sekelilingnya, empat ANBU bersiap pada posisi mata angin, masing-masing menggenggam gulungan segel peninggalan Hokage pertama. Kemudian, di depannya terdapat sebuah drum sebesar dirinya… bersama dengan seorang pemuda.

"Naruto, Sasuke akan melakukan jutsu pemisahan Kyuubi dari tubuhmu," ucap Tsunade yang berdiri beberapa meter dari sisi samping sang Uzumaki, "kukatakan dengan jujur, proses ini akan sangat menyakitkan karena chakra-mu dan chakra Kyuubi memiliki sinkronisasi yang paling dekat dari semua orang yang pernah menjadi wadahnya. Kau akan merasa seperti dikuliti hidup-hidup lalu terbakar," jelasnya. "Apa kau benar-benar siap?"

Naruto mengangguk, "Lakukan saja," balasnya tenang seolah ia tak merasakan ketakutan di dalamnya, berbeda dengan reaksi teman-temannya yang mengeraskan rahang. Ia menatap lurus pada mereka kemudian tersenyum tipis… yang malah semakin membuat semuanya khawatir.

Tsunade mendecak, "Aku ingin mendengar jawabanmu, Naruto! Ini perkara serius!" Sama seperti Sasuke, wanita itu tak suka jika sang Uzumaki membalas seperti orang lain. Ia ingin, paling tidak di saat-saat terakhir, 'bocah' kesayangannya bereaksi seperti biasanya.

"Jangan salah sangka, Bacchan," Naruto berkata lagi sambil menyunggingkan seringai yang semakin terlihat, "Aku adalah orang yang akan menjadi Hokage menggantikanmu! Kubilang lakukan, ya lakukan saja! Aku bukan seorang pengecut yang takut dengan hal kecil seperti itu! Dan aku bukan lelaki yang akan menarik kembali kata-kata yang telah kuucapkan! Aku adalah seorang ninja, dan itulah jalan ninjaku!" tegasnya dengan mata biru yang terlihat membara oleh idealisme miliknya.

Semua terpana. Semua terpukau dengan semangat yang dimiliki pemuda berambut pirang itu. Meskipun dalam kondisi yang genting, Naruto tetap mempertahankan jalan ninjanya. Sungguh seorang shinobi sejati.

"YOOOSSH! BERJUANGLAH, NARUTO-KUN! SEMANGATMU ITU KINI SAMPAI KEPADAKU!" Tiba-tiba Lee berseru sambil mengepalkan kedua tangannya. Matanya yang unik terlihat berapi-api seolah ia telah mendapatkan jiwanya kembali.

"Ga-ganbatte kudasai, Naruto-kun!" Hinata menyahuti Lee dengan segenap keberaniannya. Ia yakin bahwa pemuda yang paling disukainya itu akan baik-baik saja.

"Ikke, Naruto!" Ino pun berseru sementara Chouji di sampingnya mengangguk.

"Ubahlah takdir, Naruto," Neji menggumam pelan sambil menyeringai kecil. Tenten tersenyum menyemangati.

Shino menepuk pundak Kiba yang akhirnya membuka suara. "Kita akan berbuat ulah seperti dulu lagi, Naruto! Awas kalau kau mati!" ancam sang Inuzuka—membuat Naruto nyengir ke arahnya.

"Mendoukusai," Shikamaru mendecak dengan seulas senyum bermain di bibirnya.

Dan Iruka tersenyum haru dari balik pohon tempatnya menyandarkan diri. Semua, teman-teman Naruto menyemangati 'anak'nya. Ia percaya bahwa apapun yang terjadi nantinya, Naruto takkan pernah berubah. Naruto akan tetap dan terus menjadi Naruto. Ia semakin yakin akan hal itu setelah melihat sang ANBU senior tersenyum dari balik topeng hitamnya.

Tsunade pun tersenyum simpul. Ia melirik pemimpin lain yang berdiri di sana. Sabaku Gaara, sang Kazekage. Namun, ia tak mendapatkan respon apa-apa dari sang pemuda dan pengawalnya seakan mereka tak memiliki niatan untuk sekedar berbicara. Wanita berambut pirang kuncir bawah itu akhirnya memutuskan untuk memulai upacaranya.

"Baiklah, kita akan mulai sekarang," Tsunade menginstruksikan para ANBU sebelum menatap sang Uchiha yang semenjak tadi hanya diam, "Sasuke, lakukan!" tegasnya sebelum melompat mundur seraya menciptakan barrier untuk melindungi semua yang menyaksikan.

Pemuda yang mengenakan hakama khas keluarga Uchiha itu mengaktifkan Mangekyou Sharingan tingkat ketiga dan mengeluarkan Susanoo. Setelah pelindung terkuat itu menyelubungi dirinya, ANBU yang berada di empat mata angin membuka gulungan yang mereka genggam. Gulungan itu bergerak menyatu satu sama lain sehingga terbentuklah segi empat dengan Naruto di pusatnya. Sasuke yang berada di luar segi empat memainkan jemarinya sehingga segel yang akan digunakan terlihat di telapak tangannya. Seperti Chidori yang diwarnai merah.

"Naruto," tiba-tiba terdengar Gaara memanggil, membuat Sasuke berhenti sementara dan Naruto melihat ke arahnya. Setelah mendapatkan perhatian sang Uzumaki, Kazekage muda itu melanjutkan,

"Bertahanlah… karena kau harus menepati janjimu,"

Naruto mengangguk pasti. Ia takkan mengingkari ucapan yang pernah ia sampaikan pada sang pemuda. Ia pasti menepatinya.

Dinding merah tercipta dari segel yang diciptakan sang Uchiha, memutus pandangan semua orang dari sang Uzumaki. Tidak ada yang bisa melihat apa yang terjadi dengan Naruto di dalam. Hanya bisa menebak dengan perasaannya masing-masing. Yang bisa mereka saksikan hanyalah Sasuke yang berjalan memasuki ruang merah itu… lalu lenyap.

Sakura yang semenjak tadi berdiam di tenda klinik dan tak mengatakan apa-apa, hanya mengatupkan tangan seraya berdoa. Semoga mereka baik-baik saja…

-.-.-Flashback-.-.-

"Yo, Gaara! Kau sibuk sekali nih!" Naruto menyapa Gaara yang sedang istirahat ketika berkunjung ke Suna menemani Tsunade.

"Tidak sesibuk dirimu yang setiap saat berlatih," balas Gaara sambil tersenyum tipis.

Sang Uzumaki bergerak untuk duduk di sebelah sang Sabaku, "Tapi aku akan segera menjadi sepertimu kok!" tegasnya dengan cengiran lebar.

Gaara tertawa pelan, "Seperti biasa ya, kau terlalu percaya diri," gumamnya.

"Heh! Aku akan menjadi Hokage dan pasti mempererat hubungan dengan desamu! Kau tunggu saja, Kazekage!"

"Tentu, Calon Hokage."

-.-.-End of Flashback-.-.-

"Sasuke,"

Sang Uchiha berjalan mendekati Naruto yang menatapnya lekat. Setelah jarak di antara mereka tinggal sedikit, Naruto perlahan melepaskan obi yang melilit tubuhnya. Sasuke pun maju untuk membantu sang Uzumaki menanggalkan yukata-nya.

"Dulu… juga pernah seperti ini, 'kan?" Naruto menggumam tenang sembari tersenyum. Jemarinya bergerak menjatuhkan obi hitam kemudian beralih untuk menyentuh bahu sang Uchiha. "Bedanya, akulah yang waktu itu membantumu berpakaian," lanjutnya sembari memberi jalan untuk Sasuke melepas perban yang melilit lengannya. Setelah lembaran putih bernoda merah itu bertumpuk di atas obi hitam, gerakan mereka berhenti.

Sapphire bertemu ruby setelah sempat teralihkan. Lekat bagai hendak bersatu apapun caranya. Mengucap pesan akan sesuatu yang masih tersimpan rapat dalam hati. Kata-kata yang sangat ingin dilontarkan namun juga yang paling ingin disembunyikan. Kalimat pengakuan…

Kali ini ganti Sasuke yang menyentuh bahu Naruto. Pemuda itu menekan sedikit bahan yang menutupi warna kecoklatan sang Uzumaki sehingga kain itu ikut bergeser sesuai gerakan tangannya. Pelan bergerak membuka, memperlihatkan kulit pundak yang bebercak merah oleh luka yang tidak lagi disembuhkan Kyuubi. Terus bergerak hingga yukata Naruto terlepas sepenuhnya… membuat pemuda berambut pirang itu tampak polos di depan warna api pemuda lainnya.

"Kau merasa tidak nyaman?" Akhirnya Sasuke membuka mulutnya setelah diam seribu bahasa.

Naruto menggeleng, "Tidak masalah," balasnya singkat, sama sekali tidak merasa malu telanjang di depan sang Uchiha. Pikirnya bukan lagi pada hal remeh seperti itu melainkan penuh pada sang sahabat.

Sasuke tersenyum tipis seraya mengacak helaian pirang Naruto. "Tidak akan lama, Dobe. Aku janji," ujarnya bermaksud menenangkan walaupun ia bukan orang yang pandai melakukannya.

"Aku tahu, teme. Aku percaya padamu!" sahut Naruto sambil nyengir kuda—yang langsung tertutupi oleh sesuatu yang menempel di bibirnya. Dan tak butuh waktu lama untuknya menyadari bahwa sahabat terbaiknya tengah menciumnya untuk yang kedua kali… lumat, berperang dengan hasrat… menumpahkan segalanya sebelum terlambat… sebelum menguap dan lenyap,

… sebelum menghilang.

-.-.-Flashback-.-.-

"Heh! Kau masih hidup rupanya! Kuakui semangatmu, Bocah!"

Naruto terbaring melingkar di dalam penjara dengan napas terengah-engah. Siksaan Kyuubi dari dalam baru saja berhenti, meninggalkannya bersimbah darah dan nyaris mati kalau bukan karena chakra khusus klan Uzumaki.

"Ini… bukan… apa-apa…" lirihnya berusaha bertahan.

Kyuubi tertawa sinis, "Kau melakukan perlawanan yang sia-sia! Apa kau tahu akibat dari keputusan untuk memisahkanku dari tubuhmu, huh? APA KAU TAHU?"

Sang Uzumaki berusaha menutup telinganya yang seperti pecah karena suara Kyuubi yang begitu memekakkan. Ia takkan termakan kata-kata penderitaan yang diucapkan siluman itu.

Namun Kyuubi tetap berjaya. "KAU AKAN MELUPAKAN SEGALANYA! Ingatanmu, kenanganmu, SEMUANYA AKAN MENGHILANG!" lalu tertawa histeris. "KAU AKAN MENJADI BONEKA KOSONG TANPA INGATAN SEDIKITPUN!"

Sebulir airmata mengalir, membasahi sanubari yang terkoyak oleh kepedihan yang merobek jiwa. Sedikitnya, Naruto sudah menyadari hal itu.

-.-.-End of Flashback-.-.-

Kelima jari kiri Sasuke menusuk perut Naruto tepat pada segel yang sempat diperbaharui oleh sang pemuda. Kemudian, ia memutar jari ke arah kanan sampai terbentuk lingkaran hitam yang merupakan pertanda bahwa kunci telah tebuka. Mangekyou yang masih setia di matanya menatap lebar langit di hadapannya sebelum menarik siluman dalam tubuh Naruto keluar.

Ruang merah memanjang hingga menembus langit yang dihiasi bulan penuh. Purnama putih pun perlahan memerah, membentuk kurungan istimewa yang kemudian membungkus Kyuubi lalu memasukkannya secara paksa ke dalam barrel yang telah disiapkan di luar. Keempat ANBU penjaga bergegas menyegel barrel tersebut dengan menempelkan gulungan yang sudah kembali seperti semula. Dan yang tersisa adalah bagian Sasuke.

Sang Uchiha melenyapkan ruang merah dengan segel sebelah tangan yang ia tiru dari Haku dulu. Sebelah tangannya lagi menopang tubuh Naruto yang kehabisan tenaga namun masih sadar. Ia membawa sang Uzumaki yang telah dibungkus kain putih ke tempat Sakura yang sudah bersiap mengalirkan chakra-nya. Setelah itu, Sasuke kembali ke tempat barrel berada untuk menyelesaikan perannya.

"Hei, Siluman," Sasuke menyentuh barrel tersebut pada bagian tutupnya, "kau berada dalam kendaliku," dan ia pun menorehkan tiga tanda koma hitam berpusat pada bagian tersebut, menjadikan Kyuubi sebagai senjata yang tidak lagi berbahaya.

"Penyegelan… selesai."

Malam semakin larut dengan bulan bersinar kemerahan. Angin tak lagi menghembuskan sukmanya, hanya tinggal desiran asa berkumpul mengelilingi cahaya yang meredup oleh luka. Dan semakin padam sinar itu, semakin pedih terasa mengiris jiwa. Tak terpungkiri, hujan turun dari lembah pelangi dan menjadi kubangan hitam di balik lengkungan penuh arti.

Menghilang.

Bulatan cahaya itu telah menghilang.

Namun, tetap menunggu… menunggu untuk kembali dibangkitkan.

Suatu hari nanti.

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

"Sasuke,"

"Hn?"

"Sebenarnya aku penasaran tapi jangan marah ya?"

"Hn."

"Sewaktu kau mengetahui bahwa Itachi merupakan agen ganda, bagaimana perasaanmu?"

"…"

"Aku tahu kau takkan menjawabnya. Lupakan saja!"

"… Kupikir… saat itu duniaku runtuh… Aku sangat membencinya tapi juga…"

"Sulit, begitu? Kau membencinya tapi juga menyayanginya…"

"Hn. Tidak kusangka aku akan membicarakan hal ini denganmu,"

"Baka! Tentu saja kau hanya akan membicarakan ini denganku!"

"Ya ya… Cuma kau yang berani menyinggung topik ini,"

"… Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang?"

"Kau benar-benar berani, Dobe,"

"Humph! Tidak ada satupun yang bisa membuat Uzumaki Naruto-sama takut!"

"Kecuali hantu."

"TEME! Aku cuma ingin tahu perasaanmu sekarang—maksudku, tidak baik kalau kau masih membencinya! Dia 'kan sudah—"

"Aku tahu… Aku tahu…"

"…"

"Mungkin aku sedikit senang… mengetahui bahwa sebenarnya dia tak bersalah…"

"Sasuke…"

"Dan tak pernah melupakanku… Itu sudah cukup."

-.-.-TBC-.-.-

Chapter pendek, Kyou sadar itu, tapi inilah chapter keempat dari Broken Seal of Promise. Chapter depan adalah chapter terakhir. Jadi, tetap tunggu ya~

Mind giving me reviews? As usual, don't waste your time for leaving me flames.

_KIONKITCHEE_