Disclaimer: Naruto © Kishimoto Masashi
Genre: Friendship/Romance
Rating: T
Pairing: Naruto x Sasuke (Bisa SasuNaru maupun NaruSasu)
Warning: Semi-canon, Shonen-Ai, Yaoi hints, OOC, OOC, OOC, typo(s), pengulangan kata. Don't like don't read! Feel free to leave this page if you don't feel easy to read it. I've warned you already.
A/N: Chapter terakhir! Selamat membaca! ^^
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu merasakan hal ini. Maafkan aku.
Aku mencintaimu.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Broken Seal of Promise
© Kionkitchee
Last Promise: Home is You
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Ranting pohon mengetuk-ketukkan jarinya pada salah satu jendela kamar di lantai dua Rumah Sakit Konoha. Seakan meminta masuk, batang kecil nan tipis itu mengalunkan ritme tersendiri hingga akhirnya permohonannya terkabul. Jendela dibuka oleh sepasang lengan yang ditutupi sweater biru tua.
"Udaranya sejuk hari ini! Saya buka saja ya jendelanya?" Iruka memberi saran pada seseorang yang menempati kamar itu. Setelahnya, pria itu kembali duduk di samping ranjang yang berbalut selimut krem pudar. Di atasnya, seorang pria lainnya menatap sang Umino dengan bingung.
"Anda baik-baik saja?" tanya Iruka kemudian.
"U… Umino-san? Kenapa…" lelaki berambut abu-abu pudar itu sepertinya tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
Iruka tersenyum, "Jangan khawatir! Saya sama sekali tidak bermaksud buruk. Hokage-sama meminta saya untuk menyampaikan sesuatu pada Anda, Kabuto-san," balasnya.
Sang pria, Yakushi Kabuto, yang beberapa hari lalu mendapati dirinya dikurung di sebuah ruangan khusus namun sekarang telah berada di rumah sakit, mengerutkan dahi pertanda tidak mengerti. Bukankah seharusnya Tsunade melarang siapapun menemuinya? Kalau seperti ini, anak kecil sekalipun bisa bertatap muka dengannya! Apa ia sudah dianggap tidak berbahaya?
"Tsunade-sama berkata bahwa permintaan Anda akan segera dipenuhi," Iruka mengatakan pesan sang Hokage dengan lugas. Senyum tak lagi bermain di bibirnya.
Kabuto tertegun, "… Benarkah itu? Permintaanku akan dikabulkan?" sangsinya.
Sang Umino mengangguk, "Tidak ada keraguan lagi. Hari ini, Sasuke-kun sendiri yang akan melakukannya, dan saya harap…" kilat di matanya berubah tajam, memandang sang Yakushi dengan tatapan menusuk, "jangan pernah kembali lagi untuk selamanya! Saya tidak peduli apakah Anda bertemu dengan orang itu atau tidak sama sekali, yang jelas, jangan pernah kembali ke dunia ini apapun caranya!" ancamnya.
Sejenak terdiam karena tak menyangka Iruka akan mengatakan hal seperti itu, Kabuto kemudian mengangguk. Selama permintaannya terpenuhi, ia takkan membuat ulah lagi.
-.-.-Flashback-.-.-
"Katakan, apa tujuanmu sebenarnya!" Ibiki menginterogasi Kabuto. Di sampingnya, Tsunade memperhatikan sembari menganalisa.
"… Aku ingin mati," Kabuto menjawab lemah setelah penyiksaan yang dirasakannya, "aku ingin menghilangkan nyawa abadi ini…" jelasnya.
Pria besar dengan beratus luka di tubuhnya menjambak helaian abu-abu sang tahanan, "Apa rencanamu di balik ini semua?" tanyanya lagi seolah tak mengindahkan alasan pertama yang dilontarkan sang Yakushi.
Lagi-lagi, jawaban yang sama terlontar dari mantan bawahan Orochimaru itu.
"Kenapa Kau yang sudah menguasai jutsu terlarang itu sekarang malah ingin mengakhiri diri sendiri?" Kali ini ganti Tsunade yang bertanya.
Kabuto menatap sang Hokage sejenak sebelum membalas, "Jawabanku akan sama dengan apa yang sering dilontarkan Naruto-kun mengenai Sasuke-kun…"
Ibiki dan Tsunade sempat bingung, namun, sang Hokage dengan cepat mengetahui maksudnya. Wanita itu hanya mendecak kesal sebelum berbalik dan keluar dari tempat interogasi.
'Tanpamu, aku takkan mampu bertahan lebih lama, Orochimaru-sama…'
-.-.-End of Flashback-.-.-
"Terima kasih sudah menyempatkan diri datang, Kazekage-sama, Temari-san, Kankurou-san," ucap Sakura pada Gaara. Ia berinisiatif sendiri untuk mengantar Sand Siblings hingga ke pintu gerbang Konoha.
"Bukan masalah, Sakura," balas Temari, "Konoha adalah teman kami," tambahnya dengan senyum.
Kankurou menyeringai, "Yah, Suna sedang tidak sibuk juga sih," lanjutnya, membuat Sakura tertawa kecil.
"Setidaknya, kalian mempunyai waktu untuk beristirahat," gumam Haruno.
Gaara menghela napas panjang, "Sama sekali tidak. Kalau terus kepikiran tentang Naruto, rasanya waktu istirahat sama sekali tidak berguna," ucapnya. "Orang yang merepotkan…"
Temari nyengir geli sementara Kankurou mendecak, "Kau terdengar seperti lelaki Nara itu, Gaara!" Yang bersangkutan hanya mendelik tajam.
Sakura tersenyum sendu sambil tetap menatap Gaara. "Kau… benar-benar menyayanginya ya, Gaara," ucapnya, kini tanpa menyebutkan gelar yang disandang pemuda berambut merah itu. Ia bahagia mengetahui ada yang menyayangi dan mengkhawatirkan Naruto karena itu berarti sang Uzumaki tidak sendirian jika berada di luar sana. Meskipun sang Sabaku pernah berada dalam kondisi Jinchuuriki, mereka tidak saling membenci. Mereka… saling mengerti. Dan Sakura bersyukur akan hal itu.
"Kami akan datang lagi," Gaara berbicara dengan penuh keyakinan. Di kedua sisinya, Temari dan Kankurou mengangguk mengiyakan.
"Tentu! Pintu Konoha akan selalu terbuka untuk kalian!" seru Sakura. Dan dengan satu senyuman terakhir, Sabaku bersaudara pun meninggalkan desa.
"Mereka sudah pulang ya?" Tiba-tiba Shikamaru muncul di samping sang Haruno yang sama sekali tidak terkejut dengan kedatangannya.
"Tapi mereka akan segera ke sini lagi," sahut Sakura, "hingga saat itu tiba, kita harus berusaha agar tak ada yang berubah di Konoha!" jelasnya dengan mata penuh keyakinan.
Shikamaru menatapnya sekilas sebelum menghela napas, "Ya, Kau benar… Yang penting sekarang, Kau harus istirahat. Dari tadi kau sibuk dengan pasien, 'kan?"
Gadis berambut merah muda itu menggeleng pelan sambil tersenyum, "Tidak apa. Yang butuh istirahat bukan aku…" ia tak melanjutkan kalimatnya, namun, Shikamaru mengerti.
"Yah… merepotkan…"
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Melihat fajar menyingsing secara langsung di hari berikut bagai menyaksikan kilau berlian yang berpendar begitu indahnya. Pantulan yang dihasilkan mampu membuat langit biru kosong tampak hidup dan lebih berarti. Terasa nyaman dan menentramkan pun bersahabat, seakan mengajak jiwa-jiwa bermain bersamanya… seakan mengundang ke dalam ilusi abadi yang tak bisa ditolak. Itulah yang menjadi pusat perhatian seorang pemuda yang baru bangun dari mimpinya.
"Naruto? Kau sudah bangun?" Pintu ruangan sang pemuda terbuka, memperlihatkan sosok Iruka yang berwajah kaget lalu perlahan menjadi tenang dengan senyum merekah. Pria itu berjalan memasuki ruangan sambil membawa selimut tambahan untuk sang pemuda. "Pagi ini rasanya dingin sekali, kupikir mungkin kau akan kedinginan," ucapnya dengan bibir bergetar—entah karena dingin atau hal lain.
Sang pemuda menatap pria itu sambil bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan dirinya, apa yang dilakukannya di tempat ini—bahkan tempat apa ini? Kenapa orang itu menyapanya dengan hangat seolah telah mengenalnya dengan baik? Apa yang terjadi, dan mengapa ia tak bisa mengingat semuanya? Segala pertanyaan muncul dalam benaknya yang ingin langsung ia tanyakan. Namun, suasana pagi yang indah dan tenang membuatnya mengurungkan hal itu. Rasa dingin yang dikatakan sang pria pun sama sekali tidak berpengaruh padanya karena yang ia rasakan hanyalah hangat yang berpendar di sekelilingnya… seakan ia baru saja terlepas dari kutukan berkepanjangan yang selama ini membelenggu hidupnya.
Pemuda itu memutuskan untuk tersenyum kecil, "Karena Anda yang lebih tampak kedinginan, Anda saja yang memakai selimut itu. Saya tidak apa-apa kok," ujarnya lembut. Tiada kekakuan dari nadanya meski kata-kata yang terlontar adalah kalimat formal yang jarang terdengar darinya dulu.
Iruka tertegun. Ia memang sudah memprediksi akan seperti ini jadinya, di mana Naruto tidak mengenali dirinya—bahkan pribadinya, tapi kata-kata itu… kalimat yang mengungkapkan bahwa dirinya tidak apa-apa dan lebih mencemaskan orang lain membuatnya—
"Wah, Naruto sudah sadar ya?" Suara lain terdengar dalam ruangan tersebut seiring deritan pintu yang dibuka. "Dan seperti biasa, Iruka-sensei selalu menjadi yang pertama datang," tambah sang pemilik suara yang ternyata adalah Kakashi.
Pemuda yang tadi dipanggil Naruto oleh Iruka kini menatap pria bermasker hitam dengan lebih heran lagi. Apa tidak pengap bicara dengan masker di sekeliling hidung dan mulutnya? Atau justru malah terasa aneh kalau maskernya dilepas? Ia hanya bisa bertanya-tanya. Dan ketika pikirannya masih berkutat dengan perihal masker, telinganya mendengar suara sedu yang nyaris luput. Pemuda itu mendapati pria pertama menekap mulutnya seolah menahan tangis yang akan keluar.
"Ah, maaf! Karena kedinginan, saya sampai mengeluarkan airmata!" Iruka berkelit meskipun dengan alasan yang kurang masuk akal. Kakashi pun merangkulnya sambil mengelus pundaknya.
"Iruka-sensei mandi pagi-pagi buta sih, makanya kedinginan," katanya mencoba membuat alasan yang cocok dengan alasan pertama.
"Kalau begitu, selimutnya dipakai saja, eh, Iruka-sensei?" ucap Naruto sambil menunjuk barang yang diletakkan di sofa oleh pria pertama. Ia pun menambahkan nama sang pria yang didengarnya dua kali dari pria bermasker. Dan tindakan itu justru membuat Iruka semakin ingin menangis tapi berhasil ditahannya mati-matian.
Kakashi menatap lembut sang Umino. Ia mengerti apa yang dirasakan pria itu karena ia juga merasakan hal yang sama. Tak ingin dilupakan dan tak ingin Naruto melupakan segalanya. Namun, ia lega karena pemuda Uzumaki itu siuman dalam keadaan yang sehat. Itulah yang terpenting.
"Bagaimana perasaanmu, Naruto?" tanya Kakashi mencoba memulai pembicaraan. Ia mendudukkan Iruka ke bangku single tepat di sebelah ranjang sang Uzumaki sementara dirinya berdiri di samping mereka.
Pemuda berambut pirang yang merasa bernama Naruto itu kembali menatap jendela yang memuat perjalanan matahari ke atas langit. Sejenak, ia tak mengindahkan pertanyaan pria bermasker itu dan hanya memperhatikan panorama yang jauh lebih menarik di sana. Segala tanda tanya lepas dari pikirannya untuk sementara sebelum kembali menjadi fokusnya.
"Rasanya aneh tapi lega," ucapnya pelan, "aneh karena saya tidak bisa mengingat apa yang terjadi—bahkan siapa saya ini, tapi juga lega karena hangat… semua yang ada di sekitar terasa hangat…" Naruto menoleh untuk kembali menatap kedua pria itu,
"Tolong jelaskan apa yang terjadi," pintanya.
Seperti mendapatkan bongkahan batu yang dilempar keras menuju sasaran, Kakashi dan Iruka merasa warna sapphire yang mereka lihat menunjukkan pancaran keinginan yang sangat kuat… dan sama sekali tidak berubah dari yang dulu.
Mata penuh keteguhan hati yang selalu membangkitkan semangat pantang menyerah.
"Tentu saja, Naruto,"
Maka dimulailah perjalanan Naruto dari nol di mana ia baru mengetahui identitas dirinya, keluarganya, status dan pekerjaannya, teman-temannya, guru dan masyarakat. Satu per satu datang padanya untuk kembali memperkenalkan diri atau sekedar menyapa dan mengajaknya bicara. Semua yang datang mengerti keadaannya dengan baik sehingga ia merasa sangat bersyukur. Rasanya tak apa jika bisa terus begini.
Namun, di tengah-tengah itu, Naruto merasa ada yang kurang. Ada yang tidak pas dengan apa yang dijalaninya. Seperti ada sesuatu yang menghilang… seseorang yang kerap muncul dalam mimpinya saat ia tertidur.
"Naruto, setelah mengetahui sistem di sini, apa kau akan melanjutkan di jalan ninja?" tanya Tenten ketika tim Gai datang ke apartemen Naruto—yang berkata ingin pulang ke rumah agar lebih mudah mengingat.
Naruto mengangguk, "Setelah ada persetujuan dari Hokage-sama, aku akan kembali menjalankan misi—yah, meskipun kata beliau hanya misi tingkat C ke bawah dulu," jawabnya.
"YOOOSH! GANBATTE, NARUTO-KUN!" Lee berseru. "Kalau ada masalah yang ingin kau tanyakan, silakan datang pada kami! Iya 'kan, Gai-sensei?"
Pria berambut seperti mangkuk di depan pemuda yang berambut sama menunjukkan deretan giginya yang berkilau, "BAGUS, LEE!" Tak lupa pose nice guy pun dilakukan. Naruto yang menyaksikan itu tak henti-hentinya nyengir—entah karena lucu atau apa.
Neji yang daritadi masih diam menatap sang Uzumaki lekat sebelum bertanya, "Kau sudah bertemu dengannya?" Dan pertanyaan itu membuat suasana menjadi hening.
"Siapa?" tanya Naruto balik. Sebelum mendengar jawaban sang Hyuuga, Naruto mendapati Tenten menyikut Neji seolah itu bukan hal yang tepat untuk dibicarakan. "Neji," sang Uzumaki meminta penjelasan lebih lanjut dari pemuda berambut panjang itu.
"Sepertinya memang harus dia sendiri yang datang ya," Hanya itu yang Neji katakan sebelum berdiri dan beranjak keluar, diikuti Tenten setelah gadis itu melambai pamit pada Naruto.
"Naruto, kami permisi dulu!" Gai pun pamit, "Ayo, Lee!"
"Yosh! Semoga kau cepat kembali menjalankan misi, Naruto-kun!" Dan bersama dengan gurunya, mereka meninggalkan sang Uzumaki dalam pertanyaan besar yang tak terjawab.
Siapa 'dia' itu?
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"Dia? Maksudnya?" bingung Sakura ketika ditanya Naruto sewaktu gadis itu datang ke apartemennya.
"Neji tidak bilang secara detail jadi aku tidak tahu apa maksudnya," kata Naruto, "dan sewaktu tim Asuma datang, Shikamaru juga menyebutkan dia tanpa nama. Lalu sewaktu tim Kurenai-sensei datang juga sama; ANBU yang bernama Sai itu juga—bahkan sepertinya Kakashi-sensei dan Iruka-sensei juga tahu! Aku jadi penasaran!" gusarnya.
Tatapan sang Haruno melembut sebelum menutup. Gadis itu tahu siapa yang dimaksud mereka, dan seharusnya 'dia' itu disebutkan sewaktu memperkenalkan anggota tim tujuh/Kakashi. Namun, atas permintaan yang bersangkutan, mereka belum ada yang menyebutnya secara langsung. 'Dia' ingin dirinya sendiri yang datang menghadap sang Uzumaki setelah tiba waktu yang tepat.
"Kau tahu 'kan, Sakura? Kau tahu siapa 'dia' itu?" Naruto mulai mendesak karena ia sungguh ingin tahu. Rasanya itulah yang selama ini kurang dari hidupnya. Keberadaan seseorang yang seharusnya dekat dengannya… sangat dekat sehingga tak bisa dipisahkan.
Sakura menggeleng, "Aku tahu, Naruto, tapi selama orang itu tak ingin aku memberitahumu, lebih baik kau menunggunya untuk memberitahumu. Aku yakin, waktu itu tak akan lama lagi…" ujarnya.
Sebenarnya Naruto ingin protes tapi ia urungkan. Ia ingin mencoba mengingat dulu dengan memorinya yang masih sedikit. Mungkin setelah ia mengingat sebagian kecil dari orang itu, ia akan mendapatkan jawabannya.
"Daripada pusing sendiri, bagaimana kalau kita jalan-jalan, Naruto?" ajak Sakura. "Kau pasti rindu dengan Ichiraku Ramen, 'kan?"
_Ichiraku Ramen_
"ENAAK!" Naruto berseru sambil melahap ramen-nya porsi kelima. "Kalau lezat begini, harusnya aku tidak lupa!"
Teuchi tersenyum puas karena senang mendapatkan pelanggan setianya kembali. "Perayaan datang ke tempatku, bonus ramen dua mangkuk!" serunya, membuat Naruto bersorak riang. Ayame dan Sakura hanya tertawa kecil melihatnya.
'Temeee, aku sudah berbaik hati ingin menraktirmu ke Ichiraku, kau malah asal pergi saja! Sia-sia 'kan niat muliaku ini!'
"Eh?" tiba-tiba Naruto merasa ada sesuatu yang melintas sekilas dalam pikirannya.
'Daripada kau menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak berguna, lebih baik kau membuatkanku Chirashizushi.'
Lagi. Naruto bagai diingatkan akan sesuatu… masa lalu yang mati-matian tak ingin dilupakannya. Masa lalu dengan sosok seorang pemuda sebayanya yang begitu familiar.
'Kau membawakanku ramen?'
Sepertinya baru-baru ini ia menanyakan itu pada sosok sang pemuda. Tapi semua tampak kabur. Mungkinkah hanya mimpi semata?
'Setelah keluar dari sini, aku akan menraktirmu,'
Dari sini? Dari sini itu maksudnya dari mana? Ah! Naruto merasa kepalanya berputar dengan cepat. Jemarinya yang memegang sumpit pun melemas sehingga mie kembali terjatuh ke dalam mangkuk.
"Naruto? Kau baik-baik saja?" cemas Sakura melihat perubahan kondisi sang Uzumaki. Apa seharusnya ia tak mengajak pemuda itu jalan-jalan dulu?
"Apa ramen-nya tidak enak?" Teuchi merasa bersalah.
"Bukan be—" Dan Naruto langsung terjatuh tak sadarkan diri. Ia tak tahu betapa syok ketiga orang yang berada di sana.
-.-.-Suatu keadaan di alam mimpi-.-.-
"Hei," seorang pemuda berambut pirang menyapa seseorang yang baru tiba di tempat hijau lapang favorit mereka.
"Hei," balas pemuda kedua, sedikit mengherankan pemuda pertama karena ia tak mendengar respon 'hn' seperti biasanya.
"Kupikir kau tidak ingat," pemuda pertama berbaring di atas rumput hijau yang senada dengan seragam Jounin yang dikenakannya dan pemuda satunya.
Pemuda kedua menyisir rambut raven-nya yang berantakan terhembus angin sebelum menghela napas, "Walaupun tidak ingat, aku memang ingin ke sini," ia pun duduk di sebelah pemuda pertama.
"Momen kesendirian maksudmu? Tipikal," tebak pemuda pertama yang mata sebiru langit miliknya melirik sang rekan. Hening sejenak sebelum ia menambahkan, "Aku juga…" dan kembali pada kesunyian yang terasa nyaman. Hanya angin yang berhembus, menggoyangkan rerumputan dan menenangkan segala ketidakselarasan dalam hati para pemuda. Ramah, seakan tersenyum dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Seperti seorang ibu yang memberi kasih sayangnya pada anak-anak… pada mereka yang terbiasa seorang diri.
Kedua pemuda itu memejamkan mata, menikmati setiap sentuhan yang dibawa alam untuk menemani mereka. Hanya berdua, tanpa bayang-bayang gelap masa lalu dan pandangan tak mengenakkan dari orang lain. Hanya berdua…
"Aku bersyukur misi itu berjalan lancar. Terbukti 'kan kalau aku bukan beban?" Pemuda pertama menyeringai ketika mengatakannya, "dan aku juga bersyukur karena kau, Sakura, dan Kakashi-sensei baik-baik saja," tambahnya, berharap ada tanggapan dari pemuda yang duduk di sebelahnya. Namun, harapannya kosong karena sang pemuda diam saja.
"Sa—"
"Ak—kami memang baik-baik saja…" pemuda berambut raven memotong perkataan pemuda berambut pirang, "tapi kau…" tak sanggup meneruskan kalimatnya, ia berhenti.
Pemilik langit biru mengerutkan dahi, "Aku? Kenapa denganku?" bingungnya.
Pemuda berambut raven kini menatap penuh si pirang, memperlihatkan warna malam penuh luka.
"Kau… melupakanku…"
Dan tiba-tiba, mereka berada di suatu tempat yang berbeda dari padang rumput desa Konoha. Sebuah tempat serba putih dengan dinding berwarna merah, tanpa satu pun benda di dalamnya kecuali mereka.
"Kyuubi berhasil kukendalikan. Siluman itu tak lagi berdiam dalam tubuhmu," pemuda raven berkata.
"Kyuubi?" pemuda pirang bertanya. Ia tak ingat—bahkan tak tahu siluman apa Kyuubi itu. Ia menyaksikan bagaimana warna malam pemuda di depannya berubah warna menjadi merah. Cantik. Warna yang sangat indah… mengingatkannya akan sesuatu.
'Kalau saja warna rambutku sepertimu, pasti aku terlihat tampan! Warna merahnya indah sekali!'
'Ufufu~ Kau orang kedua yang bilang bahwa rambut merahku ini indah ttebane!'
Ya. Dulu ia pernah mengalami percakapan itu dengan seseorang. Seorang wanita berambut merah yang sangat cantik dan paling dirindukannya.
'Aku adalah pemilik Kyuubi sebelumnya. Akan kuceritakan bagaimana Kyuubi diturunkan dalam Klan Uzumaki.'
Uzumaki, itu marganya. Dan nama kecilnya…
Naruto. Uzumaki Naruto.
Ya. Itu namanya. Uzumaki Naruto sang pemilik Kyuubi. Selama 17 tahun, Kyuubi berdiam dalam tubuhnya sebagai tahanan. Segel yang mengurungnya adalah segel Hokage keempat dan chakra Kushina… kedua orangtuanya.
Kenapa ini? Kenapa ia bisa lupa? Kenapa ia harus diingatkan akan dirinya sendiri?
"Aku menunggu," Pemuda raven di hadapannya berkata lagi, "aku menunggumu, Naruto…"
Pemuda pirang yang dipanggil Naruto itu menatap lekat sang pemuda sambil berpikir. Ia tak mengenalnya… ia tak mengenal pemuda itu. Padahal sewaktu di padang rumput, ia begitu akrab dengannya seakan mereka adalah sahabat lama. Tapi sungguhpun merasa kenal dan sangat dekat, ia bahkan tak tahu nama pemuda itu.
Siapa? Apa ia memang mengenalnya?
"Aku masih lemah… aku tak mampu melindungimu dari siluman itu… bahkan, aku tak mampu bertatap muka denganmu karena…"
Mengapa ia tak bisa mengingatnya?
"… karena takut… Aku takut bertemu denganmu yang melupakanku…"
Kesal, sedih, amarah… kasih sayang… semua bercampur menjadi satu. Ia mengenal pemuda itu!
"Tertawalah karena kau melihatku seperti ini—tapi…"
Hujan turun dari kedua langit yang saling bertautan. Tak bisa berhenti, tak dapat dihentikan… mengalir… membasahi permukan bumi yang berbeda warna.
"Jangan lupakan aku, Naruto…"
Dan seperti membelah bumi, ledakan suara menggaung dalam resonansi sekitar.
"Aku mencintaimu,"
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
"… Sasuke,"
Lirihan itu mengejutkan seseorang yang berada di samping ranjang sang Uzumaki. Tangan putihnya yang tengah mengelus helaian pirang sang pemuda berhenti, menganggap bahwa hal itulah yang membangunkannya. Ia pun menarik tangannya lalu bergegas pergi. Namun, belum sempat ia beranjak dari sisi sang pemuda, jemari kecoklatan menahan lengannya.
"Aku takkan tertawa…" Naruto berkata pelan pada sang pemuda, "wajar saja kalau Kau merasa takut…" lirihnya lagi.
Sang pemuda, Uchiha Sasuke, yang memang menggunakan Sharingan-nya untuk berbicara dengan Naruto di alam bawah sadar, tertegun.
"Aku juga, kalau Kau melupakanku, mungkin bukan hanya takut… aku bisa gila…" ucap Naruto lagi, kali ini menambahkan seulas senyum di bibirnya, "aku bisa gila lalu mati… sebesar itulah perasaanku padamu…"
Mendengar itu, Sasuke tak bisa menahan diri lagi. Ia raih tubuh sang Uzumaki lalu mendekapnya erat, menumpahkan segala perasaan yang tertahan dan membuncah dalam hatinya. Ia merasa marah pada dirinya yang tak bisa berada di samping Naruto karena rasa takut yang memalukan. Ia merasa marah pada dirinya yang tak bisa menolong Naruto yang berjuang mengingat semuanya. Ia merasa marah pada dirinya karena bukan ia yang ada di sisi Naruto.
Kesal… ingin rasanya ia membanting dirinya sendiri…
"Maaf ya, Sasuke… Aku takkan melupakanmu lagi…" Dan Naruto tak butuh kata-kata dari sang Uchiha. Ia tak butuh kata-kata untuk meyakinkan bahwa Sasuke memaafkannya, karena sentuhan hangat pada bibirnya sudah cukup untuk membuktikan bahwa pemuda itu pun merasakan hal yang sama.
Aishiteru…
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
Pertama kali melihatmu, aku langsung ingin bercakap-cakap denganmu. Tapi karena kau begitu disukai anak perempuan dan jauh lebih hebat dariku, aku mulai menganggapmu rival. Aku seenaknya menjadikanmu target dalam hidupku. Kupikir, jika aku bisa lebih hebat darimu, maka kau akan melihatku. Dan entah kapan, aku merasa bahwa kau bukan hanya sekedar rival. Kau sudah menjadi temanku—bahkan aku menganggapmu sebagai saudaraku.
Dirimu menjadi seseorang yang tak tergantikan.
Di saat aku hampir mengejarmu, kau lari lebih cepat, kali ini tanpa menungguku.
Kau meninggalkanku. Dan aku terpuruk mendapatinya. Kupikir, itulah saat-saat di mana aku merasa mati. Itulah saat-saat di mana aku merasa hidup tak lagi menyenangkan. Itulah saat-saat aku mengutuki diriku.
Aku ingin kau kembali. Aku ingin kau kembali ke sisiku. Akan kulakukan apa saja agar kau kembali ke sisiku. Berlatih keras melebihi porsi manusia normal, semua demi mengembalikanmu ke sisiku.
Entah kapan, aku mengerti bahwa keadaan akan menjadi seperti ini. Entah bagaimana, aku menyadari bahwa hanya dirimulah yang kumiliki. Hanya dirimu…
Dan kini, aku mendapatkanmu kembali. Kau pun mendapatkanku. Kita… sekarang adalah kita.
Takkan terpisah lagi oleh apapun yang melanda. Takkan terpisah lagi oleh apapun yang menyiksa.
Kita akan selalu bersama. Selamanya.
-.-.-END-.-.-
-.-.-OMAKE-.-.-
Dua orang berjalan dengan gagahnya melewati kerumunan masyarakat yang menatap mereka dengan kagum dan penuh hormat. Sesekali satu-dua di antara mereka menyapa kedua orang tersebut yang dibalas dengan anggukan dan senyuman. Dan mereka kembali berjalan menuju tempat favorit yang sama sekali tidak berubah.
"Ah~ udara di sini memang menyenangkan!"
"Hn."
"Reaksi lain, bisa?"
"Hn."
Pria berambut pirang menghela napas mendengar tanggapan itu. Sebenarnya ia bisa membalas tanggapan itu tapi ia memilih untuk diam karena diam itu emas—yah, seiring waktu berjalan, orang memang bisa berubah, apalagi jika sumber perubahan tersebut selalu ada di sampingmu… seperti dirinya.
"Kazekage akan datang besok, kuharap persiapanmu sudah lancar, ANBU-san,"
"… Tentu, Hokage-sama,"
Dan angin kembali berhembus lalu meninggalkan keheningan di antara kedua pria tersebut. Kesunyian yang sudah menjadi santapan sehari-hari… menenangkan di antara dua hati yang saling mengasihi… saling memiliki…
"Hei," sang Hokage memanggil sang ketua ANBU, "buka topengmu…" warna langit cerah yang dimilikinya menatap lekat wajah sang ANBU yang ditutupi topeng bercorak serigala. Jemari kecoklatannya perlahan terangkat untuk melepas benda yang menghalangi dirinya menatap warna malam sang pria. Setelah terlepas sepenuhnya, ia tersenyum.
"Rasanya sudah lama aku tak melihat wajahmu, Sasuke…"
Sang ketua ANBU, Uchiha Sasuke, balas menatap lekat Hokage-nya. Meskipun tanpa senyum, ia tahu bahwa pria di hadapannya mengerti siratan yang bermain dalam bola matanya. Sama… apa yang terpantul di bola mata lawannya adalah sama… dan pantulan tersebut saling mendekat hingga perlahan bersembunyi di balik tirai masing-masing… merasakan kelembutan yang berpendar dari sebuah kecupan hangat sore itu.
Tempat penuh kenangan yang tak terlupakan, menghapus kenihilan yang terjadi di antara dua insan. Di saat keputusasaan bertahta, dengan segera harapan melenyapkannya. Di saat kesedihan menguasai, kebahagiaan sigap menghapuskannya. Dan di saat seluruh dunia memusuhi, seseorang akan menemani dengan pasti. Kenangan… takkan pernah tergantikan… begitupun tempat untuk pulang.
Siapapun yang sudah menemukannya, berbahagialah… karena janji yang tersembunyi di dalamnya takkan pernah bisa dihancurkan sehebat apapun badai menerjang. Seperti kedua pria itu yang akhirnya menemukan satu sama lain setelah lama berperang dengan dunia.
Menemukan rumah untuk kembali… tempat bernaung setelah sepi yang begitu lama…
"Kita pulang?"
"Hn."
"Selain 'hn', gimana?"
"… Dobe."
"Ckk, Teme!"
Home is You.
-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-
If we live out our lives without forgetting each other, that'll be enough.
Don't forget that I'm here for as long as you live.
(Quote from Guiding Light_NaruSasu © 10-Rankai)
-.-.-END-.-.-
Baiklah, inilah akhir dari Broken Seal of Promise. Maaf jadinya malah mengecewakan karena akhirnya begini dan ceritanya nggak Kyou panjangin. Tapi inilah yang paling sesuai menurut Kyou. Semoga berkenan ya. ^^
Terima kasih kepada semua yang telah membaca dan me-review fanfic ini. Semoga Kyou bisa membuat fanfic lainnya dan para pembaca bisa terpuaskan.
Salam.
_KIONKITCHEE_
So, review? As usual, don't waste your time for leaving me flames.
