Regretful
Ooc, Gs, Typo(s), tidak sesuai EYD dll.
Main Cast : KaiSoo (Kim Jongin dan Do Kyungsoo aka Kai dan D.O)
Other Cast : Sehun, Luhan, Junmyeon, Chanyeol dan Baekhyun
Rated: T but actually it's M (not for bed scene but for mature conflict)
This is Kaisoo's Story
Chapter 4
.
Us
.
Kepergianmu bagaikan sebuah cambuk yang membuatku sadar kalau aku tidak akan pernah bisa hidup tanpamu.
.
"Maaf, seharunya bukan aku yang mengantarkannya." Ucap Baekhyun sambil menyerahkan berkas dari dalam tasnya pada Jongin.
Mereka berempat tengah duduk di ruang tamu dengan Baekhyun dan Chanyeol bersebelahan sedangkan Jongin dan Kyungsoo duduk di sofa yang berbeda. Suasana canggung sempat terasa tatkala Jongin menerima berkas yang di berikan Baekhyun.
"Kyungsoo-sii." Ucap Baekhyun dengan suara gemetar. Chanyeol menatap istrinya yang terlihat gememtar. "Aku minta maaf soal kejadian masa lalu. A-aku…"
"Tidak apa – apa." Sela Kyungsoo sambil tersenyum dan menatap langsung pada Baekhyun. "Itu hanya masa lalu. Aku sudah memaafkanmu dari jauh – jauh hari, Baekhyun." Lanjutnya masih dengan nada suara yang lembut.
Baekhyun menatap Chanyeol dengan mata berkaca – kaca. Wanita itu masih sangat merasa bersalah dengan apa yang di lakukannya dulu, dia merasa kalau dia lah penyebab mengapa Kyungsoo dan Jongin berpisah.
"Tidak apa – apa sungguh." Ucap Kyungsoo. "Itu hanya masa lalu. Lagi pula Chanyeol sudah menjelaskan semuanya." Lanjut Kyungsoo sambil memperlihatkan sebuah senyuman ramah.
Karena sejujurnya Kyungsoo memang sudah memaafkan Baekhyun dari jauh – jauh hari, entah kenapa dia bisa dengan mudah memaafkan Baekhyun seperti apa yang Chanyeol lakukan, tapi tidak dengan Jongin.
"Dari awal ini semua salahku. Aku yang memulainya, aku-"
"Berhentilah." Potong Chanyeol. "Kita di sini tidak untuk membahas masa lalu, lagi pula seperti apa yang Kyungsoo katakan itu hanya masa lalu." Lanjut pria itu membuat Jongin kembali menutup mulutnya.
Masa lalu. Ya, Kyungsoo memang sudah memutuskan kalau itu hanya sebuah masa lalu, masa lalu yang bukan untuk dikenang, masa lalu yang coba untuk di lupakannya.
Kyungsoo menatap Jongin dan Chanyeol bergantian, mungkin karena masalah ini mereka bukan lagi sahabat baik seperti dulu, tapi jika dilihat Kyungsoo bisa tau kalau Chanyeol masih menyimpan rasa prihatin dan peduli pada sahabatnya itu. Dan saat matanya tertuju pada Baekhyun, wanita itu tidak melihat lagu sorot mata sama yang pernah dilihatnya dulu saat Baekhyun berduaan bersama Jongin di café, bergitu pula dengan Jongin. Kyungsoo yakin sudah tidak ada hubungan spesial apapun di antara mereka, dan Kyungsoo hanya bisa berharap kejadian seperti dulu tidak akan pernah terulang lagi.
~Us~
Chanyeol dan Baekyun baru saja pergi meninggalkan Jongin dan Kyungsoo berdua di lantai bawah. Kyungsoo menatap ke lantai atas, dia mulai khawatir pada Sora yang sedari tadi tidak memanggilnya.
"Kau mau kita pergi ke atas?" Tanya Jongin yang melihat tingkah laku Kyungsoo. Wanita itu mengangguk sebagai jawaban.
Saat mereka melewati laci tempat foto – foto itu, Jongin berhenti berjalan membuat Kyungsoo menahan nafasnya. Pria itu menatap foto itu dan dirinya bergantian, sebelum akhirnya dia mengulurkan tangan dan mengangkat foto itu.
Tentu saja, tentu saja itu adalah foto mereka berdua yang di ambil saat pesta pernikahan, di sana juga ada ke tiga sahabat mereka, Luhan, Sehun dan Chanyeol.
"Aku merindukan semua orang yang ada di foto ini." gumam Jongin tanpa melepaskan pandangannya dari pigura berwarna coklat tua itu. Kyungsoo tidak bisa berkomentar apapun karena entah kenapa lidahnya terasa sangat kelu.
"Tapi semua ini hanya masa lalu bukan?" Tanya Jongin yang akhrinya menatap Kyungsoo. Untuk sesaat mata mereka bertemu. Kyungsoo seakan – akan terperangkap dalam bola mata Jongin yang entah kenapa selalu bisa menjerumuskannya ke dalam sebuah labirin yang membingungkan. "Kita semua hanya sebuah masa lalu, iya kan Kyungsoo?"
Kyungsoo tidak bisa menjawab, suaranya entah kenapa terasa tercekat di tenggorokannya. Namun sekalan – akan tau kalau dia tidak akan menjawab Jongin kembali mengalihkan pandangannya.
"Tapi setidaknya aku harus bersyukur karena memiliki masa lalu yang menyenangkan." Ucapnya sambil kembali menaruh foto itu tapi kali ini Jongin tidak membalikan foto itu membuat Kyungsoo terkesiap.
"Apa kau bisa-maksudku aku tidak mau…"
"Sora. Aku mengerti." Sela Jongin memtong ucapan Kyungsoo yang tergagap – gagap. Kyungsoo mengangguk pelan dan menghembuskan nafas, wanita itu tidak sadar kalau sedari tadi dia sedang menahan nafasnya.
Jongin akhirnya membawa mereka ke lantai dua, saat beberapa pijakan lagi. Pikiran Kyungsoo langsung teringat pada sebuah foto besar yang di simpan di ruang tengah. Foto dirinya dan Jongin saat mengucapkan janji suci didepan altar.
"Tidak," Ucap Jongin seakan – akan bisa membaca apa yang ada di pikiran Kyungsoo. "Aku sudah memindahkannya. Aku tau, cepat lambat Sora akan memintamu datang ke sini jadi untuk mengantisipasi, aku menurunkan foto itu, walau sebenarnya sulit sekali untukku melakukannya." Lanjut Jongin kembali berjalan mendahului Kyungsoo.
Wanita itu menatap Jongin dari belakang dan mencoba untuk tidak berkomentar apapun. Kyungsoo melihat Jongin berjalan menuju sebuah kamar.
Tunggu, bukankah itu…
Itu adalah kamar yang dulunya mereka rencanakan untuk kamar tidur anak mereka, dulu dia selalu menghabiskan waktu berdiam diri di sana. Jongin berdiri di hadapan pintu itu, tapi sebelum tangannya membuka knop pintu, dia tersenyum dengan penuh makna pada Kyungsoo…
Oh dear
Dari tempat Kyungsoo berdiri, bisa di lihat kalau kamar yang tadinya bercatkan putih itu sudah berubah warna menjadi biru-warna kesukaan Sora juga dirinya- dan dia juga bisa melihat kalau ada beberapa perabotan di sana.
Kyungsoo harus menutup mulutnya dengan tangan saat melihat isi kamar itu. Ruangan ini di ubah menjadi serba biru dan sebuah tokoh animasi menjadi gambar paling dominan di kamar ini, Pororo. Sora memang menyukai film kartun satu ini sama halnya dengan Kyungsoo.
Tapi pikiran Kyungsoo melayang pada saat – saat dia tinggal bersama dengan Jongin, mereka kadang menghabiskan waktu liburan mereka untuk menonton kartun satu ini karena Kyungsoo yang memaksa dan Jongin akan berpura – pura menirukan suara "Kroong" membuat Kyungsoo tidak bisa berhenti tertawa.
"Eomma!" Suara Sora menarik Kyungsoo dari pikiran nostalgianya. Gadis itu tengah bermain dengan beberapa boneka barbie dan di kelilingi oleh boneka – boneka karakter dari film pororo. Mata Kyungsoo tertuju pada sebuah boneka penguin berwarna biru dengan sebuah kaca mata di kepalanya, boneka itu terlihat paling berbeda dengan boneka lainnya, boneka satu itu terlihat sedikit usang.
Itu boneka miliknya, itu boneka pertama yang Jongin berikan untuknya bertahun- tahun yang lalu saat mereka masih menjadi seorang mahasiswa. Itu adalah hadiah saat mereka merayakan hari jadi mereka yang pertama.
"Eomma." Panggil Sora sekali lagi membuat Kyungsoo mengerjap dan menatap anaknya. "Sora suka sekali kamar ini. Semuanya berwarna biru." Ucap gadis kecil itu dengan semangat sambil berlarian mengelilingi kamar kemudian menjatuhkan dirinya di atas kasur dengan sprai bergambar pororo.
Kyungsoo menatap Jongin yang terlihat senang dengan reaksi Sora. Gadis itu kembali bangkit dan berlarian ke pelukan Jongin.
"Sora lapar." Rengek anak itu dengan manja. Memang tidak lama lagi jam makan siang tiba jadi tak salah jika anak ini kelaparan
"Kau lapar? Tapi paman tidak mempunyai apapun untuk di makan. Paman juga tidak jago memasak."
Ditelinga Kyungsoo, itu terdengar seperti sebuah kode untuk membuat Sora merayu dirinya memasak makan siang untuk mereka, tapi entah kenapa jika itu memang maksud Jongin, dia sama sekali tidak keberatan. Bukan semata – mata untuk Jongin, tapi melainkan untuk Sora. Anaknya.
Dan ternyata dugaanya benar. Sora meminta sang ibu memasak untuk mereka. Kyungsoo tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya. Mereka semua pindah ke bawah dan Jongin membawa Sora ruang TV sementara sang ibu memasak.
Ini benar – benar terasa seperti nostalgia. Dia kembali memasuki dapur di mana dulu dia selalu menghabiskan waktunya untuk memasak dan mencoba beberapa resep makanan baru, terkadang dia juga membuat cookies dan beberapa cemilan lainnya.
Kyungsoo menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran itu dari benaknya. Tak sengaja matanya menatap meja makan yang memang hanya beberapa langkah dari dapur. Dia tersenyum miris, itu adalah tempat terakhir dia menghabiskan waktunya bersama Jongin sebelum meninggalkan pria itu.
"Aku pikir kau membutuhkan ini." Ucap Jongin yang entah bagaimana tiba – tiba berada tepat di belakangnya membuat Kyungsoo terkejut.
"Ini…"
Kyungsoo menatap celemek yang ada di tangan Jongin. Celemek dengan motif pokadot berwarna merah. Ya, merah. Dulu saat masih tinggal di sini, Kyungsoo selalu memakai celemek yang berbeda setiap harinya, dia mendedikasikan warna kuning untuk senin, hijau untuk selasa, jingga untuk rabu, ungu untuk kamis, coklat untuk jumat, pink untuk sabtu dan merah untuk minggu. Dia selalu menggunakan celemek itu setiap minggunya, Jongin pernah mengatakan kalau dia terlihat seperti pelangi yang mewarnai hidupnya setiap hari. Tapi sekarang…
"Aku masih mengingatnya." Ucap Jongin membuat Kyungsoo mendongak menatap pria itu. "Dan apa yang aku katakan dulu tentang pelangi, masih berlaku sampai sekarang." Lanjutnya sambil memamerkan sebuah senyuman sebelum akhirnya menyerahkan celemek itu dan pergi meninggalkan Kyungsoo yang masih termengung di tempatnya.
Kenapa kau mengatakannya Jongin? Kenapa kau harus melakukan ini padaku?
Kyungsoo mencoba kembali mengendalikan dirinya. Akhirnya dia melihat apapun yang ada di dapur untuk di masak. Ternyata Jongin tidak memiliki bahan makanan sebanyak yang Kyungsoo kira. Hanya ada beberapa potong daging, sayuran yang mulai mengering, beberapa kotak susu dan bahan makanan lainnya. Dengan bahan makanan yang ada dia hanya bisa membuat nasi goreng.
Beberapa menit kemudian Jongin kembali datang. Kyungsoo bepura – pura menyibukan dirinya dengan masakan. Karena entah kenapa dia merasa sangat canggung.
"Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Jongin. Wanita itu menggeleng sebagai jawaban, Kyungsoo tidak membalikan badananya untu menatap Jongin. "Kalau begitu akau akan menyiapkan mejanya." Usul Jongin yang hanya di sambut anggukan oleh Kyungsoo.
Wanita itu mengigit bibir bawahnya dan menyelipkan rambutnya di balik telinga, dia benar – benar gugup jika terus berhadapan dengan Jongin, karena jantungnya, jantungnya terus saja berdetak tak normal setiap kali dia merasakan kehadiran Jongin di sekitarnya.
Apalagi dengan apa yang baru saja dikatakannya. Jongin masih ingat dengan semua kebiasaanya dulu, pria itu bahkan masih memajang fotonya selama ini. Entah kenapa ada sedikit perasaan bersalah mendera hatinya saat dia ingat bagaimana perlakuan buruknya terhadap Jongin semenjak mereka bertemu kembali, tapi dia hanya manusia, Kyungsoo bisa marah-
Dan Jongin juga hanya manusia, dia bisa saja berbuat salah.
Tidak bisakah….?
Kyungsoo menggelengkan kepalanya untuk mengenyahkan pikiran itu dari benaknya. Tapi Kyungsoo masih takut, trouma di masa lalu membuat dia sulit sekali untuk memutuskan, otaknya lebih mendominasi dari pada hati, dia lebih suka berpikir rasional belakangan ini dan mengesampingkan apapun yang dirasakan hatinya.
~Us~
Jongin dan Sora tengah duduk di meja makan berbentu bulat dengan ukuran sedang itu saat Kyungsoo datang membawakan mereka semangkuk besar yang penuh dengan nasi goreng. Jongin melihat mata Kyungsoo membulat, wanita itu terlihat kaget dengan apa yang ada di atas meja.
Dia tau kenapa alasannya. Itu karena mug couple dengan corak bergaris. Itu adalah mug yang selalu mereka pakai-dulu-setiap harinya. Dan beberapa hari yang lalu Jongin sengaja mencari sebuah mug yang sama namun memiliki warna berbeda untuk Sora. Pria itu tau kalau mungkin ini terlihat konyol, dia juga tau, dia hanya memiliki sedikit kemungkinan untuk meluluhkan hati Kyungsoo dengan hal seperti ini. Tapi tidak ada salahnya mencoba bukan?
Tapi Kyungsoo dengan cepat mengendalikan ekpresinya. Dia duduk di samping Sora dan meletakan mangkuk besar itu. Jongin tersenyum saat melihat Sora menyodorkan piringnya untuk di tuangkan nasi oleh sang ibu. Entah kenapa Jongin merasakan, kalau dia baru saja mendapatkan keluarganya kembali, tapi pria itu juga sadar kalau ini hanyalah harapan semu.
Tanpa di sangka Kyungsoo mengulurkan tangannya untuk meminta piring Jongin membuat pria itu mengerjap sebelum memberikan piringnya pada Kyungsoo. Wanita itu tidak memperlihatkan ekspresi atau berkata apapun tapi itu sudah cukup membuat Jongin senang.
"Setelah ini kita pulang?" Tanya Kyungsoo. Tentu saja anak kesayangannya itu menolak dia masih mau bermain di kamar itu. Kyungsoo sudah mencoba membujuk anak itu tapi berakhir dengan sia – sia.
"Sora, eomma masih mempunyai setumpuk pekerjaan untuk di kerjakan-"
"Tapi ini hari libur eomma." Rengek Sora membuat Kyungsoo akhirnya menghela nafas panjang.
Jongin tau kalau Kyungsoo pasti akan kembali mengalah dan membiarkan anak kesayangannya itu tetap tinggal di sini untuk beberapa jam kedepan. Mata mereka bertemu, Kyungsoo menatapnya seakan – akan dia memerlukan bantuan untuk membujuk Sora, tapi Jongin hanya tersenyum dan menaikan bahunya, sama sekali tidak ada niatakan untuk menyuruh Sora pulang.
Selepas makan siang, Kyungsoo membawa piring kotor itu ke dapur. Jongin sudah mengatakan kalau tidak usah dibereskan karena dia bisa melakukannya nanti, tapi pria itu tau, kadang Kyungsoo akan sangat keras kepalan menyangkut beberapa hal, dan mungkin hal itu yang membuatnya jatuh cinta pada sang wanita.
Sementara Kyungsoo sibuk di dapur, Jongin menggendong Sora kembali ke lantai dua. Mereka bercengkrama layaknya teman lama yang sudah mengena satu sama lain, Sora mengatakan kalau dia ingin tinggal di sini dan memiliki kamar itu.
"Tentu saja, bukannya paman sudah mengatakan kalau semua yang ada di sana milik Sora?" tanya Jongin sambil menurunkan gadis itu dari gendongannya. Sora masuk dan membuka kamar itu dengan mata yang berbinar penuh dengan semangat.
"Jadi Sora boleh tidur di sini?" tanya Sora dengan nada semangat yang terdengar dari suaranya. Jongin berlurut dan menatap gadis itu.
"Apapun yang Sora inginkan." Ucapnya singkat membuat gadis itu memeluk leher Jongin dan mengecup pipi sang pria, kemudian gadis itu berlari dan membanting tubuhnya dia tas kasur membuatnya beberapa kali terpental, tapi suara tawanya menandakan kalau dia memang dalam keadaan senang.
Andai saja gadis itu tau betapa bahagianya Jongin mendengar denting tawa yang di dengarnya itu membuat sebuah perasaan hangat menyapa hatinya, andai saja gadis itu tau kalau Jongin senang melihatnya tersenyum, dan andai saja gadis itu tau siapa ayahnya…
~Us~
Kyungsoo mendengar suara tawa Sora dari lantai atas, wanita itu berniat kembali membujuk Sora dan membawanya pulang. Kyungsoo yang hendak melangkah ke lantai dua, terhenti saat meihat pigura – pigura yang di tutup itu. Dia berhenti sesaat di depannya dan memastikan kalau Jongin tak melihat.
Dengan tangan gemetar, dia mengangkat satu pigura yang membingkai fotonya bersama Jongin saat mereka di atas altar tengah mengucapkan janji suci. Sekelebat kilasan tentang kejadian itu terlintas di benaknya.
Dulu dia mengenakan sebuah gaun putih pilihan Jongin yang dibelinya di salah satu butik di pusat kota. Tapi ternyata saat dia tau, itu adalah butik milik Tao, teman lama Jongin yang berasalah dari china, wanita itu memutuskan menetap di Korea setelah menikah dengan seorang model terkenal bernama Wu Yifan.
Kyungsoo tidak menyangka kalau ternyata sudah jauh – jauh hari pria itu memesan gaun untuk pernikahannya pada Tao. Dan yang lebih mengejutkan adalah gaun itu memang yang Kyungsoo dambakan untuk di pakai di acara pernikahannya kelak. Jongin seakan – akan dengan mudah bisa membacanya bagaikan sebuah buku.
Kejutan lainnya yang di siapkan Jongin adalah ketika pria itu membanya ke sebuah toko perhiasan untuk membeli cincin pernikahan mereka, saat Kyungsoo sedang memilih tiba – tiba saja seorang pegawai menyodorkan sebuah kotak berbentuk persegi yang berisikan sebuah kalung. Kalung itu terbuat dari emas putih dengan bandul berbentuk hati dengan inisial nama mereka di tengahnya.
"Ini untukku?" Tanya Kyungsoo tergagap.
"Tentu saja, ini hadian pernikahan." Jawab Jongin sambil memakainkan kalung itu di lehernya.
"Jongin, kau tidak perlu-" Jongin menyela sambil menggelengkan kepala. Untuk sesaat pria itu melirik pada sang pegawai sebelum meninggalkan mereka berdua.
"Kau menyukainya?" tanya Jongin sambil mengelus pipi Kyungsoo yang sudah merona. Wanita itu mengangguk dan menghadiahkan sebuah kecupan di pipi Jongin. Kyungsoo berani melakukan itu karena tidak ada siapapun di sana. Wanita itu tersenyum dan menatap pantulan dirinya di cermin, dia berjanji akan selalu memakainya.
Dan tak lama kemudian pegawai itu kembali datang dengan sebuah kotak berukuran lebih kecil, kali ini kotak dengan beludru berwarna biruhajkhdjkah berisikan dua buah cincin. Yang satu hanya sebuah cincin polos biasa yang nantinya akan di gunakan Jongin, namun cincin di sebelahnya yang menarik perhatian Kyungsoo.
Itu adalah sebuah cincin dengan batu rubi berwarna biru yan di potong kecil agar tidak terlalu mencolok dan di bingkai dengan emas putih yang membuatnya terlihat sangat cantik. Kyungsoo hampir saja terjatuh saat mendengar suara Jongin, entah kenapa tiba – tiba saja lututnya bergetar.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Jongin sambil melingkarkan tangannya di pinggang Kyungsoo. Wanita itu bersyukur karena setidaknya dia bisa menyandarkan tubuhnya pada Jongin.
"Kau bertanya pendapatku?" Kyungsoo balas bertanya. Pria itu menatapnya sesaat sebelum tertawa renyah dan mengambil cincin itu dari kotaknya.
Kyungsoo pernah menunjukan foto cincin itu di salah satu majalan yan sedan dia baca. Wanita itu mengatakan kalau dia menginginkan cincin seperti itu untuk pernikahannya. Saat itu Kyungsoo hanye bercanda tapi ternyata Jongin mengangapnya serius dan secara diam – diam dia membuatkan cincin yang mirip untuknya.
"Sungguh, aku selalu senang melihatmu dengan wajah terkejut seperti itu, Soo. Kau terlihat seperti kucing dalam film sherk." Ucap Jongin sambil tertawa. Kyungsoo mendengus tapi kemudian tertawa bersama dengan Jongin. Tentu saja, tentu saja dia tertawa. Hari itu adalalah salah satu hari paling berkesan yang pernah Jongin berikan untuknya.
Kyungsoo menghela nafas panjang dan mengerjakan matanya. Dia sadar dari lamunannya dan menatap jari manis yang kini tak di hiasi oleh apapun. Tapi jika di tilik – tilik ada sebuah bekas cincin yang dulunya pernah melingkar di sana. Kyungsoo menyentuhnya sesaat dan menghela nafas panjang.
Cincin itu, di tinggalkannya saat pergi meninggalkan tempat ini. Dia meninggalkannya bersama kalung yang selalu melingkar di lehernya itu, dan untuk sesaat Kyungsoo merindukan kedua benda yang dulu miliknya. Entah kenapa merasaan aneh menjalari hatinya membuat Kyunsoo sesak.
Suara derap langkah yang menuruni tangga membuat Kyungsoo kembali meletakan benda itu di atas laci dan berjalan menjauh. Sadar atau tidak, Kyungsoo menyerka matanya, memastikan kalau tidak ada yang menetes dari sana.
~Us~
Jongin bisa melihat Kyungsoo tengah menatap sebuah foto, dia memutuskan untuk berdiri di ujung tangga dan memperhatikan wanita itu. Dia tau kalau Kyungsoo merindukan mereka semua walau dia tidak bisa berharap banyak apakah Kyungsoo merindukannya juga atau tidak, tapi yang pasti wanita itu rindu sekali pada Luhan, Sehun dan Chanyeol. Dirinyalah yang membuat semuanya berantakan, dia yang membuat Kyungsoo sulit bertemu dengan sahabatnya, terlebih lagi Chanyeol.
Jongin menghela nafas panjang dan memutuskan untuk turun dengan suara derap langkah yang sengaja di perdengarkannya pada Kyungsoo. Dia bisa melihat wanita itu dengan tangan bergetar kembali menaruh foto itu diatas meja dan menyerka air matanya.
"Sora?" tanya Kyungsoo saat Jongin berdiri beberapa langkah di hadapannya.
"Dia tertidur." Jawab Jongin. Kyungsoo terlihat kebingungan, dia mengecek ponselnya sebelum kembali menatap Jongin dengan ragu.
"Sebaiknya aku membawa pulang Sora sekarang sebelum dia bangun dan kembali menyulitkanmu." Ujar Kyungsoo sambil berjalan menuju tangga untuk membawa Sora tapi belum sempat Kyungsoo menginjakan kakinya di tangga, Jongin menangkap tangannya menarik wanita itu dengan perlahan.
Kyungsoo ragu sesaat sebelum akhirnya mengikuti kata hati dan membiarkan Jongin menggenggam tangannya. Pria itu hanya menatap Kyungsoo dalam diam, tak ada satu patah katapun keluar dari mulutnya, tidak ada. Tapi entah bagaimana dia bisa menciptakan suasana yang membuat Kyungsoo gugup, jantungnya berderup kencang dan berlebihan seolah – olah dia sedang lagi maraton berpuluh – puluh mil.
Walau tanpa kata, Kyungsoo bisa mengerti apa yang akan disampaikan oleh Jongin dari melihat kedua mata itu. Mata Jongin yang tajam kini menatapnya dengan lembut membuat Kyungsoo ingin mengelak tapi tangan Jongin berpindah pada bahunya, membuat Kyungsoo mau tidak mau kembali menatap kedua mata itu.
"A-aku…"
Sebelum Kyungsoo sempat menyelesaikan kalimatnya, Jongin sudah menariknya menuju ruang tengah yang cukup luas, kemudian pria itu meraih ponselnya dari dalam saku dan menyalakan sebuah lagu. Detik berikutnya terdengar suara instrumen dari Johann Strauss yang berjudul The beautiful blue danube, itu adalah instrumen yang biasa Kyungsoo putar setiap pagi sebelum Jongin pergi ke kantor.
Dulu di rumah ini selalu terdengar berbagai instrumen klasik dari berbagai komposer salah satunya adalah Johann Strauss, Kyungsoo pernah mengatakan kalau dengan mendengar instrumen seperti ini dapat membantu orang yang mendengarnya untuk mengendalikan diri.
Kyungsoo terbangun dari lamunannya saat Jongin yang tadi menaruh ponselnya di atas meja kini kembali kehadapannya. Pria itu kembali menggegam tangan Kyungsoo dan membawanya berdansa ke kanan dan kekiri, seperti apa yang mereka lakukan dulu.
Jongin kembali menatapnya, pria itu seolah – olah tidak akan mengalihkan pandangannya dari Kyungsoo apapun yang terjadi.
Semua ini mengingatkan Kyungsoo pada kenangan yang coba tuk dilupakannya, kenangan yang selama ini selalu menjadi mimpi buruk di setiap tidurnya. Kyungsoo mengalihkan pandangannya karena entah mengapa tiba – tiba saja matanya berair dan dirinya mulai terisak.
"Kau bodoh!" gumam Kyungsoo sambil menghentikan langkah kakinya. Dia menatap Jongin dengan mata merah yang menahan tangisan. "Kau bodoh Kim Jongin! Aku membencimu." Kemudian dia memukul dada Jongin berulah kali sambil terus terisak.
Untuk beberapa saat Jongin membiarkan Kyungsoo untuk terus memukulnya, karena dia tau dia berhak menerima pukulan dari wanita itu. Sampai akhrinya ketika tangisan Kyungsoo meledak dia membawa wanita itu kedalam pelukannya, membiarkan Kyungsoo menangis di bahunya.
"Maafkan aku, Soo. Maafkan aku." Gumamnya sambil terus memeluk Kyungsoo yang coba untuk meronta.
"Kenapa baru sekarang Jongin? Kenapa kau tidak mencariku sedari dulu?" Ucap Kyungsoo masih dengan tangisan. Jongin melepaskan pelukanya dan menyerka air mata Kyungsoo.
"Apa aku harus selalu meninggalkanmu dulu sebelum akhirnya kau sadar?" tanya Kyungsoo membuat Jongin tutup mulut. Pria itu seakan kehabisan kata – kata untuk menjawab pertanyaan Kyungsoo. "Jawab aku Jongin." Desak Kyungsoo.
"Maafkan aku, Soo. Aku sungguh menyesal, kepergianmu bagaikan sebuah cambuk yang membuatku sadar kalau aku tidak akan pernah bisa hidup tanpamu." Ujar Jongin.
"Apa kau tau, bagaimana sulitnya aku saat mengandung Sora? Apakah kau tau aku berharap ada dirimu saat aku melahirkan dia. Aku berharap kau adalah orang pertama yang menggendong Sora, tapi sayangnya semua itu tak terjadi." Kyungsoo berjalan mundur, memberi jarak antara dirinya dan Jongin.
"Soo…"
"Semua sudah berubah Jongin. Semua ini tidak akan semudah dulu."
"Tapi Kyungsoo…"
"Junmyeon. Kau tau, aku juga tidak mau menyakitinya. Dia yang selalu ada selama ini untukku. Dia yang membantuku. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja Jongin. Aku tidak bisa…"
"Tapi kau juga tidak akan pernah bisa menerima Junmyeon." Sela Jongin. Kyungsoo hendak menyela tapi kemudian dia kembali mengatup mulutnya dan menggeleng. "Apa kau mencintainya?" Tanya Jongin.
"Apakah itu penting?" Tanya Kyungsoo dengan suara bergetar. "Hal terpenting adalah Sora. Aku tidak perlu cinta atau apapun itu kau menyebutnya, yang aku inginkan hanyalah membahagiakan Sora."
"Tapi Sora bahagia saat bersamaku. Dia juga perlu tau siapa ayahnya."
Kyungsoo diam beberapa lama menatap Jongin sambil menaruh sebelah tangannya di kepala, sesekali memijit pelipisnya yang berdenyut.
"Saat besar nanti, Sora akan mengerti. Sora-"
"Kau tidak mencintainya Kyungsoo." Sela Jongin membuat Kyungsoo menatapnya. "Kau tidak akan pernah bisa mencintainya." Lanjut Jongin sambil berjalan mendekati Kyungsoo.
"Tentu saja aku bisa." Bela Kyungsoo dengan suara bergetar.
"Bagaimana bisa kau mencintainya, saat aku masih ada di hatimu?" Tanya Jongin. Tiba – tiba saja Jongin meraih tangan kiri Kyungsoo dan menyikap lengan bajunya membuat sebuah jam terlihat di sana. Jam klasik pemberian Jongin saat ulang tahun pernikahan mereka. Jam itu memiliki ukiran yang bertuliskan 'Jongin & Kyungsoo'
"Kenapa kau masih memakainya?" Tanya Jongin dengan suara yang lebih pelan. "Jika kau membenciku kenapa kau tidak membuangnya?" bisik Jongin dengan sorot mata yang tak pernah bisa di jelaskan.
~Us~
"A-aku…" Kyungsoo mengalihkan pandangannya dari mata taham Jongin yang menatapnya. "Tunggu, sebentar aku harus kebelakang." Ujarnya dengan suara bergetar sambil melepaskan tangan Jongin dari lengannya. Kyungsoo berjalan sambil menunduk menuju toilet meninggalkan Jongin yang masih membantu.
Kyungsoo dengan segera menutup pintu kemudian bersandar di sana. Dia menutup mata sambil menghela nafas panjang. Kepalanya terasa berputar dan tubuhnya bergetar hebat. Dia melirik jam yang berada di tangannya.
Seharusnya dia bisa meningalkan benda ini bersama cincin dan kalung yang diberikan Jongin, tapi hatinya selalu menolak. Dia tidak bisa meninggalkan barang ini, karena menurutnya jam tangan ini memiliki kenangan yang tak akan pernah tergantikan.
Kyungsoo menghela nafas panjang, menangkan dirinya sebelum keluar dan kembali menghadapi Jongin. Dia berencana untuk pergi ke lantai dua untuk mengambil Sora dan langsung meninggalkan rumah ini, karena semakin lama dia tinggal di sini, semakin banyak kenangan di masa lalunya kembali teringat. Semua kenangan bersama Jongin.
Setelah dia merasa berani dan cukup tenang, akhirnya Kyungsoo keluar dari sana. Wanita itu hendak menuju lantai dua saat dia melihat Sora sedang berjalan menuju laci panjang dengan foto yang berjajar. Kyungsoo hendak berlari menjauhkan gadis itu dari sana tapi terlambat.
Sora sudah meraih sebuah foto dan membaliknya. Gadis itu terlihat mengerutkan kening sambil menatap foto itu. Sialnya, foto itu adalah foto pernikahan mereka, foto yang tadi Jongin tunjukan. Kyungsoo berjalan dengan lemas menuju anaknya, dia tidak siap untuk menjawab pertanyaan apapun itu yang keluar dari Sora.
Tapi saat beberapa langkah lagi, dia melihat Jongin muncul dari dapur, dia sama terkejutnya dengan Kyungsoo saat melihat Sora tengah berdiri di sana sambil memegang sebuah foto. Pria itu melirik Kyungsoo membuat mata mereka bertemu. Tapi detik berikutnya Jongin mengalihkan pandangan dan berjalan menuju Sora.
Gadis itu melirik kebelakang dan menemukan Jongin tengah berjalan kearahnya. Jongin tersenyum simpul dan berlutut didepan Sora.
"Paman, kenapa ada foto eomma disini?" Tanya Sora sambil menunjuk wajah sang ibu yang tengah tersenyum bahagia. "Dan kenapa kalian menggunakan pakaian seperti dipernikahan?" Tanyanya lagi dengan polos.
Jongin menatap Kyungsoo yang menggeleng tapi pria itu mengabaikan apapun yang Kyungsoo inginkan dan kembali menatap Sora. "Paman yang tadi juga ada di sini? Oh ini, tante Luhan dan paman Sehun bukan?" Tanyanya dengan riang tak menyadari bagaimana tegangnya sang ibu.
"Sora tau kenapa kita memaki baju seperti ini?" Tanya Jongin sambil menunjuk foto dirinya dan Kyungsoo bergantian. Sora berpikir beberapa saat kemudian menatap Jongin dan foto itu bergantian.
"Paman dan eomma menikah?" Tanya Sora dengan suara tinggi seolah – olah terkejut dengan apapun yang ada di pikirannya. Jongin tersenyum dan mengangguk pelan. Pria itu mengambil bungkai foto itu dari tangan Sora dan menaruhnya di atas laci. Dia tersenyum menatap Sora dan mengelus rambut gadis itu.
"Sora…"
"Jongin." Sela Kyungsoo membuat kedua orang itu langsung melirik kearahnya.
"Sampai kapan Kyungsoo? Dia perlu tau semuanya." Ujar Jongin membuat Sora yang tak mengerti hanya bisa menatap Kyungoo dan Jongin secara bergantin.
Jongin terdiam sesaat memikirkan kalimat apa yang tepat untuk dikatakan pada Sora. Gadis itu masih terlalu kecil untuk mengerti masalah yang terjadi diantara mereka berdua. Tapi sebelum Kyungsoo ataupun Jongin kembali berucap, Sora mendahuli mereka berdua.
"Jika paman dan eomma menikah, kenapa kalian tidak tinggal bersama seperti paman Sehun dan tante Luhan?" Tanyanya dengan polos. Kyungsoo seakan – akan ingin pingsan detik itu juga.
"Karena sesuatu terjadi dan akhirnya kita tidak bisa tinggal bersama lagi."
"Apa itu?" desak Sora. Jongin menghela nafas panjang dan menangkup kedua pipi Sora dengan tangannya.
"Nanti, saat Sora sudah tumbuh dewasa pasti Sora akan tau dan mengerti, karena Sora masih terlalu kecil, Sora sama sekali tidak akan mengerti." Jelas Jongin, untungnya Sora anak pematuh yang bisa diatur, akhirnya gadis itu mengangguk.
"kalau begitu ayah Sora adalah paman?" Tanya gadis itu dengan ragu. Jongin mengangguk sambil tersenyum. "Paman benar – benar ayah Sora?" Tanya gadis itu seakan – akan tak percaya.
"Ya." Jawab Jongin, matanya melirik Kyungsoo yang sekarang tengah berpegangan pada meja dan tubuhnya terlihat gemetar.
"Kenapa paman tidak mengatakannya saat kita bertemu?"
"Karena paman takut Sora tidak suka." Jawan Jongin sambil mengelus rambut hitam anaknya itu yang sama seperti Kyungsoo. "Paman takut Sora tidak suka memiliki ayah seperti paman." Lanjutnya sambil tersenyum getir. Tapi kemudian gadis itu menggeleng, matanya terlihat memerah siap menumpahkan air mata.
"Tidak, Sora suka sekali. Sora suka memiliki ayah seperti paman, walau Sora tidak mengerti kenapa paman pergi, Sora tetap menyukai paman." Ucapnya sambil mengangguk angguukan kepala. Sekarang pipi bulat itu sudah dialiri air mata membuat Jongin dengan segera menyikapnya.
"Kalau begitu kemarilah." Ujar Jongin sambil membuka tangannya, meminta sebuah pelukan dari gadis kesayangannya itu. Sora berjalan kedalam pelukan Jongin sambil berlinang air mata.
"Appa." Ujarnya pelan.
Seketika itu juga ada sebuah perasaan mencelos di hatinya. Ini pertama kali dia di panggil dengan sebuatan Appa. Sebutan yang dulu selalu di idamkannya. Sekarang dia mengerti bagaimana bahagiannya menjadi seseorang yang di sebut dengan Appa.
"Terima kasih." Bisik Jongin dengan pelan sambil memejamkan mata, anak kesayangannya itu.
~Us~
Jongin dan Sora menghabiskan waktu berbicang – bincang sampai akhirnya malam tiba. Sora sampai kembali tertidur di dalam pelukan Jongin. Pria itu tersenyum saat mengelus pipi anaknya itu. Dia mengecup kening Sora sebelum turun kebawah untuk mengantarkan Sora pulang, kembali pada ibunya.
Kyungsoo sudah pulang lebih dulu, dia beralasan tidak enak badan. Walau sebenarnya Jongin tau kalau wanita itu sedang menghindari Sora dan dirinya. Dia menidurkan Sora di mobil dan memasang sabuk pengaman sebelum melaju menuju kediaman Kyungsoo.
Jalanan kota masih terlihat ramai oleh beberapa kendaraan. Jongin memutar sebuah lagu pengantar tidur untuk merendam suara bising diluar sana. Dia beberapa kali menatap Sora yang masih pulas tertidur.
Tak lama kemudian dia sampai di rumah Kyungsoo. Dia menggendong Sora dan mengetuk pintu. Beberapa detik kemudian Kyungsoo membuka pintu. Wanita itu terlihat berantakan. Rambutnya diikat asal, wajahnya sayu dan memerah, matanya bengkak dan terlihat letih.
"Biar aku yang membawanya ke dalam kamar." Ucap Jongin sambil masuk kedalam. Kyungsoo tidak berkata apa – apa dan membiarkan Jongin masuk. Jongin menidurkan Sora di kamarnya dan menyelimuti Sora. Dia berlutut dan mengecup kening anaknya.
"Selamat tidur sayang." Jongin mengelus rambut Sora sebelum meninggalkan anak itu didalam kamarnya.
Saat Jongin keluar, Kyungsoo masih ada di belakang pintu menandakan kalau dia ingin Jongin cepat – cepat pulang. Pria itu tidak bisa memaksa, Jonginpun kembali melangkahkan kakinya menuju pintu. Tapi sebelum dia pulang, dia berdiri di depan Kyungsoo membuat wanita itu mendongak menatapnya.
"Sora sudah bisa menerimaku. Bagaimana dengamu, Soo?" Bisik Jongin. Pria itu bisa melihat mata Kyungsoo yang bergetar dan menahan tangisan. Dia mengulurkan tangannya menangkup pipi Kyungsoo dan mengusapnya dengan ibu jari. "Aku akan menunggu sampai kau siap. Aku akan menerima apapun keputusanmu." Ujarnya sebelum kembali menarik tangannya dari pipi Kyungsoo.
Pria itu membuka pintu dan melangkahkan kaki keluar, tapi sebelum dia benar – benar pergi. Dia berbalik menatap Kyungsoo yang berdiri di ambang pintu. Sesuatu dalam hatinya tiba – tiba saja mendorong dirinya itu melangkah mendekati Kyungsoo dan memeluk wanita itu.
Kyungsoo langsung membatu, wanita itu membelalakan matanya, dia hendak menarik tubuh tapi Tangan Jongin semakin erat melingkar di tubuhnya.
"Biarkan untuk seperti ini, sebentar saja. Aku tidak pernah tau apakah ini akan menjadi terakhir kalinya aku bisa memelukmu atau tidak." Ujarnya membuat tangan Kyungsoo kembali jatuh. Wanita itu memejamkan mata untuk sesaat dan membiarkan Jongin memeluknya.
"Aku ingin kau tau, aku masih sangat mencintaimu Soo. Sangat." Ujar Jongin membuat Kyungsoo kembali mengeluarkan air mata. Wanita itu mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuh, berusaha untuk tidak terisak. Tapi detik berikutnya, dia kehilanan kehangatan dari pelukan Jongin. Pria itu melangkahkan kakinya menjauh.
"Selamat malam." Ujarnya sebelum pergi meninggalkan Kyungsoo yang mematung. Tanpa sadar Kyungsoo kembali terisak. Dia segera masuk kedalam rumah dan menutup pintu. Seketika itu juga tubuhnya jatuh di lantai. Dia memeluk tubuhnya sendiri. Didalam lubuk hatinya dia menjerit, dia menjerit kesakitan, Jongin kembali membuatnya merasakan bagaimana kehilangan pelukan hangat itu lagi. Dan kali ini Jongin benar – benar sudah menghancurkan semua tembok yang pernah dia bangun untuk membatasi perasaannya. Jongin sudah menghancurkan semuanya.
~Us~
Epilog
Sora berada dalam mobil, tangannya menggam sebuah ice cream vanila kesukaannya. Junmyeon berada di sampingnya. Mereka baru saja menghabiskan waktu bersama di taman bermain. Hanya mereka berdua.
Mereka datang ke taman bermain pagi – pagi, tepat saat tempat itu baru dibuka, tapi tempat itu seolah – olah tidak kehabisan pengunjung. Mereka menghabiskan waktu bersama layaknya anak dan ayah. Sora tidak bisa berhenti tersenyum sepanjang menghabiskan waktu bersama Junmyeon. Mereka jarang sekali bermain bersama karena kesibukan Junmyeon sebagai dokter.
"Bagaimana kau senang?" Tanya Junmyeon. Sora tersenyum dengan bibir penuh ice cream. Junmyeon terkekeh dan memberikan beberapa lembar tisu pada gadis itu. "Sekarang kita akan menjemput eomma bukan?" Tanya Sora sambil melahap ice cream itu membuat bibirnya kembali belepotan.
"Yups." Jawab Junmyeon sambil membelokan mobilnya menuju sebuah bandara.
Mereka berdua memarkirkan mobil dan masuk kedalam bandara. Junmyeon menggengam tangan Sora dengan erat saat mereka memasuki bandara. Pria itu takut Sora akan hilang tiba – tiba dan tersesat karena banyak sekali pengunjung yang berlalu lalang.
Tak lama kemudian, Junmyeon melihat Kyungsoo dengan beberapa koper di sampingnya sedang berdiri sambil melirik kesekeliling. Dia mengacungkan tangan melambai pada wanita itu. Sora mengikuti arah pandangan Junmyeon dan berlari melepaskan genggaman Junmyeon. Pria itu tertawa dan mengikuto Sora dari belakang.
"EOMMA!" pekik gadis kecil itu terendam oleh riuh pikuk bandara. Sora langsung berlari pada pelukan sang ibu dan memeluk ibunya itu dengan erat. Junmyeon melihatnyahanya bisa tersenyum. "Eomma rindu sekali padamu."Ucap Kyungsoo sambil mengecup pipi Sora, kemudian menurunkan gadis itu dari gendongannya. Dia berjalan dan memeluk Junmyeon.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Junmyeon sambil membalas pelukan Kyungsoo.
"Baik." Gumam wanita itu sambil melepaskan pelukanya.
"Bagaimana Dubai?" Tanya Junmyeon. Tapi sebelum Kyungsoo menjawab Sora menarik tanganya.
"Mana Appa?" Tanya gadis itu sambil menatap ke sekelilng ruangan. Dia tak kunjung menemukan ayahnya tercinta.
"Dia pergi ke toilet. Sebentar lagi dia-lihat kesana, itu appa." Ucap Kyungsoo saat melihat Jongin dari kejauhan. Sora langsung berlari menuju sang ayah.
Jongin yang sadar langsung menangkap gadis itu dan memutarnya beberapa kali membuat Sora tertawa. Beberapa orang menatap kearah mereka, tapi seolah tak penuli mereka saling berpelukan. Jongin menyodorkan pipinya untuk di cium dan dengan cepat Sora menempelkan bibirnya di pipi Jongin. Mereka berjalan mendekati Junmyeon dan Kyungsoo yang masih berdiri di tempat.
"Hai" Sapa Jongin saat dia sudah berada di depan Junmyeon.
"Bagaimana liburan kalian? Menyenangkan?" Tanya Junmyeon menatap Kyungsoo dan Jongin bergantian. Kedua orang itu hanya tersenyum.
"Begitulah." Jawab Jongin ringan tak berniat untuk memperjelas jawabnnya.
"Aku tau, itu adalah sebuah jawaban untuk menyuruhku tidak kembali bertanya – tanya lebih jauh. Okay, aku tidak akan menanyakannya." Canda Junmyeon sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Maafkan aku harus menyuruhmu datang kesini dan menjemput kita. Sehun, Luhan dan Chanyeol sedang sibuk hari ini." Ucap Kyungsoo.
"Tenang saja. Ini sama sekali tidak merepotkan." Ucap Junmyeon.
Junmyeon membantu Jongin membawa koper mereka, sedangkan Kyungsoo dan Sora berjalan di belakang. Kedua pria itu terlibat percakapan soal rumah sakit dan beberapa hal lainnya.
"Bagaimana? Menyenangkan tinggal bersama tante Luhan dan paman Sehun?" Tanya Kyungsoo pada Sora.
Selama Jongin dan Kyungsoo pergi liburan ke Dubai untuk merayakan kembalinya mereka, sekaligus bulan madu atau apalah itu. Sora tinggal bersama Luhan, wanita itu mengatakan kalau dia sama sekali tidak keberatan jika harus merawat Sora, karena dengan itu anaknya yang bernama Hana ada teman bermain.
"Tentu saja. Hana memiliki banyak barbie dan beberapa mainan lainnya. Kita juga sering makan ice cream di café milik paman Sehun dan banyak lagi." Jawab gadis itu bersemangat.
"Paman Chanyeol dan tante Baekhyun juga pernah mengajak Sora pergi jalan – jalan dan memberikan Sora mainan." Tambah Sora yang disambut dengan anggukan oleh Kyungsoo.
Semenjak Kyungsoo kenbali pada Jongin, pria itu mulai kembali menata hidupnya yang berantakan semenjak kepergian Kyungsoo. Dia juga kembali menjalin persahabatan dengan teman lamanya. Mereka semua sepakat untuk melupakan masa lalu dan memulai semuanya dari awal.
Saat mereka sudah masuk kedalam mobil. Seseorang menelphone Junmyeon membuat pria itu tersenyum lebar. Kyungsoo dan Jongin yang duduk di belakang. Ikut tersenyum menatap Junmyeon.
"Apa kalian tidak keberatan jika kita pergi makan siang bersama?" Tanya Junmyeon setelah menutup telphonenya.
"Tentu saja." Jawab Jongin yang disambut dengan anggukan oleh Kyungsoo.
"Apa Yixing akan berada bersama kita?" Goda Jongin. Junmyeon tertawa sambil menyalakan mobil.
"Itu yang baru saja akan aku katakan. Aku harus move on dari istrimu bukan?" Junmyeon balas menggodanya. Seketika itu juga Jongin dan Kyungsoo tertawa. Sedangkan Sora yang duduk diantara mereka hanya menatap ayah dan ibunya secara bergantian tanpa mengerti apa yang mereka bicarakan.
Inilah akhir kisah dari perjungan seorang Kim Jongin yang bertahun – tahun di tinggal istrinya, Do Kyungsoo. Tidak mudah memang mengambil wanita itu kembali dan merebut hati anaknya. Tapi dia tau semua masalah akan ada jalan keluarnya, Tuhan juga tidak akan memberikan cobaan pada setiap manusia diluar batas kemampuannya.
Jongin yakin mereka akan kembali bersatu, seperti selayaknya keluarga. Dan harapannya itu terkabul, Tuhan mendengarkan doanya dan mengambulkan permintaannya setelah perjuangannya selama ini.
Sekarang keluargannya kembali begitupun juga dengan ketiga sahabatnya, bahkan sekarang dia memiliki sahabat baru, Junmyeon, Yixing dan Baekhyun. Pepatah yang mengatakan indah pada waktunya itu bukan hanya sebuah kalimat kosong, tapi memang terjadi. Semua akan indah pada waktunya.
.
.
.
The End
MAAF SEKALI INI UPDATENYA LAMA BANGET. IYA TAU LAMAAA BANGET. MAAFKAN. AUTHOR PUNYA BANYAK BANGET HAL YANG HARUS DI LAKUKAN SAMPE INI JUGA KALAU MAU NERUSIN CERITA HARUS TENGAH MALEM APA PAGI – PAGI BANGET. *merana*
Author tau ini banyak sekali sekali dan sekali typonya karena engga di edit dulu. Author langsung upload, karena kalo di edit bakal lama lagi keburu tahun ganti. Jadi ya maafkan u,u
Yang punya saran, kritit atau apapun itu buat author silahkan tumpah dan curahkan di kolom review, karena author pasti akan baca apapun yang kalian tulis di sana.
Makasih karena udah ikutin ff ini dari awal. Terima kasih karena mau nunggu. Terima kasih karena mau baca DAN UNTUK SEMUA YANG REVIEW. I LOVE YOU GUYS SO MUCH. GOD BLESS YOU^^ *send everyone virtual hugs*
See you in another story ^^
Love ya.
