Because You're Mine

Author : Aishi Jung

Cast : Yunjae and others

Genre : Romance, little humor, Yaoi, Mpreg

Rate : T, tambah tanda + juga boleh kalo lg kumat :P

Disclam : I don't own about the cast.

Sebenarnya siapa yang tak tahu segalanya? You or me? Final update!

Mrs. Jung tahu, ada yang salah dengan anaknya sejak beberapa hari yang lalu, anaknya—Yunho yang hampir menuruni semua sifat suaminya itu selalu terlihat tak tenang dan banyak terdiam dengan pandangan kosong. Konsentrasi anaknya yang tinggi seolah goyah hingga banyak kerjaan kantor yang di bawanya ke rumah. Dan puncaknya pada hari ini, ia melihat anaknya itu membanting ponsel tidak tenang dan berlari pergi tanpa pamit yang membuahkan seringai misterius diwajah awet mudanya. Ia seorang ibu, dan ia selalu mengawasi gerak-gerik semua anaknya walau orang luar mungkin lebih berkesan jika ia lebih pilih kasih ke sang bungsu. Dengan penuh rencana, ditekannya tombol-tombol di ponselnya dan dihubunginya seseorang.

"..."

"Ini aku, kau sudah sampai Seoulkan? Cepat aktifkan GPRS dan awasi pergerakan anakku."

"..."

"Jika plan A gagal, kau tahu yang harus dilakukankan? Aku mengandalkanmu Kitamura-san."

"..."

Setelah mendengar kepastian dari seberang telpon, dimatikan sambungan panggilan dan senyum lebar lekas hadir diparasnya.

"Apa yang kau rencanakan dengan salah satu asistenku sayang?" suara berat itu membuat Mrs. Jung membalikan badan dan menunjukan senyum lebarnya pada sosok tegap sang suami.

"Tentu saja hal yang menyenangkan Tokie-chan. Apa kau marah?" Mr. Jung hanya diam dan memeluk tubuh ramping istrinya lembut. Mendapati tanggapan diam suaminya, Mrs. Jung semakin melebarkan senyumnya.

"Tokie-chan apa kau akan marah jika aku melukai anak kita?" ucapan istrinya membuat Mr. Jung melepaskan pelukkan, ditatapnya dalam mata musang sang istri yang memancarkan kilatan obsesi yang sangat familiar baginya. Hidup bertahun-tahun dengan Mrs. Jung tentulah membuat Mr. Jung mengenal luar dalam tingkah sang isteri.

"Asal itu tidak melukaimu, aku tidak mempermasalahkannya. Kau ibu mereka sayang," Mrs. Jung tertawa lepas mendengar jawaban lelaki dihadapannya. Mata yang diturunkan ke anak pertamanya semakin berkilat-kilat. Suaminya~ inilah salah satu hal yang membuatnya sangat mencintai lelaki kaku itu. Selalu percaya padanya. Percaya, jika semua yang dilakukannya adalah hal terbaik.

"Hahaha kau menyebalkan sekali Tokie-chan, kau seperti bukan ayahnya saja." Mr. Jung hanya menanggapi dengan memainkan surai panjang istrinya, tak peduli pada tanggapan sang istri.

"Ah kau free hari inikan sayang? Ayo kita main rumah-rumahan!" pekikan manja Mrs. Jung pun mengudara ketika melihat suaminya memakai baju tanpa keformalan sedikitpun membuat Mr. Jung menanggapi dengan dengusan pelannya.

"Untuk apa bermain rumah-rumahan lagi? Sekarang Kita sudah menikah dan punya rumah, bahkan punya anak."

"Jang Ahjushiii!" dengan cueknya Mrs. Jung mengabaikan Mr. Jung dan memanggil tukang kebunnya yang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.

"Iya nyonya?"

"Jang ahjushi, kau jadi aboejinnya ne? Tokie-chan akan jadi istrinya dan aku jadi suaminya. Kita main rumah-rumahan yeeey!"

"Ne..." sang tukang kebun hanya bisa pasrah menuruti tingkah majikannya yang kekanakkan, tidak ada hak untuk menolak. Sedangkan Mr. Jung hanya bungkam, tak ambil pusing dengan kelakuan isterinya. Bagi Mr. Jung tidak masalah apapun hal yang diperbuat melewati batas kenormalan Mrs. Jung, asal isterinya terus bersamanya, tidak melawan kewenangannya, dan melukai diri sendiri. Walaupun isterinya mendekati sakit jiwapun, Mr. Jung akan tetap disisinya.

Karena cinta mereka memang tidak sempurna, baik yang terlihat ataupun kenyataannya.

Oo0oO

"Beraninya kau!" teriakan penuh murka itu menyentak Jaejoong hingga tubuhnya gemetaran. Tanpa melihat ke belakang Jaejoong bisa menerka jika Yunho sudah siap dengan kepalan tangannya. Jaejoong benar-benar tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa orang dihadapannya ini? Kenapa mengaku calon suaminya?ah semua yang terjadi membuat kepalanya pusing.

"Ayo Jaejoong-ah kita pulang, Eomma Kim mengkhawatirkanmu." Mata doe Jaejoong hanya mengedip polos tak mengerti, dan Kitamura yang melihat kelucuan namja cantik itu hanya tertawa dengan suara beratnya dengan mata yang memberi lirikan menantang pada tubuh besar dibelakang Jaejoong. Dengan enteng digendongnya Jaejong bridal style dan berbalik melangkah pergi, menghiraukan pekikan Jaejoong yang kaget bukan kepalang.

Yunho yang melihat semua itu menampilkan wajah yang mengeras sebelum senyum sinis menghiasi parasnya.

"Apa kau tetap mau menikahinya Kitamura-ssi, jika aku bilang Jaejoong hamil anakku?" ucapan penuh nada sinis itu sukses membuat langkah Kitamura berhenti. Mata sipit namun tajam miliknya, menatap Jaejoong yang menggigit bibir bawahnya dengan wajah tak percaya. Bagaimana bisa Yunho berbicara seperti itu? Pertanyaan itu terus menyeruak dibatin Jaejoong.

"Aku tidak mempermasalahkannya, bukankah kalian sudah putus? Aku sangat menyukai anak kecil, jadi tak masalah menganggap Janin diperut Jaejoong-ah itu anakku." Jawaban yang dengan ringan terlontar dari Kitamura cukup membuat Yunho diterpa ketidak percayaan. Sedangkan Jaejoong membuka mulutnya tak bisa berkata apa-apa. Dan Kitamura menanggapi keterpanaan itu dengan dengusan kecil, lalu kembali melanjutkan langkahnya ke arah mobil. Meninggalkan Yunho yang terpaku ditempat. Namun malang, Kitamura tak melihat seringai penuh ambisi mulai terbentuk dibibir hati itu dengan pancaran mata yang melayangkan obsesi.

"Apa kau yakin bisa melepaskan Jaejoong dari jeratanku, brengsek?"

Oo0oO

Selama diperjalan, tak ada suara selain deru mesin didalam mobil sedan hitam itu. Suasana yang beku membuat Jaejoong bergerak tidak nyaman, diliriknya Kitamura di kursi kemudi. Sosoknya sangat berbeda dari yang tadi, wajahnya yang penuh percaya diri hilang digantikan wajah pucat penuh antisipasi yang menyiratkan ketakutan. Wajah berahang tegas itu bahkan mulai mengeluarkan keringat. Kening Jaejoong semakin mengernyit ketika melihat tangan pengemudi yang juga gemetaran.

"Kau baik-baik saja Kitamura-ssi?"

"Ne, saya baik-baik saja Jaejoong-ssi," Jawaban yang formal membuat kening Jaejoong semakin mengernyit dalam.

"Sebenarnya anda siapa?" mendengar pertanyaan Jaejoong yang membalas formal, Kitamura melirik sekilas lalu tersenyum.

"Setelah tiba di kediaman anda, saya akan menjelaskan semuanya Jaejoong-ssi. Jadi saya harap anda tetap tenang."

"Bagaimana saya bisa tenang jika keadaan anda gemetar seperti ini Kitamura-ssi?"

"Ah saya hanya merasa takut Jaejoong-ssi, untuk jelasnya saya akan menyampaikannya di kediaman anda."Jaejoong langsung bungkam, ia mengalihkan tatapannya ke luar jendela merasa bertanya lagi tak ada gunanya.

Sisa perjalanan yang tidak memakan waktu lama dihabiskan dalam keeningan. Ketika sampai dikediaman keluarga Kim, dengan tangkas Kitamura segera berlari dan membuka pintu untuk Jaejoong. Digenggamnya tangan Jaejoong untuk melangkah cepat memasuki kediaman.

"Jaejoong-ssi kita harus cepat, tuan muda jung pasti akan segera kemari." Jaejoong hanya diam, bingung mau menjawab apa. Dengan langkah bergegas mereka memasuki kediaman Kim dan disambut keterkejutan Mrs. Kim.

"Anyeohaseyo Mrs. Kim." Kitamura melepaskan genggaman tangannya dan membungkuk hormat dihadapan Mrs. Kim yang membalas mengangguk. Dengan kebingungan sangat kentara, dipersilakan tamunya itu untuk duduk disofa ruang tamu, sedangkan Jaejoong duduk disampingnya.

"Nugu?"

"Perkenalkan saya Kazuki Kitamura, Asisten Mr. Jung untuk perusahaan jepang. Kedatangan saya, untuk menjalankan rencana Mrs. Jung seperti janjinya pada anda. Mohon kerjasama anda dalam hal ini."

"Janji apa eomma?" Mrs. Kim mengangguk lalu terdiam, setelah beberapa menit terlewati dalam hening, ditatapnya intens Jaejoong yang dilanda kebingungan.

"Apa Joongie sudah tahu kalo Joongie hamil?"

"eo—eoma tahu?"

"Tentu eomma tahu Jongie, apa Jongie baru mengetahui jika hamil?" anggukan Jaejoong membuat Mrs. Kim tersenyum miris, wajahnya kian menyendu.

" Ah walau eomma tidak menyangka anak eomma yang seorang namja akan hamil yang tidak menampik eomma kecewa pada hal itu. Tapi yang membuat hati eomma sakit bukan itu. Eomma tidak kaget dengan namja yang bisa hamil, karena memang keturunan Kim punya riwayat keturunan male pregnant ."

"Yang membuat eooma sakit, kenapa appa aegya Jongie tidak mau bertanggungjawab? Kenapa harus Jung Yunho Jongie?"

"Eomma hiks, apa maksud eomma? Yunnie pasti mau bertanggungjawab. Inikan anak Yunie eomma!" Mrs. Kim menghela nafas melihat anaknya yang mulai menangis.

"Jongie ingat dengan Yuno oppa tunangannya Youngie noona?" mendengar pertanyaan sang eomma, Jaejoong mengangguk disela isakan kecilnya.

"Itu Jung Yunho chagi." Jajoong membekap mulutnya tak percaya, airmata kian menuruni pipinya. Kenyatan yang tak disangka-sangka membuat isakannya kian keras dan nafasnya mulai tersenggal. Dengan lembut Mrs. Kim membelai kepala putranya, mata sipitnya juga mulai basah.

"Tenanglah, dan bernafaslah dengan perlahan. Jongie masuklah ke kamar, eomma akan mengatasi Yunho dan membuatnya seperti keinginan eomma. Orang hamil tidak boleh banyak berpikir, jadi Jongie istirahat okey?"

"Eomma, apa jongie membuatmu sangat kecewa?" lirihan Jaejoong membuat Mrs. Kim tersenyum, dipeluknya anaknya lembut.

"Semua sudah terjadi, bagiku yang sudah tua ini. Melihat Jongie bahagia adalah yang terpenting." Jawaban itu membuat Jaejoong tersenyum kecil, isakan lirih masih keluar dari mulutnya. Matanya terpejam meresapi kehangatan eommanya sebelum dilepaskan pelukan itu dan dengan pelan melangkah menaiki tangga. Mrs. Kim mungkin tak menyadari, dibalik punggung yang semakin menjauh itu, airmata terus menuruni mata doenya. Membuat tetesan airmata itu jatuh di setiap undakan anak tangga menuju kamarnya.

Sepeninggal Jaejoong, Mrs. Kim mengalihkan pandangannya ke eksitensi lain. Ditatapnya tajam Kitamura yang menunduk dan terlihat gelisah.

"Jadi apa rencana Sooie?"

"Jujur nyonya, melakukan tugas ini sangat berisiko bagi saya jika tidak terselesaikan sesuai rencana. Apalagi saya belum mengetahui tuan muda Jung memiliki kegilaan dalam menghadapi ambisi seperti Mrs. Jung atau tidak. Namun Menurut Mrs. Jung, Tuan muda adalah orang yang ceroboh dan mudah dipengaruhi ketika emosi oleh karena itu, tidak lama lagi Tuan muda akan tiba disini. Dan Rencana akan dimulai pada saat itu juga." Kitamura menanggapi dengan senyum gugup yang tidak ditutupi membuat Mrs. Kim menatap iba sosok rupawan yang terlihat seperti terlilit utang oleh renternir kejam itu.

"Jadi.. apa yang harus ku lakukan?"

"Anda cukup menekan Tuan muda hingga ia tidak dapat berpikir Nyonya. Saya harap anda berhasil, karena hidup tenang saya dipertaruhkan disini."

Brakk!

Mrs. Kim mengelus dada kaget mendengar keributan dipintu masuk, sedangkan Kitamura menghela nafas gugup. Tak disangka orang yang dibicarakan telah tiba dan tepat seperti prediksi Mrs. Jung. Mata sipit Mrs. Kim terus menatap lorong hingga bunyi langkah keras penuh amarah menggema di ruangan luas itu membuat Mrs. Kim merasakan aura berat yang sangat terasa diudara. Tanpa Mrs. Kim sadari, Kitamura mengambil ponsel, dan mengotak-atik miliknya itu lalu diletakannya diatas meja.

"Apa maksudnya ini ahjumma?" Mrs. Kim mengernyit tidak suka melihat ketidaksopanan Yunho, namun senyum kecil segera hadir diparasnya.

"Tentu saja, tidak ada maksud lain selain membahagiakan Jaejoong Yunho-ah."

"Ahjumma jangan bercanda! Jaejoong milikku dan aku membahagiakannya!" desisan yang penuh tekanan disana-sini itu membuat Mrs. Kim mengeluarkan ekspresi sinisnya yang tidak pernah ditunjukkan ke orang lain.

"Bercanda kau bilang? Kau yang bercanda Yunho-ah! KAU TIDAK MEMBAHAGIAKAN JONGIEKU!" teriakan itu membuat Kitamura tersentak dan menggenggam tangan Mrs. Kim menenangkannya.

"Kau sebaiknya pergi dengan keegoisanmu Yunho-ah! Pergi! Aku sangat kecewa padamu!"

"Ahjumma, jangan membuatku bertindak kasar! Jaejoong tidak mungkin bahagia selain bersamaku!"

"Apa yang membuatmu begitu percaya diri Yunho-ah? Jaejoong tidak mungkin bahagia bersama orang yang tidak bertanggungjawab sepertimu, membiarkan Jaejoongku hamil tanpa diketahuinya hingga 4 bulan dan berniat membiarkannya menanggung sendiri kehamilannya. Kau memang benar-benar berniat membuat Jongieku terluka oleh masyarakat karena statusnya sebagai male pregnant. Atau kau malu karena jongieku namja yang bisa hamil hingga terus mengulur waktu hah?" nada sinis itu sama sekali tak membuat Yunho gentar, ia tetap berdiri kaku ditempatnya.

"Ahjumma terlalu berlebihan, aku pasti bertanggungjawab nanti. Kedatanganku disini untuk menegaskan jika Jaejoong milikku! Jadi jangan ahjumma berani mencoba memisahkan kami! Aku pergi!" Kitamura menggigit bibir gugup melihat Yunho berbalik pergi, 'oh tidak, masa depanku!' jeritnya pilu dalam hati ketika Yunho mulai menghilang ditelan lorong panjang jalan menuju pintu utama.

"Silahkan kau mengancamku sesukamu Yunho-ah. Aku sudah tua, matipun tak masalah. Yang pasti kau akan melihat Jaejoong membencimu setelah itu. Dan ucapkan selamat untuk Kitamura, karena besok aku akan menikahkannya dengan Jaejoong. Lebih cepat lebih baik bukan? Karena Jaejoong akan lebih cepat melupakanmu." Ucapan Mrs. Jung sukses membuat langkah Yunho berhenti dan berbalik menatap tajam Mrs. Kim

"Ahjumma! Jangan berani—"

"Terserah, aku tidak peduli pada namja tak bertanggung jawab sepertimu,"

"Ahjumma..."

"Kau bisa memukulku Yunho-ah, dan kupastikan tak ada cinta lagi dimata Jaejoong untukmu."

"Ahjumma..."

"Pergilah Yunho-ah, aku akan mengundangmu dipernikahan Jaejoong nanti."

"Ahjumma..."

"Per—"

"Kenapa Ahjumma sangat memaksa kehendak padaku..." lirihan dengan kepala tertunduk itupun akhirnya membuat Mrs. Kim tersenyum lembut. Jung Yunho itu sangat keras kepala dan memang memiliki pendirian yang sangat kuat.

"Karena kau sangat menyebalkan!"

"Ahjum—"

"Aish berhentilah memanggilku! Kemari kau napeun namja, aku ingin berbicara serius padamu!" Yunho dengan kepala yang tertunduk pun berjalan hingga berada dihadapan Mrs. Kim. Lalu segera ditarik tubuh beruang itu hingga duduk disamping Mrs. Kim dengan tarikan kuat tangan kurusnya.

"Napeun namja, beraninya kau berteriak dan mengancamku!" desis Mrs. Kim dan menjewer telinga kanan Yunho keras hingga si punya telinga meringis sakit. Mata sipit Mrs. Kim segera membentuk lengkung sabit bahagia ketika mendengar ringisan itu. Tatapan bahagianya pun terarah ke Kitamura yang tersenyum syukur karena masih ada kesempatan untuk hidup tenangnya.

"Kitamura-ssi pergilah. Untuk selanjutnya serahkan semuanya padaku, kau tidak perlu khawatir." Kitamura mengernyit ingin menolak, namun tatapan meyakinkan Mrs. Kim membuatnya mengangguk dan melangkah pergi. Sedangkan Yunho yang mendengar interaksi Kitamura dan Mrs. Kim mulai curiga namun segera pemikiran itu kandas saat Mrs. Kim semakin menjewernya keras.

Menghela nafas mungkin tidak cukup menenangkan gejolak hati Mrs. Kim. Oleh karenanya diambilnya cawan yang memang selalu tersedia di meja kecil disamping kursi ruang tamu. Dituangkannya air ke dalam dua gelas cangkir porselen dan diserahkan salah satunya ke Yunho.

"Minumlah Yunho-ah, tenangkan emosimu yang meledak-ledak." Yunho hanya mengangguk dan meminumnya pelan. Mrs. Kim bisa melihat mata musang itu sarat rasa takut kehilangan dan rasa menyesal, membuatnya tersenyum kecil melihat tingkah anak muda disampingnya.

"Jadi... jelaskan padaku. Kenapa kau tidak ingin menikahi Jongie secepatnya?" dengan lembut Mrs. Kim menggumamkan pertanyaannya membuat Yunho menoleh dengan sorot yang tak terjelaskan lalu kembali menunduk. Nafasnya yang memburu mulai kembali normal.

"Hey, jawablah. Aku menunggu Yunho-ah. Kau tahu, setelah pertemuan kita di cafe aku menyadari kau berbeda dengan si menyebalkan Tokinawa itu. Jadi mau berbagi cerita agar aku mengerti?" Mrs. Kim kembali bergumam lembut. Suaranya yang lirih menetramkan dan memadamkan api amarah yang meleburkan logika Yunho.

"Mianhae ahjumma, aku... hanya tidak ingin Jaejoong secepatnya jatuh ke keposesifanku. Aku hanya berpikir mungkin sebaiknya aku memberi banyak waktu Jaejoong untuk berinteraksi dengan teman-temannya, tidak terjatuh masa depannya seperti ibuku. Apa aku salah?" Mrs. Kim sejenak terpaku oleh jawaban Yunho, ia bisa merasakan kemantapan disetiap kata yang terlontar dari pemuda yang terus menunduk itu.

"Mungkin ahjumma tidak tahu, pertama kali aku mengetahui Jongie hamil akupun ikut syok. Apalagi dengan kerentanan kehamilan namja yang Hanya karena stress dan tekanan batin yang berat walau hanya dalam waktu relatif singkat dapat membuatnya keguguran. Dan Sekarang, aku merasa tertekan ahjumma. Sudah 2 kali aku hampir kehilangan Jongie karena perbuatanku. Pernah aku ingin melepaskan Jongie, tapi ternyata aku tak bisa melepaskannya."

"Ahjumma, tolong jangan berpikir aku tak memikirkan perasaan Jaejoongie. Aku memikirkannya hingga rasanya aku ingin mati. Aku ingin menggugurkan kandungannya diam-diam tapi aku takut dia membenciku. Aku ingin mengatakan dari awal jika dia hamil, tapi rasanya sulit sekali. Aku takut mengetahui keanehan pada tubuh namjanya, ia akan tertekan dan akhirnya dua sosok yang kupertahankan itu menghilang dari hidupku. Ahjumma..." penjelasan itu terus keluar dari sela bibirnya yang bergetar. Wajahnya tetap menunduk hingga orang tak akan tahu ekspresi apa yang terpasang diwajah tampan itu.

Mrs. Kim terus mendengarkan dengan baik, senyum teduh menghiasi wajahnya mendengar kejujuran itu. Diusapnya rambut Yunho pelan.

"Jika Tokinawa dengan pemikiran jangka pendeknya, maka pemikiranmu dalam porsi yang terlalu panjang dan ke depan Yunho-ah. Kau terus berpikir kemungkinan terburuk yang akan terjadi pada Jaejoong tanpa memikirkan kemungkinan buruk padamu dan orang lain. Yunho-ah, Jaejoong tak selemah itu. Buktinya sampai saat ini dia masih ada dunia ini bukan? Dan harusnya kau tak perlu ragu dalam bertanggungjawab, kau tak akan mengubah hidup Jaejoong. Kau tak taukan Yunho-ah, jika selama ini Jongie tak memiliki teman? Kematian Youngwoonie benar-benar mengubah hidup putraku Yun-ah." Yunho menoleh, wajahnya yang pucat menatap tidak percaya pada Mrs. Kim.

"Itu tidak mungkin ahjumma, aku melihat sendiri jika Jongie memiliki banyak teman. Dan sering berinteraksi dengan namja chubby yang jika tak salah bernama Junsu." Mrs. Kim tertawa kecil mendengar bantahan Yunho, wajahnya mendongak. Menatap jauh kedepan mengingat masa lalu.

"Jaejoongku itu anak penurut, dia selalu mendengarkan semua orang yang dekat dengannya termasuk Youngie. Aku masih sangat ingat, dulu sehari sebelum kejadian naas itu. Youngie memakai gaun merah yang sangat indah walau wajahnya tak menunjukkan kebahagiaan sama sekali. Raut terluka, pipi tirus dengan tubuh kurus, aku masih mengingatnya dengan Jelas. Aku bahkan masih ingat, dia yang pergi ke kamar Jaejoong yang saat itu berusia 13 tahun. Lalu setelahnya memelukku dan mencium pipi suamiku dan mengatakan jika dia sangat bahagia. Lalu dihari berikutnya aku melihat, gaun merah yang digunakan anakku itu semakin merekah merah. Gaun panjang itu menghiasi lantai kamar mandi bagai kelopak bunga mawar dipagi hari. Sangat indah dengan tubuh anakku yang seputih salju namun menyakitkan karena memutuskan nadi kehidupan Youngie. Dan sejak itu Jongieku berubah, ia terus membatasi pergaulan hingga tak ada orang yang dapat berteman dengannya. Namun 2 tahun terakhir, aku melihat Jongieku yang seceria dulu. Mengatakan dengan semangat jika jantungnya berdetak dengan kencang pada seseorang. Mengatakan dengan malu-malu kucing jika ia mulai suka dengan acara bergosip karena mendekatkan dirinya pada orang yang disukainya yaitu kamu, Yun-ah. Cinta mengembalikan Jongieku yang dulu dan aku sangat mensyukurinya."

"Ahjumma,"

"Yunho-ah kau tak perlu takut. Sekarang aku sangat menyadari, Jongie tidak akan tersakiti dalam tanggungjawabmu. Segala keposesifanmu dalam kehidupan sosial Jongie tidak akan membuatnya tersakiti. Aku malah percaya, kau bisa mengembalikan jongieku yang dulu. Kau bisa membuat Jongie dapat memilih teman yang tepat hingga ia tak terus terpaku pada masa lalu." Yunho terdiam mendengar pemaparan penuh harapan Mrs. Kim, dalam dirinya seolah bergolak ingin menyampaikan sesuatu.

"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Youngwoon? Aku tidak mengerti sebenarnya apa yang membuat keluarga ahjumma menjadi seperti ini. Saat itu aku..."

"Kau telah berada diluar negeri Yun-ah. Hal itu terjadi setahun setelah pertunanganmu. kau mungkin tak menyadarinya, karena memang aku bersama Sooie menyembunyikan ini hingga baru setelah kau pulang ibumu itu ku ijinkan memberitahu kematian Youngie. Semua permasalahan ini bermula dari rasa iri. Youngie, tidaklah berbeda dari Jaejoongie. Dia sangat berbakat dalam memainkan piano dan biola, memiliki suara merdu dalam menyanyi. Ditunjang kecantikannya. Semua orang memujanya, dan anakku yang sangat suka berinteraksi dan mengenal orang baru tentu saja menanggapi semua itu. "

"Hidup bergelimpangan perhatian orang lain, siapa yang tidak iri? Hingga hari itu tiba, kontes anak Senior High dalam ajang bergensi. Aku tidak tahu apa yang terjadi dalam ajang itu, hingga anakku sama sekali tak mendapat kemenangan sedangkan juara dari kontes itu sendiri adalah sahabat anakku. Yang jelas, semenjak itu Youngie berubah, ia menjadi pendiam dengan mata yang menyorotkan luka. Keadaan itu terus berlangsung dan Youngie sama sekali tak membaik, dia bahkan sesekali mengamuk dengan berteriak-teriak hingga kami akhirnya membawanya ke psikiater. Dan pada akhirnya kejadian naas itu terjadi, putriku bunuh diri yang membuat suamiku terkena serangan jantung dan ikut menyusulnya. Aku dan jongie tidak menyalahkan Youngie atas kematian suamiku, itu semua memang takdir Tuhan yang harus kuhadapikan?" airmata terus menuruni pipi tirus Mrs. Kim disetiap ucapannya, kesedihan sangat pekat membayangi bola matanya dan Yunho menyadari itu.

"Ahjumma Kim mianhae, harusnya aku tidak membahas itu. Aku... aku akan segera menikahi Jaejoong. Walau sebenarnya aku tidak yakin ini keputusan tepat atau tidak. "

"Tidak apa-apa, sebaiknya kau ke ke kamar Jongie, dan tanya pendapat anakku itu. Kalau memang Jongie mau menikah setelah melahirkan. Ahjumma akan coba menerimanya."

Yunho mengangguk, ia bisa melihat Mrs. Kim yang menampilkan raut frustasi menghadapinya. Segera ia beranjak berdiri dan mulai melangkah mendekati anak tangga untuk menuju kamar Jaejoong namun sebersit pertanyaan melintas dikepalanya hingga membuanya menghentikan langkah.

"Ahjumma, bukankah ahjumma akan menikahkan Jaejoong dengan Kitamura? Kenapa tetap memberi kesempatan seolah semuanya terserah padaku?" mendengar pertanyaan Yunho, Mrs. Kim tersenyum geli ditatapnya jenaka Yunho.

"Itu kado dari eommamu karena kamu sangat menyeballkan Yunho-ah." Mendengar jawaban Mrs. Kim membuat Yunho mengeraskan wajahnya dan kembali berbalik pergi, dikepalanya mulai memilah-milah hukuman apa yang tepat untuk eommanya itu. Namun langkah Yunho terhenti ketika matanya menangkap bingkai Foto seorang gadis remaja yang terlihat sangat bahagia menunjuk tumpukan hadiah untuknya. Gadis itu memiliki paras cantik dengan rambut panjang yang tergerai, sekilas wajah gadis itu mirip Jaejoong namun dengan bentuk wajah yang lebih oval. Disentuhnya pelan bingkai foto itu,dan dibacanya pelan tulisan kecil kanan bawah foto tersebut, lalu senyum samar terbentuk di bibir hati Yunho.

Kim Youngwoon 2.1 (Happy 17th years old ^^)

Yunho kembali melanjutkan langkahnya, di setiap langkah menaiki undakan tangga, keping-keping memori masa lalu menyeruak ke otaknya. Membuatnya kembali mengingat, awal pertemuan dengan Youngwoon sekaligus hari terakhir dia berada di korea. Ibunya yang penuh kelicikan, mengenalkannya dan langsung menunangkannya, Yunho bahkan sampai saat ini masih menyimpan cincin tunangan yang memang dulu selalu melingkari jari manisnya.

Pada hari itu musim gugur. Yunho mengingatnya, pada hari Yunho dikenalkan pada sosok gadis berumur 16 tahun pepohonan kehilangan daun-daun hijaunya. Jatuh dengan indah karena tertiup angin. Yeoja yang selalu tersenyum, menyambutnya semangat dan terus memeluk erat lengannya seolah takut kehilangan. Saat itu Yunho yang berumur 17 tahun tak mengerti apa yang terjadi. Kenapa gadis berkulit putih itu selalu mengatakan jika ia calon suaminya? Dan semuanya terjawab ketika ibunya memberikan 2 cincin emas putih tanpa ukiran untuk dipakai di jari manis dirinya dan gadis itu

Awalnya Yunho tidak terima, ia ingin menolak. Tapi gadis itu dengan seenaknya menarik tangannya dan dengan berjingkrak-jingkrak memasang salah satu cincin itu ke jari manisnya. Tadinya ia hanya diam, malas menanggapi. Tapi melihat gadis itu mulai menangis karena keterdiamannya akhirnya membuatnya memasangkan cincin ke jari manis gadis itu. Semua orang di halaman belakang kediaman keluarga Kim terlihat sangat bahagia,adiknya yang berumur 6 tahun bahkan langsung menyerbu makanan, sangat berbeda dengannya. Hingga Yunho melihat mata bulat anak lelaki terus menatapnya. Dedaunan keemasan yang jatuh dibelakangnya membuat Yunho terpesona, ada getar asing yang menggema didadanya. Tanpa sadar Yunho mendekati anak itu, dan ditatapnya mata bulat yang juga tak kalah dalam memandangnya.

"Kamu yuno-oppa yang sering dibilang noona ne?" intonasi penuh kepolosan menggema digendang telinga Yunho, membuatnya semakin dalam menatap sosok namja kecil itu.

"Yunho,"

"Yuno?" Yunho terdiam, tak menanggapi namun senyum sangat tipis terpasang dibibirnya. Diusapnya lembut pipi memerah anak kecil yang tak disadari mencuri hatinya.

"Yunho oppa!" pekikan sedikit melengking itu membuat Yunho menoleh, ditatapnya tunangannya yang berlari menghampirinya dan terus tersenyum manis.

"Oh oppa sedang mengobrol dengan Jongie ne? Ah kalo begitu ayo kita ke taman umum dekat sini bersama, Aku ingin berfoto bersamamu! Pasti teman-teman iri melihatku memiliki tunangan sangat tampan, aku tak sabar memamerkan fotonya." Yunho mengangguk, ia tidak mau melihat gadis tunangannya itu kembali menangis karena diabaikannya. Dibiarkan tangannya digenggam tunangannya erat.

Yunho menoleh, menatap Jaejoong yang masing menatapnya. Diulurkan tangan kanannya yang bebas ke anak kecil itu, lalu dibalas uluran tangan mungil Jaejoong. Hingga kedua tangan berbeda ukuran itu saling menggenggam.

"Yuno-oppa..." lirihan anak itu membuat Yunho kembali tersenyum.

"Harusnya kamu memanggilku Yunho-hyung adik kecil."

Tiga anak manusia itupun melangkah pergi bersama, dengan jalinan takdir yang mulai berputar melingkari sendi-sendi kehidupan mereka.

Oo0oO

Jaejoong semakin menenggelamkan dirinya dalam selimut, ia tak menyengka hidupnya akan seaneh ini. Mata doenya memejam, jujur ia ingin kembali menangis. Tapi itu akan membahayakan kandungannya, dan jaejoong tak menginginkan hal itu. Dengan perlahan tangannya terangkat dan mengelus lembut perutnya. Jaejoong benar-benar tak menyangka, jika Yunho adalah tunangan noonanya. Orang yang sama dengan yang selalu dielu-elukan bangga noonanya. Apa noonanya diatas sana marah melihatnya dan tunangannya seperti ini? Membencinya? Membayangkan perasaan noona, sangat membuat Jaejoong terbebani. Ia tak ingin melukai Youngie-noona yang sangat disayanginya, tapi ia tidak mungkin melepaskan Yunho. Walau mereka sudah putus, tapi ia hamil anak Yunho!

Ckrek

Suara pintu yang terbuka membuat Jaejoong menahan nafas, ia bisa mendengar suara langkah kaki yang memasuki kamarnya dan suara pintu yang dikunci setelahnya.

"Jongie, mianhae." Suara itu semakin terdengar keras, dibarengi dengan kasur yang berderit dan sepasang lengan yang memeluknya. Jaejoong menggigit bibirnya pelan, rasa khawatir menyeruak didadanya.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan Yunho." Selimut yang membungkusnya tertarik, hingga wajah Jaejoong terpampang dengan jelas dihadapan yunho yang berada diatasnya.

"Lusa kita akan menikah, apa kamu senang?"

"Bukannya kamu tidak ingin menikahiku?"

"Apa kamu tahu diperutmu ini ada uri aegya?"

"Bukannya kamu tidak ingin aku mengetahui kehamilanku?"

"Hey kamu marah Jaejoongie?" Yunho mengelus pipi Jaejoong namun segera ditampik namja cantik itu.

"Kenapa tidak memberitahuku dari awal Yunho?"

"Kemana panggilan manismu baby?"

"Bukannya kamu yang melarangku berkata manis?" sejenak Yunho tediam. Lalu dicengkramnya pipi Jaejoong dan diciumnya dalam bibir mencebil itu membuat Jaejoong mengerang protes dan mendorongnya kuat.

"Masih marah?" Jaejoong tak menjawab, ia tetap mengalihkan wajahnya ke arah lain.

"Semuanya ku lakukan karena aku takut kehilanganmu Jongie... Because I Love You, You're Mine..." Jaejoong menatap dalam mata musang yang menyorot penuh ketulusan kearahnya, senyum tipis menghiasi bibir cherrynya. Satu kata cinta sudah cukup membuat Jaejoong memaafkan semuanya. Segera ditariknya kasar tengkuk Yunho dan dihisapnya kuat bibir bawah Yunho, tidak ketinggalan gigitan kerasnya hingga bibir itu berdarah.

"Nado Saranghae." Jaejoong tersenyum puas ketika melihat darah mulai menuruni dagu Yunho.

"Panggilan manisnya? Waktu itu aku hanya sedang sangat marah. Aku merindukan panggilan manismu joongie."

"Ne, Yunie saranghae!" Yunho tersenyum, dikecupnya kening Jaejoong dan dibawanya tubuh ramping itu ke pelukannya.

"Yunie, lusa kita benar-benar menikahkan? Jadi lusa kita akan melakukan malam pertama?" Yunho bisa melihat kebahagiaan memenuhi bola mata Jaejoong membuatnya yakin memang inilah yang harus dilakukannya. Yang ia harapkan, hanya Jaejoongnya yang tidak menyesal setelah menikah dengannya.

"Jika mau, malam inipun kita bisa melakukan kegiatan menyenangkan itu sayang. Mau?"Jaejoong berkedip, lalu terkekeh. Dipukulnya lengan kekar Yunho.

"Janga bercanda Yunnie." Jaejoong memluk Yunho semakin erat hingga bibirnya sangat dekat dengan telinga Yunho.

"Yunie, aku merasa bersalah dengan Youngie-noona,"

"Semua sudah terjadi, tak ada yang perlu disesalkan. Dan Jaejoongie, apa kau ingi berbagi denganku? Kenapa kau tidak berteman dengan Junsu? Kau tahu, kemarin Junsu mengadu padaku dan terlihat sangat sedih." Yunho rasa sedikit mengarang cerita untuk mengetahui kebenaran itu tak masalah.

"Benarkah Yunie? Aku hanya.. takut."

"Wae Baby?"

"Yunie mungkin tidak tahu, sebelum meninggal Youngie noona menghampiri Jongie. Youngie noona terlihat sangat sedih, dan Jongie bisa melihat matanya sangat terluka. Saat Jongie tanya kenapa, noona hanya tersenyum dan berkata tak ada teman yang dapat dipercaya. Semua orang hanya mendekati untuk mencari celah menghancurkan. Dan noona menyuruh Jongie untuk tidak pernah menaruh kepercayaan pada orang disekeliling jongie walau ,mereka mengaku teman."

"Bagaiman bisa Noonamu berbicara begitu Jongie?"

"Jongie tidak tahu Yunie, aku hanya beberapa kali melihat youngie-noona pulang dengan beberapa lebam yang aku tak tahu didapatnya darimana, juga beberapa kotak merah yang selalu berakhir dibakar noona dibelakang rumah." Otak Yunho mulai menemui titik terang, dielusnya lembut rambut Jaejoong.

"Sekarang jangan takut berteman Jongie. Kau punya aku yang akan selalu melindungiku. Dan aku juga percaya Junsu adalah teman yang akan tulus bersamamu." Jaejoong mendongak, ditatapnya Yunho mencari kepastian. Dan ketika kepastian didapatnya, senyum manispun segera terpatri.

"Aku akan mencoba, jangan pernah tinggalkan aku Yunie,"

"Tentu. Ne Jongie, benar-benar tidak mau?" Jaejoong menatap malu-maalu, lalu dimajukan bibir merahnya hingga membentuk pout imut.

"Kalo bibir Jongie mau deh, soalnya kangen." Yunho terkekeh kecil, sebelum menciumi setiap sudut wajah Jaejoong hingga sang punya ikut tertawa dan terakhir, diciumnya dalam bibir cherry yang sangat menggodanya.

"Ish!Mmmmach!Yun!muammmmuach! Yunie! Jongie nelen darah huweeee..."

End

Epilog (tentang keluarga Jung, tidak dibaca juga tidak apa)

Yunho memasuki rumahnya dengan berbagai rencana pembalasan yang tersusun rapi. Wajahnya yang kaku berseringai kejam. Ibunya harus dapat pembalasan darinya. Namun suara teriakan memekakan telinga membuatnya terperanjat kaget.

"Minnie! Kemarikan ponsel eommaaaa!"

"Nanti eomma! Minnie harus mengirim rekaman ini ke ponsel minnie dulu, Aih aku tidak perrcaya hyung bisa terdengar semelankolis ini hihihi Gundam baru minnie akan mendapatkanmu~"

Yunho menggertakan gigi, eommanya dan saengnya itu sukses membuat beruang mengamuk! Dengan langkah kuat dan setengah berlari dihampirinya ibu dan adiknya. Dan dengan sentakan kuat, direbutnya kedua ponsel laknat menurutnya dan dilemparnya ke kolam taman buatan didalam kediaman Jung.

"KYAAAAAAAAAAA!"

Ah~ indahnya hidup Yunho mendengar tangis darah eomma dan saengnya. Good bye ponsel kesayangan~ lalalala~

End beneran.

Aishi gak bohongkan? Dichap ini yunjae mendominasi~ kan ga ada pair yunhoxeommaKim xD dan Silahkan dipilih~ mana yang mau myreader Aishi post selanjutnya menggantikan Bym? Yang udah Voting, jangan voting lagi ne~ jangan double juga~

Player Bang!

Genre : Romance, and Little humor

Rate : T-T+

Summary : He's a Player Bang! Yang akan menakhlukkan siapapun yang membuat para Queensnya terluka. Apa kalian salah satu Queens yang terluka itu? Jika iya, Ayo kumpulkan para Queens lainnya! Tentukan hukumannya Dan player Bang akan siap beraksi! With simple steps and Bang! Para Quenns hanya perlu duduk dan melihat karma mereka belaku pada sang tersangka! It's so Fun guys! Siap melihat kegilaannya? Yaoi . Yunjae

Cerita ini terinpirasi dari solo Yunho, Bang! Gak ada GS kok, tenang aja.

Another Disaire

Rate : T-T+

Genre : Hurt/Comfort, Horror, Fantasy, And Romance.

Summary : Menjadi yang tersalahkan, apa yang harus membuatku bahagia? Bertahan tanpa pertahanan. Berperang tanpa perlindungan dan senjata. Aku yang malang, tak terharapkan dan hidup di kehangatan neraka. Tetapi Aku benar-benar melihatnya! ketika Air hampir menelanku dalam kegelapan abadi dan telah mengutusku dalam dunia yang asing. Aku Melihatnya yang berparas beku. Teduh namun menyesakkan. Hitam namun menggetaran. Apa yang harus kulakukan? Dibalik kehampaan berkamuflase adictive yang menyeretku dalam banyak misteri. Yaoi . Yunjae .

No vamfic, dibuat erotic namun hanya dalam pembahasaannya. Hewan buas sih, tapi aishi gak tertarik bikin penjelasan nc, smut, lemon apalagi bondage sadistic masokist T.T aishi Cuma pengen jelasin betapa orang bisa sangat terpengaruh akan rasa dicintai, jadi ya gitu deh nanti pembawaannya. Jangan paksa Aishi '' ^^,,

Waktunya balas review~

Lolijae—ok~

Galaxy Yunjae—yup, ini udah lanjut : ) kalo ngerti nanti udah gak asik lagi dong :P biar jd kejutan hihi. Ok~

Jaeho love—maafkan aishi yg lma update T.T hahaha rawrr aku malah gemes sama yg punnya akun :p yup, ini apdetanny. Gomawo penyemangatnya~

Leeyeol—ah iya, semoga suka cerita aishi ne~ tapi yunpa itu sosweet kok hihi. Ok~

Boojaebear2601—yup, ini udah lanjut. Errr ashi gak bisa nullis sepanjang itu dalam satu chap.

Metacho137—yup, jae udah tau. Ok~

Minozme—haha aishi takut para readers bosen kalo aishi kebanyakan narasinya. Jd aku usahain seimbang mungkin. Tp Kalo emang tetep ga jelas pdahal aishi udah putar otak buat sejelas mungkin, aishi menyesal Cuma bisa bilang mianhae. Enggak kok, min gak jelasin masa lalu yunho. Orang pas Yunho tunangan min masih 6 thun. Ah, aishi gak bisa nulis panjang, blum biasa ngetik dan main lappy lama ^^V gak ada gs kok. Ok~. Gomawo udah nyemangatin aku.

Vic89—hahaha udah kejawab dichap inikan?

Cloudyryeorez—ah mian, aishi nytress jd updatenya lma :P yunho emang emosian bnget hihi nanti minnie sama aishi biar ga cemburu jga boleh :D ini udah lanjut~ terima kasiih penyemangatnya~

Ruixi1—haha Ok~ Ok~

1405—anyeong,, salam kenal juga amel-san :D

Zehera iona—yup, aishi mau buat ff baru~ haha kalo syarat itu, aishi gak tau. Zehera puas sama this end? Ok~

Ai Rin Lee—rahasia ah~ :p kalo menurutmu, aku lebih cocok yang mana? Sekarang udah ngerti rencana mrs. Jung belum? Ini udah lanjut Ok~

Jung Jaehyun—appa mah maunya jaejoong dong~ hihi appa serba salah. Ok~

Jema agassi—Yup, udah kejawab~

—ne, Alby. Ok~

Ghighichan twinsangels—no no no no, rate paling mentok T+ aja ne? Aishi gak sanggup, batin blum siap T.T BDSM? Err kasihan umma, jangan ah :3 lagian ini bukan genre berdarah-darah. Mianhae. But tahanks buat penyemangatnya : )

Dims—iya, ini udah lanjut~

—aishi bisa baca banyak, tapi susah ngetik banyak miumiu, udah keungkap dichap inikan?~

Dheaniyuu—dan akhirnya yunjaepun bersama yeey~

jongiDO—hihihi yup, ini udah lanjut~

shinjiwoo920202—hehe tapi udah tuntas kok~ yup ini udah lanjut~ Ok

thanks buat perhatian kalian dicerita aishi ini. Ok~ sebagai tanda Voting kalian udah masuk : )

sampai ketemu di salah satu requestan cerita aishi ne : ) mungkin untuk chap pertamanya aishi akan lama update tapi untuk post2an charpter berikutnya aishi selalu berusaha secepatnya dan gk akan rela aishi buat terabaikan dalam waktu lama. Karena aishi ga pengen kalian kesulitan mencerna cerita karenanya. Okey, salam YJShipper :D which always keep the faith~

Aishi Jung yang super kyutttttt*noprotes