7. Hari kedua, 13.48.
"Jadi, anak-anak, kita akan makan siang terlebih dahulu. Setiap meja diisi dua orang, pilih saja orang yang kau suka."
Yaya yang mendengar perkataan sang guru langsung menarik lengan Ying dan Gopal ke pojokan–seakan-akan ingin membicarakan sesuatu yang amat sensitif. Gadis berhijab pink itu berbisik, "Oke, aku punya rencana."
"Rencananya apa?" Gopal bertanya–kenapa bisa ada dia? Rupanya kawan Boboiboy yang satu ini baru saja ikut dalam rencana menyatukan Boboiboy dan Fang. Yaya menyeringai.
"Kau dengar kan tadi? Guru bilang, setiap meja diisi dua orang–dan tentu saja kalian tahu apa yang aku maksud. Satukan Boboiboy dan Fang!"
Mereka bertiga mengangguk secara bersamaan, lalu berjalan pergi ke posisi masing-masing. Ying dan Yaya duduk bersama seperti biasa, sementara Gopal–
"Gopal, ayo duduk!"
–dia harus memutar otak agar Boboiboy mau duduk bersama Fang.
.
.
Estupido
By : Nataliezore
Disclaimer : Animonsta Studio, Malaysia
Rate : T
Warning : Yaoi, BL, OOC, Bahasa Indonesia, with BBBFang pairing. DLDR. Stay back, I've warned you.
.
.
5. Hari kedua, 08.25 AM.
Babak belur.
Wajah Boboiboy babak belur.
Siapa yang tidak tahu tentang kegaduhan semalam? Semua orang tentu saja tahu. Satpam berusaha melerai Boboiboy dan Fang, tetapi tidak membuahkan hasil, dan yang ada pertengkaran mereka semakin menggila. Saling mengumpat, melemparkan barang-barang–bahkan pegas yang berada di kasur mereka juga rusak.
Boboiboy dan Fang bahkan dengan tidak sengaja mencakar dan melempar gelas hotel ke satpam tersebut.
Satpam itu sempat berteriak, membuat keadaan semakin rusuh. Boboiboy dan Fang bukannya membantu dan meminta maaf malah menyalahkan satu sama lain. Orang-orang terbangun, dan pihak hotel juga ikut gusar.
Mereka meminta Boboiboy dan Fang untuk membayar karena telah mengganggu kenyamanan hotel.
Siapa coba anak SMA yang rela mengeluarkan uang untuk alasan absurd seperti itu? Mending buat beli pulsa, terus internetan seharian. Tapi tentu saja mereka harus membayar–jika tidak ingin ditendang keluar dari hotel secara paksa.
Seluruh murid yang tengah berkumpul di lobby untuk menunggu bis masih asyik membicarakan aksi duo rusuh yang berhasil membuat hotel gempar. Berbagai komentar saling bermunculan, dan itu membuat Boboiboy dan Fang tidak nyaman.
"Aku yang berada satu lantai dibawah mereka dengar, lho! Semalam berisik sekali."
"Kasihan juga harus bayar ke pihak hotel, nanti pulang-pulang nggak bisa bawa oleh-oleh."
"Mereka berdua keren, tapi kalau disatuin bisa gempa bumi juga."
"Ganteng-ganteng kok rusuh, coba kalau kalem dikit–pasti kugebet."
Boboiboy mendengus kesal, dia sendiri tengah duduk di salah satu meja dengan kepala yang bertumpu di sebelah tangan. Wajahnya terlihat kusut–karena masalah uang yang harus dibayar ke pihak hotel, mungkin?
"Galau amat. Kalau uangmu kurang, nanti kutambahin, deh." Gopal yang duduk disebelahnya berusaha memberi semangat–dengan senyuman lebar terpampang di wajahnya. Boboiboy hanya menghela nafas.
"Nggak usah, utangmu kepada Tok Aba masih banyak. Lebih baik kau pakai buat membayar."
Gopal berdecak, memutar kedua bola matanya. "Ya, terima kasih telah mengingatkan. Jadi, kenapa masih murung?"
"Ini tentang Fang," Lelaki bersurai cokelat gelap itu mengambil nafas berat.
Gopal sempat terdiam, memikirkan perkataan Boboiboy. Jujur saja, dia sendiri tidak akan kuat kalau harus melihat kawannya suram seharian gara-gara anak raven sok galak itu. Tiba-tiba sebuah ide terbesit di benaknya.
"Nanti akan kubicarakan dengan Ying dan Yaya. Mungkin mereka bisa membantu."
Boboiboy menelan ludah–sadar karena ide itu bisa jadi adalah ide terburuk yang pernah ada.
6. Hari kedua, 08.26.
Yaya memandang wajah Fang yang agak membiru di beberapa bagian. Gadis berhijab pink itu menghela nafas, kedua tangannya terlipat di depan dadanya. Ia menyenderkan badannya di kursi–wajahnya terlihat sedang berpikir keras.
"Fang, rencana menyatukan kalian ini seharusnya untuk mendekatkan kalian," Jemari Yaya memijat pelipisnya dengan pelan, nada frustasi meluncur dari mulutnya. "bukan untuk menghancurkan sebagian properti hotel–apalagi mencakar seorang satpam."
Ying yang duduk di sebelah Yaya menganggukkan kepalanya dengan semangat–menyetujui perkataan Yaya. "Ini nggak benar, seharusnya berjalan dengan mudah."
"Lalu harus bagaimana?" Fang menghela nafas, wajahnya terlihat murung.
Yaya menepuk pundak Fang, menunjukkan rasa simpatinya kepada lelaki beramat violet gelap itu. mulutnya membentuk sebuah senyuman lembut. "Tenang saja, kami masih punya banyak rencana–dan kupastikan ini berhasil"
Dengan perlahan, senyuman lembut itu berubah menjadi seringaian–persis seperti serigala yang kelaparan. Fang menolehkan kepalanya ke arah Ying, dan gadis itu menunjukkan ekspresi yang sama.
Ini akan mengerikan,
–batin Fang, dengan ekspresi wajah yang sarat akan ketakutan.
8. Hari kedua, 13.56.
Boboiboy terduduk dengan wajah canggung, memandangi Fang yang berada di hadapannya. Lelaki bersurai hitam legam itu tengah membolak-balikan menu, bersiap untuk memesan. Mata berwarna hitam legamnya bergerak seiring deretan makanan yang terdaftar di menu itu. Sepasang manik hazel milik Boboiboy melihatnya dengan tertarik.
Ia selalu berhasil menemukan jutaan bintang menari-nari, bersinar di dalam mata segelap malam milik Fang.
Boboiboy sendiri sebenarnya ingin menyatakan sesuatu, namun akhirnya mulutnya terkunci, ia hanya bisa diam–memutuskan untuk tidak berbicara mengenai apapun. Kejadian dini hari tadi sudah cukup, sungguh.
"LIHAT PAK SATPAM ITU, BADANNYA TERLUKA! INI GARA-GARA KAU!"
"AKU?! SIAPA COBA YANG LEMPAR GELAS TADI?!"
"TAPI KAU YANG CAKAR DIA!"
"BUKAN SALAHKU!"
Dan berbagai kalimat berisi sumpah serapah lainnya terlontar dari mulut mereka berdua. Lagipula, sebenarnya Boboiboy mau menghindari Fang dulu untuk hari ini. Namun, Gopal berhasil membuatnya rela untuk duduk bersamanya.
"Sorry Boboiboy, coba kau lihat mejaku. Aku sudah memesan terlalu banyak makanan–rasanya lapar sekali. Makananmu tidak akan muat. Tuh lihat, meja Fang kosong!"
Entah itu alasan absurd yang sengaja dikarang atau kenyataan, yang pasti Boboiboy tidak menyukainya. Dia tahu benar bahwa ini sudah diseting oleh Ying dan Yaya–yang terlihat tengah memotret meja mereka berdua secara diam-diam.
Dasar fujoshi sableng, batin Boboiboy.
Dan satu hal lagi, lelaki bersurai cokelat gelap itu juga selalu merasakan detak jantungnya yang menjadi tidak beraturan gara-gara Fang. Boboiboy menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan semburat kemerahan tipis di kedua pipinya.
Sementara Fang?
Dia masih saja asyik memperhatikan menu yang dipegangnya. Jarinya perlahan menyusuri daftar menu dihadapannya–sampai sekarang masih belum memilih apa yang ingin dimakannya. Entah karena memang bingung, atau hanya ingin menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah tidak karuan.
Eh?
Memerah tidak karuan?
9. Hari kedua, 14.01.
Setelah memesan makanan, atmosfir berat terasa menggantung diantara Boboiboy dan Fang. Keduanya terlihat tidak ingin angkat bicara–masih merasa tidak enak akan kejadian tadi pagi. Boboiboy mengetukkan jemarinya di meja, sementara Fang asyik bermain dengan handphone yang berada di genggamannya.
Ini sama sekali nggak bagus.
"Hei, bagaimana kita membayar tuntutan hotel tadi? Patungan?" Boboiboy memutuskan untuk bersuara, setidaknya menghilangkan perasaan canggung diantara mereka berdua.
"Hmm…" Fang hanya menjawab dengan gumaman pelan, kedua matanya masih berfokus kepada handphone-nya. Boboiboy mendengus.
"Kau sedang apa, sih?!" Tangan Boboiboy bergerak menarik handphone milik Fang, lalu memandang layarnya dengan saksama–sementara empunya hanya berteriak kesal.
"HEI!"
Boboiboy mengerjap pelan, mendapati sebuah game dengan cara bermain seperti monopoly terpampang di layar handphone Fang. Seingatnya, ini–
"Kau… main Let's Get Rich? Katanya nggak suka, ternyata…"
Fang memutar kedua matanya, telinganya terlihat memanas."Iya, puas? Waktu itu kan belum ngerti, cepat kembalikan! Nanti kena auto, nih!"
Boboiboy menyeringai. "Bagaimana kalau kita battle? Yang kalah bayar tuntutan hotel tadi pagi."
Fang yang mendengarnya hanya bisa terdiam, lalu menimbang-nimbang tawaran tersebut. Kalau patungan memang aman, dia tinggal membayar setengah dari tuntutan hotel–sementara kalau dia melawan Boboiboy, dia bisa saja tidak membayarnya.
Namun ada kemungkinan dia akan membayar semuanya.
Boboiboy masih menunggu, seringai meremehkan terlihat terpampang di wajahnya. "Kenapa, takut?"
Fang tentu saja merasa jengkel, sudut perempatan terbentuk di dahinya. Wajahnya berusaha membentuk sebuah senyuman sarat akan ancaman. "Takut? Tentu saja tidak. Apalagi denganmu, che."
"Okelah, kalau kau ternyata cukup berani. Deal?"
"…deal!"
10. Hari kedua, 14.05.
Fang menyeringai. Dia punya kartu Class S, juga First Place Dice–keduanya sudah level penuh. Dia juga sudah mahir dalam memainkan game yang satu ini. Kalau dipikir-pikir, kemenangan sudah berada di genggamannya. Kira-kira bagaimana dengan Boboiboy? Mungkin kartunya masih C, dengan dadu Basic. Fang terkekeh dengan pemikiran itu.
Akhirnya dia berhasil masuk ke game room dengan Boboiboy. Dia sudah tidak sabar untuk mengecek skill Boboiboy–pasti payah, dia tahu betul. Namun begitu melihatnya–
S+ Card dan Skull dice, dua-duanya sudah full level. Pendant level S, semuanya juga sudah full.
–wajah Fang langsung memucat.
S-sialan!
Boboiboy yang melihat ekspresi Fang hanya bisa menahan tawa. Ia segera menjulurkan lidahnya. "Kau seharusnya melihat wajahmu sendiri," Boboiboy berkata dengan nada meremehkan. "takut kalah?"
"A-aku akan menang. Lihat saja nanti,"
Dan lelaki bermanik hazel itu bisa menangkap rasa takut di nada bicara Fang.
12. Hari kedua, 20.38.
"Sialan, kenapa harus aku yang kalah?!"
Fang masih tidak rela sebagian uangnya harus melayang hanya karena sebuah alasan absurd. Kalah main LGR, lalu harus membayar tuntutan hotel. Ini benar-benar memalukan, serius. Dan apalagi dia kalah dari Boboiboy. Itu menambah nilai minus lagi.
Fang masih saja memasang ekspresi jengkelnya–yang Boboiboy akui, itu memang imut. Lelaki bersurai cokelat gelap yang melihatnya mengeluh sedari tadi hanya menghela nafas, lalu merebahkan badannya ke kasur.
"Sudahlah, sportif saja–lalu akui kalau aku lebih keren dari kau."
"Nggak akan! Walaupun kalah, aku tetap saja lebih populer dari kau!"
"Meh, nggak percaya."
"A–hatchyu!"
Boboiboy menolehkan kepalanya, mendapati rivalnya tengah berusaha mengambil tisu terdekat. "Flu?"
"Nggak," Fang segera mengelap hidungnya, lalu berjalan menuju kotak obat-obatan miliknya. "alergi dingin. Kadang-kadang kalau cuacanya menusuk memang seperti ini."
Fang segera meminum obat alerginya–matanya terlihat berair, dengan hidung tersumpal tisu. Dia terlihat menyedihkan. Boboiboy membuka selimutnya, lalu merentangkan kedua tangannya. "Sini,"
"Ngapain?"
"Sudahlah, cepat kesini."
Akhirnya Fang menurut. Ia segera beranjak ke kasur, dan tiba-tiba–
Hup!
–Boboiboy memeluknya erat, dengan selimut menutupi tubuh mereka berdua. Fang yang kaget sontak wajahnya memanas, mungkin ada asap mengepul keluar dari telinganya. Ia berkata dengan terbata-bata, "A-apaan, sih?!"
"Kalau seperti ini kan lebih hangat," Boboiboy berkata seolah dia merasa biasa saja, padahal jantungnya terasa mau meledak. "diamlah, aku hanya mencoba membantu."
Tidak terdengar suara bersin dari Fang lagi. Sepertinya, anak itu sudah tidak terlalu kedinginan–terima kasih atas tindakan Boboiboy.
"Boboiboy,"
"Hmm?"
"…terima kasih."
Dan Fang mendapati bahwa Boboiboy sudah tertidur pulas–masih dengan posisi memeluknya dengan erat.
.
.
.
.
11. Hari kedua, 14.07.
Yaya dan Ying memperhatikan mereka berdua dari kejauhan dengan wajah gregetan. Satu meja? Sudah. Makan bersama? Sudah. Hanya berdua? Sudah.
KENAPA NGGAK LANGSUNG BILANG SAJA KALAU MEREKA MENCINTAI SATU SAMA LAIN?!
Ying berujar, "Bukannya langsung ngaku, ini malah aduan LGR. Mereka ini gimana, sih?!" Yaya hanya manggut-manggut sebagai respon.
"Aku punya rencana cadangan, besok kita ke Skyway, kan?"
.
TBC
.
A/N : SAYA KEMBALI LAGI~~
Muehehehe, nggak nyangka para warga fandom BBB sekalian memiliki respon yang baik sama fic random saya! Ah terima kasih semuanya, padahal awalnya mau di update minggu depan karena ada tugas bikin makalah yang udah kepepet deadline, tapi akhirnya keburu juga untuk di publish minggu ini~
Terima kasih atas review kalian semua, kalian berhasil mendorong semangat saya! Maaf nggak sempat dibalas satu per satu, tapi saya sudah baca semua review-nya, kok. Semoga nggak kapok baca fic bikinan saya/apa, padahal awalnya fic ini mau saya delete :"D
Mohon kritik dan sarannya, atau mungkin ide untuk chapter selanjutnya, soalnya entah kenapa kepala saya dipenuhi sama tumpukan tugas :")
And the last of all, mind to RnR?
