.

.

.

.

.

Pengorbanan

Chapter 2

Disclaimer Masashi Kishimoto

Story by AngelzVr

Warn: typo(s), author newbie, gaje, dll.

Genre: Romence, Hurt/comfort, Supranatural, Tragedy.

Don't like don't read!

AUTHOR REALLY THANK'S IF YOU LEAVE A REVIEW AFTER READING.

.

.

.

.

.

Hinata hanya menunduk, menatap leher pria itu, ia bingung harus melakukan apa. Sedang Sasuke hanya diam saja, menghembuskan nafasnya tepat diatas poni gadis itu, tangannya tetap mencengkram dagu Hinata, tidak ada pergerakan yang ia lakukan. Jika ada yang melihat, mungkin akan terjadi salah paham diantara mereka.

"Ka...kaki... Tolong sembuhkan kakinya!". Kata Hinata dengan nada lirih.

"...".

"To..tolong, nanti kalau bisa tertolong, aku akan melakukan apa saja! Jadi tolong Naruto-kun, sembuhkan kakinya!". Jarak mereka mulai menjauh, Sasuke melepaskan pegangan jarinya didagu Hinata.

"Kasihan, dikepalamu hanya ada soal pacarmu". Kata Sasuke dengan nada dingin.

"...".

"Sebagai gantinya, apakah kau mau mengorbankan kakimu?".

"A-apa?!". Mengorbankan kakinya? Maksudnya seperti pertukaran?

"Untuk mengubah takdir... Dibutuhkan pengorbanan...".

'Glek'

"Kamu mau?".

'Glek'. Hinata kembali meneguk salivanya, apakah ia mampu hidup tanpa sebelah kakinya?

BRUK!

"Hah?!". Hinata memekik kaget, merasakan sakit luar biasa yang menjalar dikaki kirinya. Rasanya ia ingin berteriak betapa sakit rasanya, dan sekarang, kerongkongannya terasa kering, ia tidak mampu berkata apa-apa! Sedangkan Sasuke? Hinata menatap sekelilingnya, ruang kesehatan yang lumayan besar ini tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Tidak mungkin! Tidak mungkin, Sasuke pergi dan menghilang begitu saja! Pasti ada alasan yang logis tentang hal ini!

"Naruto... Ini sakit sekali..". Hinata menitikan air matanya.

"Aku harap kau mengerti pengorbananku...". Kata Hinata dengan lirih.

"Tolong, kakiku sakit sekali!". Hinata mencoba berteriak semampunya, berharap ada yang mendengar lirihan dirinya.

.

.

"Ini keajaiban! Terus terang, saya pikir tak akan pernah bisa sembuh". Kata dokter itu setelah memeriksa keadaan kaki Naruto, hasil pemeriksaannya cukup mencengangkan, kaki Naruto kembali seperti semula, atau lebih tepatnya patah kakinya sembuh!

"Aduuh dok, kalau sampai tidak sembuh saya bisa mati... Tidak bisa main basket sama saja neraka!". Kata Naruto sambil memberikan cengiran khasnya. Baginya dokter itu terlalu berlebihan, setelah kemarin Kaa-san serta Tousannya mengungkapkan bahwa patah kakinya tidak bisa sembuh sambil menangis, hah yang benar saja? Buktinya sekarang kakinya sudah dinyatakan sembuh total!

'klik'

Pintu ruangan itu terbuka, dan menampakkan wajah Hinata, Hinata sengaja tidak menampakkan kakinya terlebih dahulu, takut membuat Naruto khawatir.

"Hinata? Lihat! Besok aku bisa main basket!". Naruto menyibakkan selimut rumah sakitnya, agar bisa menampakkan kaki kirinya yang sudah bisa digerakkan.

"Hei! Jangan terlalu senang dulu!". Kata dokter itu ketika melihat Naruto yang sudah menggerak-gerakkan kakinya .

Pintu terbuka sempurna, dan menampakkan diri Hinata.

"Hinata?!". Alangkah kagetnya Naruto melihat keadaan Hinata. Ia datang menggunakan alat bantu tongkat, serta kaki kirinya yang diperban sampai lutut.

"Syukurlah...". Hinata tersenyum manis.

"Kamu kenapa?". Tanya Naruto sedikit khawatir.

"Ooh ini, aku terjatuh dari tangga". Ya sangat berbohong.

"Kamu tak apa kan...?".

"Ah, aku tidak apa-apa! Oh ya ngomong-ngomong bisa main basket ya?". Hinata sedikit mengalihkan pembicaraannya, sebelum kebohongannya bertambah banyak.

"Iya..". Jawaban yang singkat, tapi pikiran Naruto terus melayang-layang tentang kondisi Hinata saat ini.

Lebih baik begini... Asalkan senyum Naruto kembali...

.

.

"Eh kau tak lihat kakinya?". Sekelompok gadis yang sedang berkumpul langsung membicarakan Hinata yang datang melewati mereka. Hinata memang sudah tahu dirinyalah yang menjadi bahan omongan mereka.

"Ya betul! Seperti ada yang aneh!".

"Eh anak itu kan mengalami patah tulang yang sama dengan Naruto-kun!".

"Dia sakit, tapi Naruto-kun langsung sembuh!".

"Seperti berkorban menggantikan dia ya?".

"Menyedihkan sekali, ya?".

"Iya...".

Hinata tidak menghiraukan segala omongan orang-orang yang ada disepanjang lorong itu. ia tetap tidak acuh, meneruskan langkah pincangnya yang dibantu tongkat kearah ruang olahraga, untuk melihat Naruto sedang berlatih basket.

Biarpun kakiku sudah tidak bisa dipakai untuk berlari.. Itu lebih baik daripada tidak bisa melihat sosok Naruto berlari lagi... Jauh lebih baik...

Hinata membuka pintu ruangan itu, dan langsung disambut bisikan-bisikan teman-teman Naruto yang tidak suka dengan kehadirannya, dan sepertinya memang benar.

"Hei Naruto, dia datang lagi lho!". Pemuda berambut coklat itu mencoba memberitahukan keberadaan Hinata pada Naruto. Sedangkan Naruto hanya mendengus, lama-lama ia jadi merasa terganggu kalau Hinata terus mengawasinya.

"Sudahlah biarkan saja".

"Eh? tapi? Bukankah dia itu pacarmu?". Kiba hanya melongo, memang sih Naruto sering curhat kepadanya, kalau Hinata lama-lama menjadi membosankan, apakah itu karena keadaan fisiknya yang sekarang?

Akhirnya Naruto menghampiri Hinata, tidak ada wajah senang atau bahagia sama sekali, hanya wajah datarnya saja. Sedangkan Hinata seperti sudah mendapatkan firasat buruk, namun ia segera menutupinya dengan tersenyum manis.

"Tolong.. Jangan menonton latihanku lagi". Naruto menghindari kontak mata dengan Hinata, ia tidak berani jika melihat perempuan bersedih.

"Eh? Tapi... Kan kita tak bisa pulang bersama sampai waktu pertandingan...". Kata Hinata dengan lirih dan menundukkan kepalanya.

"Untuk sementara kita tidak usah bertemu dulu".

"...". Hinata mencoba menahan airmatanya.

"Kenapa? Apa aku...-".

"Matamu itu.. Seperti menempel terus... Hentikan itu.. Soalnya aku jadi merasa terganggu". Apa maksudnya? Memangnya salah apa Hinata?!

"Aku sebenarnya menginginkan hubungan yang ceria... Rasanya sakarang ini suram... Kita bubar saja". Mata Hinata membulat sempurna, maksudnya, hubungan mereka berakhir begitu saja?! Lalu apa arti pengorbanan Hinata selama ini?! Dia yang meminta Naruto agar tetap hidup, dan dia jugalah yang telah menyelamatkan mimpi Naruto, dan sekarang apa balasannya? Apakah masih kurang pengorbanannya?.

"...". Tidak ada jawaban dari bibir Hinata, bibirnya terasa beku untuk mengucapkan sepatah katapun.

"Kalau tidak ada yang mau kau katakan, aku pergi". Naruto pergi meninggalkan Hinata sendirian, dan diikuti oleh Kiba yang menatap iba pada Hinata. Tak terasa air mata lolos dari pelupuk matanya.

Kenapa Kami-sama?! Kenapa kau begitu tega padaku! Aku lelah, aku sungguh lelah, aku sudah melakukan apapun untuk hidupnya, aku melakukan apapun agar mimpinya bisa kembali tercapai, kenapa kau bekukan hatinya?! Tidakkah ia peka dengan keadaanku?! Aku telah berkorban untuknya...!

Air mata terus membasahi wajahnya, ia tidak tahu apa salahnya pada Kami-sama yang selalu memberikan nasib buruk padanya. Hinata tidak berniat untuk meninggalkan ruang olahraga ini yang mulai sepi, karena jam pulang sudah lewat sedari tadi, merenungkan nasib adalah hal yang paling baik saat ini. Padahal yang Hinata inginkan hanyalah cintanya... Ya! Cinta Naruto yang seumur hidup kepada Hinata!

"Hn, kau menangis?". Ujar suara itu. Hinata tidak menolehkan sedikitpun kepalanya untuk melihat siapa yang menyapanya, ia sudah tahu, itu suara Uchiha Sasuke.

"Kakimu sakit?". Tanyanya sekali lagi. Hinata segera bangkit dari duduknya, mendekati pria itu dengan langkah tertatih.

"Hiks.. Aku siap mati, apapun penggantinya boleh diambil, aku menginginkan hatinya...!". Kata Hinaya dengan lirih ini permintaan ketiganya pada Sasuke. Airmata terus mengucur turun dari matanya.

"Aku ingin membuat hatinya terpaku padaku". Ya bisa dibilang ini permintaan paling gila yang pernah keluar dari bibir Hinata, walaupun nyawanya yang dipertarukan , ia tidak peduli, asalkan itu bisa membuat Naruto jatuh cinta seumur hidup kepadanya.

Sasuke hanya diam, dia seperti memikirkan sesuatu.

"Kemarilah". Hinata menurut dan mendekati pria itu. Tiba-tiba, entah sihir apa yang digunakan Sasuke, ketika dirinya hanya tertinggal satu langkah untuk mendekati Sasuke, ruangan itu berubah menjadi... Mungkin tempat upacara. Ditempat mereka berdiri, dilantai itu tercetak seperti gambar bintang serta beberapa tulisan yang tidak Hinata ketahui itu bahasa apa. Tempat itu gelap dan tidak ada cahaya sedikitpun.

"Pengorbanannya adalah hatimu". Sasuke menggambarkan sebuah tanda bintang didahi Hinata menggunakan sebuah benda cair yang baunya cukup menyengat, dan sangat Hinata yakini itu adalah darah...?

Aku pernah melihatnya difilm atau lainnya... Ini adalah suatu upacara... Ya upacara iblis!

"Buka sedikit bajumu". Kata Sasuke dengan nada datar. Sementara itu Hinata hanya menurut saja, seperti dirinya terhipnotis. Perlahan Hinata membuka seragam kemejanya dan akhirnya sebagian bahu Hinata terekspos, tetapi tidak membuat Sasuke tergoda, wajahnya terlihat serius membacakan mantra. Tiba-tiba Hinata sedikit merasakan sakit dibahunya, lalu ia mencoba melirik kebahunya lewat ekor matanya. Ya, sebuah tanda hitam! Bentuknya memang aneh, seperti sebuah tanda perjanjian mungkin?

"Apakah, ada yang berubah dari diriku?". Hinata membetulkan letak seragamnya dan kembali mengancingkannya.

"Mempersembahkan nyawa pada iblis artinya membuang ketulusan hati kepada tuhan... Manusia secara tidak sadar memiliki ketulusan hati terhadap Tuhan".

"...".

"Jika hendaknya mengingkari, rasa takut akan datang mengganggu, Namun sebaliknya, apabila rasa itu dibuang tidak ada sesuatu pun yang tidak dapat dilakukan.". Sejujurmya Hinata tidak mengerti apa yang Sasuke ucapkan, apalagi itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Sasuke ucapkan.

"Maaf aku boleh bertanya sesuatu?". Dan suasana itu kembali seperti semula, ya lapangan basket itu telah kembali.

"Hn".

"Sebenarnya kau itu... Apa?". Hinata sedikit ragu untuk menanyakan siapa itu Sasuke, sebab dirinya selalu bisa mengabulkan keinginannya.

"Pengikut dewa iblis". Sasuke kembali menghilang entah kemana, setelah mengucapkan sepatah kata tadi.

Besok Hinata berencana untuk menguji cinta Naruto, apakah benar pengorbanannya kali ini akan berhasil?

.

.

Hinata terdiam sejenak didepan pintu berwarna coklat itu. Ruangan itu, adalah ruangan istirahat para pemain basket, dan sangat Hinata yakini Naruto pasti ada didalam. Dan tanpa mengetuk, Hinata langsung membuka pintu itu dan benar saja, ia melihat Naruto sedang berdiam diri dan menatap pemandangan yang ada diluar jendela.

"Hinata?". Akhirnya Naruto tersadar dengan kehdiran Hinata.

"Kemarin, maaf ya".

"...".

"Aku tak akan lagi mengganggu latihanmu, tapi aku boleh datang ke pertandingan untuk memberikan dukungan?". Hinata menunduk, berharap perjanjian itu berhasil.

"Tentu!". Kata Naruto dengan riangnya

"Hubungan kita bisa ceria seperti dulu lagi kan?". Tanya Hinata dengan riang.

"Oh iya, seharusnya aku yang minta maaf, semestinya aku bisa maafkan kalau wajahmu sedikit muram, Mudah-mudahan tongkat penyangga itu pun dapat cepat dilepas ya? Tongkat itu tidak cocok untukmu". Hinata menatap tidak percaya pada Naruto, perkataannya seperti sudah membuat Hinata kembali jatuh cinta padanya.

"Dokter juga suka berlebihan sih, patah tulang itu tak masalah! Aku saja bisa sembuh tanpa menggunakan tongkat, dan kamu juga harus bisa sembuh!".

Keceriannya, yang tak punya kepekaan... Orang seperti inilah yang kuanggap memliki kehangatan

Greekk

Hinata segera melirikkan kerah lain, rupanya Sasuke yang sedang menggeser bangkunya. Hinata mengamati gerak-gerik pria itu. Dan akhirnya Sasuke membungkuk agar bisa membetulkan sepatunya. Ya Hinata melihatnya... Ketika Sasuke membungkuk, Hinata melihat bekas hitam yang sama dipunggungnya... Simbol perjanjian dengan iblis, apakah dia juga mengalami hal yang menyedihkan seperti Hinata? Kepedihan yang sampai membuat ingin mati...

"Kamu lihat apa sih?". Naruto sedari tadi merasa sperti tidak diperhatikan.

"Tidak, oh, ya pertandingan nanti kamu harus menang ya!". Hinata memberikan senyum manisnya.

"Ya! Percayakan padaku!". Naruto ikut membalasnya dengan senyum penuh keceriaan.

Tapi, Hatimu sudah menjadi milikku... Seumur hidup, maka sukailah aku

.

.

Hinata berjalan ditengah kegelapan malam, entah apa yang membuatnya memilih untuk berjalan-jalan dimalam hari. Hinata menghirup udara segar dimalam hari, belum lagi matanya disuguhi pemandangan indah dari kota Konoha dimalam hari.

Aneh, dulu segala sesuatu membuatku takut... Dimarahi orang tua... Dibenci teman... Diputus Naruto-kun malam kelam seperti ini, mana pernah aku berani jalan sendiri ... Tapi... Kini aku tidak takut apapun... Indahnya malam ini...

Ssssshhh

Tubuh Sasuke kembali muncul dihadapan Hinata. Hinata tidak kaget ataupun takut, rasa takutnya seperti hilang begitu saja.

"Sedang apa kau?". Tanya pria itu dengan nada datar.

"Melihat keimdahan malam". Hinata tidak menatap pria itu, ia terlalu kagum dengan pemandangan yang disuguhkan dihadapannya.

"Kalau begitu, lihatlah sampai puas". Sasuke sedikit tersenyum.

"Kau tahu? Aku seperti tidak merasa takut pada apapun".

"Karena kau sudah memepersembahkan hatimu pada iblis dan membuang rasa takut pada Tuhan". Jadi begitu? Berarti dia ini termasuk pengikut iblis?

.

.

"Kok lama yah?". Acara pertandingan basket akan mulai 5 menit lagi, tetapi Hinata belum juga datang, padahal dia kan sudah berjanji.

"Hei Naruto! Kau sedang apa! Sebentar lagi mulai nih!". Teriak salah satu rekan setimnya yang sudah bersiap-siap mengatur strategi dan saling menerka-nerka kemampuan lawan.

"Iya, tunggu sebentar".

Tuk Tuk Tuk

Suara derap langkah kaki sudah mulai terdengar dari luar ruang olahraga, Naruto optimis bahwa itu Hinata. Dan benar saja Hinata datang bersama Sasuke, mereka saling merangkul mesra, mungkin orang yang melihatnya akan menyangka mereka itu adalah sepasang kekasih. Mata Naruto masih terpaku pada kedua sosok itu, hati Naruto terasa hancur berkeping-keping. Apalagi ia melihat senyuman yang terukir dibibir Sasuke, padahal dia orang yang sangat jarang mengumbar senyuman.

"Aku datang untuk memberikan dukungan". Kata Hinata sambil tetap merangkul mesra bahu Sasuke.

"Eh?". Naruto masih tidak percaya dengan kejadian yang ada dihadapannya

"Seperti yang Naruto-kun bilang, ternyata setelah mengobrol orangnya memang baik". Ucap Hinata tanpa dosa. Sementara Naruto masih terpaku, dia tidak begerak sama sekali, apakah ini yang dinamakan balas dendam?

Akhirnya pertandingan akan dimulai, Naruto segera berlari kearah teman-temannya. Sepanjang pertandingan Naruto terus tidak fokus, sesekali ia melirik kearah Sasuke dan Hinata, sehingga bola yang ada di tangannya selalu berhasil direbut oleh pihak lawan. Bahkan KHS sendiri terlihat seperti tidak berdaya. Para suporter hanya diam saja, walaupun tetap memberi semangat, namun teriakkannya tidak seperti biasa, semangatnya mungkin telah hilang karena skornya tertinggal jauh dan tidak ada harapan lagi.

.

.

Hasil babak pertama memang mencengangkan, KHS untuk pertama kalinya mengalami kekalahan, entah apa yang membuat tim itu menjadi lemah, mungkin saja ini karena pengaruh sakit hati sang kapten?

Naruto duduk termenung dibangku luar taman, tempat itu cukup sepi untuk menyendiri. Naruto frustasi, hasil pertandingan yang jelek, serta melihat kekasihnya sedang bermesraan dengan temannya.

"Masa sih baru babak pertama pertandingan saja sudah kalah? Padahal kaki kamu sudah sembuh". Kata Hinata yang baru mendekati sang kekasih yang terlihat murung.

"Itu kan salah kamu!". Teriak Naruto frustasi.

"Aku?". Tanya Hinata tetap tanpa dosa.

"Jangan berpura-pura!". Naruto mulai geram dengan sikap Hinata.

"Kamu mau bilang kalau kamu terganggu sampai-sampai tak bisa menang pertandingan? Payah! Kemana perginya Naruto yang biasa?". Kata Hinata nada dingin, tidak ada ketakutan lagi didalam dirinya.

"Kamu... Sengaja ya?! Supaya aku kalah... Iya kan?!".

"Padahal beberapa hari yang lalu kamu baru saja memutuskan aku".

"...".

"Hanya karena aku datang memeberi dukungan bersama cowok lain... Perasaanmu jadi tak stabil... Aku mengira...". Hinata terdiam sejenak, untuk melihat ekspresi Naruto. Yah wajahnya penuh dengan ketakutan.

"Jadi kau sangat menyukaiku lebih dari basket kan?".

"...".

"Kenapa?". Hinata tersenyum manis, bahkan sangat manis, sampai-sampai Naruto semakin ketakutan melihatnya.

"Hentikkan!".

Bruk!

Tanpa sadar Naruto mendorong Hinata. Hatinya terasa aneh saat Hinata mengucapkan itu. Ia merasa ketakutan, sangat ketakutan. Tubuh Hinaya terjatuh, begitu juga dengan tongkat yang menyanggah tubuhnya. Hinaya tidak menangis ataupun ketakutan, justru ia semakin tersenyum.

"Ah". Naruto semakin khawatir, ia bingung harus melakukan apa. Hatinya ingin menyakitinya, tetapi hatinya yang lain menyuruhnya untuk semakin mencintai Hinata. Perasaan apa ini?!

"Naruto... Kamu bisa hidup berkat aku... Dan kamu yang bisa sembuh... Aku yang memintanya pada iblis..". Naruto hanya terdiam, tidak mungkin Hinata yang menyembuhkan kakinya... Tetapi itu mungkin bisa juga... Kaki Hinata sakit setelah kakinya sembuh...

"Kamu tak akan bisa mencintai orang lain... Maka kamu harus mencintaiku seumur hidup".

"Hentikkan...". Hati Naruto bergejolak aneh... Perkataan Hinata seperti menghipnotisnya.

"Kenyataannya sekarang lebih dari segalanya...".

"Tidak...". Naruto justru merasa merinding setiap kata yang Hinata ucapkan.

"Kamu sangat menyukaiku kan?". Hinata tersenyum, tetapi Naruto semakin takut, rasa takutnya tidak beralasan, dan juga rasa takutnya berkali-kali lipat dari biasa.

"Tidaaak!". Naruto mendekati Hinata yang masih terduduk dilantai dan mencengkram lehernya. Tindakannya memang diluar kendali. Naruto menguatkan cengkramannya.

Hinata tidak melawan ataupun berteriak, rasa takutnya telah hilang... Ia tidak takut lagi dengan Naruto.. Wajahnha terus saja tersenyum dan malah membuat Naruto semakin ingin membunuhnya.

Dan akhirnya Naruto melihat Hinata sudah tidak bernyawa. Seperti ada penyesalan didalam hatinya. Naruto melepaskan cengkramannya. Ada bekas lebam dileher Hinata. Naruto menatap tangannya, ia menyesali perbuatannya. Hinata... Sudah meninggal dunia...

.

.

Kamu juga terlihat begitu muram...

Meski begini... Kamu tetap mencintaiku selamanya...

.

BREAKING NEWS

SEORANG SISWA SMA TEGA MEMBUNUH PACARANYA

Selasa, (31/1/20**) Pelaku yang berinisial NN (17) tega membunuh kekasihnya sendiri HH (16). NN sekarang sudah ditahan polisi setempat. NN merupakan seorang kapten tim basket dari salah satu SMA swasta di Konoha. Menurut penuturan pelaku kenapa ia membunuh HH, karena HH berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Kini pelaku dibawa ke Rumah Sakit Jiwa khusus penjahat. Berdasarkan pemeriksaan polisi, NN mengidap penyakit gangguan jiwa. Korban sekarang sudah dimakamkan di taman pemakaman Konoha. Para teman-teman Korban dan Pelaku menyayangkan kejadian tersebut, apalagi pelaku membunuh korban diarea sekolah.

.

.

"Hinata...". Naruto terus meringkuk dipinggiran kasurnya. Ia sangat mencintai gadis itu, tetapi terlambat... Ia sudah mati... Hati Naruto seakan tersiksa ia sangat merindukan Hinata, tetapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Ia menyesal sungguh-sungguh menyesal... Dia bisa gila hanya karena Hinata... Tetapi dia memang gila, polisi memvonisnya memiliki gangguan jiwa.

Naruto tiba-tiba tertawa sendiri, menertawai nasibnya yang gila hanya karena cinta. Tawanya semakin kencang, seperti dia sedang menonton acara komedi. Tapi disini tidak ada hal yang lucu. Hanya dirinya dan kasur rumah sakit jiwa.

"Hiks.. Hiks...". Kali ini Naruto benar-benar menangis. Ternyata dia memang benar-benar gila.

"Hikss... Hinata-chan!". Tangan Naruto seperti ingin menggapai-gapai sesuatu yang ada dihadapannya.

"Hinata-chan JANGAN PERGI!". Naruto menjatuhkan tubuhnya kelantai. Air mata masih mengalir di pipinya. Ia merasa kehilangan... Sesuatu dihatinya telah hilang... Naruto menjatuhkan gelas yang diatas meja. Gelas itu terpecah menjadi beberapa keping. Dan pecahannya yang tertajam segera ia ambil.

"Aku ingin menyusulmu Hinata...".

SREKK

Naruto menggoreskan pecahan kaca itu ke pergelangan tangannya. Sengaja ia tekan beling itu ketika mengenai kulitnya. Darah bercucuran banyak memenuhi lantai rumah sakit itu. Kepala Naruto mulai pusing... Sepertinya inilah detik-detik terakhir nafasnya akan berakhir.

Bruk!

Tubuh Naruto terjatuh bersimbah darah yang terus mengucur ditangannya.

.

.

.

.

.

Akankah mereka bertemu diakhirat?

.

.

.

.

.

End

A/N:

Maaf minna sad ending

Tadinya aku mau bikin happy ending, cuman kayanya terlalu mainstream

Saya Author newbie jadi mohon maaf kalau kata katanya masih berantakan

Silahkan isi kotak review yang ada dibawah ini⇩

Salam hangat,

(=^.^=)