Kaien-Aerknard aka Zhaoyingchan presents

A [Dynasty Warriors] Fanfiction - Folktale AU

[Xu Nuo / Promise]

"Hidup untukmu adalah ikrarku padamu. Apa lagi yang harus ditakutkan setelah kehilanganmu? Hanya untukmu, aku rela menderita oleh perasaan ini; sebuah perasaan yang membingungkanku dengan kehangatan dan pedinya... di antara sakit dan kebahagiaannya..."


The White Snake and the Azure Phoenix

Pemandangan pegunungan Hengduan yang tertutup oleh tirai uap air tipis pagi hari indah bagai lukisan alam; dengan anak-anak sungai Changjiang, Mekong dan Salween yang mengalir dari lereng gunung, padi-padi kuning di kaki gunung dan lapisan putih salju abadi yang menyelimuti puncak pegunungan Daxue.

Keadaan yang sunyi dan tentram menyejukkan hati mahluk hidup penghuni pegunungan. Kicauan burung-burung, gemerisik dedaunan dan rerumputan serta suara kecipak air sungai yang membentur bebatuan turut mengiringi penyambutan sang mentari pagi.

Seorang gadis berpakaian serba putih tengah duduk di atas dahan pohon besar, menikmati kesejukan udara pagi musim semi. Gadis itu bukanlah manusia, melainkan seorang siluman ular putih.

Bagian bawah tubuhnya yang berupa badan ular bersisik putih melilit pada dahan pohon, seakan menjaganya agar tidak jatuh. Gadis itu mendengungkan lagu, badannya bergoyang sedikit, entah karena mengikuti irama atau tertiup oleh hembusan angin lembut.

"Yin Dajie," panggil seseorang dari bawah. Dari suaranya yang dalam, dapat diketahui bahwa suara itu adalah milik seorang lelaki. Siluman ular putih bernama Cao Yin itu menghentikan dengungan, beralih menunduk ke bawah untuk melihat siapa orang yang telah memanggilnya. Ia tersenyum, melambaikan tangan kanan padanya. Lelaki di atas permukaan tanah menghela nafas. "Dajie. Sudah kuperingatkan berapa kali; kau tidak boleh berada di tempat terbuka seperti ini," ia lalu melompat ke dahan yang tepat berada di atas gadis itu. "Pemburu dari seluruh negeri tengah mengincar kita berdua semenjak terciumnya keberadaan kita oleh Kaisar sialan itu."

"Zihuan... santai saja dan nikmati cuaca pagi ini!"

"Mudah bagimu untuk mengatakannya," lelaki bernama lengkap Cao Zihuan alias Cao Pi itu duduk kala melanjutkan, "kalau kau tertangkap, jangan harap aku sempat menolongmu saja."

Gadis itu sudah terbiasa dengan cara berbicaranya yang kasar. Ia tahu bahwa sebenarnya dibalik kata-kata pedas itu, Cao Pi amat peduli pada keselamatannya. Ia bukannya ingin menyusahkan adiknya itu, tetapi kesejukan pagi hari sangat sulit ditolak olehnya. Lagipula, ia sendiri juga was-was dengan sekitarnya.

Sang Kaisar yang tengah dibicarakan oleh mereka adalah seorang Kaisar yang diktator. Ia tidak segan-segan memaksa rakyatnya sendiri bekerja tanpa upah dan istirahat untuk melanjutkan pembangunan Tembok Sepuluh Ribu Li di utara. Banyak yang mati dalam proyek itu; entah oleh kelaparan atau siksaan para tentara yang mengawasi proyek, namun Kaisar masih menutup mata, berlagak seolah nyawa mereka hanyalah bagai semut-semut pekerja yang pantas dikorbankan demi berjalan era-nya ini.

Dan ia memiliki sebuah hasrat untuk hidup abadi. Ia ingin membuat sebuah ramuan keabadian, dan untuk membuatnya, ia membutuhkan mangkok giok dari Pagoda Langit, mata air dari Taishan, darah Phoenix Biru dan darah Ular Putih. Itulah alasan mengapa keduanya diincar dengan ganjaran yang sangat tinggi. Darah dari kedua mahluk mistis itu semakin mudah didapatkan oleh para pemburu, terutama karena mereka selalu mendampingi satu sama lain.

Cao Yin adalah si Ular Putih, sementara Cao Pi adalah si Phoenix Biru.

Keduanya pun tidak sudi memberikan setetes darah mereka padanya; jikalaupun si Kaisar itu adalah seorang Kaisar yang baik.

"Zihuan!" seru gadis itu tiba-tiba. "Aku melihat sesuatu yang menarik!" ia menunjuk ke lereng gunung.

...Apa lagi kali ini, batin Cao Pi, menggeleng lelah. "Apa? Panda hijau?"

"Bukan!"

Cao Yin melompat turun, berlari menuju tepi jurang dengan semangat yang dimiliki seorang prajurit berani mati. Sementara Cao Pi sekali lagi menggeleng kepala, mengurut dahinya. Sepasang sayap berbulu biru tumbuh di punggungnya, salju-salju keluar dari setiap bulunya. Dibuka sayapnya lebar-lebar, memperlihatkan betapa megahnya sayap seekor Phoenix. Ia melompat, terbang menuju tempat kakaknya kini berada.

"Zihuan, kau lihat itu!"

Cao Pi mengalihkan atensi menuju arah yang ditunjuk oleh jari si gadis Ular Putih, mendapati tiga orang pemuda sedang mendaki gunung. Ia lega mendapati ketiganya tidak membawa senjata tajam, itu berarti mereka bukanlah pemburu. Paling hanya tabib-tabib yang sedang mencari tanaman obat. Tetapi, apa yang membuat kakaknya sampai sesemangat ini?

"Kau lihat lelaki yang bertubuh paling tinggi itu," ujarnya, masih tidak mengalihkan mata dari pria yang ditunjuknya itu, seperti seseorang yang sedang mengagumi giok terindah di kolong langit.

Cao Pi mengangkat alis. "...Jangan bilang dajie menyukainya."

Spontan, wajah Cao Yin memerah, kontras dengan dirinya yang berpakaian serba putih. Darahnya mengalir semakin cepat seiring dengan detak jantungnya yang menambah kecepatan dalam setiap detik. Hatinya tergelitik oleh sebuah perasaan hangat, jauh lebih hangat dari apa yang musim semi berikan; juga oleh kegugupan yang membuat semuanya terasa… aneh… tetapi nyaman… Tidak pernah ia rasakan perasaan baru semacam ini selama ratusan tahun hidupnya.

Apakah ini yang dinamakan 'Cinta', batin si Ular Putih.

"Deng dai yuan feng xu yao qian bai nian

Ai yi ge ren jiu zai yi shun xian"

"Dia tidak lebih dari pria bertampang tolol," dengusnya.

Cao Yin menoleh, mengernyitkan dahi. "…Kau selalu mengatai orang-orang seperti itu…"

"Kenyataan," balasnya singkat, padat, nan jelas.

Gadis itu tidak menghiraukannya, sepasang matanya menatap lekat tiap gerakan dari pemuda yang mencuri seluruh atensinya. Ia lihat pemuda itu berpisah dari dua temannya, berjalan mendekat, sesekali membongkar semak-semak, mencari tanaman obat. Mendapati kakaknya yang tidak bisa memutus perhatian pada pemuda itu, Cao Pi mengurut dahinya untuk kesekian kalinya hari ini.

"...Aku ingin berkenalan dengannya..."

Gumaman itu pelan, namun Cao Pi tidak salah dengar. Cao Yin menoleh, sepasang matanya memelas. Cao Pi berdebat dengan dirinya sendiri; apakah ia harus menuruti atau menolak keinginan sang Kakak? Setelah melalui perdebatan yang sangat lama bagai melalui seribu tahun, ia angkat tangan pada tatapan memelas dari kakaknya itu.

"Hah... baiklah," jawabnya setengah niat.

Bukan main senangnya perempuan itu. Ia melompat sekali, dua kali sambil memekik kegirangan. Cao Pi datar menanggapi tingkah kakaknya yang memang harus ia akui, kekanak-kanakan. Tetapi, sifat kakaknya yang satu inilah yang mencerahkan hari-harinya, meski terkadang membuatnya kesal sendiri.

Dan sekarang, Cao Pi heran pada kakaknya yang tiba-tiba diam seperti patung. Pasalnya... ingin berkenalan, namun sedaritadi tidak maju-maju.

Tian a... dajie...

"…" Cao Pi membungkukkan badan, mengambil sebuah batu sebesar kepal tangan. Sang Kakak sempat melihatnya, bertanya di dalam hati apa gerangan yang akan dilakukan oleh sang adik. "Biar kubantu dajie untuk sekedar menyapanya."

Cao Pi mengambil ancang-ancang, sepasang matanya menatap setajam elang yang tengah membindik mangsanya. Cao Yin sadar apa yang hendak dilakukan oleh adiknya.

"Zi-!"

Namun naas, adiknya jauh lebih cepat dibanding reaksinya. Sepasang mata biru muda perempuan itu mengikuti arah melayangnya batu yang tertelan oleh lebatnya dedaunan hijau. Sesaat kemudian, terdengar teriakan seorang pria, cukup keras hingga mengejutkan para burung yang masih beristirahat dalam sarangnya. Disusul dengan tubuh si peneriak yang tidak lain adalah pria yang ditaksir oleh sang Kakak itu jatuh dari tebing, langsung dilalap oleh anak sungai Changjiang yang mengalir deras di bawah.

Si Ular Putih tanpa berpikir panjang segera terjun menyusul pria itu ke dalam sungai tanpa memedulikan keselamatannya sendiri. Sedangkan Cao Pi terpana mengagumi hasil perbuatannya di atas sebelum terbang ke bawah untuk memastikan keselamatan kakaknya. Ya… aksinya sendiri tadi juga adalah sebuah perbuatan nekad yang tidak pakai pikir panjang juga.

Air bukanlah masalah bagi Cao Yin yang seorang siluman ular. Dengan alat geraknya yang berupa tubuh ular, Cao Yin dapat dengan mudah membelah dinding air kebiruan yang membatasi ia dengan pemuda yang tenggelam itu sebagaimana panah yang melesat membelah udara. Ia melesat secepat yang ia bisa, berhasil menangkap tubuh pemuda yang tidak berdaya di dalam air itu.

Didapatinya kondisi pemuda itu yang berada di ambang batas antara hidup dan mati. Dan hanya ada satu cara untuk menyelamatkan nyawanya.

Maka, bermodalkan keberanian dan keinginan untuk menyelamatkan pemuda yang dicintainya, Cao Yin maju, mempertemukan sepasang bibirnya dengan sepasang milik pria itu sembari perlahan membawanya ke permukaan sebab tubuh pria yang ditolongnya ini ternyata berat juga.

Kecupan yang dilakukan olehnya bukan karena ia ingin mengecupnya, melainkan untuk menyelamatkan nyawanya dengan cara mengalirkan sedikit chi ke dalam tubuh si pemuda malang itu.

Cao Yin merangkul erat tubuh pria itu dengan sepasang tangannya, menyandarkan sisi kiri kepalanya pada dada bidangnya. Ia bisa mendengar detakan jantung yang mulai harmonis, dan ia menyukainya. Sepasang matanya dipejamkan, indera pendengaran dan perasaannya dimanjakan oleh setiap detak jantung.

Tidak diketahuinya bahwa pria itu telah sadar dan meski dalam kondisi 'mengumpulkan nyawa' serta penglihatan yang berbayang-bayang, pria itu masih sanggup melihat jelas wajahnya sebelum kembali tidak sadarkan diri.

Setelah beberapa saat, kepala keduanya menyembul keluar ke permukaan air. Cao Yin menarik napas dalam, memerhatikan wajah tampan pria tersebut yang memasang sebuah eskpresi seperti sedang tertidur.

"Syukurlah dajie tidak apa-apa."

Cao Yin menengadah, mendapati adiknya yang telah berubah sepenuhnya menjadi seekor Phoenix terbang merendah. Dengan sepasang cakarnya yang kuat, ia mengangkat kakaknya beserta pria yang telah ditolongnya ke tepi sungai.

Cao Yin membenarkan posisi rebah pemuda itu, kemudian dengan ujung-ujung jemari tangan kanan, ia menyentuh batang leher si pemuda. Ia menghela napas selega seseorang yang baru saja bebas dari hukuman pancung. Orang itu masih hidup.

"Ini semua salahmu, Zihuan!" Cao Yin tidak dapat tidak menyalahkan adiknya itu.

Sementara Cao Pi hanya mengangkat bahu, berkata, "Aku hanya ingin membantu dajie saja. Tidak kusangka ia berakhir jatuh ke sungai."

Cao Yin hendak membalas namun harus dibatalkan niatnya untuk mengomeli sang adik. Suara teriakan terdengar dari kejauhan, menandakan bahwa kedua teman dari si manusia yang tengah pingsan itu sedang menuju tempat mereka berada.

Cao Yin tidak memiliki opsi selain segera meninggalkan lokasi dan menyerahkan sisanya pada Tian.

Ketika kedua teman pemuda itu sampai, hanya ada si pemuda yang dicari oleh mereka di sana, tidak ada tanda keberadaan manusia lain selain ketiganya di tepi sungai.

To Be Continued…


Author's notes: Mwahahahaha~ Akhirnya terealisasi juga chapter 1-nya! Saya senang sekali~

Btw untuk translasi lirik lagu yang digunakan: Waiting a thousands of years to meet you, but just need an instant to love you.

IDK apakah ini cocok sama plotnya tetapi yeah...

Nah, biarkan saya berikan list perbedaan fanfict ini dengan film adaptasinya dan juga originalnya...

1. Sebenarnya, dalam film, skenario bertemunya Ular Putih dengan si pria idamannya adalah di pegunungan dan pria itu memang sedang mencari obat-obatan bersama temannya kalau ga salah. Nah, bagaimana pria itu jatuh ke sungai? Karena adik dari si Ular Putih yang adalah seekor siluman ular hijau sengaja mengejutkan (bukan dilempar batu) si pria itu agar si kakaknya bisa dapat kesempatan pedekate (okeeee...). Kalau di cerita aslinya, si pria ini beli sebuah Tangyuan dari salah seorang 8 Immortals yang menyamar jadi penjual Tangyuan. Si pria heran, kok udah makan Tangyuan itu dia ga laper-laper. Jadi, ia bertanya pada si penjual itu tanpa diketahuinya bahwa si penjual adalah seorang Immortal. Si Immortal ngajak dia ke sebuah jembatan yang dibawahnya ada sungai, lalu pria itu diangkatnya dalam posisi kepala menghadap ke sungai, membuat si pria itu memuntahkan Tangyuan. Nah, di dalam sungai itu, ada siluman ular putih yang lagi bertapa untuk mencapai keabadian. Dia makan Tangyuan muntahan si pria itu, dan mendapatkan hidup abadi. Jadi, si siluman ular putih itu berterima kasih sekaligus mencintai si pria itu. Sedang saat terjadinya itu, si Ular Putih belum punya adik. Nah, Ular Hijau bertemu Ular Putih setelah si Ular Hijau yang hendak dijual oleh seseorang dibeli sama si Ular Putih, jadinya si Ular Hijau nganggap si Ular Putih sebagai kakaknya.

2. Di film maupun seri originalnya, adik dari si Ular Putih adalah Ular Hijau. Namun, di fanfict ini, saya bikin Phoenix Biru (...ga kuat saya buat bikin Cao Pi jadi seorang... siluman ular tbh. Jadi Phoenix aja biar tetap keceh dia).