Please, Remember Me

By: HanaDulSet

Cast: Lee Sungmin, Cho Kyuhyun, and others

Genre: Romance, Drama

Disclaimer: Terinspirasi dari banyak film dan drama. Saya hanya meminjam nama cast dan fanfiction ini murni milik saya^^

Warning: Gender Switch, Typo, Newbie

DON'T LIKE, DON'T READ

NO PLAGIAT!

-Chapter 9-

Mobil Audi S5 Sportback hitam yang dikendarai oleh Kyuhyun tampak memasuki halaman luas sebuah rumah mewah nan megah bergaya klasik modern. Kyuhyun menghentikan mobilnya tepat di samping mobil sedan hitam mewah milik sang tuan rumah. Ia terlihat sangat tampan mengenakan jeans dan atasan T-Shirt polos warna hitam dengan outer kemeja kotak-kotak yang kancingnya dibiarkan terbuka. Sepatu Convers blue jeans-nya menambah kesan casual pada diri lelaki bermarga Cho itu.

Ia tersenyum tipis pada beberapa pelayan di depan pintu yang tersenyum seraya membungkuk hormat sebagai tanda menyambut sang Tuan Muda. Kini Kyuhyun memang tengah berada di rumah orang tuanya. Semenjak lulus dari Sekolah Menengah Atas, ia menolak untuk tinggal sendiri di rumah megah itu. Kyuhyun memilih untuk tinggal di apartemen, karena selain jarak rumahnya yang jauh dari kampus, ia juga tidak suka tinggal sendiri dan hanya ditemani oleh para pelayan di rumah yang sangat megah dan luas itu. Meskipun begitu, Kyuhyun tetap melaksanakan tugasnya untuk tetap rutin datang mengontrol rumah setiap minggunya, sebagai syarat ia bisa tinggal di apartemen.

"Eomma~" Suara bass Kyuhyun menggema di ruangan utama yang cukup luas itu.

"Ne~" Terdengar sahutan sang ibu dari dalam rumah.

Kyuhyun tersenyum tipis kala melihat sang ibu berlari kecil menghampirinya seraya tersenyum lebar. Ia langsung mendapatkan sebuah pelukan hangat dari ibunya yang tetap terlihat cantik di usianya yang tak lagi muda.

"Aigoo..Uri Kyunnie tampan sekali~" Heechul memuji sambil kedua tangannya menangkup wajah Kyuhyun.

Sedangkan Kyuhyun hanya mendesah pelan lalu melepaskan tangkupan tangan Heechul. "Eomma sedang memasak? Apa appa di rumah?"

Heechul menggenggam tangan Kyuhyun dan membimbingnya duduk di sofa ruang utama itu. "Ne. Eomma baru saja selesai. Appa pergi menemui mitranya dari China yang baru datang di Korea. Ya! Kenapa kau tak mengajak Sungmin? Eomma merindukannya..Dia benar-benar gadis yang manis, Kyu. Kau sungguh pintar memilih. Ceritakan pada eomma bagaimana Sungmin bisa tinggal di apartemenmu."

Kyuhyun menghembuskan napas berat mendengar celotehan Heechul yang sedikit membuatnya pusing. "Eomma. Pelan-pelan bicaranya."

Heechul hanya tersenyum tanpa dosa lalu bergelayut manja pada lengan Kyuhyun.

"Hari ini Sungmin ada kelas, makanya aku tak mengajaknya. Aku bertemu dengan dia di airport saat aku baru sampai dari Jepang menjenguk eomma dan appa. Saat itu dia tak sengaja menabrakku dan meminta bantuanku untuk membantunya kabur dari kejaran para bodyguard-nya."

Belum sempat Kyuhyun melanjutkan ceritanya, Heechul sudah mendongak menatapnya dan bertanya heran. "Kabur?"

Kyuhyun mengangguk. "Eomma tahu D'Sapphire yang beberapa tahun ini menguasai pasar fashion Korea?"

Seketika raut wajah Heechul berubah. Wanita itu tampak terkejut mendengar nama D'Sapphire meluncur dari mulut Kyuhyun. "N-ne? D'Sapphire kau bilang, Kyu?"

Sebuah anggukan kembali Kyuhyun berikan sebagai jawaban. "Sungmin adalah anak dari pemilik D'Sapphire, eomma."

Ucapan Kyuhyun benar-benar seperti petir yang menyambar bagi Heechul. Ia sangat terkejut dan melempar pandangan tak percaya ke arah Kyuhyun. Seketika memori masa mudanya kembali berputar di otaknya.

Kyuhyun menatap Heechul bingung. Ia mengguncang pelan tubuh sang ibu yang tengah mematung. "Eomma? Gwenchana?"

Tubuh Heechul mendadak sedikit bergetar dan matanya memanas. Kedua tangannya lalu bergerak menggenggam tangan Kyuhyun erat. "Kyuhyun-ah, apa nama pemilik D'Sapphire itu Lee Kangin?"

Kyuhyun tak langsung menjawab. Ia melayangkan pandangan tak mengerti ke arah Heechul yang tengah menatapnya cemas. Sedetik kemudian ia mengangguk pelan. "Eoh. Eomma mengenalnya?"

Tubuh Heechul seketika melemas mendengar jawaban Kyuhyun yang kemudian langsung menangkap tubuhnya yang lunglai. "Oh, Tuhan..Ada apa ini?"

Kyuhyun semakin tak mengerti pada sang ibu yang kini tengah terisak dalam dekapannya. Heechul tak kunjung menjawab pertanyaan Kyuhyun dan terus menangis. "Eomma, tenangkan dirimu. Sebenarnya ada apa?" Tanya Kyuhyun pelan seraya mengusap lelehan air mata yang keluar dari sudut mata Heechul.

Wanita itu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, berusaha untuk tenang, dan kemudian mulai bercerita pada Kyuhyun. "Lee Kangin dan ibu Sungmin yang telah meninggal, adalah sahabat eomma dan appa saat masih SMA dulu."

Kedua mata Kyuhyun membulat. Lelaki jenius itu langsung teringat akan sosok wanita di panti rehabilitasi waktu itu. "Mwo?! Siapa nama ibu Sungmin, eomma?"

"Park Jung Soo, tapi kami biasa memanggilnya Lee Teuk." Heechul berujar pelan.

Kyuhyun mendesah kecewa karena jawaban sang ibu tidak sesuai dengan yang ia harapkan. Dalam hati lelaki tampan itu berharap ibunya akan mengucapkan nama 'Moon Ye Kyung', seperti yang kepala panti ucapkan waktu itu pada Kyuhyun, ketika dirinya bertanya nama sosok wanita yang tengah mengamuk saat itu. Selama ini Kyuhyun merasa ada yang ganjil tentang ibu Sungmin. Tidak adanya foto dan makam ibu Sungmin, menimbulkan satu tanda tanya besar dalam benak Kyuhyun. Ia sempat menduga bahwa ibu Sungmin masih hidup, kala melihat sosok wanita di panti rehabilitasi itu mengenakan gelang yang mirip dengan milik Sungmin. Namun dugaan itu dipatahkan oleh jawaban Heechul, karena nama wanita itu berbeda. 'Berarti hanya kebetulan atau mungkin aku salah lihat.' Batin Kyuhyun.

Sedetik kemudian Kyuhyun terlonjak, kembali mengingat sesuatu. 'Foto!'. "Eomma, apa eomma menyimpan foto ibu Sungmin atau foto kalian saat bersama?"

Heechul menghembuskan napas berat lalu menggeleng lemah. "Ani. Semua foto kami yang hanya beberapa itu telah hilang entah ke mana. Wae? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu, Kyu?" Tanya Heechul dengan nada sedih.

"Aniyo. Hanya penasaran saja eomma. Jika foto kalian masih ada, pasti Sungmin akan sangat senang, karena dapat melihat wajah ibunya." Kyuhyun menjawab seraya menerawang ke depan.

Seketika Heechul menatap bingung ke arah Kyuhyun. "Ne? Apa maksudmu, Kyu?"

Kyuhyun menatap dalam kedua mata sang ibu. "Eomma. Seumur hidupnya, Sungmin itu tidak pernah sekali pun melihat wajah ibunya yang meninggal karena melahirkan Sungmin, eomma seharusnya mengetahui itu, bukan?"

Heechul terbelalak kaget. "Mwo?Meninggal karena melahirkan Sungmin?"

Kyuhyun sedikit bingung atas pertanyaan Heechul yang seharusnya tidak dipertanyakan lagi. "Eoh. Bukannya eomma sudah tahu tentang hal itu?"

Heechul menggeleng cepat. Sudut matanya kembali mengeluarkan air mata. "Yang eomma tahu, ibu Sungmin meninggal karena bunuh diri."

"Ne?!" Kyuhyun bertanya tidak percaya.

Kedua tangan Heechul menggenggam tangan Kyuhyun seraya menatap tajam putranya itu. "Sekarang, ceritakan semuanya pada eomma, Kyu. Ceritakan semua hal yang kau ketahui tentang Sungmin."

###

Sungmin berjalan dengan malas di koridor kampus, sambil sesekali membetulkan letak tas punggungnya. Gadis itu terus melangkahkan kedua kakinya sampai di taman kampus dan mendudukkan dirinya di sebuah bangku kayu panjang yang juga dilengkapi dengan meja kayu, di bawah sebuah pohon besar nan rindang.

"Hhhhh.." Sungmin menghembuskan napas panjang dan menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia menerawang ke atas, menatap langit biru dari sela-sela dedaunan yang rimbun. Suasana hatinya sedang tidak karuan hari ini. Awalnya Sungmin berniat ke kantin untuk makan siang. Namun sesampainya di kantin, ia melihat sahabatnya Eunhyuk sedang berduaan dengan Donghae layaknya sepasang kekasih. Hal itu membuatnya urung ke kantin dan berakhir di bangku taman bawah pohon, tempat ia biasa menyendiri.

Sungmin tersenyum miris. Satu sisi ia sungguh merasa senang melihat sahabatnya tampak bahagia bersama Donghae, lelaki yang sudah cukup lama menjadi pujaan hati sahabatnya itu. Ia bahagia karena ternyata cinta Eunhyuk tidak bertepuk sebelah tangan. Namun tak dipungkiri, di sisi lain ia sangat sedih karena merasa diabaikan oleh Eunhyuk. Semenjak sahabatnya itu bercerita beberapa hari lalu, bahwa ia telah resmi berpacaran dengan Donghae, Eunhyuk lebih sering menghabiskan waktu dengan lelaki itu. Sahabatnya itu tak lagi menghampirinya ke kelas dan mengajaknya pergi ke kantin bersama seperti biasa. Saat Sungmin menghampiri ke kelas Eunhyuk seperti tadi, sahabatnya itu sudah tidak ada di kelas dan justru telah berada di kantin bersama sang kekasih.

Sungmin memejamkan kedua matanya yang mulai memanas. Ia benar-benar merasa sendiri sekarang, karena ia memang hanya memiliki Eunhyuk sebagai sahabat. Sedangkan Kyuhyun yang ia anggap sebagai teman sekaligus pahlawannya, sedang sangat sibuk dengan perusahaan sang ayah.

Sungmin kembali menghembuskan napas berat, kemudian beralih mengeluarkan buku sketsa dengan sampul warna moca dari dalam tas punggungnya. Ia lalu mengeluarkan sebuah pensil dan beberapa pensil warna dari dalam tempat pensil motif bunga berwarna peach. Baru beberapa menit ia menggoreskan ujung pensilnya di lembar kosong buku sketsanya, ponselnya tiba-tiba berbunyi dan Sungmin segera mengambilnya dari dalam tas. Seketika matanya membulat bahagia melihat nama kontak yang tertera di layar ponselnya.

"Jungmo Oppa!" Sungmin berseru bahagia ketika telah tersambung dengan sang penelepon.

"Annyeong Sungminnie~ Bagaimana kabarmu?"

"Buruk. Dan itu karena oppa!" Jawab Sungmin ketus.

"Eii..Kenapa jadi menyalahkanku, eoh?"

"Oppa jarang sekali meneleponku, dan kapan oppa kembali ke Korea? Aku benar-benar merasa sendirian. Eunhyuk mengabaikanku karena dia telah mempunyai kekasih." Sungmin berujar sedih.

"Adikku sayang, makanya kau cepatlah punya kekasih. Ya! Kenapa kau tidak berpacaran saja dengan lelaki yang memberimu tempat tinggal?" Sosok di seberang sana, yang tak lain adalah Kim Jungmo, lelaki yang selama ini Sungmin anggap sebagai kakaknya, bertanya dengan nada penuh godaan. Kim Jungmo memang bukan kakak kandung Sungmin, melainkan anak dari pengasuhnya. Mereka berdua sudah sangat dekat sejak kecil, bermain hingga berbagi keluh kesah bersama. Jungmo yang memiliki otak cerdas, menjadi salah satu orang kepercayaan ayah Sungmin untuk ikut mengurus salah satu perusahaan dari Lee Group. Semenjak ibunya meninggal, Jungmo mendapatkan tugas untuk melakukan perjalanan bisnis ke beberapa negara. Hal tersebut membuat Sungmin semakin merasa kesepian karena hingga saat ini perjalanan bisnis tersebut belum juga berakhir.

Sungmin mengerucutkan bibirnya kesal. "Oppaa! Jahat sekali. Aku benar-benar sedang kacau dan kau malah menggodaku."

"Mian. Mian. Oppa benar-benar minta maaf karena oppa akan lama di sini. Pekerjaan di sini sangat banyak. Bisa-bisa aku dibunuh oleh Nyonya Hwang itu jika tidak bekerja dengan baik. Nyonya besar itu tidak mengganggumu kan?"

Sungmin tertawa ringan. "Ani. Kau lupa? Sebulan ini dia di China, dan hari ini aku akan menemuinya, karena ku dengar kemarin dia sudah kembali ke Korea."

"Untuk apa kau menemuinya?" Suara Jungmo terdengar kaget.

"Rahasia. Oppa tenang saja, aku akan baik-baik saja." Sungmin berujar menenangkan.

Terdengar suara helaan napas dari dalam telepon, tanda bahwa Jungmo hanya bisa pasrah karena tidak bisa membantah keinginan Sungmin, yang memang mempunyai sifat cukup keras kepala. "Terserah kau saja. Tapi jangan merengek meminta bantuanku lagi untuk kabur, jika kau dikurung lagi di rumah."

Sungmin memajukan mulutnya, cukup kesal mendengar perkataan Jungmo. "Arrasseo..Dasar cerewet."

"Baiklah. Jaga dirimu baik-baik Lee Sungmin. Aku janji akan lebih sering meneleponmu."

Sungmin tersenyum tipis mendengarnya. "Ne. Aku pegang janjimu. Jaga diri oppa juga."

"Hmm..Aku tutup dulu, ne?Annyeong~"

"Ne, annyeong~"

PIP

Sungmin mendesah sesaat lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Ia melanjutkan kembali kegiatan menggambarnya yang sempat tertunda tadi. Gadis manis itu tampak serius menggambar detail pada sketsa busana rancangannya. Ia harus segera menyelesaikan sketsa terakhirnya itu karena ia harus menyerahkan semua desainnya hari ini. Sungmin memutuskan untuk mengantarkannya sendiri ke kantor D'Sapphire karena ia ingin menemui Nyonya Hwang.

Sungmin yang terlalu serius, tidak menyadari sesosok gadis oriental sedang berjalan ke arahnya dengan tatapan mata yang terlihat marah.

SRET

Gadis oriental itu, yang ternyata adalah Victoria, langsung menyambar kasar buku sketsa milik Sungmin. Seketika kedua mata Sungmin mendelik menatap gadis oriental di hadapannya itu. "Kembalikan!" Tangan kanan Sungmin gagal merebut kembali bukunya.

Victoria membolak-balik lembar demi lembar buku sketsa di tangannya itu dengan kasar. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringaian lalu mendecih pelan. "Waah. Lee Sungmin, kau benar-benar berbakat rupanya." Puji Victoria namun terkesan mengejek bagi Sungmin.

BRET

Mata Sungmin membelalak kaget karena tiba-tiba Victoria merobek beberapa lembar kertas dari buku sketsanya. Sungmin reflek bergerak mendekati Victoria dan berusaha merebut buku sketsanya dari tangan gadis China itu. "Kembalikan Vic!"

Sebuah seringaian jahat kembali tercetak di bibir Victoria. Merasa sedikit puas mengerjai Sungmin yang berusaha merebut buku sketsa miliknya, ia lalu melempar benda itu.

Sungmin melempar tatapan tidak suka pada Victoria yang sedang merobek beberapa lembar kertas di tangannya. Gadis oriental itu merobek desainnya hingga menjadi potongan-potongan kertas kecil. Sungmin lalu bergerak mengambil buku sketsanya yang tergeletak di tanah dan kembali menatap tajam ke arah Victoria. "Sebenarnya apa maumu, hah?!"

Victoria mendecih pelan dan balas menatap sengit Sungmin. "Aku mau kau jauhi Kyuhyun!"

"Apa hakmu? Memangnya kau ini siapa?" Tanya Sungmin dengan nada ketus.

"Ya! Apa kau tidak pernah sadar bahwa kau ini sangat membebani Kyuhyun?! Gara-gara kau, Kyuhyun babak belur dikeroyok oleh tunanganmu dan bodyguard-nya!" Victoria berujar dengan suara tinggi.

Sungmin membulatkan matanya tidak percaya. "Mwo? Apa kau bilang?"

"Cih. Kau tidak tahu? Kyuhyun yang menceritakannya sendiri padaku! Puas?!"

Antara percaya dan tidak percaya, Sungmin berusaha mencerna perkataan Victoria. Entah kenapa hatinya terasa nyeri saat mendengar bahwa Kyuhyun sendiri yang menceritakan hal tersebut.

"Kau tidak percaya? Terserah kau saja Lee Sungmin. Tapi ingat! Jauhi Kyuhyun atau kau akan membuatnya lebih dari babak belur seperti kemarin!" Ucap Victoria dengan nada mengancam lalu pergi meninggalkan Sungmin yang masih berdiri mematung.

Sungmin menatap kosong ke depan, memikirkan segala ucapan Victoria hingga tanpa sadar setetes air mata jatuh dari sudut matanya. Ia buru-buru mengusapnya dengan kasar, lalu bergerak memasukkan barang-barangnya di meja ke dalam tas punggungnya dan akhirnya pergi dari tempat itu.

###

Heechul bergegas turun begitu sang supir menghentikan mobil sedan hitam nan mewah miliknya di depan sebuah gedung bertingkat yang sangat megah. Wanita paruh baya yang terlihat sangat cantik itu melangkah cepat memasuki gedung dan menuju tempat resepsionis. Wajah cantiknya nampak memancarkan sebuah amarah dan kegelisahan.

"Selamat siang. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang resepsionis cantik pada Heechul.

"Saya ingin bertemu dengan Tuan Lee Kangin, boleh saya tahu di mana ruangannya?" Jawab Heechul dengan tegas.

"Apa Anda sudah membuat janji nyonya?" Resepsionis cantik itu kembali bertanya sopan.

"Belum."

"Oh maaf. Anda harus membuat janji terlebih dahulu nyonya, dan kebetulan juga Tuan Lee sedang tidak ada di sini. Hari ini beliau ada di kantor Lee Corporation."

Heechul menghembuskan napas berat, berusaha menahan rasa kesalnya. "Baiklah. Terima kasih nona." Ucap Heechul sambil tersenyum tipis lalu melangkah keluar gedung. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan menghubungi sang supir agar menjemputnya di depan lobi gedung D'Sapphire itu.

Heechul memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, dan berdiri dengan anggun menunggu mobilnya datang. Meskipun sudah tidak bisa dibilang muda lagi, wajah Heechul yang dipoles dengan make up sederhana, tampak cantik menawan hingga menarik perhatian orang-orang yang keluar masuk gedung D'Sapphire. Begitu mobilnya datang, dengan gerakan cepat ia langsung membuka pintu penumpang lalu masuk ke dalamnya. "Hhh..Susah sekali menemui orang yang punya banyak perusahaan. Ayo jalan ahjussi!" Heechul menggerutu karena kesal. Ia tidak menyadari kehadiran Sungmin di dalam sebuah taksi yang berhenti tepat di belakang mobilnya.

Beberapa detik setelah mobil Heechul meninggalkan pelataran lobi gedung D'Sapphire, Sungmin turun dari dalam taksi. Gadis manis itu memandangi sejenak gedung megah di hadapannya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak menginjakkan kaki di sini. Kali ini Sungmin sama sekali tidak merasa khawatir jika nantinya harus bertemu Siwon yang selama ini selalu ia hindari. Tekadnya benar-benar sudah bulat untuk mengembalikan semua uang pemberian Nyonya Hwang sebagai bayaran atas desain-desainnya. Sungmin memutuskan berhenti mendesain untuk D'Sapphire karena ia tidak ingin berhubungan lagi dengan Nyonya Hwang dan Siwon. Ia menghembuskan napas lalu melangkah masuk gedung megah itu.

###

Heechul telah sampai di gedung Lee Corporation yang tak kalah megah dengan gedung D'Sapphire. Ia langsung melesat masuk ke dalam lift begitu ia mendapatkan informasi tempat Lee Kangin berada.

TING

Saat lift sampai di lantai 6, dengan gerakan cepat ia melangkah menuju satu ruangan yang berada di ujung.

"Nyonya, maaf. Apa Anda sudah membuat janji dengan Pak Presdir?" Seorang perempuan cantik yang nampaknya adalah sekretaris Lee Kangin, langsung menghalau Heechul yang ingin langsung masuk ke dalam ruangan Kangin.

"Minggir kau! Aku ada urusan penting dengan bosmu itu." Heechul berusaha menyingkirkan lengan perempuan yang menghalangi jalannya, dan menerobos masuk ruangan Kangin yang tidak terkunci.

BRAK

Heechul menekan knop pintu ruangan Kangin dengan kasar seraya menggebraknya. Sontak Kangin yang tengah sibuk membaca dokumen, mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Ia cukup terkejut saat melihat sosok yang sudah sangat lama tak ia jumpai, tengah menatapnya tajam.

Dari belakang tubuh Heechul lalu muncul sekretaris Kangin yang terlihat sangat panik. Perempuan itu membungkuk dalam ke arah Kangin. "Cheoseonghamnida Pak Presdir. Wanita ini memaksa masuk."

Kangin meletakkan dokumen yang sedari tadi berada di tangannya di meja, lalu melepaskan kaca mata bacanya. "Tidak apa-apa. Dia teman saya. Kau boleh meninggalkan ruangan ini."

"Baik. Terima kasih Pak Presdir." Ucap sang sekretaris dengan sopan. "Maafkan saya nyonya." Ucapnya sopan sambil membungkuk dalam ke arah Heechul sebelum meninggalkan ruangan Kangin.

Setelah pintu ruangan telah tertutup, Kangin beranjak dari meja kerjanya, melangkah menuju sofa. "Lama sekali kita tidak berjumpa Heechul-ah. Silahkan duduk." Kangin mempersilakan Heechul duduk di sofa yang berada tepat di depan sofa yang ia duduki.

Heechul menghembuskan napas berat, masih berusaha menahan emosinya, dan duduk di sofa yang telah dipersilakan oleh Kangin. Ia mendecih lalu tersenyum miring ke arah Kangin. "Lima belas tahun lebih memang waktu yang sangat lama Kangin-ah. Dan, aku tak menyangka ternyata kau masih mengenalku." Heechul berucap sambil tersenyum sinis.

Kangin tertawa kecut sesaat. "Aku sudah mengira akan seperti ini jadinya. Kau sudah bertemu Sungmin yang tinggal di apartemen putramu?"

Heechul mengerutkan dahi, menatap tidak suka ke arah Kangin. Ia sungguh tak kuasa lagi menahan emosinya yang sedari tadi telah berada di puncak.

PLAK

Satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi Kangin. "Aku benar-benar sudah tidak tahan!" Heechul bergerak mencengkram kuat kerah kemeja Kangin. "Kau! Ayah macam apa kau ini, hah?! Kenapa kau tega melakukan semuanya pada Sungmin? Kenapa kau tega membohonginya? KENAPA?! KENAPA? HAH?!" Heechul meluapkan segala emosinya dengan berteriak di depan wajah Kangin yang tampak sangat pasrah dengan perlakuan sahabat lamanya itu.

Kangin hanya diam membeku, merasa tak sanggup menjawab pertanyaan Heechul. Matanya terasa memanas melihat Heechul yang menangis tertunduk dengan kedua tangan masih mencengkram kerah kemejanya.

Heechul kemudian mendongak, melempar tatapan sedih pada Kangin. "Wae? WAEEE?!" Heechul kembali berteriak dan menangis tersedu-sedu sambil mengguncang tubuh Kangin.

"Semuanya aku lakukan karena aku mencintai mereka!" Bentak Kangin sambil melepas paksa cengkraman tangan Heechul pada kerah kemejanya. Ia mendudukkan dirinya di sofa, lalu memijat dahinya yang terasa berdenyut.

Heechul mengusap kasar air mata yang membasahi pipinya. "Kau bilang cinta? Cih! Setelah kau menghamili Lee Teuk, meninggalkannya dan menikah dengan Hwang Mi Sun, lalu membohongi putrimu sendiri, kau masih bisa bilang cinta?!" Heechul mencecar Kangin dengan sangat berapi-api. "Delapan belas tahun kau membiarkan Sungmin menganggap Hwang sebagai ibu kandungnya, tanpa tahu bahwa Lee Teuk, ibu kandung dia yang sebenarnya telah meninggal bunuh diri karena kau!"

"CUKUP!" Bentak Kangin yang langsung berhasil membungkam mulut Heechul. Pria yang kini tampak sangat kacau itu menatap sendu ke arah Heechul. Tubuhnya sedikit bergetar karena ia memutuskan untuk menceritakan kisah yang sebenarnya pada Heechul. "Kau salah Kim Heechul. Sekarang, tolong dengarkan aku. Apa yang ku lakukan selama ini, semata-mata karena aku tidak ingin kehilangan Sungmin. Aku tidak ingin lagi kehilangan orang yang sangat aku cintai."

Heechul terduduk lemas, menatap nanar ke arah Kangin dan mencoba mendengarkan pria yang kini tampak rapuh itu. Baru kali ini Heechul melihat Kangin menitikkan air mata.

"Hidupku sudah cukup hancur dengan meninggalnya Lee Teuk, satu-satunya wanita yang aku cintai. Dan aku menjadi tak berdaya karena ancaman wanita itu." Ucap Kangin dengan lemah.

Heechul mengerutkan dahi, bingung sekaligus terkejut dengan ucapan Kangin. "Mwo? Ancaman?"

Kangin mengangguk lemah. Ia menatap kosong ke depan lalu melanjutkan ceritanya. "Aku akan menceritakan semuanya padamu. Rupanya kau lupa satu hal Heechul-ah. Aku itu dijodohkan dengan Hwang Mi Sun, dan aku tidak pernah sedikit pun menaruh rasa cinta padanya." Pria bermarga Lee itu menghembuskan napas berat sebelum kembali bercerita. "Sebulan setelah pernikahanku dengan Mi Sun, orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia sangat terpukul karena merasa tidak punya siapa-siapa, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa dia ternyata tidak bisa mempunyai keturunan." Kangin menjeda sebentar ceritanya. Hatinya kembali tersayat karena harus memutar memori masa lalunya yang sangat pahit. "Hari itu, hari di mana Sungmin lahir. Aku tidak mendapat kabar apa pun dari Lee Teuk bahwa dia akan melahirkan. Tiba-tiba saja Hwang Mi Sun membawa bayi Sungmin ke rumah kami." Kangin mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tenggorokannya terasa sakit untuk melanjutkan ceritanya. Namun, Kangin merasa saat ini adalah waktu yang tepat untuk membuka semua rahasia yang selama ini ia pendam sendiri. "Dan..." Kangin kembali terdiam. Ia menarik napas dan menghembuskannya perlahan, berusaha untuk tetap tenang.

Heechul menatap penasaran ke arah pria yang tengah menunduk sambil mengepalkan kedua tangannya, nampak kebingungan dan gugup. "Ya!Kangin-ah?"

Kangin mendongak menatap Heechul sendu. Bola matanya tampak sedikit basah dan merah. "Sebenarmya, Lee Teuk meninggal bukan karena bunuh diri. Hwang Mi Sun membunuhnya dengan mendorong tubuh Lee Teuk ke Sungai Han." Ujar Kangin dengan suara bergetar.

Seketika Heechul melebarkan kedua matanya. Tangannya terangkat memegangi dadanya yang terasa sesak setelah mendengar pengakuan Kangin. Dari sudut matanya keluar butiran air mata yang tak kuasa ia bendung. "Kau bercanda, eoh? Itu sungguh tidak lucu Lee Kangin."

"Aku tidak sedang bercanda Kim Heechul. Memang itulah kenyataannya." Ucap Kangin mempertegas.

"Dan kau hanya diam saja, hah?!" Heechul membentak Kangin di sela isakan tangisnya.

"Aku harus melakukannya demi Sungmin! Jika aku membuka mulut, maka aku juga akan kehilangan Sungmin!" Kangin berujar dengan suara yang tak kalah tinggi. Beruntung ruangan Kangin kedap suara, sehingga tidak ada yang dapat mendengar perdebatan sengit mereka.

"Apa maksudmu?" Heechul bertanya sinis.

Kangin memejamkan matanya sesaat sebelum membuka suaranya lagi. Kali ini ia tidak berbicara dengan suara tinggi. "Hwang Mi Sun mengancamku akan membunuh Sungmin jika sampai aku buka mulut. Ia sempat membuktikan ancamannya saat dia mengetahui niatku untuk melaporkannya pada polisi. Saat Sungmin berusia 12 tahun, ia diculik oleh orang-orang bayaran wanita jahat itu. Sungmin disekap selama hampir satu minggu di dalam sebuah gudang tua. Aku hampir kehilangan Sungmin, karena gudang tua tempat ia disekap, sengaja dibakar oleh para penculik bayaran Mi Sun. Beruntung saat itu aku datang tepat waktu."

Heechul menutup mulutnya tak percaya. Ia kembali menitikkan air mata, mengingat Sungmin, gadis manis yang baru ia temui beberapa hari lalu, harus menelan semua kenyataan pahit ini. Heechul menatap pedih ke arah Kangin yang tengah menundukkan kepala dengan kedua tangan menutupi wajahnya. "Pabboya..Neo jinja pabboya." Ucap Heechul merutuki kebodohan Kangin seraya terisak dan memukuli bahu pria itu yang tampak bergetar. Kangin dan Heechul mengakhiri perdebatan sengit tadi dengan isakan yang tak sanggup lagi mereka bendung.

###

"Nona Sungmin!" Suara seorang lelaki berhasil menginterupsi Sungmin yang tengah menunggu pintu lift terbuka.

"Eoh?" Sungmin sedikit membulatkan matanya saat menoleh dan mendapati seorang lelaki muda nan tinggi tengah berlari kecil menghampirinya dengan diikuti empat perempuan cantik. "Kalian?" Sungmin tersenyum sumringah ke arah lima orang yang langsung menghambur memeluknya.

"Hah..Kau ke mana saja Minnie-ah? Tega sekali kau, pergi tanpa pamit. Kami benar-benar merindukanmu." Ucap seorang perempuan berambut pendek di samping Sungmin yang mendapat anggukan dari empat orang lainnya. Tangan perempuan itu tampak mengamit lengan Sungmin protektif.

"Aku tidak ke mana-mana, eonnie. Aku hanya ingin fokus kuliah." Ucap Sungmin seraya tersenyum manis pada perempuan di sampingnya itu.

"Selama tidak ada kau, kantor ini bagai tidak bernyawa." Ujar sang lelaki.

Sungmin tersenyum. "Jangan berlebihan seperti itu. Aku harus ke atas sekarang. Kalian mau pulang, bukan?"

"Padahal kami ingin masih ingin bersamamu Minnie-ah. Kenapa datang saat jam pulang begini?" Seorang perempuan berambut panjang berujar dengan nada sedih.

Sungmin kembali menyunggingkan senyuman manisnya. "Nanti kita bisa bertemu lagi, eonnie. Ya sudah, aku ke atas dulu, ne? Kalian hati-hati lah di jalan. Annyeong~" Pamit Sungmin setelah masuk ke dalam lift dan melambaikan tangan ke arah lima orang teman yang selalu setia membantunya selama ia bekerja untuk D'Sapphire.

TING

Sungmin melangkah keluar lift saat telah sampai di lantai 5. Ia tersenyum bahagia dan langsung berlari kecil begitu melihat punggung sosok perempuan yang sangat ia kenal, tampak sedang membereskan tasnya.

GREP

"Kibum eonnie bogoshippooo~" Sungmin langsung memeluk perempuan itu dari belakang.

Perempuan cantik yang dipeluk Sungmin itu melebarkan mata dan seketika berbalik karena terkejut. "Omo! Ya!Sudah ku bilang dia telah kembali. Kenapa kau malah kemari?" Perempuan bernama Kibum itu mengomel dengan setengah berbisik seraya membawa Sungmin menjauh dari ruangan yang ada di belakang mereka.

"Eonnie~Berhentilah! Kau mau membawaku ke mana?" Merasa tidak ada tanggapan, Sungmin menarik tangannya dari genggaman tangan Kibum yang langsung membuatnya menghentikan langkah kakinya.

Kibum segera berbalik dan menatap Sungmin serius. "Aku kan sudah bilang, aku yang akan menemuimu. Kenapa kau nekat sekali ke sini, eoh? Kau mau menjadi tuan putri yang selalu dikurung lagi? Nyonya Hwang masih ada di ruangannya sekarang."

Sungmin menyunggingkan senyum manisnya dan bergerak memeluk perempuan yang menjabat sebagai sekretaris itu. "Arra eonnie...Aku sungguh merindukanmu. Aku ke sini memang sengaja ingin menemuinya. Kau tenang saja, aku jamin dia tidak akan kembali mengurungku."

Kibum menghela napas panjang dan balas memeluk Sungmin."Hhh. Kau ini memang keras kepala."

Sungmin melepaskan pelukan mereka dan tersenyum lebar hingga menampakkan gigi kelincinya. "Baiklah. Aku harus menemuinya sekarang. Kau pulanglah dulu eonnie, tak usah menungguku."

Perempuan cantik yang Sungmin anggap seperti kakaknya sendiri itu kembali menghela napas. "Jaga dirimu, ne?"

Sungmin mengangguk seraya tersenyum lalu berbalik meninggalkan Kibum menuju ke sebuah ruangan.

TOK TOK TOK

CEKLEK

Begitu pintu terbuka, kedua mata Sungmin langsung bertemu tatap dengan mata tajam sosok wanita yang tengah sibuk dengan dokumen-dokumen di meja kerjanya.

"Annyeonghaseyo..." Sungmin memberi salam dan sedikit membungkukkan badan.

Wanita bernama Hwang Mi Sun itu segera menutup dokumen dan memasang wajah ramah. Ia bangkit dari posisi duduknya dan menghampiri Sungmin yang masih berdiri di depan meja kerjanya. "Sudah lama sekali kita tak bertemu, Minnie-ah." Ucap wanita yang kerap disapa Nyonya Hwang itu seraya bergerak memeluk Sungmin.

Tubuh Sungmin segera menghindar dari pelukan Nyonya Hwang. "Tak usah berpura-pura baik padaku nyonya. Topengmu itu terlihat sangat jelas di mataku." Sungmin berucap sinis.

Nyonya Hwang tersenyum dan tangannya bergerak mengelus kepala Sungmin "Aigoo..Kau ini bicara apa sayang?"

Sungmin memalingkan wajahnya sekilas dan segera mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang cukup tebal dari dalam tas punggungnya. Ia sedikit melangkah maju manjauhi tubuh Nyonya Hwang untuk meletakkan amplop tersebut di meja wanita itu.

"Aku ke sini hanya untuk mengembalikan ini. Aku kembalikan semua uang yang pernah kau berikan padaku. Dan ini, aku serahkan semua desainku padamu." Ucap Sungmin seraya meletakkan buku desainnya di meja.

Nyonya Hwang sedikit mengerutkan keningnya. "Apa maksud semua ini?"

"Aku tidak ingin ada urusan lagi denganmu nyonya. Dengan menyerahkan semua ini, aku rasa, aku sudah tidak punya hutang denganmu. Kau tidak usah khawatir, Kim Kibum sekretarismu jauh lebih berbakat dariku. Kau bisa mengandalkannya sekarang." Sungmin berucap tegas.

"Jadi kau ingin meninggalkan eomma?" Tanya Nyonya Hwang dengan nada lembut yang dibuat-buat. Wanita itu menyembunyikan kedua tangannya yang mengepal kuat di belakang punggung.

Sungmin mendecih pelan. "Eomma? Apa yang membuatmu pantas untuk ku panggil eomma?"

Sebuah seringaian tampak di bibir Nyonya Hwang. Meskipun tersenyum, namun gurat kemarahan tampak jelas di wajah wanita itu. "Oh, jadi kau sudah merasa hebat sekarang. Kau sungguh tidak membutuhkan semua uang ini?"

Sungmin mengangguk yakin. "Ne."

Nyonya Hwang menangkupkan kedua tangannya sambil tetap tersenyum. "Oh! Aku baru ingat. Kau sudah kaya sekarang, karena mendapat bayaran dari lelaki yang tinggal bersamamu itu ya?"

Sungmin mengerutkan dahinya dan melempar tatapan tidak suka ke arah Nyonya Hwang. "Mworago?"

Nyonya Hwang mendecih lalu tersenyum meremehkan. "Hhh..Memang benar, buah jatuh itu tidak jauh dari pohonnya. Ibu dan anak sama-sama jalang."

Kedua mata Sungmin terbelalak saat mendengar perkataan Nyonya Hwang yang menusuk hatinya. "Apa kau bilang? Aku mendengarnya nyonya. Apa maksud Anda berkata seperti itu?"

Wanita di hadapan Sungmin itu kini telah menampakkan wajah yang sesungguhnya. Tidak ada lagi senyuman ramah palsu yang tadi sempat ia pamerkan pada Sungmin. Garis wajahnya yang keras menampakkan sebuah kemarahan yang sedari tadi ia sembunyikan. Kedua matanya kini tengah menatap Sungmin dengan tajam. "Meskipun di China, aku mengetahui semuanya Lee Sungmin. Seorang gadis tinggal bersama seorang lelaki yang bukan suaminya, apa namanya kalau bukan jalang, eoh?"

"Jaga mulutmu nyonya!" Bentak Sungmin.

"Kau yang seharusnya menjaga mulutmu, anak haram!" Nyonya Hwang segera balas membentak Sungmin. Emosinya benar-benar telah meluap, sehingga tanpa sadar ia mengeluarkan kata sebutan yang selama ini menjadi rahasia.

Sungmin membelalakkan matanya hebat. Otaknya berusaha mencerna perkataan terakhir yang keluar dari mulut tajam Nyonya Hwang. "M-mwo?"

Sebuah seringaian tercetak di bibir Nyonya Hwang. "Akhirnya aku harus mengatakan semua ini padamu, Lee Sungmin. Ya, kau ini memang anak haram, nona manis." Nyonya Hwang berujar tanpa beban.

Tenggorokkan Sungmin seketika tercekat. Perkataan Nyonya Hwang membuatnya sulit bernapas. Dadanya benar-benar terasa sesak. Kedua matanya yang nampak memerah dan berkaca-kaca, menatap tidak percaya ke arah Nyonya Hwang.

Nyonya Hwang memandang remeh Sungmin. "Wae? Tidak percaya? Baiklah, aku ceritakan semuanya sekarang. Dulu, ibumu itu berusaha merebut ayahmu yang sudah menjadi tunanganku dengan cara rendahan. Dia rela tidur dengan ayahmu hingga hamil. Satu hal yang harus kau tahu, ibumu meninggal bukan karena melahirkanmu. Dia itu bunuh diri setelah melahirkanmu karena ayahmu meninggalkannya dan menikah denganku. Jalang sep-"

"CUKUP! JANGAN PERNAH MENGHINA EOMMA DENGAN MULUT KOTORMU ITU!" Emosi Sungmin benar-benar telah meledak sekarang. Ia memotong perkataan Nyonya Hwang dan membentaknya dengan keras.

PLAK

Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi kanan Sungmin begitu ia mengakhiri perkataannya. Emosi Nyonya Hwang tak kalah meledak mendengar bentakkan Sungmin. "DASAR ANAK HARAM TAK TAHU DIUNTUNG! Jika dulu aku tidak membawamu ke rumah, kau pasti sudah menjadi anak panti asuhan!"

Tangan Sungmin memegangi pipinya yang terasa panas. Ia menatap sengit ke arah Nyonya Hwang seraya tersenyum miring. "Aku sungguh menyesal karena tidak menjadi anak panti asuhan dan harus hidup dengan orang sepertimu. Terima kasih atas tamparan Anda, nyonya. Aku pergi."

Kedua mata Nyonya Hwang melotot marah mendengar perkataan Sungmin. Rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal kuat melihat tubuh Sungmin yang semakin menjauh kemudian menghilang di balik pintu ruangan kerja nan megah miliknya itu. "Kurang ajar!"

###

Sungmin berjalan pelan di sepanjang trotoar dengan tatapan kosong. Ia tak mempedulikan tubuhnya beberapa kali tersenggol oleh orang-orang yang berlalu lalang di sekelilingnya. Saat ini pikirannya benar-benar kacau sehingga ia tak mampu berpikir secara jernih. Hati dan perasaannya tercabik-cabik, mengingat fakta kehidupannya yang baru ia ketahui.

BRUK

"Ya! Kalau jalan lihat-lihat, nona!" Bentak seorang wanita yang marah karena tubuh Sungmin menabrak tubuhnya.

"Oh! Cheoseonghamnida..." Sungmin segera meminta maaf dengan pelan seraya membungkuk. Ia berdiri dan menatap sayu kepergian wanita yang tadi ia tabrak lalu menghembuskan napas berat. Gadis manis itu lalu mendongakkan kepalanya, menatap langit malam kota Seoul yang dipenuhi dengan bintang. Ia pun tak kuasa lagi membendung air mata yang sedari tadi memaksa ingin keluar. Tak ia pedulikan dinginnya angin malam yang menerpa tubuh letihnya dan tatapan aneh dari orang-orang yang melewatinya. Ia sungguh tak mempedulikan semua itu, karena yang ia tahu saat ini, dirinya tengah sendiri, benar-benar sendiri.

###

"Hhhh.." Desah Kyuhyun setelah membanting tubuhnya di sofa panjang ruang tengah apartemennya. Ia menyenderkan kepalanya dan memejamkan mata, merasakan letih setelah seharian mengurus pekerjaan di kantor. Tangannya lalu bergerak memijat bahunya yang terasa sangat pegal. Sedetik kemudian, matanya terbuka karena mengingat sesuatu. Ia melirik jam tangannya sekilas, hampir jam 10 malam. "Apa Sungmin sudah tidur?" Kyuhyun bertanya lirih pada dirinya sendiri. Ia kemudian bangkit dan melangkah menuju kamar Sungmin. Alangkah terkejutnya Kyuhyun kala ia membuka kamar Sungmin yang ternyata kosong. "Ke mana dia? Minnie-ah! Minnie-ah!" Kyuhyun meneriaki nama Sungmin seraya membuka setiap pintu ruangan yang ada di apartemennya.

Kyuhyun segera mengambil smartphone dari dalam saku celana hitamnya dan mencoba menghubungi Sungmin. Rasa khawatir langsung menyergap perasaannya karena selama ini Sungmin tak pernah keluar apartemen seorang diri hingga selarut ini. Ia berdecak kesal karena nomor Sungmin tidak aktif. Langsung saja ia menghubungi seseorang yang dirasa bisa membantunya.

"Hyung! Berapa nomor telepon Eunhyuk?" Tanya Kyuhyun begitu tersambung dengan Donghae.

"Untuk apa kau bertanya nomor Hyukkie, eoh?" Donghae bertanya sinis.

"Ya! Hyung! Ini darurat! Aku ingin menanyakan soal Sungmin padanya karena dia belum pulang!" Bentak Kyuhyun merasa kesal dengan sahabatnya itu.

"Astaga! Mianhe Kyu..Aku baru saja mengantar Hyukkie pulang. Sejak siang tadi, Hyukkie selalu bersamaku, dan kami sama sekali tidak bertemu dengan Sungmin. Ah, kalau begitu, aku akan kembali menjemput Hyukkie dan kami akan membantumu mencari Sungmin. Oke?" Donghae berujar memberi saran.

"Hm..Baiklah. Gomawo, hyung. Aku akan menghubungimu lagi nanti."

"Ne.."

PIP

Kyuhyun langsung memasukkan smartphone-nya ke dalam saku dan bergegas melangkah keluar apartemen setelah menyambar mantelnya yang tergeletak di sofa. Lelaki tampan itu segera melesat dari gedung apartemennya tanpa kendaraan.

Lelaki bermarga Cho itu berlari kecil menyusuri trotoar yang mulai tampak sepi dari para pejalan kaki, sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok Sungmin. Saat ini pikirannya benar-benar dipenuhi oleh gadis itu, sehingga ia tak ingat akan rasa letih luar biasa yang sempat melanda tubuhnya tadi.

Kyuhyun masuk ke beberapa kafe dan toko yang ia lewati, berharap ada sosok Sungmin di sana. Hasilnya tetap saja nihil. Ia melirik jam tangannya sekilas, tepat jam 11 malam. Tak terasa ia telah berkeliling daerah sekitar apartemennya selama satu jam lebih, namun ia sama sekali tak menemukan tanda-tanda keberadaan Sungmin. Lelaki itu menghentikan langkah kakinya di sebuah halte bis untuk mengatur napasnya yang sedikit tersengal. Ia menghembuskan napas beberapa kali karena merasa sangat khawatir dan frustrasi. Smartphone-nya yang tiba-tiba bergetar membuatnya sedikit terlonjak dan langsung mengambilnya dari dalam saku celana.

"Hyung! Kau menemukannya?" Tanya Kyuhyun begitu mengangkat teleponnya.

"Ini aku oppa." Terdengar suara gadis yang Kyuhyun ketahui sebagai suara Eunhyuk.

"Oh, kau. Mian. Bagaimana Hyukkie? Kau telah menemukannya?" Kyuhyun bertanya penasaran seraya tetap mengedarkan pandangannya ke segala arah. Ia mengerutkan dahi kala dari kejauhan, matanya menangkap sosok perempuan yang menurutnya mirip dengan Sungmin, tengah mabuk di sebuah kedai pinggir jalan.

"Belum. Aku baru saja mendapatkan informasi bahwa sore tadi Sungmin datang ke kantor D'Sapphire, oppa. Aku takut terjadi sesuatu deng-"

"Hyukkie-ah." Kyuhyun memotong ucapan Eunhyuk. "Aku sudah menemukannya."

"Mwo? Jinja? Di mana?"

"Dia ada di seberangku sekarang, jadi kalian tak perlu mencarinya lagi. Terima kasih telah membantu." Kyuhyun berucap tulus.

"Hhhh...Syukurlah. Tolong jaga Sungmin, oppa."

"Hm..Aku tutup dulu."

"Ne.."

PIP

Tanpa berpikir panjang lagi, Kyuhyun segera melesat menuju kedai di seberang halte tempat ia berdiri tadi. Ia menghembuskan napas lega ketika telah sampai di kedai. Dugaannya tidak salah. Rasa lega sekaligus khawatir langsung menyergap diri Kyuhyun, karena gadis yang ia cari-cari itu tengah mabuk berat. Di mejanya terdapat empat botol Soju yang telah kosong. Kyuhyun menatap nanar ke arah Sungmin sebelum akhirnya merebut kasar gelas Soju dari tangan gadis itu. "Hentikan Lee Sungmin! Kau sudah gila, hah?" Bentak Kyuhyun seraya menaruh gelas itu di meja. Kyuhyun melepaskan mantel yang ia pakai dan langsung memakaikannya di tubuh Sungmin yang hanya dibalut blouse lengan panjang.

Sungmin segera menoleh di tengah kesadarannya yang telah menipis lalu tertawa pelan. "Eoh? Cho Kyuhyun pahlawanku. Akhirnya kau datang juga." Sungmin berbicara ngelantur sambil bergerak memeluk Kyuhyun.

Tangan kanan Kyuhyun menahan tubuh gontai Sungmin dengan memeluk pinggang gadis itu, dan satu tangannya yang bebas mengeluarkan beberapa lembar Won lalu meletakkannya di meja. Dengan gerakan cepat, ia langsung menggendong tubuh lemah Sungmin di punggungnya dan melangkah menuju apartemennya.

Kyuhyun berjalan pelan sambil sesekali membetulkan posisi tubuh Sungmin di punggungnya. Sepanjang perjalanan, Sungmin meracau tidak jelas, dan Kyuhyun hanya diam mendengarkannya. Lelaki itu sedikit terlonjak saat merasakan kedua tangan Sungmin bergerak melingkari lehernya dan memeluknya erat. Ia menolehkan kepalanya ke samping, dan dapat ia lihat wajah tenang Sungmin yang tengah tertidur di bahunya.

"Sebenarnya apa yang telah terjadi, hingga kau minum sebanyak itu, eoh?" Kyuhyun bertanya pelan tanpa mengharapkan jawaban langsung dari Sungmin yang memang telah tertidur pulas itu.

###

Setelah sampai di apartemen, Kyuhyun segera membaringkan tubuh Sungmin di sofa panjang miliknya. Namun baru beberapa menit, Sungmin terbangun dan langsung berlari menuju dapur.

Kyuhyun yang tengah duduk bersandar seraya memejamkan mata, mencoba untuk meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku, segera menyusul Sungmin kala mendengar gadis itu berlari tergopoh-gopoh.

"Hoek...Hoek...Uhuk! Uhuk! Uhuk!"

Dari belakang tubuh Sungmin, Kyuhyun mengerutkan dahinya dan menatap gadis itu khawatir, lalu bergerak memijat tengkuk Sungmin yang tengah memuntahkan semua isi perutnya di wastafel.

"Sudah tahu tidak bisa minum, kenapa minum sebanyak itu, eoh?" Tanya Kyuhyun dengan nada sedikit tinggi namun sarat akan rasa khawatir.

"Hoek...Hoek..." Meskipun masih di bawah pengaruh alkohol, Sungmin tetap dapat mendengar suara Kyuhyun. Namun gadis itu tidak mampu menjawabnya karena isi perutnya masih memaksa untuk keluar.

Tangan Kyuhyun bergerak membuka keran di wastafel untuk membersihkan muntahan Sungmin.

Tes.. Tes..Tes..

Kedua mata Kyuhyun membulat panik kala melihat tetesan darah di dasar wastafel. Seketika ia menutup keran dan menarik wajah Sungmin supaya menghadapnya.

"Astaga!" Kyuhyun begitu terkejut karena ternyata tetesan darah itu keluar dari hidung Sungmin. Ia segera mendudukkan tubuh lemah Sungmin di lantai dan menyambar tissue di meja makan dengan gerakan cepat.

"Aish! Kenapa banyak sekali?" Kyuhyun benar-benar panik karena darah yang keluar cukup banyak. Ia terus bergerak mengusap hidung Sungmin dengan pelan agar tidak melukai gadis itu.

Sementara Sungmin yang memang masih mabuk, hanya menatap datar wajah panik Kyuhyun lalu tertawa pelan. Tiba-tiba ia menahan tangan Kyuhyun dan mengambil tissue itu lalu mengusapnya sendiri dengan gerakan cukup kasar. "Aku bisa melakukannya sendiri."

"Kau akan melukai hidungmu sendiri jika seperti itu. Berikan padaku!" Kyuhyun yang ingin merebut tissue dari tangan Sungmin, gagal karena Sungmin segera menahan tangan Kyuhyun lagi.

"Kau! Cho Kyuhyun, kenapa kau masih saja peduli padaku jika memang kau merasa sangat terbebani olehku, eoh?" Sungmin bertanya dengan suara parau khas orang mabuk.

Kyuhyun mengerutkan dahinya tak mengerti. "Apa maksudmu?"

Sebuah senyuman miring tercetak di bibir mungil milik Sungmin. "Kenapa kau bercerita pada Victoria jika kau babak belur karena dikeroyok oleh Siwon dan para bodyguard-nya, tapi kepadaku tidak, eoh? Kau juga bilang pada gadis China itu, bahwa kau merasa sangat terbebani olehku. Jika memang seperti itu, kenapa kau tidak bilang saja padaku, Kyu? Kenapa?" Sungmin mengungkapkan satu per satu kegundahan hatinya di tengah kesadaran yang belum kembali seutuhnya. Ia juga memukuli dada Kyuhyun seraya meneteskan air mata.

"Kau percaya pada omongan gadis yang bahkan untuk menemuinya saja aku tidak sudi?" Kedua tangan Kyuhyun menangkup wajah pucat Sungmin yang telah basah oleh air mata agar menghadapnya. Hidungnya sudah tidak mengeluarkan darah seperti tadi. Ibu jari Kyuhyun lalu bergerak mengusap lelehan air mata Sungmin. "Uljima. Sekarang dengarkan aku." Tangan Kyuhyun mengambil tissue dari dalam kotak dan membersihkan sisa-sisa darah di bagian luar hidung Sungmin. "Masalah aku dikeroyok oleh Siwon itu memang benar. Tapi aku sama sekali tidak pernah menceritakannya kepada siapa pun, termasuk Victoria. Apa lagi mengatakan bahwa aku sangat terbebani olehmu. Itu sama sekali tidak benar."

Mendengar itu, Sungmin justru menangis. Ia segera menutupi wajahnya dengan kedua tangan untuk meredam suara isakan tangisnya.

"Ya! Kenapa menangis lagi?" Kyuhyun mengacak rambutnya frustrasi, merasa bingung menghadapi Sungmin. Ia bergerak menarik tangan gadis yang tengah duduk bersandar di kitchen set bagian bawah itu. Lelaki itu menghembuskan napas berat dan memandang sendu wajah Sungmin yang terlihat sangat kacau. Tangannya kembali bergerak mengusap pelan air mata di wajah manis nan cantik milik Sungmin.

Gadis manis itu tertawa pelan. Matanya juga memandang sendu ke arah Kyuhyun. Ia tak kuasa menghentikan air mata yang terus saja mengalir. Dalam pikirannya berkecamuk banyak hal yang membuatnya sangat frustrasi. Ia juga merasakan rasa pening yang luar biasa tengah menyerang kepalanya. Pandangan matanya pun kini telah sedikit kabur karena tingkat kesadarannya yang semakin menipis.

Tangan Sungmin menggapai kemeja bagian depan Kyuhyun dan sedikit mencengkramnya. "Kyu..Kau tahu? Aku itu ternyata anak haram. Dan eomma meninggal bukan karena melahirkanku. Dia..." Sungmin menjeda perkataannya karena tenggorokannya terasa sakit. "Dia, bunuh diri setelah melahirkanku, Kyu. Hiks..Hiks.." Tangis Sungmin kembali pecah. Ia pun langsung menenggelamkan wajahnya di dada bidang Kyuhyun, menumpahkan seluruh isak tangisnya di sana.

Kyuhyun cukup terkejut karena Sungmin ternyata telah mengetahui kenyataan itu. 'Pasti Nonya Hwang yang melakukan ini.' Ucap Kyuhyun dalam hati. Ia bergerak memeluk tubuh bergetar Sungmin dan mengusap punggungnya pelan. "Menangislah, jika memang kau ingin menangis, Minnie-ah."

Tangisan Sungmin semakin menjadi setelah mendengar ucapan Kyuhyun. "Sakit Kyu, rasanya benar-benar sakit. Hiks.."

Kyuhyun semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh Sungmin. Membiarkan gadis yang tengah rapuh itu menumpahkan segala kegundahan hatinya. "Arra. Menangislah, tak usah ditahan lagi."

Mereka berdua larut dalam suasana malam yang sunyi. Hati Kyuhyun ikut tersayat, melihat gadis yang ia cintai kini tampak terluka karena harus menerima semua kenyataan pahit.

Beberapa menit berlalu, Kyuhyun tak merasakan ada gerakan atau suara dari Sungmin. Matanya yang semula terpejam, kini terbuka lebar karena beban tubuh Sungmin terasa lebih berat. Ia lalu segera menarik tubuhnya sedikit menjauh dari tubuh Sungmin dan menepuk-nepuk pelan pipi gadis itu. Raut panik terlihat jelas di wajah tampan Kyuhyun karena tak ada respon sedikit pun dari Sungmin. "Minnie-ah. Minnie-ah."

.

.

.

To be continued

Haaaaai..apa kabar semuanya? Udah sebulan yaaa, ga bersuaaa, huhu..Mintaa maaaaaaf bangeeeet, lagi-lagi gue ngondooor :(

Mau curhat dikit nih, saya yang masih sangat amatiran ini bener-bener ngerasain susahnya ngungkap konflik itu. Jadi maafin yaa, kalo ternyata ga memuaskan. Butuh perjuangan banget, buat tetep nulis di tengah himpitan tugas kuliah dan kerjaan yang menumpuk, *lebay, abaikan* Hahaha..

Dan aku ga akan pernah berhenti bilang makasiiiiih buat temen-temen yang udah bersedia meluangkan waktu untuk baca dan review. Sebulan ga update bikin aku kangen sama review kalian yang selalu bikin aku senyum-senyum sendiri,hehe..Sooo, aku tunggu reviewnya lagi yaaaa ^^ *bow

dirakyu : annyeong..salam kenal yaa ^^ makasiiih atas masukannya, semoga suka sama chapter ini..hehe

danactebh : hahaha..yap,bener banget..maaf yaa,updatenya lama bangettt,huhu

reaRelf : iyaaa, aku sendiri ga tega sebenernya bikin sungmin menderitaa..

whey.K : hahaha..iya ^^

TifyTiffanyLee : hehe..emang sengaja bikin supaya ga ada yang nebak kalo yg dateng ternayata hanchul,hoho..udah coba aku jelasin di sini yaaa, semoga suka sama chapter ini..dan makasih banget krn udah selalu ngikutin FF ga jelas ini,hehe..

: yang kemaren ga romantis yaa? :3 maafin gue kalo ternyata gagal bikin adegan romantiiis..huhu

nova137 : iya, bawa berkah buat kyumin, hehe..

Cho MeiHwa : iya, emang heechul bawa berkah buat kyumin,hahaha..

riakyuminshiper : hahaha..yap, bener banget ituuu, semoga suka sama chapter iniii ^^

gwansim84 : hahaha..iya, calon mertua membawa berkah^^

Tika137 : iya nih..ga sampe-sampe mau bikin kyumin jadian,huhuhu

: hahaha..belom saatnya siwon dateng ke apartemen kyu *eh,hehe

KikyWP16 : waduuuh, jadian aja belom saaaay, sabar yaaa..hehe

kyuwie : harus baca chapter 8 dulu yaaa,hehe

martia elfishyekyuminhyuk : hahaha..ngeres deeeeh, haha

Guest : udah dilanjuut yaaaa

Nina317Elf : makasiiih yaaa..ini udah aku panjangin,hehe

: NC? Aduuuuh, ga bisa janjiii,karena saya masih sangat amatiran..hoho..

Heldamagnae : iya emang bikin iri,haha

littlecupcake noona : haha..semoga suka sama chapter iniii ^^

ChoLau137 : eh?kok panggil noona?kamu cowok ya?*sorry kalo salah..hehe

.vikink : mmm..masih rahasia yaa,ayoo coba ditebak-tebak aja deh yaa,hehe *PLAK

chaerashin : makasiiih yaaa^^

abilhikmah : iyaa, ga tegaa sebenernya juga bikin ming menderitaaa..

Maximumelf : maapiin yaaak..kan udah dibilangin,kalo ini mata suka sliwer,hehe..iya,doain aja ^^

PaboGirl : hahaha..iya,ming masih beruntung kok,karena heechul sayang banget sama dia^^

JaeKyuCheonsa : annyeong..salam kenal yaa ^^ makasiiih udah berkenan baca sama review, semoga suka sama chapter ini ^^

zaAra evilkyu : hehe..udah dilanjut yaa,semoga sukaa^^ Siwon? Dia masih lagi semedi buat ngatur taktik nyulik sungmin kayaknya,haha

fariny : mmm,kapan ya? Doain aja semoga dia cepet-cepet nyatain perasaannya *eh, hehe

min : ini udah lanjut lagi yaaa, maaf karena lama updatenya..

cywelf : ini udah dilanjut yaa,semoga sukaa..

etrisna13 : mmm, coba tebak-tebak dulu aja deh yaaa, makasiiiih udah bersedia baca dan review ^^

.7 : selow,seloww..makasiih udah mau baca dari awal..kapan ya?doain aja deh yaa biar cepet nyatain,aku sendiri juga udah ga sabar..hehe

ayyaLaksita : hehe..

minnalee1 : iyaa,sabar yaa ^^

joyyyyyy : udah dilanjut lagi yaaa,semoga sukaaa

AmyKyuMinElf : makasiiih,semoga suka yaaa sama chapter iniii

vitaminsparkyu1123 : iya, ga apa2..makasih yaa udah bca plus review..hhehe

ShinShinSparkyu : boleh kok..tapi aku ga bisa jawab, jadi ditebak-tebak terus aja yaaa,hehe..makasih buat semangatnya ^^

addina : haha..sayang sekali tebakan lo salah diiin,hahaha..thank you sayaaaang

dewi. : iya,ini udah update lagi, semoga sukaaa

farchanie01 : haha..samaaa ^^

dianaprilia07 : sok sibuk lo diaaaan,hahaha...eh?yakin banget itu eommanya sungmin?hoho..thank you ya diaaaan ^^

banana joyer : annyeong..salam kenaal yaaa..makasiiih,makasiiih bangeet^^ semoga suka sama chapter inii yaaa

zee konstantin : iya, minnie kasiaan..

Guest : makasiiih yaaaa ^^

Adinda Fauziyah J : huwaaaa, thank you banget dindaaaa sayaaaaang ^^

aslidELF : makasiiih ^^ masalah judul, maafin gue karena emang masih amatiran banget,jadi begitu deeh,haha..tapi tenang aja,pasti nanti nyambung koo^^

kyukyu : udah dilanjut yaaa..

nuralrasyid : makasiiih, udah dilanjut yaaa,semoga sukaaa ^^

Aku tunggu reviewnya lagi yaaaaa..see you in next chapter~^^

HanaDulSet