Please, Remember Me

By: HanaDulSet

Cast: Lee Sungmin, Cho Kyuhyun, and others

Genre: Romance, Drama

Rate: T+

Disclaimer: Terinspirasi dari banyak film dan drama. Saya hanya meminjam nama cast dan fanfiction ini murni milik saya^^

Warning: Gender Switch, Typo, Newbie

DON'T LIKE, DON'T READ

NO PLAGIAT!

-Chapter 10-

Kyuhyun berdiri di samping tempat tidur Sungmin, seraya memperhatikan gerakan sosok perempuan cantik nan anggun yang tengah memeriksa keadaan Sungmin dengan stetoscopenya. "Bagaimana noona? Dia baik-baik saja kan?"

Perempuan yang masih mengenakan jas putih khas dokter, dengan papan nama kecil tersemat di bagian dada kiri bertuliskan Ahra itu, tersenyum ramah ke arah Kyuhyun. "Ne, kau tak perlu khawatir. Tidak ada yang serius. Dia hanya terlalu lelah dan stress, Kyu."

Kyuhyun mendesah lega dan menyunggingkan senyum tipis ke arah kakak sepupunya itu. "Gomawo noona. Mian, telah membuatmu datang selarut ini."

Perempuan itu kembali tersenyum seraya mengusap lengan Kyuhyun. "Gwenchana. Itu memang tugasku, Kyuhyun-ah. Aku pulang dulu, ne?"

"Biar aku antar noona." Tawar Kyuhyun yang langsung mendapat penolakan dari Ahra.

"Tidak perlu, Kyu. Aku masih sanggup mengemudi sendiri. Aku sudah terbiasa pulang larut seorang diri. Kau jaga saja kekasihmu baik-baik. Arra?" Goda Ahra sambil menyenggol pelan lengan Kyuhyun.

"Hhh, terserah kau saja, noona. Kalau begitu, biar aku antar sampai pintu." Ajak Kyuhyun seraya melangkah keluar kamar Sungmin yang langsung diikuti Ahra.

"Kyu, kekasihmu sungguh manis. Pantas saja ibumu sangat menyukainya." Ahra kembali menggoda Kyuhyun.

"Kau bertemu eomma?" Tanya Kyuhyun.

Ahra mengangguk sambil menatap Kyuhyun. "Hmm..Beberapa hari yang lalu, ibumu mengunjungiku di rumah sakit. Dia bercerita banyak dan benar-benar menyukai kekasihmu. Hhh..Akhirnya uri Kyunnie memiliki kekasih." Ahra melemparkan senyum menggoda ke arah Kyuhyun.

"Jangan menggodaku terus." Ucap Kyuhyun sedikit kesal.

Ahra tertawa pelan dan menghentikan langkah karena telah sampai di depan pintu apartemen Kyuhyun. Ia mengangkat tangannya dan mengacak pelan rambut adik sepupu yang tingginya melampaui tinggi badannya itu. "Baiklah. Baiklah. Noona pulang dulu, ne?"

Kyuhyun mengangguk pelan sambil membukakan pintu. "Hm..Gomawo. Hati-hati di jalan."

"Ne. Annyeong..." Ahra tersenyum seraya melambaikan tangan lalu melangkah menjauhi pintu apartemen Kyuhyun.

###

Sungmin menggeliat di bawah selimut tebalnya kala merasakan sinar matahari pagi menerobos masuk di celah-celah kelopak matanya yang ingin terbuka. Tangan gadis itu memegangi kepalanya yang terasa sangat pening seraya berusaha bangkit dari posisi tidurnya. Matanya berhasil terbuka sempurna setelah ia menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur. Beberapa kali ia menghembuskan napas berat karena mengingat beberapa kejadian kemarin yang membuatnya hampir gila. Namun ia tak begitu ingat dengan kejadian semalam. Sungmin hanya ingat bahwa dia mabuk berat lalu Kyuhyun datang dan menggendongnya pulang ke apartemen. Gadis itu memejamkan matanya sesaat kala mengingat niatnya untuk pergi dari apartemen Kyuhyun. Ia langsung memantapkan niatnya itu, lalu beranjak dari tempat tidurnya dan bergerak membereskan semua barang-barangnya.

CEKLEK

Sungmin yang tengah memasukkan pakaian ke dalam koper besar miliknya, segera menoleh ke arah pintu kamarnya. Kedua matanya langsung bertemu tatap dengan mata tajam Kyuhyun. Di tangan Kyuhyun terdapat sebuah nampan berisi semangkuk bubur hangat dan segelas susu coklat.

"Apa yang kau lakukan?" Tanya Kyuhyun ketus seraya meletakkan nampan yang ia pegang di nakas samping tempat tidur Sungmin.

Gadis manis yang wajahnya masih terlihat pucat itu, menelan ludahnya susah payah, merasa sedikit takut akan tatapan Kyuhyun yang seperti mengintimidasinya. "Kyu...Mian. Aku akan pergi dari sini. Aku tidak ingin terus membebanimu." Jawab Sungmin dengan nada pelan seraya menunduk.

Kyuhyun melangkah mendekati Sungmin. "Kau tidak ingat apa yang aku katakan semalam? Oh, aku lupa. Semalam kau mabuk berat, pantas saja. Jadi memang percuma aku berbicara panjang lebar." Ucap Kyuhyun masih dengan nada ketus. Ia berbalik lalu melangkah keluar kamar dan berhenti saat sampai di ambang pintu kamar Sungmin. "Pergilah! Jika memang itu maumu. Lakukanlah sesuka hatimu, Lee Sungmin!"

Sungmin menatap sedih punggung Kyuhyun yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang.

BRAK

Sungmin sedikit terlonjak mendengar suara pintu depan apartemen yang dibanting itu. Ia dapat merasakan kemarahan Kyuhyun sejak tadi melihat sorot mata tajamnya. Setetes air mata berhasil lolos dari sudut matanya. Ia bangkit dan berjalan mendekati nakas, lalu duduk di tepi tempat tidurnya sambil menatap sedih ke arah makanan yang Kyuhyun buat. "Kenapa tidak mencegahku pergi, Kyu? Hiks.." Sungmin bermonolog seraya terisak. Sungguh ia tidak ingin pergi dari apartemen Kyuhyun. Ia benar-benar telah merasa nyaman berada di sini, bersama lelaki itu, lelaki yang selalu melindungi dan menolongnya semenjak pertemuan pertama mereka di bandara. Sungmin menangis merasa tidak rela harus meninggalkan lelaki itu. Beberapa hari terakhir, jantungnya terasa berdegup lebih cepat jika berada di dekat Kyuhyun. Ia tidak tahu pasti tentang perasaannya itu, namun yang jelas ia tetap harus pergi dari sini. Segera ia mengusap kasar air matanya, lalu kembali melanjutkan kegiatan packing -nya.

TING TONG

Beberapa menit berlalu, bel apartemen Kyuhyun berbunyi. Sungmin menghentikan kembali kegiatannya, dan segera beranjak menuju pintu depan apartemen Kyuhyun. "Eoh?" Sungmin sedikit kaget kala melihat sosok Heechul di layar intercomm sedang menanti pintu apartemen Kyuhyun dibuka.

Sungmin sedikit membelalakkan matanya karena begitu pintu terbuka, Heechul langsung menubruk dan memeluk tubuhnya erat seraya menangis.

Tangan Heechul bergerak mengusap kepala dan punggung Sungmin tanpa melepas pelukannya pada tubuh gadis itu.

Sungmin yang merasa bingung karena Heechul hanya menangis tersedu-sedu tanpa mengeluarkan sepatah kata apa pun, ikut mengeluarkan air mata, seakan-akan merasakan perasaan yang sama dengan Heechul.

"Eomma? Waegeurae?" Tanya Sungmin pelan. Merasa Heechul akan melepaskan pelukannya, ia segera mengusap kasar air matanya. Sebuah senyuman manis berhasil Sungmin berikan untuk wanita cantik di hadapannya itu. Tangannya bergerak mengusap pelan air mata yang membasahi wajah cantik Heechul. "Kenapa eomma tiba-tiba menangis seperti ini?"

Bibir Heechul yang sedikit bergetar itu menyunggingkan sebuah senyum haru. Ia tak pernah menyangka bahwa Sungmin ternyata putri dari sahabatnya yang telah lama meninggal. Ia juga sangat bersyukur telah dipertemukan dengan Sungmin. Tangannya bergerak mengusap kepala Sungmin lalu beralih ke pipi gadis manis itu. "Eomma sangat mengkhawatirkanmu, sayang. Kau terlihat sangat pucat."

Sungmin kembali tersenyum. "Gwenchana, eomma."

"Kyuhyun ke mana? Sepertinya eomma tidak mencium keberadaannya di sini." Tanya Heechul sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemen.

Sungmin merasa bingung harus menjawab apa. "Ta-tadi dia pergi keluar, eomma. Dia tidak bilang pergi ke mana."

"Dasar anak itu, memang selalu semaunya sendiri." Heechul menggerutu sambil melangkah masuk dengan tangan kanannya menggandeng tangan kiri Sungmin. "Eoh?" Perhatian Heechul teralihkan saat ia melewati kamar Sungmin yang terbuka dan menampakkan beberapa koper. Ia melepaskan genggaman tangannya pada tangan Sungmin dan melangkah masuk. "Minnie-ah, untuk apa semua koper ini? Kau mau pergi ke mana?"

Sungmin yang berdiri di ambang pintu kamarnya hanya diam dan menunduk. "Aku akan pergi dari sini, eomma." Jawab Sungmin dengan nada sedih.

"Mwo?" Heechul cukup terkejut mendengar jawaban Sungmin. "Kenapa pergi? Kalian sedang bertengkar?"

Sungmin menggeleng pelan dan menatap sendu ke arah Heechul. "Ani. Eomma, sebenarnya aku bukan keka-"

"Eomma tidak mengizinkanmu pergi dari sini!" Ucap Heechul menyela perkataan Sungmin. Ia bergerak menarik tubuh Sungmin untuk mendekat. "Duduklah, eomma akan menceritakan sesuatu padamu." Heechul berucap pelan seraya membimbing tubuh Sungmin untuk duduk bersila di atas tempat tidur dengan posisi saling berhadapan. Tangan Heechul bergerak mengusap pelan pipi Sungmin sambil menatapnya sayang. "Minnie-ah, eomma mohon tetaplah tinggal di sini bersama Kyuhyun, jangan pergi ke mana-mana."

Sungmin menunduk sebentar lalu menatap Heechul sedih. "Aku tidak ingin terus membebani Kyuhyun, eomma."

"Tidak ada yang terbebani sayang. Dengarkan eomma. Besok eomma dan appa sudah harus kembali lagi ke Jepang. Kami hanya sebentar untuk menyelesaikan beberapa urusan dan setelah itu kami akan kembali menetap di Korea. Perasaan eomma hanya akan tenang jika kau tetap tinggal di sini. Karena eomma sudah berjanji pada ibumu untuk selalu melindungimu." Ucap Heechul sambil menggenggam kedua tangan Sungmin.

Mata Sungmin membulat, cukup terkejut mendengar perkataan terakhir Heechul. "Berjanji pada eomma? Apa eomma..."

Heechul mengangguk, seakan mengerti arah pertanyaan Sungmin. "Kyuhyun telah menceritakan semua tentangmu, dan eomma mengenal ibu serta ayahmu. Dulu kami bersahabat, Minnie-ah."

Alangkah terkejutnya Sungmin mendengar penuturan Heechul. Ia kehilangan kata-kata dan hanya mampu menatap mata berkaca-kaca milik wanita di hadapannya itu. Tetes demi tetes air bening meluncur begitu saja dari sudut mata Sungmin. 'Ya Tuhan, apa maksud semua ini?' Batin Sungmin seraya memegangi dadanya yang terasa sesak. Dan sebuah isakan berhasil lolos dari mulut Sungmin. "Hiks.."

Heechul segera merengkuh tubuh bergetar Sungmin yang menahan tangis. "Menangislah sayang. Keluarkan saja semua beban pikiranmu." Ucap Heechul seraya mengusap pelan punggung Sungmin.

"Eomma..." Panggil Sungmin di tengah isakan tangisnya. "Eomma..."

Heechul semakin mengeratkan dekapannya saat merasakan tubuh Sungmin yang semakin bergetar. Ia meneteskan air mata, ikut merasakan kesedihan yang sama dengan Sungmin. Ia juga sangat merindukan ibu Sungmin yang tak lain adalah sahabat baiknya. Meskipun ia telah mengetahui fakta tentang kematian ibu Sungmin yang sebenarnya, namun ia tidak akan menceritakannya pada Sungmin sekarang.

"Sudah, sudah. Eomma rasa sudah habis waktumu untuk menangis sayang." Ucap Heechul sambil tersenyum dan menatap wajah manis Sungmin. Kedua tangannya bergerak mengusap wajah Sungmin yang basah karena air mata. "Kau tidak boleh menangis lagi sekarang, karena ada eomma di depanmu. Mulai sekarang, anggap aku sebagai ibumu. Arrasseo?" Tanya Heechul sambil mencari wajah Sungmin yang menunduk.

Sungmin mendongak menatap sendu ke arah Heechul. Ia mengangguk pelan sambil tersenyum penuh haru dan kembali meneteskan air mata.

"Kau harus selalu ingat, kau itu termasuk keluarga kami." Ujar Heechul sambil mengusap pelan air mata Sungmin.

"Tapi eomma, sebenarnya...a-aku bukan kekasih Kyuhyun. Kami berdua hanya ber..."

"Arra.." Heechul tersenyum memotong perkataan Sungmin.

Mata Sungmin sedikit membulat. "Ne?"

"Eomma sudah tahu sayang...Kyuhyun telah menceritakan semuanya pada eomma. Tapi eomma tidak mau tahu itu. Bagi eomma, kau tetap kekasih Kyuhyun." Heechul terdiam sebentar menjeda ucapannya. "Satu lagi, eomma juga hanya mau yang menjadi menantu eomma itu kau. Ingat. Hanya. Kau. Lee Sungmin." Heechul memberi penekanan pada setiap kata-katanya.

"Mwo? T-tapi eomma..." Sungmin menatap Heechul tidak percaya. Ia begitu terkejut mendengar pernyataan yang keluar dari bibir tipis Heechul.

"Tidak ada penolakan. Titik. Sekarang, diam dan dengarkan eomma. Kau merindukan ibumu bukan?"

Sungmin mengangguk pelan. "Ne, sangat."

"Kalau begitu, apa kau mau mendengarkan cerita masa-masa sekolah eomma dan ibumu dulu?" Tanya Heechul.

Sungmin mengangguk sambil tersenyum penuh haru. "Ne. Tolong ceritakan semua tentang eomma. Oh, jamkkan manyo. Apa Heechul eomma punya foto eomma atau mungkin masih menyimpan foto kalian? Aku begitu ingin melihat wajah eomma." Ujar Sungmin dengan nada sedih.

Heechul sedikit menghela napas sebelum mengeluarkan suara. "Mianhae Minnie-ah. Eomma tidak ingat foto-foto kami yang dulu ada di mana karena. Eomma sangat menyesal tidak menjaganya dengan baik. Tapi eomma janji, eomma akan berusaha mencarinya."

Tangan Sungmin bergerak menggenggam tangan Heechul dengan lembut. "Gwenchana eomma. Neomu gomawoyo."

Heechul tersenyum miris dan mengusap-usap kepala Sungmin. "Baiklah. Sekarang, dengarkan cerita eomma, ne?" Tanya Heechul yang langsung mendapat anggukan dari Sungmin.

###

Kyuhyun tampak menatap lampu lalu lintas dengan gelisah, karena lampu hijau tak kunjung menyala. Kini ia tengah mengendarai mobilnya menuju apartemen, berharap Sungmin belum pergi. Setelah membanting pintu apartemennya, ia langsung pergi ke kantor berharap bisa melupakan rasa kesalnya. Namun sesampainya di kantor, otaknya sama sekali tak dapat berpikir untuk menyelesaikan pekerjaannya, karena yang terpikir hanyalah Sungmin dan Sungmin. Ia begitu menyesal tidak mencegah Sungmin pergi. Karena itulah, ia langsung memutuskan untuk kembali ke apartemen setelah menghadiri rapat rutin yang juga dihadiri oleh ayahnya dengan terpaksa.

Kyuhyun bergegas turun dari mobilnya begitu sampai di basement apartemen dan langsung melesat masuk gedung megah itu. Ia sedikit berlari setelah lift yang membawa dirinya sampai di lantai 4. Dengan gerakan cepat ia menekan tombol password yang membuat pintu apartemennya terbuka.

"Lee Sungmin.." Panggil Kyuhyun begitu memasuki apartemennya. Ia pun langsung berlari menuju kamar Sungmin. Kedua mata Kyuhyun membulat, sedikit tak percaya dengan pemandangan yang hadir di hadapannya. Sungmin dan ibunya sedang tertidur nyenyak dalam posisi saling berpelukan.

"Ya."

Kyuhyun sedikit terlonjak kala mendengar suara sang ibu yang tiba-tiba membuka matanya. Ia dapat melihat ibunya yang berbaring mengahadap pintu bergerak pelan melepas pelukannya pada tubuh Sungmin, takut membangunkan gadis manis yang tengah tertidur pulas itu. Heechul lalu turun dari tempat tidur Sungmin dan berjalan mendekatinya kemudian menarik tangannya menjauhi kamar Sungmin setelah sebelumnya menutup pintu kamar gadis itu.

PLAK

Satu pukulan berhasil mendarat di kepala belakang Kyuhyun. "Aaaak! Eomma..kenapa memukulku?" Kyuhyun mengaduh sambil mengusap-usap kepalanya yang terasa pedas.

"Kau apakan Sungmin, sampai dia ingin pergi dari sini, eoh? Jawab dengan jujur!" Perintah Heechul dengan nada tegas.

"Eomma, apa yang kau pikirkan? Aku sungguh tidak melakukan apa pun pada Sungmin." Ujar Kyuhyun menjelaskan.

"Jinja?" Heechul menyipitkan matanya berusaha menelisik ke dalam mata putra semata wayangnya itu.

"Ne! Tentu saja. Makanya eomma jangan asal memukul. Aiish.." Kyuhyun mengacak rambutnya kasar karena merasa sedikit kesal.

Heechul menghembuskan napas berat lalu kembali menatap ke arah kamar Sungmin. "Baguslah. Pokoknya eomma mau Sungmin tetap tinggal di sini. Satu lagi, eomma tahu kau mencintainya. Jadi, cepat katakan padanya atau kau akan menyesal seumur hidupmu."

Kyuhyun kehilangan kata-katanya dan hanya mampu menatap tak percaya ke arah Heechul.

"Eomma pulang dulu. Jangan lupa, besok tolong antarkan eomma dan appa ke bandara. Arra?" Heechul berusaha menahan tawa melihat gelagat putranya yang salah tingkah.

"E-eoh..Hati-hati di jalan eomma." Ucap Kyuhyun yang mengantarkan sang ibu hingga ke depan pintu apartemen.

"Ne, annyeong..."

Kyuhyun tersenyum tipis dan membalas lambaian tangan sang ibu lalu menutup kembali pintu apartemennya.

###

"Kenapa dia tidak bangun-bangun? Apa dia pingsan lagi? Aiiish..." Kyuhyun mengacak rambutnya frustrasi lalu kembali meneguk gelas yang berisi air dingin yang sedari tadi berada di genggamannya. Ia baru saja menyelesaikan acara makan malam seorang diri dengan menu yang juga ia masak sendiri. Lelaki tampan itu menopangkan dagunya dengan tangan kanan, tampak memikirkan sesuatu. Semenjak ibunya pulang, Sungmin sama sekali tidak keluar dari kamarnya. Rasa khawatir menyergap diri Kyuhyun karena ia tahu betul kondisi Sungmin yang sedang lemah. Tak menunggu lama, Kyuhyun langsung bangkit dan melangkah menuju kamar Sungmin. "Aku tengok saja."

Tangan kanan Kyuhyun yang tengah memegang knop pintu kamar Sungmin tak kunjung menekannya ke bawah. Ia merasa ragu sekaligus canggung akibat aksi marahnya pada Sungmin dan melepaskan genggaman tangannya pada knop itu. Kyuhyun hanya berdiri memandangi pintu yang tertutup rapat itu hingga seseorang membukanya dari dalam, yang membuat Kyuhyun sedikit terlonjak dan membulatkan matanya.

Hanya beberapa detik manik tajam Kyuhyun berhasil bertemu tatap dengan manik bening Sungmin setelah pintu kamar terbuka, karena Kyuhyun langsung bergerak menjauhi gadis yang masih terlihat pucat itu. Namun tanpa Kyuhyun sangka, Sungmin mengejarnya dan langsung menggenggam tangan kanannya. Hal itu berhasil menghentikan langkah Kyuhyun. Lelaki itu langsung membalikkan tubuhnya dan menatap genggaman tangan Sungmin.

Hening beberapa saat, tak ada yang mau membuka pembicaraan terlebih dahu. Sungmin masih setia menundukkan kepalanya sementara Kyuhyun memandang lekat ke arah Sungmin, menunggu gadis itu mengeluarkan suaranya.

"Mianhe, Kyu. Kumohon jangan marah padaku. Jangan menghindariku." Suara Sungmin terdengar sedikit bergetar karena berusaha menahan agar tidak menangis di depan Kyuhyun.

Tidak ada jawaban dari Kyuhyun karena ia masih setia memandangi gadis yang tengah tertunduk itu.

"Aku merasa tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Ak-" Ucapan Sungmin terpotong karena tiba-tiba Kyuhyun menarik tubuhnya ke dalam dekapannya. Sungmin tak kuasa menahan air mata sekaligus isakannya saat merasakan Kyuhyun mengeratkan pelukannya dan mengusap pelan punggungnya. Sungguh ia merasa sangat nyaman berada dalam pelukan hangat seorang Cho Kyuhyun. Kedua tangannya pun bergerak membalas pelukan lelaki itu.

"Jangan menangis lagi jika memang kau ingin aku tidak marah padamu." Ucap Kyuhyun dengan pelan namun sarat akan sebuah tuntutan.

"Hm..Gomawo, Kyu." Sungmin mengangguk cepat dalam pelukan Kyuhyun dan berusaha meredam isakannya.

Kyuhyun tersenyum sekilas sebelum melepas pelukannya dan menangkup wajah Sungmin agar menatapnya. "Lihatlah betapa buruknya wajahmu karena terlalu banyak menangis." Ejek Kyuhyun.

Sungmin memajukan bibirnya kesal dan kedua tangannya yang sedari tadi menggenggam kaos bagian pinggang Kyuhyun mengusap wajahnya dengan gerakan cepat. "Jangan mengejekku."

Kyuhyun tersenyum tipis melihat kelakuan Sungmin dan dengan gerakan pelan kembali merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

Mata Sungmin sedikit membulat, cukup terkejut mendapat perlakuan yang tak biasa dari Kyuhyun. Ia dapat merasakan kedua lengan lelaki itu semakin erat memeluk pinggangnya. Kembali Sungmin merasakan sebuah kenyamanan dan kedua tangannya perlahan balas memeluk lelaki itu.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Kyuhyun. Ia mulai merasa ketagihan memeluk Sungmin dan rasanya tak ingin melepaskan pelukannya.

Beberapa menit berlalu tanpa ada suara dari keduanya yang sedari tadi tampak memejamkan mata, menikmati moment saling berpelukan tersebut.

Bulu kuduk Sungmin sedikit meremang saat merasakan deru napas Kyuhyun menyapa kulit lehernya. "Jangan pergi. Tetaplah di sini bersamaku." Telinga kanannya langsung menangkap suara Kyuhyun yang setengah berbisik. Sedetik kemudian, Sungmin merasakan Kyuhyun bergerak melepas pelukannya. Terbesit sedikit rasa kecewa karena ia masih ingin menikmati dekapan hangat nan nyaman dari Kyuhyun.

"Kau mendengarku?" Tanya Kyuhyun seraya mencari wajah Sungmin yang kembali menunduk.

Sebuah anggukan Sungmin berikan sebagai jawaban tanpa ingin menatap Kyuhyun, karena ia sangat yakin saat ini wajahnya telah memerah.

Kyuhyun tak tinggal diam melihat gelagat aneh Sungmin dan langsung mengangkat wajah gadis itu dengan kedua tangannya. Lelaki itu berusaha menahan tawanya kala melihat wajah Sungmin yang memerah. "Ya. Kenapa wajahmu, eoh? Ahh...Kau pasti malu karena tadi aku peluk, bukan?" Ledek Kyuhyun yang sukses membuat wajah Sungmin semakin memerah.

"Diam kau! Jangan meledekku terus!" Protes Sungmin dengan nada kesal. Ia kembali memajukan bibirnya lucu melihat Kyuhyun yang tertawa puas. "Tertawa saja sepuas hatimu."

Kyuhyun langsung menghentikan aksi menertawai Sungmin dan mengacak pelan rambut gadis yang tampak merajuk itu. "Baiklah. Baiklah. Mian. Kau belum makan, bukan? Aku tidak ingin kau sakit lagi. Jadi sekarang juga kau harus makan." Perintah Kyuhyun seraya mendorong tubuh Sungmin supaya berjalan ke arah dapur.

###

"Bagaimana? Masakanku tak kalah enak dengan masakanmu, bukan?" Tanya Kyuhyun penasaran setelah melihat Sungmin memasukkan suapan pertamanya ke dalam mulut.

Sungmin tak langsung menjawab. Ia mencoba mengunyah terlebih dahulu makanannya sambil menyipitkan matanya menatap Kyuhyun yang duduk di hadapannya. Sungmin sengaja ingin mengerjai Kyuhyun yang tampak penasaran akan jawaban darinya sebagai bentuk balas dendam karena sedari tadi lelaki itu selalu meledeknya.

"Ya! Aku bertanya padamu tentang masakanku, kenapa tidak menjawab, eoh?" Kyuhyun berujar dengan sedikit emosi karena tak kunjung mendapat jawaban dari Sungmin.

"Terlalu asin." Jawab Sungmin datar.

"Ya! Lidahmu tidak normal? Masakan enak kau bilang terlalu asin." Protes Kyuhyun merasa tidak terima.

Sungmin sedikit terlonjak saat mendengar Kyuhyun berteriak protes dan menatap lelaki itu heran. "Ya! Kenapa marah? Kau sendiri yang bertanya pendapatku. Dan pendapatku masakanmu itu terlalu asin. Titik." Sungmin berusaha membela diri.

Kyuhyun mendesah dan mengacak rambutnya sekilas. "Aiish. Sudahlah. Aku tidak ingin berdebat denganmu." Ucap Kyuhyun yang langsung mengubah posisi duduknya menjadi menyamping.

Melihat itu, Sungmin tersenyum puas dan mengulurkan tangannya untuk menoel lengan Kyuhyun. "Eiii..Aku hanya bercanda. Masakanmu enak, Kyu. Bahkan lebih enak dari masakanku." Sungmin berujar seraya mencari wajah Kyuhyun.

Kyuhyun melirik Sungmin yang tengah tersenyum jahil. "Ya! Sekarang kau sudah berani mengerjaiku, eoh?"

Sungmin tersenyum tanpa dosa sambil memberi v-sign ke arah Kyuhyun. "Salahmu sendiri meledekku terus."

"Balas dendam?" Tanya Kyuhyun sambil membetulkan posisi duduknya agar kembali menghadap Sungmin.

"Eoh.." Jawab Sungmin.

Kyuhyun tertawa sekilas. "Dasar anak kecil."

"Ya! Sudah kubilang jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi!" Protes Sungmin.

Kyuhyun kembali tertawa karena melihat tingkah lucu Sungmin. "Sudahlah. Lanjutkan makanmu. Ini sudah cukup malam. Aku sudah mulai mengantuk."

Sungmin hanya bisa berdecak kesal dan menyerah menuruti perintah Kyuhyun.

Suasana kembali hening. Hanya terdengar suara sumpit yang bersentuhan dengan dinding mangkuk nasi Sungmin. Sesekali gadis itu melirik lelaki di hadapannya yang tampak sibuk memainkan PSP-nya. "Kyu..."

"Hm..." Jawab Kyuhyun tanpa mengalihkan pandangannya dari layar benda hitam kesayangannya itu.

"Kyu..."

Dengan terpaksa Kyuhyun mem-pause game-nya dan beralih menatap Sungmin. "Wae?"

Tangan Sungmin terulur menggenggam tangan Kyuhyun lalu melemparkan sebuah senyuman manis yang sarat akan ketulusan. "Gomawo...Neomu gomawoyo, Kyu. Mianhae, karena aku selalu merepotkanmu."

"Ani." Jawab Kyuhyun cepat. Ia balas menggenggam tangan Sungmin dan menatap lekat manik bening gadis itu. "Harus berapa kali aku katakan padamu? Aku tidak pernah merasa terbebani. Aku senang kau tinggal di sini, karena aku juga merasa kesepian jika sendiri."

Sungmin kembali tersenyum mendengar jawaban dari Kyuhyun. Rasanya baru kali ini ia melihat lelaki itu bersikap dan berkata sangat lembut padanya. Ia pun menatap genggaman tangan Kyuhyun pada tangannya.

Menyadari hal itu, Kyuhyun langsung melepas genggaman tangannya. "Mian. Oh ya, besok kau ikut denganku mengantar eomma dan appa ke bandara. Eomma menginginkanmu ikut mengantarnya." Kyuhyun menguap sesaat. "Haah, ngantuk sekali. Aku ke kamar dulu. Sampai besok." Ucap Kyuhyun dan langsung meninggalkan Sungmin untuk menutupi rasa gugupnya.

Sungmin hanya bisa mengedikkan bahu dan menatap lelaki itu heran lalu bangkit dari kursinya untuk mencuci piring bekas makan malamnya.

###

Kyuhyun yang tengah tidur di bawah selimut tebalnya dengan posisi menelungkup itu tampak menggeliat kecil karena sebuah aroma tiba-tiba mengusik indra penciumannya. Lelaki itu menguap sebentar dan memaksakan tubuhnya untuk segera bangkit. Meskipun sudah dalam posisi duduk, Kyuhyun masih setia memejamkan kedua matanya. Ia kembali menguap dan sebelah tangannya bergerak mengucek matanya yang terasa sulit sekali untuk dibuka. "Bau apa ini? Seperti bau kue." Kyuhyun melirik jam dindingnya sesaat. "Masih jam 5." Lagi-lagi Kyuhyun menguap. "Sedang apa dia pagi-pagi begini?" Tanya Kyuhyun pada dirinya sendiri. Tangan kanannya bergerak meraih kaos yang selalu ia lepas ketika tidur dan diletakkan di sampingnya. Selesai memakai kaos, ia langsung melangkah keluar kamar menuju dapur, karena penasaran apa yang sedang dilakukan Sungmin sehingga apartemennya dipenuhi oleh aroma kue.

Sesampainya di dapur, Kyuhyun sengaja tidak langsung menegur Sungmin yang tampak sangat sibuk dengan kuenya dan tidak menyadari akan kehadirannya. Ia berdiri bersandar pada sisi lemari es sambil melipat kedua tangannya di dada, menatap punggung Sungmin dan tanpa sadar sebuah senyum mengembang di bibirnya.

Sungmin tampak berpikir dan berniat mengambil sesuatu di lemari es. Saat berbalik, Sungmin sangat terkejut mendapati sosok Kyuhyun tengah berdiri menatapnya serius. "Omo! Ya! Kau mengagetkanku!" Sungmin berujar marah lalu menatap kesal ke arah Kyuhyun.

Kyuhyun tak mempedulikan suara protes dari Sungmin dan lebih memelih meneliti pekerjaan Sungmin. "Apa yang kau lakukan? Kau bisa membuat kue juga?"

Sungmin tertawa sesaat. Tangannya bergerak mengiris Brownies yang telah matang menjadi beberapa bagian kecil. "Tentu saja. Brownies buatanku ini tidak ada tandingannya. Ini..." Sungmin menyodorkan satu potong kecil Brownies ke depan mulut Kyuhyun.

"Apa?" Bukannya membuka mulut, Kyuhyun malah bertanya seolah tak mengerti.

Sungmin mencebik lalu menatap Kyuhyun sedikit kesal. "Coba ini. Buka mulutmu."

Dengan sedikit canggung, Kyuhyun menerima suapan dari Sungmin lalu mengunyah pelan potongan kecil Brownies coklat itu.

Sungmin menelisik wajah Kyuhyun, berharap lelaki itu mengatakan Browniesnya enak. "Bagaimana? Enak, bukan?" Sungmin bertanya penasaran.

Kyuhyun tersenyum tipis dan mengangguk pelan. "Hm, enak. Aku mau lagi." Kyuhyun menengadahkan tangannya ke depan Sungmin.

Sungmin tersenyum puas. Ia pun langsung mengambil piring kecil untuk menaruh satu potong Brownies yang lebih besar dan memberikannya pada Kyuhyun.

"Untuk apa kau membuat sebanyak ini?" Tanya Kyuhyun dengan mulut yang sedikit penuh.

"Untuk eomma dan appa. Di kotak ini untuk mereka makan di pesawat, yang itu untuk di makan di rumah, dan yang ini, untukmu." Ucap Sungmin sambil menunjuk kotak makan berisi potongan-potongan Brownies.

Kyuhyun tersenyum tipis tanpa sepengetahuan Sungmin. 'Manis sekali.' Batin lelaki itu.

###

Kini Kyuhyun dan Sungmin tengah berada di mobil menuju bandara bersama orang tua Kyuhyun. Sungmin duduk di kursi belakang bersama Heechul, dan Kyuhyun yang mengemudi ditemani sang ayah Hangeng yang duduk di kursi sebelahnya.

Sedari tadi Heechul menggenggam erat tangan Sungmin seraya merangkul bahu gadis itu. "Eomma akan merindukanmu, sayang." Heechul melemparkan sebuah senyuman lalu mengusap pelan kepala Sungmin.

"Nado eomma..." Sungmin tersenyum sedih dan sedetik kemudian memeluk erat Heechul yang langsung dibalas oleh wanita itu.

Kyuhyun dan Hangeng yang melihat adegan itu dari kaca spion hanya bisa saling bertukar pandang dan tersenyum.

"Minnie-ah. Apa eomma boleh memakan Brownies buatanmu sekarang? Kelihatannya enak sekali." Heechul berujar seraya tersenyum.

Sungmin tersenyum lalu melepas pelukannya pada Heechul. "Tentu saja eomma. Sebentar. Minnie membawa satu kotak lagi di dalam tas. Eomma makan yang ini saja, supaya yang di kotak itu utuh karena itu khusus untuk di perjalanan eomma dan appa." Ucap Sungmin sambil membuka kotak makan yang ia ambil dari dalam tas dan mempersilakan Heechul untuk mengambil Brownies itu.

"Aigoo..Terima kasih, sayang." Heechul mengambil sepotong Brownies dan tersenyum senang ke arah Sungmin.

"Appa, silahkan mencicipi juga." Sungmin berujar seraya menyodorkan kotak makan dengan sopan ke arah depan.

"Oh, dengan senang hati. Gomawo Minnie-ah." Hangeng tersenyum lebar setelah mengambil sepotong Brownies lalu memakannya dengan lahap. "Ini benar-benar enak." Puji pria keturunan Cina itu sambil kembali menatap Sungmin di belakang.

"Gomawo appa." Jawab Sungmin pelan.

"Kau lihat Hannie? Calon menantu kita benar-benar sempurna, bukan?" Tanya Heehul menggoda dengan mulut masih mengunyah Brownies yang tersisa sedikit.

Kyuhyun dan Sungmin sontak saling bertukar tatap lewat kaca spion depan. Sungmin langsung memutus kontak mata setelah beberapa detik saling menatap. Ia hanya bisa menunduk berusaha menyembunyikan wajahnya yang terasa memanas. Sementara Kyuhyun hanya mampu mengusap tengkuknya salah tingkah tanpa ingin mengeluarkan komentar.

"Ya! Minnie-ah. Kenapa kau hanya menawari appa dan eomma?" Kyuhyun mengeluarkan suara protesnya untuk menghilangkan salah tingkahnya.

Sungmin mengangkat kepala dan menatap ke depan. "Oh, mian. Ini." Sungmin menyodorkan kotak makan yang sedari tadi ia pegang ke samping Kyuhyun.

Bukannya mengambil potongan Brownies di dalam kotak, Kyuhyun justru sedikit menolehkan kepalanya dan sedikit membuka mulutnya meminta disuapi, tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan. "Aku tak mengambilnya."

Sungmin setengah mati menahan malu terhadap kedua orang tua Kyuhyun, dan terpaksa mengambil sepotong kecil Brownies lalu menyuapkannya ke mulut Kyuhyun.

"Aigoo. Kalian berdua manis sekali, benar-benar serasi." Heechul berujar seraya tersenyum bahagia yang dibalas anggukan serta senyuman hangat dari sang suami.

###

"Ne, aku sudah di apartemen. Apa kau pulang malam, Kyu?" Tanya Sungmin pada sosok di seberang telepon. Ia meneguk pelan air dingin dalam gelas bening untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

Sebulan sudah semenjak Sungmin mengutarakan niatnya untuk pergi dari apartemen Kyuhyun yang tidak mendapat izin dari lelaki itu dan Heechul, hubungan Sungmin dan Kyuhyun menjadi semakin akur. Meskipun terkadang masih terlibat dalam perdebatan kecil yang tak berarti, mereka berdua menjadi sering menghabiskan waktu bersama untuk sekadar jalan-jalan, makan, atau berbelanja kebutuhan sehari-hari di supermarket.

"Iya, aku mungkin akan pulang agak malam. Tak usah menungguku." Jawab sosok di seberang sana.

"Hm.."

TING TONG

Sungmin segera menoleh ke arah pintu apartemen dan bergerak melangkah untuk melihat siapa yang datang.

"Siapa?" Tanya Kyuhyun penasaran.

Sungmin tidak langsung menjawab karena fokus melihat ke layar intercomm. "Hanya pengantar Pizza. Kau memesankan Pizza untukku?" Tanya Sungmin dengan nada gembira.

"Pizza?Ak-"

"Eoh? Mati. Aiish, aku lupa mengisi baterainya." Sungmin meletakkan smartphone-nya yang telah mati di meja tamu lalu segera beralih ke depan pintu.

Dengan santainya Sungmin membuka pintu apartemen Kyuhyun tanpa ada rasa curiga sedikit pun.

"Satu Cheese King Pizza spesial untuk Nona Sungmin."

Kedua mata Sungmin terbelalak hebat kala melihat sosok lelaki yang paling ia benci hadir di hadapannya dengan kedok sebagai pengantar Pizza. Tanpa pikir panjang, Sungmin segera bergerak menutup pintu apartemen Kyuhyun namun gagal karena lengan kekar lelaki itu secepat kilat menahannya. Sekuat tenaga Sungmin berusaha mendorong pintu itu agar tertutup sehingga terjadi aksi saling dorong pintu apartemen. "Choi Siwon brengsek! Minggir kau! Akh.." Usaha Sungmin sia-sia karena tenaga lelaki yang tak lain adalah Siwon itu jauh lebih kuat.

Siwon yang berhasil masuk ke dalam apartemen, dengan gerakan cepat langsung menutup pintu otomatis itu. Ia membuka topi penyamarannya dan tersenyum misterius ke arah Sungmin yang baru saja terhempas ke dinding akibat aksi saling dorong tadi. "Apa kabar sayang? Lama sekali kita tidak bertemu. Aku merindukanmu."

Sungmin segera menepis tangan Siwon yang ingin membelai wajahnya. "Apa maumu hah?" Tanya Sungmin dengan nada ketus seraya mendorong tubuh Siwon menjauh.

Siwon tersenyum miring dan kembali mendekati tubuh Sungmin. "Oh, kau sudah tidak sabar rupanya. Tenangkan dirimu dulu Nona." Tangan Siwon bergerak mengelus pipi halus nan putih milik Sungmin.

"Singkirkan tanganmu Choi Siwon!" Sungmin kembali menepis keras tangan Siwon dan menatap benci ke arah lelaki berlesung pipit itu.

PLAK

Sungmin sedikit terhuyung ke belakang kala satu tamparan berhasil mendarat di pipi mulusnya. Tangannya reflek memegangi pipinya yang seketika terasa panas.

"Sudah cukup aku bersabar selama ini Lee Sungmin. Kali ini aku akan membuatmu tak bisa lagi menolakku." Ucap Siwon dengan nada menggeram. Jelas sekali lelaki itu tengah terbakar emosi, terlihat dari otot rahangnya yang tampak mengeras. Saat itu juga kedua tangan Siwon menarik kasar kepala Sungmin dan membungkam paksa bibir gadis itu dengan bibirnya.

###

"Aiish! Sial!" Umpat Kyuhyun kala mendengar suara operator dari dalam smartphone-nya pertanda ponsel Sungmin tidak aktif. Ia semakin gelisah karena beberapa kali menghubungi telepon apartemennya namun tidak diangkat oleh Sungmin. Begitu sambungan teleponnya dengan Sungmin tadi terputus, sebuah firasat buruk langsung menyergap perasaannya. Ia pun langsung beranjak meninggalkan ruangannya menuju tempat parkir lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh. Berbagai pikiran aneh mebayangi diri Kyuhyun karena ia sama sekali tidak memesan Pizza untuk diantar ke apartemen.

Tiiin! Tiiiin! Tiiin!

Kyuhyun menekan klakson mobilnya tidak sabar. "Ada apa? Kenapa macet disaat seperti ini? Sial!" Umpat Kyuhyun seraya mengacak rambutnya frustrasi. Lelaki itu menghembuskan napas berat beberapa kali, berusaha untuk menenagkan dirinya sendiri. Pikirannya penuh akan Sungmin. Ia begitu takut sesuatu yang buruk tengah menimpa gadis itu. Lelaki itu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil dan memejamkan mata sesaat. "Kumohon lindungi Sungmin."

###

"Mmpph...Lep..pmmpph..YA!" Sekuat tenaga Sungmin berusaha menjauhkan tubuh Siwon yang menghimpit tubuhnya, namun tetap saja gagal. Lelaki berperawakan tinggi itu terus saja membungkam bibir Sungmin dengan brutal. Sungmin memejamkan matanya seraya terus memberontak agar bisa melepaskan diri dari kungkungan Siwon.

DUG

Sungmin berhasil menendang kaki Siwon dan saat itu juga ia tak melewatkan kesempatan untuk menghindar karena Siwon yang kesakitan langsung melepaskan himpitannya. Sungmin segera berlari untuk mengangkat telepon apartemen Kyuhyun yang sedari tadi berdering karena ia sangat yakin yang menelepon adalah Kyuhyun. Namun belum sempat ia meraih gagang telepon, lengan kekar Siwon telah lebih dulu mencekal tangannya dan kembali menghempaskan tubuh Sungmin ke dinding. Sungmin meringis kesakitan karena Siwon mencengkram lengannya begitu kuat. Sedetik kemudian ia kembali melemparkan tatapan benci ke arah Siwon. Setetes air mata berhasil lolos tanpa seizin Sungmin.

Sebelah tangan Siwon bergerak mengusap tetesan air mata di pipi mulus Sungmin. "Jangan menangis sayang. Aku tidak akan menyakitimu jika kau tidak melawanku. Aku mencintaimu Sungmin. Tapi kenapa kau tidak pernah membalas perasaanku?" Tanya Siwon dengan nada sedikit tinggi.

"Begini caramu memperlakukan orang yang kau cintai? Kau salah, Tuan. Itu bukan cinta. Dan itulah alasanku mengapa aku tidak pernah bisa membalas perasaanmu." Ucap Sungmin tegas.

Siwon menatap tajam Sungmin dan semakin menghimpit tubuh Sungmin. "Tahu apa kau soal cinta, hah? Dan itulah yang membuatku harus berbuat seperti ini padamu Lee Sungmin!" Secepat kilat Siwon kembali menyambar kasar bibir Sungmin. Tak ingin ditendang lagi oleh Sungmin, kedua kaki Siwon menghimpit keras kaki gadis itu yang terus saja bergerak melawan. Ia juga mencengkram kuat kedua tangan Sungmin yang terus saja berusaha memukuli tubuhnya.

"Mmpph.." Sungmin terus berusaha memberontak meskipun usahanya itu tetap saja sia-sia. Tenaganya tak sebanding dengan tenaga Siwon.

"Choi Siwon brengsek!" Siwon tak menghiraukan umpatan yang keluar dari mulut manis Sungmin. Ia tersenyum miring sebelum bibirnya turun menyapu permukaan kulit leher gadis di hadapannya. Sungmin yang mengenakan blouse round neck semakin memudahkan Siwon menciumi leher jenjangnya yang terekspose. Siwon makin menghimpit tubuh Sungmin supaya bisa melepaskan seragam pengantar Pizza yang ia gunakan sebagai alat penyamaran. Kini hanya kaos dan celana jeans hitam yang tampak melekat di tubuh kekar Siwon.

Sungmin yang semakin merasa tak terima dilecehkan seperti itu, dengan gerakan cepat membenturkan kepalanya sendiri ke kepala Siwon. Hal itu sontak membuat Siwon memegangi kepalanya dan mengaduh kesakitan. Sungmin lalu bergegas menuju pintu apartemen untuk kabur dan melaporkan lelaki itu ke pihak keamanan. Melihat Siwon yang kembali mengejarnya, tanpa pikir panjang ia langsung mengambil sebuah vas bunga keramik dan melemparkannya ke arah Siwon.

PRANG!

Vas bunga itu pecah berkeping-keping tanpa berhasil mengenai Siwon. Lelaki itu dengan cekatan langsung bisa menghindari serangan dari Sungmin. Dengan gerakan cepat, Siwon yang tengah tersenyum puas itu kembali berhasil meraih tangan Sungmin. Namun kali ini Sungmin dapat langsung menepis tangan lelaki itu dan kembali berlari ke arah dalam apartemen tanpa memperhatikan pecahan-pecahan vas bunga yang berserakan di lantai

"Akh!" Sungmin meringis kesakitan kala merasakan telapak kakinya tertusuk benda yang cukup tajam. Ia mencoba memaksakan diri untuk terus melangkah menjauhi sosok Siwon yang semakin mendekat tanpa ingin melihat kakinya yang telah mencetak jejak darah di lantai kayu apartemen Kyuhyun. Usahanya itu pun akhirnya gagal karena Siwon langsung menarik tangannya dan membawa tubuhnya mendekat.

Satu tangan Siwon memeluk begerak pinggang Sungmin, dan satu tangan lainnya mencengkram dagu gadis yang tengah menahan rasa sakit itu. Tangannya kemudian bergerak mengusap pelipis Sungmin yang dibasahi oleh keringat.

Sungmin menepis kasar tangan Siwon yang menyentuh wajahnya. "Ku bilang singkirkan tanganmu itu!" Teriak Sungmin dengan sisa tenaga yang ada. Darah yang terus keluar dari luka di telapak kaki Sungmin, membuatnya sedikit lemas dan memucat. Namun ia tak ingin berhenti memberontak atas perlakuan kurang ajar Siwon pada dirinya.

PLAK

Emosi Siwon yang semakin memuncak membuatnya kembali melayangkan tamparan keras ke pipi Sungmin. Lelaki itu benar-benar hilang kendali dan saat itu juga langsung mendorong tubuh Sungmin hingga jatuh terbaring di sofa panjang.

Sungmin berusaha untuk bangkit namun Siwon kembali mendorongnya dan menahan tubuhnya. Dapat ia lihat Siwon mengeluarkan tali dari dalam saku celananya lalu dengan gerakan cepat mengikat kuat kedua kakinya. Kedua mata Sungmin melotot ketika Siwon bergerak menindih tubuhnya sekaligus menahan kedua tangannya. Siwon kembali menggapai bibir Sungmin dan menciuminya dengan gerakan kasar. Tubuh Sungmin terus bergerak memberontak di bawah kungkungan kuat tubuh Siwon. "Mppphh..." Namun sepertinya semua itu percuma, karena Siwon sama sekali tak terusik.

Sungmin tak kuasa lagi menahan air matanya. Ia memejamkan matanya seraya terus bergerak memberontak sekuat yang ia bisa. Sungmin tak bisa hanya diam pasrah menerima perlakuan tak senonoh dari bajingan satu ini, meskipun sampai detik ini usahanya sama sekali tak membuahkan hasil, karena ia masih berada dalam penjara Siwon.

Tangan Siwon kini bergerak ke arah bahu Sungmin tanpa melepaskan tautan bibirnya pada bibir Sungmin, dan dengan sekali gerakan berhasil merobek blouse yang dikenakan gadis itu hingga memperlihatkan pakaian dalamnya.

Sungmin semakin memberontak akibat perlakuan itu. Ia menangis tertahan seraya berusaha menjauhkan tubuh lelaki di atasnya. "Lepmmmph..." Betapa tersayatnya hati Sungmin dilecehkan oleh lelaki yang selama ini ia benci. "Hiks.." Sebuah isakan berhasil lolos dari mulut Sungmin yang telah dilepaskan oleh Siwon, karena kini lelaki itu beralih menciumi leher dan bahu putih Sungmin yang terekspose sempurna. Sungmin tetap tak berhenti bergerak memberontak meskipun kedua tangannya masih dicengkeram kuat oleh Siwon. Kedua kakinya juga terus berusaha bergerak agar tali yang mengikatnya bisa terlepas. Dalam hatinya ia sangat mengharapkan Kyuhyun cepat datang untuk menyelamatkannya. Tangisnya pecah semakin keras kala ia merasakan satu tangan Siwon bergerak menyingkap rok selututnya dan membelai pahanya. Ia meronta hebat di sela sisa tenaganya yang hampir habis. Sungguh ia tak ingin keperawanannya direnggut begitu saja oleh lelaki bejat ini.

###

Kyuhyun yang terengah karena berlari itu menekan tombol password pada pintunya dengan gerakan cepat. Ia bergegas masuk kala telinganya mendegar suara Sungmin yang tengah meronta. Dan betapa terkejutnya Kyuhyun saat sampai di ruang tengah. Ia dapat melihat seorang lelaki yang ia kenal meskipun hanya melihat dari punggungnya, tengah menindih tubuh gadisnya dan mencumbunya. Gadisnya? Ya, memang sudah lama Kyuhyun menganggap Sungmin sebagai gadisnya. Hal itu membuat emosi Kyuhyun seketika meledak dan tanpa pikir panjang langsung mencengkram bahu Siwon, menariknya paksa menjauh dari tubuh Sungmin, hingga tubuh jangkung lelaki itu terjerembab ke belakang.

Kedua tangan Kyuhyun langsung mencengkram kuat kaos bagian dada Siwon dan menatapnya dengan kilatan amarah. "Apa yang telah kau lakukan, brengsek!" Bentak Kyuhyun dan sedetik kemudian satu pukulan keras berhasil mendarat di pipi Siwon.

Lelaki berlesung pipit itu hanya menyeringai dan satu tangannya bergerak mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. "Kita bertemu lagi ternyata. Kekuatanmu boleh juga." Secepat kilat Siwon mendorong tubuh Kyuhyun hingga terjerembab ke belakang. Sedetik kemudian Siwon melayangkan beberapa pukulan yang tidak dapat Kyuhyun hindari. "Hanya begitu kekuatanmu, eoh?" Tanya Siwon meremehkan.

Sementara Sungmin yang langsung turun dari sofa begitu Kyuhyun menarik tubuh Siwon, bergerak merangkak dengan tubuh yang gemetar ketakutan menuju kamarnya. Gadis itu tak bisa berjalan karena ikatan tali yang begitu kuat pada kakinya tidak berhasil ia lepaskan. Ia merangkak masuk ke dalam kamar seraya menangis dan menahan sakit pada kakinya yang terluka.

Merasa tidak terima atas pukulan Siwon, Kyuhyun mengerahkan segala kekuatan yang ada untuk melawan lelaki itu. Kyuhyun kembali berhasil mencengkram kaos Siwon dan kini ia yang memimpin. Diri Kyuhyun benar-benar tengah dikuasai oleh amarah yang memuncak. Ia terus memukuli Siwon tanpa ampun. Sungguh jelas terlihat otot rahang Kyuhyun mengeras, menandakan lelaki itu tengah murka. Ia tak mempedulikan napasnya yang tersengal tak beraturan dan keringat yang bercucuran membasahi wajah tampannya. Yang ada di pikiran Kyuhyun hanya ingin menghabisi lelaki bajingan yang telah lancang melecehkan Sungmin.

BUGH!

"Ini untuk kelancanganmu menelusup masuk apartemenku." Ucap Kyuhyun dengan gigi yang bergemeretak. Tangannya masih setia mencengkram kaos bagian depan Siwon.

BUGH!

"Ini untuk kau yang pengecut dan mengeroyokku." Kyuhyun menghembuskan napas berat dan menatap benci Siwon yang kini tampak babak belur serta kehilangan kekuatan untuk melawan. Kyuhyun mengepalkan tangannya kuat bersiap melayangkannya ke wajah Siwon. "Dan ini..."

BUGH!

"Untuk kau yang telah berani melecehkan Sungmin!"

Kyuhyun meninju Siwon dengan sekuat tenaga hingga lelaki itu tersungkur di lantai. Napas Kyuhyun terdengar berderu sangat cepat karena ia baru saja meluapkan segala amarahnya yang telah berada di puncak. Rasanya ingin sekali ia membunuh Siwon detik itu juga. Tangannya kembali beranjak menarik kasar kaos Siwon agar lelaki yang telah kehabisan tenaga itu bediri. Ia menyeret paksa Siwon lalu mendorongnya kasar hingga lelaki itu jatuh terduduk di depan pintu apartemen Kyuhyun. "Akan aku bunuh kau jika sekali lagi berani menyentuh Sungmin!" Ancam Kyuhyun sebelum menutup kasar pintu apartemennya.

Siwon menyeringai menatap pintu yang telah tertutup itu dan tertawa pelan. "Kita lihat saja nanti, Cho Kyuhyun."

###

"Minnie-ah!" Kyuhyun setengah berteriak memanggil Sungmin kala ia tak menemukan sosok gadis itu di ruang tengah. Ia pun langsung bergerak menuju kamar Sungmin yang pintunya terbuka. "Minnie-ah!" Panggil Kyuhyun karena ia tak melihat Sungmin di dalam kamar. Ia pun melangkah mendekati kamar mandi yang tertutup di sudut kamar Sungmin. Dapat ia dengar suara gemericik air dari dalam sana.

CEKLEK

Terkunci. Hal itu jelas membuktikan bahwa Sungmin ada di dalam.

"Minnie-ah, buka pintunya!" Kyuhyun menggedor pintu bercat putih itu dengan sedikit kasar. Ia begitu khawatir dengan gadis itu. Ditekannya knop pintu itu berkali-kali, meskipun ia tahu pintu itu dikunci oleh sosok di dalam sana. "Lee Sungmin, kau mendengarku? Buka pintunya!"

Sungmin masih dapat mendengar suara Kyuhyun yang memanggilnya dan menggedor pintu kamar mandi di tengah suara gemericik air dari shower di atasnya. Namun ia sama sekali tak berniat untuk membukanya. Kini Sungmin tengah duduk meringkuk di bawah guyuran air shower, menangis pilu seraya memeluk kedua kakinya erat. Ia tak mempedulikan lagi tubuhnya yang telah basah sempurna. Gadis itu merasa dirinya kotor akibat perlakuan Siwon. Ia begitu malu dan tidak ingin Kyuhyun melihat kondisinya saat ini.

Kyuhyun tampak mencari-cari sesuatu di dalam laci meja belajarnya dengan gusar. Ia mengacak rambutnya frustrasi setelah membuka semua laci yang ada, namun benda yang ia cari tak berhasil ditemukan. Ia bergegas menuju dapur dan menggeledah satu-persatu laci pada kitchen set. Lelaki itu tersenyum lega ketika tangannya berhasil menemukan benda berupa kunci yang ia cari di laci bagian dalam. Tanpa membuang waktu, ia berlari menuju kamar Sungmin dan langsung membuka pintu kamar mandi dengan kunci yang baru saja ia temukan.

CEKLEK

Sungmin segera mendongak saat telinganya menangkap suara pintu yang terbuka dan menatap takut sosok yang berdiri di ambang pintu.

Kyuhyun seketika membeku saat melihat kondisi Sungmin yang cukup mengenaskan baginya. Kedua kakinya terikat dan tubuh gadis itu tampak basah sekaligus bergetar karena menangis dan kedinginan akibat guyuran air dari shower. Baju atasannya terlihat sudah tak berbentuk karena robek di beberapa bagian hingga memperlihatkan pakaian dalamnya. Kyuhyun begitu terluka melihat wajah gadisnya yang tampak sangat pucat dengan beberapa luka lebam di sana. Namun yang lebih membuat Kyuhyun terluka adalah Sungmin menatapnya takut dan beringsut mundur saat ia melangkah mendekatinya. Kyuhyun terdiam sejenak. Ia bergerak mematikan shower lalu kembali mendekati Sungmin dan berjongkok untuk melepaskan tali yang mengikat kedua kaki gadis itu. Kyuhyun cukup terkejut saat Sungmin langsung menepis kedua tangannya dan bergerak mundur menjauhinya. "Minnie-ah, ini aku, Kyuhyun."

Sungmin menggeleng cepat dan mengangkat tangannya ke depan, memberi isyarat pada Kyuhyun untuk tidak mendekat. Entah kenapa bibir dan lidahnya terasa sangat kelu hingga ia tidak bisa berkata-kata. Sungmin begitu shock dan trauma atas kejadian yang baru saja menimpanya.

Kyuhyun tak mempedulikan isyarat dari Sungmin. Ia kemudian menyambar sebuah handuk coklat yang tergantung di capstock dinding kamar mandi dan nekat mendekati Sungmin. Ia merengkuh tubuh bergetar Sungmin ke dalam dekapannya setelah menyelimuti tubuh bagian atas gadis itu dengan handuk. Ia tak tahan jika hanya diam dan melihat Sungmin yang tengah menangis dan ketakutan itu. Kyuhyun semakin mendekap erat tubuh Sungmin yang meronta seraya menangis keras. Ia memejamkan matanya erat dan mencium sekilas kepala Sungmin. Ditangkupnya wajah Sungmin kemudian supaya ia dapat menatap manik bening gadis itu. Namun Sungmin enggan untuk mengangkat wajahnya dan terus menunduk seraya terisak. Gadis itu berusaha keras melepaskan tangkupan tangan Kyuhyun pada wajahnya. Namun Kyuhyun tak goyah, dan memaksa Sungmin untuk menatapnya. "Tenangkan dirimu Lee Sungmin! Sadarlah! Ku mohon...Ini aku, Kyuhyun." Suara Kyuhyun terdengar cukup tinggi namun sarat akan nada memohon. Lelaki itu begitu takut kejiwaan Sungmin terganggu karena terlalu shock dan emosinya yang tak terkendali. Ia berusaha mencari manik bening Sungmin, dan berhasil. Kedua mata Sungmin kini tengah menyusuri ke dalam matanya. "Bicaralah..." Kyuhyun tersenyum dan mengusap sayang kepala Sungmin.

"K-kyu..." Sungmin berucap pelan di sela isakan tangisnya yang belum bisa ia hentikan.

Kyuhyun tersenyum lega dan langsung membawa tubuh Sungmin ke dalam dekapannya. "Syukurlah. Mianhe, karena aku terlambat datang. Jeongmal mianhe." Lelaki itu kembali bergerak mengeratkan pelukannya, mengusap sayang punggung Sungmin, dan mencium bahu gadis itu yang tertutupi oleh handuk.

Sungmin menggeleng dalam pelukan Kyuhyun. Kedua tangannya bergerak membalas pelukan lelaki itu dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu.

Kyuhyun tersenyum tipis dan mengelus pelan kepala Sungmin. "Ssst..Jangan takut lagi, ada aku di sini."

Beberapa menit berlalu, tiba-tiba Kyuhyun merasakan beban tubuh Sungmin lebih berat dan tak ada lagi gerakan serta suara tangisan Sungmin. Ia segera menarik diri untuk melihat keadaan Sungmin. Dan benar saja, ternyata gadis itu sudah tak sadarkan diri. "Minnie-ah..." Kyuhyun sedikit panik dan mengguncang pelan tubuh Sungmin. Karena tak ada respon, ia pun langsung menggendong tubuh Sungmin keluar kamar mandi dan membaringkannya di tempat tidur. Ia membetulkan letak handuk yang menutupi tubuh basah Sungmin lalu beranjak menuju lemari untuk mengambil baju ganti gadis itu.

"Aiish! Dikunci. Di mana kuncinya?" Kyuhyun mengacak rambutnya kasar, merasa frustrasi karena tak kunjung menemukan kunci lemari Sungmin. Ia pun akhirnya memutuskan pergi ke kamarnya lalu mengambil sebuah kemeja putih dari dalam lemarinya. Kyuhyun tak ingin berlama-lama membiarkan tubuh lemah Sungmin semakin kedinginan.

Sesampainya di kamar Sungmin, Kyuhyun meletakkan kemeja yang ia bawa di tempat tidur lalu bergerak melepaskan tali yang mengikat kedua kaki Sungmin. Kyuhyun mengerutkan dahinya, merasa kesulitan membuka ikatan yang sangat kuat itu. Lelaki itu pun kemudian beralih ke meja belajar Sungmin dan mengambil sebuah gunting. Ia menatap perih ke arah pergelangan kaki Sungmin yang tampak merah, terluka karena goresan dari tali yang mengikatnya. Setelah berhasil menggunting ikatan itu, tanpa pikir panjang Kyuhyun langsung menyingkap handuk yang sedari tadi menutupi tubuh Sungmin. Seketika tubuhnya membeku saat menyadari bahwa dirinya akan mengganti pakaian Sungmin yang basah. Itu berarti ia harus melepas terlebih dahulu pakaian yang melekat di tubuh Sungmin dan ia akan melihat...Kyuhyun langsung menggelengkan kepalanya cepat seraya memejamkan mata. Segera ia membuang jauh-jauh pikiran kotor dari otaknya. Lelaki itu tampak berpikir keras dan tak lama mengeluarkan smartphone-nya dari dalam saku celana.

"Yeoboseyo, ahjumma...Apa kau sudah pulang?" Tanya Kyuhyun pada orang di seberang sana.

"..."

"Ah, syukurlah kau masih di sini. Aku membutuhkan bantuanmu sebentar ahjumma. Aku tunggu, ne?" Ucap Kyuhyun dengan senyum mengembang di bibirnya.

"..."

"Gamsahamnida ahjumma..."

PIP

Kyuhyun menghembuskan napas lega lalu melangkah mendekati Sungmin. Tangannya bergerak membelai lembut kepala gadis yang tengah tak sadarkan diri itu. Ia memajukan wajahnya mendekati wajah Sungmin lalu mencium kening gadis itu cukup lama seraya memejamkan kedua matanya.

TING TONG

Kedua matanya langsung terbuka dan perlahan menjauhkan dirinya dari Sungmin ketika mendengar bel apartemennya berbunyi. Ia segera melangkah keluar menuju pintu depan dan melihat ke layar intercomm. Ia tersenyum dan langsung membukakan pintu apartemennya.

"Park Ahjumma, cepatlah masuk." Kyuhyun langsung menarik pelan tangan seorang wanita paruh baya berseragam maid yang baru saja datang untuk masuk ke dalam.

"Aigoo...Ada apa sebenarnya? Kenapa buru-buru sekali?" Wanita bernama Park Sun Mi itu sedikit panik karena Kyuhyun membawanya berlari dan masuk ke dalam kamar. "Omo! Kau apakan gadis manis ini? Kenapa dia pingsan dan terluka seperti ini? Ya Tuhan..." Wanita itu mendekati tubuh Sungmin yang terbaring tak berdaya di tempat tidur dan menatapnya sedih.

Kyuhyun mengehembuskan napasnya sekilas. "Ahjumma, bukan aku yang melakukannya. Ada orang jahat yang menyelundup masuk dan berusaha memperkosanya." Terbesit rasa sakit di hatinya kala ia mengucapkan kata terakhir.

Wanita itu sedikit terperangah kaget mendengar jawaban Kyuhyun. Ia pun beralih menatap Kyuhyun di sampingnya. "Siapa orang itu? Berani-beraninya dia!" Ucap wanita itu kesal. Hubungan ia dan Kyuhyun memang hanya sebatas majikan dan pelayan. Ia yang berprofesi sebagai tenaga binatu di gedung apartemen Kyuhyun, mempunyai beberapa majikan, karena ia tidak hanya bertugas membersihkan apartemen Kyuhyun saja. Namun hanya Kyuhyun, majikan yang menganggapnya sebagai teman, sehingga ia terlihat cukup akrab dengan Kyuhyun.

"Tolong gantikan pakaiannya, ahjumma. Aku tidak bisa melakukannya. Ini..." Kyuhyun menyodorkan kemeja putih miliknya.

Wanita itu menerimanya dan tersenyum. Tangannya bergerak menepuk-nepuk pelan lengan Kyuhyun. "Kyuhyun-ah, kau sungguh lelaki sejati."

Kyuhyun hanya tersenyum tipis. "Aku keluar dulu."

###

Kyuhyun menaikkan selimut tebal yang menutupi tubuh Sungmin hingga sebatas leher. Ia baru saja selesai mengobati luka sobek pada telapak kaki Sungmin. Tangannya kemudian bergerak mengelus sebentar pucuk kepala gadis itu sebelum beranjak keluar kamar seraya membawa kotak obat. Beberapa menit yang lalu, Pelayan Park meninggalkan apartemen Kyuhyun setelah menggantikan pakaian Sungmin dan membersihkan pecahan-pecahan keramik vas bunga yang berserakan di lantai. Kyuhyun sangat berterima kasih pada sosok wanita yang selalu membersihkan apartemennya itu.

Kyuhyun membanting tubuhnya hingga duduk bersandar di sofa panjang di depan TV. Ia sedikit meringis merasakan perih pada sudut bibirnya akibat pukulan Siwon tadi. Rasa perih itu sedari tadi terlupakan olehnya, karena ia hanya fokus pada Sungmin. Kyuhyun lalu menempelkan kapas yang telah diberi alkohol ke bagian sudut bibirnya yang terluka. Ia senderkan kepalanya ke kepala sofa dan berusaha menyamankan posisinya, lalu memejamkan kedua matanya.

Meskipun kedua matanya terpejam, ia tak sepenuhnya terlelap. Kyuhyun pun segera membuka lebar kedua matanya saat merasakan kehadiran seseorang di hadapannya.

GREP

Mata Kyuhyun semakin membulat hebat karena sosok di hadapannya yang tak lain adalah Sungmin, langsung menubruk tubuhnya dan memeluknya erat. Beberapa detik tubuh Kyuhyun membeku, namun lelaki itu segera berhasil kembali bersikap normal. Tangannya pun bergerak membalas pelukan gadis yang tengah menangis tersedu-sedu itu. Ia mengelus sayang punggung bergetar Sungmin, lalu membimbing gadis itu untuk duduk di pangkuannya tanpa melepas pelukan mereka. Dapat Kyuhyun rasakan gadisnya ini tengah didera rasa takut dan trauma.

"Kyu..." Panggil Sungmin lemah di sela isakan tangisnya.

"Hm?" Gumam Kyuhyun sebagai jawaban.

"Gomawo, cheongmal gomawoyo. Lagi-lagi kau menyelematkanku. Mianhe..." Ucap Sungmin seraya kembali terisak.

Kyuhyun mengusap punggung Sungmin berusaha menenangkan. Ia lalu bergerak melepas pelukan mereka untuk menangkup wajah Sungmin supaya menghadapnya. "Ssst...Minnie-ah, dengarkan aku. Kau itu kekasihku, jadi sudah menjadi tanggungjawabku untuk selalu menjagamu." Kyuhyun berujar dengan penuh percaya diri seraya mengusap air mata yang membasahi wajah Sungmin.

Dahi Sungmin mengerut, tak mengerti dengan ucapan Kyuhyun. "Ne? Kekasih? Kita hanya berpura-pura, Kyu.."

"Ani.." Jawab Kyuhyun cepat. "Sejak beberapa menit yang lalu, aku telah menganggapmu sebagai kekasihku sungguhan." Ucap Kyuhyun melanjutkan.

"Mwo? Apa-mpp..." Kedua mata Sungmin membulat hebat karena dalam sekejap bibirnya telah dibungkam oleh bibir Kyuhyun. Seketika tubuhnya menegang dan sulit baginya untuk bernapas. Dapat ia lihat kedua mata Kyuhyun terpejam dan hidung mancung mereka yang saling bersentuhan. Sungmin lalu memejamkan kedua matanya kala merasakan Kyuhyun menciumnya semakin dalam. Ia juga dapat merasakan kedua tangan Kyuhyun bergerak melingkari perutnya, lalu menghapus jarak di antara tubuh mereka. Entah kenapa Sungmin tak bisa menolak perbuatan Kyuhyun namun tak mampu juga untuk membalas ciuman itu. Saat ini perasaannya begitu campur aduk. Antara shock, bingung, terharu, dan...bahagia. Ia pun semakin memejamkan kedua matanya dan mengeratkan genggamannya pada kaos bagian pinggang lelaki itu.

"Aku menyukaimu, Lee Sungmin. Jadilah kekasihku..." Kyuhyun berucap sepenuh hati setelah melepaskan tautan bibir mereka.

Sungmin menatap lekat kedua mata Kyuhyun, berusaha mencari kesungguhan di dalam sana. "Tap-"

CUP

Mata Sungmin membulat lucu karena Kyuhyun tiba-tiba mengecup bibirnya singkat. "K-"

CUP

Baru saja Sungmin ingin membuka suaranya lagi, namun Kyuhyun kembali mengecup bibirnya.

CUP

Kyuhyun yang masih setia menangkup wajah Sungmin, kembali memberikan kecupan singkat di bibr gadis itu. Kyuhyun tersenyum puas melihat raut wajah terkejut Sungmin yang menurutnya sangat lucu. "Berteriaklah jika memang kau masih ingin aku cium." Ucap Kyuhyun seraya menyembunyikan senyum jahilnya.

Sungmin melempar tatapan kesalnya pada Kyuhyun yang menurutnya sangat egois, namun beberapa detik kemudian ia tersenyum haru dan menitikkan setetes air mata yang tersisa di pelupuk matanya.

Melihat itu, Kyuhyun pun balas tersenyum dan langsung membawa tubuh Sungmin ke dalam dekapannya, memeluk gadis itu erat.

Sungmin tersenyum di balik bahu Kyuhyun dan balas memeluk lelaki itu.

"Diam berarti setuju. Aku anggap kau menerimaku." Kyuhyun berujar dengan penuh percaya diri.

Sungmin memukul punggung Kyuhyun cukup keras tanpa melepas pelukan mereka. "Ya! Kau yang membuatku tak bisa menolak."

Kyuhyun sedikit meringis mendapat pukulan dari Sungmin lalu kembali tersenyum. "Aku memang tak menerima penolakan."

"Dasar egois." Ucap Sungmin pelan lalu menenggelamkan wajahnya di bahu Kyuhyun.

Lagi-lagi Kyuhyun mengembangkan senyumnya dan semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Sungmin. Ia lalu bergerak merebahkan diri di sofa tanpa ingin melepas pelukan mereka sehingga membuat Sungmin ikut berbaring di atas tubuh Kyuhyun."Haaah...Lega sekali rasanya." Ucap Kyuhyun pelan setelah menghembuskan napas beratnya. Ia lalu memiringkan tubuhnya supaya bisa berhadapan dengan Sungmin, sehingga kini mereka berada dalam posisi tidur menyamping dan saling berpelukan. Kyuhyun mencium pucuk kepala Sungmin sekilas lalu mengeratkan pelukannya pada gadis itu.

To be continued...

Big Thanks to:

evilminnie14, Lilin Sarang Kyumin, tutikkyumin, Eggkyuming, Eunmin Kyumin, , sandrimayy88, Heldamagnae, minnalee1, asdfghjkyu, chaerashin, ayyaLaksita, hanna, min, Guest, Martia Elfishyekyuminhyuk, Babyjoy, , KikyWP16, .3, , TifyTiffanyLee, elfishy09, unicorn ajol, imSMinL, AyuClouds69, Ayuki siFUjho, devyuhuu, Lady Azhura, dianaprilia07, melee, TeukHaeKyu, thiafumings, banana joyer, Adinda Fauziyah J, AmyKyuMinElf, Pabogirl, JoyELF, Cho MeiHwa, Minhyunni1318, .7, aslidELF, .vikink, whey.K, dewi. , nova137, JOYELPEU137, Kyumin Town, KobayashiAde, dreamers girl, abilhikmah, farchanie01, reaRelf, Nina317Elf, Maximumelf, Pumpkins yellow, danactebh