Please, Remember Me

By: HanaDulSet

Cast: Lee Sungmin, Cho Kyuhyun, and others

Genre: Romance, Drama

Rate: T+

Disclaimer: Terinspirasi dari banyak film dan drama. Saya hanya meminjam nama cast dan fanfiction ini murni milik saya^^

Warning: Gender Switch, Typo, Newbie

DON'T LIKE, DON'T READ

NO PLAGIAT!

-Chapter 11-

"Kyu.." Panggil Sungmin dengan nada lirih.

"Hm?" Jawab Kyuhyun.

"Kenapa kau mau menjadikanku kekasih? Kau sendiri yang bercerita padaku, bahwa kau harus menjadi ciuman pertama kekasihmu itu. Sedangkan aku, Siwon brengsek itu telah..." Sungmin berujar sedih dan menghentikan kalimatnya, karena rasa sakit dilecehkan oleh lelaki yang ia benci kembali hadir.

Kyuhyun segera melonggarkan pelukannya dan mencari wajah Sungmin. Ia lalu membimbing wajah gadis itu supaya menatapnya. "Untungnya aku telah lebih dulu menciummu."

Mata Sungmin membulat menatap Kyuhyun tak percaya. "Mwo? K-kau, mencuri ciuman pertamaku?"

"Mm..Bisa dibilang begitu." Kyuhyun berujar santai.

Seketika semburat merah tercipta di kedua pipi Sungmin. "Ya-mmp..." Sungmin kembali gagal megeluarkan suara protesnya, karena lagi-lagi Kyuhyun mempertemukan bibir mereka. Lelaki itu mencium Sungmin dengan sangat lembut, hingga membuat gadis itu tak berkutik dan hanya pasrah menerima perbuatan Kyuhyun.

CUP

Kyuhyun mengakhiri ciumannya dengan sebuah kecupan singkat lalu mengelus kedua pipi Sungmin. "Jika aku tidak menciummu dari dulu, aku tidak akan bisa menjadikanmu kekasihku."

Sungmin mengerucutkan bibirnya dan mendengus kesal. "Kapan dan berapa kali kau menciumku?" Tanya Sungmin penasaran.

Kyuhyun tampak sedikit berpikir. "Saat kau tidur. Mmm, sayangnya aku tak ingat berapa kali."

Sungmin menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara protesnya dan hanya mengumpat dalam hati. Ia tak ingin kembali merona karena ulah Kyuhyun yang bisa saja mengecupnya lagi. Seketika ia mengingat sesuatu dan menunduk. Sungmin baru tersadar bahwa pakaian yang ia kenakan sekarang adalah kemeja milik Kyuhyun yang tampak kebesaran di tubuhnya.

Kyuhyun yang melihat gelagat aneh Sungmin kemudian bertanya heran. "Wae?"

Sungmin segera mengalihkan pandangannya ke arah Kyuhyun. "Kyu, k-kau, yang mengganti pakaianku?" Tanya Sungmin dengan raut wajah penuh kekhawatiran.

"Menurutmu? Memangnya ada siapa lagi di apartemenku ini?" Kyuhyun balik bertanya dengan santai. Ide jahil terlintas begitu saja di otaknya, sehingga membuatnya membohongi Sungmin.

"Mwo? J-jadi, k-kau telah melihat..." Sungmin tak kuasa menatap mata Kyuhyun dan segera menundukkan kepalanya lagi. Ia begitu malu mengetahui bahwa Kyuhyun yang mengganti pakaiannya dan itu berarti Kyuhyun telah melihat segalanya.

Melihat itu, Kyuhyun merasa tak tega berlama-lama membohongi gadisnya. Kedua tangannya segera mengangkat wajah Sungmin agar menatapnya. "Hei, aku hanya bercanda." Kyuhyun tersenyum menatap Sungmin yang tengah merona malu. "Bukan aku yang mengganti pakainmu, tapi Park ahjumma. Besok kau bisa bertanya padanya untuk memastikan." Ucap Kyuhyun meyakinkan.

Sungmin menatap mata Kyuhyun, berusaha mencari kebenaran di dalam sana. "Jinja?"

Kyuhyun mengangguk. "Hm..Aku itu bukan lelaki yang suka mencari kesempatan dalam kesempitan. Dan aku sangat menghormatimu sebagai gadis yang aku cintai." Ucap Kyuhyun dengan tulus dan penuh dengan kesungguhan.

Mendengar itu membuat hati Sungmin seakan meleleh. Baru kali ini ia mendengar Kyuhyun mengucapkan kalimat yang menurutnya sangat romantis. Ia tersenyum lega dan segera menghambur memeluk tubuh kekasihnya itu. "Gomawo, Kyu..."

"Hm.." Gumam Kyuhyun seraya tersenyum dan membalas pelukan Sungmin. "Saranghae..." Ucap Kyuhyun pelan tepat di samping telinga Sungmin. Lelaki itu tak langsung mendapat jawaban, namun ia tahu Sungmin tengah tersenyum sekaligus menahan malu karena gadis itu semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang miliknya.

Beberapa menit berlalu, tak ada lagi yang mengeluarkan suara. Posisi mereka pun kini telah berubah. Kyuhyun dan Sungmin yang berbagi tempat di sofa panjang depan TV itu tak lagi saling berhadapan. Sungmin menghadap sandaran sofa, sementara Kyuhyun berada di belakangnya dengan tangan kanan melingkar di perutnya, dan tangan kiri Kyuhyun dibiarkan menjadi bantal untuk kepala Sungmin.

Malam semakin larut, membuat suasana hening semakin terasa dan hanya terdengar suara detak jam dinding ruangan itu. Kyuhyun pun tampak tengah terpejam, ingin menikmati damainya alam mimpi. Namun tidak dengan Sungmin. Gadis itu masih terjaga dan tampak menerawang. "Kyu? Kau sudah tidur?" Sungmin bertanya dengan nada pelan.

Beberapa detik tak ada jawaban, membuat Sungmin mendengus kecewa. Namun seketika matanya sedikit membulat, karena tangan yang sedari tadi melingkar di perutnya tiba-tiba bergerak memeluknya erat, sehingga tak ada lagi jarak di antara tubuh mereka.

"Wae? Ada apa memanggilku, hm?" Kyuhyun bertanya pelan, masih dengan kedua mata yang terpejam.

Sungmin langsung berbalik dan membetulkan posisi kepalanya, supaya wajahnya bisa sejajar dengan wajah Kyuhyun. Ia tersenyum sebentar menatap Kyuhyun yang tengah memejamkan matanya, dan...

CUP

Sungmin mencium bibir Kyuhyun singkat, hanya 2 detik. Namun hal itu sangat berhasil membuat Kyuhyun terkejut dan sontak membuka matanya. Lelaki itu mengerjapkan matanya dan menatap Sungmin tak percaya.

Seulas senyum manis tercetak di bibir plump Sungmin sebelum ia mengeluarkan suara. "Nado saranghae, Kyu..."

Meskipun Sungmin berujar dengan setengah berbisik, namun Kyuhyun masih dapat mendengarnya dengan jelas. Ia pun langsung tersenyum bahagia seraya menatap dalam mata Sungmin. "Hmm..Arra..." Ucap Kyuhyun pelan. Ia mengelus pipi Sungmin dengan ibu jarinya lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya lagi. "Tidurlah, kau pasti lelah."

Sungmin mengangguk sebagai jawaban. Ia tersenyum lalu balas memeluk Kyuhyun dan kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang lelaki itu.

###

Bunyi alarm dari smartphone yang tergeletak di meja depan TV membuat Kyuhyun sedikit terusik. Ia enggan membuka kedua matanya dan hanya menggerakkan tangan kanannya untuk meraba mencari benda yang telah mengganggu tidurnya.

PIP

Dengan sekali tekan, smartphone-nya langsung berhenti berbunyi. Tangannya kembali memeluk sosok gadis di hadapannya yang masih tertidur nyeyak. Mengingat kejadian semalam, di mana ia menyatakan perasaan kepada Sungmin membuatnya menyunggingkan sebuah senyum. Ia pun akhirnya membuka kedua matanya dan sedikit melonggarkan pelukannya agar bisa memandang wajah Sungmin. Ditatapnya wajah manis milik Sungmin yang tampak sangat polos seperti bayi itu. 'Manis sekali.' Kyuhyun membatin seraya mengelus sayang rambut gadisnya itu.

CUP

Kyuhyun mengecup bibir Sungmin pelan karena tak ingin membangunkan gadis itu. Minimnya jarak di antara dirinya dengan Sungmin membuat ia dapat merasakan terpaan napas gadis itu di wajahnya. Lelaki itu kembali tersenyum, memandang lekat wajah manis milik sang kekasih. Beberapa detik kemudian Kyuhyun terkesiap karena Sungmin menggeliat kecil. Ia segera mengeratkan pelukannya dan memejamkan kedua matanya, berpura-pura tidur.

"Eungh..." Sungmin melenguh pelan dan tampak mengusap-usap matanya yang terasa sangat berat untuk dibuka. Gadis itu segera mendongak untuk melihat wajah Kyuhyun yang menurutnya masih terlelap. "Kyu~ Bangun.." Sungmin menepuk-nepuk pelan dada Kyuhyun bermaksud membangunkan lelaki itu. "Kyu~" Karena tak ada respon, Sungmin kembali memanggil kekasihnya itu, kali ini dengan sedikit mengguncang tubuh sang kekasih yang masih setia memeluk erat tubuhnya.

"Hmhh?" Gumam Kyuhyun. Lelaki itu enggan untuk menanggapi dan justru semakin mengeratkan pelukannya pada Sungmin.

"Ya! Bangun, Kyu..Ini sudah cukup siang. Kau harus ke kampus dan ke kantor, bukan?" Tanya Sungmin sambil berusaha beranjak dari posisi tidurnya. Namun usahanya itu sia-sia karena Kyuhyun menahan tubuhnya untuk tetap berada dalam pelukannya. "Kyu!"

"Ssst..Diamlah." Kyuhyun membimbing wajah Sungmin supaya menatapnya. "Siapa bilang aku akan ke kampus dan ke kantor, hm?" Tanya Kyuhyun sambil tersenyum tipis.

Sungmin tidak menjawab dan hanya menatap Kyuhyun bingung.

"Hari ini aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu. Kau ingin pergi ke mana?" Tanya Kyuhyun.

Sungmin menatap Kyuhyun tak mengerti. "Ne?"

"Kau ingin pergi ke mana, sayang? Ke mana pun, aku akan menurutinya." Ucap Kyuhyun meyakinkan.

Sungmin sedikit membulatkan kedua matanya. "Jinja?" Tanya gadis itu antusias.

"Hm.." Kyuhyun mengangguk seraya tersenyum hangat.

Senyum Sungmin seketika merekah dan reflek memeluk Kyuhyun. "Kalau begitu, aku mandi dan siap-siap dulu, ne? Kau juga jangan lupa mandi." Ucap Sungmin sebelum bangun dari posisi tidurnya dan berniat turun dari sofa jika saja Kyuhyun tak mencekal tangannya.

"Ya. Katakan dulu mau pergi ke mana?" Kyuhyun bertanya penasaran.

Sungmin tersenyum. "Nanti saja. Kita siap-siap dulu. Sudah. Jangan menahanku lagi." Ucap Sungmin sambil melepaskan cekalan tangan Kyuhyun dan beranjak dari sofa menuju kamarnya.

Kyuhyun hanya tersenyum sambil memandang punggung Sungmin yang kemudian menghilang di balik pintu kamarnya.

###

BUGH

Satu pukulan dari tangan kekar Kangin yang tepat mengenai rahang kanan seorang Choi Siwon, berhasil membuat lelaki itu terhuyung ke belakang.

"Apa yang telah kau lakukan pada Sungmin, hah?!" Kangin yang tengah dikuasai oleh amarah itu menarik kerah kemeja Siwon dengan kasar, memaksa lelaki bermarga Choi itu untuk menatapnya. "Kurang ajar!"

BUGH

Kembali Kangin melayangkan pukulan tepat di rahang kiri Siwon. Kali ini menyebabkan Siwon jatuh terduduk di lantai dingin ruangan kerjanya. "Kau kira aku bodoh dan tak tahu apa-apa?! Rupanya kau lupa jika aku mempunyai banyak mata-mata." Kangin menatap tajam ke arah Siwon yang tampak meringis kesakitan. Pria paruh baya itu benar-benar murka atas perbuatan Siwon yang hampir memperkosa Sungmin, tampak jelas dari rahangnya yang mengeras menahan emosi. "Jika saja lelaki yang tinggal bersama Sungmin terlambat datang, dan kau memperkosa Sungmin..." Kangin menjeda kalimatnya, merasakan sedikit nyeri pada dada kirinya. Kedua tangannya tampak mengepal, dan tatapannya semakin tajam seolah menusuk sosok lelaki yang kini hanya bisa tertunduk menahan rasa sakit akibat pukulan Kangin. "...Kau pasti sudah habis di tanganku Choi Siwon!" Sambung Kangin dengan nada yang masih tinggi.

"Ahjussi, cheoseonghamnida.." Ucap Siwon setelah bangkit dari posisi duduknya. Ia membungkuk dalam lalu menatap Kangin dengan tatapan menyesal.

Kangin mendecih pelan dan tersenyum sinis. "Kau menyesal, eoh?"

Siwon mengangguk. "Ne. Saya benar-benar minta maaf."

"Kau ingin aku memaafkanmu?" Tanya Kangin seraya tersenyum sinis.

"Ne." Jawab Siwon.

"Baiklah. Jika begitu, kau harus ikuti semua perintahku. Mulai sekarang, jangan pernah menghubungi atau mengikuti Sungmin lagi, karena kau aku anggap bukan sebagai tunangan Sungmin lagi." Ucap Kangin dengan nada tegas.

Sontak Siwon terperangah kaget mendegar ucapan pria di hadapannya dan menatap Kangin tak percaya. "Tapi ahjussi.."

"Itu sudah keputusanku!" Bentak Kangin tak terima dengan suara protes dari Siwon. "Satu lagi, jika memang kau masih ingin bekerja di perusahaan ini, malam ini juga kau berangkat ke Amerika, aku pindahkan tugasmu ke sana." Kangin berucap memberikan perintah.

Siwon mengerutkan dahinya, tak percaya dengan keputusan Kangin. "Ahjussi.."

"Lakukan atau riwayatmu benar-benar akan tamat Choi Siwon." Ucap Kangin dengan nada mengancam.

Siwon tak bisa melawan dan terpaksa menerima semua keputusan itu. Namun sesungguhnya di dalam sana, ia merasakan sakit hati karena keputusan sepihak Kangin. Siwon menatap sengit Kangin yang tengah melangkah keluar ruangannya. Tangan kanannya yang sedari tadi mengepal bergerak mengusap darah di sudut bibirnya. "Shit!" Siwon mengumpat sambil menggebrak meja kerjanya. Ia menghempaskan kasar tubuhnya hingga terduduk di kursi kerjanya lalu kembali mengepalkan tangannya. Rahangnya yang tampak mengeras semakin memperjelas bahwa lelaki itu tengah menahan emosi. Ia merasa sangat kesal karena tak dapat melakukan perlawanan dan terlihat lemah di hadapan Kangin, namun dalam hati ia bertekad suatu saat nanti akan membuktikan bahwa ia bukan seseorang yang lemah.

###

"Gamsahamnida..." Sungmin menerima satu cone es krim strawberry dengan senyum sumringah. "Hmm..mashita.." Ucap Sungmin sambil menatap Kyuhyun yang berdiri di sampingnya.

Kyuhyun tersenyum geli melihat tingkah Sungmin yang seperti anak kecil. Ia lalu beralih pada es krim pesanannya yang tengah disiapkan oleh sang penjual. Sebuah senyuman kembali mengembang di bibir Kyuhyun kala pria penjual es krim yang sangat ramah itu memberikan es krim cokelat pesanannya. Lelaki tampan itu pun segera menyambutnya setelah memberikan uang terlebih dahulu. "Gamsahamnida ahjussi..."

"Ne.." Ucap sang penjual sambil tersenyum hangat.

"Kajja." Tangan kiri Kyuhyun segera menggenggam tangan kanan Sungmin lalu membawa gadis itu melangkah bersamanya di tengah suasana ramai Myeongdong market di siang hari. "Aku kira kau akan meminta pergi ke taman hiburan."

Sungmin tersenyum sambil tetap menikmati es krim strawberry kesukaannya itu. "Bosan jika ke sana lagi. Kita sudah dua kali ke taman hiburan bersama. Kali ini aku hanya ingin kita jalan-jalan, belanja, dan makan." Ucap Sungmin sambil menyunggingkan senyum manisnya.

Meskipun jalan-jalan ke tempat yang tidak spesial, Kyuhyun dan Sungmin tampak sangat menikmati waktu berdua mereka. Tampak jelas dari raut wajah keduanya yang memancarkan aura bahagia. Mereka kini memang tengah berada di Myeongdong market, salah satu distrik belanja terbesar dan pusat fashion anak-anak muda Seoul. Sepanjang jalan, banyak sekali outlet-outlet maupun stand-stand sederhana yang menjual berbagai macam barang seperti pakaian, souvenir, kosmetik, tas, sepatu, hingga makanan maupun jajanan yang beraneka ragam.

Sepasang kekasih yang baru saja saling menyatakan cinta itu seolah tak kenal lelah mengelilingi tempat itu. Sesekali keduanya tampak memasuki sejumlah outlet maupun berhenti di stand yang menarik perhatian mereka. Beberapa kali mereka juga terlihat saling melempar tawa dan candaan ketika melihat sesuatu yang menurut mereka lucu.

Setelah beberapa jam mereka berkeliling, tak terasa tangan mereka berdua sudah cukup banyak menenteng kantong belanjaan.

"Kau lapar?" Tanya Kyuhyun sambil menatap Sungmin yang tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.

"Eum." Sungmin mengangguk. "Aku mau itu, Kyu." Sungmin menunjuk stand pedagang jajanan yang tampak ramai oleh pembeli.

Kyuhyun tersenyum dan langsung menggandeng tangan Sungmin menuju stand yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri itu. "Kajja."

###

"Hmm..mashita..Ini benar-benar enak, Kyu. Aku sudah lama sekali tidak makan ini." Ucap Sungmin dengan mulut penuh makanan. Sungmin dan Kyuhyun membeli cukup banyak jajanan di stand tadi. Ada Tteokbokki, Eomuk, Hot Bar, dan Tokkebi Hot Dog. Dan kini mereka berdua tengah duduk di bangku yang tersebar di boulevard Myeongdong market, mencoba mengistirahatkan tubuh mereka sejenak sambil menikmati jajanan yang telah mereka beli dengan di temani ice coffee.

"Ya. Habiskan dulu makananmu, baru bicara." Tegur Kyuhyun sambil tersenyum tipis. Kyuhyun sadar hari ini ia banyak tersenyum, karena perasaan bahagia tengah memenuhi hatinya.

Sungmin hanya tersenyum lebar menanggapi teguran dari Kyuhyun dan melanjutkan kembali acara makannya.

"Minnie-ah. Setelah ini, kita pergi ke suatu tempat yang aku inginkan. Gwenchana?" Tanya Kyuhyun setelah meminum ice coffee miliknya.

"Ke mana?" Sungmin bertanya penasaran.

"Rahasia." Ucap Kyuhyun setengah berbisik sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Sungmin dan tersenyum manis.

Hal tersebut jelas saja membuat Sungmin terdiam sesaat dan berhasil menciptakan rona merah di kedua pipi gadis manis itu.

Kyuhyun terkekeh melihat reaksi Sungmin dan mengacak pelan rambut gadisnya itu. "Cepat habiskan makananmu." Ucap Kyuhyun memerintah di sela kekehannya.

###

"Bodoh! Kenapa kau melakukan itu, hah?!" Raut wajah Nyonya Hwang langsung berubah murka saat mendengarkan penuturan Siwon dari dalam telepon. Ia yang baru saja melepas penat dengan berendam air hangat setelah seharian di kantor D'Sapphire, harus kembali merasakan naik darah karena laporan Siwon. Rahangnya terlihat menguat dan tangannya mengepal, ingin sekali rasanya memukul keponakannya yang telah melakukan hal bodoh dengan memperkosa Sungmin.

"..."

"Perbuatanmu itu telah menghancurkan seluruh rencanaku, bodoh! Pergi saja ke Amerika! Aku tak peduli!"

PIP

Nyonya Hwang langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan Siwon. "Kau benar-benar bodoh Choi Siwon. Semuanya jadi berantakan." Geram Nyonya Hwang dengan suara lirih. Ia memukul kasur yang ia duduki untuk melampiaskan amarahnya.

CEKLEK

"Mi sun-ah..."

Seketika Nyonya Hwang menoleh ke arah pintu kamarnya yang terbuka dan memunculkan sosok suaminya, Lee Kangin. Raut wajah geramnya seketika menghilang kala suaminya itu tersenyum tipis ke arahnya. Selama ini, ia jarang sekali mendengar panggilan yang begitu lembut dan mendapatkan sebuah senyuman dari Kangin, karena pertengkaran dan adu mulut lah yang lebih sering mewarnai hari-hari mereka, serta sikap Kangin terhadapnya yang selalu dingin.

"Yeobo..waegeurae?" Tanya Nyonya Hwang yang kini telah menghampiri Kangin. Kedua matanya sontak membulat karena tiba-tiba Kangin memeluknya erat. Ia begitu bingung dengan perubahan mendadak sang suami yang biasanya selalu bersikap dingin padanya. Wanita berparas cantik itu tahu betul bahwa Lee Kangin selama ini tak pernah mencintainya, karena itu selama menikah ia juga tak pernah merasakan perlakuan layaknya seorang istri yang disayangi oleh sang suami. Namun ia tak pernah peduli akan hal itu. Yang terpenting bagi dirinya adalah, Kangin telah menjadi suaminya, yang berarti ia telah memiliki pria itu."A-ada apa denganmu?"

"Ku mohon, jangan lagi mengganggu kehidupan Sungmin. Biarkan putriku hidup tenang, Mi Sun-ah. Aku akan menuruti semua keinginanmu." Kangin berucap pelan tepat di samping telinga Nyonya Hwang.

Wanita bernama lengkap Hwang Mi Sun itu mendecih dalam hati dan menyeringai sekilas. 'Jadi karena itu. Sekarang kau memelas padaku.' Ucap Nyonya Hwang dalam hati. Ia segera membuang seringaiannya dan memasang wajah malaikatnya, lalu melepas pelukan mereka untuk menatap Kangin. "Yeobo, kau mengira perbuatan bejat Siwon pada Sungmin karena perintahku?"

Kangin menatap lekat ke dalam mata Nyonya Hwang. "Kau bukan yang menyuruhnya?"

"Tentu saja bukan, sayang. Kau tak mengingkari janjimu, jadi aku juga tak akan mengganggu Sungmin. Justru aku yang telah mengatakan pada Sungmin bahwa dia anak haram. Aku minta maaf untuk itu, ne?" Ucap Nyonya Hwang dengan wajah malaikat palsunya.

Kangin menatap Nyonya Hwang dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mianhe, aku telah berburuk sangka padamu. Jadi kau sudah tahu semuanya? Masalah Siwon yang aku kirim ke Amerika dan soal aku yang memutuskan pertunangan mereka? Kau juga sudah tahu?"

"Ne. Siwon baru saja meneleponku. Aku juga memarahinya tadi, dan aku tak masalah atas keputusanmu." Ucap Nyonya Hwang menjelaskan. "Yeobo..." Nyonya Hwang meraih kedua tangan Kangin dan menggenggamnya erat. "Kau ingin aku tidak mengusik kehidupan Sungmin bukan?" Tanya Nyonya Hwang seraya tersenyum dan membelai pipi Kangin.

"Ne." Jawab Kangin singkat.

"Kalau begitu, aku ingin kau ikut bersamaku untuk perjalanan bisnis kali ini. Tahun ini ada banyak negara yang harus kita kunjungi. Dan aku tidak mau melakukannya seorang diri. Kita hanya tinggal memerintahkan orang-orang kepercayaan kita untuk meng-handle pekerjaan di sini. Yaa, sesekali kita pulang ke Korea, jika memang kau tengah merindukan putrimu. Hm? Kau bersedia kan?" Tangan Nyonya Hwang bergerak merapikan kerah kemeja yang dikenakan Kangin.

Dalam hati Kangin sungguh ingin menolak keinginan yang baru saja diutarakan oleh Nyonya Hwang. Ia tak ingin terpisah jauh dari putri kesayangannya, meskipun ia paham betul bahwa Sungmin membencinya karena ia bukan ayah yang baik. Selama ini ia terpaksa tak pernah memberikan kasih sayang selayaknya seorang ayah karena batasan dari Hwang Mi Sun. Ia terpaksa menjadi seorang ayah yang jahat di mata Sungmin. Namun tanpa sepengetahuan Sungmin, ia menyimpan cinta yang begitu besar untuk putrinya itu. Ia tak ingin Sungmin terluka sedikit pun, sehingga selama ini ia mengerahkan banyak bodyguard dan mata-mata untuk selalu memantau dan melindungi putri manisnya itu. Oleh karena itu, ia sangat murka begitu tahu Siwon hampir saja memperkosa Sungmin. Tak hanya Siwon yang mendapatkan pelajaran dari pria bermarga Lee itu, tapi para bodyguard yang ia anggap telah lalai dalam menjalankan tugas pun terkena imbasnya.

"Ne. Aku sudah katakan bahwa aku akan mengikuti semua keinginanmu asal kau tidak mengusik kehidupan Sungmin." Ungkap Kangin.

Nyonya Hwang tersenyum puas dan memeluk suaminya itu. "Gomawo yeobo.."

"Hm." Ucap Kangin sambil balas memeluk sang istri. Lagi-lagi ia hanya bisa menuruti keinginan wanita itu tanpa bisa melawannya. Ia memejamkan kedua matanya dan tersenyum miris, meratapi betapa lemahnya ia sebagai seorang pria. Ia tak tahu lagi harus melakukan apa agar Sungmin bisa hidup tenang tanpa ancaman apapun. Selama ini ia merasa telah hidup sebagai pengecut. Ia juga tak peduli lagi dengan kehidupan cintanya, karena bagi dirinya cinta itu telah mati bersama dengan meninggalnya Lee Teuk, satu-satunya wanita yang paling ia cintai. Ia menghela napas panjang dan melepaskan pelukannya pada sang istri. "Tapi bisakah kita memulai perjalanan bisnis itu dua bulan lagi? Karena masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." Ucap Kangin menambahkan.

Nyonya Hwang mengangguk seraya tersenyum tipis. "Ne. Itu bisa diatur."

"Gomawo.." Ucap Kangin seraya mengusap lengan Nyonya Hwang.

###

"Wohoooo..." Sungmin yang membonceng Kyuhyun di belakang berseru seraya tertawa ketika lelaki itu mempercepat laju sepeda yang ia kendarai. Tangan kanan Sungmin semakin erat memeluk pinggang Kyuhyun, sementara tangan kirinya ia angkat ke udara seolah ingin menangkap angin sore pantai yang begitu menyegarkan. Ia memejamkan kedua mata mencoba menikmati angin sore pantai yang menerpa wajah dan rambutnya.

Kyuhyun seakan tak peduli dengan napasnya yang mulai terengah dan terus mengayuh sepedanya dengan cepat, membelah hamparan pasir putih di bibir pantai yang basah terkena sapuan ombak. Lelaki itu tersenyum lebar ketika merasakan sepasang lengan milik sang kekasih memeluk pinggangnya erat. Ia juga dapat merasakan kepala gadisnya yang kini tengah bersandar nyaman di punggungnya.

Setelah berhasil menghabiskan jajanan di Myeondong market, Kyuhyun membawa Sungmin menuju salah satu tempat favoritnya, sebuah pantai pasir putih yang terletak di dekat bandara Incheon, Pantai Eurwangni. Setelah menempuh kurang lebih dua jam perjalanan, begitu sampai Kyuhyun langsung mengajak Sungmin untuk mengendarai sepeda yang ada di tempat penyewaan sepeda. Sungmin yang memang belum bisa mengendarai sepeda, hanya bisa puas dengan membonceng di belakang.

CIIIT

"Haaah.." Kyuhyun mencoba mengatur deru napasnya yang terengah-engah.

Sungmin yang masih setia duduk di boncengan belakang memajukan wajahnya ke depan berusaha mencari wajah Kyuhyun. "Kenapa berhenti, Kyu?"

"Ya. Kau tidak lihat aku hampir kehabisan napas?" Ucap Kyuhyun seraya menatap Sungmin.

Sementara Sungmin hanya terkikik melihat ekspresi Kyuhyun. "Arra..Kajja, kita duduk di sini saja." Ajak Sungmin yang telah berdiri di hadapan Kyuhyun.

Lelaki bermarga Cho itu pun langsung beranjak dan menurunkan standard sepeda itu. Mereka berdua kemudian duduk berdampingan di atas hamparan pasir putih nan lembut di samping sepeda sewaan mereka.

"Sebentar lagi sunset." Ucap Kyuhyun sambil tersenyum menatap pemandangan laut sore di hadapannya yang begitu indah.

"Eum. Indah sekali. Baru kali ini aku melihat langsung pemandangan seperti ini, Kyu. Kau sering kemari?" Sungmin menoleh menatap wajah tampan kekasihnya itu.

"Hmmm, hanya beberapa kali. Dan baru kali ini aku melihat pantai ini sepi. Biasanya pantai ini selalu ramai. Mungkin karena tahu kita akan ke sini, jadi sengaja dikhususkan untuk kita berdua." Kyuhyun mengeluarkan gurauannya dan menoleh menatap Sungmin yang ternyata tengah tersenyum menatapnya. "Kau suka?" Tanya Kyuhyun pelan yang dibalas anggukan oleh Sungmin. Kyuhyun pun langsung merangkul bahu Sungmin dan membimbing kepala gadis manis itu supaya bersandar di bahunya.

Sungmin yang telah menyandarkan kepalanya di bahu kanan Kyuhyun, tanpa rasa canggung memeluk pinggang lelaki tampan itu. Ia memejamkan mata sejenak, menikmati rasa nyaman yang memang selalu ia dapatkan jika berada di dekat Kyuhyun.

Mereka berdua tampak begitu larut dalam suasana romantis sunset yang begitu indah. Seluruh penat yang mereka rasakan seakan lenyap terbawa oleh hembusan angin laut yang terasa sepoi-sepoi. Suara deburan ombak yang berlomba-lomba menyapu halusnya pasir di bibir pantai itu menambah harmoni suara dari burung-burung air yang berterbangan di langit senja. Cahaya sunset yang begitu sempurna tampak berpendar di antara kilauan cahaya dari lautan. Sungguh suatu pemandangan yang memukau dan memanjakan setiap pasang mata yang melihatnya.

"Gomawo, Kyu." Ucap Sungmin sambil mengangkat kepalanya dari bahu Kyuhyun.

Lelaki itu pun menoleh, tersenyum hangat seraya mengedipkan kedua matanya sebagai jawaban. Tangannya terangkat membelai pipi halus Sungmin dengan sayang dan menatap dalam mata gadis manis itu. Entah dorongan dari mana, wajahnya bergerak mendekati wajah Sungmin, dan tanpa banyak kata, ia mempertemukan bibirnya dengan bibir gadis manis itu.

Sungmin yang merasakan detak jantungnya berpacu dengan sangat cepat hanya bisa memejamkan mata seraya menggenggam kaos bagian pinggang Kyuhyun. Entah kenapa ia tak bisa menolak Kyuhyun yang menciumnya semakin dalam. Kedua tangannya pun kini melingkar sempurna di pinggang Kyuhyun. Bibirnya sedikit demi sedikit mampu bergerak membalas ciuman Kyuhyun yang begitu lembut, tanpa ada unsur panas. Sungmin begitu menyukai dan menikmati sentuhan Kyuhyun yang memang selalu lembut baginya. Ciuman itu pun berlangsung cukup lama, seiring dengan bergeraknya sang matahari yang kembali ke peraduannya.

###

Dua bulan kemudian...

"Aiish! Ke mana dia? Kenapa jam segini belum pulang?" Kyuhyun bergerak mondar-mandir dengan gelisah di ruang TV apartemennya sambil terus memandangi jam dinding di depannya yang sudah menunjukkan jam 8 malam. Ia mengacak rambutnya frustrasi karena sejak siang hari, Sungmin tidak bisa dihubungi. Lelaki itu begitu khawatir dengan keadaan sang kekasih yang tak pernah pergi hingga malam tanpa kabar seperti saat ini. "Lee Sungmin, ku mohon, angkat teleponnya." Geram Kyuhyun dengan suara pelan.

"Kyu! Mi-"

"Ya! Ke mana saja kau, Min? Kau membuatku hampir mati. Kau di mana? Kenapa jam segini belum pulang?" Kyuhyun yang awalnya berteriak langsung bertanya dengan nada halus karena sadar jika Sungmin tak suka dibentak.

"Mian Kyu...Aku lupa membawa charger. Dan ini aku baru berhasil menyalakan ponselku. Aku juga minta maaf karena lupa memberitahumu dulu. Aku tidak akan pulang ke apartemenmu untuk tiga hari ini, karena aku menginap di rumah Kibum eonnie. Ada sesuatu yang harus aku kerjakan bersamanya, Kyu. Tidak apa-apa, kan?" Ucap Sungmin menjelaskan.

"Apa sangat penting sehingga kau tidak bisa pulang?" Tanya Kyuhyun dengan nada sedih.

"Ne. Penting sekali, Kyu. Tidak bisa ditunda lagi. Gwenchana?" Tanya Sungmin memastikan izin dari Kyuhyun.

Lelaki itu menghela napas sejenak. "Hm. Apa boleh buat jika begitu. Jaga dirimu, ne? Sekarang kau sudah di rumah Kibum noona?" Tanya Kyuhyun yang tersirat rasa khawatir di sana.

"Eum. Jangan khawatir berlebihan seperti itu, sayang. Aku bisa menjaga diriku." Ucap Sungmin berusaha menenangkan.

"Hm." Gumam Kyuhyun.

"Jangan marah, Kyu." Sungmin berujar dengan nada sedikit merengek.

"Aniyo. Hanya saja aku merasa kesepian jika tidak ada kau." Jawab Kyuhyun.

"Besok kita bisa bertemu di kampus. Aku akan membawakanmu bekal makan siang." Ucap Sungmin yang terdengar semangat.

Kyuhyun tersenyum tipis sekilas. "Baiklah. Sekarang istirahatlah. Aku juga sudah mengantuk. Jaljayo..."

"Ne, jaljayo Kyu. Jangan lupa mimpikan aku."

Kyuhyun kembali tersenyum namun senyum kali ini lebih lebar. "Ya. Itu kata-kataku."

Terdengar suara kekehan dari dalam telepon. "Mian, mian.. Aku tutup, ne? Annyeong..."

"Hm..Annyeong.."

PIP

Kyuhyun kembali mendesah dan memasukkan smartphone-nya ke dalam saku celana tidurnya. Setidaknya kini ia telah merasa lega karena kekasihnya itu ada di tempat yang aman, meskipun tetap saja masih ada sedikit rasa khawatir di dalam hatinya. Lelaki yang memiliki sifat overprotective itu berjalan pelan menuju kamarnya. Ia harus rela tidur sendiri lagi, karena semenjak menjalin kasih dengan Sungmin, ia sering meminta Sungmin untuk tidur bersamanya. Hanya tidur bersama dan tidak lebih dari itu, karena memang Kyuhyun tidak suka dengan hubungan seks di luar nikah.

###

"Yeoboseyo.." Sapa seorang lelaki berbadan tegap setelah menempelkan ponsel yang ia ambil dari saku dalam jas hitamnya itu ke telinga kanannya.

"Semua berkasnya sudah kau bawa?" Terdengar suara bass seorang lelaki dari dalam telepon.

Lelaki yang mengenakan setelan jas hitam rapi beserta kaca mata hitam itu mengangguk sambil bergerak masuk ke dalam ruang kemudi mobil sedan hitamnya. "Ne, sajangnim. Semuanya sudah saya bawa. Saya sudah siap berangkat ke Busan bersama anak buah saya."

"Bagus. Berkas-berkas itulah yang menjadi jaminan kita bisa membawa wanita itu. Pastikan tidak ada yang mengetahui tentang ini selain kepala panti itu. Jika kau sudah kembali ke Seoul, langsung bawa Moon Ye Kyung ke tempat yang sudah aku siapkan." Perintah lelaki bersuara bass yang dipanggil sajangnim itu.

"Algaeseumnida, sajangnim. . Saya berangkat sekarang. Saya akan segera menghubungi Anda jika saya sudah tiba di Busan." Ucap lelaki berjas hitam itu dengan tegas.

"Terima kasih. Aku percaya padamu. Aku tutup dulu."

PIP

Lelaki berjas hitam itu pun segera memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas hitamnya, dan langsung melajukan mobilnya yang diikuti sebuah mobil sedan hitam tepat di belakangnya.

###

Sungmin tampak sibuk membaca buku di tempat biasa ia menyendiri, di sebuah meja kayu yang terletak di bawah pohon besar nan rindang taman kampusnya. Ia akan menyendiri di tempat itu jika sahabatnya, Eunhyuk, tidak masuk seperti hari ini, dan jika kekasihnya, Kyuhyun, belum menampakkan batang hidungnya.

TAS

"Akh! YA! Siapa yang be-" Teriakan Sungmin yang merasa sakit dan tak terima sehelai rambutnya ditarik hingga putus itu tiba-tiba terhenti kala ia menoleh dan mendapati sosok lelaki yang sudah cukup lama tidak ia jumpai tengah tersenyum manis ke arahnya. "OPPAA!" Sungmin yang langsung sadar akan suaranya yang terlalu lantang itu segera menutup mulutnya dan tersenyum geli. Sedetik kemudian ia langsung menghambur ke pelukan lelaki yang berdiri di hadapannya itu. "Bogoshippo, Jungmo oppa."

Lelaki bernama Jungmo itu tersenyum dan balas memeluk Sungmin, mengusap sayang punggung gadis yang selama ini ia anggap sebagai adiknya itu. "Aku juga merindukanmu, Minnie-ah."

"Kapan kau kembali? Kenapa tak memberitahuku?" Tanya Sungmin begitu melepaskan pelukannya.

Jungmo mengacak pelan rambut Sungmin. "Eiii..Sabar nona. Kau tak ingin mempersilakan oppa mu untuk duduk dulu, eoh?"

Sungmin terkekeh. "Mian. Duduklah, oppa."

"Aku sengaja ingin mengejutkanmu, nona manis." Jawab Jungmo setelah duduk di samping Sungmin.

###

"Tsk. Kenapa tidak di angkat?" Kyuhyun yang baru saja turun dari dalam mobil yang ia parkir di basement gedung kampus, menggerutu sebal karena lagi-lagi Sugmin susah dihubungi. Ia lalu memasukkan smartphone-nya ke dalam saku celana jeans-nya dan melangkah menuju gedung kampus Sungmin yang memang terpisah dengan kampusnya.

"Kyuhyun oppa!"

Kyuhyun menghentikan langkahnya dan memutar matanya malas ketika mendengar suara seseorang yang sudah ia hafal memanggil namanya. Lelaki itu pun dengan terpaksa menoleh, dan benar saja, ternyata sosok Victoria memang tengah berlari kecil menghampirinya. "Ada apa?" Kyuhyun bertanya malas.

"Oppa mencari Sungmin, bukan?" Tanya Victoria.

Kyuhyun langsung menatap serius gadis berdarah China itu. "Hm. Kau melihatnya?"

Victoria mengangguk cepat. "Benar dugaanku ternyata. Kau salah memilih orang, oppa."

Kyuhyun mengerutkan dahi, tak mengerti dengan arah pembicaraan gadis di hadapannya itu. "Apa maksudmu?"

"Kajja. Ikut aku." Ajak Victoria sambil menggandeng tangan Kyuhyun.

Sontak Kyuhyun menepis tangan Victoria yang menggandengnya tanpa izin. "Aku bisa jalan sendiri." Ujar Kyuhyun ketus.

Victoria hanya bisa mendengus sebal mendapat perlakuan ketus dari Kyuhyun dan berjalan mendahului lelaki itu.

###

"Kapan oppa sampai?" Tanya Sungmin sambil meletakkan buku yang sedari tadi ia baca di meja lalu menatap Jungmo.

"Tadi malam." Jawab Jungmo

"Pasti kau hanya beberapa hari saja kan di Korea?" Tanya Sungmin sambil memajukan bibirnya cemberut.

"Ani. Aku akan seterusnya di Korea." Jawab Jungmo sambil tersenyum penuh arti.

Mata Sungmin membulat lucu. "Jinja?" Sungmin bertanya antusias.

Jungmo mengangguk, masih dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya. "Kemungkinan hanya sewaktu-waktu saja aku ditugaskan ke luar, tapi yang jelas, appa-mu telah menugaskan aku menetap kembali di Korea." Ujar Jungmo menjelaskan. Tiba-tiba saja di kepalanya kembali terngiang perkataan ayah Sungmin, Lee Kangin, yang ia temui tadi malam, begitu ia sampai di Korea.

'Jangan katakan apapun tentang alasanku menugaskanmu kembali ke Korea pada Sungmin. Dan aku mohon, semua yang aku ceritakan padamu, jangan sampai Sungmin tahu. Biarkan Sungmin tetap membenciku. Besok aku akan memulai perjalanan bisnisku dengan Mi Sun. Aku tidak akan kembali ke Korea dalam waktu yang cukup lama. Tolong jaga selalu Sungmin. Aku percaya padamu, Jungmo.'

Sungmin mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti. "Hmm..Arra.." Ia mengibaskan tangannya ke depan wajah Jungmo yang tampak melamun. "Oppa? Waeyo?"

Jungmo segera tersadar dari lamunannya saat mendengar panggilan dari Sungmin. "Ah, Ani. Ngomong-ngomong, dari tadi kau baca buku apa?" Tanya Jungmo, berusaha mengalihkan pertanyaan Sungmin. "Eoh? Kau sedang belajar menjahit?" Tanya Jungmo saat melihat buku Sungmin yang ternyata tentang panduan menjahit ala profesional.

"Eum. Kau tahu sendiri aku hanya mahir mendesain. Aku sedang membuat jas untuk Kyuhyun sebagai kado kelulusan dia. Kibum eonnie yang membantuku." Ucap Sungmin seraya tersenyum manis.

"Waah, beruntung sekali Kyuhyun bisa menjadi kekasihmu. Aku saja belum pernah dibuatkan baju olehmu." Ledek Jungmo sambil melirik Sungmin. "Ya. Kenalkan aku dengan kekasihmu itu. Aku akan memberikan banyak pesan dan peringatan agar dia tidak berani menyakitimu."

Sungmin tertawa geli mendengar perkataan Jungmo. "Arra, aku pasti akan mempertemukan kalian." Jawab Sungmin. "Tunggu sebentar, oppa. Aku akan menelepon Kyuhyun dulu. Seharusnya dia sudah sampai di kampus." Ujar Sungmin bermonolog seraya mendekatkan smartphone-nya di telingan kanan.

"Kau ada janji dengannya?" Tanya Jungmo.

"Ne. Kami janji akan makan siang bersama. Karena aku sedang menyiapkan kejutan untuknya, aku tidak pulang ke apartemennya untuk tiga hari ini, oppa. Jadi aku mengajaknya bertemu di kampus. Kenapa tidak diangkat-angkat?" Sungmin menatap layar smartphone-nya heran.

"Mungkin masih di jalan. Tunggu sebentar lagi." Ucap Jungmo memberi saran. "Minnie-ah. Mendekatlah sebentar, aku ingin memelukmu."

Sungmin tersenyum dan tanpa ragu menghambur ke pelukan lelaki itu.

"Bogoshippo Minnie-ah." Kibum mengusap-usap punggung Sungmin sayang.

Sungmin tersenyum dan mengeratkan pelukannya. "Nado bogoshippo, oppa."

"Mianhe. Aku tidak ada disaat kau sedang dalam bahaya." Ujar Jungmo yang terdengar menyesal.

"Gwenchana, oppa. Aku kan sudah bilang, Kyuhyun selalu ada untuk melindungiku. Sekarang kau kembali, jadi aku punya dua pelindung." Ucap Sungmin seraya melepas pelukan mereka dan tersenyum lebar ke arah Jungmo.

"Apa kau tak ingin mengadukan semua ini pada appa-mu? Aku rasa kau perlu bicara dengannya." Ujar Jungmo berusaha memberi saran.

Sungmin menggeleng pelan. "Tak perlu. Aku sungguh tidak apa-apa. Lagi pula appa juga tidak akan peduli dengan apa yang terjadi padaku." Sungmin tersenyum getir. Terbesit rasa sedih di hati gadis itu saat mengatakan tentang ayahnya yang ia anggap tak pernah peduli pada dirinya.

'Kau salah besar Minnie-ah. Appa-mu tak seperti itu.' Jungmo membatin dalam hatinya. Sungguh ia ingin sekali mengatakannya pada Sungmin, jika tidak mengingat janjinya pada ayah gadis itu. "Kau tak boleh berbicara seperti itu, Min." Tegur lelaki bermarga Kim itu. Ia pun kembali menarik tubuh Sungmin ke dalam dekapannya.

Tanpa Sungmin dan Jungmo sadari, dari kejauhan tampak Kyuhyun dan Victoria tengah mengamati aktivitas mereka berdua dari balik kaca transparan gedung kampus Sungmin. Terlihat jelas Kyuhyun menatap geram kekasihnya yang tengah bersama lelaki lain yang tak ia kenal. Ia mengepalkan tangannya kuat seolah ingin memukul apa pun yang ada di hadapannya. Namun ia masih bisa menahan semuanya, dan lebih memilih meninggalkan tempat itu. Lelaki itu mengeluarkan smartphone dari dalam saku celana jeans -nya lalu mengetikkan sebuah pesan yang ditujukkan untuk Sungmin.

To: Minimin

Maaf aku tidak bisa ke kampus. Banyak urusan yang harus aku selesaikan. Makanlah, tak usah menungguku.

Sementara Victoria yang sedari tadi tersenyum puas melihat reaksi Kyuhyun, segera beranjak mengikuti Kyuhyun yang tanpa banyak kata langsung meninggalkannya. "Oppa, tunggu!"

###

"Eonnie, neomu gomawoyo. Tanpamu, aku tidak akan bisa membuatnya sesempurna ini." Ucap Sungmin setelah melepas pelukannya pada Kibum.

"Kau berlebihan, Min. Aku hanya mengajarimu sedikit. Semuanya kau yang mengerjakan." Kibum berujar dengan penuh kerendahan hati.

"Kau tak hanya mengajariku. Kau telah memberikanku tumpangan kamar dan tempat menjahitmu ini secara gratis." Ucap Sungmin.

Kibum tersenyum. "Gwenchana. Aku senang bisa membantumu. Sekarang pergilah dan kembali ke apartemen Kyuhyun. Aku yakin dia sudah sangat menunggumu." Kibum berusaha menggoda Sungmin.

"Eum. Baiklah, eonnie. Sekali lagi terima kasih banyak." Sungmin kembali memeluk Kibum, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan rumah gadis cantik yang 4 tahun lebih tua dari Sungmin itu, lalu masuk ke dalam taksi yang memang telah menunggu di depan gerbang depan.

Sepanjang perjalanan Sungmin tak berhenti tersenyum, membayangkan betapa tampannya Kyuhyun saat acara wisuda nanti, naik ke atas podium, menerima penghargaan sebagai lulusan terbaik, mengenakan jas yang dibuat dengan tangannya sendiri. Setelah mendapatkan kabar dari ibu Kyuhyun lewat telepon, bahwa Kyuhyun berhasil menjadi lulusan terbaik di Universitas Kyunghee tahun ini, ia langsung menyusun rencana untuk memberikan hadiah spesial. Berhubung ia mahir dalam mendesain, ia langsung terpikir untuk membuatkan Kyuhyun jas supaya dipakai saat acara wisuda. Namun karena tak begitu mahir menjahit, ia meminta bantuan Kibum yang memang sangat pandai dalam hal jahit-menjahit. Kibum juga memiliki tempat khusus seperti studio yang memang dibuat untuk menyalurkan hobi menjahitnya, sehingga di tempat itu alat-alat untuk menjahit milik perempuan cantik itu cukup lengkap.

Sungmin sengaja tak pulang ke apartemen Kyuhyun, karena ia menginginkan hasil yang sempurna. Dari awal gadis itu yang pergi sendiri memilih bahan dengan kualitas terbaik, membuat gambar desainnya, hingga berusaha keras menjahit dengan kemampuan seadanya. Setiap jam kuliah selesai, Sungmin langsung melesat dari kampus menuju rumah Kibum untuk menyelesaikan jahitannya. Gadis bermarga Lee itu bahkan rela menjahit hingga tengah malam, demi hadiah untuk kekasihnya itu. Ia pun tak peduli jika kini kantung matanya menghitam karena kurang tidur.

Berkat kerja kerasnya, jas hasil jahitan tangannya pun hampir mendekati sempurna, layaknya jas bermerk dengan harga selangit. Sedikit detail yang Sungmin tambahkan berupa sulaman tipis, menggunakan benang hitam pada sisi atas saku depan, membuat jas berwarna hitam itu tampak elegan dan mewah. Sungmin sudah tak sabar ingin segera mengucapkan selamat dan memberikan hadiah itu pada Kyuhyun.

###

Setibanya di apartemen Kyuhyun, Sungmin menghela napas lega karena prediksinya tepat, bahwa Kyuhyun belum pulang. Ia pun langsung menuju ruang binatu di dekat dapur untuk menyetrika jas yang sedari tadi ia lipat di dalam paper bag. Gadis itu memang sengaja ingin menyetrika di apartemen Kyuhyun, karena tidak mau hadiah itu kusut saat diberikan pada kekasihnya itu. Sebelumnya ia menyetrika sebuah kemeja putih dan celana panjang hitam bermerk terkenal yang sengaja ia beli sebagai pasangan jas buatannya. Sungmin tampak begitu hati-hati dan serius menyetrika kemeja dan celana itu. Ia mengatur dengan betul suhu alat setrika itu dan bergerak hati-hati agar tak salah lipatan.

"Waah..Akhirnya selesai!" Sungmin berseru senang saat kemeja, celana, dan jas itu telah tergantung dengan rapi. Ia menghembuskan napas lega dan mengusap sekilas dahinya yang mengeluarkan keringat. Gadis itu lalu beranjak menuju dapur untuk mengambil air dingin dari dalam lemari pendingin. "Eoh?" Sungmin segera menyudahi acara minumnya ketika ia mendengar pintu apartemen dibuka, dan ia sangat yakin bahwa orang yang membukanya adalah Kyuhyun.

"Kyu!" Sungmin tersenyum senang saat melihat punggung Kyuhyun. Gadis itu sedikit mengerutkan dahi karena Kyuhyun tak langsung berbalik menghadapnya. Ia pun melangkah menghampiri lelaki yang hendak memasuki kamarnya itu. Sungmin cukup tersentak kala ia meraih tangan Kyuhyun dari belakang, lelaki itu justru menepisnya. "Kyu? Waegeurae?"

To be continued...