Halo!? baik aja kan. Maaf menunggu cukup lama. saya sibuk dengan fic lain, sekolah, dll. Belum sempat baca LN Highschool nya. Tapi jangan khawatir, saya masih mengerjakan outline cerita ini agar dapat menerima informasi yang baru saya dapat dari membaca Ln-nya. Ada yang tanya gini, Freed memang memiliki peran penting pada Ln nya(yaitu berhubungan dengan Excalibur kan?) dan disuruh jangan dibuat mati frednya. Tapi tenang aja, saya dapat solusi untuk masalah itu. makanya untuk selanjutnya sampai Raiser Arc cerita ini gak akan memasukkan tokoh-tokoh LN yang baru. Namun setelah itu, barulah cerita ini masuk lebih dalam.
Maaf ni chapter gak ada actionnya. Hanya penutup lubang dari cerita utama.
2 hari setelah penyelamatan Asia.
Malam yang tenang, dengan bulan purnama yang menampakkan seluruh tubuhnya. Sinarnya yang hanya muncul saat malam, kini menyinari seorang wajah. Seorang wajah yang memililki rambut kuning yang mengkilat. Mengkilat akibat pantulan sinar bulan. Dialah Naruto...
Saat ini dia sedang melihat tanpa berkedip bulan yang berada disampingnya dari jendela apartemenya. Meskipun Naruto melihat Bulan, namun pikirannya bukan di situ. Naruto saat ini sedang memikirkan sesuatu, sesuatu yang sudah mengganjal dalam hatinya beberapa hari ini. benar, dia tidak masuk beberapa hari ini kesekolah. Benar ..dia tidak menjawab panggilan dari Rias dan Akeno, tapi hal itu bukan menjadi masalahnya saat ini.
Yang menjadi pikirannya saat ini adalah...apa yang harus dilakukannya saat ini?
Dia merasa, bahwa semua yang dilakukannya...percuma. benar...Naruto telah melakukan tugasnya sebagai Avatar beberapa bulan ini. tugasnya yang menjaga ketentraman di kalangan manusia biasa dan .melindungi. Menjauhkan. mereka dari segala berbau supernatural. Memang itu adalah tugas yang simpel... tapi tugas itu memiliki makna tersendiri. Perjanjian dirinya dan Shinigami... perjanjian yang memberikannya kekuatan ini... yang memberikannya kehidupan untuk melanjutkan apa yang diimpikannya. Untuk membuktikan kepada Makhluk bertopeng itu...bahwa... hal itu memang ada.
Naruto kemudian hilang dalam ingatan...hilang dalam ingatan masa lalunya. Dia sudah pernah berkata dan berjanji akan sesuatu. Namun setelah beberapa tahun berlalu... hanya satu pengartian yang ada terukir didalam hatinya setelah menyaksikan semua itu.
"apakah ...perdamaian abadi itu ...ada..?"
Naruto hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan seakan mengucapkan mantra... bahwa itu ada. Kemudian mata Naruto melirik kearah sudut apartemen kosong miliknya, melirik kepada benda yang seharusnya tidak boleh dipegang manusia. Namun bagaikan benda hidup... benda tersebut membalas pandangan Naruto.. dengan getaran dan pijaran berwarna biru. Yaitu Katana yang menempel dengan gagahnya didinding apartemen kosong tersebut.
Naruto hanya menghela nafas, dan memutuskan mengacuhkan pedang itu...untuk saat ini. mata Onyx naruto kemudian berubah menjadi Doujutsu, yaitu sharingan.
Mata Sharingan Naruto kemudian berubah bentuk menjadi simbol tingkat terakhir yang bisa dia gunakan... yaitu Mangekyo. Dengan perintah batin dan mengirim chakra secukupnya. Terbuka lubang kecil hitam yang langsung menghisap Naruto bagaikan pusaran. Menghisapnya kedalam lubang dimensi miliknya.
*tap*
Dengan langkah kaki kiri yang dahulu mendarat, Naruto kemudian membenarkan postur tubuhnya dan berjalan menaiki tangga melayang diruangan Hampa tersebut. berbeda dengan pemilik Mangekyo sebelumnya, yang memiliki kantong dimensi berupa jajaran tak berbentuk prisma segiempat dan tak berujung. Naruto memiliki kantong dimensi berbentuk tangga yang bersusun menuju suatu tempat. Dengan langkah yang berdengung setiap menginjak tangga, Naruto menaikki tangga berwarna hitam itu. mengacuhkan Shuriken raksasa dan batangan hitam penerima Chakra yang bersusunan secara rapi dan berjumlah tak terhitung yang terpajang didinding Dimensi itu.
Melewati suatu ruangan terbuka yang penuh akan perkamen dan lemari berkaca dengan segel. Didalam lemari berkaca itu terdapat sebuah tabung cairan berisikan dua bulatan kecil. Yaitu dua buah mata berbeda... yaitu satu mata dengan corak cincin-cincin dan satu lagi corak mata transplatasi milik Naruto. namun Naruto hanya melirik sekali pada tabung cairan itu dan kemudian melanjutkan perjalanannya..
Naruto kemudian berhenti, dan melihat pintu tujuan terakhirnya. Dengan memegan handel pintu tersebut, Naruto mendorong pintu itu. Terdengar bunyi belasan kunci terlepas saat Naruto membuka pintu berwarna hitam tersebut. dengan langkah sedikit terhenti, Naruto memasuki ruangan itu. dan berjalan sebentar...
Mata Naruto kemudian berubah menjadi sedih saat melihat sesuatu berbulu tebal setinggi rumah bertingkat dua yang sedang tertidur lelap. Hidung hitamnya terkadang mengeluarkan nafas pendek. Ekor-ekor yang berjumlah empat menyelimuti tubuhnya. Dengan langkah pelan, Naruto mendekati makhluk tertidur itu, dengan tangan yang menjulur, Naruto memegang batang hidung yang diselimuti bulu tebal dan mengelusnya dengan penuh perasaan. Dan kemudian Naruto memeluk makhluk itu...
Setelah cukup lama melakukan kebiasaan yang dilakukannya selama beberapa tahun, Naruto kemudian melepas pelukkannya dan kembali berjalan menuju pintu dan membukanya. Sesaat Naruto hendak menutup pintu itu kembali, Naruto melirik Makhluk yang tertidur tanpa ternganggu itu, dan mengucapkan kata-kata yang selalu diulanginya...
"cepatlah bangun...Kurama"
*Click*
Bunyi suara pintu yang ditutup Naruto. kembali dengan makhluk yang menyerupai rubah itu. meskipun tidak mendengar perkataan Naruto, Rubah tertidur itu kemudian berpijar, nyala berwarna merah kemudian menyelimuti rubah raksasa itu. dan menghilang...menyisakan rubah yang memiliki ekor 5 dan yang membesar...namun tetap dalam kondisi tertidur.
Kembali dengan Naruto.
Tanpa menuruni tangga tersebut, Naruto melakukan hal yang sebelumnya. Mengirim Chakra yang cukup dan membuka lubang dimensi menuju dunia luar.
Naruto dengan pusaran dimensi itu, kemudian muncul kembali diruangan kosongnya, dan berjalan pelan menuju kamar yang seharusnya dia pergunakan. Dan membukanya. Mata Naruto kemudian melirik dua sosok wanita yang berbeda. Dengan yang satu sedang sibuk melakukan sesuatu, dan yang satunya... terbaring di tempat tidur dengan perban disekujur tubuhnya.
"Kalawarner, bagaimana keadannya?" Tanya Naruto dengan datar, dan kemudian berjalan untuk melihat lebih dekat sosok wanita tertidur itu. wanita yang tadinya sibuk melakukan sesuatu itu kemudian berhenti dengan cepat dan menatap Naruto. dan berkata dengan ekspresi lega.
"Kondisinya mulai membaik Tuan. Pada awalnya kondisinya sudah semakin parah.." Kalawarner kemudian melihat Naruto dan tersenyum "namun berkat ramuan yang anda berikan...Raynare dengan cepat mulai sembuh.."
Namun mata Kalawarner kemudian berubah menjadi ingin tahu. Dan bertanya hal yang sudah mengganjalnya dari tadi setelah menerima ramuan hijau pemberian tuannya. "namun bolehkah saya bertanya...bagaimana tuan bisa membuat ramuan mujarab ini?" tanya Kalawarner.
Naruto hanya memandang Kalawarner dengan datar, kemudian mengeluarkan nafas lelah. Ekspresi Naruto kemudian berubah menjadi sedih, matanya seperti hilang dalam ingatan.
"...aku mempelajarinya dari rekan seperjuanganku yang bernama Sakura. Dia adalah seorang medis yang hebat...tapi...sayangnya dia sudah meninggal"
...
"maaf, telah membawa ingatan yang tidak nyaman Naruto-sama"
"ah... tidak perlu. Aku sudah melewati hal itu" Jawab Naruto dengan senyum " lagipula...aku bukan orang yang terpikat akan masa lalu~" lanjut Naruto dengan kedipan. Ekspresi Naruto itu tentu saja membuat wajah Kalawarner tersipu dengan alasan yang jelas.
Namun kesahan suara seseorang memotong pembicaraan mereka.
Mata Raynare kemudian terbuka dengan pelan. Hal terakhir yang dilihatnya adalah wajah temannya dan wajah musuh yang dia takuti berjalan menuju dirinya yang sekarat. Jantungnya berdetak dengan cepat, bermacam pertanyaan muncul di otaknya. Bermacam pikiran muncul di benaknya saat membayangkan apa yang terjadi pada dirinya setelah itu. namun mata Raynare berubah menjadi takut karena melihat sosok yang tidak pernah mau ditemuinya lagi, namun matanya kemudian melirik Kalawarner yang menyaksikan hal itu dengan datar.
"ka-kau berk-hianat Kalawarner..." Ujar Raynare dengan jari telunjuk yang menuju Kalawarner. Kalawarner bagaikan sudah terbiasa mengatakan jawaban yang sama. Kemudian menjawab Raynare.
"aku tidak berkhianat Raynare, dari dulu tuanku memang Naruto-sama. Tidak ada yang lain" Jawab Kalawarner tanpa mengetahui cerita yang sebenarnya.
Namun sebelum Raynare bisa mengutarakan pertanyaan lain, Naruto menatapnya dengan penuh arti, yang membuat Raynare semakin takut dan kemudian diam. Mengira bahwa Naruto akan melakukan sesuatu yang mengerikan padanya, namun pikirannya berubah menjadi terkejut ketika mendengar pertanyaan yang tidak pernah ditanya seorang pun pada dirinya...seorang Malaikat jatuh.
"apakah kau baik-baik saja? Apakah masih ada yang terluka?" tanya Naruto dengan suara lembut. Mata Naruto saat ini terpejam dan hanya menunjukkan senyumnya...dan entah kenapa wajah Naruto saat berekspresi seperti itu terlihat seperti...rubah.
Seakan mengacuhkan perasaan perhatian yang diberikan Naruto, wajah Raynale kemudian berubah menjadi kesal. Berpikir dirinya hanya dipermainkan.
"apa maksudmu baik-baik saja!? Kau sudah melihat dengan mata-kepalamu sendiri aku terluka! Aku telah gagal dalam menyelesaikan misiku!" teriak Raynare meskipun saat ini dia masih lemah, namun harga dirinya menolak untuk menyerah. Tugas yang katanya diberikan oleh Azezel-sama dilakukannya denga senang hati. Berharap mendapat pengakuan dan pujian.
Seperti membaca pikiran Raynare, kalawarner kemudian berbicara..
"kau memang bodoh, Raynare..." jawab Kalawarner dengan datar, kedua tangannya kini telah berlipat didadanya. Menambah efek lebih dari asetnya yang sudah lebar.
"apa maksudmu!?" tanya Raynare dengan nada bingung dan marah.
"maksudku... perintah yang sebenarnya diberikan oleh Azazel hanyalah mengawasi gerak-gerik Hyodou Issei dan Saccred gear kepunyaannya, namun kau melakukan kebalikannya yaitu membunuhnya"
"tapi aku melakukannya agar dia tidak akan menjadi batu sandungan untuk Azazel-sama pada nantinya!" Jawab Raynare mencoba mengatakan maksud tujuannya.
"namun tetap saja kau melakukannya dengan keinginanmu sendiri, yang berarti kau adalah pengkhianat. Dan...kau..tentu saja tahu bukan nasib seorang pengkhianat di fraksi malaikat jatuh bukan..?" Tanya Kalawarner dengan sedikit sinar keluar dari matanya.
"berhenti menakutinya Karawaana, kau terlalu berlebihan" ujar Naruto dengan senyum. Dilihatnya kemudian wajah Raynare yang sudah berubah menjadi pucat. Tentu saja membayangkan nasibnya. Dia hanya ingin membuat tuannya takjub, namun yang didapatnya...
Didalam dirinya Raynale hanya ingin diakui keberadaanya, dan yang hanya menunjukkannya hanyalah Azazel. Dia lah yang menerimanya selama ini. Raynare akan melakukan apapun agar dianggap berguna dan layak disamping Azazel. Namun aksinya tentu saja membuatnya semakin keringat dingin...
"bunuh saja aku.." ujar Raynare dengan pelan. Dirinya saat ini telah mencapai titik paling bawah dalam hidupnya. Dirinya merasa saat ini dia tidak berguna.
"nah tentu saja tidak. Apa gunanya kami menyembuhkan dirimu jika kau mau mati? Jangan bercanda" Ujar Naruto dengan senyum. Namun tatapan matanya megatakan hal yang lain.
"apa maumu? Jika kau mau memperkosaku, cepatlah. dan setelah itu langsung bunuh aku" jawab Raynare tanpa pedulinya.
"aku bukan orang yang serendah itu Raynare" mulai Naruto dengan serius. Namun mata hitamnya kemudian berubah menjadi sharingan, dan mulai berputar dengan pelan. 'membuat sugesti akan lebih manjur'
"aku pernah melihat orang yang sama sepertimu. Orang yang ingin menunjukkan keberadaannya dan kegunaanya. Namun mereka pada akhirnya mendapat kejadian yang mereka tidak harapkan. Dan ... aku melihatnya pada dirimu" ujar Naruto dengan lembut. Mata Naruto kemudian melirik Kalawarner. Seakan mengerti tatapan yang diberikan Naruto, Kalawarner dengan segera, berdiri dan keluar kamar tersebut tapi sebelum memberikan tundukkan hormat. Melihat Kalawarner yang sudah pergi, Naruto kemudian melirik Raynare yang sedang hanyut dalam perkataan Naruto sebelumnya.
"dan aku..tidak mau kau mengalami hal yang sama pada orang itu..." lanjut Naruto dengan nada lembutnya. Dan diikuti mata merah yang berputar dengan pelan. Raynare hanya bisa terpaku terdiam mendengar kata-kata perhatian yang diberikan Naruto. entah kenapa setiap kata yang diucapkan Naruto, melekat didalam hatinya. Raynare kemudian melirik mata biru Naruto. mencoba mencari hal yang aneh atau tidak wajar...namun yang dia temukan tidak ada.
Naruto dengan pelan kemudian menggerakan tangan kanannya kearah Raynare, jari-jarinya kemudian memegang pipi kanan Raynare dengan lembut dan mengelusnya. "kau tidak perlu melakukan itu...kau tidak perlu membuktikan bahwa kau berguna..." jari Naruto dengan pelan kemudian berselancar pelan menuju leher Raynare dan terus ...hingga mencapai tangannya. Tanpa sadar, Raynare mengeluarkan suara kesahan halus saat merasakan sensai jari Naruto. dilihatnya Naruto dengan mata yang penuh ingin tahu...dan harapan. Dengan eskpresi itu Raynare melihat Naruto.
"denganku... kau tidak perlu membuktikan hal itu, denganku...akan kuberikan perhatian itu. didalam hatimu, aku bisa melihat bahwa dirimu adalah orang yang baik, yang hanya terjebak dalam pusaran air kotor." Lanjut Naruto dengan lembut. Jari-jarinya yang mengelus tangan Raynare kemudian naik dengan pelan menuju wajah wanita itu. tidak hanya jarinya kanannya, Jari kiri Naruto kemudian ikut menyentuh wajah mulus Raynare. Mata Naruto dengan fokus melihat dua bola mata yang menatapnya dengan berkaca-kaca. Naruto kemudian merasakan nafas Raynare yang mulai terdengar tidak teratur.
"denganku, kau bukanlah orang tidak berguna, denganku...kau bisa melakukan apa layaknya yang telah lama kau impikan sejak dahulu"
Dengan suara pelan dan bagaikan tersendak, Raynare melihat dua mata yang berbeda warna itu, dan mencoba menaruh semua impiannya, mencoba menyakinkan perkataan Naruto.
"ap-akah itu benar.? apakah kau akan menjadikan pelayanmu seperti Kalawarner...dan mengatakan bahwa aku berguna?" tanya Raynare dengan pelan. Dan sekali lagi... melihat mata Naruto untuk mengkonfirmasi perkataan itu. namun yang didapat hanyalah gelengan kepala.
"jadi...kau tidak mengakui-ku..." Ujar Raynare dengan berlinang air mata. Harapannya bagaikan hancur seketika setelah melihat jawaban Naruto. harapannya untuk mencoba menggantungkan impiannya kini hanya mengatakan tidak.
"bukan...bukan begitu maksudnya Raynare." Balas Naruto dengan pelan. Jari telunjuknya kemudian mengangkat dagu Raynare agar dapat melihatnya sama datar. Dilihatnya dua buah mata yang berlinang itu dan mengatakan ucapan bagaikan mantra. Bagaikan mantra di hati Raynare.
"aku tidak menganggapmu sebagai pelayan atau apa. Aku tidak menganggapmu sebagai pembantu atau alat agar mewujudkan impianku, sama halnya denganmu. Aku tidak menganggap Kalawarner sebagai pelayan atau budak, aku mengaggapnya sebagai sederajat, sebagaimana aku menganggapnya sebagai rekan, aku juga menganggapmu begitu. Yang hanya membedakan aku dan orang lain, adalah ...aku peduli pada rekanku, tidak peduli dia apa. Atau siapa..." Ujar Naruto dengan senyum. Wajahnya kini hanya terpisah beberapa sentimeter dari wajah merah Raynare. "dan yang kuminta..."
Mata Raynare kemudian berubah menjadi penuh harap dalam seketika. Satu kesempatan dimana dia mendapatkan perhatian yang diimpikannya dari orang kuat. Dengan cepat Raynare berkata.
"apapun akan kuberikan padamu, bahkan harga diriku sebagai wani-"
"shht...aku tidak memerlukan hal seperti itu," ujar Naruto dengan menggelengkan kepala "aku tidak memerlukan pemuas nafsu birahi atau fisik... yang kuperlukan hanyalah apa yang berada dihatimu" tunjuk Naruto dengan menyentuh dada atas Raynare menggunakan jari telunjuknya dan kemudian berkata "yaitu kesedian dan kesetianmu padaku dalam misi tidak berakhirku ini. yang kubutuhkan hanyalah itu...dan akan kutunjukkan padamu, perhatian dan pengakuan diri yang kau harapkan namun tidak pernah terwujud itu. dan kutunjukan juga padamu...dunia baru yang tidak pernah kau rasakan dalam hidupmu. Dan sebagai bayarannya...aku hanya ingin kesetian dan kesabaran darimu...bagaimana Raynare..?"
Batas antara wajah Naruto kini sudah bisa dihitung dengan angka, kedua hidung mereka yang hampir bersentuhan, kedua mata yang saling bertapan dengan penuh janji...dan suara nafas tak teratur yang terkadang keluar dari mulut Raynare. Raynare yang tampa mengerti logika yang saat ini berjalan mencoba melakukan apa yang bisa dilakukannya dari jarak sedekat ini. jantungnya yang berdetak kencang saat mendengar kata-kata dan wajah Naruto juga tidak membantu suasana. Namun saat ingin melakukannya...jari telunjuk Naruto telah menahan pergerakkan bibir Raynare. Seakan penuh tanya, Raynare kemudian melihat Naruto meminta seakan meminta jawaban
"perjanjiannya..?"
WARNING! LIME. (DON'T READ OR SKIP THIS PART IF YOU UNDER AGE OR CANNOT STAND TO READ .(probaly you ignore that and keep reading..sigh..children this day))
Tanpa berpikir panjang, Raynare menjawab pertanyaan Naruto. menjawab pertanyaan yang akan mengunci takdirnya selamanya...yaitu menjadi 'rekan' Naruto.
"tentu saja"
Tanpa berpikir panjang, Raynare melakukan apa yang sudah ingin dilakukannya dari tadi. Mencium Naruto dibibir, dengan segala haus dan bagai kelaparan, bibir Raynare menjelajah bibir Naruto dengan gairah yang membara. Naruto yang sudah mengetahui hal apa yang dilakukan Raynare, hanya bisa terdiam dan mencoba membalas ciuman panas yang diberikan Raynare. Dirasakan Naruto kerah bajunya mulai ditarik oleh Raynare menuju arahnya. Bagaikan boneka, Naruto mengikuti Raynare dan menduduki kasur yang mulai berantakan itu.
Raynare yang merasakan kehangatan yang baru terhubung itu hanya bisa mengeluarkan kesahan kecil yang terkadang saat terlepas dari bibir Naruto. Naruto kemudian membuka bibirnya, membiarkan Raynare dengan haus menjelahi mulutnya menggunakan lidahnya. Tanpa mau kalah Naruto juga membalas lidah Raynare menggunakan lidahnya Dan mulailah pergulatan untuk memenangkan dominasi atau didominasi. Tanpa terasa jari Naruto kemudian dengan pelan menuju satu gunung yang tertutup, dan dengan pelan, memegang dan mulai meremasnya perlahan.
"ah..." tentu saja hal itu membuat Raynare semakin nafsu dan memperdalam ciumannya ke Naruto. kedua tangan Raynare tanpa tujuan mulai mengelus dada Naruto, mencoba merasakan otot-otot yang tertutupi oleh baju itu. dan Raynare yang mulai panas dan tidak nyaman mulai terlihat dengan gerakan kaki yang terkadan mengelus bagian badan Naruto. bagaikan sihir tanpa mantra kancing baju Raynare kini sudah terbuka. Menunjukkan kepada dunia, dua buah payudara yang polos tanpa saatu benang pun yang menghalangi.
Naruto tanpa memperdulikan kejadian itu, kemudian membawa naik jarinya dan memasukkanya kepada area terbuka yang diberikan Raynare dan melanjutkan meremas payudara milik Raynare yang lembut, yang membedakan dari sebelumnya, hanyalah saat ini Naruto memegang langsung Payudara Raynare tanpa ada halangan. Dengan sedikit remasan kearah atas dan bawah, Raynare langsung mengeluarkan suara kesah yang lebih dalam kencang dari sebelumnya. Ciuman mereka telah terpisah. Membuat Naruto dapat mendengarkan suara mengerang Raynare lebih jelas. Dengan pelan Jari Naruto kemudian mencari sesuatu yang menonjol dan mulai meremas bagian itu. membuat Raynare berkesah dalam kenikmatan.
Lidah Naruto dengan pelan kemudian menyentuh lubang telinga Raynare dan menjilatnya dengan lembut, dan terus melanjutkannya keleher dan akhirnya mencapai tujuannya. Dengan gigitan pelan, Naruto menggigit pentil berwarna merah muda tersebut dan menggeseknya dengan pelan, terkadang lidahnya juga menjilat kecil puting tersebut. aksi lembut yang dilakukan Naruto tentu saja membuat Raynare semakin tidak tahan dan mengeluarkan suara erangan yang lebih besar.
Tangan Raynare kemudian mulai turun menuju selatan, menuju bawah perutnya. mencoba mencari kepuasaan sendiri untuk menambah kenikmatan aktifitas malam itu, namun tangan Raynare dengan cepat dipegang Naruto, membuat Raynare tidak bisa untuk memegang daerah kewanitaannya. Raynare hanya mengeluarkan erangan tidak menyenangkan saat Naruto menghalangi Niatnya. Namun sebelum bisa mengeluarkan kata, Naruto sudah menggigit lebih keras dari sebelumnya di pentil Raynare, membuat Raynare semakin ingin berontak dari genggaman Naruto dan langsung memberikan obat pada daerah bawahnya..
"ah...Naruto-sama" kesah Raynare seraya ingin memohon dilepaskan dari genggaman tangannya, namun Naruto menghiraukan Raynare, dan memilih melanjutkann aktifitasnya bersama dua buah puncak gunung yang sudah mengeras bagaikan batu.
"kenapa Raynare~ " tanya Naruto dengan nada sensual, mencoba mempermainkan pikiran kenikmatan Raynare.
Hanya tatapan keras yang menjadi balasan Naruto, namun hal itu hanya membawa senyum menyeringai diwajah Naruto. namun wajah Raynare kemudian berubah menjadi kecewa saat tidak merasakan sentuhan Naruto lagi. Namun hal itu tidak berlangsung lama, ketika jari Naruto mulai memasuki sehelai pakaian terakhir yang digunakan Raynare. Jari Naruto dengan pelan, mulai menjelajahi daerah hutan itu dan mulai mengelusnya dengan pelan. Namun satu kata muncul di pikiran Naruto saat merasakan kehalusan milik Raynare
'tercukur...habis'
Bagaikan bom waktu dengan kabel, Raynare merespon aksi Naruto dengan erangan yang tak beraturan dan keras. Mata Raynare sudah terbalik keatas, saat merasakan kenikmatan yang ingin dia tunggu selama ini. dengan gerakan spontan, Raynare mencoba mendorong pinggannya kearah sentuhan Naruto.
"ah...kau basah sekali dibawah ini Raynare" mulai Naruto dengan nada pelan. Belahan dua dunia itu kemudian disentuh Naruto dan mulai dielusnya dengan penuh perasaan. Terdengar suara gesekan bercampur cairan saat Naruto menggunakan sihir ajaib yang disebutnya jari.
"ah..ah..Nar-uto...jangan permainkan ...aku.. Ah.." Ujar Raynare dengan nafas tersenda.
"apa kau mengiginkannya? Apa kau mau?" tanya Naruto dengan senyum. Menggerakan jarinya kepada salah satu area menonjol ditempat terlarang itu, dan dengan dua jari, Naruto mempermainkan klirotis Raynare. Semakin Naruto mempermainkan jarinya, semakin Raynare hilang dalam kenikmatan. Terbukti dengan air liur yang mulai keluar dari mulutnya dan mata yang tak fokus.
"ya..yeah...aku mau NARUTO-SAMA BERIKAN PADAKU!" Teriak Raynare dengan segala kekuatannya.
Naruto kemudian dengan pelan, memasukan satu jari telunjuknya dan mulai mendorong masuk secara perlahan, cairan yang dikeluarkan Raynare hanya menjadi pelumas atau pelicin bagi jari Naruto. dengan terkadang memutar Naruto mulai menarik-dorong satu jarinya. Dan disaat dirasa mulai dibukakan jalan yang lebih besar, jari Naruto membawa saudaranya dan mulai bergabung menerobos pintu Raynare.
"ah!..AH AHHH lebih cepat Naruto-sama!" teriak Raynare dengan suara sensual. Kedua tanganya kini sibuk bermain dengan puting payudarannya. Dengan cepat saat merasakan kenikmatan baru yang diciptakan Naruto, Raynare menggigit lidah bawahnya agar menahan dirinya dari berteriak kenikmatan.
Jari Naruto yang bergerak maju cepat mundur, mulai menambah kecepatannya, bagi manusia biasa, mereka hanya akan melihat bayangan samar-samar. Namun itu adalah kecepatan dari jari Naruto saat memasuki dan keluar dari lubang kemaluan Raynare. Naruto merasakan raynare yang mulai kejang-kejang hanya tersenyum. dan dengan cepat, Naruto memberikan serangan terakhir, dan membiarkan tangannya beraksi, sedangkan lidahnya... kembali keputing Raynare, dan menghisapnya layaknya bayi baru lahir.
"AH AH! AKU KELUAR !" *CROTT!**CROTT!*
Melihat aksinya sukses, Naruto kemudian menarik dengan keluar jarinya. Dan membawanya kehadapan dirinya dan setengah sadar Raynare
"ha...lihat, kau membuat tanganku basah akan cairanmu Raynare.."
Lime END. (para anak-anak boleh baca lagi.)
"..ah..ah." bagaikan hilang dalam kenikmatan dan kepuasan, Raynare tidak bisa mengutarakan satu kata pun dengan benar. Namun saat Raynare mencoba menarik Naruto untuk permainan utama. Tangannya hanya dipegang dan dibaringkan ditempat tidur. Matanya kemudian berubah menjadi tanda tanya ketika Naruto mulai membenarkan posisi kerahnya. Dan menatap mata Raynare dari jaraj dekat.
"sekarang sudah cukup.. ini sudah berlebihan..." Ujar Naruto dengan senyum sambil membenarkan kancing baju Raynare. Dan dengan sekali tarikan Naruto juga membawa selimut ke tubuh setengah telanjang Raynare.
"tap—"
"sst... kau masih dalam kondisi pumulihan Raynare.." kata Naruto dengan lembut. Benar kata Naruto, saat ini Raynare masih merasakan sakit pada bagian tertentu pada tubuhnya. Namun hal itu tentu saja membuat kekecewaan muncul pada dirinya saat tidak dapat melanjutkan aktifitas malam mereka.
"lagipula...aku tidak mau menghancurkan tubuhmu pada malam pertama kita" Ucap Naruto dengan senyum. Yang tentu saja membuat Raynare memerah seketika saat membayangkan hal yang dikatakan Naruto. aliran darah kecil mulai muncul dari hidung Raynare.
"nah...sudah dulu, tidurlah yang nyenyak Raynare.." Ujar Naruto dengan senyum dan mencium Raynare didahi, kemudian keluar dari kamar itu, meninggalkna Raynare dan fantasi liarnya bersama Naruto.
Bersama Naruto.
Hilang sudah senyum dan kehangatan diwajah Naruto saat keluar dari kamar itu. dari kantong celananya, Naruto kemudian mengeluarkan sebuah sapu tangan. Dan dengan elegannya mengusap bibirnya dan cairan sisa Raynare yang masih tersisa dijarinya. Dan dengan langkah biasa. Naruto kemudian menuju jendela yang masih terbuka. Dan melihat bulan yang masih terang itu. dengan menghela nafas panjang Naruto melihat suasana tengah malam itu.
"apapun bisa didapatkan jika bisa membuat jalan dengan mulut" Ujar Naruto pada ketiadaan saat memikirkan kemudahan dirinya mendapatkan kepercayaan Raynare sang malaikat jatuh. "itu hanya harga yang kecil...untuk mendapatkan seorang dengan kesetiaan seperti itu...hanya dengan permainan janji"
Namun wajah Naruto yang datar, kemudian berubah menjadi senyum kecil saat mengingat sesuatu saat dimasa lalunya..
"namun aku tak menyangka...ajaranmu akan berguna...pertapa genit...Jiraiya."
Sedangkan dikejauhan, seorang gadis dengan rambut merah mulai gelisah akan sesuatu. Dan dengan aksi yang sama dengan Naruto. melihat bulan dari jendela kamarnya. Gelisah akan sesuatu yang tidak diinginkannya namun telah terjadi karena sudah direncanakan. Dengan tatapan sedih, gadis itu mengeluarkan nafas sedih. Dan kemudian membayangkan seorang pemuda dengan rambut kuning.
"Naruto..Kun"
Sebelumnya... saya buat ini Rated M karena beberapa alasan, ya contohnya tadi. Jadi jangan protes, itu sudah resiko kalian para pembaca...tapi saya mulai hal begituan dengan santai dulu...(gak buru-buru). Makanya hanya saya tunjukkan Lime(bukan Lemon). Kalau Lemon berlangsung jika semua Harem sudah diketahui.
Pasti bisa melihat, perubahan pemakaian tata bahasa saya saat menulis chapter sebelumnya bukan? Ehehehe... rasanya saya membuat Naruto menyimpan banyak misteri deh... tapi orapopo, biar penasaran ...akhirnya kita menuju jalan yang ditunggu pada chapter terakhir animenya.
Nah bagaimana menurut kalian Limenya? Jika responnya bagus. maka akan saya coba buat yang lemonnya. Jika tidak... ya kita akan netap di jalur cerita Highschool Romance without Sexual interaction
Berikan komentarmu. Dan ada pertanyaan yang buat gw bingung dikit yaitu (batal gak puasa kalau buat/baca cerita Lime?)
And please Type your review
HERE
VVVVV
VVV
VV
V
