DISCLAIMER: CERITA yang saya tulis berasal dari dua karya yang berbeda, dan dimiliki oleh pencipta yang sah. Saya hanya sebagai fans...
Didedikasikan untuk pecinta NarutoxRias.
Hening...
Tidak ada kata-kata yang harus diucapkan. Tidak ada ucapan yang harus diberikan. Naruto hanya melihat dengan tatapan tenang kepada seseorang yang baru saja menerima kekuatan mata Rinnegan. Kehancuran yang dibawa oleh jurus tersebut memang mengerikan. Seluruh arena yang seharusnya masih bagus, sekarang hanya menjadi puing-puing tidak tersisa. Tangannya dengan pelan dibawa Naruto turun dari arah musuhnya yang tidak bergerak. Kekuatan yang membawa kehancuran bagi yang tidak bisa menggunakannya dengan benar.
Namun meskipun Arena tersebut rusak, namun lantai berdiameter 3 meter disekitar Naruto masih dalam kondisi yang sama. Tidak ada efek sama sekali kepada Naruto. Kekuatan yang tidak terlihat tersebut bagaikan hidup melindungi tuannya dari kekuatannya sendiri.
"...kuakui...kamu memang kuat. Masih sadar meskipun menerima tekanan Gravitasi ratusan kali dari pada tekanan Gravitasi yang biasa." Ujar Naruto dengan menghela nafas dan melihat dengan mata setengah terbuka kepada Iblis yang berada dibawahnya.
"...aku..t-tidak aka-n kalah..." Ujar Iblis yang berada dibawah kaki Naruto dengan suara yang pelan. Keras kepala; itulah yang berada dipikiran Naruto.
"...tidak mengerti kah kau dengan kata menyerah?" Naruto bertanya dengan sedikit bertanya. Namun meskipun dia bertanya seperti itu, dia juga menanyakan hal yang sama kepada dirinya sendiri. Meskipun mengetahui tingkat kearogan Pria disamping ini sangat tinggi. Namun Naruto mengetahui, Pria tersebut tidak mau mengalah atau kalah...meksipun kondisinya tidak memungkinkan lagi.
"Tidakkah kau merasakan? kekuatanmu mulai meninggalkanmu? apakah kau tidak menyadari bahwa setiap detik kau bertarung denganku, semakin sulit bagimu untuk kembali menyembuhkan dirimu?" tanya Naruto dengan perlahan. Entah merasa tidak nyaman atau tidak, Naruto dengan halus mulai mengusap mata yang baru ia transplatasi.
"aku menolak kalah dengan orang tanpa Nama sepertimu! aku Raiser Phenex! dari Klan ternama kalah dengan orang yang tidak diketahui sepertimu!? jangan bercanda" ludah Raiser dengan marah.
"Ucapanmu membuatku bosan Raiser. Aku tidak mengerti jalan pikiranmu, aku memang mengakui dirimu hebat, tidak banyak orang yang dapat hidup dari serangan tadi, namun... kau membuktikan aku salah.. mungkin itu memang karena kekuatan yang mengalir dalam dirimu yang menyebabkan kau dapat hidup."
"...namun, meskipun kau merasakan dirimu sudah hebat dan kuat.. itu bukan berarti dirimu memiliki hak untuk menghina orang yang lebih lemah darimu. Dan meskipun kau kuat...akan selalu ada orang yang lebih kuat darimu Raiser Phenex..., dan aku adalah salah satunya. Mungkin jika aku memberikan kesempatan kepada Issei, ia juga akan mengalahkan dirimu..." Ujar Naruto dengan jujur.
"kau bisa berubah menjadi Iblis yang lebih baik dari ini Raiser, aku memberikan kesempatan kedua bagimu... aku melakukannya, karena aku merasa bahwa seseorang akan selalu mendapatkan kesempatan kedua. Namun... jika pribadi dirimu masih seperti ini... disaat itulah aku akan menarik jiwamu dari tubuh terdalammu, bahkan kekuatan Phenex-mu pun tidak akan berkutik."
Raiser hanya terdiam mendengar perkataan yang keluar dari lawannya, ia tidak bisa mengatakan apa-apa pada saat ini, ia hanya mendengar apa yang Pria ini katakan kepada dirinya. Ia memikirkan apa yang dikatakan Naruto...dengan perlahan Raiser menundukkan kepalanya...dan menerima rasa lelah yang sudah diujung pertahanannya.
'kesempatan kedua? ..huh..'
Wajah Naruto yang serius dengan perlahan kemudian berubah menjadi tersenyum... senyum yang meskipun terlihat kecil, namun...tetap saja itu senyum. Dengan perlahan, Naruto membuka kelopak mata yang ia tutup. Sedangkan mata yang satunya, ditutupi Naruto menggunakan rambut berkilaunya. Melihat semua pekerjaannya disini sudah selesai, Naruto menghela nafas yang panjang. Semua kekuatan yang dikeluarkan pada hari ini membuat dirinya...lelah. Meskipun kelelahan itu tidak ada apa-apanya dengan kelelahan yang pernah ia alami, namun entah mengapa, Naruto pada hari ini, ingin menerima rasa lelah itu. Mungkinkah itu yang disebut dengan rasa putus asa? rasa dimana seseorang tidak memiliki lagi tujuan hidup?...Naruto tidak tahu... dan ia tidak akan mau tahu.
mengaktifkan kembali mata Sharingannya, Naruto kemudian membuka kantong dimensinya dan melanjutkan kembali ke Apartemennya. Ia sudah selesai. Dan Ia tidak mempunyai alasan lagi untuk berada ditempat tersebut.
Rias hanya melihat kepergian Naruto dengan wajah sedih. Namun dorongan halus yang dirasakannya membuatnya melirik kebelakang. Melirik Akeno yang tersenyum...
"susul dia..."
tidak perlu dikatakan dua kali, tanpa merespon Akeno, Rias hanya mengeluarkan senyum kecil dan membuat lingkaran teleport...dengan tujuan Apartemen Naruto. Cahaya merah mengelilingi Rias, dan ...ia telah menghilang. Senyum Akeno kemudian jatuh...
"apa tidak apa-apa bagimu untuk menahannya?" Terdengar suara kecil dari seorang gadis yang tidak menunjukkan emosinya. Akeno hanya menggelengkan kepalanya.
"Kurasa...Rias memang layak untuk Naruto..."
..
..
"memendam bukanlah hal yang bagus Akeno..."
Apartemen Naruto.
Naruto dengan perlahan membuka semua pakaian hitamnya. Ia tidak menemukan alasan untuk menggunakannya lebih lama. Disatu sisi, ia tidak ingin mengotori pakaian mahal yang satu-satunya ia miliki. Dan kemudian menggantinya dengan pakaian rumah yang sering ia gunakan. Dengan bersenandung kecil, Naruto menuju dapur, berencana mengambil segelas air untuk minum sebelum tidur.
Air yang dingin mengalir ditenggorokannya yang kering, membasahi tenggorakan hingga mengalir kedalam organ selanjutnya. Rasa haus terganti dengan rasa lega. Rasa kantuk yang mulai menyerang Naruto, diterimanya tanpa perlawanan. Dengan menguap kecil, Naruto kembali kekamarnya yang biasa, dan kosong. Kasur kecil yang menjadi tempat terlelap dimalam hari, mengundanngnya dengan nyaman. Bergeser beberapa kali untuk menemukan posisi terbaik. Dan Naruto menutup matanya... bersiap untuk hal aneh yang akan selalu terjadi di esok hari.
hingga hal tersebut terjadi. Dengan menggerutu untuk pertama kalinya, Naruto melihat lingkaran merah yang sudah biasa ia lihat. Menutup matanya... berusaha menghiraukan gadis yang baru datang. Disatu sisi...Naruto merasa dirinya adalah seorang pengecut...namun disatu sisi, ia...tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak pernah mengerti dengan wanita. Saat ia masih berada di Konoha.. ia juga tidak mengerti...atau lebih tepatnya,.. terlalu sibuk untuk memperhatikan apa yang terjadi dengan kehidupan sosialnya. Yang Naruto tahu adalah berlatih, bertarung, hingga ia bisa menjadi terkuat. Karena peperangan yang tak ada habisnya, tentu saja hal kecil seperti cinta, tidak akan berguna. Dan Naruto rasa...ini adalah Karma.
"itukah yang kau lakukan ketika seorang gadis mendatangimu sendiri dimalam hari.." Terdengar suara lembut yang menusuk telinga Naruto. Tidak ada rasa marah. Tidak ada rasa kecewa. Tapi...tetap saja, suara tersebut membuat dirinya menjadi buruk.
"Dengan semua yang kau lakukan...pertama kau datang kekehidupanku...membuat perasaan ini muncul, namun kau mengacuhkannya...kemudian disaat aku mulai melupakan perasaan itu, kau datang...kau tahu...saat kau datang tadi. Menantang Raiser, mengklaim aku milikmu, itu merupakan kejadiaan yang tidak ingin aku lupakan...hatiku terasa ingin meledak dari setiap serangan yang kau berikan kepada dia. Dan semua itu kau lakukan untukku...dan kemudian kau melakukannya lagi...Naruto-kun. Kau pergi begitu saja...sebelum aku bisa memberikan terima-kasihku."
Rias hanya tersenyum sedih ketika berkata, suaranya yang terasa sesak membuatnya susah melanjutkan perkataannya. Mungkin...inilah yang mereka sebut dengan cinta..
Cinta. Sebuah kata yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Suatu perasaan yang membuat jantungmu berdetak lebih keras. Membuat semua logika didalam pikiranmu menghilang dan digantikan dengan apa yang kau sebut dengan..cinta. Sebuah perasaan yang membuatmu terkadang sakit. Dan perasaan itulah yang ia alami saat ini. Dia, Rias Gremory, seorang Iblis yang bangga dengan apa dia. Seorang Raja yang menolak menunjukkan kelemahannya kepada para budaknya. Dan disaat ini... ia menunjukkannya kepada penyebab itu.
"kau terlalu banyak bicara...Rias."
Dengan tarikan lembut, Naruto membawa Rias kedalam pelukannya...membawa Rias merasakan kehangatan yang dibuat oleh tubuhnya. Naruto memeluk erat Rias. Tidak ada kata yang diucapkan. Mereka berdua hanya menikmati setiap momen yang bisa mereka habiskan. Tidak ada satupun yang tidur. Meskipun jam dinding yang menunjukkan posisi larut malam.
Setiap Naruto menghirup nafas, ia merasakannya, wangi yang dikeluarkan oleh rambut merah Rias. Dan ia menyukainya. Rambut merah yang sangat cantik dan terawat, dan tanpa terasa, Naruto mulai mengelus rambut tersebut. Merasakan setiap sentuhan dan kelembutan rambut Rias. Rambut merah yang sangat cantik yang mengingatkan dirinya kepada Ibunya.
Kepada Ibunya, yang tidak memiliki kesempatan untuk berada disampingnya. Dan melihatnya tumbuh besar, namun meskipun memiliki warna merah yang berbeda dengan Ibunya. Tapi tetap saja hal tersebut tidak berpengaruh dengan apa yang sekarang Naruto pikirkan.
Rias dengan perlahan, mulai membalas pelukkan Naruto, wajahnya ditempelkan pada dada pemuda tersebut, kehangatan yang diberikan Naruto ingin membuat dirinya tidur. Dan entah mengapa, keinginan melakukan kebiasaan buruk sebelum tidurnya diurungkan Rias. Bersama...mendengarkan detak jantung yang bagaikan musik bagi dirinya.
Rias mengangkat wajahnya... melihat mata Naruto. Atau lebih tepatnya dua mata yang berbeda...melihat mata dengan corak bercincin yang mengeluarkan cahaya redup...
namun disatu sisi, meskipun rasa tidak nyaman yang menghinggap Rias, Ia bisa membayangkan...Naruto dengan kedua mata biru tersebut. Mata yang membuatnya terpana hanya karena keindahan dari tatapan tersebut...sekarang mata itu tidak ada lagi...
Naruto telah menggantinya...menggantinya untuk mendapat sesuatu yang lebih besar sebagai imbalan.
Nafas kedua insan berbeda itu mulai mereka rasakan satu sama lain. Perasaan yang sudah memuncak membuat keheningan malam tersebut menjadi sesuatu yang mustahi. Perasaan hangat yang selalu dirasakan gadis iblis tersebut, mulai meresap kedalam Naruto, mulai menghangat kedalam hati Naruto yang sudah lama membeku. Membeku karena pilihannya sendiri... membeku karena kebodohannya yang masih tersisa pada dirinya. Tak satupun dari kedua remaja tersebut memejamkan mata mereka. Tidak merasakan sakit karena terlalu lama tidak berkedip. Suara detak jantung yang semakin jelas disetiap detiknya, menjadi irama yang memulai kejadian terlarang tersebut.
semakin mendekat...
semakin dekat...
dekat...
"kau tahu... ini akan menjadi awal yang baru untukku...dan dirimu, Rias.."
..
"dan aku sudah tidak sabar untuk menjalaninya...Naruto"suara sensual yang dikeluarkan dari bibir manis Rias. Tatapan berharap dan mata berkaca yang ditujukkan kepada dirinya...membuatnya teransang. Membuat sesuatu yang berada didalam dirinya bangkit kembali. Membuat Naruto menginginkan hal tersebut. Dengan perlahan Naruto menempelkan bibirnya ke bibir lembut Rias.
Perlahan...namun pasti... seakan merespon perbuatan Naruto. Rias merasakan hal tersebut. Merasakan rasa tegang dan gugup yang berada dalam dirinya mulai memudar. Mulai terganti dengan rasa haus...rasa haus akan kebutuhan pribadinya. Perasaan yang telah lama tertahan mulai tertuang dengan ciuman tersebut. Ciuman yang berubah menjadi kesah... ya..rasa itulah yang ditunggu Rias. Meskipun merupakan pengalaman pertamanya dalam berciuman...namun Naruto membimbing dirinya yang lugu.
Lidah Naruto mulai bergeser dibibir Rias, seakan meminta izin kepada Rias. Dan Rias dengan senangnya memberikan akses tersebut. Memberikan akses kepada Naruto untuk menjelajahi seluruh mulutnya. Lidah yang saling mencari dominasi... Rias yang sudah mulai mengerti dengan apa yang dilakukan oleh Naruto...
...memberikan semua yang terbaiknya untuk menyeimbangi Naruto...memberikan semua kemampuan yang dimilikinya, untuk dimiliki Naruto...Rias berjanji... ia akan memberikan semua yang terbaik dari dirinya. Semua yang akan membuat Naruto senang. Suatu janji yang tercipta karena rasa yang telah menguasai dirinya pada saat ini. Kesah... suara terangsang yang dikeluarkan Rias.
Suara halus...suara lembut yang membuat Naruto merasa...bahwa itu adalah suara dari burung terindah di dunia. Naruto dengan perlahan mulai menaikki Rias. Mulai menindih diri Gadis Iblis tersebut. Dada mereka yang saling bersentuhan.. Rasa keempukan yang dirasakan Naruto.. semua itu adalah yang terbaik. Dengan perlahan...Naruto membuka satu persatu kancing yang menghalangi diri Rias. Entah mengapa...Rias memakai pakaian sekolahnya... namun tetap saja... hal tersebut menarik bagi diri Naruto. Rias menggerakkan tubuhnya ketika Naruto mulai membuka kancing tersebut. Dirinya memberikan kemudahan bagi Naruto untuk membuka apa yang diinginkan...
karena malam ini...dan selamanya... ia adalah milik Naruto... dan itu sudah tertanam dibenak Rias untuk selamanya.
Senyuman yang dikeluarkan Naruto, membuat Rias merasa malu. Merasa malu untuk pertama kalinya ketika menunjukkan tubuhnya kepada orang ia suka. Merasakan rasa takut...apakah tubuh ini menarik bagi Naruto? itulah yang selalu berada dalam benaknya ketika melihat dirinya dicermin.
"Kau cantik.."
Kata-kata itulah yang ingin didengar Rias dari mulut Naruto. Meskipun banyak orang yang telah mengatakan kata tersebut berulang kali. Namun untuk kali ini, kata tersebut terasa membawa dirinya ketingkat yang baru.
Rias dengan nafas yang tidak teratur mulai merasakan sentuhan Naruto... merasakan sentuhan yang telah memegang payudaranya, merasakan setiap pijatan dan remasan yang diberikan Naruto. Tidak ada rasa kasar, tidak ada rasa sakit. Karen Naruto melakukannya dengan lembut, dengan penuh rasa kasih sayang. Suara kesahan yang terus ia keluarkan membuat diri Rias tidak tahan. Perasaan yang telah menggejolak dibawah perutnya membuat dirinya melihat Naruto dimata. Memberikan permintaan yang tidak tersuara, namun tetap saja... keinginannya didengar Naruto.
Namun Naruto dengan tawa kecil, kemudian mencium kembali Rias. Merasakan rasa dari bibir Rias..yang bagaikan permen yang membuatnya terasa kecanduan. Bibir Naruto kemudian mulai berjalan jauh...
mulai menjalar keleher dan berhenti. Naruto kemudian mencium leher tersebut. Memberikan gigitan kecil yang membuat Rias mengeluarkan nada sakit kecil. Namun Naruto tidak mempedulikannya. Tidak menghiraukan apa yang Rias rasakan. Yang hanya ada didalam pikiran Naruto pada saat ini adalah...
menandai Rias. Memberikan cupang kepada leher Rias, agar orang melihatnya... agar orang mengerti...bahwa Rias adalah miliknya...bukan milik orang lain. Dan itulah alasannya... melakukan hal itu berkali-kali...
kepada setiap bagian tubuhnya... kepada puting dari kedua gunung menggoda tersebut. Naruto kemudian menghentikan apa yang ia lakukan. Dan duduk menatap Rias.
Muncul rasa kekecewaan di hati Rias ketika Naruto berhenti melakukan sesuatu yang baru pertama kali ia rasakan. Namun melihat Naruto membuka pakaiannya satu persatu membuat dirinya...panas, dari luar maupun dalam. Melihat tubuh Naruto...melihat otot-otot yang ia hasilkan dari latihan yang lama.
"Apa kau yakin...Rias?"
"...ya"
Dan saat itulah Naruto mulai membuka Rok Rias.. membuka semua yang menghalangi Rias. Melepaskan semua kain yang menghalangi pemandangan indah tersebut. Naruto..membeku...
terlalu terpana melihat keindahan yang dimiliki Rias. Keindahan tubuh yang tentu saja akan membuat semua wanita cemburu... dan itulah yang berada didalam pikirannya. tidak hanya Naruto...
Rias juga membeku...karena melihat sesuatu yang berdiri tegak dibawah perut Naruto. Muncul keraguan didalam hati Rias..
'apakah itu cukup untuk ..masuk?...' ya... rasa takut ketika melihat adik Naruto yang telah bangun cukup lama. Namun Rias dengan berani menelan semua ketakutan tersebut. Sekarang atau tidak selamanya..
dan Rias memilih untuk sekarang. Jika tidak sekarang..kapan lagi.
dengan perlahan...kejantanan Naruto memasuki pintu suci Rias. Dengan kelembutan yang selalu menjanjikan...
Naruto menatap mata Rias... mengatakan..menjanjikan; semua ini akan baik-baik saja. Naruto dengan mengeluarkan suara kecil, kemudian mulai memasukan senjatanya... mendorong masuk, merasakan jepitan yang disebabkan kemaluan Rias. Muncul rasa ingin ejakulasi akibat rasa yang diberikan vagina Rias. Namun Naruto menahannya...dirinya akan mengecewakan jika ia melakukan hal itu...
dan saat itulah terjadi...saat dmana..selaput keperewanan Rias robek. Suara rintihan sakit mulai keluar dari mulut Rias. Rias menggigit bibir bawahnya.. menahan rasa sakit yang disebabkan benda asing yang pertama sekali masuk kedalam dirinya. Air mata kecil keluar dari matanya...
bukan kesedihan...namun kebahagian. Kebahagian yang muncul didalam hati Rias...
"apa kau tak apa?" Tanya Naruto dengan khawatir ketika melihat ekspresi Rias yang sakit.
"berikan aku waktu sedikit... " dan detik berjalan dengan cepat. Ekspresi Rias yang kesakitan berubah lama kelamaan. Akibat rasa sakit yang telah mereda.. dan 4 menit kemudian, dengan tatapan yang telah kembali seperti biasa.
"oke.."
Naruto dengan perlahan menggerakan pinggulnya... maju dan mundur... perlahan...dengan lambat. Rasa sakit yang terasa kini mulai berubah menjadi rasa nikmat. Rasa nikmat yang ia terima akibat setiap gesekan dan dorongan yang dilakukan Naruto didalam dinding vaginanya. Perasaan yang tiada tara...dan Rias menyukainya...mencintai perasaan yang saat ini ia rasakan. Ia ingin terus merasakan rasa nikmat ini. Bukan dengan orang lain, namun hanya dengan Naruto...selalu.
Suara gerutu dan suara kesahan yang dikeluarkan oleh kedua pasangan tersebut, memenuhi Apartemen yang sunyi tersebut. Dengan suara kasur yang merasakan getaran yang dilakukan oleh kedua muda-mudi yang tenggelam dalam keinginan mereka. Naruto dengan kecepatan yang meningkat disetiap menitnya. Keringat yang berjatuhan akibat perasaan yang mereka rasakan saat ini, memenuhi diri mereka.
"Rias-" Naruto berkata disela nafasnya...
"didalam.. lepaskan semuanya didalam Naruto. Aku ingin bagian dirimu melekat padaku.." Ujar Rias dengan nafas yang tertahan.
Naruto dengan ekspresi yang terkejut, mulai berbicara, namun hal tersebut dihentikan oleh ciuman panas dari Rias, kedua kaki yang mengunci pinggannya membuat Naruto susah bergerak. Dan...ia melakukan apa yang diinginkan Rias. Naruto hanya berharap; tidak ada kejadian yang memusingkan nanti, jika hal ini terjadi...
Naruto dengan sahutan pelepasannya kemudian jatuh, menindihi Rias. Nafas yang masih terengah-engah. Dengan bagian bawah tubuh mereka yang masih tersambung satu sama lain.
"...Naruto...aku bahagia..."
Naruto hanya tersenyum kecil ketika mendengar perkataan Rias. Perkataan yang memang tulus dikatakan dari lubuk hatinya yang paling terdalam.
"aku memang sulit mengerti jalan pikirmu Rias, namun... itulah yang kusuka mengenai dirimu."
Rias hanya menerima perkataan Naruto dengan senyum. Mereka berdua menghabiskan waktu..bersama... tidak berpindah posisi. Dan tetap selalu seperti itu...
"Naruto..." Ujar Rias dengan nada tidak yakin.
"hmm..."
...
"Bo-bolehkah kita..."
"ha?"
"bolehkah kita lanjut ke Ronde dua..." Ujar Rias dengan menatap arah lain. Tindakan yang membuat Naruto tercengang akan keberanian Rias. Namun melihat permintaan Rias yang menunjukkan ekspresi imut tersebut, membuat Naruto tidak bisa menolak...
"tentu saja..asal kau mempunyai stamina untuk itu..."
"tehe~"
memang cukup lama saya tidak mengupdate cerita ini, namun ini karena saya mengalami hal yang memilukan dan menyedihkan, yaitu Writterblock. ya...tapi terimakasih, karena kalian masih setia menunggu cerita ini...
meskipun tidak terlalu panjang... yahtapi nikmatilah. Kesalahan grammar atau typo yang bersebaran tolong dimaklumi. Karena kemalasan saya untuk memeriksa ulang dan kelelahan akibat kegiatan sehari-hari.
Tolong review. Review anda merupakan bahan bakar yang membuat saya masih tetap berjalan menulis cerita seperti ini.
pst.. dan nikmati lemon kecil alakadar yang saya buat.
Kristoper21 out. See you next time!
