Chapter; 14.5 ? baca saja biar tahu. Update tanggal muda kan?

Disclaimer : Kalau saya yang punya Manga Naruto, pasti akan saya ganti judulnya dengan... "Madara" yap. Namun hal itu tidak terjadi kan? jadi pasti yang punya bukan saya. Tertawa gue..


Rasa kehangatan itu...

ketika dirimu bersama dengan orang yang engkau sukai. Ketika perasaan tersebut menjadi satu. Maka hal yang terlarang pun... akan dilakukan olehnya. Senyuman yang tiada jatuh tetap terpasang diwajahnya cantiknya. Tatapan matanya yang tidak pernah goyah. Melihat wajah tidur Naruto merupakan hobi baru yang dilakukan Rias..

Selimut tipis yang menutupi tubuh telanjang dirinya dan Naruto, bagaikan sudah cukup untuk menjadi penghangat sementara.

Masih terulang didalam pikiran Rias, semua waktu yang terhabiskan kemarin. Setiap detik dari gejolak tersebut, akan terulang didalam pikirannya.

Bersenandu ria dengan suara yang pelan, merupakan alasannya agar tidak mengganggu Naruto, membiarkan wajah damai itu seperti itu. Rias tidak bisa menahan senyumnya dan mengeluarkan tawa halus. Serasa masih tidak percaya akan apa yang terjadi antara dirinya dan pemuda yang sedang tidur tersebut.

Merasakan beban tak terlihat yang berada dipundakmu sudah hilang. Itulah yang Rias rasakan pada saat ini.

Dengan senyum termanis yang bisa ia tunjukkan, Rias kemudian menaruh tangannya di wajah Pemuda yang telah berhasil mencuri hatinya. Memegang dan merasakan struktur wajah Naruto yang kuat. Kulit kasar namun halus...

Jemarinya mulai mengelus pipi tersebut, merasakan ganjalan aneh kecil..seperti garis-garis. Namun tidak terlihat oleh mata telanjang, dirinya hanya bisa merasakan dan membayangkan bentuk yang berada diwajah Naruto.

dan itu terjadi...

Mata Naruto terbuka lebar dengan cepat. Ia bergerak dengan tak terduga. Mencengkram tangan Rias dan langsung membalikannya dengan kasar. Tubuhnya kemudian langsung mengunci pergerakan Rias.

Mata Naruto berubah menjadi tatapan menyesal ketika melihat siapa yang telah ia sakiti. Dengan cepat, dirinya kemudian melepaskan genggamannya terhadap wanita berambut merah darah tersebut.

"maaf, maafkan aku. Aku tidak tahu itu kau, Rias.."

Rias hanya mengelus pergelangan tangannya yang masih terasa sakit. Jika saja dirinya Manusia tentu saja tangannya akan patah. Namun untung saja ia adalah seorang Iblis. Rias menatap wajah Naruto yang benar-benar menunjukkan rasa menyesal, membuatnya tersenyum sedih. Rias kemudian menggunakan kedua tangannya untuk mencubit pipi Naruto. Membuat pemuda itu merintih kesakitan akibat ulah wanita cantik itu.

"aw,aw,aw!"

"itu balasan untuk yang tadi.."

Rias pun tersenyum saat melihat ekspresi Naruto. Dan dengan pelan, Rias kemudian mencium dahi Naruto untuk beberapa detik lamanya .Membuat Naruto terdiam sesaat. Ia kemudian melihat Rias yang menatapnya dengan ekspresi yang sudah lama ia tidak lihat. Ingatannya serasa membawanya kedalam disaat pertama kali seseorang memberikan kehangatan itu.

"apa kau yakin kau tidak apa-apa?"

"meskipun aku terkejut, namun kurasa itu tidak apa-apa." Rias kemudian memberikan tatapan tidak percaya "tapi...aku tidak percaya kau suka menyakiti pasanganmu, hiks-hiks.. apa yang nanti terjadi padaku jika kau terus melakukannya.." Rias kini mulai menyeka air mata palsu yang muncul. Kelakuan Rias itu tentu saja membuat urat nadi muncul di dahi Naruto. Serasa menolak dikatakan jenis orang seperti itu.

"oi, aku tidak akan pernah menjadi orang seperti itu!" sanggah Naruto dengan kedua tangannya membentuk 'X'. Ekspresi Naruto kemudian berubah menjadi masam, tidak terasa badannya langsung merinding.

Ketika mengingat kembali wanita-gila yang dulu pernah menyayat pipinya saat Ujian Chunnin. Aksi itu tentu saja membuat Rias menatap Naruto dengan tatapan ingin tahu.

"Naruto-kun, kau tak apa-apa?"

"oh, tidak. Aku tidak apa-apa." Jawab Naruto dengan cepat. Kesadaran serasa menghantam Naruto. Matanya melihat Rias dari atas sampai bawah...dan kemudian dirinya.

"ee.. bisakah kau menutupi badanmu?" tanya Naruto dengan tidak nyaman.

Ekspresi Rias kemudian berubah menjadi menggoda ketika melihat raut wajah Naruto. Yang menurutnya...imut.

"mm~ jangan bilang..."

"tidak, Rias. Sudah cukup!" sekali lagi, Naruto membuat kedua tangannya menjadi formasi 'X'. Membuat Rias cemberut dengan lucunya. Sekarang, giliran Naruto yang keringat dingin. Dirinya tidak pernah tahu, kalau Iblis memiliki stamina seperti itu.

Naruto menghela nafasnya dan kemudian beranjak dari tempat tidur. Mencari pakaiannya yang berserak entah kemana, sesaat telah ketemu, Naruto langsung menaruhnya ditempat pakaian kotor, dan langsung menuju kamar mandi. Untuk membersihkam dirinya. Tidak kurang dari 15 menit, Naruto keluar dengan pakaian sekolahnya. Menatap Rias yang masih terlentang ditempat tidur.

"Rias, mandi sana... kita berangkat sebentar lagi."

Rias mencoba protes, Namun rayuan Naruto untuk membuat makan pagi untuk dirinya langsung mematahkan keinginannya itu. Dan dengan bersenandu kecil, Rias kemudian menuju kamar mandi dengan telanjang. Tidak lupa memberikan gerakan yang sepertinya berlebih.

Hal itu membuat Naruto menggelengkan kepalanya.

Naruto menatap dapur kecil Apartemennya. Dan kemudian membuka lemari Es untuk melihat apa yang bisa ia buat. Dengan wajah berpikir-pikir, Naruto kemudian mengambil beberapa bahan yang masih digunakan. Tidak hanya karena kesibukannya yang membuat dirinya jarang makan dirumah. Namun juga masalah lain yang membuatnya tidak sempat mengisi kulkas tersebut..

Naruto memasak dengan bersenandu kecil. Namun...

Sesuatu yang aneh terasa di Dadanya. Tangan kanannya memegang dada kirinya. Perasaan apa ini? Terasa aneh bagi dirinya. Terasa asing untuk tubuhnya. Perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan..

Dan ia merindukan perasaan itu..

Rasa yang sudah lama menghilang bersama kekalahannya didalam medan pertempuran. Dia tidak mau mengakui kebenarannya, namun...

Suara bagaikan gesekan yang asing membuatnya terdiam sebentar.

"itu, karena kau lemah...bukan begitu? Uzumaki..."

Suara itu membuat Naruto bereaksi cepat dan melihat asal suara itu. Matanya melebar ketika melihat sosok didepannya yang menatapnya dengan senyum sinis. Mengapa dia ada disini? Apa maksudnya ini!?- itulah yang berada didalam pikiran Naruto. Melupakan apa yang ia pikirkan, bereaksi berdasarkan insting, Naruto kemudian menghilang dan muncul didepan sosok yang membuat kemarahan didalam dirinya muncul. Pukulan dengan kekuatan penuh ia lancarkan.

"Hn. Seperti biasa, menyerang tanpa berpikir. Betapa bodoh." Sosok tersebut hanya menahan tinju Naruto dengan telapak tangannya. Tanpa memberikan gerakan yang berarti. Matanya kini menatap Naruto, rasa bosan yang ia temukan kembali..

"apa maksud semua ini! Mengapa kau ada disini!?" Kini suara Naruto telah berubah menjadi dingin. Mata sharingannya muncul dengan cepat, menatap dengan penuh kebencian terhadap sosok yang duduk dikursinya dengan tenang.

"Sharingan? Ha,ha,ha,ha! Aku tidak pernah membayangkan seseorang sepertimu akan menggunakan mata Uchiha." Pria tersebut kemudian memberikan Naruto tatapan mengejek "kau tidak pantas menggunakan mata itu... kau tidak mengerti akan kekuatan yang kau pegang" Desis Pria tersebut dengan menatap Naruto dengan satu matanya yang terbuka.

"Anak bodoh sepertimu yang tidak mengerti akan kekuatan, tidak pantas memegang dua mata para Dewa! Seharusnya aku mencongkel matamu pada saat ini, bocah." Pria tersebut kemudian menunjukkan matanya. Mata dengan corak cincin-cincin yang sama dengan dimata Naruto.

"kau, akan kuhancurkan disini!" Chakra Naruto dengan hebat mulai mengakibatkan getaran "Madara!"

Madara hanya tersenyum sinis. Dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh siapapun. Pria dengan rambut panjang itu langsung bergerak melewati Naruto. Tangannya kemudian telah memegang kepala Naruto dan menghempaskannya kedinding.

"sudah 1000 tahun sejak terakhir kita bertarung! Namun kau masih sama dengan Ninja bodoh yang terlalu percaya diri akan kekuatanmu!-tidakkah kau sadar, bahwa kita berbeda jauh!" Mata Pria itu menunjukkan kegelapan yang tidak bisa diukur. Madara kemudian mulai mengeratkan genggamannya ke kepala Naruto..

Namun ketika merasakan tangannya menembus kepala Naruto, Madara tersenyum dengan gelapnya "ah, ah... kau tahu. Itu merupakan teknik yang kusukai, namun juga sangat menjengkelkan jika digunakan orang lain."

"Menyingkir dari Naruto-kun!"

Madara kemudian mengambil langkah kesamping ketika seorang Perempuan menyerangnya dengan energi bola lemah. Setidaknya itu menurutnya. Dan dengan kecepatan luar biasanya, sekali lagi Madara muncul didepan Rias dan langsung memukul perutnya. Membuat Rias tersungkur dan pingsan.

"Ohh... siapa ini? Apa kekasihmu?" Madara kemudian melihat Naruto dengan satu matanya "Tidak kah kau belajar dari pengalamanmu, Uzumaki? ..Sejak kekasihmu kubu..."

"Kau!" Kemarahannya tidak bisa ia tahan lagi. Ia tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi, Rambut yang menutupi matanya kini menghilang, dan menunjukkan mata yang sama dengan Madara. "Shinr-"

"lamban!" Madara menghilang kembali dan menendang Naruto diwajah. Naruto, kini terlempar jauh menembus dinding. Suara bagaikan ledakkan membuat keributan di Area apartemen tersebut. Orang-orang mulai berlarian ketika melihat Naruto dan Madara yang mendarat dijalan raya. Mobil dan kendaraan lainnya mulai saling bertabrakan. Madara melihat ke Area sekelilingnya.

Orang-orang mulai panik. Berlarian. Berteriak. Bagaikan terkena bencana alam..

"orang-orang yang aneh..." Madara dengan heran mulai melihat area sekitarnya. Benda besi apa itu? Ia tidak pernah melihatnya. Matanya pun memandang keatas, ketika melihat gedung-gedung tinggi. "hm...aku tidak menyangka bahwa teknologi dan perkembangan Manusia sudah sejauh ini..." Madara kemudian menatap dua gedung pencakar langit dan tersenyum dengan sinisnya. Dia tidak peduli jika didalam gedung itu ada manusia atau tidak. Madara membawa kedua tangannya kelangit, membuat kedua tangannya bagaikan bentuk menarik...

Getaran hebat kemudian mulai terasa dari dua gedung Tingkat tinggi tersebut, kaca dari lantai pertama kemudian mulai pecah.

"Bans- akghhh!"

Namun sebelum ia bisa melakukan apapun, rasa sakit yang amat sangat menyerang otaknya. Membuat Madara memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Madara kemudian tersungkur dan berguling-guling sambil memegang kepalanya "aku mengerti! Berhenti membuat kepalaku sakit!"

Naruto hanya menatap Pria berambut panjang tersebut dengan tatapan tidak percaya. Jika saja pertarungan itu masih berlanjut, ia pasti sudah akan meggunakan jurusnya untuk membawa dirinya dan Ninja terkuat setelah Rikudou-sennin itu pergi dari kerumunan kota. Namun, setelah melihat apa yang terjadi membuat dirinya bertanya-tanya...

Madara dengan menghela nafas kemudian berdiri dan membuat segel tangan. "cih. Jika saja Mahluk tengkorak itu tidak memaksaku..."

Dan energi aneh keluar dari tubuh Madara. Naruto bersiap dengan apa yang akan terjadi, Namun saat tidak melihat jurus yang mematikan. Naruto kemudian melihat sekelilingnya. Dan matanya melebar ketika melihat orang-orang yang seharusnya panik, kemudian mulai kembali tenang. Berjalan seperti biasa dan seperti melupakan apa yang terjadi.

"apa yang kau lakukan?" Naruto melihat orang-orang yang melewatinya tanpa peduli. Atau memang serasa tidak bisa melihat dirinya...

"aku hanya memberikan mereka Genjutsu. Kau tahu, 'dia' tidak suka orang seperti kita berdua terlihat oleh manusia, dan melakukan pertarungan yang menyenangkan."

"Satu Kota?" Naruto menatap Madara dengan tidak percaya. Menghipnotis ribuan orang hanya dengan satu jurus. Naruto sudah tahu.. Dirinya selalu terkejut dengan kekuatan yang dikeluarkan oleh Musuh besarnya dulu. Kekuatan yang bahkan tidak masuk akal pun ia pegang. Hingga pada akhirnya ia berhenti terkejut dengan apa yang dikeluarkan Madara, dan mulai mencari kekuatan sendiri untuk mengalahkannya...dulu.

"Hn. Sudah kukatakan, aku adalah orang yang jauh diatasmu Mua-ha-ha-ha-ha!"

Madara lalu memegang pinggangnya dan tertawa dengan gaya khasnya. Dengan kata lain, tawa Pria gila yang sudah terjatuh kedalam kegelapannya sendiri.

Naruto kemudian menatap Madara, dan meproses apa yang dikatakan sebelumnya. Mengetahui apa yang membuat Madara berada disini membuat wajahnya menjadi masam. Bukannya perjanjian itu sudah disetujui. Mengapa ini terjadi!?

Telinga Naruto kemudian mendengar suara bunyi yang tidak ingin ia dengar pada saat ini. Sirine Mobil polisi... yang banyak. Dengan

XXXXX

Disebuah Cafe tidak jauh dari Kuoh. Terlihat dua orang Pria yang sedang duduk dengan menghadap satu sama lain. Menghiraukan pandangan orang-orang yang melihat mereka. Madara dengan Pakaian berjas hitam. Rambut Panjangnya yang dibiarkan menyelimuti punggungnya. Sedangkan Naruto dengan Seragam sekolahnya.

Madara menaikkan cangkir kopinya ke ujung bibirnya dan meminumnya dengan perlahan.

"hm. Tidak buruk. Sudah lama sekali aku tidak merasakan secangkir kopi."

Naruto hanya menatap Madara dengan tatapan siaga. Dirinya tidak mengerti, dari pertarungan hingga kini bersantai di Cafe, menikmati secangkir Kopi. Naruto tidak bisa membuat kesimpulan dengan apa yang terjadi dalam beberapa jam saat ini. Namun dirinya tidak bisa langsung menyerang Madara disini. Tidak hanya akan membuat satu Negara menjadi lahan pertarungan. Namun juga akan korban yang akan dimakan.

"Betapa menariknya apa yang kau pikirkan sekarang. Namun bukan itu tujuanku dikirim kesini, Uzumaki." Madara kemudian memberikan senyum menyeringai kecil.

"begitu.." Kini giliran Naruto yang kembali meminum Kopi yang disajikan Kafe tersebut. "jadi apa tujuanmu? Tidak mungkin kau datang kesini hanya untuk bersantai dan meminum kopi. Didalam pertarungan aku sudah mengenal Karaktermu Madara. Kau orang yang pintar...namun licik. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan pada saat ini. Dan itu akan selalu bertahan pada saat ini. Aku tidak peduli jika 'dia' mengirimu atau tidak. Namun ketahuilah Madara...aku akan menghancurkanmu seperti sebelumnya jika kau berani melakukan hal yang Gila."

Madara hanya tertawa kecil ketika mendengar apa yang dikatakan Naruto. Dirinya kemudian menyandarkan punggungnya ke Kursi yang ia tempati dan menghela nafas pendek. "Kau benar sekali. Namun, didalam kondisimu sekarang, kau bukanlah lawan yang terlalu berarti seperti dahulu. Meskipun aku membuat rencana Menakjubkan lagi, pasti akan ada kecacatan dalam rencana tersebut. Kecacatan yang tidak bisa kuhindari meskipun telah kupikir ribuan kali. Kau tahu? Itu adalah hal yang sangat membuatku...Frustasi."

"...ya, mahluk Astral yang tidak mungkin akan dikalahkan Manusia sendiri." Madara mengakui dengan jujur, untuk pertama kalinya.

"tentu saja. Bagaimana kau bisa melawan 'dia' yang bisa langsung menarik jiwamu keluar dari tubuhmu dan membawamu ke Neraka." Sambung Naruto dengan nada menghina. Mereka terdiam sebentar. Menatap satu sama lain.

"jadi 1000 tahun..."

Madara menaikkan alis matanya ketika mendengar apa yang dikatakan Naruto."bukankah begitu? Kenapa kau terkejut.."

Naruto memberikan tatapan kosong dan menggelengkan kepalanya "tidak, tidak. Hanya saja waktu begitu cepat.." Namun yang berada dibatinnya adalah pemikiran yang jauh berbeda.

"Uzumaki, kau berubah..."

Mata hitam Madara dan Naruto saling bertatapan.

"apa yang membuatmu berpikir hal tak logis seperti itu?"

"hn. Dari cara bicaramu saja aku sudah dapat menangkap perilakumu. Perihal dirimu, aku sudah mengetahui sejak kita pertama kali bertemu, Uzumaki terakhir. Kau orang yang bersuara keras. Bodoh, dan segala hal yang dikatakan tidak cocok untuk menjadi Ninja. Katakan dengan jujur, kau hanya Manusia lemah yang hanya berpangku pada kekuatan Mahluk buas itu—"

"Kurama bukan Mahluk buas! Dia juga memiliki pikiran dan perasaan sendiri." Nada Naruto berubah menjadi dingin.

Madara hanya menghiraukan penolakan Naruto. "Jika saja ekor Sembilan tidak berada didalam perutmu. Kau sama saja dengan Ninja lain. Bahkan kau tidak mewarisi kepintaran Yondaime dan keahlian Fuinjutsu Uzumaki. Kau begitu tidak berharga sehingga aku memutuskan mengeluarkan Kyubi dari tubuhmu pada saat itu.."

Naruto menahan amarahnya. Mendengar apa yang dikatakan Madara dengan menyandarkan tangannya didagunya sebagai penopang. Saat ini bukanlah untuk marah akan sesuatu yang sepele. Dirinya harus mencari tahu apa yang diinginkan Pria berambut panjang tersebut. Dirinya harus mencari celah agar Madara dapat memberikan sedikit informasi mengenai apa yang dilakukannya di Bumi. Jika ia meladeni Madara, maka ia akan membuat perkataannya memutar-mutar.

"namun sekarang kau berubah... kau tidak seperti saat dulu."

"aku tidak peduli apa yang kau katakan apa, Madara. Aku dulu memang orang yang seperti yang kau pikirkan, Lemah. Aku hanya melakukan apa yang kubisa, yaitu kerja keras. Ini semua hasil dari kerja keras itu. Aku bukan seperti dirimu atau Itachi, atau siapapun itu, yang terlahir dengan kejeniusan dan kekuatan yang sudah ditakdirkan. Aku mematahkan tulangku, merangkak, dan terus seperti itu hingga melewati batasanku sebagai manusia. Semua itu kulakukan hanya untuk mengalahkanmu..."

"Dan...kau berhasil." Madara berkata dengan ringannya. Tidak ada nada kebencian dan dengki akan kekalahannya pada saat dulu. "mungkin, semua rencanaku pada saat itu memang hancur lebur. Namun, aku menemukan sesuatu yang membuat jiwa Petarungku kembali hidup, yaitu kau. Dirimulah satu-satunya yang hampir bisa menyamaiku. Kau berbeda dari yang lain, bahkan Hashirama yang kumusnahkan tidak ada artinya lagi dihadapanku."

"Kau orang yang tidak waras."

"benar. Aku memang tidak waras. Namun semua itu tercipta akibat Takdir yang kita pegang masing-masing Naruto. Kau berubah disaat Orang yang kau cintai mati dihadapanmu. Dan begitu juga diriku. Aku berubah menjadi apa aku sekarang karena satu satunya manusia yang layak memegang gelar Saudara sedarah mati dibunuh karena peperangan."

"kau tidak berbeda jauh denganku Naruto. Hanya tempat, waktu dan orang yang membedakan persamaan kita."

Naruto memberikan Madara tatapan jijik.

"dan aku menolak dikatakan sama denganmu Madara. Kau hanyalah orang Gila yang terobsesi menjadi yang terkuat. Sedangkan aku hanya ingin melindungi apa yang ku anggap berharga."

"munafik! Jadi katakan, mengapa mata Sharingan dan Rinnegan berada dikedua matamu?"

"alasan yang sama, yaitu untuk mengalahkanmu." Naruto berbicara dengan lantang. 'namun...aku tidak sempat menggunakannya...'

"dan sekarang? Mengapa berubah hati? Apa ada Manusia yang mampu membuatmu serius disini? Jika kurasakan, mereka semua hanyalah Jenis terendah. Bahkan aku tidak merasakan kekuatan sama sekali dari mereka yang berada di Dunia ini. Bagaikan hama yang mudah dimusnahkan."

"jaga omonganmu Madara. Manusia bukan satu-satunya yang berada disini.."

"apa!? Jashin? Dewa? Malaikat? Iblis? Tuhan?" Namun melihat wajah Naruto yang serius membuat Madara menaikkan alis matanya. "serius? Sejak kapan kau menjadi orang yang relegius."

"Siapa yang relegius. Kita dari awal memang sudah pernah mengetahui ini. Dan jangan membuang Fakta, Para dewa itu memang ada, dan begitu juga yang paling atas. Mempercayai? Ia. Mengikuti? Tidak. Dari awal aku sudah belajar, mengapa kau harus mempercayakan keimananmu kepada Mahluk yang tidak pernah berbuat apa-apa kepadamu?"

"Shinigami?"

"...Mungkin. Karena dia satu-satunya yang berani ikut campur dengan urusan Manusia. Dari ukiran kuno yang berada di Konoha, kita mengetahui, bahwa Shinigami bukanlah mahluk yang tertarik dengan urusan manusia. Dia hanya peduli dengan berapa jumlah jiwa yang ia pegang dan kuasai."

"dia hanya mengambil kita hanya untuk kesenangannya semata. Kita sudah tahu ini. Hanya kita berdua yang masih hidup untuk melihat hari esok. Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi dengan yang lainnya."

Madara hanya memberikan Naruto tatapan setengah mata "seperti aku peduli dengan mereka. Mungkin mereka sudah berada di perut Shinigami."

"Tidak mungkin, Madara. Perjanjian itu harus dipenuhi. Aku memberikan jiwaku kepada Shinigami untuk membawamu kembali ke Dunia kematian." Naruto membalas dengan nada penolakan yang keras.

Madara menghiraukan perkataan Naruto. Dan melihat kearah kaca tembus. Jauh menuju jalanan. Melihat kerumunan orang yang berjalan dengan bahagianya bersama keluarga, atau pasangan mereka. Pandangannya yang jauh dan tenang. Madara kemudian menarik nafas dan melepaskannya kembali. "kau tahu, ini sudah lama sekali sejak aku melihat pemandangan damai seperti ini. Tidak ada peperangan, tidak ada kelaparan, tidak ada ketakutan. Mereka bebas melakukan apapun tanpa perlu takut dengan hal yang berbau dengan Ninja. Dunia yang sempurna namun tidak sempurna. Namun kurasa inilah dunia yang seharusnya... Karena dunia ilusi pun akan membosankan jika terlalu lama berada."

Naruto dengan perlahan membawa kedua jarinya kepipi Madara, dan mencubitnya dengan keras.

"apa yang kau lakukan, Monyet!" Nada Madara berubah menjadi dingin ketika melihat Ekspresi mulut lebar Naruto.

"apa ini Mimpi?"

"kalau ini mimpi kenapa kau menarik wajahku? Kau tidak tau diuntung!"

"karena jika menarik wajahku sendiri, itu terlalu Mainstream..."

"Apa lagi itu Meinstrim!?" tanya Madara yang kebingungan dengan kosa kata Naruto.

Seakan megacuhkan kurangnya pengetahuan Madara, Naruto mencoba mecubit pipinya dengan...pelan. Tidak ada rasa sakit!

Naruto menatap Madara dengan tatapan tidak percaya "hanya saja, aku tidak pernah bermimpi seliar ini dalam hidupku. Madara melihat dunia dengan sudut pandang berbeda?-tunggu dulu...apa kau benar,benar,benar Madara? tidak, tidak, tidak. Ini pasti mimpi...ya..mimpi" Naruto mengangguk- angguk dengan eskpresi lega.

"Uzumaaaki.. jika saja tidak ada pemicu ledakan di dalam otak-ku, aku sudah pasti akan membakarmu dengan Ameterasu pada saat ini!" Desis Madara dengan nada gelap.

"jadi begitu, ternyata Shinigami tidak melepaskanmu begitu saja dengan bebas. Sudah kuduga..." Mata Naruto kemudian menunjukkan sepintas kilauan cahaya yang membuat ekspresi Madara menjadi mengkerut.

"hn. Kembali ke topik awal. Uzumaki, aku tidak tahu, dan tidak-mau-tahu apa yang telah kau lakukan setelah bebas dari kurungan Shinigami. Namun ia mulai menunjukkan ketidak sukaanya. Dia bukan tipe yang membebaskan seseorang hanya karena orang tersebut melakukan hal berjasa atau tidak. Tugas, tugas dan tugas. Ingat tujuanmu apa Naruto... selama masih ada orang atau apapun itu yang ingin menghancurkan keseimbangan yang telah dibuat, maka kau tidak akan pernah tenang dan kembali ke Dunia para Pejuang. Tempat dimana mereka yang dikategorikan sebagai...penyelamat. Kau yang menerima kesempatan sekaligus kutukan ini. Maka kau harus menyelesaikannya.."

Naruto hanya menundukkan kepalanya... tangannya membentuk kepalan. "Aku tahu itu...dan aku sudah mulai memperdalam masalah ini. Aku mengerti jika sekarang, ketegangan mulai terbentuk. Aku tidak tahu siapa yang memulai, namun aku berencana mencari tahu."

"hn, aku tidak peduli apa yang kau lakukan. Tugasku sudah selesai beberapa tahun yang lalu. Meskipun tidak mendapatkan tempat yang ditawarkan kepadamu, namun kurasa yang ini sudah cukup"

Mata Naruto melebar sedikit demi sedikit, ketika melihat Madara. atau tepatnya tubuh Madara. Detik demi detik berlalu, badan Madara mulai bertingkah aneh. Kursi yang ia duduki, mulai terlihat samar-samar dari badannya. Transparan.. tubuh Madara semakin lama tidak terlihat. Madara hanya memberikan Naruto tatapan..

"apa yang terjadi Madara!?"

"hn. Dikhawatirkan oleh orang sepertimu membuatku merasa direndahkan. Namun apa boleh buat...kau tahu bukan? Tiga pilihan yang diberikan Shinigami jika telah melakukan pelayanan selama 1000 tahun.."

Mata Naruto melebar ketika mendengar apa yang dikatakan Madara. "katakan, kau tidak memilih itu!? Padahal kau bisa memilih yang lain, tapi kau memilih yang ini!?"

"seberapa menariknya pilihan itu, kurasa itu tidak penting lagi. Aku tidak cocok untuk dunia yang baru ini. Aku tidak bisa beradaptasi dengan dunia yang sekarang. Bertarung ada didarahku Naruto. Jika tidak ada lagi pertarungan, apa yang harus kulakukan? Lagipula...aku sudah lelah. Lelah...lelah sekali."

Madara kemudian memberikan senyuman. Senyum yang tipis. Namun...tulus.

"Reinkarnasi... aku ingin terlahir kembali. Tidak peduli, menjadi tumbuhan, Hewan, ataupun Manusia kembali. Di dunia yang baru, tanpa ingatan. Memulai hal yang baru tanpa perlu memikirkan kembali apa yang telah kuperbuat. Ini sudah berlalu cukup lama..bayangan masa lalu selalu menghantuiku. Kekuatan yang kudapat, mulai berbalik melawanku.. satu-satunya yang membuatku dapat menahan kesadaranku saat ini hanyalah...bertemu denganmu.."

kini bagian wajah Madara yang mulai meredup. Mulai tembus pandang oleh mata.

"1000 tahun, itu adalah waktu yang cukup untuk membuatku sadar perkataanmu pada saat itu..." Madara memberikan tatapan hangat. "Naruto, mungkin suatu saat kau bertemu kembali dengan sosok yang mirip denganku. Mungkin juga kau tidak akan pernah melihatnya. Namun sebelum hal itu terjadi...bisakah kau memaafkanku? Ini adalah satu-satunya yang menahan Pria tua sepertiku untuk pergi..."

"memaafkanmu?"

Memaafkan Madara. Memaafkan orang yang telah membuat rencana tergila sepanjang abad Ninja tersebut? Memaafkan Madara yang memanipulasi Obito untuk melepaskan Kyuubi dan membuat kedua orang tuanya Mati? Memaafkan akibat dari kejadian yang telah terjadi karena penyegelan itu? Memaafkan orang yang telah membunuh semua yang dirinya sayangi?...

"kurasa kau juga masih Manusia. Rasa dendam itu akan selalu bersama kita, Manusia."

"Maaf? Kurasa hal tersebut mustahil. Dirimu yang menyebabkan semua ini terjadi pada awalnya. Namun...karena kau juga aku menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang membuatku kembali merasakan apa itu Manusia yang sesungguhnya. Namun jika hal itu tidak terjadi...apakah aku akan menjadi diriku yang sekarang? Tidak. Karena itulah aku bisa mengatakan ini, meskipun itu terasa sakit. Namun aku tahu, bukan diriku yang bisa memaafkan dirimu..."

"begitu..."

"tapi dirimu sendiri. Hanya dirimulah yang dapat memaafkan apa yang kau perbuat. Jika kau masih terbayang akan masa lalu dan tidak mau melepaskannya, maka kau akan terjebak dalam Dosa yang kau tumpuk sendiri."

..

.

"kurasa kau tidak terlalu berubah dengan Bocah bodoh yang dulu kulawan. Naruto... kau tidak akan mengerti apa yang kualami selama masa pelayanan itu. Namun...ketahuilah... aku menyesal dengan apa yang terjadi. Jika waktu bisa diulang..."

"aku memilih kau tidak melakukannya Madara. Aku tidak ingin kembali terjebak kedalam masa dan perasaan yang berbeda. Sudah cukup dengan apa yang terjadi..."

Madara memberikan Naruto tatapan terakhir. "Maafkan apa yang terjadi tadi. Aku tidak bermaksud untuk melukai kekasihmu.."

"Rias bukan kekasihku!"

"eh, terserah apa yang kau katakan. Namun aku tidak bisa bertemu denganmu dengan 'hai, aku Uchiha Madara, dan aku sudah jadi baik!' –itu akan merusak harga diri yang telah kubuat. Aku tahu konsekuensi apa yang kuperbuat tadi, namun aku tetap melakukannya... aku hanya ingin melihat sejauh mana kau berkembang.."

"dan apa yang kau temukan?"

"kurasa kau memang cocok memegang mantel Rikudo-"

Naruto memotong perkataan Madara dan memberikannya tatapan dingin "aku tidak suka dikatakan sebagai orang lain, Madara. Seberapa seringnya para Bijuu mengatakannya, namun aku tidak suka. Aku adalah Uzumaki Naruto, dan aku ingin mati dengan nama yang sama. Bukan karena kesamaan dengan pria setengah Dewa yang sudah mati."

"begitukah... kau masih menolak kenyataan. Meskipun diriku yang masih memegang mantel Ninja terkuat "saat itu Madara menunjukkan majah bangganya "namun itu adalah limit terakhirku. Dirimu? Aku tidak tahu... kau masih mempunyai jalan yang panjang. Dengan kata lain...kau belum mencapai limit tersebut."

"menjadi yang terkuat bukanlah segalanya, Madara"

"ya, benar. Namun kau juga harus menatap cermin kembali.. dan katakan itu kembali. Apa yang kau lihat?..tapi itu adalah dirimu.. "

"sampai jumpa, dikehidupan selanjutnya...oh jangan lupa periksa Dimensimu."

Madara memberikan seyuman yang tidak pernah ditunjukkan oleh Uchiha. Senyuman yang tercipta dari ratusan tahun cerita yang berbeda. Hal ini membuktikan teori atau hukum alam yaitu, Perubahan bahkan bisa dialami oleh Pria terjahat,terlicik,dan tergila sekalipun.

Meskipun membutuhkan waktu yang...sangat,sangat lama.

Dan Madara memudar dengan udara sekitar. Tidak ada jejak. Mengikuti peraturan yang telah dibuat. Perjanjian yang didapat untuk mereka yang telah mencapai sesuatu yang tidak mungkin bisa dilakukan Manusia. Sehingga mendapat perhatian dari Mereka yang jauh dari kata Manusia.

"ah...enaknya menjadi dirimu, Madara. Seharusnya aku sudah tahu jika kau yang terlebih dahulu selesai daripada diriku." Naruto mengingat kembali disaat terakhirnya di Dunianya. Disaat dirinya hampir dipintu kematian bersama Madara.

Naruto kemudian melihat keluar, dan keringat mulai muncul dari wajahnya.

Ketika melihat seorang perempuan berambut merah darah yang berlari dengan wajah sangat khawatir. Diikuti oleh para pelayannya.

"Naruto! Apa kau tidak apa-apa!? Dimana Pria gila itu!?" Rias menuntut dengan wajah yang sangat, sangat... Marah.

"e,e... begini.. percayakah kau bahwa dia adalah teman lamaku yang memiliki cara aneh untuk menyapa seseorang yang lama ia tidak temui?" Namun ketika melihat wajah Rias, dirinya hanya bisa menelan ludah. Naruto mengangkat kedua tangannya bagaikan ditodong pistol.

"kurasa tidak."

Hmm... kurasa ini bisa disebut penutup lubang chapter-chapter sebelumnya. Hm, meskipun ini sepertinya kurang. Namun 4000 words merupakan batas saya menulis. Dan setelah chapter ini maka kita akan Resmi masuk kedalam New Arc! Yee! Gue gak sabar bener nulis tu chapter. Mungkin masih ada dibayangan. Dan saya rasa updatenya ga selama yang kemarin-kemarin(mudahan.)

Hmm... maukah anda me-review? katakan apa yang ingin anda katakan. Apa sih lelahnya mengetik beberapa kata untuk mereview chapter ini? sedangkan saya...menulis hingga sakit mata selama beberapa jam lebih...

Jika menemukan kesalahan penulisan, dst. Tolong maklumi, karena saya hanya Author biasa yang tidak sempurna. Lagipula, saya malas membaca ulang cerita yang saya tulis.

A/N : jangan dibaca kalau tidak suka.

Jujur saja, saya kecewa dengan beberapa crossover DxD dan Naruto. Sang Author sudah membuat tokoh utama menjadi terkuat, namun mengapa si tokoh utama ini bisa dengan mudahnya menjadi Iblis hanya karena alasan sepele? Yang disek indo saya belum menemukan cerita yang mengisahkan Naruto disisi Cahaya, berasal dari Gereja ataupun Bagian dari surga. Jikalaupun ada pasti ujung-ujungnya dengan Devil. Mungkin kesusahan dengan menulis dengan tema Gereja? ..mungkin. Jujur saja, struktur dalam Gereja itu rumit banget. Saya bahkan yang berencana ingin nulis malah jadi pusing sendiri. Jujur saja, saya mengetahui seluk beluk beberapa Agama, dan mengetahui sejarahnya. Seperti Budha, Kristen, Katolik, dan Hindu. Pokoknya yang sering digunakan dalam Anime/manga deh. Dan kebetulan, DxD diciptakan dengan unsur Agama katolik dan Kristen.(katolik dan Kristen itu berbeda..)

Namun saya tekankan lagi, meskipun ada unsur Relegius dalam cerita saya, saya tidak akan pernah menjelek-jelekkan bagian dari Agama yang telah diakui seluruh dunia. Itu penistaan. Munafik. Dan jika ada orang yang menulis hal yang sangat tidak terpuji itu, maka betapa kecewanya...

Itu adalah kebebasan Manusia untuk memilih dan mengikuti apa yang ia percayai. Dan bukan tugas seseorang untuk menjelek-jelekkan agama seseorang tanpa mengetahui sendiri apa Agama itu. Berkaca kepada diri sendiri, dan bertanya. Apakah dirimu benar? Apa kau memang pengikut keyakinan yang kaupercayai dengan baik? Apa kau memiliki hak untuk menghina apa yang dipercayai orang lain?

Bahkan saya punya teman yang Ateis. Meskipun terang-terangan di KTP tulisannya agama ini, namun ia berkata kepada saya ia tidak begitu percaya akan keberadaan Tuhan. Waw. Menyeramkan. Namun saya diam saja. Karena saya nggak tahu alasan apa yang menyebabkan ia begitu.. semoga ia menemukan pegangan yang tepat. Apapun itu. Amin.