Update? Of course. This what you expect from the great Author, Krisoper21! ...right?

Im sounding like a cocky kid. at least, still keep my promise...you know.

Disclaimer: never own anything.

Cih, kayaknya gw lupa gaya deh nulis untuk cerita seperti ini. Semoga aja gak kehilangan cara penulisan untuk cerita semacam ini.


Naruto membereskan pekerjaan yang telah ia lakukan. Waktu sudah menunjukan pukul 7.30 malam. Di mana waktu kerjanya telah usai.

Seorang Pria yang tidak lebih dari 30 tahunan menepuk punggung Naruto dari samping. Tubuhnya yang cukup tinggi, membuat Naruto harus menatap keatas untuk menatap Pria jangkung tersebut.

"ah, pekerjaan yang bagus hari ini, Namikaze. Seperti biasa para pelanggan puas akan pelayananmu."

Dia adalah pemilik Cafe di mana Naruto bekerja.

Naruto tersenyum tipis.

"tentu saja, kenyamanan pelanggan adalah prioritas utama kita bukan?"

"betul! Betul!...seandainya aku mempunyai karisma seperti dirimu...tentu saja aku sudah mempunyai pacar di mana-mana hahahah!" Pria tersebut mengeluarkan tawa beratnya, tawa mesum yang plus wajahnya yang kasar, terkadang membuat pelanggan takut. Padahal dia merupakan pemilik Cafe tersebut.

"oh, ya ngomong-ngomong bagaimana Gadis ccantik berambut merah itu? Yang dadanya gede itu? Apa dia pacarmu? Jika tidak...bisa nggak berikan nomornya?"

"meskipun dunia jatuh dan kiamat, aku nggak akan memberikannya padamu, Bos. Wajah jelekmu akan membuatnya trauma." Dengan itu, Naruto bergegas keluar dari Cafe tersebut. Tidak ingin melihat apa yang terjadi setelah apa yang ia katakan.

"Namikaze! Awas kau, Kupecat tau rasa kau! Jangan bilang aku jelek! Tampang bukanlah segalanya!"

Tentu saja hal itu hanyalah candaan. Pria jelek itu tidak mungkin mau memecat Naruto, yang merupakan salah satu alasan mengapa Cafe yang ia miliki sekarang menjadi terkenal.

XXXXX

Naruto menaiki tangga menuju apartemennya. Namun ia terdiam ketika ia sudah berada di depan Pintu Apartemen miliknya. Matanya menyipit melihat handel pintu tersebut. Bergeser tiga mili-meter. Apakah ada penyusup!?

Naruto menggelengkan kepalanya. Ini menjadi kebiasan buruk. Paronoid yang menjadi-jadi yang tidak bisa ia hilangkan.

"aku pulang..."

Sebuah kebiasan yang memang sudah tertanam pada dirinya. Ucapan yang harus ia katakan...

Namun ia tidak menyangka, jika seseorang akan menjawab.

"selamat datang..."

..

..

"Rias...mengapa aku tidak terkejut?" Naruto kemudian melihat sekelilingnya..."dan apa ini semua? Mengapa ruanganku jadi penuh akan barang-barang dan...apa itu? Mengapa pakaianmu semuanya ada disini?" wajah Naruto kini telah berubah menjadi khawatir, meskipun ia tidak menunjukannya. "seperti... seperti.."

"tentu saja. Aku sekarang tinggal di sini."

"mengapa?" Naruto serasa bagaikan orang dungu menanyakan pertanyaan itu. Ia seharusnya sudah tahu apa jawaban yang akan di terimanya. Namun, entah mengapa sesuatu di dalam dirinya serasa aneh. Sesuatu yang menyebutkan penolakan.

"bukankah sekarang kita Tunangan?"

Kata-kata itu bagaiakan pisau yang menusuk ke dada Naruto. Nada suara itu bagaiakan penuh akan rasa sakit, menanyakan sama saja minta mati. Naruto baru menyadari tingkah laku Rias.

"darimananya kita Tunangan!?"

Rias berjalan mendekati Naruto. Dan memegang erat kedua tangan Pemuda tersebut.

"setelah kau menyelamatkanku dan meniduriku? Apakah itu tidak cukup? Atau kau hanya menganggap aku main-main saja?"

Naruto hanya tersenyum tipis. Meskipun menyembunyikan rasa bersalahnya...

"aku tidak pernah menganggapmu main-main." Naruto kemudian memegang sisi kiri wajah Rias dan mengelusnya. Rias tanpa sadar memberatkan wajahnya ke telapak tangan tersebut, dan menatap Naruto di mata. Emosi yang terpancar, akan penuh harapan.

Jika dirinya mengatakan sesuatu yang berkebalikan dengan apa yang diharapkan, sudah jelas, hati gadis itu akan hancur berkeping-keping.

Naruto menyadari itu. Dirinya bukanlah orang yang pintar, atau berpengalaman dalam emosi yang seperti ini. Ia bukanlah ahli dalam hal seperti ini. Hal yang ia pelajari hanyalah berasal dari Pertapa genit. Dan itu hanya bersubjek pada lingkaran berbau kepada cara menggoda wanita. Bukan untuk memahami hati wanita.

Dan lagipula, membangun hubungan tidak pernah ia lakukan sama sekali. Ia menyadari bahwa hal seperti itu akan mustahil pada zaman dimana hidup dipertaruhkan. Dirinya terlalu sibuk untuk berlatih untuk memahami perasaan yang berada di sekitarnya.

Dan akhirnya ia hanya bisa membalas, sesuai apa yang ia rasakan.

"aku selalu serius jika melakukan sesuatu. Namun, kau juga harus mengerti, Rias. Hubungan seperti ini terlalu cepat. Kita harus memulai dengan pelan-pelan. Mengetahui bagaimana sifat kita sebenarnya, kesukaan masing-masing, kebencian masing-masing. Layaknya aku ingin mengerti bagaimana dirimu yang sebenarnya. Dan juga...bagaimana diriku yang sebenarnya."

Rias hanya tersenyum lembut.

"kau sungguh..." Naruto tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Rias. Dan hanya menerima pelukan yang diberikan oleh wanita cantik tersebut.

Rambut merah itu..

Naruto memegannya dan melihatnya, merasakan halus dan wangi yang ia sukai. Dan membawanya ke bawah hidungnya dan menghirupnya. Entah mengapa...entah mengapa dirinya yang terdalam menyukai warna merah.

Mungkin itu Gen?

Dirinya hanya berharap Rias bukan tipe perempuan yang memiliki kepribadian seperti itu.

Yandere...

Hal itu membuatnya merinding.

Xxxxxx

SMA Kuoh.

Jika kau bertanya siapa Namikaze Naruto. Tentu saja banyak yang akan tahu. Ia pendiam, dingin namun baik. Ya itulah yang mereka tahu. Tidak banyak gadis dari beberapa kelas memberikan tatapan yang lebih dari seharusnya. Namun mungkin itulah yang membuat mereka tertarik. Bagaikan manusia modern dan juga kepribadian modern. Jika tidak tertarik dengan sesuatu yang misterius, maka yang ada adalah ketakutan atau ketidaksukaan.

Namun...hari ini adalah hari yang berbeda dari biasanya.

Naruto yang biasanya merupakan jenis orang tertutup. Dan selalu menggunakan jaketnya. Kini telah berubah. Ia tidak menggunakan lagi jaket tersebut, namun melepasnya dan membiarkan seragam sekolahnya terlihat.

Orang lain hanya tercengang. Tidak tahu harus berpikir seperti apa.

Naruto terlihat...terbuka. Mereka tidak bisa menjelaskannya. Dari jenis pakaian yang berubah dan juga senyum tipis yang menghiasi wajah pemuda itu membuat orang bertanya-tanya akan apa yang terjadi. Naruto biasanya memiliki wajah datar dan jarang tersenyum.

Dan..

Itu mungkin faktor dari gadis yang berada di sampingnya. Gremory Rias.

Itu mungkin sudah menjadi berita lama, karena mereka sudah sering melihat Rias dan Naruto bersama di saat dulu-dulu. Jadi mendengar mereka sudah menjadi pasangan bukanlah sesuatu yang di kejutkan lagi. Ada yang merasa mereka sudah cocok. Ada yang cemburu. Namun mengingat reputasi Naruto dan Rias yang tinggi di masing-masing pihak, membuat para Fans Rias tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan.

XXXXXXX

"Buchou... Naruto-senpai.." suara kecil menyapa Naruto dan Rias sesaat mereka mamasuki Klub tersebut.

"Hai, Koneko.." Naruto menjawab gadis dengan tubuh kecil tersebut. Mata Naruto berubah menjadi U terbalik. Meskipun tidak terlalu kenal dengan baik terhadap gadis berambut putih itu, namun setidaknya ia harus mengenalnya lebih baik.

Issei terlihat sedang sibuk berbicara dengan Asia. Dari tatapan Issei yang diberikan kepada Asia. Naruto sudah mengetahui bahwa ada percikan emosi di antara dua remaja tersebut. Namun meskipun begitu, Naruto tahu... tahu bahwa Issei tidak akan merubah cara berpikirnya dan mimpinya.

Dan sekarang dirinya tidak mempermasalahkan apa yang dipikirkan Issei. Karena di dalam hatinya, Naruto tahu bahwa Issei merupakan pemuda yang baik. Dan bisa membuktikan apa yang ia katakan.

Aktivitas di lakukan seperti biasa. Belajar, pulang, melakukan kegiatan klub; yang berhubungan dengan membuat kontrak dan sebagainya. Tidak ada hal yang menegangkan yang membuat Naruto merasa harus was-was. Tidak ada kegiatan yang harus membuat dirinya ikut campur. Atau sebaliknya. Meskipun ia merasakan sesuatu yang aneh. Sesuatu yang berbeda dari atmosfer klub tersebut.

Kiba... entah mengapa terlihat melamun. Dari raut wajahnya pun terlihat dengan jelas.

Ia tidak mungkin bertanya. Mungkin ini juga kesalahan dirinya, karena jarang berkumpul dengan kelompok Rias. Namun... itu juga bukan kewajiban bagi dirinya. Karena Naruto bukanlah anggota dari Klub Gaib. Jadi, menurut dirinya ia tidak harus memasuki atau ikut campur masalah pribadi orang.

Ia hanya ikutan atau ingin tahu bagaimana sistem Iblis bekerja. Ia ingin tahu bagaiamna cara pandang Iblis kepada Manusia.

Tidak ada yang berbeda, ia seharusnya tahu itu. Iblis juga memiliki perasaan. Bisa tertawa, bisa menangis, bisa berbuat baik. Dan hal itu terbukti selama ia bersama-sama Iblis remaja tersebut.

"ah...aku lupa. Persedian makanan ringan kita habis." Akeno tiba-tiba bicara. Dan beranjak hendak pergi...

Tentu saja hal itu perlu. Hal seperti itu sudah menjadi kebiasan saat tidak ada yang dilakukan. Berkumpul di dalam klub, berbicara, dan tentu saja ditemani makanan ringan.

Namun, sebenarnya. Kebanyakan yang menghabiskan adalah Naruto. Mengingat tidak ada yang berarti untuk dimakan di Apartemennya, Naruto juga menggunakan persedian Klub gaib untuk mengisi perutnya sendiri. Terlihat tidak sopan, namun hal itu sudah menjadi kebiasaan.

"Akeno-chan... biarkan aku saja." Naruto berdiri dan berjalan mendekati Akeno. "kurasa ini juga salahku. Kebetulan, kemaren aku baru gajian. Kurasa aku harus mengganti apa yang telah ku ambil. Mengingat aku bukan anggota Klub ini, namun menghabiskan cemilan kalian."

"Naruto-kun, kau sudah ku anggap menjadi anggota Klub ini." Rias memotong dari sudut Sofa. Sambil membaca majalah yang tidak ia tahu dan juga Menggunakan kacamata? Aneh...bukannya Iblis memiliki Penglihatan yang bagus?

Bodoh...jawabannya sama dengan mengapa dirinya menggunakan kacamata.

Berbicara soal mata. Naruto tahu, jika ia berjalan dengan dua mata yang aneh akan membawa perhatian yang tidak diinginkan. Dan meskipun payah dalam seni Genjutsu, namun berkat Fuinjutsu kecil, Naruto memasangnya dibawah kelopak matanya. Menutupi dengan ilusi kedua mata tersebut dan mengembalikan kondisi semula matanya, yaitu warna biru, dan Onyx hitam.

Namun kembali lagi ke masalah semula.

"tapi tetap saja, biarkan aku yang pergi membelinya. Mini-market tidak jauh dari sini, lagipula ada sesuatu yang ingin kubeli."

"kalau begitu, aku juga..."

Naruto terdiam, dan melihat Akeno..."aku juga akan menemanimu."

Naruto hanya tersenyum mendengar ucapan Akeno. "kalau begitu, ayo." Naruto melirikan kepalanya ke samping. "apa kalian mau menitip?"

"tidak, Naruto-san. Tetap seperti yang biasa. Lagipula biasanya kau yang menghabiskan." Issei berbicara dengan nada bercanda.

XXXXXX

Akeno berjalan lebih lambat, membiarkan pemuda berambut kuning itu mengambil langkah terlebih dahulu dari pada dirinya. Saat Naruto ingin menyamai langkah dengan dirinya, Akeno selalu memperlambatnya. Sesuatu yang membuat Naruto menaikan alis matanya.

"Naruto...kau berubah..."

"hm?" Naruto menghentikan langkahnya. Saat ini mereka di gang kecil persimpangan menuju Mini-market yang mereka tuju.

Naruto memproses apa yang dikatakan Akeno. Apanya yang berubah? Dirinya tidak merasakan sesuatu yang berubah di dalam dirinya.

"maksudmu? Aku tidak mengerti, aku masih tetap Naruto kan?"

Akeno mendekat ke Naruto. Memberikan tatapan layaknya seorang Dokter saat menganalisa penyakit seseorang.

"kau tidak seperti yang dulu... kau tidak lagi menjadi pendiam. Tidak lagi menjadi misteri...dan hal itu terjadi setelah kau bersama Rias."

"hm...kau benar. Namun, itulah kenyataan. Sejak awal aku bukanlah seseorang yang dipikirkan kalian.." Naruto menatap kelangit dan tersenyum tipis..."jika orang melihatku sebagai Pemuda keren dengan kepribadian sempurna, maka aku pun tidak menampisnya. Katakanlah aku seperti Issei.."

"jadi kau mesum..." Kata-kata itu bukan pertanyaan melainkn pernyataan.

"tidak." Naruto menjawab dengan cepat,"hilangkan bagian mesumnya" Naruto kemudian menghentikan langkahnya." Aku orangnya yang penuh akan emosi. Selalu panas kepala dalam menghadapi sesuatu, ceroboh dalam melakukan hal. Bertindak seenaknya dan melakukan sesuatu yang menurut hatiku benar."

"namun...sekarang?"

"aku tumbuh dewasa. Masa lalu ku membuat diriku menyadari apa yang salah dalam diriku. Dan karena kebodohanku, sesuatu yang tidak bisa dimaafkan terjadi kepada banyak orang. Aku terselimuti rasa bersalah karena aku tidak bisa membelakangi ucapanku. Seperti aku akan menyelamatkan seseorang, apapun rintangannya..."

"dan?" Akeno menatap Naruto di mata.

"dan aku gagal dalam hal itu. Aku gagal, meskipun apa yang telah kulakukan, aku tidak bisa berbuat apa-apa selain terkapar tidak bergerak, dan orang itu mati di depanku. Saat itulah aku mengerti, Dan setelah kegagalan itulah aku menyadari bahwa aku tidak boleh membuat janji yang tidak bisa aku tepati..." Naruto memberikan senyum sedih.

"dan aku menjadi seperti emo dan bertingkah sok keren seperti yang kalian lihat."

Akeno hanya tersenyum menutupi bagaimana lucunya hal itu. Meskipun itulah yang membuatnya tertarik pada awalnya...

"tapi, setelah mengenal kalian...aku menyadari hal yang penting dari diriku. Aku menemukan sesuatu yang tidak kumiliki dahulu, dan bisa kutemukan di sini. Di sini bersama kalian semua..."

"dan apa itu, Naruto-kun? katakan padaku.." Nada tersebut terdengar sensual di telinga Naruto. Tatapan itu bagaikan membawa kedalam pusaran air dan menghanyutkan.

"kebebasan...kebebasan dari tekanan yang ku alami selama ini. Di dunia ini yang tentram, di mana manusia bisa berjalan dan hidup bahagia dengan keluarganya hingga akhir hayatnya. Ini merupakan bentuk dunia yang mendekati mimpi kami dahulu. Kedamaian. Dan karena itulah aku berusaha untuk menjaga kedamaian yang mendekati kenyataan ini.."

Seandainya kau tahu Naruto-kun. Seandainya kau melihat lebih dalam di mana kebohongan yang berada persis di depan matamu. Ilusi yang menunggu seseorang untuk memicunya. Dan menjadikan kembali pertumpahan darah..

"...ya...indah sekali."

Akeno menarik kerah baju Naruto dan membawanya. Bibirnya menyentuh dengan bibir merah Naruto. Akeno ingin meluapkan segala emosinya di saat itu. Perasaan yang bergejolak yang diselimuti oleh kulitnya membuatnya merasa ingin bebas. Akeno merasakan itu, merasakan penolakan dan dorongan dari Naruto. Mungkin ini salah dirinya...

Ia tahu bahwa ini akan menjadi masalah besar jika Rias mengetahui. Namun, dirinya hanya tidak memiliki kesempatan yang sama dengan Rias. Sangat menggairahkan dan di waktu yang sama...juga sangat menakutkan untuk menjadi kenyataan.

Namun ia ingin Naruto mengetahui bagaiamana perasaan yang dimiliki oleh dirinya. Bagaiamana dirinya memperlakukan Naruto di saat ini. Ia ingin Naruto tahu bagaiamana kerasnya detak jantungnya terdengar. Ia ingin Naruto merasakan semua itu...

Pejalan kaki yang tidak sengaja melihat aksi itu, hanya bisa berlari dengan cepat dengan wajah memerah. Tidak ingin melihat kejadian intim yang berada di sekitarnya.

Dan di saat itu, ia merasakan, Naruto mulai membalas ciuman itu. Menjadikan semakin memanas. Membuat bulu kuduk di belakang lehernya berdiri dengan rasa yang baru menyerang dan menusuk-nusuk hatinya yang terdalam. Seharusnya ia sakit, ketika Naruto membalas ciuman itu hanya karena nafsu semata...

Namun entah mengapa hal itu tidak menjadi masalah bagi dirinya. Yang hanya ada di dalam hatinya adalah rasa bahagia saat Naruto membalas apa yang telah ia lakukan. Ia merasakan ekstasi, rasa ingin dan rasa yang belum pernah ia alami sebelumnya. Kakinya serasa tidak kuat menopang tubuhnya.

Ciuman itu semakin memanas, disaat Akeno memasukan lidahnya kedalam bibir Naruto. Akeno mendorong Naruto ke dinding gang. Lendir yang terhubung di saat melepaskan ciuman panas tersebut. Menyatu dan merasakan rasa yang berada di mulut masing-masing. Nafas yang terengah-engah dan terasa menggelitik permukaan kulit.

Akeno tidak berkata apa-apa, begitu juga Naruto. Dan Akeno memberanikan diri dan kembali mengklaim bibir Naruto. Ia tidak bisa berhenti, dirinya tidak mengerti, lidahnya bermain dengan lidah Naruto, mengeksplorasi permukaan mulut pemuda itu. Bergantian bagaiakan pemain gulat mencoba mencari siapa yang dominan dan siapa yang akan menang.

"ah.." kesahan kecil terlepas dari bibir manis Akeno. Kedua matanya kini menjadi setengah terbuka...

Dan tanpa sadar.

..ia menjatuhkan air mata...

"Akeno!?" Naruto menjadi panik... melihat kiri dan kanan.

"ini tidak adil..."

Betapa bodohya Naruto di masa lalu. Namun ada saat di mana dirinya harus mengerti situasi yang berada di depannya. Dan Naruto memegang kedua sisi wajah Akeno dengan tangannya dan membawanya menatap dirinya. Mata Akeno berpindah arah selain mata Naruto, mencoba menyembunyikan betapa menyedihkannya dirinya menangis di depan orang seperti Naruto...

Naruto membawa jemarinya dan menyeka air mata yang berada di sudut mata Akeno. "hidup memang tidak adil. Terkadang kita harus menerima apa yang ada di depan kita, atau...berjuang untuk melawan hidup tidak adil itu. Hanya itu yang bisa kita lakukan. Berjuang, atau menerima. Tergantung sebagaimanakah kuatnya mental diri kita masing-masing menghadapinya." Naruto tersenyum tipis.

"Rias sungguh beruntung... dan aku. Aku sungguh...iri."

"katakan Naruto-kun... jika di saat itu aku adalah Rias yang akan menikahi Riser. Ap-apakah kau akan memperlakukanku sama dengan Rias? Apa kau akan tetap menyelamatkanku?"

"tentu saja. Kau adalah orang berharga di dalam hidupku. Dan aku selalu melindungi orang yang berada di sekitarku hingga nyawaku pun menjadi taruhannya. Dan jangan samakan dirimu dengan Rias, karena dirimu tidak perlu menjadi orang lain untuk menjadi berharga di dalam hidupku. Cukup, menjadi dirimu sendiri."

"kalau begitu...sayangi aku. Berikan aku perhatian yang sama seperti yang kau berikan kepada Rias."

Naruto serasa ingin memukul wajahnya sendiri. Ia pecundang. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Dan apa yang harus ia katakan kepada Rias!? 'hei Rias, Akeno menjadi pacar baruku, tidak masalah kan..' tentu saja tidak. Ia tida bisa berkata seperti itu. Ia tentu akan mengerti bagaiaman rasa sakit hatinya wanita jika pasanganmu tiba-tiba berbicara seperti itu. Ini bukan manga hentai yang ada pajangan toko.

Seperti kau melihat tokoh utama laki-laki yang mendapat banyak gadis. Namun, entah mengapa secara ajaib, sang gadis menerima wanita lain yang bersama kekasihnya. Dan jika sebaliknya, ketika Gadis mendapatkan lelaki lain dan misalnya sampai kehubungan intim. Betapa mengerikannya ketika kau adalah tokoh utama, namun gadis tersebut ternyata memiliki pria lain...

Naruto bukanlah tipe seperti komik. Ia telah menyadari dan peka akan emosi orang lain. Dan mengerti bagaiamana seseorang menerima kenyataan dan emosi yang sebenarnya di tunjukan. Tapi...itu jika manusia...

"Akeno.." Naruto mencoba berkata, namun jari yang menempel di bibirnya bekerja bagaikan kunci yang mengunci semua apa yang ingin di katakan oleh dirinya.

"Rias? Biar aku yang mengurusnya..nfufufufu. kau tidak mengerti sistem Iblis... Naruto-kun.."

Nada dan suara sensual itu lagi. Membuat Naruto memundurkan langkah kakinya ke belakang.

"aku tidak mengerti..."

Dan Naruto hanya terdiam di tempat.

XXXXXXXXXXX

"hm...kemana semua orang?" Naruto bertanya-tanya sesaat setelah membuka pintu Ruangan tersebut. Kantungan plastik yang penuh akan berbagai jenis makanan di taruhnya di meja tengah. Akeno berada di belakangnya sesaat..

Wajahnya datang dengan serius..

"kamui.."

Naruto tidak tahu apa yang terjadi. Namun dirinya hanya melakukan apa yang menurutnya benar ketika melihat seseorang yang ia kenal di serang.

"ada apa ini!?" Naruto melihat Yuuto yang terkapar dengan memuntahkan darah. Dan juga Issei yang terlihat tidak sadarkan diri.

"Naruto, tunggu!"

Dan itu sudah terlambat. Instingnya saat peperangan terkadang bekerja dengan sendirinya. Yang ada disaat peperangan adalah betapa cepatnya kau bereaksi, jika ada rekan yang terkapar, maka yang didepannya pastilah musuh. Naruto menghilang dari tempatnya, dengan kaki yang menghunus kelangit dan membawanya kebawah...

Gadis dengan rambut berwarna biru dengan potongan hanya hingga leher.

Hajar terlebih dahulu, baru pertanyaan.

"apa kau juga Iblis, kalau begitu aku akan menunjukanmu sebagaimana jauhnya dirimu dan kelas rendahan sepertimu." Gadis itu mengayunkan pedangnya dengan cepat. Namun bagi Naruto, itu hanya lambat. Tidak secepat Madara melakukan menggerakan tangannya. Baginya semua sudah lambat...

Naruto menggunakan kepalan tangannya kemudian memukul sisi tumpul pedang tersebut. Dan kemudian menghilang kembali.

Xenovia dengan cepat menggerakan kakinya dan menundukan tubuhnya untuk menghindari tendangan dari Naruto ...

"kau tidak berpengaruh dengan pedang suciku? Bagaimana mungkin?"

"jadi itu...yang di sebut pedang menarik. Seseorang mengatakan padaku, jika pedang suci memang memiliki kekuatan yang kuat. Dan juga bisa mengalahkan banyak musuh hanya dari sekali tebasannya... mungkin informasi itu terlalu di lebih-lebihkan? Yang kutemukan saat menyentuh pedang itu hanyalah kekuatan kecil..."

Gadis itu menghunuskan pedangnya dan Naruto meloncat dengan cepat, membawa tubuh Yuuto dan Issei.

"ahhh! Kau Xenovia, lihat-lihat dong kalau mau main tebas!"

"aku tarik kata-kataku tadi. Pedang itu menakjubkan. Seperti jamanku dulu saja..." Naruto menganggukan kepalanya sesaat telah menaruh Issei dan Yuuto di samping Rias dan yang lainnya. "jika ini tidak terjadi, aku tentu saja akan dengan senang hati mencoba pedangku dengan pedangmu. Dan melihat pedang siapa yang terbaik. Aku seharusnya tidak punya alasan untuk melawan kalian. Aku bisa membunuh kalian. Tanpa mengkhawatirkan siapa yang akan di salahkan..."

"kau...kau Manusia. Sepertinya kau telah ternodai oleh keburukan dan jatuh ke dalam dosa karena Iblis. Semoga Tuhan mengampuni dosa yang kau perbuat..."

Naruto tidak menjawab. Hanya diam dan membiarkan semuanya berlalu, Naruto berlari cepat menuju Xenovia. Menguatkan seluruh tubuhnya hingga dirinya bisa membawa kemampuannya. Chakra dengan perlahan keluar dari permukaan kulit Naruto. Terlihat oleh penglihatan mata.

"benarkah kau kuat?" Naruto mengambil langkah ke samping dengan malasnya. Menghindari pedang dengan kekuatan penghancur tersebut.

"kau sedang menyaksikannya." Naruto hanya terdiam dan membiarkan pedang itu menembusnya. Dan tentu saja menembus dirinya...

"sekali lagi. Benarkah kau kuat?" Nada Naruto semakin mendingin "kekuatan itu? Apakah itu kekuatanmu sendiri? Manusia tidak pernah belajar dari kesalahannya, karena kekuatan yang besar berada di genggamannya, mereka secara perlahan melupakan jati dirinya. Terlalu membanggakan diri akan kekuatan kecil yang mereka gunakan. Kau menjadi arogan."

Naruto memukul perut Xenovia. Dan sesuatu berbunyi... kejutan udara tercipta di belakang tubuh Xenovia akibat betapa kuatnya tekanan dari serangan tersebut. Air liur keluar dari mulutnya..

Namun ia masih kuat, dengan teriakan...Xenovia melepaskan diri dan menendang Naruto di dada, dan kemudan melompat ke udara dan menghunuskan pedangnya.

Dan Naruto hanya mengaktifkan kekuatan matanya.

Meskipun terlihat menembus dari tengah kepala. Namun semuanya hanyalah sia-sia. Naruto berdiri dengan tegaknya meskipun tanah yang hancur lembur di bawah kakinya.

"berbeda.." Dan Naruto menendang Xenovia dari kepala hingga terlempar belasan meter.

"AWAS KAU!"

"dan kita juga berbeda..." Naruto dengan cepat memegang pergelangan tangan Irina dan memutarnya ke arah lain. Bunyi juga terdengar dari tangan tersebut.

Xenovia mulai bangkit kembali. ia berkeringat. Terlalu cepat untuk di ikuti. Terlalu kuat untuk di hadapi...serasa...

"ya, kau mengetahuinya... kau menyadarinya. Aku berada di level yang berbeda dari orang yang selama ini kau lawan. Dan di saat kau menyadari bahwa pedangmu tidak berguna di saat aku berada di dalam mode ini...maka aku pun bisa membunuh dengan cepat. Di saat kau bergerak, ada ratusan cara yang bisa kubayangkan bagaimana aku harus membunuhmu..."

Naruto menutup matanya dengan lelah..."kau hanya anak kecil...rasakan kekuatanku" di saat Naruto membuka matanya.

Permukaan tanah bergetar dengan seketika. Kekuatan tidak terlihat bagaikan membawa mereka turun. Tanah retak dan terbelah bagaikan di tarik kedalam permukaan bumi. Dan intinya berpusar pada Naruto.

Tidak bisa bergerak. Xenovia yang berusaha berdiri hanya bisa melihat mata terdingin yang ia lihat. Bagaiakan mengadili dirinya. Tatapan itu dan kekuatan itu membuat tubuhnya tidak bisa bergerak. 'Gemetar? Apa ini?' Ia merasakan tangannya gemetar

Naruto tahu ini merupakan teknik lama. Jurus yang hanya mengandalkan Killing-intent dan juga bercampur chakra. Yang dilepas secara bersamaan melalui tubuh dan juga permukaan tanah. Semakin banyak Killing-intent dan juga Chakra yang dilepaskan secara bersamaan. Semakin hebat pula efek yang di citpakan. Namun itu tergantung dengan Chakra yang dimiliki oleh sang pengguna.

Teknik yang digunakan untuk memberikan penjelasan betapa bedanyan kekuatan seseorang, dan juga cara tercepat mengalahkan lawan dengan menjatuhkan mental.

'apa ini!? Hanya dari kata-kata saja ia sudah bisa mencitpakan kehancuran seperti ini. Siapa dia!? Aku tidak mendengar ada seseorang seperti dia berada di sini. Hanya dari kehadiran yang di lepasnya saja sudah membuatku tidak bisa bergerak?'

"apakah kau merasa spesial? Hanya dengan pedang ini saja?" Naruto berjalan mendekati pedang Xenovia yang terbaring tidak jauh darinya. Dan mengambilnya, memegangnya dan melihatnya. "hanya karena ini saja?"

Naruto mengayunkan pedang tersebut. Bagaikan merespon perintah Naruto. Kehancuran tercipta...

Dan seluruh permukaan tanah hancur tidak tersisa.

Dan semua orang yang menyaksikan hanya bisa melebarkan matanya ketika Naruto dengan mudahnya menggunakan pedang tersebut.

"bagaimana bisa? Bagaimana bisa kau menggunakan Excalibur!?" Xenovia berteriak tidak percaya. Ia menolak semua itu..

"begitu kah? Tadinya memang ada sesuatu yang serasa menolak sesaat aku memegang pedang tersebut. Namun kembali lagi dengan kekuatan mental. Dan ketika ku bilang kekuatan mental... aku bukanlah seseorang yang bisa kau remehkan. Jadi...apakah kau masih merasa spesial? Di saat kau melihat seseorang menggunakan pedang sucimu dengan mudahnya?" Naruto memutar-mutar pedang itu di genggamannya. Dan kemudian membuangnya ke samping Xenovia. Bagaikan sampah...

"Pedang itu tidak berguna. Pedang seperti itu hanya membuat pengguna yang tidak benar akan menjadi Arogan dan merasa yang terkuat... dan lihat apa dirimu sekarang tanpa pedangmu...kau hanyalah manusia biasa dengan tubuh yang lebih atletis."

"Naruto..cukup.. kau tidak perlu membuat mereka menderita lagi..." Rias dengan perlahan memeluk Naruto dari belakang. Kekuatan yang di pancarkan Naruto membuatnya takut. Ia bisa merasakan bagaimana emosi yang di pancarkan oleh Naruto. Sangat menakutkan. Membawa semua orang jatuh ke bawah permukaan yang tidak memiliki kekuatan sejajar kepadanya...

Dirinya tidak ingin merasakan rasa tidak berdaya itu lagi. Ia hanya ingin merasakan kehangatan yang di pancarkan Naruto. Bukannya rasa kehancuran dan tidak berdaya seperti ini.

Naruto menghela nafasnya. Ia seperti ini lagi. Ini bukan perang.

Ia selalu mengingatkan itu di dalam hatinya. Ia tidak perlu membuat musuhnya merasa tidak berdaya seperti ini... Masa lalunya serasa menghantui hatinya. Meskipun sudah berakhir, meskipun Madara sudah tidak ada lagi..

Namun insting seorang Prajurit di saat peperangan tidak akan pernah hilang. Secara efisien mencari cara untuk mengalahkan musuh secepat mungkin.

Dengan membawa emosi lawan ke titik kemarahan. Yang tentu saja akan membuat lawan gegabah...

Dengan menunjukan kesalahan dan betapa rendahnya musuh di hadapan hingga mentalnya hancur...

Dan menunjukan betapa bedanya kekuatan dirinya dengan musuh...

Dan itulah cara efektif mengalahkan musuh.

Cara licik namun ampuh...

Ia hanya menghadapi sosok lugu yang tidak mengerti perang sebenarnya.

"maafkan aku, terbawa suasana... Hal ini tidak akan terulang lagi... aku janji."

"itu tidak apa-apa, Naruto-kun...tolong jangan berikan aku perasaan ini lagi. Aku takut kau berubah..."

"maksudmu?"

"Koneko berkata padaku...kau menggunakan energi yang sama dengannya, namun lebih sering...dan mendengar bagiamana berbahayanya kekuatan yang kau gunakan..."

"ah...maksudmu begitu." Naruto menaruh tangannya ke kepala Rias. Dan tertawa halus..."tidak, aku tidak akan pernah berubah. Tapi terimakasih telah mengkhawatirkan-ku.."

"Naruto.."

"Rias.."

"Naruto.."

"Ria-" Naruto hampir mengulang panggilan itu, namun sesuatu yang dari masa lalu membuatnya wajahnya hilang dari warna alinya dan berganti dengan warna pucat "-stop!" wajah Naruto langsung full-panic mode. "Rias, apapun yang terjadi jangan pernah berbicara seperti tadi. Aku merinding. Seperti Guru Gai datang menghantuiku meskipun sudah waktu terlewat"

Pelayan dan Para pemegang Excalibur itu hanya keringat jatuh saat melihat ekspresi Naruto yang tidak biasanya mereka lihat.

Namun hal itu tidak berganti lama, ketika Naruto kembali ke wajah datarnya...

Dan ia pun menundukan kepalanya.

"maafkan aku menyerang kalian dan membuat kalian menyadari betapa berbedanya kekuatan kita. Hanya saja aku tidak suka dengan tipe orang seperti kalian. Yang merasa hebat hanya karena kalian memiliki kekuatan yang lebih dari yang lain. Dan jika kalian tidak di sadarkan, maka kalian akan tetap dalam ilusi dunia itu."

Mungkin itu tidak bisa disebutkan sebagai permintaan maaf. Melainkan suatu serangan terhadap ego...

Xenovia mengambil pedangnya yang berada di sampignya dan kembali menaruhnya ketempatnya. Ia tidak ingin mengatakan hal yang lebih dari seharusnya. Dan hanya terdiam sebentar, menghiraukan permintaan maaf Naruto. "Gremory, ingat perjanjian kita. Dan kau..."

"aku?"

"siapa namamu? Setidaknya aku harus mengingat siapa nama yang telah mengalahkanku..."

Naruto berpikir memberikan gaya pose Jiraiya, namun mengingat kemungkin an akan merusak Image yang telah ia dirikan selama beberapa tahun ini.

"Namikaze Naruto. Shinobi luar biasa yang tidak bisa kau temukan dimana pun, dan juga pernah menendang bokong beberapa dewa." Naruto berkata dengan wajah lurus, yang tidak di iringi akan tampang lelucon.

"humor yang lucu, Namikaze-san. Selain namamu, sepertinya aku tidak bisa mengetahuimu lebih dalam." Xenovia kemudian memberikan senyum tipis kepada Naruro dan mengangkat Irina yang pingsan di pundaknya dan berjalan pergi. Meskipun luka yang diterimanya cukup parah, namun berjalan pun masih bisa di lakukan.

Kebohongan terbaik adalah di mana dirimu mengatakan hal yang sebenarnya, sehingga orang yang mendengarkan-pun tidak mempercayai hal tersebut.

Naruto...kau hebat.

"hei, tangkap" Naruto melemparkan sebuah botol berisikan beberapa pil.

"...apa ini?"

"rahasia. Namun jika kau memakannya, energimu akan kembali dengan cepat, dan juga luka internal dan luarmu akan lebih cepat sembuh daripada cara tradisional. Anggap itu permintaan maaf yang kukatakan tadi... aku hanya terlalu terbawa suasana."

"kurasa aku bisa menerima hal ini. Jika kau Iblis, aku bisa saja menolaknya, namun kau adalah seorang Manusia sama sepertiku. Semoga Tuhan memberkati kebaikanmu.."

"ugh...apa yang terjadi?"

Issei membuka matanya, terakhir kali yang ia ingat adalah saat mencoba menggunakan Dress-break. Pada awalnya teknik itu akan digunakan untuk melawan Irina, namun ia meremehkan musuh. Dan selanjutnya yang ia ingat adalah kegelapan dan juga teknik Naruto-san.

"Hyoudo Issei, katakan...jika aku melatihmu cara menggunakan kekuatanmu se-efisien mungkin, apakah kau mau?"

Dan Issei menatap wajah serius Naruto.

Issei terdiam, dan kemudian melihat kembali luka yang diterimanya, yang pada saat ini sedang di sembuhkan oleh Akeno dan juga Asia. Tidak lebih dari dua menit...dan ia sudah kalah.

"apakah ini akan membuatku kuat?"

"tentu saja. Metode latihan ini adalah metode yang sama di ajarkan padaku dahulu kala. Aku bukannya mengajarkanmu gaya baru atau teknik yang keren, namun aku ingin kau menguasai teknik yang telah kau pelajari, hingga kau benar-benar menguasai hal tersebut dan menggunakannya dalam potensial penuhnya."

"mengapa...mengapa kau membantuku?"

"karena hal yang sama kukatakan kepada Akeno. Aku melihat diriku pada dirimu,"sebelum ada yang bisa berkata apa-apa, Naruto sudah memotong "kecuali bagian mesum. Terimakasih."

"dan kau...Kiba Yuuto. Aku melihat kebencian itu pada dirimu. Kebencian yang ingin kau lepaskan..." Naruto mengangkat tangannya ke langit.

"come.."

Terdengar suara bagaikan membelah awan. Membuat gendang telinga serasa ingin pecah.

Naruto meregap dengan cepat objek yang menuju dirinya. Sebuah Katana yang masih di dalam penutupnya.

Akeno dan Rias melihat pedang itu dengan terkejut.

"bukankah itu pedang yang kau pajangkan di dinding itu?"

Naruto hanya tersenyum tipis. Dan dengan perlahan mengeluarkan pedang tersebut dari pelindungnya. Cahaya terpantul matahari membuat mereka menutup matanya masing-masing. Pedang yang memiliki pegangan tradisional berwarna emas.

"perkenalkan, salah satu pedang yang termasuk kunci Neraka paling dalam..."

Dan aura hitam menyelimuti pedang Iblis tersebut.

.

.

.

Chapter 16...end.


Shit, shit. Shit. Perasaan gw campur aduk. Seharusnya ni chapter muncul 3 hari yang lalu... namun di saat waktu santai, dan membaca manga online. Gw gak bisa menghilangkan perasaan kosong yang berada di dada gw ini. Sakit. Nyesek. Dan semua itu adalah salah NTR, netorare.!( this piece of crap make me Angry for crying LOUD!) Pertamanya sih bagus, namun setelah baca chapter selanjutnya...ternyata gadisnya seorang...

Dan karena itu, menulis pun terganggu. Kalian yang pernah membaca manga NTR, pasti tahu gimana rasanya. Rasa sakit dan tidak bisa melupakan apa yang dibaca. Dan selama 3 hari itu saya mencoba untuk menghilangkan perasaan sakit itu. Dengan membaca vanilla hentai, atau manga full romance yang bagus. Meskipun sudah mereda, namun masih kebayang rasa sakitnya.

Mungkin chapter ini terpengaruh karena suasana hati yang galau hanya karena Manga NTR. Namun janji sudah janji...this chapter 16.

Waw, ni fanfic masih no 1 di fandom crossover Naruto indonesia. Gimana ngga bangga sih? Padahal ni cerita konsepnya pertama-tama hanya coba-coba. Asal-asal, dan tanpa pemikiran yang matang. Namun setelah sadar, saya mencoba untuk memperbaiki PLOT cerita ini. dan ditamah cerita-cerita lain yang hmpir mengejar... kurasa nggak bertahan lama. ah.. ga mikirin itu gw, yg penting gw sudah melakukan yang terbaik. ok

Meskipun terlihat masih rada-rada sangkut dengan canonnya. Namun saya sudah tidak bisa berjalan kebelakang dan saatnya memutuskan bagaimana cerita ini kelanjutannya. Dan sekarang, gw mau balik lagi nonton/baca... anime/manga yang romancenya bagus. Yang mampu merada penyakit yang diberikan NTR sialan!

Kalian ada yang tahu tentang Manga Gantz? Ada yang membaca sampai habis selain Gw? Kalau iya...brace yourself, because my mind was Filled with this Amazing Idea. An old Project, of course. Already finished, chapter 1.

Review, of course. Long review, short review. all of reviews...come to PAPA.

REVIEW!

VVVVVVVVVVV

VVVVVVVVV

VVVVVVVV

VVVVVVV

VVVVVV

VVVVV

VVVV

VVV

VV

V