Berita baik: cerita ini update.

Berita buruk: sang Author dalam kondisi yang...tidak baik. Saat ini berada di Rumah Sakit karena penyakit yang baru ini ia derita, menyebabkan cerita ini terlambat tanggal tayangnya. Mengetik aja sang Author susah pada saat ini. Dan pada akhirnya 'Saya' mengambil alih untuk sementara waktu menggantikan Kristoper21 yang saat ini dalam proses pemulihan. Cerita kedepannya masih sama seperti yang ditunjukkan oleh Kris, karena saya hanya bekerja dibagian penulisan untuk chapter ini dan mengikuti 'storyline' yang telah diberikan terlebih dahulu. Selanjutnya? Pemilik aslinya yang lanjut.

Alasan membantu? tidak ada. Ya..memang tertarik sih nyoba DxD, tapi yah gitu deh.

Dan perkenalan diri;

Saya merupakan teman dari Kristoper21. Kalian boleh memanggil saya...TadaBanri. Bukan nama asli tentunya. Mungkin ada yang mengenal saya dari nama tadi? Karena kebetulan saya seorang Author juga. Kemampuan menulis? Jangan takut, kemampuan saya lebih tinggi kok daripada si pemilik ni cerita (#Kamekameha by kris). Bahkan jika bukan karena AN ini, kalian mungkin tidak bisa membedakannya.


"Lagi!"

Sebuah suara memerintah terdengar sekali lagi. Bunyi demi bunyi terdengar di telinga. Suara benturan antara dua benda tajam yang selalu berulang-ulang tanpa ada yang berhenti. Percikan api kecil terlihat dari setiap kali kedua pedang itu bersentuhan satu sama lain. Terkadang percikan itu berubah warna menjadi biru.

Yuuto menahan serangan Naruto. Namun tidak berlangsung lama, karena kedua kakinya tidak bisa menahan tekanan dari serangan yang diberikan oleh lawannya, Dan akhirnya ia bergeser belasan meter dengan permukaan tanah yang juga ikut tergeser.

Nafas yang tidak teratur bisa terlihat dengan jelas dari Yuuto. Belasan jenis pedang bermunculan disekitarnya, siap digunakan oleh penciptanya. Ia mencoba untuk memikirkan rencana untuk memberikan serangan kepada Naruto. Namun, apapun yang ia coba tidak pernah berhasil dan dengan mudahnya dimentahkan oleh Naruto. Hal itu membuat dirinya frustasi.

Karena beban pikiran yang berada di dirinya saat ini menjadi satu. Namun meskipun memiliki pikiran buruk akan kejadian beberapa hari yang lalu, tetapi Kiba mencoba untuk menggeserkan pikiran itu untuk sementara waktu. Saat ini yang penting adalah fokus pada pertarungan yang sedang ia lakukan.

"Hanya ini kemampuanmu? Jangan bercanda! Aku belum memulai apa-apa!"

Kiba mengeraskan rahangnya sesaat mendengar perkataan Naruto. Kiba mengambil dua pedang besar mirip seperti pedang eropa, dan melesat ke Naruto dengan kecepatan yang ia miliki dari bidaknya. Kiba merasa Naruto sudah semakin mendekat di pandangan mata kemudian melompat tinggi dan menerjang Naruto.

Naruto yang berdiri tegak dengan Katana yang berada di tangan kanannya kemudian menatap Kiba yang berada di atas pandangannya. Dengan gerakan yang tidak terlalu berarti, Naruto menaikan Katana yang diselimuti energi hitam miliknya, dan menahan kedua pedang Kiba dengan satu tangan. Kejutan udara tercipta dari benturan itu.

"Kau terlalu mudah untuk dibaca. Mengapa kau harus melompat saat kau menyerang? Musuh akan mudah memberikan luka fatal saat kau berada di udara. Karena kau hanya berada pada satu tempat dan tidak bisa bergerak dengan bebas saat di udara, maka kemungkinan hal itu terjadi akan lebih besar daripada saat kau berada di permukaan tanah." Naruto kemudian mendorong Kiba menggunakan pedangnya.

Sesaat tanpa membalas perkataan Naruto, Yuuto kemudian melesat menghilang dari tempatnya, meninggalkan debu yang tercipta.

Naruto dengan kecepatannya kemudian juga membalikan tubuhnya dan menghunuskan katananya, memotong pedang Kiba menjadi dua sesaat bersentuhan.

Kiba kembali menghilang, dan pedang baru berada di tangannya. semua titik buta telah ia coba untuk ia serang menggunakan kecepatan yang dirinya miliki, namun Naruto dapat membalas dan menahan serangan yang dirinya berikan. Dan juga pedang berhandel biru tersebut, Yuuto tidak tahu pedang apa itu. Namun kekuatan yang dimiliki pedang itu jauh di atas rata-rata dari Pedang yang dihasilkan Sacred Gears miliknya.

Setiap kali pedang yang ia ciptakan berbenturan dengan pedang Naruto, retakan akan mulai terlihat dari setiap kali pedang itu bersentuhan; dan pada akhirnya...hancur.

Itulah sebab mengapa banyak pedang miliknya yang berserakan hancur memenuhi permukaan tanah sekitarnya.

Pedang dengan elemen api kini berada di tangannya, api panas yang menyelimuti seluruh permukaan besi tersebut. Dan kemudian di tangan kirinya pedang dengan elemen yang berlawanan muncul. Dengan kecepatan yang ia miliki, Kiba melesat dengan kecepatan di atas rata-rata.

Naruto mengambil langkah kebelakang, menerima serangan yang diberikan Kiba. Menahan dan mencoba untuk mementahkan setiap ayunan pedang tersebut. Api panas yang seperti menjilat permukaan kulitnya ia coba untuk ditahan. Dengan mengirimkan energinya kembali ke pedang tersebut. Energi hitam kemudian muncul dari pedang tersebut, bergerak memanjang bagaikan hidup. Dan selanjutnya pedang milik Kiba hancur untuk kesekian kali.

pedang muncul lagi di kedua tangannya.

Namikaze Naruto,

Ia tidak tahu harus berpikir apa tentang manusia di depannya. Kekuatan yang dia miliki jauh dari apa yang pernah ia lihat. Meskipun dirinya tidak pernah melihat Naruto menggunakan pedang sebelumnya, namun ini adalah pengalaman baru yang dirasakan oleh Yuuto. Kecepatan yang ia miliki berbeda jauh dengan Naruto pada saat ini. Ia tahu Naruto memiliki mata yang bisa membaca pergerakan lawan, namun saat ini Naruto tidak menggunakan mata itu sama sekali.

Kemampuan alami. Dan gaya bertarung yang Naruto bawa merupakan sesuatu yang dirinya juga pertanyakan, karena dirinya tidak pernah melihat teknik berpedang yang digunakan oleh sesama rambut pirang di seberangnya. Pada satu kesempatan, Naruto terlihat sangat lihai menggunakan pedangnya, dan di kesempatan lain, Naruto terlihat seperti pemula. Hanya karena kecepatan dan kekuatan dan dibalik serangan itulah mengapa Naruto pada saat ini tidak kalah.

Setidaknya itu menurut Kiba. Dan dirinya hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa manusia di depannya tidak memiliki gaya bertarung sama sekali.

Ia tidak bisa berpikir hal itu, ketika merasakan Naruto yang sudah berada di depannya, dengan cepat, Kiba pun menunduk menghindari pedang tajam Naruto yang hampir memutuskan kepalanya dari tempatnya.

Kiba menahan nafasnya, menyeimbangkan pedang yang berada di tangannya, kemudian menghunus ke atas. Namun, sepertinya kecepatan Naruto harus ia akui lebih tinggi daripada dirinya.

Naruto berputar di udara kemudian mendarat ke permukaan tanah tanpa ada kesalahan.

"Hei! Kau merobek jaketku! Kau tahu nggak berapa bulan aku harus menabung gajiku untuk membeli yang ini!"

"Bukan salahku Naruto-san.."

Rias, Akeno dan Asia memilih melihat latihan Kiba dan Naruto dari pinggiran, cukup jauh dari tempat kedua pemuda itu. Karena jelas saja, seberapa menariknya pertarungan itu untuk dilihat, namun mendekati radius kedua pemegang pedang itu sama saja minta bunuh diri.

"Wah...Naruto-san dan Kiba-san hebat." Asia tidak menyembunyikan kekagumannya ketika melihat apa yang terjadi di depannya, matanya kini berbinar dengan kekaguman akan pertunjukan kemampuan yang ditampilkan kedua pemegang pedang tersebut. Asia tidak bisa menjelaskannya seperti apa, karena memang dirinya tidak tahu menganalisis sebuah pertarungan antara pengguna pedang. Yang bisa ia katakan hanyalah 'Wosh..' 'Wuah..'

"Tentu saja." Rias menyambung dengan nada yang terlihat bangga, "Yuuto merupakan [Knight] handalanku."

"Ara, ara...itu karena dia memang [Knight] satu-satunya yang kau punya."

Rias menghiraukan apa yang dikatakan oleh Akeno. Tidak baik untuk merespon setiap 'ucapan' yang berasal dari [Queen] sadisnya. Rias mengalihkan pandangannya ke Asia yang saat ini berbicara.

"Tapi, aku tidak pernah menyangka Naruto-san bisa dalam seni berpendang. Padahal aku tidak pernah melihat Naruto-san bertarung sama sekali dengan pedang."

"Aku juga berada di lingkaran yang sama denganmu Asia-chan." Rias kemudian tersenyum, "Sepertinya, Naruto menyembunyikan rahasia lagi dariku." Wajah wanita muda itu kini tampak turun mengingat rahasia-rahasia yang belum dibagi oleh 'Kekasihnya'. Dirinya tidak tahu harus berpikir apa pada saat ini, orang yang ia cintai belum berani membuka isi hatinya sepenuhnya.

"B-Buchou..." Asia tampak ragu-ragu akan apa yang ia ingin katakan, namun keraguan itu telah hilang dalam sekejap. "Aku yakin Naruto-san memiliki alasan untuk hal itu. Yang bisa kita lakukan adalah bersabar." Asia terlihat ingin mengatakan sesuatu yang lebih, namun tidak bisa melanjutkannya ketika melihat senyum sedih dari Rias.

"Terimakasih Asia. Aku harap juga seperti itu.."

Rias kembali memperhatikan pertarungan di depannya. Menaruh pikiran mengenai hubungannya ke belakang pikirannya. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu.

Terilhat Yuuto dengan jelas di matanya sudah mulai memasuki batasannya, keringat yang bercucuran dan gerakan yang tidak berguna mulai ditunjukan oleh Yuuto beberapa menit belakangan ini. Dan ayunan pedangnya pun terlihat sudah tidak bertenaga lagi.

Rias harus menelan kembali kenyataan di depannya. Meskipun sudah melakukan latihan ekstrem, namun sepertinya hal itu masih belum cukup bagi dirinya maupun keluarga Iblis miliknya. Mata Rias kemudian menoleh ke arah samping, tempat Issei berada.

Tatapan serius dan penuh tekad. Issei memperhatikan pertarungan di depannya dengan mengikuti setiap pergerakan. Sepertinya Issei juga tidak mau ketinggalan.

"Dan aku menang."

Kiba menelan ludah yang serasa tertahan di mulutnya. Kedua matanya mengikuti bentuk elegan Katana yang saat ini hanya berada beberapa 1 cm lebih dari mengenai permukaan kulit lehernya. Dengan menjatuhkan pedang hasil Sacred gears miliknya, Yuuto pun mengangkat kedua tangannya..

"Aku menyerah."

Yuuto dengan tersenyum kemudian mengambil tangan yang diulurkan Naruto. Dan dengan bantuan itu, ia pun berdiri dari posisi duduknya.

"Dan apa yang kau pelajari dari latihan tadi?" Naruto bertanya dengan serius. Meskipun pandangannya pada saat ini berada kepada jaket yang berada di tangannya. terlihat penyesalan dan kesedihan terpampang saat memegang potongan jaket koleksinya.

"Banyak hal," Kiba berusaha mengacuhkan apa yang dilakukan Naruto pada saat ini, "Kamu memang hebat, Naruto-san. Kurasa aku masih jauh dari kemampuanmu."

"Aah, jangan terlalu merendahkan dirimu. Satu-satunya alasan mengapa aku menang adalah pengalaman. Sudah jelas aku melihat kemampuanmu tadi jauh dari diriku. Bahkan seumur hidupku aku hanya pernah memegang pedang tiga kali. 'Gaya bertarungku' aja terlihat asal-asalan."

Naruto membalas dengan menghela nafas lelah. Menampilkan ekspresi 'bebas' dan santai; berbeda dari ekspresi yang sering ia gunakan, yaitu: serius. Pedang yang berada di tangannya kini menghadap ke tanah, dan menusuk permukaan dan memutarnya di antara jemarinya. Sedangkan jaket abu-abu yang sebelumnya berada di tangannya kini telah berada di tong sampah yang tidak jauh dari tempat mereka berada.

"Berarti kamu memiliki bakat dalam seni berpedang, Naruto-san." Kiba tertawa halus sambil mengusap keringat yang berada di sekitar dahi dan lehernya.

"Jangan terlalu memujiku, nanti aku malah besar kepala lagi. Lagipula sudah kukatakan, hanya karena pedang yang berada di tanganku dan pengalaman yang membuatku bisa mengalahkanmu dalam sparring ini."

Sesaat mendengar itu, Kiba melihat benda yang dimaksudkan oleh Naruto, dan dirinya hanya bisa menaikkan alis mata dengan tertarik akan kekuatan yang dipancarkan oleh pedang itu. Sekilas dirinya sudah tahu, bahwa pedang itu bukanlah pedang suci atau pedang yang memiliki legenda. Jika memiliki cerita dibalik itu sendiri, dirinya pun tidak yakin bahwa pengetahuannya akan pedang berguna di sini.

Yuuto masih mengingat apa yang dikatakan oleh Naruto mengenai pedangnya. Jika apa yang dikatakan Naruto benar, maka benar pedang tersebut merupakan sebuah pedang yang kuat atau setara dengan pedang suci.

Namun yang membuat dirinya bingung adalah seberapa kuatnya pedang tersebut.

Karena Yuuto Kiba tahu akan satu fakta saat pedang tersebut berbenturan dengan pedang miliknya;

Pedang tersebut tidak dalam kondisi penuhnya.

Atau lebih tepatnya menahan diri...

Hanya sebongkah es kecil di atas permukaan air. Sedangkan di bawah permukaan?

Issei berjalan cepat dengan wajah penuh kekaguman. Melihat kedua pemuda sebayanya yang sedang berbicara.

"Waw, meskipun aku tidak ingin mengakuinya karena kau orang populer-" Issei menepuk kedua tangannya secara horizontal, "-Tapi, kalian benar-benar hebat! Mataku saja kesusahan mengikuti pergerakan kalian. Pertama kalian berada di sana dan kemudian dalam sekejap kalian sudah berada jauh!"

Naruto dan Kiba tersenyum mendengar pujian tersebut, tapi perkataan selanjutnya membuat senyum tersebut jatuh atau lebih tepatnya menjadi minus.

"Jika saja aku mempunyai kecepatan seperti kalian, tentu saja aku bisa kabur lebih cepat jika aksi mengintip di Klub Kendo ketahuan!"

Kiba hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saat mendengar jalan pikir Issei yang sepertinya sedikit..aneh.

"Aku juga bisa membuatmu secepat itu kok. Hanya perlu sedikit perubahan di sini dan sini dan sono.."

"Yang betul!?" Issei bertanya dengan antusias, tidak menyadari raut wajahnya saat ini seperti apa. Ketika melihat anggukan dari Naruto, Issei melompat-lompat seperti Hari Natal datang lebih awal. "Kau benar-benar sahabatku, Naruto."

Dan di saat yang bersamaan, Rias dan Grup Iblisnya yang lain menunjukan wajah mereka. Tersenyum melihat interaksi mereka.

Akeno tanpa banyak bicara, langsung datang kehadapan Naruto dan mengusap keringat yang terlihat jelas di wajahnya menggunakan handuk berwarna oranye yang muncul entah dari mana. Dengan lembut, dan juga gerakan yang sedikit berlebih. Naruto hanya membiarkan tersebut, namun mengucapkan terimakasih atas kebaikan yang diberikan Akeno.

Yang tentu saja membuat Rias mengkerutkan alis matanya sesaat melihat hal itu.

"Apa yang kau lakukan, Akeno?" Rias bertanya dengan semanis mungkin, namun siapapun yang mendengar itu bisa merasakan maksud lain dari nada tersebut.

"Fufufu...tentu saja, aku membantu Naruto-kun membersihkan dirinya." Akeno menaruh jari telunjuknya di bawah ujung bibirnya dan tersenyum manis. "Naruto-kun merupakan orang yang kurang perhatian akan kebersihan, dan sebagai' gadisnya' yang baik...tentu saja aku membantunya sebisa mungkin."

Akeno memperdalam senyumnya, dan kini senyum tersebut telah berubah seperti senyum lugu.

"Karena ada seseorang yang ngaku-ngaku perhatian sama Naruto-kun tidak bisa mengambil inisiatif apa yang seharusnya dilakukan, karena itu aku mengambil...'tokoh' itu."

Dan mata Akeno dan Rias saling menatap sama lain.

"Gadisnya?"

Pause..

Asia sudah mengambil tempat di belakang Issei. Entah mengapa Asia ingin menjauh dari kedua kakak Kelasnya. Koneko hanya diam di tempat, tetap pada ekspresi datarnya, namun sepertinya sudah mengambil langkah ke samping yang cukup jauh.

Issei memalingkan kepalanya ke arah Naruto. Ekspresi bahagia, bersahabat, dan tersenyum lebar kini telah jatuh dari pengaku-ngaku 'Raja Harem'.

"Aku tarik kata-kataku tadi, kau bukan sahabatku."

Naruto yang merasa situasi yang menegang, kemudian melihat ke langit yang sore, dan menepuk kedua tangannya, seketika membawa perhatian orang-orang. "Ha, sudah menjelang malam sepertinya aku harus pulang, bye! Ayo Yuuto!"

Naruto menarik tangan Kiba yang tidak tahu apa-apa, dan berjalan dengan cepat. Ketika kedua pemuda itu tidak ada lagi dari radius penglihatan, Akeno kemudian menatap Rias dengan tersenyum..

"Sepertinya Naruto-kun lebih tertarik pulang bersama Yuuto daripada bersamamu Rias... padahal...kamu tinggal bersamanya, 'kan?" Akeno membuat nada suaranya setidak-bersalah mungkin.

00000TadaBanri ft Kristoper21XXXXX

Kiba menunggu Naruto dan menyandarkan punggungya ke dinding gang kecil yang saat ini mereka berada. Sedangkan Naruto kini berada di pokokan jalan tepatnya di depan mesin minuman.

"Ini.."

Kiba mengambil jus kalengan yang disodorkan Naruto. "Ah, terimakasih Naruto-san. Akan kubayar nanti.."

"Tidak usah." Naruto melambaikan tangannya, sedangkan tangan satunya sedang sibuk memegang minuman soda yang tadinya ia beli. "Hal seperti ini tidak usah dijadikan masalah."

Naruto menyandarkan punggungnya ke dinding juga, dan mengela nafas.

Mengingat hari sudah menjelang, yang tepatnya jamnya kebanyakan anak sekolahan pulang, tidak heran banyak pejalan kaki yang lewat di antara mereka. Dan tentu saja mereka menjadi pandangan sesaat bagi pejalan kaki, khusunya siswi SMP maupun SMA. Dan kebanyakan dari mereka cekikikan tidak jelas.

Kiba sebagai Gentleman sejati, hanya tersenyum manis membalas tatapan yang diberikan pejalan kaki , yang tentunya pada akhirnya membuat perempuan-perempun mempercepat laju jalannya, tentunya dengan wajah memerah. Sedangkan Naruto hanya memberikan tatapan datar, atau lebih tepatnya tatapan bosan.

"Apa kau tidak pernah merasa terganggu terhadap cewek-cewek yang ngikutinmu terus, Yuuto?" Naruto bertanya dengan nada sedikit kesal. Di dalam pikiran Naruto pada saat ini, dirinya sedang mengalami flashback, di saat dirinya masih berada di akedemi. 'Pantas saja Sasuke-teme tidak menyukai Fans-girlsnya, padahal aku kira dia gay, ternyata...' Naruto merinding tanpa alasan. 'Tatapan mereka seperti menelanajangiku dari atas ke bawah.'

Sedangkan Yuuto yang mendengar itu hanya tertawa halus. "Hm..tidak juga sih." Kiba pun memberikan senyum alakadarnya, "Asalkan caranya benar, maka mereka dengan sendirnya akan menjauh, tanpa harus membuat seseorang sakit hati."

"Masa? Terus mengapa setiap jam istrahat pasti ada saja perempuan yang ngelilingi kamu?" Naruto menyindir.

"Ah itu..."

"Huh..."

Kiba menatap raut wajah Naruto yang saat ini menghadap jauh ke jalan. Pandangan jauh dan ekspresi yang terlihat dalam masalah.

"ini ada kaitannya dengan Buchou dan Akeno-senpai, bukan?"

"Ahhh... jangan ingatkan aku." Naruto meneguk minuman sodanya, "Kau tidak mengerti apa yang terjadi beberapa hari ini. Mereka seperti siap menggorok leher satu sama lainnya. Bahkan aku kekurangan tidur karena ulah mereka. Hei! Apartemenku hampir meledak saat mereka berkunjung.

Kiba bisa membayangkan apa yang Naruto katakan, dan jujur saja; dirinya tidak ingin berada di situ ketika kejadian itu terjadi.

Yuuto meneguk jus jeruk yang diberikan oleh Naruto. "Tapi memang, ini kali pertama aku melihat mereka seperti itu. Tapi kurasa engkau merupakan orang yang beruntung bisa mendapatkan kasih sayang mereka berdua. Banyak orang yang telah mencoba untuk mendekati mereka, namun sepertinya tidak ada yang berhasil."

"Termasuk kau?" Naruto bertanya dengan menaikkan alis matanya.

"Ah, tidak. Aku tidak memiliki ketertarikan seperti itu kepada Rias-buchou, maupun Akeno-senpai." Kiba menengadahkan kepalanya ke langit, menyembunyikan ekspresinya yang saat ini dari Naruto. "Aku lebih menganggap mereka seperti Keluarga..."

"Oh, begitu... kukira kau Gay."

Kiba menatap Naruto, dan mengedipkan matanya, "Kau ingin membuktikannya?"

"HIEE! MENJAUH!"

"Ha ha ha ha ha...bercanda-bercanda. Aku masih normal kok." Kiba mengecilkan suaranya. "Hanya saja ada suatu hal yang harus bisa kuselesaikan sebelum aku bisa memikirkan hal seperti itu."

Naruto yang tadinya dalam mode panik kemudian perlahan kembali ke ekspresi datarnya. Meskipun Yuuto mengecilkan suaranya tadi, namun Naruto mendengar dengan jelas apa yang dikatakan oleh pemuda tampan tersebut. Dan tidak butuh berapa lama, Naruto sudah mengerti apa yang dimaksudkan.

"Balas dendam..."

"..Ya." Kiba tersenyum sedih. "Aku tidak bisa beristrahat dengan tenang, ataupun memikirkan hal lain jika aku belum bisa menyelesaikan permasalahan itu." Kiba memalingkan pandangannya ke Naruto.

"Apa Buchou yang memberitahumu? Mengingat dia.."

"Ha...tidak." Naruto memotong,

"Hanya saja...Kata-katamu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Dia juga memiliki keinginan untuk balas dendam terhadap seseorang yang telah membuat kehidupannya menjadi berantakan. Di dalam pikirannya hanya ada satu, dan hanya itu tujuan dalam hidupnya hidupnya."

"Begitu ya.." Kiba menatap Naruto, ingin mendengar lagi tentang sosok tersebut.

"Dia berlatih. Dia berlatih lagi. Mencari kekuatan. Kekuatan dan kekuatan lagi. Dia tidak pernah puas dengan apa yang ia miliki. Dia selalu merasa tertinggal jauh di belakang. Hingga pada akhirnya ia melupakan orang di sekelilignya, orang yang menganggap dirinya teman hanya untuk tujuannya tersebut. Dan suatu saat dia bertemu dengan orang yang telah menghancurkan hidupnya."

Kiba terdiam sesaat, waktu serasa lama telah berlalu.

"Apakah dia berhasil?" Suara Yuuto terdengar mengecil, "Apakah dia berhasil mencapai impiannya? Menghancurkan orang yang telah membuatnya menderita?"

"Dia berhasil." Kiba mengepalkan telapak tangannya, namun kata-kata dari Naruto selanjutnya membuatnya membeku.

"Dan yang tertinggal di dalam hatinya adalah kekosongan."

"Mengapa begitu? Bukankah seharusnya dia bahagia dengan apa yang telah ia raihnya!? Bukankah seharusnya ia lega telah menghapus keberadaan orang yang telah membuatnya menderita!?"

Raut wajah Kiba kini telah berubah, hilang sudah senyum lembut yang ia miliki dan yang membuatnya terkenal. Yang sekarang adalah raut wajah jelek yang penuh akan kemarahan. Mata yang serasa akan membunuh siapa saja di jalannya. Topeng yang telah jatuh dari wajahnya, menunjukkan betapa hitamnya hatinya pada saat ini.

Naruto terdiam sesaat, mempelajari raut wajah Kiba pada saat ini. Dirinya tahu kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulutnya akan mengakibatkan dampak yang keras terhadap pemuda di sampingnya.

"Tidak. Dia tidak merasakan hal itu, dia hanya semakin jatuh ke dalam kegelapan yang sudah merasuki hatinya. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah menghilangkan keberadaan orang yang menjadi tujuan hidupnya. Ia terkapung-kapung tidak tahu arah setelah mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan dari dirinya. Dan pada akhirnya ia menyalahkan semuanya...semua yang membuat kejadian itu terjadi. Ia penuh akan kegelapan.."

Naruto ingin melanjutkan apa yang ingin ia katakan, namun menahannya. Karena dirinya ingin membuat Yuuto mengerti dengan apa yang akan ia jalani. Jujur saja di dalam hati Naruto, ia tidak ingin melihat orang yang masih dalam tujuan hidup untuk membalas dendam.

Yuuto mengeraskan rahangnya, tatapannya jatuh ke permukaan aspal di bawahnya, tangan kanannya menjadi kepalan tinju.

"Yuuto, Balas dendam merupakan emosi yang jelek. Emosi yang membuatmu pada akhirnya tidak mengenali lagi siapa dirimu yang sebenarnya. Membuatmu melupakan temanmu yang selalu ada untukmu. Yang bisa membuatmu melakukan hal yang tidak terpuji. Membuatmu menjadi hal terburuk yang pernah kau bayangkan."

"Apa...Apa yang kau tahu, hah!? Kau tidak tahu apa-apa yang kuderita! Kau tidak mengerti apa yang harus kulewati! teman-temanku semua mati hanya karena percobaan bodoh! Apa maksudmu aku harus menghilangkan rasa dendam ini!? Bagaimana dengan teman-temanku!? Bagaimana dengan pengorbanan mereka!? Apa aku harus diam, dan hanya berperilaku layaknya pangeran seperti orang lihat!? Tidak!"

"Ya." Naruto menjawab dengan serius, nada bagaikan tembok yang tidak bisa dilawan. "Karena banyak orang yang sama sepertimu, melakukan hal yang sama sepertimu. Dan kau tahu? Mereka pada akhirnya menyesal akan apa yang mereka lakukan. Tanpa kehidupan. Kehilangan arah. Merasa kosong. " Naruto menelan ludahnya, "Dan bagiku juga...Karena aku juga pernah berada di jalan yang sama sepertimu."

"Kau..Kau tidak akan mengerti.." Kiba menggelengkan kepalanya dengan pelan. "Kita tidak sama." Kiba memberikan Naruto tatapan yang jelas terlihat ternganggu dengan pembicaraan yang mereka lakukan.

"apakah ini alasanmu berbicara padaku? Untuk menasehatiku akan apa yang akan kulakukan? Jika iya, maka pembicaraan ini sia-sia, Uzumaki-san "

Naruto menangkap nada dari Kiba, dan penggunaan nama panggilan tersebut.

"Aku hanya ingin mengingatkanmu, balas dendam bukanlah jalan untuk segalanya. Ya..itu memang benar salah satu alasan mengapa aku membawamu bicara adalah mengenai kejadian beberapa hari ini. Aku melihatmu sering melamun, dan emosi yang ingin membludak dari tubuhmu. Dan saat kau bertemu dengan kiriman Gereja itu, kau ingin lepas kendali.."

Wajah Kiba kini mengkerut.

"Dan begitulah saat kau berhadapan dengan pengguna Excalibur yang dikirim oleh Gereja. Aku melihatmu bagaimana dirimu melihat mereka. Bagaimana tatapan benci, dengki, yang terlihat dari tatapan matamu, hanya karena mereka memegang pedang itu. Bukankah karena pedang itu kau menderita? Aku melihat topeng yang saat ini kau gunakan.. kau mencoba mengatakan bahwa dirimu baik-baik saja, tapi di dalam kau keinginan dan niat buruk telah muncul di permukaan kulitmu."

"Diam!"

Kiba menarik kerah Naruto, dan mencengkramnya dengan keras. Menatap mata Naruto, dan menunjukan ekspresinya yang tidak pernah dilihat oleh orang lain. Namun, Naruto masih di tatapan datarnya..

"Kau ingin menghancurkan pedang itu."

Setiap kata yang dikeluarkan Naruto semakin dingin.

"Kau bahkan bersedia menyingkirkan mereka untuk mencapai tujuanmu."

"Diam!"

"Tapi apakah mereka bersalah?"

"Apa pedang itu melakukan sesuatu yang keji terhadapmu?"

"Pedang tidak bisa berbuat apa-apa jika tidak ada yang menggenggamnya, apakah pedang yang membunuh? tidak, tapi mereka yang memegang. Apakah pedang yang kau lihat itu yang menjadi masalah? Bukan. Apakah temanmu mati karena pedang itu? tidak." Naruto menaruh kedua telapak tangannya ke dada Kiba,dan tekanan gravitasi mendorong Yuuto beberapa meter.

"Mereka mati karena orang yang mengendalikan eksperimen itu. Jangan salahkan sesuatu yang tidak bisa bergerak, dan sesuatu yang bukan hidup. Salahkan siapa yang membuatmu begitu. Dan kau tahu siapa orangnya.."

Naruto menajamkan matanya menatap mata Kiba, "Kau...sudah kuanggap temanku sendiri. Aku telah melihat bagaimana Rias dan yang lainnya melihatmu. Mereka menganggapmu teman, mereka menganggapmu saudara mereka sendiri. Mereka menyayangimu. Dan apakah semua akan kau buang untuk balas dendam? Apakah kenangan, dan ketulusan keluarga yang kau dapat akan kau tinggalkan, Demi mengejar masa lalu?"

"Jika iya, sebaiknya kau menggali dua kuburan; yang satu untuk musuhmu dan yang satunya lagi untuk...dirimu."

Yuuto menatap Naruto untuk sekian kalinya, kemudian ia membalikan badannya dan mulai berjalan. Menghiraukan pejalan kaki yang ia tabrak berulang kali.

Mata Naruto melihat sekelilingnya. Melihat orang-orang yang tadinya melihat kejadian tadi.

Ilusi jatuh dari mata Naruto, menampakkan mata Sharingannya. Tiga tomoe berputar melingkari.

"Maaf, kalian melihat dan mendengar sesuatu yang seharusnya tidak kalian lihat. Genjutsu..."

O0O0

Naruto kini berada di sebuah taman, ya...taman tepatnya di mana ia hampir gagal menyelamatkan Issei dari kematiannya.

Ia duduk di kursi panjang yang tepatnya merupakan tengah taman tersebut. Dengan pohon rindang di belakangnya, dan sebuah tiang lampu yang menerangi kegelapan malam.

Dan bulu mirip gagak mulai berjatuhan di pandangannya, hitam bagaikan malam. Sesosok figur telah berdiri di depan Naruto, dengan empat sayap hitam yang melebar ke segala arah. Rambut hitam yang menghiasi wajah cantiknya.

"Tuan.."

Naruto terdiam sesaat menatap sosok yang tiba di depannya, dan Naruto tersenyum dengan lembut.

"Ah...Raynare. Malam yang indah, bukan?" Naruto kemudian menepuk-nepuk kursi kosong yang berada di sampingnya, "Duduklah, jika kau berdiri terlalu lama, maka kau akan lelah."

"Terimakasih, Tuan."

"Berapa kali aku harus bilang, panggil aku Naruto. Aku bukanlah tuanmu, aku adalah temanmu. Kau pasti kesusahaan mencariku"

"Tidak. Aku baru saja ingin ke Apartemenmu, dan mengingat taman ini jalan pintas..."

"Hm...begitu ya." Naruto tersenyum, "Bagaimana dengan Kalawarner?"

"Dia baik-baik saja. Kami tidak tahu harus bagaimana, tapi entah mengapa tidak ada Malaikat jatuh yang mengejar kami. Padahal kami merupakan pengkhianat."

"Oh, itu bagus, bukan?"

"Dan aku tahu ini semua ada hubungannya dengan kamu.." Raynare tersenyum menuduh.

"Tidak." Naruto menggelengkan kepalanya dengan tatapan datar.

"Terus kenapa aku melihat Orang yang identik denganmu berada di depan Apartemen kami, yang sayangnya merupakan kedai Ramen. Kau tahu? Klonmu itu membuat kegaduhan karena rekor Ramen yang ia makan?"

"Sial. Aku tidak mengira mereka sebodoh itu." Naruto menghadap ke samping 'Entah mengapa kebodohan mereka tidak pernah hilang-hilang.'

Naruto memutar lehernya ketika mendengar cekikikan halus. "hm?"

"Kau sama saja mengatai dirimu sendiri."

Naruto mendekatkan tubuhnya ke wanita berambut hitam tersebut, wajah yang hanya beberapa centimeter dari bersentuhan..

"Tapi...apakah kau merasa aku bodoh?"

"...Ti-tidak."

Naruto kemudian tersenyum lebar, dan kembali ke posisi semulanya.

"Kau benar, aku memang masih mengawasi kalian. Atau lebih tepatnya keselamatan kalian." Naruto menyentuh sayap hitam yang berada di punggung Raynare dan mengelusnya dengan lembut. "Jadi, kau mendapat sepasang saya yang baru, ya?"

Raynare tersenyum mendengar itu.

"Kurasa Klonmu melakukan kerja yang bagus melatihku. Aku kira, Klonmu akan datang hanya untuk melatihku dan Kalawarner, ternyata mereka juga berada di sekitar kami."

Masalah itu, ya Naruto tahu apa yang ia lakukan. Setelah Kalawarner dan Raynare pindah tempat, mereka berdua meminta diri agar dilatih, atau lebih tepatnya dibimbing. Meskipun Naruto kurang tahu mengenai cara berkembang Malaikat jatuh, namun sepertinya latihan ekstrem ala Lee masih berguna. Jumlah sayap merupakan pertanda seberapa kuatnya seorang Malaikat. Jika mereka menaruh usaha dan kerja keras untuk berlatih, maka kekuatan pun akan berada di depan mata. Dan begitu juga sayap mereka yang akan bertambah jika kekuatan mereka meningkat.

"..Maaf."

"Hm?"

"Karena tidak bisa secara langsung datang menjumpai kalian; Dan hanya mengirim klon untuk memeriksa keadaan kalian. Tapi, belakangan ini keadaan memaksaku untuk tidak bisa datang secara langsung."

"Ah, tidak masalah." Raynare memberikan senyuman pengertian. "Meskipun hanya Klon, tapi itu sama saja dengan dirimu. Meskipun dikesibukan, kau masih memikirkan kami, kurasa itu sudah cukup."

Naruto mengambil catatan mengenai perubahan perilaku Raynare. Sepertinya apapun yang dilakukan Klon darah itu membuat kepribadian Raynare berubah sedikit.

Dan Naruto mengambil catatan lagi mengenai klon darah yang ia ciptakan. Karena...belum ada satupun yang meledakkan diri. Menyebabkan ingatan berharga untuk satu bulan belum terkirim ke otaknya. 'apalagi sih yang mereka lakukan?'

"...Gadis itu.."

"Asia, ya?.." Mendengar tidak ada respon dari Raynare, Naruto kemudian melanjutkan. "Dia baik-baik saja. Sepertinya dia sudah kembali normal lagi sejak menghabiskan waktu bersama keluarga barunya. Tidak ada gejala trauma atau hal yang berlebihan mengenai kejadian itu."

"Begitu.."

"Tapi kurasa ini ada hubungannya dengan Issei."

Mendengar nama itu membuat Raynare terdiam sesaat, serasa menahan nafasnya mendengar orang yang telah ia tipu, perdaya, dan akhirnya membunuhnya.

Naruto mengetahui sejarah mengenai Raynare dan Issei hanya melanjutkan pembicaraanya, tidak menyinggung kejadian yang pernah terjadi.

"Bocah itu meskipun sifat alaminya dan kebiasaannya, merupakan orang yang baik di dalam hati, dia dengan perlahan membawa Asia dari kenangan gelap yang pernah ia alami dan menjadikan gadis itu sosok yang cukup periang meskipun masih lugu. Jika bukan karena keberadaan Issei, kurasa Asia saat ini masih akan memiliki teringat masa lalunya. Gadis suci yang menjadi Iblis, namun masih mempertahankan hatinya yang tidak bernoda tersebut. "

"Syukurlah." Raynare mengepalkan kedua tangannya, "Jika diberikan kesempatan, aku ingin minta maaf padanya. Meskipun aku tahu dia tidak akan mungkin memaafkanku, mengingat apa yang telah kulakukan kepadanya."

Raynare menatap Naruto dengan senyum sedih, "Karena darimu aku mengerti, aku tidak perlu mencuri kekuatan orang lain untuk menjadi kuat. Hanya menjadi diriku, Memiliki kemaun dan tekad, maka aku bisa menjadi apa yang kuinginkan. Pada awalnya aku hanya ingin diterima..."

Raynare mendekat, dan mencium pipi kiri Naruto, waktu serasa bergerak lebih lambat bagi Naruto.

Jantungnya serasa berdetak sekali lebih cepat dari biasanya, namun kemudian kembali semula secepat datangnya.

Dan Raynare melepas sentuhan bibirnya, dan menatap Naruto dengan pipi memerah.

"Hanya dirimu, kurasa itu cukup."

Naruto menginginkan ingatan klonnya ...sekarang. Apa yang terjadi dalam jangka waktu yang terlewat.

Namun perkataan Raynare yang sebelumnya membuat Naruto mengeluarkan senyum dari lubuk hatinya terdalam.

Pemuda berambut kuning itu menaruh jemarinya ke kepala Raynare, dan mengelusnya dengan lembut.

"Asia pasti akan memaafkanmu. Menyesal adalah awal yang baik untuk sebuah kata maaf."

Naruto dan Raynare menghabiskan waktu berbicang-bincang di taman tersebut. Dengan topik yang normal dan kemudian keseharian yang dilakukan Raynare dan Kalawarner; dan juga kesaharian yang dilakukan oleh Klon miliknya. Dan Naruto seperti menekan Raynare untuk memberikan informasi mengenai apa yang dilakukan secara mendetail oleh klon darah miliknya. Dan waktu pun tidak terasa terlewat...

"Jika saja mereka bukan klon darah, sial. Dan mengapa aku harus membuat mereka bisa bertahan 2 bulan, hah..."

Dan Raynare hanya berusaha menahan tawa yang ingin lepas dari bibirnya. Ternyata kepribadian klon dan yang asli berbeda.

Raynare mengalihkan pandangannya sesaat ke tiang jam yang tepat berdiri di tengah taman. "Jam 12?"

"Sepertinya kita terbawa pembicaraan," Naruto menghela nafasnya sesaat, dan kemudian tersenyum. "Tapi aku senang kalian baik-baik saja, meskipun kelakukan klonku yang antik."

Raynare menahan suara yang ingin keluar dari mulutnya mengenai ekstremnya latihan yang diberikan oleh Klon milik Naruto.

"Sebaiknya aku pulang, Kalawarner pasti akan cemas. Aku lupa memberitahunya ke mana aku akan pergi."

"Begitu ya...sepertinya aku juga." Naruto tersenyum,"Kirim salam untuk Kalawarner, Ai."

"Ai?"

"Nama panggilan untukmu, di ambil dari Ray, dan y diganti dengan 'i'. Ai..."

Ai...cinta.

Raynare seperti membeku mendengar hal itu. Dan membuat Naruto sedikit khawatir, "Ah maaf, jika kau kurang suka. Kurasa aku-"

"Tidak," Raynare memotong dengan cepat, "Aku suka dengan nama panggilan itu." Membuatku seperti lebih special di matamu.

Dan malam dijatuhi bulu-bulu hitam.

XXXXXXXXX

Naruto tiba di depan pintunya, merogoh saku kirinya, namun tidak menemukan apa yang ia cari dari awal...kunci. dan ingatan pun kembali datang menyadarkan Naruto. Ah..ya.. Rias. Naruto mengingatkan dirinya untuk membuat duplikat kunci tersebut.

Dengan menghela nafas, Naruto sudah bersiap menggunakan Kamui. Mengetok pintu merupakan hal yang tidak sopan. Mengingat waktu yang sudah larut malam, dan mungkin Rias sudah tertidur.

Naruto mencoba iseng memeriksa keadaan pintu, dan dirinya menghela nafas lega ketika pintu ternyata tidak dikunci.

Dengan perlahan Naruto menutup kembali pintunya, berusaha tidak membuat bunyi sekecil apapun yang mungkin akan membuat Rias terbangun.

Dan ketika ingin ke dapur untuk mengambil secangkir air dingin. Naruto membeku di tempat, tepat di depan meja makan.

Sajian yang di tutup dengan rapi, dan sepertinya sudah dingin. Dari kelihatannya sepertinya sebuah hidangan sup Miso. Tapi bukan itu alasan yang membuat Naruto tidak bergerak..

Tapi sosok dengan rambut merah yang sepertinya jatuh ketiduran di kursi, dengan kedua tangannya berada di meja, dan juga sekaligus penopang kepalanya.

'Maaf.'

Dengan perlahan, Naruto mengangkat Rias dengan gaya pengantin menuju kamar miliknya. Namun sepertinya hal itu membuat perempuan yang berada di gendongannya terbangun sesaat dengan mata setengah terbuka.

"Umm...Naruto-kun?" Suara yang terdengar jelas ngantuk..

"Sudah tidur saja." Naruto perlahan membaringkan Rias di kasur, dan membawa selimut menyelimuti tubuhnya hingga ke leher.

"Tapi.."

"Aku pasti makan semuanya hingga habis. Itu janji! Sekarang tidur."

Rias tersenyum meskipun senyum tersebut tidak sampai ke matanya. "Yuuto..."

"Aku tahu.." Naruto menyentuh pipi Rias, dan memberikan menyakinkan. "Esok.."

"...Esok."

XXXXXXXXXX

Hyoudou Issei tidak tahu mimpi buruk apa yang ia alami pada saat ini. Saat ini dirinya berada di tempat paling aneh yang pernah ia lihat. Langit hitam tanpa ada bintang, dan juga balok-balok raksasa yang menjulang sepanjang mata memandang. Seperti dirinya berada di dunia yang berbeda.

Atau ini masih mimpi? Yah...pasti begitu. Issei kemudian membaringkan tubuhnya di permukaan tempat aneh yang ia datangi. Berusaha tidur kembali dan jika ia bangun, maka dirinya akan kembali ke kasur yang nyaman dan empuk.

Sekaligus berusaha mengacuhkan dingin dan tidak empuknya tempat yang ia tiduri saat ini.

"GYAAA!" Issei melompat dengan kemampuan Iblisnya, menatap takut tempat yang tadinya ia tiduri. Belasan shuriken kini tertancap di tempat yang ia tiduri. Untung saja instingnya memperingatkan terlebih dahulu..

"Kau sudah bangun?"

"Naruto-san? Apa-apaan ini!? Kembalikan aku ke tempat tidur empukku! Tadi aku mimpi tentang Rias-bucho-" Issei menutup mulutnya seketika, "U-ups?"

Dan benda tajam melewati kepala Issei, namun sebuah garis kecil memanjang muncul di pipi Issei, dan darah mengalir...

"Aku akan menganggap apa yang kau katakan tadi tidak nyata." Naruto kemudian menunjukkan dirinya, yang saat ini berada di atas balok yang lebih tinggi. "Selamat datang di kantong dimensi milikku. Karena ciptaan baruku, aku dapat membuat dimensi ini bergeraka melawan waktu. Jadi, waktu di sini akan bergerak lebih lambat dari dunia nyata.

"A-aku mengerti.." Ise menjawab dengan gemetaran, masih mengingat kejadian tadi. "Tapi, kenapa kau membawaku ke sini?"

Naruto menepuk dahinya, "Kau memintaku, bukan?"

"Ah...iya." Issei mengangguk. Dan wajahnya kini berubah serius..

Naruto kemudian membawa kunai ke tangannya, dan menyayatnya, darah segar keluar dengan jelas.

"Na-"

"Tenang..." Naruto menyakinkan. Ia kemudian membuat segel tangan baru, "Klon darah." Dan tiga sosok kemudian tercipta dari genangan darah tersebut. Sedangkan luka baru itu dengan perlahan tertutup dengan sendirinya.

Yang pertama adalah, seorang bocah pendek dengan seyum lebar yang menampakkan susunan giginya, mengenakan pakaian orannye yang menyilaukan mata. Rambutnya memiliki warna yang sama dengan Naruto..

Yang kedua adalah pemuda dengan senyum menyeringai yang sepertinya baru memasuki usia remajanya, dengan tubuh yang menurut Issei lebih pendek daripada dirinya, mengenakan pakaian yang berbeda, namun memiliki ciri-ciri yang identik dengan bocah kecil tersebut, yang membedakan hanyalah kulit yang lebih gelap daripada si kecil.

Yang ketiga adalah pemuda yang sama, namun lebih tinggi. Yang berbeda hanyalah jubah merah yang dikenakan dengan corak api di bagian bawah jubah tersebut. Ekspresi yang digunakan netral.

Setelah melihat lebih jelas lagi, Issei pun mengacungkan jari telunjuknya ke satu-per satu sosok tersebut.

"Bagaimana mungkin!? Ini kau Naruto-san!? Wahhh aku tidak mengira kau waktu kecil begitu...ee." Issei melihat tatapan Naruto.

Dengan tertawa gugup Issei pun menyahut dengan jari jempol.

"Sekarang aku percaya, orang biasa-biasa pun bisa jadi keren sepertimu sekarang, Naruto-san!"

Naruto hanya menepuk dahinya, "Jangan pernah katakan ini pada orang lain, Issei...aku pun pernah merasa malu dengan masa laluku."

'Tunggu sampai Akeno-senpai mengetahui ini.' Issei dengan batinnya siap merencanakan sesuatu.

"Issei, mereka adalah bagian diriku. mereka bertiga memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Latihan ini akan cocok dengan dirimu yang sekarang. Dan..jangan remehkan mereka. Level mereka jauh berbeda dengan dirimu yang sekarang, sebelum gauntletmu bisa mengatakan Boost, salah satu dari mereka sudah berada tepat di belakangmu dengan kunai di lehermu."

"A-ap-"

Dan benar apa kata Naruto, Klon dengan senyum menyeringai sudah berada di belakang Issei.

"Satu-persatu dari mereka akan mencoba memberikanmu luka yang fatal. Di mulai dari sekecil ini."Naruto menepuk-nepuk kepala dirinya yang masih kecil.

"Hei, singkirkan tanganmu, akan kutendang bokongmu, Dattebayo!"

"Issei, kau bisa menggunakan seluruh kekuatanmu untuk menghancurkan mereka. Karena mereka memiliki ketahanan yang lebih hebat daripada Klon yang pernah kau lihat. Jika kau bisa menghancurkan yang kecil ini, maka yang level kedua akan menghadapimu. Dan seperti yang pertama, kau harus menggunakan segala cara, karena masing-masing dari mereka memiliki kekuatan yang jauh dari apa yang kau pikirkan."

"Dan yang level terakhir...aku hanya bisa bilang hati-hati. Karena yang satu ini bisa membuat kepalamu menjadi pasta hanya dari sekali pukulan."

"Banyak omong, ayo kita selesaikan ini!" Naruto versi kecil sudah melompat sebelum Naruto bisa menarik kerah jaketnya.

Issei hanya menyeringai melihat bocah kecil mirip anak sd ingusan yang datang kepadanya dengan kecepatan yang bisa ia prediksi. "Ini pasti gampang.."

"KAGE BUNSHIN NO JUTSU!" Rahang Issei jatuh ke permukaan.

"Uzumaki Rendan!"

"GAKH!"

"Jangan remehkan aku, Dattebayo! Akan kuberikan kau pelajaran." Seluruh mini Naruto memberikan pose good-guy.

Issei bangun dengan kaki yang bergoncang. "A-ku...aku tidak akan kalah dengan bocah ingusan sebelum aku bisa menggunakan skill lari dari kejaran wanita!"

"Kejaran wanita...?"

Dengan bangga tanpa tahu malu, Issei menyilangkan kedua tangannya, dan memberikan tatapan penuh arti kepada Naruto kecil yang lugu.

"Ya, versi kecil Naruto-keren. Aku berlatih agar bisa menggunakan skill Naruto-san untuk kabur dari kejaran wanita, jika aku ketahuan mengintip mereka ganti baju, atau dari permandian air panas."

Naruto-mini dengan tangan gemetaran menunjuk Issei. Raut wajah shock terlihat dengan jelas.

"Kau reinkarnasi pertapa genit!"

Sedangkan Naruto yang berada di atas balok dimensinya, hanya bisa geleng-geleng kepala. "Klon idiot."

"Kau juga idiot, boss." Kedua klon yang tersisa menjawab secara bersamaan.


And done.

TadaBanri out forever: Bagi yang suka baca, bagi yang nggak, ya sudah.

AN: ah...terimakasih buat teman gw. Masih terbaring di kasur, itulah keadaan gw. Tapi cukup baik untuk mengetik dengan perlahan. Maaf untuk keterlambatannya, padahal saya janji pada bulan mei. Eh...terlambat sampai ke tanggal 10 juni. Tapi yah...gitu deh. Hal yang tidak diinginkan terjadi. Jadi ini adalah campuran tulisan saya dengan teman saya, yang kebetulan juga seorang Author pensiunan.

Untuk pedang Naruto, saya rahasiakan dulu.

Dan yang penasaran di mana Raynare dan Kalawarner, di chapter ini sudah terjawab.

Daftar harem Issei? Kurangi Rias dan Akeno. Dan kalian dapat itu.. Naruto? Saya rahasiakan deh, saya sendiri lihat jalan ceritanya dulu. Sebenarnya saya sudah kurang tertarik dengan DxD dan jujur saja saya masih baca hanya sampai Ln volume 7 nya, kenapa?

Pertama dengan sifat protagonistnya. Kedua gw merupakan tipe menulis yang cukup serius. Dan saya lihat banyak potensi yang besar dari DxD, tapi lihat Rias aja sekarang jadi Tits-touch power up Issei. Hadeh... sekalian jadi hentai aja deh kalau begitu. Saat saya lihat bagaimana cara Issei power up, saya hanya bisa geleng-geleng kepala, kok bisa sih ada manu-err—Iblis yang seperti ini.

Ichigo power up?= ok cool.

Naruto power up?= ok cool.

Issei power up?= please tell me this not a joke.

Meskipun begitu, saya akan berusaha untu melanjutkan Fic ini hingga? Hingga mana ya...

Sebenarnya alur lambat itu adalah yang terbaik untuk cerita-cerita seperti ini. Kita bisa membuat karakter kita berkembang dengan bagus, dan tidak terlihat seperti instant. Banyak author luar seperti saya juga, perbedaannya mereka menulis satu chapter itu bisa sampai dengan 30 ribu words. Dan itu pun belum cukup untuk development masing-masing karakter. Dan jujur saja saya tidak mampu untuk mencapai hal seperti itu dalam satu chapter.

Satu hal yang membuat author senang adalah saat pembaca bisa merasakan kehidupan dari si karakter. Itulah tantangan bagi si penulis yang ingin sungguh-sungguh; meskipun terkadang merasa jenuh dan malas menulis bagian seperti itu, tapi itu harus. Jika kalian berpikir "Ah, skip aja ini, biar langsung instant aja deh." Atau semacamnya. Jika sang Author berpikiran seperti itu, maka saya katakan mereka tidak akan bisa berkembang.

Jika kalian bisa merasakan kehidupan karakter, maka itu merupakan suatu keberhasilan kepada saya.