Update? Of course.
Disclaimer: not own anything.
Chapter terbaru Naruto, menurut gw: hah...gimana ya. Narutonya sudah Resmi menjadi Godlike...dengan kekuatan yang diberikan Rikudo-sennin. Tidak hanya kekuatan itu, namun beberapa Biju yang sudah berada di tubuhnya. Sasuke...ok...setengah mata Rinnegan...ok gw suka, namun...
WTF!? What Kind of Bullshit this? I mean..ahgkk!
Kecewa gw. Gw pikir Kishimoto akan menggunakan cara yang kompleks untuk menyelesaikan Manganya. Namun, jalan pintas seperti ini? Diberikan Kekuatan langsung lewat mimpi lah. Dan satu hal yang terus gw pertanyakan dalam hati gw..
Bagaimana bisa sih, Madara bisa mengerti cara menggunakan kekuatan Rikudo-sennin? Apa emang deskripsi lengkap cara penggunaan kekuatan Juubi ditulis!? Apa Rikudo-sennin mengirimkan ingatannya cara menggunakan kekuatannya!? Pertanyaan itu juga berlaku untuk Naruto; bagaimana bisa sih langsung menciptakan Rasenshuriken-lava itu?
Ya pertanyaan ini sih bukan gw aja yang punya, namun berbagai Forum di luar sana. Baik itu dalam negeri ataupun luar...
Mungkin banyak yang berbeda pendapat dengan saya. Jika iya? Hiraukan saja. Tapi menurut saya...sudahlah, cepatlah selesaikan manga ini. Dunia Ninja yang gw sukai perlahan hancur di mata gw. Gw cinta banget sama dunia Ninja Naruto, banyak banget yang bisa dikembangkan jika sang Author ingin...namun yang bikin gw nggak suka adalah cara perkembangan yang dibuat Mangakanya.
Dan karakter Maito Gai, masuk dalam karakter yang paling suka. Waw.. pria ini memang penuh akan semangat masa muda! (BADASS!) jika bukan karena Sel Hashirama, Madara dijamin K.O dah.. Gerbang kedelapan! YOSHH!
Di bawah terik matahari hari yang panas, kebanyakan orang memilih untuk berada di dalam Rumah atau mencari tempat yang teduh. Namun, tidak untuk satu orang pemuda yang berada di sebuah lapangan tempat berlatih. Keringat bercucuran dan membasahi seluruh tubuhnya, pakaian yang ia gunakan pun tidak berbeda jauh. Di kedua tangannya terdapat sebuah Katana. Mengayunkan dari atas dan kebawah dan terus di ulangi secara terus menerus. Waktu pun telah lama berlalu, namun pemuda itu tetap dalam posisi yang sama.
"...997...998...999...1000...100-" Naruto menghentikan gerakannya setelah mendengar sebuah suara dari kejauhan.
"ueeeeee...Nii-san~"
Naruto menghela nafasnya ketika melihat Kushina dari kejauhan yang berlari dan... dengan air mata yang mengalir. Apalagi masalah yang dibuat oleh Adik kecilnya?
"Kushina?"
"Nii-san~ hiks.. hiks... mereka mengejekku lagi."
"dan kali ini apa yang mereka bilang?"
"...tomat.."
"huh?"
"mereka bilang karena wajahku bulat dengan rambut merah ini...uuu?"
"hahahahaha,"
Kushina menggembungkan pipinya, dan kemudian menendang kaki Naruto dengan ujung sendalnya.
"autch! Apaan sih!?"
"ii...jangan tertawa!"
Naruto menghapus air mata humor yang berada di ujung matanya. Ia tidak menyalahkan anak-anak lain menganggap hal seperti itu. Namun memang dilihat dengan jelas...ya...Naruto tidak bisa memungkiri hal tersebut. Dengan tubuh kecil, struktur wajah bulat, dan rambut merah yang tersebut...tentu saja mirip.
"aku mau potong rambut,...pendek!" Kushina menghentakkan kakinya ke tanah "terus-"
"terus apa yang mau kamu lakukan? membalas mereka? Lagipula..."Naruto menaruh tangannya di atas kepala Kushina dan mengelusnya dengan lembut "kau lebih cantik dengan rambut panjang, jangan dengarkan orang lain...Kushina. benar nggak?"
"um..."
"kalau begitu, kembali ke Akedemi...aku tidak ingin Gurumu datang dan komplain ke aku lagi."
Kushina menganggukan kepalanya dengan menurut. Rencana sudah tercipta di dalam pikirannya. Rencana yang tentu saja akan membuat sejarah Konoha terulang kembali. dan namanya akan diingat sepanjang masa.
"dan...jangan jahili mereka."
Kushina mundur selangkah demi selangkah di bawah pandangan serius Naruto.
"akan kuberi pelajaran mereka semua! Lihat saja, mereka akan kubuat menderita!" dan Kushina mengambil lari cepat.
Naruto hanya menghela nafasnya. Dirinya tidak tahu sudah berapa kali ia melakukan hal itu, masalah yang ditimbulkan Kushina membuat kepalanya sakit.
Naruto merasakan sesorang yang memegang pundaknya, dan dengan spontan langsung melirik ke belakang, matanya kemudian melirik ke atas untuk melihat wajah orang yang menyentuhnya.
"kau mempunyai adik yang...semangat."
"begitulah, hm?"
Mata Naruto mengambil penampilan Pria tersebut. Wajah dengan ekspresi yang biasa kau lihat dari orang baik. Mata gelap dengan garis yang berjalan di bawahnya, Pria itu memiliki rambut berwarna Silver runcing yang panjang namun diikat ekor kuda dan poni yang menggantung di atas pelindung dahinya. Mengenakan seragam standar Jounin. Dan juga Tanto yang yang terpasang di belakang punggungnya.
"Hatake Sakumo, salam kenal.."
"Uzumaki Naruto." Naruto dengan senyum kemudian memperkenalkan dirinya dan menyalam tangan yang diulurkan tersebut.
Pria yang dikatakan itu kemudian melihat Naruto dari atas ke bawah, dan kemudian melihat pedang yang berada di tangannya. "jadi...kau sedang berlatih Kenjutsu.."
"hm...begitulah. Kenjutsu merupakan salah satu bidang yang aku tuju pada saat ini.."
"salah satu?"
"yap. Aku seorang Uzumaki. Fuinjutsu merupakan sebuah kewajiban yang harus ku kuasai sebagai anggota Klan."
"oh...begitu ya..." Sakumo kemudian melihat pedang yang berada di tanah tersebut. "nak, ambil pedangmu."
"huh?"
"aku ingin melihat bagaimana kemampuan seorang Uzumaki dalam seni Kenjutsu." Sakumo kemudian mengeluarkan Tanto yang berada di punggungnya.
Naruto kemudian tersenyum menyeringai. Sebuah tantangan? Heh... seorang Uzumaki tidak akan pernah mengatakan 'tidak.' Meskipun kurang mengetahui siapa orang yang berada di depannya, akibat baru pertama kali bertemu, namun Naruto tahu ia harus bersikap ramah.
Pemuda itu kemudian mengambil pedangnya dan memasang posisi. Posisi yang membuat Sakumo menaikkan alis matanya "oh...Iaido."
Benar apa yang dikatakan oleh Sakumo. Naruto menaruh Katananya ke dalam sarungnya dan menaruh ke pinggannya, dan satu tangannya telah siap memegang handelnya.
"Iaido teknik mengeluarkan pedang dengan kecepatan tinggi dengan tujuan langsung memotong lawan dalam satu gerakan. Gaya bertarung yang bagus, Uzumaki. Ini sudah cukup lama sejak aku bertarung dengan pengguna Iaido." Sakumo kemudian mengeratkan Tanto yang berada di genggamannya.
"hanya Kenjutsu. Tidak ada Ninjutsu atau hal lainnya."
Naruto menganggukan kepalanya.
"3..2...1"
Dan Naruto menghilang dari tempatnya dan muncul di depan Sakumo, dengan kecepatan tinggi Naruto mengeluarkan pedannya dan membuat gerakan menyayat. Suara pedang yang dikeluarkan dari sarungnya terdengar bagaiakan pemecah kesunyian.
Mata Sakumo melebar sedikit ketika melihat kecepatan itu, namun dengan Refleks yang lebih cepat ia langsung menangkis pedang Naruto. "hm...kecepatanmu bagus." Sakumo kemudian mendorong Naruto dengan Tantonya. Naruto melompat beberapa meter kebelakang.
"terimakasih.." Dengan tersenyum Naruto membalas pujian tersebut.
"Namun...kau masih memiliki satu kekurangan... pengguna Iaido lebih efektif jika kau menyerang lawanmu dari bagian buta mereka. Dan kau menyerang dari depan.."
Naruto mengangguk dengan pelan. Ia tahu hal itu benar, dan ia merasa harus memperbaiki kesalahan tersebut.
"Dan jangan menahan diri...aku ingin melihat kemampuanmu."
"e..."
"Tubuhku lebih kuat daripada yang kau kira.." Sakumo membujuk dengan tersenyum.
Tantangan.
"baiklah...kau yang meminta. Jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu yang tidak...mengenakkan." Naruto memasukan kembali lagi pedangnya ke dalam sarungnya.
Sakumo tidak menjawab, hanya tersenyum.
Naruto menghilang kembali...dan muncul di samping Sakumo dengan pedang yang sudah dikeluarkan. Menyerang dengan niat yang benar. Namun Naruto merubah rencananya kembali ketika Sakumo berhasil menangkis serangan tersebut.
Mata Naruto melebar ketika Tanto tersebut bergerak lebih cepat dari penglihatannya, dan Naruto melompat ke belakang untuk menghindari serangan. Ketika melihat serangan itu sudah lewat, Naruto mengambil lari cepat, dan kembali menyerang.
Sakumo menaikan Tanto-nya ke atas langit dan membenturkan Tantonya ke Katana Naruto dengan tekanan yang hebat. Tangan Naruto gemetar hanya dari menahan serangan itu, namun berkat latihan yang keras, ia berhasil menahannya dengan efektif.
Naruto kemudian menambah kekuatannya pada pedannya dan mendorong Sakumo balik. Dan kemudian meghunuskannya kembali.
Sakumo dengan tenang kemudian membawa tantonya dan menggesekan pada permukaan Katana Naruto. Naruto tidak ambil diam, ketika mengetahui hal itu, ia kemudian mengubah arah pergerakannya dan membuat tumpuan yang benar pada tumitnya.
Gerakan tangannya bagaikan gerakan lambat dan juga bayangan tangan beserta pedangnya. Sakumo dengan serius, kemudian menganilisa situasi dan memutuskan pemuda yang di depannya layak sudah cukup bagus.
Dari tanto tersebut, sebuah energi putih menyelimutinya. Pertunjukan yang membuat Naruto menaikkan alis matanya dengan ingin tahu "chakra putih? Waw...aku tidak tahu ada yang seperti itu! Apa itu!?"
"aku anggap itu sebagi pujian. Aku tidak bisa memberitahumu apa itu...tapi; Hanya Hatake yang bisa melakukannya..."
"oh...Rahasia Klan.."
"terlalu berlebihan, namun bisa dibilang seperti itu.." Hatake tersebut kemudian mengayunkan Tantonya ke arah samping, dan garis putih Chakra tercipta mengikuti setiap ayunan.".. kita lanjutkan?"
Naruto menghirup nafasnya, dan kemudian membawa Katananya dalam posisi tegak lurus...Ia membungkukkan badannya. Tanah yang menjadi pijakannya mendalam akibat tekanan yang diberikan Naruto. "Tehnik Uzumaki: gerakan pertama!"
Dan Naruto menghilang dengan kecepatan tinggi.
Naruto muncul di atas Sakumo dan mengayunkan pedangnya, Sakumo tidak ambil diam kemudian membalas.
Suara benturan terdengar dengan keras. Suara gesekan besi tajam dengan yang lainnya.
Naruto kemudian menghilang kembali dan begitu juga Sakumo. Dengan kecepatan tinggi, kedua Ninja itu bagaikan kasat mata. Dari satu tempat ke tempat lain saling bermunculan dan membenturkan pedang mereka, terkadang mengejar sasaran tidak vital-tubuh. Yang terlihat oleh mata biasa adalah percikan api dan garis memanjang Chakra putih di setiap gerakan dan juga permukaan tanah yang memiliki bekas sayatan panjang di berbagai tempat, bahkan hampir memenuhi seluruh permukaan tempat berlatih tersebut.
Naruto muncul di satu tempat, kemudian menghilang kembali ketika Sakumo datang. Pohon tempat ia berada tadi, langsung terpotong dengan bersih.
Naruto sudah mulai merasakan tenaganya yang mulai meninggalkan tubuhnya. Ia sudah mulai merasakan efek dari teknik yang ia gunakan. Teknik yang tertuju dan fokus pada kecepatan, dan memaksa Chakra bertumpu pada dua tempat, yaitu tangan dan kaki. Terlihat mudah, namun kenyataannya sulit. Selain harus fokus pada pertarungan, Naruto juga harus fokus pada kendali chakranya agar terjadi sesuai keinginannya.
Hatake Sakumo. Ini adalah pertama kalinya Naruto bertemu dengan orang itu. Perasaan hormat tercipta di benaknya ketika bertarung dengan Pria di depannya. Ia mengakui hal itu, Hatake Sakumo memang hebat. Di saat dirinya berusaha mati-matian untuk mendaratkan satu serangan, Pria itu mementalkannya dengan mudah. Dan terlihat belum lelah sama sekali. Bahkan nafasnya masih teratur bagaikan belum bertarung sama sekali.
Meskipun terlihat menghina, namun Naruto tahu, bahwa Pria di depannya berada di level yang berbeda dari dirinya. Ia bisa merasakan Pria di depannya tidak memiliki cadangan chakra yang besar sebagaimana seorang Uzumaki seperti dirinya. Namun pria itu menggunakannya dengan efektif, dan tanpa menyia-nyiakan gerakan satu pun.
Dalam kondisi, baik-atau-tidak? Maka Hatake Sakumo yang menang. Naruto kini dipenuhi oleh sayatan-sayatan halus, meskipun tidak dalam namun terlihat jelas karena darah merah yang tercipta.
Sedangkan Sakumo? Maka hal itu berbeda lagi. Bahkan Naruto tidak dapat menggores sama sekali. Setiap kali ia ingin menyerang, tentu saja Sakumo langsung memprediksi serangan yang ia buat. Hal itu membuat Naruto Frustasi dan mulai kehilangan kesebarannya..
"dan kurasa kita sudah cukup untuk kali ini." Sakumo dengan tersenyum kemudian memasukan kembali tanto-nya ke dalam sarung yang berada di punggungnya.
"dan...aku kalah." Naruto menghela nafasnya, dan kemudian melemaskan kedua kakinya. Duduk di permukaan tanah dengan menyandarkan punggungnya ke pohon. Naruto mengambil sebotol air mineral dan meminumnya sampai habis. Tidak lupa menawarkan sebotol lagi kepada Ninja yang lebih tua daripada dirinya tersebut. Tentu saja dengan anggukan terima kasih, Sakumo menerima pemberian tersebut dan meminum air segar tersebut.
"huah~! memang tidak ada yang lebih baik dari air yang dingin."
Sakumo hanya tertawa halus mendengar hal tersebut dari Pemuda berambut merah itu.
"Aku mengakui kalah.." dengan tersenyum Naruto menggelengkan kepalanya, serasa masih tidak percaya akan hal itu. "engkau memang hebat, Sakumo-san. Perbedaan kita memang jauh sekali...kurasa jalanku menjadi lebih kuat masih jauh" Naruto menghela nafasnya, namun kemudian matanya berubah menjadi mematok sesuatu "...Dan aku akan berlatih dan terus berlatih, dan pada suatu saat, aku bisa mengalahkanmu."
Sakumo hanya terdiam mendengar deklarasi dari pemuda tersebut. Ia pun menaruh tangannya ke kepala Naruto dan menepuk-nepuknya dengan pelan.
"hei!"
Sakumo hanya menghiraukan Naruto yang komplain.
"kalau begitu, berjuanglah. Suatu saat kau juga akan mencapai level lebih tinggi." Sakumo kemudian melihat dedaunan yang berada di atasnya "Dahulu aku juga begitu, namun berkat latihan dan tekad yang kuat...kurasa apapun yang kau inginkan bisa terjadi."
Naruto hanya menganggukan kepalanya dengan pelan, menyerap apa yang dikatakan Ninja yang lebih senior dari pada dirinya.
Menit demi menit terlewat, mereka hanya menikmati keberadaan orang yang berada di samping mereka, dan juga udara sejuk sore hari.
..
..
"katakan.."
"hm?" Naruto memalingkan pandangannya ke Pria tersebut.
"sebagai Ninja, kita pasti memiliki sebuah impian dan juga harapan akan masa depan. Dan juga kita tercipta akan pandangan yang berbeda-beda dari orang lainnya. Yang menurut kita benar, belum tentu menurut orang lain benar. Dan yang menurut kita salah, belum tentu juga menurut orang lain salah."
"Hmm begitukah.." Naruto menyandarkan kepalanya ke permukaan pohon tersebut. Memikirkan apa yang dikatakan oleh Pria berambut Silver itu.
"katakan menurutmu yang paling penting...apakah itu misi atau rekanmu?"
Naruto terdiam sebentar..
"Maksudnya?"
"...kurasa aku kurang jelas.. begini; Hokage memberikanmu sebuah misi yang berbahaya bersama rekan timmu. Setelah misi dijalankan ternyata hal yang tidak diduga terjadi. Dan kamu..sebagai ketua Tim, harus memutuskan...antara menyelesaikan misi namun dengan bayaran kematian rekan timmu, atau menghentikan misi demi menyelamatkan rekanmu. Sebagai Ninja kita memiliki tugas dan prioritas yang harus ditujukan pada keberhasilan misi kita, dan kebanyakan orang yang menjawab Misi terlebih dahulu daripada keselamatan diri atau rekan. Jadi menurutmu bagaimana?"
Naruto menyerap semua apa yang dijelaskan Sakumo, dan dengan lantang tanpa ada keraguan, Naruto menjawab:
"tentu saja Rekan terlebih dahulu! Misi bisa kita ulangi. Namun, jika nyawa rekan yang hilang? Maka hal tersebut tidak bisa kita ulangi kembali. Maka karena hal itu aku memilih menyelamatkan rekanku daripada menyelesaikan sebuah misi, meskipun seberapa pentingnya hal itu. Lebih baik aku menerima hujatan karena tidak bisa menyelesaikan misi, daripada merasa bersalah yang tiada hentinya karena tidak bisa menyelamatkan rekanku!"
Sakumo terhenti sebentar. Dan dari wajah ekspresi datarnya, kemudian senyum tercipta...
"hahahahaha...kurasa tidak hanya aku yang berpikir seperti itu. Sepertinya apa yang kita pikirkan tidak terlalu jauh.. ya, kau benar. Nyawa rekan lebih berharga daripada sebuah misi, seberapa pentingnya hal itu.."
Raut wajah Sakumo kemudian menjadi sedih..
"di jaman peperangan seperti ini, kurasa apa yang kita pikirkan berbeda dari orang lain. Jika orang mendengar apa yang kita bicarakan, mereka tentu saja akan menganggap kita munafik, karena membuat Desa kita kecewa. Karena misi juga merupakan sebuah tanda keberhasilan sebuah Desa. Jika kita gagal, maka desa lain akan menganggap kita tidak cakap."
Dan Naruto hanya terdiam..
Hatake Sakumo kemudian menghela nafasnya dan melihat ke langit.
"sepertinya di sini kita harus berpisah..."
"hm."
"katakan Uzumaki?"
"hm?"
"apa kau sudah di tugaskan di sebuah Tim?"
Naruto berpikir apa yang dikatakan Sakumo, dan hanya bisa menggelengkan kepala. Sepertinya Hokage belum tahu ia harus masuk yang mana...
"begitu ya.."
Naruto menaikkan alis matanya sesaat mendengar nada suara Sakumo.
"mengapa?"
"ah...tidak, tidak. Aku hanya ingin tahu saja.. " Pria itu kemudian membalikkan badannya dan kemudian berjalan. "hm...kurasa aku harus bicara dengan Hokage-sama tentang ini."
Sedangkan Naruto hanya diam di tempatnya semula. Dan kemudian mengambil pedangnya kembali.
Dengan kata lain, berlatih.
Selama tubuhnya masih bisa bergerak. Tidak ada alasan untuk menyia-nyiakan waktu untuk berlatih.
XXXXXXXXXXXXX
Seorang Sektretaris yang berada di luar ruangan Hokage sedang memeriksa sesuatu, yang berisikan sebuah jadwal milik pemimpinnya. Ia pun tersenyum kepada Pria berambut silver tersebut.
"Hatake-san, Hokage-sama telah menanti anda"
Sakumo hanya tersenyum mengangguk. Ia pun masuk ke dalam ruangan tersebut, dan membungkuk hormat.
"Hokage-sama."
"oh...Hatake-kun. Bagaimana keadaanmu hari ini?" Seorang Pria yang terlihat dalam usia paruh bayanya sedang mengisap sebuah pipa Rokok.
"baik, Hokage-sama."
"begitukah? Hm...maksud kedatanganmu untuk apa? Jika untuk misi, maka aku akan menyiapkannya.." Sarutobi mulai memeriksa perkamen yang berada di mejanya. Kertas kerja yang bertumpuk baik itu di meja ataupun di permukaan lantai sama sekali tidak mengganggu Hokage tersebut.
"ah...bukan begitu."
"hm? Kalau begitu apa yang ingin kau bicarakan?" Sarutobi menghela nafasnya dan menempelkan punggungnya ke Kursi empuk tersebut. "Kerjaanku masih banyak...aku tidak mengerti mengapa aku mengambil jabatan ini. Dan sepertinya tubuhku juga sudah mulai kaku."
"tujuan saya datang ke sini, mengenai Uzumaki Naruto.."
"Penerus Uzumaki itu? Hm ya..ya... dia memang anak yang baik, dan juga mempunyai potensi yang perlu di asah. Uzukage sering membicarakan mengenai keluarganya kepadaku, termasuk mengenai cucunya.." Hokage tersebut menatap dinding dengan tatapan bersalah. " dia selalu membanggakan cucunya yang akan menjadi ahli waris tersebut, namun...serangan yang tidak di duga tersebut membuat kita tidak bisa berbuat apa-apa. Dan di saat kita mengirimkan pasukan untuk membantu...semuanya sudah terlambat."
Sakumo hanya mengangguk dengan sedihnya. Ia merupakan salah satu pemimpin pasukan yang dikirimkan pada saat itu, ia masih mengingat bagaiamana kondisi Uzushio pada saat itu. Lautan api...itulah kata yang tepat akan hal yang memilukan yang terjadi pada Desa para pengguna Fuinjutsu tersebut.
"ya...peperangan hanya membawa Hal yang buruk saja."
"kamu benar...namun, ini adalah sifat alami Manusia. Selama masih ada hawa nafsu yang menginginkan hal yang lebih, maka kita akan tetap dalam pusaran ini..." Sarutobi kemudian menaruh kedua tangannya ke dagunya. "Sepertinya kita keluar dari topik utama, jadi katakan ada masalah apa dengan Uzumaki muda?"
"bukan...tidak ada masalah. Hanya saja...aku ingin membuatnya menjadi Muridku."
Alis mata Hiruzen naik sedikit saat mendengar hal itu. "Hatake Sakumo, seorang Ninja kelas S yang dibangga-banggakan Konoha ingin mengambil seorang murid?...ada apa gerangan? Bukannya melarang atau apa, namun...mengapa sekarang? Beberapa tahun yang lalu aku sudah memintamu untuk mengambi tim baru dari Akedemi, tapi kau tidak mau...dan sekarang? Mengapa berubah hati?"
Pria berambut silver itu hanya menggaruk kepala belakangnya dengan ragu-ragu saat mendengar pertanyaan beruntun dari Hokage.
"ah...itu mungkin karena saya belum siap. Meskipun saya mempunyai kemampuan yang memadai, namun mengajari anak-anak bukanlah bidang saya. Namun, berbeda lagi dengan Uzumaki Naruto."
"hm?"
"dia...menarik. bagaimana mengatakannya ya... Uzumaki Naruto, dia memiliki bakat dalam bidang yang sama denganku. Aku sudah mengetesnya tadi siang... tidak hanya memiliki pengetahuan yang tinggi akan tehnik yang ia gunakan, ia mau mendengar saran dari orang lain, dan ketika aku memberitahu kesalahannya, ia hanya menganggukkan kepalanya dan menerima hal itu ke hati. Kecepatannya pun tidak main-main saat menggunakan pedangnya. Dan ketika ia mencapai batasan kekuatannya, ia masih bisa berpikir dengan jernih. Namun meskipun begitu, ia masih memiliki banyak kesalahan, dan juga kurangnya pengalaman."
"ya..aku sudah melihat itu.."
"jadi Hokage-sama melihat?"
Hiruzen dengan senyum penuh arti, kemudian mengelus benda bulat yang berada di depannya. "bola ini memiliki kemampuannya tahu? Selain memiliki kemampuan melihat seluruh pelosok Konoha, bola ini juga bisa tembus ke permandian Wa-"
"Hokage-sama."
'ah...maaf. pembicaraan kita keluar jalur lagi."
"tidak apa-apa. Tapi saya harap anda tidak membahas masalah...hobi anda lagi."
"maaf."
Sakumo pun memasang muka seriusnya.."aku ingin mengambil Uzumaki Naruto sebagai muridku."
Pria itu hanya tersenyum "mengapa tidak?"
XXXXXXXXXXX
Uzumaki Kushina kini dalam pelarian, ia berusaha menyembunyikan diri dari orang dewasa yang mengejarnya. Ia kemudian menemukan semak belukar. Dan memutuskan dengan otak pintarnya, bahwa tempat itu aman untuk bersembunyi.
"ah! Kemana dia!? Cari! Dia tidak akan lari jauh!"
Beberapa orang dengan pakaian Ninja sedang berlari kocar-kacir mencari seseorang yang memiliki ciri-ciri; pendek, rambut merah panjang, dan struktur wajah bulat.
"Hei.."
"KYAA!" Kushina melompat dengan terkejut saat mendengar suara tersebut. Melihat siapa yang berbicara kepadanya, Kushina kemudian menghela nafasnya dengan lega...
"ah...ternyata kau...eee..."
Sosok yang dikatakan itu hanya tersenyum lembut. "Mikoto...Uchiha Mikoto."
"Uzumaki Kushina! Calon Hokage masa depan!" Dengan senyum lebar, Kushina kemudian menjabat tangan perempuan yang berada di depannya.
"ha...ha..."
"hm? katakan mengapa kau disini!? Jangan-jangan kau juga disuruh menangkap aku, bukan!?" Dengan jari telunjuk menuduh, Kushina kemudian mengambil langkah ke belakang.
Mikoto hanya menggelengkan kepalanya, mencoba meredam suasana. "tidak, hanya saja aku ingin tahu denganmu.."
"ha?" Kushina bertanya dengan nada bagaikan cewek Tomboy.
"aku ingin tahu, dengan sosok yang berhasil melakukan hal itu..."
Mata Kushina kemudian melirik arah yang ditujukan, ya...
Seorang Guru dengan cat Kuning terang yang berada di sekujur tubuhnya, baik itu wajah, maupun bagian tubuh lainnya. Dan selanjutnya..dan selanjutnya.
Kushina tidak bisa menghitung berapa jumlah Ninja yang terkena cat itu.
"waw.. aku hebat~"
Sedangkan Mikoto hanya keringat jatuh saat melihat mata Kushina yang berbinar-binar dengan hasil pekerjaannya. Namun ia tidak bisa menyangkal bahwa perempuan yang berada di depannya, menarik.
"Aku tidak sabar bilang ke Nii-san. Hehehe..pasti dia akan memelukku dengan bangganya~"
Mikoto kemudian mengingat siapa yang dikatakan Kushina...
"Nii-san? Oh...pemuda dengan rambut merah itu ya? Yang mengantar kamu saat pertama kali masuk?"
Kushina hanya tersenyum. "yap! Dia Nii-sanku." Mata Kushina kemudian melebar ketika melihat sosok tidak jauh dari pandangannya, dengan cepat, Kushina menarik tangan Mikoto dan membawanya kembali ke dalam persembunyian.
"ha...aku tidak bisa membiarkan mereka menemukanku, jadi jangan ribut. Ok?" dengan nada berbisik, Kushina melihat Mikoto yang berada di sampingnya.
Perempuan berambut hitam itu hanya menganggukan kepalanya dengan pelan. Tidak ingin membantah apa yang dikatakan oleh Kushina.
XXXXXXXXXXXXXX
"ah...akhirnya mereka telah pergi~ dengan begini..."
"dengan begini?"
Kushina menghiraukan suara dengan nada berat itu. "dengan begini, misiku telah berhasil!"
"ee..Mikoto-chan?"
Kushina melihat dengan heran terhadap ekspresi yang digunakan Uchiha tersebut. "mmm...mengapa kamu menggerak-gerakan bola matamu seperti itu?"
Kushina kemudian membeku sesaat setelah merasakan sesuatu memegang daun telinga sebelah kanannya.
Mata Kushina kemudian bergerak menuju arah tangan tersebut, setiap kali ia menaikan pandangannya, semakin banyak keringat yang muncul dari dahinya. Dan ia bertemu dengan wajah terkesal yang pernah ia lihat.
"Buset."
"..."
"hehehe...Nii-san... halo?-autchhh ampuuunnnnnnnn~"
Mikoto hanya menelan ludahnya ketika melihat pemuda berambut merah tersebut memutar telinga Kushina ke arah yang berlawanan.
15 menit kemudian..
Terlihat Kushina yang jongkok di belakang pohon, memegang kedua telinganya dengan air mata yang mengalir dengaan deras.
"hah...padahal sudah kubilang berapa kali? Namun masih aja kamu lakukan...kau tahu nggak masalah yang kuhadapi ketika bertemu dengan Instruktur-mu. Tidak hanya membasahi mereka dengan cat kuning. Kau juga menjahili teman sekelasmu. Dan yang paling buruknya...orangtua mereka mendatangi aku!"
"maaf~"
"tidak, kau aku hukum."
"oke—"
"tidak ada Ramen selama sebulan!"
"tidakkk! Jangan, apa saja tapi jangan itu! Nii-sama yang paling aku cintai~"
Dan Mikoto keringat jatuh yang kedua kalinya ketika Kushina menarik-narik celana pemuda berambut merah itu dengan tatapan Anak Kucing.
"ah...kamu teman sekelasnya ya? Kurasa aku harus berterimakasih padamu..."
"ehh?" Kushina dengan terkejut menatap perempuan tersebut.
"hah...maaf Kushina-san... tapi, apa yang kamu lakukan itu tidak baik. Dan ketika melihat 'Nii-san' mu datang dengan mencari-carimu..."
"waa~ pengkhianat!"
Dengan begitu, Kushina kabur.
"oiii! Ah...mengapa disaat sekarang aku mempunyai adik yang merepotkan." Naruto kemudian melihat perempuan yang lebih pendek darinya tersebut. Senyum tercipta di wajahnya...
"terimakasih.."
Mikoto menundukan kepalanya ketika mendengar ucapan itu. Menyembunyikan wajahnya dari pemuda tersebut. Tanpa terasa atau Refleks, ujung kakinya memainkan permukaan tanah di bawahnya.
"t-tidak apa-apa. Aku hanya melakukannya karena kau mengetahui kemana Kushina-san bersembunyi.."
"tapi tetap saja. Aku harus berterimakasih, jika tidak karena bantuannmu, aku mungkin harus menghabiskan waktu yang lebih lama untuk mencari Kushina. Jika ada yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikanmu, akan kulakukan..."
"ti,tidak, aku tidak melakukannya dengan tulus."
Naruto kemudian tertawa halus. "ah...begitu ya... Kurasa aku beruntung, karena sosok sepertimu bisa menjadi teman Kushina. Meskipun terkadang merepotkan, namun Kushina memiliki sisi lembut juga."
"oh..."
Mikoto kemudian terdiam, sesaat merasakan tangan pemuda di depannya berada di kepalanya, dan mengelusnya.
"kau... anak yang baik"
Naruto kemudian melepaskan pengangannya, dan mengucapkan salam perpisahan. Pemuda berambut merah itu kemudian beranjak pergi, meninggalkan Mikoto yang memiliki raut wajah mengkerut.
"..aku tidak suka dianggap seperti anak kecil."
And Done!
Memang membuat cerita seperti ini perlu ketelitian yang tinggi. Saya masih meneliti Timeline dunia Naruto, biar nggak amburadol. Itulah masalah yang saya temui saat membuat cerita ini. Seperti umur si A-lah, umur si B –lah, kejadian apa yang terjadi pada saat itulah. Gw nggak bisa asal tulis, makanya sekarang masih mencatat seluruh kejadian penting sebelum Canon.
Nah untuk pertanyaan mengenai umur Naruto...
Uzumaki Naruto: 13 tahun.
Uzumaki Kushina: 7 Tahun.
P/S; jika ingin tahu bagaimana Progress cerita yang lain, buka Profil saya. Disitu sudah saya cantumkan mengenai perkembangan chapter-chapter selanjutnya dari cerita saya.
Type your review here.
VVVVVVVV
VVVVVVVV
VVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVV
VVVVVV
V
