Huang Zitao namanya. Baru lulus SMA, malas kuliah atau kursus, dan memilih bekerja untuk setahun kedepan, barulah memikirkan pendidikan. Hidup ditengah kemewahan, tidak pernah kekurangan, tapi begitu membumi dan akrab dengan siapa saja. Terlampau sempurna. Ia seksi, tampan, ramah, dan merupakan anak semata wayang yang akan mewarisi kekayaan ibu tunggalnya kelak. Tidak ada yang bisa menolak pesona ketampanan sekaligus kecantikan Zitao, bahkan untuk seorang lelaki.

Ia terbangun dalam keadaan masih mengantuk pagi ini, padahal sebentar lagi kafe tempat ia bekerja akan buka. Walau dari keluarga kaya, ia tidak malu bekerja seperti itu. Lagipula apa yang bisa dikerjakan seorang lulusan SMA selain ini di kota sebesar Rio de Janeiro? Toh, teman-temannya juga banyak di Paradise Summer, ─kafe tempat ia bekerja.

Motor sport-nya diparkir di gang belakang kafe. Cukup sempit untuk ukuran motor sekokoh itu. Ia berlari kecil masuk lewat pintu dapur dan menemukan Julie, salah satu koki disana, hendak membuang sampah dan hampir saja menabraknya.

"Oh my Gosh!" Julie memekik dengan mata melotot, dan Zitao membalasnya dengan tawa kecil. "Kau membuatku kaget! Kalau sampai aku menumpahkan tumpukan sampah ini ke baju mahalmu, aku yakin tak akan bisa membayarnya."

Zitao geleng-geleng dan mengibaskan tangan. "Kau berlebihan, Julie. Lagipula, aku baru akan menuntutmu jika menumpahkan sampah-sampah itu pada baju kesayanganku, yang sayangnya tidak kupakai hari ini."

Julie membalasnya dengan senyum kecut dan mata lebarnya memicing. "Kau habis bercinta dengan seseorang lagi ya?"

"Hah?" Zitao menaikkan alis, tidak tahu kenapa Julie berkata demikian.

Dominic, seorang koki yang lain berjalan melewati punggung Julie dan memberi petunjuk. "Pipimu."

Pelan Zitao mengusap pipinya. Sisa lipstik kemerahan membekas disana dan menimbulkan rasa lengket di jarinya. "Ini punya ibuku," klarifikasinya. Ia mengambil beberapa lembar tisu dan berjalan melewati Julie. "Kau tahu aku gay, kan?" tanya Zitao yang sedang berjalan mundur sambil mengedipkan matanya.

PYANG!

Punggung Zitao menabrak sesuatu. Suara barang-barang logam terdengar nyaring ketika terjatuh dan itu mengagetkannya, membuatnya sigap berbalik, dan menemukan Oh Sehun, yang juga seorang koki, menatap barang-barangnya yang terjatuh dengan alis mengkerut. Tangannya yang membentuk sebuah mangkuk masih menggantung di udara. Zitao terpaku beberapa detik hingga Sehun berdeham dan ia tersadar.

"Tidak usah bangga jadi gay jika kau selalu membuat susah orang lain." Sehun buka suara dan kata-katanya begitu menusuk. Ia tidak menatap Zitao sama sekali dan langsung berjongkok untuk mengambil baskom logam dan pengaduknya.

Zitao langsung menggigit bibir begitu tahu didalam baskom itu ada whiped cream buatan sendiri milik Sehun yang ikut tumpah. "Itu… tidak apa-apa, kan? Hanya sedikit yang tumpah."

"Tetap saja rusak."

Ucapan dingin itu benar-benar sukses membuat Zitao membeku seperti disiram air es. Tidak ada orang di kafe itu yang berani cari gara-gara dengan Sehun karena tabiat aneh dan kakunya, tapi Zitao selalu melakukannya, entah sengaja atau tidak sengaja. Ada kesenangan tersendiri ketika menjahili orang lain. Namun merusak sesuatu yang dibuat susah payah bukanlah obyek kejahilannya, dan kini ia merusak sesuatu karena kecerobohannya sendiri.

Sehun menoleh, menatap Zitao yang ikut berjongkok dengan mata sedih dan masih menggigiti bibirnya. Tak ada yang berani mendekati mereka berdua karena Sehun tidak suka urusannya dicampuri orang lain dan ia juga seorang koki senior meski ia baru lulus SMA.

"Aku…," Zitao berbicara ragu-ragu, "apa yang harus aku lakukan?"

Mereka diam dalam posisi yang sama dalam tujuh detik dan pada detik kedelapan Sehun mulai memalingkan wajahnya. Tangannya bergerak membersihkan whiped cream yang tercecer dan ia berucap pelan, "Berhenti menggigit bibirmu di depanku."

Zitao membelalakkan matanya lalu mengerjap. "Eh?"

Koki muda itu tidak menjawab dan berdiri, mengambil kain lap, lalu kembali dan membersihkan sisa krim putih di lantai. Ia hanya diam, menganggap Zitao seolah-olah angin yang tak terlihat. Pria berdarah Cina didepannya juga turut diam meski tidak mengerti kenapa mantan kekasihnya meminta hal yang begitu konyol sebagai kompensasi untuk kesalahan itu.

.

.

.

Clannad

FanTao || PG-17 || Chaptered

1. Dois; Paradise Summer

.

.

.

Yifan terbangun dengan rahang ngilu dan suhu tubuh lebih tinggi dari biasanya. Ia mengerjap beberapa kali karena silaunya cahaya, dan benar saja, ketika ia melirik jam dinding, sekarang sudah pukul setengah sepuluh pagi. Ia melirik ke ranjang di sebelahnya, Chanyeol tertidur pulas dengan posisi tidak keruan─bantalnya di kaki ranjang, tangannya merentang, kakinya naik ke sandaran ranjang, dan kepalanya terjungkir ke bawah.

Deru halus terdengar. Oke, Yifan lapar. Perutnya keroncongan karena hotdognya tadi malam bahkan tak tersentuh. Ia butuh makanan, tapi ia tidak yakin restoran hotel itu masih menyediakan menu sarapan komplit jam segini. Yifan mendesah pasrah, tak tahu harus berbuat apa, lalu berjalan pelan ke arah jendela kamar.

Masih saja silau dirasa mata, entah kenapa hal itu berefek pada rahangnya yang makin ngilu. Ia mengamati sekeliling dan Copacabana sudah cukup ramai. Tadi malam baru saja ada perayaan malam tahun baru, dan hebat sekali para petugas kebersihan sudah membuat pantai itu lebih bersih. Begitu juga para turis yang datang, ini termasuk pagi untu hari pertama di tahun baru. Tentu sulit bangun sepagi itu setelah malam panjang yang melelahkan.

Kemudian Yifan melirik gerombolan remaja Asia bersenda gurau diatas sepeda. Ia tersenyum, mungkin menyenangkan bersepeda mencari sarapan di hari secerah ini. Tak dinyana, sudut matanya menemukan satu hal yang ia butuhkan kala itu. Penyewaan sepeda.

Yifan bergegas menutup jendela, membenahi diri dan mengambil barang yang ia butuhkan. Derap langkahnya membuat Chanyeol terbangun, matanya terbuka setengah, lalu tertidur lagi dan membuat Yifan tersenyum simpul. Mungkin Yifan bisa membawa makanan untuknya jika kembali nanti. Ia sengaja tidak membawa kartu kamarnya dan berlari kecil menuju tempat penyewaan sepeda tak jauh dari lokasi hotelnya.

Pemuda tanggung itu mulai bertanya dengan bahasa Portugisnya. "Berapa biaya sewa per jamnya?"

"10 Reais, Senhor," jawab si pemilik penyewaan sepeda. Aksen Singlish-nya begitu kental dan ia mempunyai wajah Asia yang tersamarkan.

Yifan tersenyum sambil mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya. "Kusewa dua jam," ujarnya.

Lima menit kemudian Yifan sudah bersepeda di pinggiran Portugese Pavement. Matanya dimanjakan oleh pemandangan gadis-gadis brazilian yang mengenakan pakaian minim di musim panas kala itu. Meskipun Yifan adalah seorang homoseksual, bukan berarti ia tidak menikmati pemandangan dada sintal dan pantat montok dimana-mana.

Perutnya keroncongan lagi. Yifan meringis, masih bersyukur tidak punya penyakit magh. Ia terlena dengan segala keindahan yang ia rasakan dan sedikit melupakan lapar serta rasa nyeri di rahangnya karena pukulan semalam. Yifan mengedarkan pandangan, mencari sebuah tempat makan sesuai kriterianya. No Brazillian food. Dia masih trauma dengan Feijoada yang Chanyeol makan dan isinya… sosis darah babi. Demi apapun, Yifan benci darah babi.

Di depan sebuah franchise, Yifan berhenti. Paradise Summer namanya. Yifan merasa nama itu lebih cocok dijadikan nama distro daripada nama kedai sederhana. Tidak ada salahnya untuk masuk, Yifan merasa tertarik dengan tempa itu.

Ia memarkirkan sepedanya di pekarangan. Ada tiga set meja serta kursi plus payung besar yang membuat teduh. Ia masuk ke dalam dan udaranya dingin, Yifan juga mencium pewangi pendingin udara. Kemudian ia berjalan ke tempat pemesanan yang ditunggui seorang pemuda Asia dengan mata sipit dan senyum ramah.

"Selamat datang, dengan Baekhyun disini. Ada yang bisa saya bantu?" Bahasa Portugisnya lancar sekali dan ia berbicara dengan begitu ceria.

Yifan tak tahu ingin sarapan apa pagi itu. Ia membaca daftar menu, lalu baru sadar ia adalah pengunjung pertama.

"Saya menyarankan sepiring England breakfast komplit dengan lime water untuk pagi yang terik ini. Bersedia untuk mencoba?" tawar Baekhyun. Ia tersenyum dan bibirnya samar-samar membentuk persegi panjang. Ia begitu unik.

Yifan mengiyakan dengan anggukan. "Berapa totalnya?"

Baekhyun tidak langsung menjawab dan tampangnya berubah serius saat menghitung jumlah pesanan di mesin kasir. Ia kembali tersenyum ketika berkata, "20 Reais, Senhor."

Yifan memberikan uang pas kepada Baekhyun. "Apa aku harus ke kasir ini lagi jika perlu sesuatu?"

"Tidak," jawab Baekhyun, "cukup lambaikan tangan saja dan pegawai kami akan ke meja anda. Anda bisa menunggu selama lima menit sebelum pesanan anda datang."

Yifan mengangguk, tersenyum, menggumamkan terima kasih dalam bahasa Inggris. Ia memilih duduk di satu set meja yang menyatu dengan kursi dan berada di samping jendela. Rasanya menyenangkan melihat pemandangan pantai Brazil sambil menikmati makanan.

Pengunjung kedua datang, ditandai dengan denting bel di pintu masuk. Suara Baekhyun kembali terdengar karena tempat itu memang tak berapa lama, sebuah lagu dari Nick&Vinz yang berjudul Am I Wrong terdengar melalu speaker yang dipasang di sudut-sudut ruangan. Bukan lagu favorit Yifan, tapi cukup enak didengarkan.

Ia baru saja ingin mencari jaringan WiFi lewat ponselnya ketika baru bacon panggang menyapa hidungnya dan makanan yang ia pesan sampai di meja. "Satu England breakfast komplit dan lime water, Senhor."

Yifan mengangguk-angguk, masih mencari jaringan WiFi. Ada satu yang bisa tersambung dan sinyalnya penuh, sayang sekali diberi password dan Yifan tidak tahu apa password-nya.

"Passwordnya 'yellowspring'. WiFi kafe ini belum dinyalakan."

Pemuda yang sedang berkutat dengan ponselnya itu mendongak. Kaget dan ingin mendelik saat pelayan yang baru saja mengantar makanannya itu tersenyum padanya. "Itu WiFi hotspot-ku."

Yifan mengenal betul pemuda didepannya. Berkulit kecoklatan karena terbakar matahari, rambut hitam legam yang mengilap terkena cahaya, dan bibir cantik seindah mawar. Kombinasi yang unik dan membuatnya jatuh hati. Tak lain dan tak bukan pria itu adalah…─

─"Bagaimana? Pukulanku kemarin sakit, tidak?"

Yifan tidak tahu ia harus bersyukur atau mengutuk Tuhan kali ini.

"Namaku Huang Zitao," kata pemuda itu sambil menunjuk label nama yang terpasang di dada kanannya. "Kuharap kau tidak kenapa-kenapa karena pukulanku kemarin. Itu…refleks."

"Agak sedikit memar," Yifan menerangkan sambil mengelus-elus garis rahangnya. Benar saja, masih ngilu jika dipegang.

Yifan mendengar pemuda bernama Zitao itu menggerutu lirih dan akhirnya menawarkan sesuatu, "Anda perlu uang kompensasi?"

Yifan menggeleng sambil mengibaskan tangannya. Matanya terbuka lebih lebar dan ia berseru, "Tidak! Aku juga yang sudah kurang ajar kemarin."

Zitao tertawa kecil dan ia terlihat sangat cantik meski ia seorang pria. "Berarti kita impas."

Sang pelanggan mengangguk-angguk membenarkan sambil menatap sepiring England breakfast di hadapannya, terdiri atas sosis besar kecoklatan yang menggoda, dua tumpuk hash brown, tiga tomat ceri panggang, beberapa lembar keju, serta satu telur mata sapi setengah matang. Di atasnya diberi taburan bacon yang telah dipotong-potong dan sesuatu berwarna hijau yang tidak dapat Yifan kenali. Bumbu-bumbu dapur terlihat sama untuknya.

"Ada sesuatu yang salah dengan pesananmu, Senhor?"

Yifan sedikit terkejut karena Zitao masih ada di sampingnya. Ia menggeleng dan tersenyum tipis. "Ini sempurna. Aku hanya sedang berpikir," katanya. "Bisa aku pesan satu lagi yang seperti ini untuk di bawa pulang?"

Zitao tersenyum dan mengangguk. Kemudian dari bibirnya muncul kata, "Permisi," yang mengalun begitu lembut. Yifan sampai terbengong-bengong terhadap reflek tubuhnya yang begitu berlebihan. Ada sesuatu dari diri Zitao yang membuatnya tertarik, membuatnya ingin mengenalnya lebih jauh serta melindunginya walau Zitao tidak terlihat lemah karena tubuh berisinya. Yifan menepis pikiran-pikirannya dan mulai makan meski ia tidak bisa fokus.

Kafe sekaligus restoran sederhana itu mulai ramai. Yifan kira pada jam segini orang-orang sudah selesai sarapan dan tempat itu baru ramai ketika jam makan siang. Jika belum jam makan siang saja tempat ini ramai, bagaimana jika saat itu terjadi?

Zitao lalu lalang melewatinya beberapa kali, membuat Yifan menoleh, bahkan ketika ia sedang menggigit sosisnya dan makanan lonjong itu masih belum tergigit sempurna, mencuat dari mulutnya. Ia terlihat memalukan, itu pasti. Pemuda itu seolah-olah jadi tidak punya gengsi. Yifan terbatuk pelan ketika sadar Zitao berjalan ke arahnya sambil membawa pesanannya serta selembar bill.

"Satu porsi England breakfast yang dibungkus," Zitao mengulangi pesanan Yifan sambil meletakkan kantong kertas kecoklatan di atas meta. Ia menyodorkan bill kepada Yifan yang berusaha menelan makanannya. "15 Reais."

Sebelum mengeluarkan dompetnya, ia menyeruput lime water-nya lebih dulu. Yifan merogoh saku celananya dan mengambil sebuah dompet hitam Prada yang elegan darisana. Ia membuka dompetnya dan menampakkan sebuah foto dengan tiga orang di dalamnya. Ketika Yifan menyerahkkan lembaran uang kepada Zitao, pelayan itu mencoba akrab dengan berkomentar sambil tersenyum. "Itu kakak-kakak anda? Mereka cantik dan tampan, anda juga begitu."

Yifan langsung berdeham begitu mendengar ucapan Zitao. Ia merasa tergoda, meski itu bukan tujuan pemuda disampingnya. Yifan memang tampan dan itu mutlak, tapi mendengarnya dari Zitao itu berbeda rasanya. "Yang laki-laki itu ayahku." Mungkin Yifan sudah sangat tertarik pada Zitao sampai-sampai ia tidak marah ketika Zitao sok akrab dengannya.

"Benarkah? Ayah anda terlihat sangat muda," Zitao berkomentar lagi dan tersenyum tipis.

Hati Yifan berdesir melihat senyum yang berbeda itu, tapi ia tidak mampu untuk bertanya. Ada raut sedih disana, Yifan bisa melihatnya dengan jelas dan ia bertanya-tanya. Apa ada yang salah?

"Maaf, sepertinya aku melamun," ujar Zitao. Yifan saja baru tahu kalau Zitao melamun. Pemuda itu mengambil secarik kertas dari sakunya dan Yifan sempat mengira itu sebuah kartunama untuk mengajak kencan atau… apalah. Tetapi pada kenyataannya, itu hanya sebuah stiky notes dan Zitao menyodorkannya pada Yifan. "Saat anda ingin beranjak, tolong menulis review atau komplain anda untuk kafe ini. Anda tinggal menempelkannya pada papan di sebelah pintu masuk. Jika tidak berkenan, bisa anda tinggalkan di meja saja."

Yifan mengangguk mengerti.

Zitao memberi sebuah senyum lagi padanya, membungkuk sedikit dambil mendekap nampan di dadanya. "Permisi."

Untuk beberapa saat Yifan tidak tahu apa yang harus ia tulis. Bahkan ketika sepiring sarapannya habis dan minumannya menyisakan sedikit di dasar gelas, ia tetap tidak tahu. Zitao sedang melayani seorang gadis berambut merah dan laki-laki negroid di meja seberang Yifan. Mata mereka bertemu dan Zitao memberinya sebuah senyum paling manis yang pernah Yifan lihat.

Ia jadi punya ide. Huang Zitao benar-benar seorang sumber inspirasi.

.

.

.

Sore beranjak malam, dan shift Zitao untuk hari ini akan berakhir dalam sepuluh menit. Ia melepas ikat kepalanya dan berdiri di depan papan hijau berisi puluhan atau bahkan lebih dari seratus stiky notes yang ditempel bertumpuk-tumpuk. Zitao selalu menggerutu dan bertanya kenapa tidak disediakan papan yang lebih besar untuk menampung segala bentuk kritik dan saran untuk Paradise Summer itu. Ketika ia sedang membaca sebuah komentar dengan tulisan berantahkan di tengah kafe yang sepi di senja hari, sebuah dehaman mengusiknya dan ia menemukan Oh Sehun di sampingnya.

"Koki masuk dapur, sana!"

"Sedang sepi."

Zitao makin menggerutu. Ia tidak suka aroma tubuh Sehun yang belum mandi. Feromonnya begitu menggoda dan Zitao risih dengan perasaan seperti ini.

"Tumben peduli dengan komentar pelanggan?" tanya Zitao. Ia mencoba rileks dengan jarak mereka yang cukup dekat dan aroma tubuh Sehun yang menguar. Zitao benar-benar ingin menyemprot Sehun dengan parfumnya sekarang.

"Tumben peduli denganku?" Sehun membalasnya. Ia menoleh sambil mengangkat sebelah alis dan sudut bibirnya terangkat sedikit. Hanya sedikit.

Pada titik itu, Zitao tidak tahu ia masih menyukai Sehun atau telah menganggapnya sebagai kawan kerja biasa. Wajahnya yang tersenyum kecil dengan cipratan oranye senja begitu memikat dan,─Oh Jesus─ Sehun sangat tampan saat itu. Zitao menggigit bibirnya sekali lagi dan Sehun berdeham sebelum memalingkan wajahnya.

"Oke, oke, aku tidak akan melakukan itu lagi di depanmu," Zitao berkata tak yakin. Itu kebiasaan untuknya.

Sehun sedang mengerutkan dahinya saat ia bersuara, "Kau akan punya pacar baru, kurasa."

Zitao yang tidak mengerti langsung melihat arah pandang Sehun. Ia mencari-cari, lalu menemukan sebuah stiky notes kuning di bagian terpojok kiri atas papan, sedikit tertutup tumpukan yang lain. Pelan-pelan Zitao melepasnya, membuat beberapa benda serupa ikut tersobek.

Ada seulas senyum di bibir Zitao ketika ia membacanya. Tulisannya tidak rapi, tapi sangat manis.

Aku jatuh hati pada England breakfas-nya, dan kukira, aku akan sering-sering kesini untuk makan, sekaligus melihat senyum Huang Zitao.

Dari pria yang rahangnya masih memar sampai saat ini, Wu Yifan.

"Kasihan sekali."

Zitao mengangkat wajahnya dan melihat Sehun yang ikut membaca tulisan itu. "Kenapa?"

"Rahangnya memar, dan ia bisa-bisanya tertarik padamu. Menyedihkan." Sekali lagi Sehun berkata dengan nada menusuk dan seolah-olah ialah orang terhebat di dunia.

Pemuda di depannya geram, bisa jadi. Ia merasa tersinggung dengan kata-kata Sehun. Bagaimanapun, bukan urusannya jika seseorang sedang menyukai Zitao. Jika ia bisa mencerca seseorang yang jatuh hati pada Zitao, bukannya Sehun juga pernah ada di posisi itu?

"Kita berpisah karena kau tidak bisa menjaga mulutmu," Zitao berbicara dengan suara rendah san sedikit berbisik. Nada marahnya begitu kentara. "Kuharap keputusanku bisa menjadi cambukan untukmu. Ternyata percuma saja, ya?"

"Kau menyesal putus denganku?" Zitao tertohok dan Sehun tertawa kecil. Seorang pelanggan menempelkan sebuah stiky notes ke papan itu dan Sehun bergeser satu langkah mendekat pada Zitao untuk memberi celah. Ia tersenyum pada pelanggan tersebut tepat ketika ia mendengar dengusan marah Zitao dan pemuda itu bergegas menuju meja yang kotor untuk menuntaskan tugas terakhirnya, mencoba menjauh dari si biang masalah.

.

.

.

Hari Minggu.

Grenade, Bruno Mars. Lagu itu terputar begitu kencang di dalam sebuah BMW Series 6 F13 warna hitam yang tengah melaju santai di jalanan kota Rio de Janeiro. Satu laki-laki yang mengemudi menggumamkan nada-nadanya sambil mengetuk-ngetuk jarinya di kemudi, yang duduk di kursi belakang malah menyanyikan lirik asal dengan suara sumbang. Dari tiga pemuda tanggung yang ada dalam mobil itu, hanya satu yang tidak menampakkan raut wajah senang dan terlihat gusar. Ia tidak ikut menyanyi, mendendang, atau sekedar menikmati laku yang memekakkan telinga. Pemuda itu hanya diam memerhatikan suasana di luar. Semburat kuning sudah menghiasi langit, sebentar lagi petang datang.

"Copacabana masih jauh, ya?" Yifan mencoba bertanya pada Jongin, tapi ia tidak menyahut. Pemuda itu menjawil lengan Jongin dan ketika si pengemudi memberi respon, Yifan kembali bertanya dengan suara lebih keras. "Copacabana masih jauh, ya?"

Jongin menggeleng. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan sambil mengecilkan volume mp3 player. "Sebentar lagi sampai."

Chanyeol─seperti biasa─ mencondongkan tubuhnya di antara jok depan. Ia melirik ke arah Yifan yang terlihat tak nyaman di tempat duduknya. "Kau kelaparan? Aku masih punya biskuit, kalau kau mau."

Yifan menggeleng. Ia gusar bukan karena lapar.

Tiba-tiba saja Jongin memberikan senyum miring. Mereka sudah memasuki kompleks Copacabana. "Sepupumu itu sedang terkena gejala penyakit jatuh cinta."

Saat mobil melambat, Yifan terlihat lega. Mp3 player ia matikan dan suasana jadi lebih tenang. Ia berusaha tidak menghiraukan ucapan Jongin, walaupun ucapan pemuda itu membuat Chanyeol tertawa dengan suara beratnya yang terdengar mengerikan.

"Are you serious? Huang Zitao yang─itu?"

"Memangnya siapa lagi?" Jongin yang menjawab pertanyaan Chanyeol. "Hebat benar Brazil, belum seminggu turis ini ada di Rio, dia sudah jatuh cinta."

"Iya, sih," Chanyeol menggumam sambil mengambil sebatang rokok milik Jongin dan langsung menyalakannya. Asap rokok mengepul, tapi tak ada satu pun yang terganggu. "Bagaimana tidak jatuh cinta kalau setiap hari dia menolak sarapan di hotel dan makan di kafe Zitao itu?"

Yifan merasa kupingnya berdenyut-denyut ketika Chanyeol dan Jongin mengoloknya bertubi-tubi diselingi tawa. Bau asap rokok makin menjadi karena tidak ada yang membuka jendela sebelum Yifan yang melakukannya. Mobil itu makin melambat dan Jongin memotong jalur untuk memarkir mobilnya di lahan kosong sebelah Paradise Summer. Kafe itu sendiri tidak memiliki lahan parkir yang cukup luas untuk mobil.

Tentu saja, yang melesat keluar lebih dulu adalah Yifan. Chanyeol menyusul di belakangnya dan Jongin yang paling akhir karena ia harus mematikan mesin dan memastikan mobil itu dalam keadaan terkunci. Yifan belum menyentuh gagang pintu kafe itu dan seseorang meneriakkan namanya. Bukan Chanyeol atau Jongin, ini suara milik orang lain. Yifan membalikkan tubuhnya dan menemukan seseorang dengan motor sport hitam melambai ke arahnya. Ia tidak mengenali orang itu, tidak dengan helm full face yang menutupi wajahnya.

Jongin dan Chanyeol saling berpandangan. Dua orang itu menunjukkan mata yang tidak tahu-menahu.

Orang di atas sepeda motor itu membuka helmnya. Huang Zitao. Ia tersenyum dan matanya menyipit. Rambutnya berantahkan dan keringat meluncur dari pelipisnya.

Yifan membalas senyum itu, baru sadar bahwa Zitao punya senyum yang menular. Ia berjalan mendekati Zitao melewati dua temannya yang diam saja.

"Aku baru saja ingin makan," ujar Yifan ketika jarak mereka hanya beberapa langkah. Yifan berhenti tepat di tepi trotoar. Ujung sepatunya hanya berjarak sepuluh sentimeter dari roda motor Zitao.

Zitao meletakkan helmnya di atas tangki depan. Ia melipat tangannya di atas helm itu dan kemudian mengedikkan bahu. "Jam kerjaku sudah habis. Sayang sekali aku tidak bisa melayanimu hari ini."

"Kau jadi membuatku tidak lapar." Yifan mencoba bercanda dan Zitao terkikik, ia juga.

"Ah, ternyata aku sudah membuat satu pelanggan kabur." Zitao juga membalas dengan candaan sekedarnya.

"Jadi," Yifan bersedekap sambil memandang kedua mata Zitao yang berbinar indah, "kau harus melakukan sesuatu agar aku tetap jadi pelanggan kafemu."

Cara bicara Yifan membuat Zitao terkikik pelan sekali lagi. "Apa ya?" tanyanya lucu, suaranya terdengar seperti seorang gadis. Ia mengetuk-ngetuk telunjuk di dagunya sambil mengerucutkan bibir. Yifan ragu Zitao adalah seorang transgender. "Sarapan gratis untuk besok?"

Yifan tersenyum dan mengangguk kecil, senang karena Zitao tidak menjauhinya karena kesalahan bodohnya di malam tahun baru itu. Ia pemuda yang baik, asik, dan enak diajak ngobrol. Senyumnya hangat dan bersahabat. Jongin benar, Brazil begitu hebat. Dari namanya Yifan sudah tahu Zitao bersal dari Cina, tapi tetap saja ia tinggal di Brazil, dan orang Brazil ini membuatnya begitu tertarik.

"Temanmu?" Zitao menunjuk Jongin dan Chanyeol yang sudah berdiri di belakang Yifan dengan dagunya.

Yifan menoleh. Jongin menyalakan rokok di antara telunjut dan jari tengahnya dan Chanyeol memberi senyum ke arah Zitao. Yifan baru ingat ia tidak datang sendiri dan menggeser posisinya. "Ini sepupuku, Park Chanyeol," ia menunjuk Chanyeol. Chanyeol langsung menyalami Zitao dan pria itu mengenalkan namanya. "Kalau ini─"

"Hey, Jongin!" Zitao menyapa lebih dulu. Ia mengangkat tangan kanannya untuk melakukan high five.

Jongin membalasnya dan ia tersenyum. "Tak kusangka yang diceritakan Yifan itu Zitao yang ini."

Zitao langsung mengulum senyumnya mendengar hal itu, tepat ketika Yifan bertanya keheranan. "Kalian saling mengenal?"

"Dia teman sekolahku," jawab Jongin santai sambil membenamkan jemarinya di saku celana.

"What a surprise!" Chanyeol berseru dengan suara besarnya dan matanya terlihat jenaka.

"Kenapa?"

Chanyeol baru saja akan menjawab dengan penuh keisengan ketika Yifan sudah menjawab lebih dulu. "Tidak apa-apa!"

Zitao mengerutkan alis bingung atas kelakuan Yifan.

Bodohnya Yifan! Suasana berubah jadi canggung dan ia tidak berharap Chanyeol dan Jongin mencairkan suasana itu. Mulut mereka berbahaya, ia bisa dibuat malu di depan Zitao. "Kau mau pulang?" tanya Yifan pada akhirnya.

Zitao menata helmnya dahulu sebelum tersenyum kecil dan menjawab, "Aku mau ke Ipanema."

"Ada sesuatu yang menarik di sana?"

"Bilang saja kau mau ikut," Jongin menyahut. Yifan meliriknya tajam dan ia seolah tak peduli.

Zitao melirik ke belakang, lalu kembali menatap Yifan. "Kurasa aku bisa memberi satu tumpangan."

Jawaban Zitao dibalas oleh siulan oleh Jongin. Chanyeol menahan tawanya sambil menyesap rokoknya lagi.

"Kurasa aku tetap makan disini, aku tidak membawa helm."

"Ada helm di bagasi. Milikku," Jongin menawarkan. Ia tidak menunggu persetujuan Yifan dan melesat ke arah mobil. Chanyeol menarik bahu sepupunya dan berbisik pelan, "Kau harus berterima kasih pada kami yang menyukseskan kencan pertamamu."

Yifan malas menanggapi. Ia bergumam minta maaf pada Zitao karena sudah merepotkannya dan pemuda itu tidak keberatan.

"Tangkap!" Jongin berseru dua meter darinya sambil melempar helm. Yifan menangkapnya dengan benar di atas kepala, berterima kasih pada pengalamannya sebagai anggota tim basket sekolah dulu.

Tidak ada yang bergerak untuk beberapa saat sampai Jongin kembali pada posisi awalnya. Yifan dan Zitao saling berpandangan, tapi tak ada yang bicara. Mereka berdua menatap bingung. Lalu apa?

"Jadi, kau akan memboncengku?"

Zitao mengangkat alis kirinya lalu mengangguk samar. "Kau punya SIM Brazil?"

"Kami turis," jelas Chanyeol. Ia membuang putung rokoknya dan menginjaknya.

"Aku tahu," Zitao berujar sambil menunjuk Chanyeol dan Yifan bergantian, "cara bicara kalian aneh."

Yifan sebenarnya tidak nyaman akan satu hal ini. Dia pria, dan sebagai seseorang yang juga suka sesama jenis, ia adalah seorang pendominasi. Pemuda itu tak tahu apa Zitao juga seorang homoseksual dan dia tipe seperti apa. Tapi ia tak peduli untuk saat ini. Yifan mengangkat bahunya dan mulai memakai helm. Hidungnya mengerut terganggu dan matanya memicing begitu helm itu terpasang di kepalanya. "Helmmu bau sekali."

Lagi-lagi Jongin tak peduli dan memberi sebuah senyum miring tipis.

Zitao ikut memasang helmnya dan menyalakan mesin motor sebelum Yifan naik. Pemuda itu tidak perlu naik dengan tumpuan kaki karena ia memang tinggi. Ia berjengit ketika sadar bahwa duduk di jok belakang sebuat motor sport itu tidak nyaman.

"Kalian tidak usah menunggu," kata Zitao sambil memainkan gas, "aku akan mengantar Yifan nanti."

Chanyeol tersenyum jenaka dan bersemangat. Jongin disampingnya mengangguk mengiyakan.

Zitao mulai melajukan motor itu. Bergerak dengan lamban dan makin cepat dengan bertahap. Angin sore musim panas menyentuh kulit Yifan dan rasanya hangat sekaligus sejuk. Entah, perasaannya campur aduk kala itu. Senang karena ia bisa jalan berdua saja dengan Zitao sekaligus malu karena harga dirinya sebagai pendominasi luntur.

Diamati dari jarak dekat seperti ini, Zitao begitu seksi. Jaket kulit ketatnya membentuk lengkungan di pinggang, dan meliuk di pinggul. Ia punya kemolekan seorang wanita di tubuhnya. Samar-samar Yifan mencium aroma campuran parfum dan keringat dari tubuh Zitao. Seperti mint, atau lembabnya hutan pinus? Yifan tak sadar tangannya mengepal menahan diri agar tidak menyentuh Zitao.

"Kau tidak takut jatuh?" Zitao bertanya dengan suara kencang.

Yifan mendengarnya jelas dan menggeleng. "Kau kira aku gadis cilik?"

Zitao menyembunyikan senyum dibalik helm full face-nya. Ia mempercepat laju motornya dan berteriak sekali lagi, "Pegangan!"

Kecepatan tiba-tiba itu membuat Yifan condong ke belakang untuk beberapa saat dan ia mendorong tubuhnya, terlalu jauh hingga dadanya menempel pada punggung Zitao. Ia meragu, posisi mereka cukup intin. Apa ini pantas? Apa Zitao tidak keberatan?

Yifan melirik ke spion dan Zitao tetap diam. Mereka menemui belokan tajam dan keahlian Zitao untuk bermanuver patut diacungi jempol. Secara tak sadar lagi, tangan Yifan telah melingkar di pinggang Zitao. Pinggang pemuda itu benar-benar ramping, persis seperti wanita. Yifan sedikit takjub dan ia tersenyum. Ia menarik tangannya, lalu Zitao berteriak lagi padanya. "Tidak apa! Pegangan saja!"

Yifan mengerutkan dahi samar dan berpikir ragu. Apa benar tidak apa? Bagaimanapun mereka baru mengenal, hanya berbincang sebagai pelayan dan pelanggan akhir-akhir ini, dan Yifan pernah melecehkannya─walau tidak sengaja. Atau memang seluruh penduduk Rio de Janeiro itu terbuka dan supel seperti Zitao, juga Jongin?

Dirasa-rasa, Yifan tidak ingin memikirkannya. Ia tertarik pada pesona Zitao dan ini adalah kesempatan emas─kalau kalian tahu maksud Yifan. Jadi pemuda itu makin melingkarkan lengannya di pinggang ramping Zitao, sedikit meremasnya secara intim.

Yifan terkesiap, mengerjap pelan, lalu tersenyum. Hatinya berkata bahwa tindakannya kali ini benar.

.

To Be Continued

Heiii~

Aku kembali wkwkwk... Maaf update terlalu lama. Aku punya banyak sekali jadwal yg ga mungkin kujelasin :" dia trauma

Yup, judul cerita diubah. Why? Tentu untuk mendukung isi cerita.

Sebenernya judul yang kemaren itu aku ngambilnya asal doang /? Soalnya belum nemu judul yang cocok.

And finally, sekarang udah

Kutunggu revewnya ya :D Thanks buat reviewer, reader, favouriter, follower, etc

Esclave aku update waktu UAS aja ya wkwkwk... Soalnya dua minggu kedepan aku punya agenda wajib sekolah yg super duper penting dan ga buka laptop kayanya :"

See you again~