Original author: WillowBlueJay17

Translator: BrokenWings2602

DISCLAIMER: Big Hero 6 (c) Disney & Marvel


Sudah dua bulan sejak Tomeo dan Marie Hamada diistirahatkan. Sudah dua bulan sejak Tadashi dan Hiro Hamada yang kini menjadi yatim piatu mulai hidup dengan bibi mereka Cass.

Sebagian anggota keluarga yang lain, yang tidak dekat dengan kedua anak lelaki tersebut, telah mencoba untuk meyakinkan Bibi Cass untuk tidak merawat mereka. Bahwa ia memiliki kedua tangannya sibuk dengan kafe, bahwa ia tidak pernah memiliki anak sendiri, bahwa ia mungkin tidak ingin merusak kehidupan lajangnya dengan secara tiba-tiba merawat dua anak lelaki yang sedang bertumbuh.

"RUSAK?" ulang Bibi Cass, kegeraman terdengar jelas di nadanya, "Aku tidak peduli apa yang kalian katakan, aku sangat mengenal kedua anak lelaki itu jadi aku akan membesarkan mereka, terima kasih banyak!"

Dua bulan telah berlalu sejak Bibi Cass membuat pilihan itu. Dan itu telah menjadi sebuah pengalaman belajar bagi mereka bertiga. Tadashi mempelajari bahwa tidak, ibunya tidak melebih-lebihkan saat ia membicarakan tentang kebiasaan adik perempuannya yang suka makan saat stres. Ia berujung mempelajari bagaimana caranya membantu menjalankan kafe juga, bahkan mempelajari sedikit bagaimana caranya memanggang. Meskipun yang ia buat tidak sebanding dengan talenta Bibi Cass. Ia juga mempelajari bahwa membantu dengan mengisi pesanan para pelanggan adalah pelatihan ingatan yang bagus.

Hiro mempelajari bahwa Bibi Cass tidak seperti ibu atau ayahnya. Ia tidak memiliki robot-robot mainan di lemarinya, atau kotak berisi bagian-bagian diselipkan di pojok ruangan. Ia tidak memiliki kalkulasi-kalkulasi menyenangkan untuk Hiro kerjakan, atau proyek-proyek untuk ia bangun. Tetapi ia memberikan pelukan-pelukan terhangat. Dan sayap ayamnya yang pedas segera menjadi makanan favorit Hiro...Meski Tadashi hanya memperbolehkannya untuk memiliki sepotong dalam tiap makan, dan bahkan kemudian kakaknya mengatakan bahwa Hiro benar-benar terlalu muda untuk memakannya.

Bibi Cass harus sedikit belajar, dari wanita lajang menjadi ibu dua anak yang tidak disangka dalam sekejap. Ia mempelajari bahwa Tadashi jauh lebih dewasa dari pada yang ia ingat, selalu menawarkan untuk mengulurkan tangan, tidak marah ketika ia terlambat atau terlalu sibuk untuk mengantarkannya ke tempat yang ia ingin kunjungi, melakukan tugas-tugasnya tanpa diminta, mengambil alih dalam menjaga Hiro. Ia mempelajari Hiro benar-benar perlu melakukan sesuatu hampir setiap saat atau ia akan menjadi bosan dan mulai ngambek, membawanya kena masalah. Tadashi bukanlah penggemar makanan hijau...Sesuatu yang melibatkan sebuah insiden di lab robotik dengan beberapa pewarna dan sepotong roti isi. Hiro memiliki alergi ringan terhadap kacang tanah, di mana semua menemukannya dengan cara yang keras. Bibi Cass mempelajari bahwa Tadashi mengambil waktunya dengan kerjaannya, belum tentu karena susah melainkan karena ia akan mengecek kerjaannya beberapa kali, kadang-kadang menambahkan barang-barang ke dalam dan mengeluarkan barang-barang lainnya. Hiro, yang Bibi Cass segera pelajari untuk membelikan beberapa buku ekuasi dan peralatan robotik, akan segera menyelesaikan semuanya, biasanya hanya mengecek ulang apa yang ia lakukan untuk sedetik atau dua detik sebelum bergerak.

Baik Tadashi maupun Hiro sama-sama menyukai robot, seperti kedua orang tua mereka. Keduanya suka menciptakan, biasanya dapat ditemukan sedang bermain dengan peralatan baru di kamar mereka. Keduanya memiliki rambut yang berantakan, meski rambut Tadashi memiliki tingkat kerapian dan biasanya disembunyikan di bawah topi baseball sementara rambut Hiro sangat tidak teratur, terlihat seperti sarang burung. Keduanya adalah buah hati yang manis yang menjadi tambahan luar biasa di kehidupan bahagia yang sudah Bibi Cass jalani.

Ada suka duka dalam dua bulan itu, banyak percobaan dan kesalahan selagi semuanya mencoba membiasakan diri dengan pengaturan yang baru.

Tetapi dalam dua bulan tersebut, rasa sakit dari kehilangan secara tiba-tiba telah dibanjiri oleh kehangatan keluarga.


Pilihan yang sulit.

Akademi untuk Murid-Murid Berbakat, berjarak tiga kota jauhnya, telah mengirim para perekrut untuk mencoba dan meyakinkan Bibi Cass untuk membiarkan Hiro bergabung.

Tadashi juga sama bimbangnya dengan Bibi Cass atas kesempatan tersebut. Di satu sisi, sekolah untuk anak-anak berbakat mungkin saja sempurna untuk orang jenius seperti Hiro. Sebuah tempat di mana Hiro benar-benar bisa mendapatkan tantangan yang ia butuhkan, sebuah tempat di mana kecerdasannya akan benar-benar melonjak.

Di sisi lain, Hiro hanya berumur lima tahun. Dan pergi ke akademi tersebut berarti tinggal di sana, di dalam asrama mereka. Ia tidak akan tinggal sendirian tentunya, tetapi baik Tadashi maupun Bibi Cass tidak akan bisa tinggal di sana dengannya. Bukankah itu terlalu berlebihan untuk seorang anak yang sangat muda hadapi?

"Bagaimana menurutmu, Tadashi?" tanya Bibi Cass.

"A-Aku tidak tahu..." si anak berusia sebelas tahun merespon dengan mengangkat bahu. Ia menatap ke arah anak tangga, "Pada akhirnya, bukankah itu pilihan Hiro?"

Tadashi berjalan menuju anak tangga dan pergi ke kamar yang ia bagi bersama Hiro selama dua tahun terakhir. Hiro sedang sibuk bermain dengan sepasang sepatu bot. Tadashi ingat mendengar anak itu menyebutkan sesuatu tentang "sepatu bot kucing terbang".

"Hei, kawan," sapa Tadashi, merebahkan diri di atas lantai di sebelah adiknya, "Dengar, kau ingat orang-orang itu yang datang ke sini beberapa hari yang lalu?"

"Orang-orang yang dari sekolah orang-orang pintar?" tanya Hiro, tidak mengalihkan pandangannya dari kerjaannya.

"Yeah, mereka. Yah, mereka benar-benar terkesan dengan betapa pintarnya kau dan...mereka agak ingin kau pergi ke sana."

Hal tersebut menangkap perhatian Hiro, menyebabkan si anak berusia lima tahun melihat Tadashi penuh dengan keterkejutan.

"Benarkah?" Hiro nyengir ketika Tadashi mengangguk, "Whoa, keren!"

Itu...bukan respon yang Tadashi harapkan. Ia melihat Hiro mengoceh dengan semangat tentang akademi tersebut, sebersit rasa sakit di hatinya. Ide tentang adiknya pergi ke tempat di mana ia jarang bisa bertemu dengannya, terasa sakit. Tapi jika itu membuat Hiro senang...

"Kamar-kamar mereka pasti cukup besar untuk kita bertiga!" seru Hiro.

"'Kita bertiga'?" ulang Tadashi, menaikkan alis.

"Kau, aku, dan Bibi Cass!"

"Um, Hiro? Bibi Cass dan aku tidak bisa ikut denganmu."

Kedua bahu Hiro terkulai, ekspresi kebingungan terdapat di wajahnya.

"...Kau tidak ikut?" ia bertanya.

"Bukannya kami tidak mau, kami tidak bisa," Tadashi menjelaskan, "Hanya para siswa yang akan tinggal di sana. Bibi Cass dan aku bisa berkunjung sekali-kali tapi-"

"Aku tidak akan pergi."

Hiro mengerutkan kening dalam-dalam, menyodok pelan sepatu bot yang telah ia kerjakan dengan gugup.

"Tapi kau sangat gembira," ujar Tadashi.

"Aku tidak mau meninggalkanmu," gumam Hiro, pandangannya terkunci di sepasang sepatu bot tersebut.

Tadashi tersenyum lembut mendengarnya, bergeser sedikit dekat ke adiknya dan meletakkan lengan di sekeliling Hiro.

"Kau bisa bergaul dengan banyak anak-anak pintar lainnya," Tadashi memberitahu Hiro, mencoba untuk memastikan bahwa Hiro benar-benar tidak mau pergi, bukan karena ia mengatakannya demi Tadashi.

"Kau pintar," balas Hiro.

"Yeah, tapi sebagian anak-anak itu akan seumuran denganmu. Kau bilang kau mengalami kesulitan berteman, 'kan?"

Sayangnya, anak sepintar Hiro menonjol seperti sore thumb di dalam kelas anak-anak TK yang memiliki kecerdasan...yah, anak-anak TK. Sementara Hiro seperti anak kecil dalam banyak hal, dengan imaginasinya dan minatnya terhadap berbagai permainan dan sebagainya, kecerdasannya yang ekstrim sering kali membuatnya berbeda dan ujung-ujungnya anak-anak yang lain mengusiknya saat mereka tidak sedang mengabaikannya.

"Tidakkah kau ingin teman-teman seumuranmu?" tanya Tadashi.

"Tidak apa-apa," jawab Hiro, menekan dirinya ke sisi Tadashi, "Aku punya kau dan Bibi Cass. Aku tidak apa-apa."

"...Jika kau bilang begitu, nak..."


"Apakah ini akan bekerja?"

"Kita tidak akan tahu kecuali kita mengujinya!"

Hiro yang berusia tujuh tahun duduk di depan Tadashi yang berusia tiga belas tahun di dalam troli belanja yang menjadi badan dari hovercraft mereka. Setidaknya, "hovercraft" adalah apa yang mereka namai terhadap campuran bagian-bagian barang rongsokan yang tidak teratur yang telah mereka susun bersama-sama.

Setelah menonton film sci-fi yang cukup keren dengan hovercraft, kedua anak lelaki itu, yang pikirannya selalu menciptakan, segera memutuskan untuk membangun satu. Akhir dari proyek enam bulan mereka menghasilkan peralatan yang lebih jelek dan kemungkinan besar lebih bau dari pada apa yang mereka telah tonton di film tersebut.

Tetapi itu bukan berarti hovercraft tersebut tidak akan bekerja. Maka, selagi bibi mereka sedang pergi berbelanja, kedua anak lelaki tersebut memutuskan untuk melihat apakah temuan mereka akan bekerja.

Selagi Tadashi mulai bekerja untuk menyalakan mesin, ia tidak bisa tidak menatap ke arah Hiro dengan kuatir.

"Kau tahu, Hiro," ia mengatakan dalam apa yang ia harapkan adalah nada santai, "Mungkin aku harus melakukan uji terbang tersebut sendirian."

"Tidak adil!" teriak Hiro, melihat dari atas bahunya cemberut ke kakaknya, "Kita membangunnya bersama jadi kita harus menaikinya bersama!"

"Aku tahu tapi...untuk berjaga-jaga penerbangan itu tidak berakhir baik..."

"Maka kita akan turun bersama-sama," Hiro menyatakan dalam nada blak-blakan, menambahkan anggukan untuk penekanan.

"Jangan bilang begitu," Tadashi tidak bisa tidak merasa ngeri membayangkannya.

"Yah, kalau begitu kau harus menyeretku keluar!"

Kedua kakak-beradik tersebut saling menatap tajam satu sama lain untuk semenit sebelum Tadashi mendesah lelah dan melanjutkan menyalakan hovercraft. Jika memang ada yang tidak beres, Tadashi harus memastikan bahwa adiknya keluar tanpa goresan sedikit pun, tidak peduli apa yang harus ia lakukan.

"Siap?" tanya Tadashi, tangannya berada di atas tuas di sebelah kanannya.

"Siap!" teriak Hiro dengan semangat.

"Tiga...dua...satu...Go!"

Tadashi menarik tuas, menyebabkan motor berdesing keras. Untuk sesaat, Tadashi mengira itu semua adalah kerjaan hovercraft tersebut...Tetapi kemudian...

"Kita mengambang!" seru Hiro.

Memang, hovercraft itu bekerja sesuai dengan namanya, meninggi dan meninggi dengan kecepatan tetap.

"Berhasil..." bisik Tadashi selagi mereka mengambang ke atas atap kafe/rumah mereka. Ia mengeluarkan tawa gembira, "Kita berhasil, Hiro!"

Tadashi membalikkan beberapa tombol dan Hiro menggenggam roda di depannya. Pendorong mulai bekerja, menyebabkan hovercraft tersebut mulai bergerak maju. Kedua anak lelaki itu tertawa selagi Hiro memutar roda ke arah sini dan situ. Pemandangan San Fransokyo dari ketinggian mereka terlihat luar biasa. Tadashi bertanya-tanya seperti apakah pemandangan kota tersebut bila dilihat dari tempat yang lebih tinggi.

Hiro membuat suara mobil balap selagi ia memutar roda, mengarahkan pesawat tersebut ke arah taman terdekat. Selagi mereka melangit di atas pohon-pohon, gemuruh suara aneh membuat kedua anak lelaki itu merasa kuatir.

"Itu suara yang buruk..." gumam Hiro.

"Memang," Tadashi menyetujui, "Baiklah, kita mendarat, mari lakukan ini."

Kedua saudara tersebut bekerja untuk membalikkan tombol-tombol untuk bersiap mendarat, mengawasi keluar untuk tempat yang aman untuk mendarat. Begitu pohon-pohon mulai tidak terlihat, mereka mulai merendahkan perangkat tersebut. Sekitar enam puluh kaki di atas tanah, pendorong perangkat tersebut tiba-tiba menendang ke gigi tinggi.

Tadashi dan Hiro menjerit selagi hovercraft mereka melesat ke depan lebih cepat dari pada yang telah diantisipasikan oleh keduanya, sementara secara bersamaan merendah dan merendah. Kedua anak lelaki tersebut dapat mendengar suara jeritan sebagian penduduk kota di taman kabur dari arah pesawat yang lepas kendali tersebut.

"Aku menangkapmu!" Tadashi berteriak, meraih Hiro dan memegangnya dengan erat sebelum pesawat tersebut menghantam tanah.

Dan memang hantaman tersebut sangatlah keras, tergelincir beberapa kaki sebelum menyebabkan kedua anak lelaki tersebut terbang keluar dan terbanting ke tanah. Tadashi berteriak kesakitan ketika bahunya menyentuh tanah dengan cukup kasar. Tetapi ia berkonsentrasi memastikan bahwa Hiro dekat dirinya sedekat mungkin, bahwa si anak berusia tujuh tahun tersebut tidak mendarat seburuk dirinya.

Ketika mereka akhirnya jatuh berhenti, Tadashi dan Hiro berbaring di atas tanah tanpa sepatah kata apa pun untuk semenit, mengatur nafas mereka.

"Kau tidak apa-apa, Hiro?" Tadashi bertanya.

"He...He-eh," Hiro membalas dalam suara yang bergetar, "Ba-bagaimana denganmu?"

Tadashi mencoba untuk duduk, tetapi rasa sakit yang membakar pergi melalui bahunya, menyebabkan ia meringis.

"Yah, aku rasa aku melukai bahuku, itu saja."

"Kau akan baik-baik saja, 'kan?" Hiro terdengar panik, "Tadashi?"

"Hei, tidak apa-apa," Tadashi mengerang, "Kita akan pulang dan meminta Bibi Cass untuk mengantarkanku ke dokter."

Tadashi merasakan Hiro tersentak terhadap dirinya mendengar kata "dokter". Sementara ingatan Hiro tentang kecelakaan yang membunuh kedua orang tuanya telah kabur, ia masih mengasosiasikan para dokter dan rumah sakit dengan sesuatu yang buruk, menjadi luar biasa gugup hanya dengan melihat atau mendengar keduanya.

"Aku seharusnya tidak ikut," Hiro mulai terisak, "Lalu, kau tidak akan terluka."

"Yah, kita tidak tahu tentang itu," Tadashi merespon, menepuk kepala adiknya pelan, "Tapi hei, jangan menyalahkan dirimu atas apa yang telah terjadi. Temuan kita tidak siap untuk beraksi seperti yang kita kira, itu saja."

"...Apa menurutmu kita akan kena masalah untuk ini?"

Tadashi menoleh, memperhatikan para penonton yang penasaran mendekat. Ia menelan ludah ketika ia melihat apa yang terlihat seperti beberapa orang polisi berlari ke arah mereka.

"Banyak masalah, adik kecil...Banyak..."


"Kau yakin kau mau loncat, Hiro?"

Tadashi bersandar pada kusen pintu, penasaran akan pilihan adiknya. Hiro baru saja memulai kelas empat kurang dari sebulan yang lalu sebelum pejabat sekolah memanggil Bibi Cass. Tadashi bertanya-tanya apabila panggilan tersebut tentang insiden lain seperti apa yang telah terjadi pada waktu pameran sains kelas satu. Meskipun sewajarnya, tidak ada yang memberi tahu Hiro untuk tidak mencoba dan membangun roket sungguhan.

Bibi Cass kembali dari sebuah kunjungan ke sekolah untuk menjelaskan bahwa pejabat sekolah sangat terkesan oleh performa Hiro di tahun-tahun terakhir sampai-sampai Hiro dipersilakan untuk loncat kelas empat...Dan langsung ke kelas tujuh.

Tadashi telah ditawari kesempatan untuk loncat kelas beberapa kali. Meski ia tidak pernah mendengar tentang bisa loncat dari satu kelas sekaligus. Tetapi Tadashi tidak pernah mengambil kesempatan untuk loncat, selalu kuatir bahwa ia merasa terlalu asing di antara murid-murid yang lebih tua. Bahwa ia akan kesusahan untuk tidak ketinggalan dengan teman-teman yang seumurannya sementara ia juga kesusahan membuat teman baru.

"Kenapa tidak?" Hiro merespon, membelai kucing baru Bibi Cass, Mochi, "Aku sudah tahu semuanya yang dibicarakan guru. Pekerjaan rumah jauh terlalu mudah. Aku juga tidak suka anak-anak yang lainnya."

Hiro tidak menyebutkan kenapa ia tidak menyukai anak-anak yang lain, tetapi alasannya cukup jelas.

"Sekolah baru, diriku yang baru, 'kan?" Hiro melanjutkan dengan cengiran.

"Kau yakin kau tidak akan apa-apa?" Tadashi bertanya dengna kuatir.

"Kau kuatir terlalu berlebihan, Tadashi! Apa sih hal terburuk yang bisa terjadi?"


"Membolos kelas! Berkelahi! Sulit dipercaya!"

Tadashi meringis selagi ia mendengar teriakan tersebut. Ia menekankan telinganya lebih dekat ke pintu yang tertutup itu, mencoba untuk memastikan ia tidak ketinggalan sepatah kata pun yang dikatakan di kantor kepala sekolah.

Kepala sekolah sekolah menengah pertama Hiro telah memanggil Bibi Cass, mengatakan bahwa Hiro dalam masalah besar. Tadashi, yang sekolahnya telah selesai lebih awal saat itu, pergi bersama bibinya, kuatir tentang apa yang adiknya telah libatkan dirinya.

Bibi dan keponakan itu tiba untuk melihat kepala sekolah yang marah menunggu dengan Hiro dan dua anak lelaki yang lebih tua. Hiro terlihat sangat mungil dibandingkan kedua anak lelaki tersebut, rasanya nyaris menggelikan.

Tetapi yang Tadashi rasakan adalah kemarahan saat melihat adiknya berselimutkan goresan dan memar.

Sang kepala sekolah telah menjelaskan bahwa Hiro tidak hadir di kelas terakhir hari itu. Beberapa guru lain pergi mencari dia. Ketika mereka menemukannya di halaman sekolah, ia sedang berada di tengah-tengah perkelahian besar dengan dua anak lelaki kelas delapan. Dua anak lelaki tersebut telah diteriaki dan dijemput oleh orang tua masing-masing. Hiro ditinggal.

"Saya akan menskors dia, sejujurnya," Tadashi mendengar kepala sekolah memberi tahu Bibi Cass, "Namun, seorang anak dengan kecerdasan seperti itu membawakan sekolah kami banyak martabat..."

"Kau tidak seharusnya menggunakan keponakanku sebagai alat untuk membuat sekolahmu terlihat lebih baik!" Bibi Cass membalas, kemarahan terdapat jelas di nadanya.

Tadashi menghela nafas selagi ia melangkah pergi dari pintu, menolehkan kepalanya untuk menatap tajam ke sosok pendek yang bersandar pada dinding, diselimuti perban-perban dan dengan tatapannya terpaku pada sepatunya.

"Kau lebih baik minta maaf ke Bibi Cass setelah ini, bonehead," Tadashi memperingati.

"He-eh," Hiro membalas pelan, tidak mengangkat pandangannya.

"Kau akan dihukum untuk sementara, kau tahu," Tadashi melanjutkan.

"Yeah..."

"Kepala sekolah tidak akan menskorsmu."

"Tentu."

"Kau mungkin akan mendapatkan detensi sih."

"Yeah."

"Kau harus membersihkan sisi kamarku waktu kita kembali."

"Yup."

"Dan melakukan semua tugasku untuk sebulan."

"He-eh."

"Dan bilang 'Tadashi adalah kakak terbaik di dunia'."

"Tentu."

"...Ngomong-ngomong, aku rasa aku tidak sengaja membuang benda yang kau kerjakan. Megabolt? Metabot?"

"Kau membuang Megabot?" Hiro menatap Tadashi dengan pandangan horor, "Aku baru saja mulai mengerjakannya bulan lalu dan kau-"

Hiro mengerang ketika Tadashi mulai tertawa.

"Tidak lucu," gumam lelaki yang lebih muda.

"Itulah akibatnya karena kau tidak mendengarkan," Tadashi tertawa kecil. Ia segera berhenti, ekspresi wajahnya telihat lebih serius, "Tapi sungguh, Hiro, kau dalam banyak masalah."

Tadashi membungkuk sedikit agar tatapannya sepantar dengan tatapan adiknya.

"Hei...," ia memulai dengan pelan, "Apa yang terjadi?"

Mulut Hiro membentuk seulas garis tipis selagi ia memutar kepalanya.

"Kau tidak memulai perkelahian, Hiro...Dan tidak peduli seberapa bosan kau dengan kelas, aku tahu kau tidak akan membolos kelas tanpa alasan."

Hiro tetap diam, menolak untuk bertemu dengan mata Tadashi.

"...Kedua anak itu melakukan sesuatu, 'kan?"

Ada kedutan kecil di mata Hiro. Sepertinya Tadashi telah mengenai sasaran. Ia menegakkan diri, melepas topinya sesaat untuk mengusap rambutnya.

"Apakah kau balas memukul mereka?" ia bertanya.

"Aku pikir kau akan berkata 'kekerasan bukan jawabannya'," ujar Hiro.

"Yah, aku memang tidak senang kau berkelahi," aku Tadashi, "Tapi aku lebih tidak senang lagi orang-orang itu menyerang adikku."

Hiro setidaknya tertawa kecil mendengarnya. Si anak berusia sembilan tahun itu menghela nafas selagi ia menyandarkan punggungnya terhadap dinding.

"Mereka mengolok-olokku karena aku dapat nilai bagus di ujian yang anak-anak lainnya gagal," ia mulai menjelaskan, "Gurunya benar-benar penilai yang susah, tapi aku telah dapat nilai bagus di semua ujuannya. Orang-orang itu melompatiku waktu aku mau ke kelasku yang berikutnya. Kita sempat beradu mulut, tapi lalu mereka mencoba untuk mendorongku ke kolam di halaman itu...Saat itulah aku menendang salah seorang dari mereka dan perkelahian itu dimulai."

"Apakah kau bercerita kepada kepala sekolah tentang itu?" Tadashi menuntut, kedua kepalan tangannya menggenggam erat membayangkan orang-orang itu mengganggu Hiro.

"Aku tidak mau jadi pengadu," gumam Hiro, "Dan mereka akan menggangguku lebih parah lagi..."

"Ini tentang keselamatanmu! ...Kau tahu, mungkin masih belum terlambat untuk kau kembali ke kelas empat dan-"

"Tidak mungkin!" Hiro menginterupsi, "Aku tidak kembali hanya untuk belajar hal-hal bodoh yang sudah kuketahui! Aku sudah tahu semuanya yang mereka ajarkan sekarang juga!"

"Jadi apa, kau mau loncat lagi?" Tadashi bertanya, "Karena aku tidak yakin-"

"Tidak, cuma..." Hiro menghela nafas, "Lupakan, Tadashi...Aku akan baik-baik saja."

Tadashi tidak mau melupakannya, tidak untuk sedetikpun. Tetapi ekspresi wajah Hiro menunjukkan bahwa ia sedang tidak dalam mood untuk membicarakannya lagi. Dan Tadashi tidak mau memaksakan apapun dari anak itu.

Perjalanan pulang ke rumah dari kantor kepala sekolah dipenuhi oleh Bibi Cass menceramahi Hiro dan juga mengomel tentang luka-lukanya. Hiro terus menjawab dengan satu kata sementara Tadashi terus melihatnya dengan gugup.

Ketika mereka pulang, setelah Bibi Cass memastikan Hiro tahu hukumannya, Kedua anak lelaki itu pergi ke kamar mereka. Hiro duduk di atas kursi dekat komputernya, meraih peralatannya dan mulai mengerjakan Megabot-nya, sebuah robot tarung dari apa yang Hiro katakan dalam pernyataan begitu saja ketika Tadashi menanyakannya beberapa saat yang lalu.

Tadashi terjatuh di atas ranjangnya, melemparkan topinya ke meja terdekat sebelum mengistirahatkan kedua lengannya di bawah kepalanya. Ia tidak yakin apa yang harus dilakukan. Apakah insiden ini hanyalah satu ini saja? Atau akankah Hiro kena dalam masalah lebih banyak seperti ini? Mungkin seharusnya ia mencoba lebih keras untuk tidak mengajak Hiro meloncati banyak tingkatan kelas. Tetapi ia bukanlah penjaga Hiro. Pada akhirnya, semua itu adalah pilihan adiknya.

"Apa yang akan ibu dan ayah lakukan?" Tadashi bertanya dengna sedikit berbisik.

Tadashi menemukan rasanya mengkuatirkan ketika ia tidak dapat memikirkan jawaban dari pertanyaan tersebut.